Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Daya Dukung Ekowisata Pantai Teluk Penyu Kabupaten Cilacap Rahmawati, Sofwa Aulia; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Ilmu Kelautan Lesser Sunda Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu Kelautan - Lesser Sunda
Publisher : Program Studi Ilmu Kelautan, Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jikls.v2i2.58

Abstract

Ecotourism is tourism based on nature continues to be ecological, social, cultural, and economic to provide an opportunity to appreciate and learn about the elements of the natural environment. Carrying capacity of the area is the maximum number of visitors that physically can be accommodated in the area provided at a specific time without disruption to nature and man. Teluk Penyu Beach in Cilacap is a part of Indonesian ecotourism. In addition to natural scenery, Teluk Penyu Beach has a history, philosophy and hospitality of the people which are the main attraction so that it arouses the curiosity of tourists to visit and explore natural and historical knowledge more deeply. For the development, utilization, and management of the ecotourism potential that exists on the Teluk Penyu Beach, it is necessary to conduct related research on the Analysis of Development and Supporting Capacity of Ecotourism of Teluk Penyu Beach, Cilacap Regency. The purpose of this study is to analyze the efforts that need to be made to develop tourism and to determine the value of the carrying capacity of the Teluk Penyu Coastal Ecotourism Area in Cilacap Regency. The method used in this research is the field survey method. Methods of data collection using observation, documentation, questionnaires or interviews with tourists and managers.
ASPEK PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN BREK (Puntius orphoides, Valenciennes) PADA HABITAT WADUK PB SOEDIRMAN DAN SUNGAI KLAWING Affani, Ririn; Setijanto; Sari, Lilik Kartika; Nasution, Erie Kolya; Rukayah, Siti
Proceeding Seminar Nasional IPA 2022
Publisher : LPPM UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan reproduksi ikan bek (Puntius orphoides) di Waduk PB Soedirman, Banjarnegara dan Sungai Klawing, Purbalingga. Aspek pertumbuhan meiliputi hubungan panjang berat dan faktor kondisi. Aspek reproduksi meliputi rasio kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG) dan fekunditas. Penelitian di Waduk PB Soedirman dilakukan bulan Oktober dan November 2017, sedangkan di Sungai Klawing dilakukan bulan Juni dan Juli 2018. Sampel Ikan Brek yang diperoleh selama penelitian berjumlah 76 ekor dengan total 46 ekor tertangkap di Waduk PB Soedirman Banjarnegara dan sebanyak 30 ekor tertangkap di Sungai Klawing Purbalingga. Pola pertumbuhan Ikan Brek di waduk bersifat isometrik sedangkan di sungai bersifat isometrik dan allometrik negatif. Faktor kondisi Ikan Brek di waduk dan sungai berkisar 0,99-1,17. Rasio kelamin di waduk secara keseluruhan 1,55 : 1 (60,87 % jantan dan di sungai 39,13 % betina) dan 6,5 : 1 (86,67 % jantan dan 13,33 % betina). TKG adalah I-IV dengan IKG waduk dan sungai berkisar 0,14-32,36 untuk jantan dan 2,38-18,14 untuk betina. Fekunditas hanya terjadi di waduk berkisar 9.634-41.789 butir. Kondisi kualitas air di Waduk PB Soedirman dan Sungai Klawing dalam keadaan baik untuk kehidupan Ikan Brek.
Identifikasi Sistem Sosial Ekologi (SES) Pada Taman Wisata Hutan Mangrove kota Pariaman, Sumatera Barat Hasanah, Lailatul; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 4, No 1: April (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v4i1.37146

Abstract

Kota Pariaman terdiri dari 4 kecamatan , 16 kelurahan dan 55 des. Luas wilayahnya mencapai 66,13 km dan penduduk 88.984 jiwa. Secara astronomis, Kota Pariaman terletak antara 00 33 00 00 40 43 Lintang Selatan dan 100 04 46 100 10 55 Bujur Timur. Tercatat memiliki luas wilayah 73,36 km2, dengan panjang garis pantai 12,00 km. Luas daratan kota ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Provinsi Sumatera Barat, salah satu ciri dari desa pesisir adalah aktivitas dan hubungan antara sistem alamiah (sumberdaya) dan manusia (sosial ekonomi). Sistem sosial ekologi (SES) atau sistem sosial ekologi (SES) adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan desa pesisir. Pada Penelitian ini penulis menggunakan metode pengamatan secara langsung dengan pengambilan data primer berupa observasi partisipasi aktif, wawancara, dokumentasi dan data sekunder yang diperoleh peneliti dari literatur yang sudah ada melalui media perantara, seperti buku dan jurnal, secara langsung dan tidak langsung. Hasil penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana sistem sosial ekologi pada taman Wisata hutan Mangrove kota Pariaman. Hutan Mangrove di Desa Apar merupakan salah satu destinasi wisata populer di Pariaman, menghadapi tantangan karena terbatasnya pemahaman dan pengelolaan, sehingga menyebabkan deforestasi. Peran dari beberapa stakeholder dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Apar Mandiri Wisata ini meningkatkan ekonomi masyarakat dengan adanya destinasi wisata yang menarik kunjungan wisatawan, serta dapat menciptakan lapangan perkerjaan baru, dan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar lokasi tersebut sehingga aktivitas yang dilakukan manusia menjadi jembatan sistem sosial ekologi yang bebas terhubung dengan sistem sosial.
Peran Kelompok Tani Dalam Penerapan Program Padi IP 400 Di Kabupaten Cilacap Hidayat, Surur; Sulaiman, Adhi Iman; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.02.25

Abstract

Alih fungsi lahan saat ini masih menjadi salah satu permasalahan yang menyebabkan penurunan produktivitas beras di Jawa Tengah. Pengembangan indeks’pertanaman padi IP 400 merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan produksi padi di Provinsi Jawa Tengah tanpa memerlukan tambahan irigasi. IP Padi 400 artinya petani dapat panen padi empat kali setahun dilokasi yang sama. Dalam mendukung program optimalisasi peningkatan IP 400 maka peran kelembagaan wajib diperlukan. Kelompok tani diharapkan menjadi penyebar inovasi kepada para petani.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2022 di Kabupaten Cilacap. Dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik petani pelaksana program padi IP 400 dan mengetahui seberapa besar peran kelompok tani dalam menerapkan. Sasaran penelitian adalah petani pelaksana program padi IP 400 di Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Penentuan sampel dengan metode sensus pada dua kelompok tani pelaksana program padi IP 400 di dua kecamatan berbeda yaitu Kecamatan Boja dan Kecamatan Jenang Kabupaten Cilacap. Jumlah sampel adalah sebanyak 64 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah skala likert.Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik petani dominan berada pada umur lebih dari 50 tahun, pendidikan mayoritas SD dengan rata-rata kepemilikan lahan <0,2 Ha. Mayoritas pengalaman bertani petani berkisar >20 tahun, dan 81,25% produktivitas antara 3-5 ton/ha dengan pendapatan mayoritas 15-20 juta per musim per hektar. Berdasarkan hasil analisis peran kelompok tani sebagai kelas belajar dan wahana kerjasama masuk dalam kategori sedang, dan untuk peran kelompok tani sebagai unit produksi masih rendah.
FAKTOR PENGHAMBAT ADOPSI INOVASI BUDIDAYA LEBAH MADU KLANCENG DI DESA MENDOLO KECAMATAN LEBAKBARANG KABUPATEN PEKALONGAN Prasetyo, Eko; Sugiarto, Mochamad; Hilmi, Endang; Muslihudin, Muslihudin; Rahab, Rahab; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Lampung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jiia.v12i3.9426

Abstract

The traditional practice of Stingless honey hunting, which has been carried out for generations, tends to damage the forest ecosystem. The adoption of more environmentally friendly Stingless honey bee cultivation innovations began 10 years ago, resulting in 25 adopters out of 377 farmers at Mendolo Village, Lebakbarang District, Pekalongan Regency. This study aims to identify the inhibiting factors in the adoption process of Stingless honey bee cultivation innovations. The research was conducted using qualitative methods through observation, interviews, documentation, and focused group discussions. The results of the study show that the inhibiting factors for adopting Stingless honey bee cultivation include difficulty in finding colonies, pests, lack of knowledge about cultivation techniques, colony escape, limited food supply during the rainy season, lack of patience, low income, capital issues, colony transfer process, lack of colony splitting skills, urgent needs, harvesting methods, theft and vandalism, time constraints, lack of interest, market saturation during the harvest season, and influence from certain individuals. Key words:   Inhibiting Factors, Innovation Adoption, Stingless Honey Bee
Carbon Sequestration of Mangrove Ecosystem in Segara Anakan Lagoon, Indonesia Hilmi, Endang; Sari, Lilik Kartika; Cahyo, Tri Nur; Kusmana, Cecep; Suhendang, Endang
BIOTROPIA Vol. 26 No. 3 (2019): BIOTROPIA Vol. 26 No. 3 December 2019
Publisher : SEAMEO BIOTROP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11598/btb.2019.26.3.1099

Abstract

Carbon conservation programs in mangrove ecosystems focus on the growth of mangrove vegetation that is measured based on the amount of carbon present at different tree stages, particularly the seedlings, saplings, and mature mangrove trees. This study was aimed to determine carbon percentage of mangrove ecosystems using the SNI 06 — 3730 — 1995 and TAPPI T 211 om 85 methods, and to analyse the mangrove clustering based on carbon percentage. The results showed that (1) Avicennia spp., Sonneratia spp., Bruguiera spp., Rhizophora spp., Aegiceras spp., Lumnitzera spp., Ceriops spp., Excoecaria agallocha and Xylocarpus granatum had carbon percentages between 45.01% and 55.54%; (2) the carbon percentage of mangroves at different growth stages were as follows; seedlings at 16.3-21.2%, saplings at 19.0-28.1%, trees with diameter at breast height (DBH) of 10-20 cm at 38.1-46.30%, trees with DBH of 20-30 cm at 40.2-51.1% and trees with DBH of 30-40 cm at 49.1-55.20%. The carbon conservation is positively correlated with the carbon sequestration ability and growth of the mangroves.