Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Gender impacts on motor skill proficiency-physical activity relationship in children Diana Samara; Nuryani Sidharta; Dian Mediana; Noviyanti Noviyanti
Universa Medicina Vol. 31 No. 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2012.v31.192-199

Abstract

BACKGROUND Physical activity is the greatest contributor to achievement of adequate physical activity. Children performing adequate daily physical activity will get positive benefits from their activity. Several studies indicate a difference in motor skills between boys and girls. To understand the development of motor skill proficiency and physical activity in boys and girls, a study was conducted to determine the role of gender on motor skill proficiency and physical activity in children aged 6-12 years. METHODS A cross-sectional observational study was conducted and a total of 162 children were included at a primary school in the Grogol area, West Jakarta. Data collection was by questionnaire-based interviews, covering age, gender, and physical activity (watching TV, playing games, and outdoor play). Assessment of motor skills was performed using the Bruininks-Oseretsky Test–Second Edition (BOT-2). Data analysis was performed using SPSS for Windows release 17.0 and level of significance was set at 0.05. RESULTS Multiple linear regression results showed that in boys the strength subset was the most influential factor on TV watching activity, with the higher scores for strength indicating a lower TV watching activity (â=-0.125;p=0.021). Age was the most influential factor on outdoor playing activity in girls, with older girls having lower outdoor playing activity (â=-0.375;p=0.016). CONCLUSIONS This study revealed that gender difference impacts on motor skills and physical activity in children. Higher motor proficiency increases outdoor playing activity only in boys. Primary school pupils should be given opportunities for performing outdoor playing activities to improve their motor proficiency.
Postur Tubuh dan Waktu Duduk dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah (LBP) Dietha Kusumaningrum; Diana Samara; Haryo Ganeca Widyatama; ML Edy Parwanto; Dina Rahmayanti; Salsabila Ayu Widyasyifa
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v10i1.513

Abstract

Introduction: Low back pain (LBP) is a complaint that often arises related to work and activities that can be experienced by anyone. Aim; know the relationship between posture and sitting time with complaints of low back pain (LBP) in students. Methods: A cross-sectional observational study was conducted and a total of 198 medical students. Data collection using a questionnaire, results: showed a significant relationship between head posture while sitting (p = 0.024), body mass index (p = 0.000), smoking habits (p = 0.003) and complaints of low back pain (LBP). There is no relationship between posture and knee joints when sitting, length of sitting, gender, and age with complaints of low back pain (LBP). Conclusion: There is a significant relationship between head posture (lower or upper) when sitting, body mass index (BMI), and smoking habits with complaints of low back pain (LBP).
PENYULUHAN TENTANG PENTINGNYA VAKSIN COVID-19 Tjam Diana Samara; Magdalena Wartono; Purnamawati Tjhin; Nany Hairunisa
Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1730.136 KB) | DOI: 10.25105/akal.v3i1.9780

Abstract

Vaksin Covid-19 merupakan satu cara di antara beberapa cara yang lain untuk mempercepat mengakhiri pandemi Covid-19. Itu sebabnya usaha untuk membuat seluruh rakyat Indonesia mendapatkan vaksin ini agar terbentuk herd immunity terus digalakkan. Salah satu caranya adalah dengan memberikan penyuluhan tentang vaksin Covid-19 agar masyarakat paham dan bersedia untuk divaksin.Karena itu Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti dalam program pengabdian kepada masyarakat kali ini mengadakan penyuluhan kepada warga anggota gereja Paroki Harapan Indah yang berada di wilayah Ignatius Loyola, Bekasi. Acara dilaksanakan secara daring (online dengan zoom) pada tanggal 28 Maret 2021 dengan metode penyuluhan dan tanya jawab. Keberhasilan dari penyuluhan ini adalah peserta mendapatkan pemahaman akan pentingnya vaksin Covid-19 dan tidak takut untuk divaksin.
EDUKASI DAN PENCEGAHAN TENTANG REPETITIVE STRAIN INJURY DI TEMPAT KERJA JAKARTA UTARA Magdalena Wartono; Diana Samara; Nany Hairunnisa; Permasisonya Brilliant
Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 3 No. 1 (2022): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2112.711 KB) | DOI: 10.25105/akal.v3i1.9801

Abstract

Gerakan repetisi dan/atau posisi kerja yang janggal bisa mengakibatkan cedera pada otot, saraf, ligamentum dan tendon baik sementara maupun permanen. Keadaan ini disebut sebagai Repetitive Strain Injury. Para pekerja di salah satu perusahaan pembangkit listrik banyak yang terpajan dengan gerakan repetisi pada aktivitas pemeliharaan unit pembangkit, seperti gerakan memutar pergelangan tangan dan tidak jarang dari mereka mengelukan masalah yang berkaitan dengan muskuloskeletal. Oleh sebab itu pemahaman tentang repetitive strain injury, seperti gejala dan dampaknya, serta pelatihan untuk mengurangi atau mencegah timbulnya keluhan repetitive strain injury menjadi penting bagi para pekerja perusahaan ini dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas kerja. Kegiatan dilakukan secara daring yang dihadiri oleh 98 orang. Kegiatan berupa edukasi (penyuluhan) disertai dengan pemutaran video tentang langkah-langkah meregangkan otot-otot tangan yang baik dilakukan sebelum bekerja agar otot-otot siap untuk diajak bekerja. Sebagai evaluasi pengetahuan peserta tentang repetitive strain injury, dilakukan pretest dan posttest. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang posisi tubuh yang baik saat bekerja dari 78% menjadi 88% di posttest, demikian juga dengan pertanyaan mengenai cara pencegahan repetitive strain injury (68% menjadi 93%). Dengan demikian kegiatan edukasi tentang repetitive strain injury dan pencegahannya ini bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan dari pekerja.
Relationship of bizygomatic and bigonial breadth with the suitability of surgical masks Diana Samara; Magdalena Wartono; Nany Hairunisa; Lie T. Merijanti; Alvin M. Ridwan; Ridwan Harrianto
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 55, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19106/JMedSci005502202305

Abstract

Use of masks is mandatory to prevent the transmission of COVID-19. Appropriate masks that match the face size is very important to avoid leakage. This study aimed to evaluate the relationship between bizygomatic and bigonial breadth with the suitability of surgical masks. It was an analytic observational study with a cross-sectional design conducted at the Occupational Medicine Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Trisakti, Jakarta during March to April 2021. A total 132 employees of Faculty of Medicine, Universitas Trisakti aged from 20 to 64 y.o. who meet the inclusion and exclusion criteria participated in this study. No significantly difference in age (p=0.248) and body mass index (BMI) (p=0.226) was observed. However, there was a significantly difference in bizygomatic width (p=0.000) and bigonial width (p=0.001) between men and women. The use of appropriate surgical masks was observed in 89 respondents, but not suitable for 43 respondents. There was no significantly difference between BMI, bizygomatic width and bigonial width with the suitability of surgical masks. However, old age was significantly more appropriate for using surgical masks than young people. In conclusion, BMI, bizygomatic width, and bigonial width are not substantially different with the suitability of surgical masks. However, older age is more suitable for employing surgical masks than younger age.
TEKANAN DARAH SISTOLIK LEBIH TINGGI PADA SORE DARIPADA PAGI HARI PADA USIA 45-65 TAHUN Anindra Novita Wulandari; Diana Samara
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Vol. 8 No. 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i2.16220

Abstract

Blood pressure is the pressure of the blood pumped by the heart against the walls of the arteries and is divided into systolic and diastolic. Blood pressure decreases 10% in the evening at normal circadian rhythms and rises again in the morning. Insomnia is one of the factors that can affect blood pressure. This study aims to look at differences in morning and evening blood pressure at the age of 45–65 years. The research method uses observational analytic with a cross sectional approach. Collecting samples using consecutive non-probability sampling. Subjects aged 45–65 were 301 people. Blood pressure was measured in the morning and evening. Insomnia data obtained based on a questionnaire. The statistical test used paired t test with a significance of p <0.05. The results showed a significant difference between morning and evening systolic blood pressure (P = 0,023), but there was no difference between morning and evening diastolic blood pressure (P = 0,224). There is a relationship between insomnia and morning blood pressure (p=0,001). The conclusion from the research results is that systolic blood pressure in the afternoon is higher than in the morning. Morning blood pressure is associated with difficulty sleeping at night.
TEKANAN DARAH SISTOLIK LEBIH TINGGI PADA SORE DARIPADA PAGI HARI PADA USIA 45-65 TAHUN Wulandari, Anindra Novita; Samara, Diana
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 8, Nomor 2, Juli 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v8i2.16220

Abstract

Blood pressure is the pressure of the blood pumped by the heart against the walls of the arteries and is divided into systolic and diastolic. Blood pressure decreases 10% in the evening at normal circadian rhythms and rises again in the morning. Insomnia is one of the factors that can affect blood pressure. This study aims to look at differences in morning and evening blood pressure at the age of 45–65 years. The research method uses observational analytic with a cross sectional approach. Collecting samples using consecutive non-probability sampling. Subjects aged 45–65 were 301 people. Blood pressure was measured in the morning and evening. Insomnia data obtained based on a questionnaire. The statistical test used paired t test with a significance of p <0.05. The results showed a significant difference between morning and evening systolic blood pressure (P = 0,023), but there was no difference between morning and evening diastolic blood pressure (P = 0,224). There is a relationship between insomnia and morning blood pressure (p=0,001). The conclusion from the research results is that systolic blood pressure in the afternoon is higher than in the morning. Morning blood pressure is associated with difficulty sleeping at night.
KOMORBID DIABETES MELITUS BERHUBUNGAN DENGAN LAMA PERAWATAN DI RUMAH SAKIT PADA PASIEN COVID-19 Riskita, Fira; Samara, Diana
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 9, Nomor 1, Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v9i1.17548

Abstract

COVID-19 adalah infeksi saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh SARS-COV2. Salah satu faktor risiko COVID-19 adalah penyakit komorbid seperti diabetes mellitus (DM), hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. DM adalah gangguan metabolisme yang terutama ditandai dengan hiperglikemia disebabkan oleh sekresi insulin yang tidak normal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pasien DM yang terinfeksi COVID-19 dengan lama perawatan di rumah sakit (RS). Penelitian ini memakai desain cross-sectional. Data yang diambil berupa data dari rekam medis yaitu gula darah sewaktu di hari pertama masuk RS dan lama perawatan pada pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Sampel pada penelitian ini sebanyak 112 subjek yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dibagi menjadi dua kelompok: dengan DM dan non DM. Lama perawatan dibagi menjadi dua kelompok: <11 hari dan ≥11 hari. Analisis hasil penelitian menggunakan uji chi-square dengan nilai kemaknaan p < 0,05. Prevalensi pasien positif COVID-19 dengan DM sebesar 58,5%. Pasien positif COVID-19 dengan DM yang dirawat ≥11 hari di RS sebesar 57,1%. Hasil uji chi-square antara lama perawatan di RS dengan pasien DM yang terinfeksi COVID-19 adalah p = 0,000 (p < 0,05). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pasien dengan komorbid diabetes melitus yang terinfeksi COVID-19 memiliki hubungan dengan lama perawatan lebih dari sebelas hari di Rumah Sakit.
HUBUNGAN ANTARA KOMORBID HIPERTENSI DENGAN LAMA PERAWATAN PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT Ramadhina, Azzahra Putri; Samara, Tjam Diana
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien dengan komorbid hipertensi yang terinfeksi COVID-19, memiliki hubungan dengan perjalanan penyakit, perawatan ICU, kebutuhan rawat inap, dan penggunaan oksigen lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan lama perawatan COVID-19 di RS Pertamina Jaya, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berupa data sekunder berdasarkan rekam medik sebanyak 123 sampel diambil dari periode Januari 2020 hingga Desember 2021 secara consecutive sampling. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, tekanan darah, dan lama perawatan pasien COVID-19 selama dirawat di rumah sakit (RS). Tekanan darah dikelompokkan menjadi hipertensi dan non hipertensi. Lama perawatan di RS dikelompokkan menjadi normal (<13 hari) dan lama (≥13 hari). Didapatkan frekuensi lansia awal (25,2%), dewasa akhir (24,4%) dan jenis kelamin laki-laki (57,7%) merupakan kelompok yang paling banyak terkena COVID-19. Secara data klinis ditemukan pasien tanpa hipertensi yang terinfeksi COVID-19 sebanyak 50,4%, pasien dengan hipertensi yang terinfeksi COVID-19 sebanyak 49,6%. Pasien yang dirawat di RS selama ≥13 hari sebanyak 52%, <13 hari sebanyak 48%. Berdasarkan hasil uji Chi-Square antara komorbid hipertensi dengan lama perawatan di RS didapatkan nilai p sebesar 0,00 (p<0,5). Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan antara hipertensi dengan lama perawatan COVID-19 di RS. Simpulan dari penelitian ini adalah pasien dengan komorbid hipertensi yang terkena infeksi COVID-19 memiliki hubungan dengan lama perawatan di RS. Kata kunci : COVID-19, hipertensi, komorbid, lama perawatan, rumah sakit DOI : 10.35990/mk.v7n3.p263-272
PENYULUHAN DIET UNTUK PENDERITA HIPERTENSI Mediana, Dian; Wartono, Magdalena; Samara, Diana; Sidarta, Nuryani; Setiawati, Lenny; Sutanto, Hans Utama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 1 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v1i2.19621

Abstract

Di Indonesia, hipertensi merupakan peringkat ketiga penyebab kematian akibat penyakit tidak menular. Menurut RISKESDAS 2018 sebanyak 34,1% penduduk Indonesia dewasa menderita hipertensi. Angka prevalensi ini mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan RISKESDAS 2013 sebesar 25,8%. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah menetap dengan sistole ≥140 mmHg dan/atau diastole ≥90 mmHg setelah pemeriksaan berulang (berlaku untuk semua orang dewasa). Penyebab hipertensi berhubungan dengan genetik dan faktor lingkungan, 90-95% kasus adalah hipertensi esensial yaitu bukan disebabkan oleh penyakit lain. Penanganannya tidak hanya dengan medikamentosa, tetapi pasien harus dapat mengikuti gaya hidup sehat, termasuk menurunkan berat badan bila penderita mengalami berat badan berlebih. Diet untuk penderita hipertensi dianjurkan diet rendah garam natrium, tinggi kalium, tinggi kalsium, dan tinggi magnesium. Pilihan makanan yang baik adalah banyak sayur dan buah, daging tanpa lemak dan produk susu, serta zat gizi mikro. Diet yang terbukti paling efektif adalah Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran warga mengenai masalah hipertensi. Kegiatan penyuluhan dilakukan kepada 30 peserta usia dewasa di RW 011, Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Hasil dari penyuluhan mendapatkan 22% peningkatan pengetahuan mengenai hipertensi dan diet DASH.