Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Herpetofauna Diversity at the Nusa Cendana University Fadlan Pramatana; Yusratul Aini; Maria M. E. Purnama; Roni Haposan Sipayung; Oki Hidayat
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 1 (2025): January
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i1.8130

Abstract

University campuses are built to carry out the learning process. Therefore, this area has dramatically developed and impacted on the environment and biodiversity. The Nusa Cendana University (Undana) campus area as a habitat for wild animals is included in the built and managed habitat categories. In human-dominated habitats in urban areas such as Undana, it is still possible for animal species to find habitats to find food, shelter, and water sources. This research aims to analyze herpetofauna diversity and update information on preliminary studies of herpetofauna at Nusa Cendana University so that it can be used as primary data for assessing time series. Data was collected using the Visual Encounter Survey combined with the time-constrained search method for three hours from 18.30 to 21.30 WITA at three habitat types (Agricultural, open-area, and built-area habitat). The observation period is divided into two categories: dry and rainy season. Twelve species from eight herpetofauna families, consisting of four amphibians and eight reptiles, were recorded in three habitat types in the Undana campus area. It was recorded that there were six additional herpetofauna species compared to the preliminary study.
POTENSI BIOMASSA DAN SERAPAN CO₂ PADA TEGAKAN HUTAN DI BLOK PEMANFAATAN TAMAN WISATA ALAM CAMPLONG Rahel Sarina Kartika Robo Tadu; Lusia Sulo Marimpan; Roni Haposan Sipayung; Nixon Rammang
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui kemampuannyamenyerap karbon dioksida (CO₂) dan menyimpan karbon dalam bentuk biomassa. Informasimengenai potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO₂ pada kawasan konservasidiperlukan sebagai dasar pengelolaan hutan yang berkelanjutan serta mendukung upaya mitigasiperubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomassa, simpanan karbon,serapan CO₂, dan valuasi ekonomi karbon pada tegakan hutan di blok pemanfaatan TamanWisata Alam (TWA) Camplong, Kabupaten Kupang. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 menggunakan metode non destructive dengan teknik line plot sampling pada 57plot pengamatan. Perhitungan biomassa dilakukan menggunakan persamaan allometrik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomassa tegakan hutan sebesar 256,82 ton/hadengan simpanan karbon sebesar 120,75 ton/ha. Potensi serapan CO₂ pada blok pemanfaatanTWA Camplong sebesar 443,14 ton/ha dengan total serapan mencapai 10.068,41 ton CO₂.Berdasarkan nilai tersebut, diperoleh valuasi ekonomi karbon 38.360,68 US Dollar atau setaradengan Rp 592.023.046.. Tingginya potensi biomassa, karbon, dan serapan CO₂ menunjukkanbahwa tegakan hutan di TWA Camplong masih berperan penting sebagai penyerap karbon(carbon sink) yang mendukung upaya mitigasi perubahan iklim. Oleh karena itu, pengelolaandan perlindungan kawasan perlu ditingkatkan untuk menjaga fungsi ekologis dan nilai ekonomikarbon yang dimiliki kawasan tersebutKata Kunci : Biomassa, Karbon, Serapan CO2, Valuasi Ekonomi Karbon, TWA Camplong.
VALUASI EKONOMI KARBON PADA NEKROMASSA DAN SERASAH DI HUTAN LINDUNG BANSAN DESA OENENU SELATAN KECAMATAN BIKOMI TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Gudelia Greisti Jehadu; Lusia S. Marimpan; Roni H. Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

sasaran utama karena digunakan sebagai sarana pendaur ulang karbon di atmosfer.Selain vegetasi hidup, komponen hutan berupa biomassa mati (nekromassa danserasah) memiliki potensi yang signifikan dalam menyimpan karbon namun seringkali kurang diperhatikan dalam kajian karbon hutan. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis potensi biomassa, simpanan karbon, serapan CO2 serta valuasiekonomi karbon pada nekromassa dan serasah di Hutan Lindung Bansan, DesaOenenu Selatan, Kecamatan Bikomi Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara.Penelitian ini dilakukan pada tutupan lahan seluas 51,07 ha dengan jumlah plotsebanyak 64 plot ukur serta ukuran plot untuk nekromassa 20 m x 20 m sedangkanserasah 2 m x 2 m.Pendugaan biomassa pohon mati menggunakan 2 persamaan allometrik untukjenis yang memiliki persamaan serta 1 persamaan allometrik untuk jenis yang tidakmemiliki persamaan. Pendugaan biomassa kayu mati menggunakan rumus yangditetapkan dalam (SNI 7724, 2011), sedangkan pendugaan biomassa serasahmenggunakan rumus yang dikembangkan oleh Elvina et al., (2018). Kadar karbondalam biomassa menggunakan nilai 47% dan nilai serapan CO2 dihitungmenggunakan faktor konversi 3,67 serta valuasi ekonomi karbon dihitungberdasarkan harga karbon domestik pada Bursa Efek Indonesia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hutan Lindung Bansan menghasilkanpotensi biomassa 24,48 ton/ha dan karbon sebesar 11,49 ton/ha. Nilai serapan yangdihasilkan sebesar 42,17 ton/ha. Dengan nilai serapan CO2 tersebut dapatmenghasilkan keuntungan ekonomi sebesar $8.204,97 USD atau setara dengan Rp126.627.863.
VALUASI EKONOMI KARBON PADA TEGAKAN DAN TUMBUHAN BAWAH DI HUTAN LINDUNG BANSAN KECAMATAN BIKOMI TENGAH KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Prisilla Afeanpah; Lusia S. Marimpan; Roni H. Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan lindung memiliki peran yang besar dalam mitigasi perubahan iklim, yakni sebagai sumber penyerap gas rumah kaca seperti CO2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biomassa, simpanan karbon, dan serapan CO2 serta valuasi ekonomi karbon tegakan dan tumbuhan bawah di Hutan Lindung Bansan. Penelitian ini dilakukan pada lahan seluas 51,07 Ha dengan metode non destructive untuk tegakan dan destructive untuk tumbuhan bawah. Penentuan titik plot secara purposive sampling berdasarkan kelas kerapatan vegetasi, pada 64 plot. Potensi biomassa tegakan menggunakan 5 persamaan allometrik yang spesifik pada jenisnya serta 1 persamaan allometrik untuk jenis yang belum memiliki persamaan allometrik. Potensi biomassa tumbuhan bawah menggunakan rumus yang dikembangkan oleh Iskandar et al., (2020). Nilai karbon diperoleh dengan mengalikan biomassa dengan faktor 0,47 sedangkanserapan CO2 dihitung dengan mengalikan nilai karbon dengan angka 3,67 yang merupakan konversi untuk C ke CO2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi biomassa, simpanan karbon, serta serapan CO2 di Hutan Lindung Bansan secara berturut-turut adalah 348,33 ton/ha, 161,18 ton/ha, 591,52 ton/ha, sedangkan valuasi ekonomi karbon pada tegakan dan tumbuhan bawah di Hutan Lindung Bansan senilai Rp397.047.588 atau setara dengan $25.727,06 US Dollar.Kata kunci: Biomassa, Karbon, CO2, Valuasi ekonomi, Hutan Lindung
PENILAIAN KESEHATAN HUTAN DI TAMAN WISATA ALAM BIPOLO, DESA BIPOLO, KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG Kristina Funan; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung; Frank Samelino Tita
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Bipolo merupakan kawasan konservasi yangmenghadapi tekanan berupa alih fungsi lahan, kebakaran hutan, pembalakan liar,serta kerusakan vegetasi yang berpotensi menurunkan kualitas ekosistem.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan hutan di TWABipolo, Desa Bipolo, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang. Metode yangdigunakan adalah Forest Health Monitoring (FHM) dengan teknik purposivesampling pada 31 klaster plot dengan intensitas sampling 10%. Penilaiankesehatan hutan dilakukan berdasarkan empat indikator, yaitu vitalitas,produktivitas, biodiversitas, dan kualitas tapak. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kondisi kesehatan hutan TWA Bipolo berada pada kategori sedangdengan nilai akhir 2,719. Indikator vitalitas menunjukkan kondisi kerusakanpohon tergolong sehat dengan nilai rata-rata 4,04 dan kondisi tajuk 3,17.Produktivitas memiliki nilai rata-rata luas bidang dasar 0,134 dan volume pohon1,449. Biodiversitas tergolong sedang dengan nilai 2,082, sedangkan kualitastapak menunjukkan pH tanah 6,13 (agak masam) dan kelembapan tanah 3,18(lembap).Kata Kunci : TWA Bipolo, Forest Health Monitorirng, Indikator
Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Habitat Hutan Homogen dan Heterogen di Kawasan Hutan Pendidikan dan Pelatihan Sisimeni Sanam, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Maria M. E. Purnama; Nixon Rammang; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung
Wana Lestari Vol 4 No 2 (2022): JURNAL KEHUTANAN
Publisher : Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/wanalestari.v7i02.9615

Abstract

This study aims to determine types of soil macrofauna and analyze the diversity and similarity of soil macrofauna contained in homogeneous and heterogeneous forest habitat. This research has been done in the Sisimeni Sanam Education and Training Forest Area, in Silu Village, Fatuleu District, Kupang Regency, East Nusa Tenggara. This research is descriptive quantitative using the exploratory method. Observations were carried out through pitfall trap and hand sorting. The data to be analyzed is related to the diversity index (H') and the Similarity Index (IS). Analysis of data using Microsoft Excel and Past3 applications. The results showed that types of soil macrofauna in Forest Areas Education and Training Sisimeni Sanam especially under the stands of forest habitat heterogeneous and homogeneous forest consists of 11 ordo with a total of 1,113 individuals were found. The diversity level of soil macrofauna under heterogeneous and homogeneous forest habitat stands at 1.71063 and 0.55568. The level of similarity between soil macrofauna under heterogeneous forest habitat stands is high with an average value of 62.406%.
EKSTRAKSI DAN PENENTUAN KADAR SELULOSA DARI EMPULUR BATANG GEWANG (Corypha utan Lamk.) MELALUI METODE ALKALI DAN ACETOSOLV Imanuella Aprilya Eunike Blegur; Herianus J.D. Lalel; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empulur batang Gewang merupakan biomassa palma non-kayu yang melimpah diNusa Tenggara Timur, namun pemanfaatannya sebagai sumber selulosa strukturalbelum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan (1) menentukan kandungan selulosadan lignin residu empulur batang Gewang dengan metode serat deterjen ADF–ADL,(2) membandingkan efektivitas metode ekstraksi alkali soda– AQ dan acetosolvterhadap rendemen selulosa yang dihasilkan, (3) menganalisis pengaruh agenbleaching hidrogen peroksida (H₂O₂) dan natrium hipoklorit (NaOCl) terhadaprendemen dan kecerahan selulosa, serta (4) mengkarakterisasi panjang seratselulosa empulur batang Gewang. Analisis ADF–ADL menunjukkan bahwa empulurbatang Gewang memiliki selulosa residu sekitar 10,25% dan lignin residu 1,02%pada basis berat kering, menandakan fraksi selulosa struktural yang terbatas dandominasi karbohidrat non- struktural. Ekstraksi menggunakan metode alkali soda–AQ menghasilkan rendemen selulosa 12,7%, sedangkan metode acetosolv hanya3,2% dari berat kering bahan awal. Proses bleaching dengan kombinasi metodeekstraksi dan agen pemutih memberikan rendemen 54,7% (acetosolv–H₂O₂), 54,0%(alkali–H₂O₂), 49,6% (acetosolv–NaOCl), dan 38,3% (alkali–NaOCl), dengan nilaikecerahan L berturut-turut 64,87; 62,31; 71,40; dan 67,97. Analisis One-WayANOVA diikuti uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan kecerahanantar perlakuan bleaching bersifat nyata (p < 0,05). Pengukuran 300 seratmenghasilkan panjang serat rata-rata 0,53 mm dengan kisaran 0,15–1,20 mm,sehingga serat selulosa empulur batang Gewang tergolong serat pendek. Secarakeseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa empulur batang Gewangmemiliki potensi terbatas sebagai sumber selulosa struktural, dengan metode alkalisoda–AQ lebih efektif dibandingkan acetosolv dalam melepaskan selulosa. Ditinjau dari karakter panjang serat dan rendemen, selulosa empulur batang Gewang lebihberpotensi dimanfaatkan sebagai komponen campuran dalam sistem pulp non-kayu,bahan pengisi komposit, atau bahan baku awal produk selulosa bernilai tambah skalaterbatas, daripada sebagai sumber utama pulp kertas berkekuatan tinggi.Kata kunci: selulosa, empulur batang Gewang, alkali soda–AQ, acetosolv,bleaching, panjang serat
PENILAIAN KESEHATAN HUTAN DENGAN METODE FOREST HEALTH MONITORING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE TANAH MERAH, DESA TANAH MERAH, KABUPATEN KUPANG Elisabeth Fore; Astin Elise Mau; Roni Haposan Sipayung; Fadlan Pramatana
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 2 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 2 Juli 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan hutan mangrove tanah merah merupakan kawasan konservasi yang menghadapi berbagai bentuk ancaman dan kerusakan berupa kegiatan penebangan pohon, pengambilan kayu bakar, pelepasan ternak liar, serta pembuangan limbah sembarangan yang sangat berbahaya bagi ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kesehatan hutan mangrove di Kawasan Hutan Mangrove Tanah Merah, Desa Tanah Merah, Kabupaten Kupang, dengan menggunakan metode Forest Health Monitoring (FHM). Penilaiankesehatan hutan dievaluasi secara terperinci melalui empat indikator pengamatan utama, yaitu vitalitas, produktivitas, biodiversitas, dan kualitas tapak. Hasil penelitian pada indikator vitalitas menunjukkan bahwa kondisi hutan masuk dalamklasifikasi kelas sehat dengan nilai Cluster Plot Level Index (CLI) sebesar 2,25 (CLI < 5) dan rata-rata nilai Visual Crown Ratio (VCR) sebesar 2,37. Pada indikator produktivitas, nilai Luas Bidang Dasar (LBDS) berkisar antara 0,04 m² hingga 0,79 m², sedangkan volume pohon berkisar antara 0,34 m³ hingga 4,51 m³. Untuk indikator biodiversitas, diperoleh indeks kekayaan jenis berada pada kategori kelas rendah (0,40), indeks keanekaragaman jenis berada pada kelas rendah (0,78),namun indeks kemerataan jenis menunjukkan kategori kelas tinggi (0,77).Sementara itu, indikator kualitas tapak di ketiga zona pengamatan menunjukkan nilai pH tanah berkisar antara 7,66–8,35, salinitas air berkisar antara 2‰–40‰, dan nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang berkategori sangat tinggi berkisar antara 40,11 cmol(+)/kg hingga 43,20 cmol(+)/kg.Kata Kunci : Mangrove Tanah Merah, Forest Health Monitoring, Indikator
Reforestation of the Rehabilitation Zone of Mutis Timau National Park to Enhance the Regeneration of Ampupu (Eucalyptus urophylla) Lusia Sulo Marimpan; Tomycho Olviana; Nixon Rammang; Roni Haposan Sipayung; Ayuvera Rifani Ray
Jurnal IPTEK Bagi Masyarakat Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : Ali Institute of Research and Publication

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55537/j-ibm.v6i1.1705

Abstract

Mutis Timau National Park is the newest national park designated in East Nusa Tenggara and was declared the 56th national park in Indonesia on 8 September 2024 by the Ministry of Environment and Forestry. Located across South Central Timor, North Central Timor, Kupang, and Belu Regencies, and partially bordering Timor-Leste, this area is widely known as the “Mother of Timor Island.” Ampupu (E. urophylla), a drought-adapted and fire-resistant species, dominates this region; however, its natural regeneration has continued to decline. This community service activity aimed to support the conservation and regeneration of Ampupu through reforestation in the rehabilitation zone using native species, namely naturally growing seedlings collected from their original habitat. Prior assessment of site conditions and previous research in the area supported the selection of this approach. A total of 100 Ampupu seedlings were planted and maintained intensively, resulting in a survival rate of 89%. The high survival rate was supported by the use of locally sourced seedlings, which required minimal adaptation, and by intensive maintenance, including the installation of supporting stakes to protect seedlings from livestock grazing in the forest area. In the short term, reforestation can increase stand productivity, while in the long term, it can enhance the forest’s capacity to store carbon and absorb CO₂ emissions.