Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Solidaritas Sosial Masyarakat Hindu Bali Dalam Pelaksanaan Tradisi Ogoh-ogoh Di Desa Sebamban Baru Komalasari, Anggi; An’amta, Dimas Asto Aji
Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora dan Seni Vol. 3 No. 1 (2024): Juli - Agustus
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/jishs.v3i1.2134

Abstract

Ogoh-ogoh is a statue with various forms that are believed to be able to absorb negative things around humans. This study is to determine the meaning and social solidarity of the Balinese Hindu community in carrying out the Ogoh-ogoh tradition in Sebamban Baru village. The type of qualitative research with a descriptive approach. Data collection through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. Data analysis using the Miles and Huberman model. The results of the study found that: (1) The meaning in the tradition is that Ogoh-ogoh is believed to be able to absorb negative spirits which are then burned to eliminate the spirits. The values ​​contained in the meaning are religious, arts and culture, social and tolerance values. (2) The social solidarity that emerges in the Balinese Hindu community in the practice of the Ogoh-ogoh tradition in Sebamban Baru village is mechanical and organic solidarity according to Emile Durkheim. Mechanical solidarity is shown by cooperation, mutual cooperation, mutual respect and non-discrimination. Organic solidarity can be seen from the division of tasks, where the tradition holders have been determined and cannot be replaced.
Kota Seribu Pemadam Kebakaran: Solidaritas Sosial pada Komunitas BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) di Kota Banjarmasin An'amta, Dimas Asto Aji; Anshari, Ahmad
Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 3 No. 1 (2025): Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Sosiologi, FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/multikultural.v3i1.526

Abstract

Dalam komunitas BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) di Kota Banjarmasin terdapat solidaritas tinggi yang mampu meningkatkan kompetensi anggota komunitas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan solidaritas sosial dan bentuk solidaritas dalam menguatkan kompetensi komunitas BPK (Barisan Pemadam Kebakaran) di Kota Banjarmasin. Analisis penelitian ini menggunakan teori solidaritas sosial Emile Dukrhiem dan bentuk solidaritas kerjasama Hasan Shadily. Metode yang dipakai adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitik. Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukan antar anggota pada setiap komunitas BPK terhubung dengan solidaritas organis yang kuat, yang ditunjukan dengan memiliki ciri-ciri pada kelompok solidaritas organis. Solidaritas yang kuat juga meningkatkan kompetensi komunitas yang diperoleh dengan dari bentuk solidaritas kerjasama. Upaya dalam meningkatkan kompetensi pada setiap komunitas BPK dengan cara kegiatan-kegiatan yang mereka buat sendiri maupun kegiatan dari instansi terkait mengenai peningkatan kompetensi.
Peran Modal Sosial pada Pengrajin Perahu Pulau Sewangi Kabupaten Barito Kuala Dimas Asto Aji An’Amta; Febrihada, Febrihada Gahas Candramukti; Yusuf Hidayat; Azmi Riyadi
Entita: Jurnal Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 5 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ejpis.v5i1.7781

Abstract

Masyarakat sungai yang dicerminkan oleh suku Banjar menjadi citra yang melekat dikarenakan kondisi alamnya yang sangat dekat dengan sungai. Maka prasarana yang diperlukan adalah perahu sebagai transportasi penunjang aktivitas kesehariannya. Namun belakangan ini masyarakat mulai banyak beralih ke transportasi darat dan berimbas terhadap penjualan perahu. Berangkat dari sini penulis mengambil fokus tentang modal sosial produsen perahu dalam mempertahankan keberadaan mereka sebagai produsen perahu terutama di Kota Banjarmasin. Pada penelitian ini menggunakan pendekatan modal sosial R. Putnam dan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Adapun teknik pengumpulan data selama penelitian menggunakan wawancara mendalam dan pertanyaan terbuka dengan informan kunci, observasi lapangan dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan analsis data berupa reduksi data, trianggulasi waktu dan sumber. Kemudian melakukan penyajian data dan terakhir kesimpulan dari hasil penelitian ini. Dari hasil penelitian ini bahwa pengrajin perahu masih dapat produksi ditengah gempuran moda transportasi darat dikarenakan adanya modal sosial. Pertama, adanya kepercayaan yang saat ini masih terjaga baik antara pemilik dengan pekerja maupun pemilik dengan pemilik produksi. Kedua, adanya nilai/norma yang masih terjaga diantara pengrajin seperti bentuk gotong royong yang masih ada dengan istiliah lokal “mengulur”. Ketiga, jaringan sosial yang masih kuat antara pengrajin dengan pihak luar yang selama ini menjadi pemasok baik dari bahan baku maupun dengan konsumen yang menjadi pelanggan. Penelitian ini merekomendasikan agar pemerintah Daerah Barito Kuala agar lebih memperhatikan dan memfasilitasi berbagai keperluan para pengrajin perahu.
Peningkatan Kualitas Kesehatan Masyarakat Melalui Program PHBS, Pencegahan Penyakit dan Pemberian Nutrisi Pada Anak Usia Dini di Desa Muara Hungi Kabupaten Hulu Sungai Tengah Rahima, Annisa; An'amta, Dimas Asto Aji; Setiawan, Muhammad Dedy; Fajriah, Syarifah; Sudrajat, Putri Yessa; Mariyati, Heni; Rahmadi; Mahat, Dio Kristian; Sabrina, Siti Salma Nur; Putri, Tracy Ananda; Lestari, Citra Amalia
Hayak Bamara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/hb.v3i1.429

Abstract

Muara Hungi Village, located in the Meratus Mountains, South Kalimantan, faces significant challenges related to health and environmental sanitation. The villagers, who mainly work as farmers and fishermen, maintain a traditional socio-cultural lifestyle. The primary issues include a lack of awareness regarding environmental cleanliness, proper sanitation, and balanced nutrition, particularly for children. This Community Service Program aims to improve the community's health quality through the implementation of Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS), nutrition education, disease prevention for children, health counseling, and training of health cadres. The local community was actively involved in the planning and implementation process, allowing for an effective transfer of knowledge and skills. Additionally, the program focused on strengthening local institutions, such as community health centers (puskesmas) and schools, to run sustainable health programs. Using a live-in, participatory, cultural, and community empowerment approach, this program successfully fostered greater health awareness among villagers, particularly in schools and community health posts (posyandu). The program outcomes indicated improvements in school cleanliness practices, reduced disease risks, and increased understanding of balanced nutrition to prevent stunting in children. This program had a significant impact on improving the quality of life for the residents of Muara Hungi Village. The program’s success was evident not only in the physical health outcomes but also in the increased community participation in social activities centered on public health. This further highlights the potential for long-term sustainability, with the community acting as the primary driver of change in Muara Hungi Village.
Membaca Peta Relasi: Membangun Kota Inklusif melalui Jaringan Sosial Penyandang Disabilitas Muhammad Rizky Anugrah Fadhilah; An'amta, Dimas Asto Aji
Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 3 No. 2 (2025): Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Sosiologi, FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/multikultural.v3i2.600

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang jaringan sosial dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Kota Banjarmasin yang merupakan kota dengan jumlah penyandang disabilitas terbanyak ke-empat di provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2024, dari peringkat tersebut menjadikan kota Banjarmasin yang didasari oleh inisiatif pemerintah kota untuk menjadikan kota Banjarmasin sebagai kota yang inklusif meskipun masih menghadapi tantangan aksesibilitas dan partisipasi sosial dari masyarakat. Dalam pendekatannya, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori jaringan sosial Agusyanto yang memfokuskan pada jaringan berbasis kepentingan, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan beberapa informan kunci, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis dengan UCINET yang menunjukkan kepadatan jaringan 0,569 dengan Dinas Sosial dan Hervita (HWDI/PPUAD) sebagai aktor kunci, sementara mengidentifikasi kesenjangan komunikasi pada aktor tertentu seperti Birin (aktor dengan disabilitas tuli) serta peran pelengkap platform digital. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian merekomendasikan penguatan kapasitas kelembagaan organisasi disabilitas, pembentukan forum koordinasi rutin, peningkatan aksesibilitas digital, dan penerapan analisis jaringan untuk perencanaan kebijakan yang lebih inklusif guna memperkuat ekosistem sosial pendukung penyandang disabilitas di Banjarmasin.
Assistance For Institutional Strengthening of Urban Farming Groups Based on Urban Wetland Biodiversity Hidayah, Sri; An'Amta, Dimas Asto Aji; fadly, fadly; Al Syahrin, M Najeri
Plakat : Jurnal Pelayanan Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7, Nomor 2, Desember Tahun 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/plakat.v7i2.22834

Abstract

Limited institutional capacity is the main obstacle for urban farming groups in Sungai Andai Village, North Banjarmasin. Unorganized organizational structures and unclear division of roles lead to weak coordination and decision-making. The purpose of this service activity is to strengthen the institutional capacity and management of the group through the arrangement of organizational structures, division of roles, and strengthening the network of external partnerships. The program was carried out for six months with participatory methods in the form of group discussions, focus group discussions (FGDs), workshops, training, and mentoring. The activity partner is the Puma III Wine Village Group which consists of 14 members. Evaluations are carried out periodically at the end of each month using observations, interviews, and online questionnaires. The results showed an increase in member participation from 70% to 92%, an increase in material understanding from 65% to 91%, and an increase in institutional capacity from 60% to 90%. In addition, the group succeeded in compiling a functional organizational structure, an annual work plan, and guidelines for biodiversity-based urban farming businesses. This activity proves that institutional strengthening accompanied by sustainable partnerships is able to strengthen the role of urban farming groups in realizing competitive and sustainable urban agriculture.
Konstruksi Sosial pada Pernikahan Endogami Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kota Banjarbaru Fahma, Erisa Nur; An'Amta, Dimas Asto Aji
Huma: Jurnal Sosiologi Vol. 4 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/h-js.v4i2.543

Abstract

Amid growing social openness, the Islamic organization LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) in Banjarbaru continues to uphold endogamous marriage practices. This study aims to explore how such practices are rooted within the organization. Using a qualitative approach with a phenomenological method, the research applies Peter L. Berger and Thomas Luckmann’s theory of social construction as its analytical framework. Data were collected through participant observation, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using Miles and Huberman’s interactive model: data collection, reduction, presentation, and conclusion. The findings show that the social construction of endogamous marriage unfolds through three stages: (1) externalization, values are disseminated via religious gatherings, preacher guidance, and forums; (2) objectivation, teachings become institutionalized and reinforced by a Marriage Team, forming an accepted social reality; and (3) internalization, individuals embrace these values as part of their religious and moral identity. Contributing factors include parental influence, preacher roles, adherence to organizational norms, and member interactions, which collectively shape a shared consciousness that sustains the practice across generations. In conclusion, endogamous marriage within LDII functions as a strategic means of preserving organizational identity amid ongoing social change. These findings contribute to studies in the sociology of religion and family, particularly regarding marriage practices in Indonesian religious organizations.
Penguatan Desa Proiklim Melalui Zero Waste dan Ketahanan Pangan di Desa Karang Buah Kabupaten Barito Kuala Nabila, Siti; An'Amta, Dimas Asto Aji; Rahmah, ST.; Rahul, Muhammad; Ruswati, Anis; Noor, Hakiki; Ru'yah, Rabiatul; Akbar, Muhammad Hadi
Hayak Bamara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In 2022 Karang Buah Village was appointed by Barito Kuala Regency to become a Proiklim Lestari Village, but to raise the status to become a Climate Village must pass through many stages, one of which is the problem of waste. Although the community has an awareness not to throw garbage in the river, the absence of TPS and waste bank means that people often burn garbage as a final solution for waste disposal. This is a challenge to implement Desa Iklim, as it contradicts the Proiklim principle. The solution in the form of a program is present not only to overcome waste management problems, but also to strengthen the Proiklim Village. The waste decomposition period education sign program was created to educate the community, the sign was then placed in front of the village office. The eco enzyme socialization and training program, as well as the ecobrick garden were made to provide solutions in managing waste, for the eco enzyme program in collaboration with Eco Enzyme Nusantara South Kalimantan and carried out at the village hall, while the ecobrick garden program was made using waste obtained from mutual cooperation and the results were placed at SDN Karang Buah. The hydroponic cultivation program was created to strengthen food security by providing another solution in cultivating plants, the cultivation pilot was placed at the village office. Finally, a storytelling program with the theme of protecting the environment was created as an early education to protect the environment, this program was implemented at SDN Karang Buah. The successful achievement of the programs that have been implemented can be seen from the survey given to the community. The results showed that more than 90% of the community agreed that the program provides long-term benefits for the community and village.
Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Netra dan Fisik Melalui Program Rehabilitasi Sosial di Panti Fajar Harapan Putri, Aliya; An'Amta, Dimas Asto Aji
Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 2 No. 2 (2024): Multikultural: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Program Studi Sosiologi, FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/multikultural.v2i2.398

Abstract

Permasalahan sosial pada penyandang disabilitas masih menjadi persoalan yang harus diwujudkan solusinya untuk mencapai kesejahteraan sosial kehidupan penyandang disabilitas. Usaha pemerintah daerah untuk mengatasi permasalahan tersebut melalui kajian pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan dan mengembangkan potensi penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman pada proses pemberdayaan penyandang disabilitas melalui program rehabilitasi sosial Panti Fajar Harapan, dengan menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitik, melalui teori actor dan aspek enabling, empowering, dan protecting pemberdayaan. Data penelitian ditemukan melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi, yang akan dianalisis melalui teknik reduksi data, display data dan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menghasilkan suatu kesimpulan bahwa pelaksanaan program rehabilitasi sosial yang dilakukan dapat meningkatkan rasa percaya diri, pengembangan kreativitas, serta pulihnya fungsi sosial. Meskipun dalam prosesnya dipengaruhi hal-hal yang bersifat eksternal dan internal yang menjadi dukungan serta hambatan pada program rehabilitasi sosial. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Penyandang Disabilitas, Rehabilitasi Sosial
Serumpun Bambu Sejuta Karya: Pengelolaan Potensi Kreatif sebagai Motor Ekonomi Lokal di Desa Gunung Riut Kabupaten Balangan Putri, Agustia Rinjani; An'amta, Dimas Asto Aji; Afwillah; Rahmah, Mutia; Fadilatin, Umi; Gustiyanur; Baiti, Noor; Syafii, Ahmad; Mailiana; Syalehah; Nirmalasari, Indah
Hayak Bamara: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/hb.v3i2.709

Abstract

This community service program was implemented in Gunung Riut Village, Halong District, Balangan Regency, South Kalimantan, an area with abundant bamboo resources and strong economic and cultural value. This potential has not been optimally utilized as a driver of the village's creative economy. The main problem lies in the weak capacity of local institutions, particularly the Karang Taruna youth organization, which has not been actively involved in productive activities such as making bamboo chairs and other derivative products. This program uses a Participatory Action Research (PAR) approach that places the community as the main subject or actor in the process of planning, implementing, and evaluating activities. The program aims to increase the independence of the community and village youth in managing local potential in a sustainable and economically valuable manner. The activities were carried out over a month using participatory methods, including socialization, coordination with local craftsmen, procurement of tools and materials for the pre-workshop, and a workshop on developing the creative potential of the village, involving four villages around Mount Riut. The results of the activities showed an increase in the technical skills of the participants in processing bamboo into marketable products, an increase in collective awareness of local economic potential, and the growth of motivation among young people to become entrepreneurs. In addition, this program succeeded in revitalizing the role of Karang Taruna as the driving force behind the village's creative economy and strengthening collaboration between villages. This program is expected to become an applicable model of empowerment based on local potential.