Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Review Artikel: Polimorfisme Gen Serotonin Mempengaruhi Pengobatan Risperidone dan Clozapine Pada Pasien Skizofrenia JAMES PRASETYO LAKSONO; RANO KURNIA SINURAYA
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4342.595 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17348

Abstract

Skizofrenia merupakan penyakit kejiwaan yang ditandai dengan halusinasi, delusi, kehilangan motivasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Adanya heterogenitas pada respon pengobatan skizofrenia pada setiap individu membuat strategi pengobatan menggunakan sistem trial and error. Strategi pengobatan ini sangat merugikan pasien mengingat efek samping obat yang mungkin terjadi. Salah satu kemungkinan terjadinya trial and error adalah adanya polimorfisme gen pada reseptor target obat, salah satunya ialah gen yang berhubungan dengan serotonin. Tujuan penulisan artikel review ini adalah untuk mengkaji pengaruh polimorfisme gen serotonin terhadap efek klinis pengobatan dengan risperidone dan clozapine. Metode dalam artikel review ini adalah penelusuran data dari berbagai artikel jurnal berbasis Pubmed dan Google Scholar dengan kata kunci “Polymorphism, Serotonin Gene, Risperidone, Clozapine”. Hasil dari review ini adalah adanya pengaruh yang diberikan polimorfisme gen serotonin terhadap efek klinis yang dihasilkan dari pengobatan risperidone dan clozapine, sehingga penulis menyimpulkan bahwa polimorfisme gen dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya trial and error pada pengobatan skizofrenia.Kata kunci: Clozapine, Polimorfisme, Risperidone, Serotonin, Skizofrenia.  
HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN, ERITROSIT, DAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA FARMASI UNIVERSITAS PADJADJARAN ANGKATAN 2016 QUINZHEILLA PUTRI ARNANDA; DIAH SITI FATIMAH; SHINTA LESTARI; SHELLA WIDIYASTUTI; DEDE JIHAN OKTAVIANI; SAQILA ALIFA RAMADHAN; ALIA RESTI AZURA; MAURA SYAFA ISLAMI; KIARA DIRGANTARA; RANO KURNIA SINURAYA; DIKA PRAMITA DESTIANI; IMAM ADI WICAKSONO
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.898 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22053

Abstract

ABSTRAKHemoglobin dan eritrosit memiliki fungsi yang penting dalam tubuh, salah satunya adalah membawa dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Saat kadar hemoglobin kurang, oksigen yang dibawa oleh hemoglobin berkurang, sehingga kinerja organ yang bersangkutan akan menurun dan kelancaran proses fisiologis akan terganggu, salah satunya siklus menstruasi. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan antara kadar hemoglobin, eritrosit, dan siklus menstruasi pada mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran angkatan 2016. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data siklus menstruasi dengan menggunakan lembar observasi, kemudian dilakukan pengambilan sampel darah untuk dianalisis dengan haematoanalyzer untuk mengukur kadar hemoglobin dan eritrosit. Hasil analisis dengan uji asosiasi Chi-Square hitung lebih kecil dari table yaitu 1.160 untuk hemoglobin dan 0.040 untuk eritrosit dengan nilai p value 0.314 untuk hemoglobin dan 0.842 untuk eritrosit lebih besar dari 0.005 sehingga dapat simpulkan tidak ada hubungan antara siklus menstruasi dengan kadar hemoglobin dan eritrosit.Kata kunci : eritrosit, hemoglobin, siklus menstruasi ABSTRACTHaemoglobin and erythrocytes have important functions in the body, one of which is carrying and circulating oxygen throughout the body. When the haemoglobin level is less, the oxygen carried by haemoglobin decreases, so the performance of the organs is disrupted and the physiological process will be disrupted, one of which is the menstrual cycle. This study was conducted to determine whether or not there was an association between haemoglobin, erythrocyte, and menstrual cycle in students of the Faculty of Pharmacy, University of Padjadjaran 2016. The study was conducted by collecting menstrual cycle data using observation sheets, then taking blood samples and analyzed with haematoanalyzers to measure haemoglobin and erythrocytes level. The results of the analysis with Chi-Square association tests are smaller than Chi-Square table, 1.160 for haemoglobin and 0.040 for erythrocytes with a P-value of 0.314 for haemoglobin and 0.842 for erythrocytes greater than 0.005 so that there are no relationship between the menstrual cycle and haemoglobin and erythrocyte levels.Keywords : erythrocytes, haemoglobin, menstrual cyclee 
FARMAKOTERAPI DEPRESI DAN PENGARUH JENIS KELAMIN TERHADAP EFIKASI ANTIDEPRESAN AJENG RATNA NINGTYAS; Irma Melyani Puspitasari; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5601.292 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17522

Abstract

Depresi merupakan penyakit yang berhubungan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyerta berupa perubahan pola tidur dan nafus makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa, dan tidak berdaya serta bunuh diri. Menurut WHO, terdapat 322 juta orang penderita depresi. Depresi menjadi penyebab utama bunuh diri yaitu 800.000 per tahun. Pengobatan depresi dengan menggunakan obat antidepresan. Review artikel ini bertujuan untuk mengetahui farmakoterapi yang tepat untuk mengobati depresi dan mengetahui pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan. Metode yang digunakan dalam review artikel ini adalah studi literature. Studi literature dilakukan dengan cara mencari jurnal, e-book, dan situs web yang membahas tentang farmakoterapi depresi dan pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan. Kriteria tahun penerbitan yang dikumpulkan adalah 10 tahun terakhir. Dari hasil studi literature didapatkan 17 jurnal, 5 e-book, dan 1 situs web. Dari studi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa farmakoterapi depresi yang paling sering digunakan dan lini pertama adalah SSRI dan SNRI. Terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap efikasi antidepresan.Kata Kunci: Depresi, Pengobatan, Farmakoterapi, Antidepresan
Farmakoterapi Gangguan Anxietas HILDA VILDAYANTI; Irma Melyani Puspitasari; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 16, No 1 (2018): Suplemen Juni
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.536 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17446

Abstract

Gangguan anxietas merupakan gangguan yang paling umum terjadi yang berkaitan dengan mental, emosional dan perilaku. Gangguan anxietas ditandai dengan kecemasan yang berlebihan dan tidak realistis mengenai suatu hal. Menurut survei epidemiologi, sepertiga penduduk dunia dipengaruhi oleh gangguan anxietas selama masa hidupnya. Penentuan jenis gangguan anxietas diperlukan untuk memastikan pengobatan yang sesuai dengan jenis gangguannya. Review artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai perkembangan pengobatan yang digunakan pada penderita gangguan anxietas berdasarkan tipe gangguannya. Sumber data yang digunakan untuk dijadikan referensi pada review artikel ini terdiri dari 20 jurnal ilmiah, 5 textbook, dan 2 website resmi yaitu National Institute of Mental Health dan Ministry of Health. Pengobatan untuk gangguan anxietas mencakup berbagai antidepresan (SSRIs, SNRIs, TCAs, dan MAOIs), anti-anxietas (benzodiazepin dan buspiron), serta β-blockers. Berdasarkan beberapa guideline, SSRIs direkomendasikan sebagai first-line terapi untuk sebagian besar gangguan anxietas.Kata kunci: Gangguan Anxietas, Tipe Anxietas, Farmakoterapi
Pengaruh Berpuasa Terhadap Kadar Bilirubin Total dengan Metode Kolorimetri (DIAZO) dan DCA Dinda Meviansyah; Rania Aisha Nuralisa; Adham Rizki Ananda; Nadira Hasna Putri; Firda Riska Rahayu; Gabriella Livia Amanda; Riana Kamer; Rano Kurnia Sinuraya; Dika Pramita Destiani; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.25574

Abstract

Bilirubin merupakan salah satu metabolit berupa pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme pada hemoglobin. Bilirubin dibawa oleh darah menuju hati untuk dapat dikonjugasi dan diekskresikan. Adanya aktivitas berpuasa menyebabkan adanya kenaikan kadar bilirubin dalam darah oleh karena penurunan kapasitas pengikatan bilirubin oleh albumin untuk dapat dibawa menuju hati. Penelitian dilakukan untuk mengetahui perbedaan kadar bilirubin sebelum berpuasa dan setelah berpuasa selama 12 jam pada mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Padjajaran angkatan 2017. Penelitian dilakukan dengan metode pengukuran kadar bilirubin sebelum dan sesudah intervensi yang kemudian hasilnya diuji dengan menggunakan uji Paired T-Test untuk mengetahui ada atau tidaknya efek puasa terhadap kadar bilirubin pria dan wanita dan uji Independent T-Test untuk membandingkan perbedaan kadar bilirubin pria dengan wanita. Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai korelasi pada pria sebesar 0,001 dan nilai signifikansi 0,000, pada wanita didapatkan nilai korelasi 0,000 dan nilai signifikansi 0,000. Dari hasil penelitian didapatkan nilai  rata-rata kenaikan bilirubin pria sebesar 0,7638 dan rata-rata kenaikan bilirubin wanita  sebesar 0,2395 dengan nilai signifikansi 0,000. Dari hasil penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat kenaikan kadar bilirubin yang signifikan pada pria dan wanita dan ada perbedaan yang signifikan pada kenaikan kadar bilirubin pria dan wanita.Kata Kunci : bilirubin, kenaikan kadar bilirubin, berpuasa, kolorimetri
Perbaikan Sanitasi, Higienitas, dan Ketersediaan Air Bersih dalam Pencegahan Diare AMALIA OCTA PERMATASARI; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.209 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10808

Abstract

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi di negara berkembang dan sebagian besar kematian balita disebabkan karena penyakit tersebut. Faktor yang dapat memengaruhi terjadinya diare antara lain sanitasi yang buruk dan sarana air bersih yang tidak memadai. Air bersih dan sanitasi merupakan sasaran tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan pada tahun 2015 adalah menjamin ketersediaan dan pengelolaan air serta sanitasi yang berkelanjutan bagi semua orang yang merupakan goal ke 6 dari SDG yang merupakan lanjutan sasaran dari MDG. Tujuan dari article review ini adalah untuk memberikan gambaran perkembangan perbaikan sanitasi dan air sebagai langkah dalam pelaksanaan MDG. Metode yang digunakan dalam article review ini adalah dengan mencari semua daftar referensi artikel primer atau review berdasarkan kata kunci tertentu. Hasil dari article review ini adalah dapat mengetahui salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan perbaikan sanitasi dan penyediaan air bersih dengan meningkatkan jumlah anggaran biaya sehingga prevalensi kematian balita akibat diare menurun.Kata kunci : air, diare, MDG, sanitasi 
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA MANUSIA DENGAN RENTANG UMUR 19-22 TAHUN Cecep Suhandi; Erica Willy; Nida Adlina Fadhilah; Natasha Salsabila; Abednego Kristande; Afifah Tri Ambarwati; Elisha Wianatalie; Dewi Ria Oktarina; Dika Pramita Destiani; Rano Kurnia Sinuraya; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.385 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.25564

Abstract

Stres merupakan suatu reaksi terhadap situasi mental atau beban pikiran yang tidak jarang dialami oleh banyak orang. Stres menyebabkan tingginya produksi kortisol, katekolamin, glukagon, glukokortikoid, β-endorfin dan hormon pertumbuhan sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada regulasi kadar glukosa darah. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap kadar glukosa darah pada manusia normal. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengecekan tingkat stres menggunakan instrumen DASS 42 yang telah divalidasi ulang serta glucometer untuk mengukur kadar gula darah. Diperoleh nilai signifikansi Pearson Chi­-Square >0,05 yang menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kadar glukosa darah. Namun, terdapat resiko peningkatan kadar glukosa darah sebesar 1,714 kali lipat pada relawan dengan tingkat stres yang tinggi dibandingkan dengan relawan dengan tingkat stres yang normal.Kata Kunci : Stres, DASS 42, Glukosa Darah
Polimorfisme Val66Met (rs6265) Gen BDNF sebagai Indikator Awal Depresi KENNY DWI SIDHARTA; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4681.587 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i1.17338

Abstract

Depresi merupakan salah satu penyebab utama disabilitas secara global. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu indikator awal yang dapat menilai risiko terjadinya depresi pada seseorang. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah polimorfisme gen. Dilakukan penelusuran pustaka menggunakan PubMed dan didapatkan 40 jurnal terkait polimorfisme gen dan depresi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa terdapat keragaman polimorfisme gen yang terkait dengan depresi di tiap negara. Ditemukan bahwa polimorfisme Val66Met (rs6265) di gen BDNF merupakan polimorfisme paling umum terkait dengan depresi.
Marijuana dan Autisme : Sebuah Literature Review ELLENA MAGGYVIN; Rano Kurnia Sinuraya
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (31.687 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.12911

Abstract

Autism spectrum disorder (ASD) merupakan kelainan perkembangan saraf yang ditandai dengan gangguan sosial berkelanjutan dalam komunikasi dan interaksi sosial juga dalam perilaku, minat ataupun aktivitas berulang. Umumnya autisme dideteksi pada anak usia dini dan terlihat dari perilaku maladaptif, seperti agresi, mudah marah, dan kecendrungan melukai diri. Gold standard dalam penanganan autisme adalah Cognitive Behavior Therapy dan pengobatan farmakologis bila diperlukan. Terapi farmakologi dalam penanganan agresi adalah dengan obat golongan penenang. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, pengobatan farmakologi tidak lagi cukup untuk mengatasi masalah agresi terlebih efek samping yang cenderung merugikan membuat orang tua dengan anak autisme menggunakan marijuana medis sebagai alternatif. Marijuana mengandung senyawa cannabinoid dan delta-9-THC yang bekerja pada reseptor CB1 dan CB2 pada sistem saraf menghasilkan efek sedasi. Review ini bertujuan mengumpulkan literatur marijuana medis yang berkembang dan  mengkaji risiko dan keuntungan terapeutik marijuana yang berpotensial dikembangkan. Selain itu, kompleksitas tanaman dan zat aktif cannabis ditelusuri terutama dalam pengobatan autisme.Kata kunci: Marijuana, autisme, cognitive behavior therapy.
HUBUNGAN TINGKAT STRES TERHADAP NILAI MCV, MCH, DAN MCHC MELALUI PENDEKATAN INDEKS ERITEMA PADA MANUSIA DENGAN RENTANG UMUR 19-22 TAHUN Cecep Suhandi; Abib Latifu Fatah; Mamay Krisman; Nurfianti Silvia; Annisa Atusholihah; Randy Rassi Prayoga; Ersa Fadhilah; Ameilia Ameilia; Nadila Berliana; Dika Pramita Destiani; Rano Kurnia Sinuraya; Imam Adi Wicaksono
Farmaka Vol 18, No 3 (2020): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i3.28617

Abstract

Stres merupakan perasaan tertekan terhadap tuntutan yang sedang dihadapi. Stres juga diketahui mempengaruhi variabel erythron, sistem endokrin, hematopoietik, dan kekebalan tubuh. Status hematopoietik dapat ditentukan melalui pengukuran nilai indeks eritrosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC melalui pendekatan indeks eritema konjungtiva pada manusia normal. Subjek uji pada penelitian ini meliputi 150 mahasiswa farmasi Universitas Padjadjaran dimana 114 sukarelawan dengan data penelitian yang lengkap digunakan sebagai subjek uji akhir. Metode pada penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional. Pengecekan tingkat stres dilakukan menggunakan kuisioner stres pada instrumen DASS 42 serta aplikasi image analyzer (MATLAB) digunakan untuk mengukur indeks eritema. Tingkat stres dinyatakan sebagai nilai (skor) hasil pengisian kuisioner dan indeks eritema diketahui sebagai nilai perbedaan intensitas warna merah dan hijau pada konjungtiva mata. Berdasarkan uji Korelasi Pearson didapat nilai signifikansi >0,05 (0,847) yang menandakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan indeks eritema. Nilai korelasi Pearson -0,018 menandakan bahwa korelasi antara tingkat stres dan indeks eritema bersifat negatif (protective factor) dengan level korelasi sangat rendah. Dengan pendekatan bahwa indeks eritema berbanding lurus dengan nilai indeks eritrosit (MCH, MCV, dan MCHC), maka hasil uji statistik juga menyatakan secara tidak langsung hal yang sama mengenai hubungan tingkat stres terhadap nilai MCH, MCV, dan MCHC.Kata kunci: Stres, DASS 42, Indeks Eritema, MATLAB ABTRACTStress is feeling depressed about problem being faced. Stress is also known to affect the erythron, endocrine, hematopoietic, and immune variables. Hematopoietic status can be determined by measuring the erythrocyte index value. This study was conducted to determine the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC through the conjunctival erythema index approach in normal humans. Subjects in this study included 150 pharmacy students from Universitas Padjadjaran where 114 volunteers with complete research data were used as final subjects. The method in this study uses a Cross Sectional approach. Stress level measurement is performed using a stress questionnaire on the DASS 42 instrument and the application of an image analyzer (MATLAB) is used to measure the erythema index. The stress level is expressed as a value (score) from the filling out of the questionnaire and the erythema index is known as the value of the difference in the intensity of the red and green color in the eye conjunctiva. Pearson Correlation statistical test have showed a P-value> 0.05 (0.847) which indicates that there is no significant relationship between the level of stress with the erythema index. The Pearson correlation value of -0.018 indicates that the correlation between the stress level and the erythema index is negative (protective factor) with a very low level of correlation. With the approach that the erythema index is indirectly proportional to the erythrocyte index value (MCH, MCV, and MCHC), the statistical test results also imply the same conclusion about the relationship of stress levels to the value of MCH, MCV, and MCHC.Keywords: Stress, DASS 42, Erythema Index, MATLAB
Co-Authors A, Adrian Abednego Kristande Abib Latifu Fatah Abib Latifu Fatah Adham Rizki Ananda Afifah Tri Ambarwati AJENG RATNA NINGTYAS ALIA RESTI AZURA AMALIA OCTA PERMATASARI Ameilia Ameilia Amelia, Nisa Ayu ANNIESAH RAHAYU SAKINAH Annisa Atusholihah Apriyandi, Restu Amelia Arifa, Irbah Arista, Dwi Yuri Bashirah, Danaparamita Berliana, Nadila Billy Dwi Saputra Cecep Suhandi Dede Jihan Oktaviani Destiana, Dika Pramita Destiani, Dika P. DEVI MEILANI Dewi Ria Oktarina Dewi Sarah, Dewi Dewi, Triwedya Indra DHEANDA, HILALLYA MAURIZKA DIAH SITI FATIMAH Dian Amalia Maharani Dika Pramita Destiani Dika Pramita Destiani Dika Pramita Destiani Dika Pramita Destiani, Dika Pramita Dinda Meviansyah Dwi Yuri Arista Dwi, Fanny Seftiani El Yahya, Idzni Rusydina Elisabeth, Erlin Elisha Wianatalie ELLENA MAGGYVIN Erica Willy Ersa Fadhilah Faizah, Ulfa Rahmatul Fatah, Abib Latifu Firda Riska Rahayu Firda Silvia Pramashela Gabriella Josephine Maranatha Gabriella Livia Amanda GALUH AYU WANDITA Hadad, Nur Diana Hafida Aulia Qodrina Hanifa Rifdah Aiman Hidayatun Nisa Hidayatun Nisa, Hidayatun HILDA VILDAYANTI HILMI, HANNY LATIFA Imam Adi Wicaksono Imam Adi Wicaksono Imam Adi Wicaksono IMAM ADI WICAKSONO, IMAM ADI Irawan, Aurizal Risandy Irma Melyani Puspitasari Irsarina Rahma Izzah Al Mukminah JAMES PRASETYO LAKSONO JESSICA TRISTI Josephine, Gabriella JOSHUA JOSHUA Kamila, Rezkia Azka KENNY DWI SIDHARTA KIARA DIRGANTARA Kiara Puspa Dhirgantara Latifa, Hanny Listiani, Nita Lokajaya, Trifena Mamay Krisman Maulida, Putri Kholilah MAURA SYAFA ISLAMI MAYA, IRA Mochamad Rizky Fauzy Mukminah, Izzah Al Nadila Berliana Nadila Berliana Nadira Hasna Putri Natasha Salsabila Nia Kurniasih Nida Adlina Fadhilah NISA MAULANI NURALIYAH Norisca Aliza Putriana Nurfianti Silvia NURHAYATI . Nurhayati Nurhayati Nurlatifah, Anggun Pardosi, Yessica Pramashela, Firda S Puri, Tri N. S. QUINZHEILLA PUTRI ARNANDA Rachmawati, Afina Dwi RAHMAWATI, NURUL FITRI Ramadhana, Aslamnur Fikri Randy Rassi Prayoga Rania Aisha Nuralisa Riana Kamer Rizky Abdulah Saputra, Billy Dwi SAQILA ALIFA RAMADHAN SHELLA WIDIYASTUTI SHINTA LESTARI Sidharta, Kenny Dwi Sifa Muhammad Yusuf Soleh, Soleh Sri Indrayani, Sri Sumedhi, Herdina Mayangsari Syara Nur Fitri Balqist UTARI YULIA ALFI UZLIFATUL ZANNAH Wijayanti, Sinthiya Eka Witriani Witriani, Witriani Zakiyah, Neily