Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Farmaka

REVIEW ARTIKEL: TANAMAN HERBAL DENGAN AKTIVITAS PERANGSANG PERTUMBUHAN RAMBUT DILA TRIARINI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 15, No 1 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.344 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i1.12915

Abstract

AbstrakAlopesia merupakan suatu keadaan hilang atau tidak tumbuhnya rambut kepala yang dapat terjadi pada wanita maupun pria. Pentingnya peran rambut secara sosial dan estetika mendorong berkembangnya industri obat dan kosmetik untuk rambut. Obat sintetik untuk terapi alopesia sering memberikan efek samping yang tidak diinginkan pada penggunaan jangka panjang. Pemilihan tanaman herbal sebagai alternatif pengobatan yang aman dan efektif dapat dilakukan untuk mengatasi alopesia. Banyak tanaman herbal sudah terbukti memiliki aktivitas penumbuh rambut, dengan berbagai kandungan kimia dari setiap tanaman. Berdasarkan aktivitas yang dimiliki, tanaman yang memiliki aktivitas sebagai inhibitor 5α-reduktase, seperti Citrullus colocynthis, Phyllanthus niruri, Tectona grandis, Trichosanthes dioica, Zizyphus jujuba, dan Musa balbisiana, merupakan tanaman yang paling baik dalam mengatasi alopesia.Kata kunci : Alopesia, rambut, tanaman herbal
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT “X” PROVINSI JAWA BARAT PADA BULAN NOVEMBER-DESEMBER 2017 Sistha Anindita Pinastika Heningtyas; Rini Hendriani
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.72 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17697

Abstract

Penggunaan antibiotik untuk mengatasi penyakit infeksi bakteri yang kurang bijak dapat meningkatkan kejadian resistensi antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien rawat inap di Rumah Sakit “X” Provinsi Jawa Barat pada bulan November-Desember 2017 secara kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah antibiotik oral yang paling banyak digunakan adalah antibiotik Sefiksime Kapsul 100 mg, yaitu sebanyak 7760 kapsul pada bulan November dan 7396 kapsul pada bulan Desember 2017, sedangkan antibiotik parenteral oral yang paling banyak digunakan adalah antibiotik Seftriakson Injeksi 1 gram, yaitu sebanyak 5745 injeksi pada bulan November dan 5729 injeksi pada bulan Desember 2017. Sementara itu, jumlah pasien rawat inap terbanyak yang menggunakan antibiotik pada bulan November-Desember 2017 adalah pasien bedah, yaitu masing-masing sebanyak 786 dan 737 pasien, sedangkan persentase pasien rawat inap tertinggi yang menggunakan antibiotik pada bulan November-Desember 2017 adalah pasien obstetri dan ginekologi, yaitu masing-masing sebesar 74,7% dan 76,3%.
MURBEI PUTIH (Morus alba) SEBAGAI HERBAL ANTIOKSIDAN DAN PENGHAMBAT α-Glukosidase PADA PENDERITA DIABETES MELITUS : ARTIKEL REVIEW ANNISA LAZUARDI LARASATI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.607 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17556

Abstract

Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang penderitanya telah mencapai 200 juta orang secara global. Maka dari itu dibutuhkan tanaman herbal yang dapat mengatasinya melalui beberapa mekanisme salah satunya yaitu antioksidan dan penghambatan enzim α-Glukosidase. Morus alba salah satu tanaman yang terbukti memiliki aktivitas antioksidan dan penghambatan enzim α-Glukosidase. Review ini bertujuan untuk memperlihatkan potensi Morus alba sebagai tanaman yang mengandung antioksidan dan memiliki aktivitas penghambatan terhadap α-Glukosidase dengan metode DPPH dan ABTS untuk antioksidan, serta penghambatan yang dapat ditunjukkan dari nilai IC50 untuk penghambatan enzim α-Glukosidase. Morus alba dapat berperan sebagai tanaman antioksidan dengan nilai penghambatan dengan metode DPPH sebesar 16,83% - 43,95%, serta penghambat alfa-glukosidase dengan nilai IC50 sebesar 550 μg/mL pada ekstrak air dan 241 μg/mL pada ekstrak etanol. Dapat disimpulkan bahwa Morus alba memiliki nilai yang baik sebagai antioksidan dan penghambat enzim α-Glukosidase. Kata kunci : Diabetes melitus, Morus alba, antioksidan, α-Glukosidase. 
REVIEW ARTIKEL: MASALAH DAN PENGEMBANGAN FORMULASI OBAT UNTUK BENTUK DOSIS ANAK-ANAK ASLAMNUR FIKRI RAMADHANA; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 18, No 1 (2020): Farmaka (Januari)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2974.078 KB) | DOI: 10.24198/jf.v18i1.22378

Abstract

ABSTRAKObat sering digunakan masyarakat sehari-hari, termasuk oleh anak-anak. Ada berbagai alasan untuk formulasi obat menjadi bentuk sediaan yang sesuai, contohnya untuk pengukuran dosis yang akurat. Review artikel ini bertujuan mengetahui masalah dalam formulasi bentuk dosis untuk anak-anak dan penelitian yang mengembangkan bentuk sediaan sesuai dosis untuk anak-anak. Metode yang dilakukan adalah dengan review jurnal dari tahun 1994 sampai tahun 2019. Diperlukan bentuk sediaan yang sesuai dengan kondisi dan usia anak-anak. Rasa yang tidak enak menjadi masalah dalam formulasi dan hambatan dalam terapi. Tablet dispersible, bubuk butiran, pellet, atau taburan rekonstitusi sering digunakan pada bayi tetapi rasanya perlu ditutupi dan pemberian tanpa air tidak cocok untuk semua umur. Beberapa penelitian melakukan pengembangan formulasi yang dapat diterima untuk anak-anak seperti tablet disintegrasi cepat cetirizine gydrochloride, fast-dissolving tablet untuk pengobatan antiretroviral, tablet pelarut susu dan tablet hisap paracetamol, suspensi oral deksametason, hidroklorotiazid, spironolakton, dan fenitoin, tablet orodispersible, dan sirup ranitidine hidroklorida dari tablet ranitidine hidroklorida. Dengan demikian masalah bentuk dosis anak-anak dan penelitian pengembangan bentuk dosis anak-anak dapat diberi solusi.Kata kunci: pengembangan formulasi obat, bentuk dosis, anak-anakABSTRACTMedicines are often used by everyday people, including by children. There are various reasons for drug formulations to be suitable dosage forms, for example for accurate dose measurements. The review of this article aims to find out the problems in dosage formulations for children and research that develop dosage forms for children. The method used was a review of journals from 1994 to 2019. Required dosage forms in accordance with the conditions and age of children. Unpleasant taste is a problem in formulations and obstacles in therapy. Dispersible tablets, granular powders, pellets, or reconstitution sprinkles are often used in babies but need to be covered and giving without water is not suitable for all ages. Several studies have developed acceptable formulations for children such as fast disintegration tablets cetirizine gydrochloride, fast dissolving tablets for antiretroviral treatment, milk solvent tablets and paracetamol lozenges, dexamethasone oral suspensions, hydrochlorothiazide, spironolactone, and phenytoin, orodispersible tablets, and ranitidine hydrochloride syrup from ranitidine hydrochloride tablets. Thus the problem of the dosage form of children and research on the development of dosage forms of children can be given a solution.Keywords: development of drug formulations, dosage forms, children
REVIEW ARTIKEL: KANDUNGAN DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI TANAMAN TRENGGULI (Cassia fistula L.) Atikah Khairunnisa; Rini Hendriani; Anis Yohana Chaerunisaa
Farmaka Vol 17, No 3 (2019): Farmaka (Desember)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3657.225 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i3.22016

Abstract

Cassia fistula L. atau dikenal dengan trengguli merupakan tumbuhan yang termasuk pada keluarga Fabacae yang terdistribusi di berbagai belahan dunia seperti Asia, Afrika Selatan, India, Cina dan Brazil yang dapat digunakan sebagai pengobatan berbagai penyakit. Tujuan dari review literatur ini adalah mengetahui kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam bagian tumbuhan dan aktivitas farmakologi dari Cassia fistula L. Review terhadap studi tentang kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi Cassia fistula L. dilakukan dengan cara penelusuran pustaka yang dapat diakses pada situs penyedia jurnal terpercaya dan dilanjutkan dengan memilih 20 jurnal dari tahun 2000 hingga 2019. Sehingga, diketahui bahwa tanaman trengguli memiliki bermacam – macam kandungan senyawa aktif yaitu flavonoid, alkaloid, tanin, fenol, glikosida, steroid, terpen, dan biochanin A yang memiliki aktivitas farmakologi seperti antibakteri, antifungal, antidiabetes, antioksidan, antiinflamasi, antipiretik, analgesik, hepatoprotektif, hipolipidemik dan antiparasit.
ARTIKEL REVIEW: TERAPI SUPORTIF UNTUK PASIEN TERKONFIRMASI COVID-19 RIFA NURFAUZIAH; MUHAMMAD IKHWAN; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.27177

Abstract

Pada Desember 2019, terdapat laporan terkait kasus pneumonia baru. Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, diketahui penyebab kasus pneumonia baru adalah novel coronavirus. Virus yang menyebabkan sindrom pernafasan akut yang parah ini kemudian dinamakan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) oleh World Health Organization. COVID-19 merupakan penyakit yang menjadi darurat kesehatan masyarakat dan menjadi perhatian publik internasional. Hal ini diakibatkan oleh penyebaran penyakit yang meluas di Cina hingga ke seluruh  dunia. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk membahas lebih lanjut mengenai penyakit COVID-19. Pembahasan terdiri dari penjelasan mengenai pengertian, gejala, diagnosa, klasifikasi klinis, terapi farmakologi dan terapi suportif yang dapat dilakukan untuk menunjang kesembuhan pasien. Kata Kunci: Coronavirus, COVID-19, Terapi Suportif
Aktivitas antikanker payudara dan serviks pada beberapa tanaman SASQIA FATURACHMAN; Rini Hendriani
Farmaka Vol 17, No 2 (2019): Farmaka (Agustus)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.406 KB) | DOI: 10.24198/jf.v17i2.22282

Abstract

Kanker Serviks dan Payudara merupakan kanker yang sering menyerang pada wanita. Berbagai pengobatan untuk mengatasi kedua kanker tersebut terus dikembangkan salah satunya melalui tanaman. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui tanaman yang memiliki aktivitas sebagai anti kanker payudara dan serviks. Penulisan Review artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan jurnal diatas tahun 2000. Hasil yang didapatkan yaitu 10 tanaman masing-masing untuk anti kanker payudara dan serviks. Diantara tanaman yang didapatkan yang memiliki potensi  yang baik sebagai anti kanker Payudara ialah Pereskia Bleo (IC50: 3,125 ppm). Sedangkan untuk anti kanker Serviks ialah  Salvia Chorassanica (IC50: 2,38 ppm). Kata Kunci: Kanker Payudara, Kanker Serviks, Tanaman Obat
REVIEW ARTICLE: PERAN OBAT HERBAL SEBAGAI TERAPI SUPORTIF COVID-19 Kiki Ikrima; Rini Hendriani
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.34769

Abstract

ABSTRAKCorona virus disease 2019 (COVID-19) adalah infeksi virus yang muncul dengan prevalensi yang terus meningkat di seluruh dunia. Manajemen pengobatan pada COVID-19 difokuskan kepada diagnosa dini, isolasi mandiri, dan perawatan umum dan suportif. Tujuan penulisan review article ini adalah untuk mengetahui peran obat herbal sebagai terapi suportif untuk pasien dengan COVID-19. Metode yang dilakukan dalam penyusunan review article yaitu dengan studi pustaka primer dengan publikasi dari database online maksimal 10 tahun terakhir. Hal ini dilakukan sesuai dengan bukti klinis yang menunjukkan bahwa pemanfaatan obat herbal dalam perawatan COVID-19 dapat mempercepat proses penyembuhan dibandingkan dengan perawatan yang hanya menggunakan obat modern. Beberapa tanaman herbal juga berpotensi sebagai antiviral yang dapat menghambat virus corona, diantaranya yaitu meniran (Phyllantus niruri L.), cengkeh (Syzygium aromaticum), teh hijau (Camelia sinensis), jahe merah (Zingiber Officinale), kunyit (Curcuma longa L.) dan bawang putih (Allium sativum), dimana senyawa fitokimia yang terkandung dalam tanaman herbal tersebut dapat mengikat situs receptor-binding domain(RBD) protein S virus dan juga ke situs perlekatan virus di reseptor ACE2.ABSTRACTCorona virus disease 2019 (COVID-19) is an emerging viral infection with increasing prevalence worldwide.  Treatment management for COVID-19 is focused on early diagnosis, self-isolation, and general and supportive care.  The purpose of writing this review article is to explore the role of herbal medicine as supportive therapy for patients with COVID-19.  The method used in preparing the review article is by studying primary literature with publications from online databases for the last 10 years.  This is done in accordance with clinical evidence showing that the use of herbal medicines in the treatment of COVID-19 can speed up the healing process compared to treatments that only use modern medicine.  Some herbal plants also have the potential as antivirals that can inhibit the corona virus including meniran (Phyllantus niruri L.), cloves (Syzygium aromaticum), green tea (Camelia sinensis), red ginger (Zingiber Officinale), turmeric (Curcuma longa L.) and garlic (Allium sativum), where the phytochemical compounds contained  in herbal plants can bind to the viral S protein receptor-binding domain (RBD) site and also to the viral attachment site at the ACE2 receptor.
TINJAUAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK Cassia Fistula TERHADAP Staphylococcus aureus dan Escherichia coli: ARTIKEL REVIEW AI SITI RIKA FAUZIAH; Rini Hendriani
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2862.587 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13175

Abstract

Terdapat banyak mikroorganisme yang dapat menyebabkan masalah kesehatan (infeksi). Salah satunya yaitu S. aureus dan E.coli yang sebenarnya merupakan flora normal tubuh namun dapat menjadi patogen ketika terdapat suatu gangguan pada tubuh. Telah dikembangkan banyak obat-obatan untuk melawan infeksi terhadap mikroorganisme, namun kadang terjadi resistensi bakteri akibat tidak sensitifnya suatu bakteri terhadap obat tertentu yang sudah ada. Oleh karena itu, perlu dikembangkan suatu obat baru untuk melawan bakteri tersebut salah satunya dari tanaman. Salah satu tanaman yang sudah terbukti memiliki aktivitas antibakteri adalah Cassia fistula. Metode yang digunakan dalam pengujian aktivitas antibakteri adalah metode difusi paper disc. Dari beberapa jurnal yang telah ditelaah, didapat data-data mengenai aktivitas antibakteri dari berbagai bagian tumbuhan dengan berbagai pelarut. Dari data tersebut, aktivitas antibakteri terbaik ditunjukan oleh ekstrak biji dengan pelarut metanol pada konsentrasi 400 mg/ml dengan zona hambat 18 mm pada S. aureus dan 16 mm pada E. coli. Hal ini menunjukan bahwa aktivitas antibakteri tersebut berada pada tingkat sedang.Kata kunci: infeksi, resistensi, Cassia fistula, aktivitas antibakteri
REVIEW ARTIKEL: DIAGNOSIS DAN MANAJEMEN TERAPI ASMA AINI QOLBIYAH AFGANI; RINI HENDRIANI
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.26222

Abstract

Asma merupakan penyakit heterogen, biasanya dikarakterisasi dengan adanya inflamasi kronis pada jalur pernafasan. Dapat ditandai dengan adanya mengi, nafas yang pendek, batuk dan rasa sesak di dada yang berulang dan intensif. Menurut hasil Riskesdas pada tahun 2018, prevelensi asma pada penduduk di Indonesia untuk semua umur mencapai angka 2,4%, dengan prevalensi terbanyak ada pada usia 75 tahun lebih. Oleh karena itu, artikel ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi mengenai penyakit asma, agar masyarakat mengetahui penyakit asma dan dapat lebih waspada dalam menangani penyakit asma. Metode yang dilakukan adalah dengan menggunakan pengumpulan data yang diperoleh dari berbagai sumber jurnal penelitian dari Elsevier, ResearchGate, Sciencedirect, dan situs jurnal lain pada tahun 2010-2019. Dari penulusuran pustaka didapatkan bahwa asma dapat didiagnosa dengan melihat riwayat medis, pemeriksaan fisik dan pengukuran objektif, serta pertanyaan kunci yang ditanyakan kepada pasien. Manajemen terapi yang digunakan pada pasien asma terdiri dari obat pereda dan obat pengontrol.