Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Hard tissue augmentation for alveolar defects before implant placement Rochmawati, Mutia; Komara, Ira
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 28, No 1 (2016): March 2016
Publisher : Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1091.655 KB) | DOI: 10.24198/pjd.vol28no1.13514

Abstract

Background. Often when planning implant therapy, there is a need to augment or replace bone that has been lost. The alveolar defects may occur as a result of tooth loss due to extraction, advanced periodontal diseases or trauma, long term use of removable appliances, dehiscence and fenestration defects, developmental defects/clefts, congenitally missing teeth and odontogenic cysts and tumors. Insufficient bone volume can be brought about by hard tissue augmentation. This techniques have led to increased predictability in reconstruction of alveolar ridge defects and functional implant placement. Purpose. To describe the methods of hard tissue augmentation which can be done with block grafts (autografts and allografts), particulate grafts (cortical and cancellous), xenografts, or synthetic materials. Review. The reconstruction of a normal alveolar housing, in height and width, is imperative to achieve a harmonious balance between biology, function, and aesthetics. Depending on the size and morphology of the defect, horizontal or vertical, various augmentation procedures can be used. Soft tissue management is a critical aspect of hard tissue augmentation procedures. Incisions, reflection, and manipulation should be designed to optimize blood supply and wound closure. The design and management of mucoperiosteal flaps must consider the increased dimensions of the ridge after augmentation as well as esthetics and approximation of the wound margins. The surgical procedure needs to be executed with utmost care to preserve the maximum vascularity to the flap and minimize tissue injury. Conclusion. Alveolar ridge defects can be classified by using Seibert’s classification or HVC System. The treatment of alveolar ridge defect before implant placement can be done with hard tissue augmentation.
Is breastfeeding duration associated with caries in stunted toddlers? a cross-sectional study Hidayah, Riski Amalia; Rochmawati, Mutia; Kinasih, Amelia Sekar
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 10, No 3 (2024): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/majkedgiind.88996

Abstract

Stunting remains a significant nutritional concern in Indonesia, potentially affecting physical and cognitive development. Stunting may lead to oral health issues, specifically dental caries, due to salivary gland atrophy in malnourished children. While dental caries have multiple contributing factors, breast milk contains protective proteins and antibacterial properties that may influence caries development. This study aims to investigate the association between breastfeeding duration and dental caries occurrence in stunted and non-stunted toddlers. An analytical observational study with a cross-sectional approach was conducted using quota sampling of 30 toddlers attending Sumingkir Village Posyandu. Spearman correlation analysis showed no significant correlation between breastfeeding duration and caries in both stunted (p = 0.68) and non-stunted groups (p =0.66). Independent T-test revealed no significant mean differences between the groups (p < 0.05). However, the Mann-Whitney test demonstrated a significant median difference in caries (p = 0.006) between stunting (4(0-6)) and non-stunting groups (0(0-18)). This study concludes that breastfeeding duration showed no correlation with caries in either stunted or non-stunted toddlers; however, nutritional status (stunting) appeared to influence caries occurrence in toddlers.
UJI Aktifitas Antifungi Ekstrak Etanol Daun Pepaya (Carica papaya Linn) terhadap Candida albicans Multri, Violentri; Peramiarti, IDSAP; Rochmawati, Mutia; Ichsyani, Meylida; Satrio, Rinawati
Journal of Dental and Biosciences Vol 1 No 01 (2024): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Candida albicans merupakan patogen oportunistik pada membran mukosa rongga mulut. C. albicans dalam jumlah berlebihan pada mukosa rongga mulut dapat menimbulkan infeksi kandidiasis oral. Pengobatan kandidiasis menggunakan obat sintetik memiliki efek samping pada pasien dengan kondisi khusus seperti mual, muntah dan diare, sehingga diperlukan alternatif pengobatan yang lebih aman, salah satunya dengan memanfaatkan daun pepaya. Daun pepaya memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antifungi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antifungi dan KHM ekstrak etanol daun pepaya California pada konsentrasi 2,5%, 5%, 7,5%, 10 %, 12,5%, 15%. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris secara in vitro dengan rancangan penelitian berupa post-test only control group design. Penelitian ini menggunakan metode dilusi dengan pengukuran menggunakan spektrofotometer. Uji fitokimia ekstrak etanol daun pepaya California mengandung senyawa aktif berupa flavonoid, saponin, tannin, dan alkaloid. Ekstrak etanol daun pepaya dapat menghambat pertumbuhan C. albicans pada konsentrasi 7,5%, 10%, 12,5% dan 15% dengan nilai absorbansi -0,0250, -0.0125, -0.0368 dan -0.0397. Ekstrak etanol daun pepaya California mempunyai aktivitas antifungi terhadap jamur C. albicans dengan nilai KHM sebesar 7,5%.
Potensi Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Rimpang Kencur (Kaempferia galanga L.) dalam Menghambat Pembentukan Biofilm Fusobacterium nucleatum Faizal, Ozhan; Rochmawati, Mutia; Sari, Dwi Nur Indah; Rachmani, Eka Prasasti Nur; Triani, Maulina
Journal of Dental and Biosciences Vol 2 No 01 (2025): Journal of Dental and Biosciences
Publisher : Jurusan Kedokteran Gigi Fakultas Kedoketaran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jdentbios.2025.2.01.12430

Abstract

Latar belakang : Fusobacterium nucleatum merupakan bakteri penyebab periodontitis dan termasuk kelompok bakteri orange complex pada biofilm. Akumulasi biofilm dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti gingivitis, periodontitis, nekrosis jaringan, dan infeksi pada jaringan. Permasalahan yang disebabkan oleh biofilm dapat dicegah melalui terapi mekanis dan pemberian obat kumur chlorhexidine gluconate 0,2%, namun penggunaan dalam jangka panjang memiliki efek samping seperti staining, xerostomia, dan erosi gigi. Fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur merupakan bahan herbal sebagai alternatif terapi adjuvan karena mengandung senyawa aktif antibiofilm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur dalam menghambat pembentukan biofilm Fusobacterium nucleatum. Metode : Pada penelitian ini terdapat 5 kelompok perlakuan fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur (5 mg/mL, 10 mg/mL, 15 mg/mL, 20 mg/mL, dan 25 mg/mL), kontrol positif chlorhexidine gluconate 0,2%, dan kontrol negatif DMSO 1%. Uji penghambatan pembentukan biofilm dilakukan menggunakan metode microtiter plate assay dengan pewarnaan kristal violet 1% dibaca pada panjang gelombang 595 nm. Data dianalisis menggunakan One-way ANOVA dan uji post hoc LSD, dan nilai MBIC50 diuji dengan analisis probit. Hasil : Uji fitokimia menunjukkan hasil bahwa fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur mengandung senyawa flavonoid, saponin, alkaloid, tanin, dan fenol. Fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur efektif dalam menghambat pembentukan biofilm Fusobacterium nucleatum dengan nilai MBIC50 7,3 mg/mL dan persentase penghambatan pembentukan biofilm semakin meningkat seiring dengan penambahan konsentrasi. Fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur konsentrasi 25 mg/mL merupakan konsentrasi efektif. Simpulan: Fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kencur efektif menghambat biofilm Fusobacterium nucleatum.
PERBANDINGAN pH SALIVA PADA PENGGUNA ROKOK ELEKTRIK, ROKOK KONVENSIONAL, DAN NON PEROKOK Mutia Rochmawati; Riski Amalia Hidayah; Ratih Wijayanti
Majalah Kesehatan Vol. 0 No. 00 (2025): Article in Press
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ya40w342

Abstract

Perubahan pH saliva dapat disebabkan oleh beberapa faktor termasuk aktivitas merokok, oleh karena rongga mulut menjadi tempat utama penyerapan asap rokok. Perbedaan kandungan zat antara rokok elektrik dan konvensional dapat mempengaruhi perubahan pH saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pH saliva pengguna rokok elektrik, perokok konvensional, dan non perokok. Penelitian yang dilakukan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman. Sampel diambil dengan metode purposive sampling. Subjek penelitian terdiri dari 108 mahasiswa yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pengguna rokok elektrik, pengguna rokok konvensional, dan non perokok. Subjek diminta untuk mengisi formulir persetujuan informasi, data pribadi dan kuesioner. Data kebiasaan subjek dan variabel lainnya dikumpulkan melalui wawancara. Selanjutnya subjek diminta untuk mengumpulkan saliva dengan metode passive drooling selama 5 menit, dan kemudian pH saliva diukur segera menggunakan pH indikator strips untuk saliva dan pH meter. Data dianalisis secara statistik dengan uji Kruskal Wallis. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata pH saliva pengguna rokok elektrik sebesar 6,772±0,3918, pengguna rokok konvensional sebesar 6,506±0,6229 dan non perokok sebesar 7,022±0,5150. Berdasarkan uji Kruskal Wallis terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok pengguna rokok elektrik, rokok konvensional, dan non perokok (p = 0,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pH saliva pada pengguna rokok lebih rendah dibandingkan non perokok dan pH saliva pengguna rokok konvensional lebih rendah dibandingkan pengguna rokok elektrik. Penurunan pH saliva dapat mempengaruhi fungsi saliva untuk melindungi mukosa mulut sehingga bakteri akan menjadi lebih mudah melekat pada mukosa mulut