Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

KOMORBID DAN JUMLAH LIMFOSIT BERHUBUNGAN DENGAN LAMA PERAWATAN PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT Emanuela, Febrina; Samara, Tjam Diana
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 9, Nomor 2, Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v9i2.19637

Abstract

Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan infeksi virus SARS-CoV-2 dan ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok pada tahun 2019. Angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi membuat diagnosis Covid-19 yang maksimal perlu dilakukan. Pemeriksaan hematologi rutin merupakan pemeriksaan dengan sampel darah yang memiliki manfaat untuk diagnostik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hasil laboratorium hematologi rutin dengan lama perawatan pasien Covid-19. Penelitian ini menerapkan metode observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Penelitian ini menggunakan 187 sampel dengan usia ≥26 tahun dan dilakukan secara Consecutive Sampling. Pengumpulan data dilakukan berdasarkan data sekunder rekam medis pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Data yang dikumpulkan adalah usia, jenis kelamin, komorbid yang diderita, hasil pemeriksaan darah rutin, dan lama perawatan di rumah sakit (RS). Data lalu diolah dan dianalisis dengan SPSS menggunakan analisis univariat dan bivariat. Penilaian hubungan antara dua variabel dilakukan dengan uji statistik Chi-Square dengan tingkat kemaknaan p<0.05. Hasil yang didapatkan adalah usia paling banyak yang terinfeksi Covid-19 adalah 26-35 tahun (30,5%) dan 46-55 tahun (30,5 %). Laki-laki (52,9%) lebih banyak daripada perempuan (47,1%). Lama perawatan >15 hari (45,5%). Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara parameter-parameter yang dinilai dengan lama perawatan adalah secara berturut-turut: usia (p=0,000), jenis kelamin (p=0,239), komorbid (p=0,045), leukosit (p=0,539), eosinofil (p=0,658), limfosit (p=0,025), eritrosit (p=0,542), hemoglobin (p=0,379), hematoktrit (p=0,641), dan trombosit (p=0,649). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah usia, adanya komorbid, dan hitung limfosit berhubungan dengan lama perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit.
KONTROL GLIKEMIK TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN PERKEMBANGAN KETAJAMAN PENGLIHATAN SETELAH OPERASI KATARAK PADA PASIEN DIABETES MELITUS Sophian, Azzellia Danivaleiszhka; Samara, Tjam Diana
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 9, Nomor 2, Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v9i2.20065

Abstract

Latar belakang: Pasien diabetes melitus (DM) memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya katarak. Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan dan kebutaan. Operas katarak dilakukan bertujuan untuk memperbaiki fungsi penglihatan. Ada beberapa faktor yang dapat mengganggu keberhasilan operasi, salah satunya adalah kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan antara kontrol glikemik dengan perkembangan ketajaman visus setelah operasi katarak pada pasien DM. Metode: Disain penelitian adalah potong lintang. Sampel berjumlah 136 pasien DM dengan katarak yang berusia 55 tahun atau lebih. Pengumpulan sampel didapatkan dari rekam medis di Klinik Mata Saruni, Banten secara consecutive sampling. Penilaian kontrol glikemik dan perkembangan ketajaman visus setelah operasi katarak dilakukan pada pasien DM berusia 55 tahun atau lebih. Data diproses dan dianalisa menggunakan uji Chi-Square dengan nilai p signifikan bila <0,05. Hasil: Terdapat 50,7% dengan glikemik terkontrol dan 81,6% memiliki ketajaman visus setelah operasi katarak. Tidak terdapat hubungan antara kontrol glikemik dengan perkembangan ketajaman visut setelah operasi katarak pada pasien DM (p=0,251). Kesimpulan: Kontrol glikemik tidak berhubungan dengan ketajaman penglihatan setelah operasi katarak pada pasien DM berusia 55 tahun atau lebih.
PENYULUHAN PENTINGNYA VITAMIN D DALAM PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG KEPADA PETUGAS PPSU DI KELURAHAN RAWA BUAYA, JAKARTA BARAT Wartono, Magdalena; Mediana, Dian; Samara, Tjam Diana; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i1.21696

Abstract

Penyakit kardiovaskular terutama stroke dan kedua penyakit jantung koroner merupakan 37% penyebab kematian di Indonesia. Diketahui bahwa vitamin D memiliki pengaruh protektif terhadap sistem kardiovaskular. Defisiensi vitamin D terjadi pada hampir seluruh populasi di negara maju maupun negara berkembang. Di Indonesia, defisiensi berhubungan dengan diet makanan sumber vitamin D yang kurang dan perilaku berpakaian tertutup. Minimnya paparan kulit terhadap sinar matahari menyebabkan penyerapan ultraviolet untuk mengubah vitamin D menjadi bentuk aktif akan berkurang. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) di Jakarta yang bekerja hampir sepanjang hari di luar ruangan belum terjamin memiliki kadar vitamin D yang cukup. Tujuan PkM ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya vitamin D dalam kaitannya untuk pencegahan penyakit jantung koroner. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan yang disajikan dalam bentuk power point dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Peserta diberikan soal pre-test dan post-test guna mengukur keberhasilan penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini dilakukan kepada 80 orang petugas PPSU Kelurahan Rawa Buaya, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat pada 18 Oktober 2024. Hasilnya didapatkan peningkatan pengetahuan mengenai manfaat vitamin D dan pencegahan penyakit jantung koroner sebesar 17.67%. Kesimpulannya pengetahuan petugas PPSU Kelurahan Rawa Buaya akan manfaat vitamin D dan pencegahan penyakit jantung koroner telah meningkat.
Postur Tubuh dan Waktu Duduk dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah (LBP) Dietha Kusumaningrum; Diana Samara; Haryo Ganeca Widyatama; ML Edy Parwanto; Dina Rahmayanti; Salsabila Ayu Widyasyifa
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 10 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v10i1.513

Abstract

Introduction: Low back pain (LBP) is a complaint that often arises related to work and activities that can be experienced by anyone. Aim; know the relationship between posture and sitting time with complaints of low back pain (LBP) in students. Methods: A cross-sectional observational study was conducted and a total of 198 medical students. Data collection using a questionnaire, results: showed a significant relationship between head posture while sitting (p = 0.024), body mass index (p = 0.000), smoking habits (p = 0.003) and complaints of low back pain (LBP). There is no relationship between posture and knee joints when sitting, length of sitting, gender, and age with complaints of low back pain (LBP). Conclusion: There is a significant relationship between head posture (lower or upper) when sitting, body mass index (BMI), and smoking habits with complaints of low back pain (LBP).
Self-efficacy and Academic Stress in Senior High School Students Plus Assa'adah, Banten Zahrotusyifa, Laila; Samara, Tjam Diana
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 1 (2025): JIKM Vol. 17, Issue 1, February 2025
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v17i1.693

Abstract

Background: The National Education System Law No. 20/2003 states that education aims to develop student potential. A religious learning approach is one of many methods to develop student potential. High School Plus Assa'adah uses this approach. However, this approach can increase students' academic stress due to busy schedules and tasks. Low self-efficacy can cause students to lack confidence in facing these tasks. This study aims to determine the relationship between self-efficacy and academic stress in high school students. Method: This study used a cross-sectional design with observational analytics. A total of 90 respondents were studied with an age range of 14 - 17 years. The sampling technique was consecutive non-random sampling, with the inclusion criteria being students who were in eleventh-grade and physically filled out the questionnaire during the study. Exclusion criteria were students who were taking antidepressant and antianxiety drugs. Assessment of self-efficacy and academic stress using the General Self-Efficacy Scale and Student-Life Stress Inventory, the validity and variability tests of which are based on previous research. Chi-Square test was used to analyze the data with a significance level (p) <0.05. Result: Most respondents were male (52.2%), and the highest age was 16 (64.4%). Most students had moderate self-efficacy (65.6%), while the others had moderate academic stress (57.8%). The Chi-Square test showed no relationship between self-efficacy and academic stress (p=0.277). Conclusion: Self-efficacy was not associated with academic stress in high school plus students. It is necessary to look for other factors besides self-efficacy that can cause academic stress so that academic results can be improved.
HUBUNGAN DERAJAT PROTEIN DALAM URIN DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH PADA PASIEN PREEKLAMSIA Maharani, Astrid Winesti; Samara, Diana
JURNAL PENELITIAN DAN KARYA ILMIAH LEMBAGA PENELITIAN UNIVERSITAS TRISAKTI Volume 10, Nomor 2, Juli 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/pdk.v10i2.22545

Abstract

Preeklamsiamenduduki peringkat kedua penyebab kematian ibu dan berdampak pad akesejahteraan ibu serta janin, termasuk kejadian berat badan lahir rendah. Masih terdapat pro dan kontra mengenai hubungan antara derajat proteinuria dengan kejadian beran badan lahir rendah pada pasien preeklamsia. Tujuan dari studi ini yaitu untuk meningkatkan kesadaran pada pasien preeklamsia mengenai komplikasi pada janin, khususnya terkait berat lahir bayi. Penelitian ini menerapkan metode observasional analitik dengan pendekatan studi cross-sectional diambil dari 176 data pasien preeklamsia di RSU Karawang.  Data sekunder berupa data rekam medik pasien preeklamsia yang data karakteristik demografi meliputi naman, usia, jenis kelamin bayi, dan derajat proteinuria, serta berat bayi lahir dikumpulkan sebagai data yang digunakan pada penelitian ini. Data diolah menggunakan Chi-Square Test dengan batas kemaknaan statistik p<0,05. Hasil menunjukkan sebagian besar subjek pasien preeklamsia berusia 20-34 tahun yaitu58,5%,  bayi yang dilahirkan sama besar jumlahnya antara laki-laki dan perempuan yaitu 50,0%, derajat proteinuria yang masuk ke dalam kategori (+1-+2) yaitu 55,7%, bayi yang tidak memiliki berat badan lahir rendah sebesar 62,5%. Tidak terdapat hubungan antara usia ibu dengan kejadian berat badan lahir rendah pada pasien preeklamsia (p=0,0688). Terdapat hubungan antara derajat proteinuria dengan kejadian berat badan lahir rendah pada pasien preeklamsia (p<0,001). Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah derajat proteinuria berhubungan dengan kejadian berat badan bayi lahir rendah r dari pasien preeklamsia.
ANALISIS BAHAYA KESEHATAN KERJA PADA WARUNG SEMBAKO DI KRENDANG, JAKARTA Kusumaputra, Muhammad Faisal; Danardono, Anindya Diptapratita; Dewandhana, Aurelius Ariel; Rachma, Alya Karunia; Limbong, Herdima Meinardo; Amirah, Najah; Riharsono, Galih Chandra; Lestari, Ade Dwi; Samara, Tjam Diana; Ridwan, Alvin Mohamad
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i2.22837

Abstract

Pengabdian kepada Masyarakat di warung sembako bertujuan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di sektor industri mikro. Aktivitas yang dilakukan berupa penilaian risiko kesehatan dan keselamatan kerja di industri mikro warung sembako. Metode yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan penilaian risiko Kesehatan menggunakan matriks 4x4. Hasil menunjukkan bahwa warung sembako menghadapi risiko kesehatan kerja yang beragam, paling tinggi adalah risiko bahaya kerja ergonomi. Simpulan dari pengabdian ini adalah pentingnya intervensi preventif dan edukasi tentang kesehatan keselamatan kerja untuk mengurangi risiko penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja.
PENYULUHAN: PENGENALAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER DAN PENCEGAHANNYA Samara, Tjam Diana; Wartono, Magdalena; Mediana, Dian; Kosasih, Adrianus
Jurnal Pengabdian Masyarakat Trimedika Vol. 2 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/abdimastrimedika.v2i2.22889

Abstract

Kebersihan jalan raya tidak bisa dilepaskan dari petugas yang membersihkan. Jenis pekerjaan tersebut tidak terlepas dari risiko berbagai penyakit yang ditimbulkan akibat pekerjaan tersebut. Salah satu penyakit yang dimaksud adalah penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab tertinggi penyebab kematian di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang faktor-faktor yang menyebabkan PJK bagi petugas pembersih sarana umum (PPSU) dalam hal ini penyapu jalan agar dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut. Saat penyuluhan peserta diberikan pretest, dilanjutkan pemberian materi penyuluhan, dan diikuti dengan tanya jawab dan posttest. Hasil yang didapatkan adalah terjadi kenaikan pemahamana sebanyak 37.5%. Masih pelru dilakukan tindak lanjut penyluhan berikutnya agar peserta dapat lebih memahami bagaimana memelihara kesehatannya terkait sistem kardiovaskular
Hubungan performa akademik dan jenis kelamin dengan Nomophobia pada siswa SMA Samara, Tjam Diana; Simon, Monica Laurencia
Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Lentera Kesehatan Masyarakat
Publisher : PT. Lentera Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69883/zj7s5852

Abstract

Smartphone, alat komunikasi dan komputer, meningkatkan kebiasaan penggunaan selama pandemi, mencapai 210,77 juta pengguna di Indonesia pada 2021. Smartphone berperan penting dalam berbagai bidang, termasuk pembelajaran (performa akademik) dan pekerjaan jarak jauh, dan melibatkan baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Kemajuan teknologi menyebabkan ketergantungan pengguna, dikenal sebagai nomophobia, yang terkait dengan ketakutan kehilangan ponsel. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara performa akademik jenis kelamin dengan kejadian nomophobia siswa SMA. Studi ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional, melibatkan 86 responden sebagai sampel. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Nomophobia Questionnaire yang telah diuji validitas oleh Yildirim, et al, untuk menilai kejadian nomophobia. Selain itu, kuesioner juga mencakup pertanyaan terkait jenis kelamin, dan data nilai raport kelas 10 semester dua. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan uji Chi- square dan uji Fisher dengan tingkat signifikansi <0,05. Penelitian ini sebagian besar terdiri dari responden perempuan, dengan 58,3% mengalami nomophobia sedang. Hampir seluruh siswa yang memiliki performa akademik sangat baik berjumlah 98,8% dari total 86 responden. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara performa akademik dengan kejadian nomophobia (p=0,657). Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian nomophobia (p = 0,014). Kesimpulan dari penelitian ini, tidak ada hubungan antara performa akademik dan nomophobia. Namun, terdapat hubungan antara jenis kelamin dan nomophobia.
KESIAPAN PEMBELAJARAN DARING TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI BELAJAR DI MASA PANDEMI COVID-19 Muflih, Raihan; Samara, Diana
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2022.v5.95-101

Abstract

INTRODUCTION In the midst of the chaos caused by the COVID-19 pandemic, Indonesia can continue its formal education system with an online learning system. However, the online learning system as an alternative to the classroom teaching system was dismissed, considering the risk of contracting COVID-19 to students and teachers. This research aims to determine the correlation between online learning readiness and high school students learning motivation. METHODS This study was a cross-sectional study with analytical observations on high school students who were studying online with the same subject and the same teacher. 62 male and female respondents aged 15-17 were collected by consecutive random sampling. The research tools were the Online Learning Readiness Assessment (OLRA), and Situational Motivational Scale (SIMS) questionnaires filled out by the respondents. SIMS was measured using the Self-Determined Index (SDI) to determine intrinsic and extrinsic motivation categories. The results were then tested using the Pearson correlation test. RESULTS 54.8% of students were “not ready” for online learning, 30.6% were “almost prepared”, 12.9% were “not suited” for online learning, and 1.6% were “ready” for online learning. There was no statistically significant difference between extrinsically motivated students (53.2%) and intrinsically motivated (46.8%). There was no correlation between online learning readiness and motivation of the students (r=-0.051, p=0.692). CONCLUSION More students are not ready for online learning. However, it is not correlated between online readiness and students’ learning motivation. KEYWORDS: Online learning, Learning Motivation, High School, COVID-19 Pandemic