Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search
Journal : Farmaka

Review : Teknik Peningkatan Kelarutan Obat WILLYBRORDUS YOGA PERDANA ADHITYA PRAMUDHITA; Rini Hendriani
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.583 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10866

Abstract

Kelarutan merupakan parameter penting bagi suatu obat dalam mencapai konsentrasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan respon farmakologi. Banyak obat memiliki kelarutan yang buruk di dalam air, padahal obat harus berada dalam bentuk terlarut ketika akan diabsorpsi. Banyak teknik yang telah dikembangkan untuk peningkatan kelarutan obat meliputi modifikasi fisik, modifikasi kimia, ataupun teknik lain.Kata kunci: Kelarutan, Peningkatan, Obat
TANAMAN HERBAL YANG MEMILIKI AKTIVITAS HEPATOPROTEKTOR Desi Dina Hanifa; Rini Hendriani
Farmaka Vol 14, No 4 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.389 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i4.11131

Abstract

Hati merupakan organ yang memiliki fungsi penting untuk metabolisme dalam tubuh. Kerusakan yang terjadi pada hati dapat disebabkan senyawa yang bersifat hepatotoksik. Untuk memperbaiki dan mengobati kerusakan hati, dapat menggunakan hepatoprotektor. Banyak tanaman herbal telah dilaporkan memiliki aktivitas sebagai hepatoprotektor. Mekanismenya diduga karena adanya antioksidan yang dapat mencegah terbentuknya radikal bebas yang dihasilkan oleh hepatotoksin. Dari 20 tanaman yang ditelaah dari sumber data review berupa jurnal dan internet, kayu manis memiliki efek hepatoprotektor terbesar dengan dosis 10 mg/Kg BB, diikuti dengan daun legundi dan gambir dengan dosis 30 mg/Kg BB.Kata kunci     : Tanaman herbal, Hepatoprotektor, Antioksidan
ANALISIS ABC DALAM PERENCANAAN OBAT ANTIBIOTIK DI APOTEK Luthfiah Pertiwi; Eky Septian Pradana; Rini Hendriani
Farmaka Vol 20, No 1 (2022): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i1.32643

Abstract

Perencanaan obat merupakan tahap awal untuk menetapkan jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Antibiotik adalah terapi utama dalam mengobati penyakit infeksi bakteri sehingga harus dilakukan pengendalian obat yang baik untuk menghindari terhambatnya proses pelayanan obat kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan obat antibiotik berdasarkan analisis ABC untuk mempermudah perencanaan obat antibiotik di Apotek. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif yang didasarkan pada dokumen penggunaan obat Antibiotik periode Agustus-Oktober tahun 2020 di salah satu apotek di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 122 item obat Antibiotik dikelompokkan berdasarkan analisis ABC, didapatkan kelompok A nilai pemakaiannya 41,50% dengan nilai investasi 69.51%. Kelompok B memiliki nilai pemakaian 45,00% dan nilai investasi 20,15%. Kelompok C nilai pemakaiannya 13,50% dengan nilai investasi 10,33%. Kelompok A terdiri dari 24 item, menyerap anggaran sebesar Rp.67.331.434,00. Kelompok B terdapat 26 item, menyerap anggaran sebesar Rp.19.518.487,00. Kelompok C terdiri dari 72 item, menyerap anggaran sebesar Rp.10.010.281,00. Total anggaran antibiotik secara keseluruhan sebesar Rp.96.860.202,00. Drug’s planning is the initial stage to determine the type and amount that suits your needs. Antibiotics are the main therapy used to treat bacterial infections, so good drug control must be carried out to avoid drug vacancies that can hinder the process of drug service to patients. This study aims to classify antibiotic drugs based on ABC analysis to facilitate the planning of antibiotic drugs in pharmacies. The method used is descriptive research with retrospective data collection based on documents of antibiotics uses from August - October 2020 at a pharmacy in Bandung. The results showed that 122 items of antibiotic drugs grouped based on ABC analysis, it was found that group A had usage value of 41.50% and investment value of 69.51%. Group B has usage value of 45.00% and investment value of 20.15%. Group C has usage value of 13.50% and investment value of 10.33%. Group A consists 24 items with budget of Rp. 67,331,434.00. Group B contained 26 items with budget of Rp. 19,518,487.00. Group C consists 72 items with budget of Rp. 10,010,281.00. The total budget for antibiotics as a whole is Rp. 96,860,202.00.
Artikel Review : Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Sebagai Obat Demam di Indonesia Rahman, Nazhmi Fauzan Fadhl; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.40048

Abstract

Demam merupakan sebuah gangguan kesehatan ditandai dengan peningkatan suhu tubuh sehingga suhunya diatas normal (36-37℃) dan hampir setiap orang pernah mengalaminya. Dalam penatalaksanaannya dapat dilakukan dengan pemberian terapi farmakologi salah satunya obat antipiretik sintetik. Namun, seringkali muncul dampak seperti mual, muntah, nyeri, bahkan kerusakan organ akibat pemberiannya sehingga masyarakat mulai mengurangi penggunaannya dan mulai beralih ke tanaman obat.  Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan informasi mengenai tanaman obat yang memiliki aktivitas antipiretik. Tulisan ini bertujuan memberikan informasi umum mengenai beberapa tanaman obat keluarga (TOGA) yang dapat digunakan sebagai obat demam. Penulisan dilakukan dengan pencarian literatur berbasis web yang meliputi pencarian artikel mengenai tanaman obat keluarga di Indonesia yang memiliki aktivitas antipiretik sebagai obat demam. Dari hasil pencarian diperoleh beberapa tanaman yang memiliki aktivitas antipiretik yaitu jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), kencur (Kaempferia galanga L.), kunyit (Curcuma domestica Val.), bawang putih (Allium sativum L.), bawang merah (Allium ascalonicum L.), pepaya (Carica papaya L.), kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis), jeruk nipis (Citrus aurantifolia).
Review Artikel: Potensi Tanaman Herbal Sebagai Anti-Kanker Multiple Myeloma Ramadhiany, Ziyan Zulfah; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 1 (2024): Farmaka (Maret)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i1.51045

Abstract

Kanker multiple myeloma adalah kelainan proliferatif sel plasma yang menjadi ganas dan tidak terkendali dalam sumsum tulang. Saat ini, telah banyak penelitian mengenai terapi alternatif kanker multiple myeloma, salah satunya dengan tanaman herbal yang dibandingkan dengan terapi konvensional dinilai memiliki risiko efek samping yang lebih rendah. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai beberapa tanaman herbal yang memiliki potensi sebagai terapi alternatif pada kanker multiple myeloma yang telah diuji secara in vitro pada garis sel RPMI 8226. Metode yang digunakan yaitu studi literatur dengan meninjau literatur pada beberapa sumber. Berdasarkan penelusuran pustaka, ditemukan beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai antikanker multiple myeloma, yaitu Buah salju (IC50 20 μg/mL), Rosella (IC50 30 μg/mL), Kayu manis (IC50 72 μg/mL), Ginseng India (IC50 76 μg/mL), dan Mangrove tancang (IC50 508,19 μg/mL). Dari ke-5 tanaman herbal tersebut, ekstrak etanol dari biji Buah salju memiliki potensi sitotoksik yang lebih besar dengan nilai IC50 ≤20 μg/mL.Kata kunci: kanker Multiple myeloma, tanaman herbal, garis sel RPMI 8226
Review Artikel : Potensi Tanaman Herbal Dengan Aktivitas Antikanker Paru Karim, Bilqisti Kanzabila; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 21, No 3 (2023): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v21i3.47821

Abstract

Kanker paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi sorotan di Indonesia karena paling banyak menyebabkan kematian. Saat ini, telah banyak penelitian dan pengembangan terapi kanker paru, khususnya yang memanfaatkan tanaman herbal karena pengobatannya dinilai sederhana dan memiliki efek samping yang minimal dibanding terapi konvensional. Penulisan artikel ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai beberapa tanaman herbal yang berpotensi sebagai terapi komplementer dan alternatif dalam pengobatan kanker paru yang diujikan pada sel A549. Metode yang dilakukan yaitu Literature Review dengan meninjau literatur pada berbagai database serta melakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan terdapat beberapa tanaman herbal yang potensial sebagai antikanker paru dan telah teruji secara in vitro pada garis sel A549. Diantara 14 tanaman yang potensial, ekstrak  rimpang kunyit daun sirsak, dan daun tapak liman memiliki potensi yang sangat baik untuk dijadikan sebagai terapi komplementer dan alternatif dalam pengobatan kanker paru karena memiliki nilai IC50 ≤20 μg/mL.
REVIEW ARTIKEL: KAJIAN PROFIL FITOKIMIA DAN AKTIVITAS FARMAKOLOGI RIMPANG TEMU HITAM (Curcuma aeruginosa Roxb.) Djamaluddin, Muhammad Ilham; Hendriani, Rini
Farmaka Vol 22, No 3 (2024): Farmaka (November)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v22i3.56079

Abstract

Dalam pengobatan tradisional, berbagai tanaman rimpang-rimpangan seperti kunyit, jahe, temulawak, dan kencur sering dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan dan mengobati bermacam penyakit. Salah satu rimpang berkhasiat yang masih jarang diketahui, ialah temu hitam (Curcuma aeruginosa Roxb.). Secara turun-temurun rimpang temu hitam dipercaya dapat mengatasi sakit perut, batuk, asma, kudis, mempercepat pengeluaran lokia selama masa nifas, kegemukan, rematik, kecacingan dan gangguan mental. Dengan ditulisnya review artikel ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kandungan fitokimia beserta beberapa efek farmakologi rimpang temu hitam (C. aeruginosa) yang telah teruji baik secara in vitro, in vivo maupun uji klinis. Semua literatur diperoleh dari Scopus dan Pubmed yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil studi diperoleh rimpang temu hitam mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan terpenoid, dengan kandungan utama berupa senyawa-senyawa turunan terpenoid. Senyawa-senyawa terpenoid inilah yang membuat rimpang temu hitam memiliki aktivitas sebagai antioksidan, anti inflamasi, anti kanker, antidiabetes, antimikroba dan antiandrogen.