Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PAKET EDUKASI HIDUP SEHAT “MINUM YANG CUKUP UNTUK ANAK CEMERLANG” DAN PEMERIKSAAN WARNA URIN SEBAGAI SKRINNING SEDERHANA UNTUK KEADEKUATAN MINUM PADA ANAK USIA SEKOLAH Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Yufitriana Amir; Juniar Ernawaty; Ganis Indriati; Ririn Muthia Zukhra; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38911

Abstract

Pendahuluan: Air merupakan komponen penting bagi tubuh manusia, yang berperan dalam berbagai fungsi vital, termasuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, dan mendukung fungsi organ. Kebutuhan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan aktivitas fisik yang tinggi. Dehidrasi pada anak sekolah dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, dan dampak negatif lainnya terhadap kesehatan serta prestasi belajar. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi tentang pentingnya hidrasi yang cukup guna mencegah dehidrasi dan mendukung kesehatan anak-anak di sekolah. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kebiasaan hidrasi melalui edukasi menggunakan media PowerPoint dan buku saku di SDN 166 Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 30 siswa kelas 4 yang mengikuti edukasi dan skrining warna urin. Penilaian dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan kuesioner serta pengukuran kepekatan warna urin sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan siswa dari 67,33 pada pre-test menjadi 71,67 pada post-test. Skrining urin juga menunjukkan penurunan rata-rata kepekatan warna urin dari 3,7 menjadi 3,1, yang mencerminkan perbaikan kebiasaan hidrasi siswa. Kesimpulan: Edukasi menggunakan media powerpoint dan buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kebiasaan minum air putih siswa. Program ini memberikan dampak positif pada kesehatan dan konsentrasi belajar siswa, serta mendorong pembentukan pola hidup sehat dengan cukup minum air putih.
Hubungan Pola Komunikasi Orang Tua dengan Masalah Perilaku dan Emosional Anak Usia Sekolah Fani Hidayah Putri; Syeptri Agiani Putri; Aminatul Fitri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.735

Abstract

Anak usia sekolah (6-12 tahun) berada pada tahap perkembangan membentuk kemampuan berprestasi dan berkarya. Namun, masalah perilaku dan emosional dapat menjadi hambatan dalam proses ini. Pola komunikasi orang tua merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dalam mendukung perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola komunikasi orang tua dengan masalah perilaku dan emosional anak usia sekolah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah orang tua yang mempunyai anak usia sekolah, yaitu sebanyak 368 responden yang diambil menggunakan teknik cluster sampling. Data yang terkumpul dianalisis dengan univariat menggunakan deskriptif sederhana dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan mayoritas responden berusia 19-40 tahun 207 (56,3%) dan berjenis kelamin perempuan 262 (71,2%). Mayoritas responden berpendidikan SMA 201 (54,6%) dan bekerja sebagai ibu rumah tangga 224 (60,9%). Sebagian besar responden berasal dari suku Batak 125 (34%). Anak responden, sebagian besar berjenis kelamin laki-laki 187 (50,8%) dan berusia 9 tahun 139 (37,8%). Pola komunikasi orang tua yang paling banyak ditemukan adalah pola pluralistik 121 (32,9%), sedangkan masalah perilaku dan emosional anak mayoritas dalam kategori normal 288 (78,3%). Uji statistik menunjukkan hubungan signifikan antara pola komunikasi orang tua dengan masalah perilaku dan emosional anak (p-value = 0,001). Terdapat hubungan antara pola komunikasi orang tua dengan masalah perilaku dan emosional anak usia sekolah. Orang tua dapat menyediakan komunikasi dengan pola pluralistik yang bersifat terbuka dan melibatkan anak dalam memutuskan hal-hal yang sederhana untuk mendukung perkembangan perilaku dan emosi pada anak usia sekolah.
Gambaran Perilaku Kesehatan Remaja Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Sayang Maulad Tika; Syeptri Agiani Putri; Ririn Muthia Zukhra
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.739

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang berada dalam tahap transisi dari masa kanak-kanak menuju dewasa, di mana terjadi banyak perubahan fisik, emosional, dan sosial. Masa ini juga menjadi periode krusial dalam pembentukan kebiasaan hidup, termasuk perilaku kesehatan. Sayangnya, remaja sering kali kurang memiliki kesadaran dan pengetahuan yang cukup dalam menjaga kesehatannya, yang dapat berdampak pada munculnya berbagai masalah kesehatan, seperti anemia, malnutrisi, dan gaya hidup tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gambaran perilaku kesehatan remaja sebagai langkah awal dalam upaya promosi dan pencegahan masalah kesehatan sejak dini. Penelitian ini menggunakan metode desain deskriptif sederhana. Sampel penelitian ini berjumlah 92 responden yang diambil menggunakan teknik Proportionate stratified random sampling. Analisis yang digunakan yaitu dengan uji statistik univariat. Hasil analisis didapatkan bahwa gambaran perilaku kesehatan remaja dikategorikan kurang baik dengan melihat pengetahuan kesehatan remaja kurang baik dalam pengetahuan etiologi kesehatan dan pencegahan dalam kesehatan sebanyak 47 remaja (51,1%), sikap kesehatan remaja kurang baik dalam sikap kognitif dan sikap konatif sebanyak 56 remaja (60,9%), dan tindakan kesehatan remaja negative dalam memberi dukungan sebanyak 53 remaja (57,6%). Berdasarkan gambaran perilaku kesehatan remaja dikategorikan kurang baik yaitu dengan hasil pengetahuan kesehatan remaja yang kurang baik, sikap kesehatan remaja yang kurang baik dan tindakan remaja terhadap kesehatan dikategorikan kurang baik.
Hubungan Kekerasan Verbal Dalam Berkomunikasi Orangtua Kepada Anak Terhadap Status Kesehatan Mental Emosional Anak Usia Prasekolah Diva Adesyahpuri; Syeptri Agiani Putri; Ririn Muthia Zukhra
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 6 (2026): Volume 8 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i6.22501

Abstract

ABSTRACT The childhood stage is the most important stage in human development. The psychosocial development of preschool children is initiative and feelings of guilt. However, some parents have problems with their children using verbal violence in communicating. This causes children to become aggressive, withdraw from the environment, and can hinder learning at home and school. This research uses a descriptive correlation design with a cross sectional approach. The sample consisted of 100 parents, with sampling using a stratified random sampling technique. The analysis of this research consists of univariate using descriptive tests and bivariate using chi-square tests. The majority of respondents who used verbal violence in communicating were in the low category, amounting to 80 people (80%). The emotional mental health status of preschool age children is dominated by normal, numbering 75 people (75%). Respondents who used verbal violence in communicating were in the high-medium category with the emotional mental health status of normal and troubled preschool age children totaling 12 people (100%), while respondents who used verbal violence in communicating with children were dominated by the low none category with the emotional mental health status of normal preschool age children was 69 people (78.4%). Therefore, the statistical test results obtained a p value (0.068) α (0.05). This research shows that there is no relationship between verbal violence in parent-to-child communication and the mental-emotional health status of preschool-age children. It is hoped that health workers will carry out early detection using verbal violence questionnaires in parental communication and KMME in preschool children.  Keywords: Preschool Aged Children, Verbal Violence, Parental Communication, Emotional Mental Health Status.  ABSTRAK Tahap anak merupakan tahapan terpenting pada perkembangan manusia. Perkembangan psikososial anak usia prasekolah adalah inisiatif dan perasaan bersalah. Namun, beberapa masalah orangtua kepada anak ada yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi. Hal ini menyebabkan anak menjadi agresif, menarik diri dari lingkungan, serta dapat menghambat belajar di rumah dan sekolah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel berupa orangtua sebanyak 100 orang, dengan pengambilan sampel menggunakan teknik stratified random sampling. Analisis penelitian ini, terdiri dari univariat menggunakan uji deskriptif dan bivariat dengan uji chi-square. Mayoritas responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi pada kategori rendah berjumlah 80 orang (80%). Status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah didominasikan oleh normal berjumlah 75 orang (75%). Responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi pada kategori tinggi sedang dengan status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah yang normal dan bernasalah berjumlah 12 orang (100%), sedangkan responden yang menggunakan kekerasan verbal dalam berkomunikasi kepada anak didominasikan oleh kategori rendah-tidak ada dengan status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah yang normal berjumlah 69 orang (78,4%). Maka dari itu, hasil uji statistik diperoleh nilai p value (0,068) α (0,05). Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan kekerasan verbal dalam berkomunikasi orangtua kepada anak terhadap status kesehatan mental emosional anak usia prasekolah. Diharapkan bagi tenaga kesehatan untuk melakukan deteksi dini dengan kuesioner kekerasan verbal dalam berkomunikasi orangtua dan KMME pada anak usia prasekolah. Kata Kunci: Anak Usia Prasekolah, Kekerasan Verbal, Komunikasi Orangtua, Status Kesehatan Mental Emosional.
Pengaruh Aromaterapi Tea Tree Oil Pada Anak Dengan ISPA Siska Afrilya Diartin; Syeptri Agiani Putri
NAJ Nursing Applied Journal Vol. 2 No. 1 (2024): January : Nursing Applied Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/naj.v2i1.139

Abstract

ARI is an infectious disease that attacks one or more parts of the respiratory tract, starting from the nose (upper tract) to the alveoli (lower tract) including adnexal tissue, such as the sinuses, middle ear cavity and pleura. ISPA is a respiratory tract infection that lasts for 14 days. ARI can be caused by various causes such as bacteria, viruses, fungi and aspiration. Bacteria that cause ARI include Diplococcus Pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus Pyogenes Staphylococcus Aureus, Haemophilus Influenza, and others. Viruses that cause ARI include influenza, adenovirus, cytomegalovirus. Fungi that cause ARI include Aspergillus Sp, Candida Albicans Histoplasm, and others. Apart from being caused by bacteria, viruses and fungi, ISPA is also caused by aspiration such as food, motor vehicle fumes, fuel oil, amniotic fluid at birth, foreign objects (seeds), small plastic toys, and others. The occurrence of ISPA is certainly influenced by many factors, namely environmental conditions (air pollutants such as cigarette smoke and cooking fuel fumes, density of family members, house ventilation conditions, humidity, cleanliness, season, temperature), availability and effectiveness of health services and infection prevention measures. to prevent spread (vaccines, access to health care facilities, isolation room capacity), host factors (age, smoking habits, ability of the host to transmit infection, nutritional status, previous infections or simultaneous infections caused by other pathogens, general health conditions) and characteristics pathogen (mode of transmission, infectivity, virulence factors such as genes, number or dose of microbes).