Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ASPEK PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI IKAN BREK (Puntius orphoides, Valenciennes) PADA HABITAT WADUK PB SOEDIRMAN DAN SUNGAI KLAWING Affani, Ririn; Setijanto; Sari, Lilik Kartika; Nasution, Erie Kolya; Rukayah, Siti
Proceeding Seminar Nasional IPA 2022
Publisher : LPPM UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan reproduksi ikan bek (Puntius orphoides) di Waduk PB Soedirman, Banjarnegara dan Sungai Klawing, Purbalingga. Aspek pertumbuhan meiliputi hubungan panjang berat dan faktor kondisi. Aspek reproduksi meliputi rasio kelamin, Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG) dan fekunditas. Penelitian di Waduk PB Soedirman dilakukan bulan Oktober dan November 2017, sedangkan di Sungai Klawing dilakukan bulan Juni dan Juli 2018. Sampel Ikan Brek yang diperoleh selama penelitian berjumlah 76 ekor dengan total 46 ekor tertangkap di Waduk PB Soedirman Banjarnegara dan sebanyak 30 ekor tertangkap di Sungai Klawing Purbalingga. Pola pertumbuhan Ikan Brek di waduk bersifat isometrik sedangkan di sungai bersifat isometrik dan allometrik negatif. Faktor kondisi Ikan Brek di waduk dan sungai berkisar 0,99-1,17. Rasio kelamin di waduk secara keseluruhan 1,55 : 1 (60,87 % jantan dan di sungai 39,13 % betina) dan 6,5 : 1 (86,67 % jantan dan 13,33 % betina). TKG adalah I-IV dengan IKG waduk dan sungai berkisar 0,14-32,36 untuk jantan dan 2,38-18,14 untuk betina. Fekunditas hanya terjadi di waduk berkisar 9.634-41.789 butir. Kondisi kualitas air di Waduk PB Soedirman dan Sungai Klawing dalam keadaan baik untuk kehidupan Ikan Brek.
Identifikasi Sistem Sosial Ekologi (SES) Pada Taman Wisata Hutan Mangrove kota Pariaman, Sumatera Barat Hasanah, Lailatul; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Kelautan dan Perikanan Indonesia Vol 4, No 1: April (2024)
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jkpi.v4i1.37146

Abstract

Kota Pariaman terdiri dari 4 kecamatan , 16 kelurahan dan 55 des. Luas wilayahnya mencapai 66,13 km dan penduduk 88.984 jiwa. Secara astronomis, Kota Pariaman terletak antara 00 33 00 00 40 43 Lintang Selatan dan 100 04 46 100 10 55 Bujur Timur. Tercatat memiliki luas wilayah 73,36 km2, dengan panjang garis pantai 12,00 km. Luas daratan kota ini setara dengan 0,17% dari luas daratan wilayah Provinsi Sumatera Barat, salah satu ciri dari desa pesisir adalah aktivitas dan hubungan antara sistem alamiah (sumberdaya) dan manusia (sosial ekonomi). Sistem sosial ekologi (SES) atau sistem sosial ekologi (SES) adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk menggambarkan desa pesisir. Pada Penelitian ini penulis menggunakan metode pengamatan secara langsung dengan pengambilan data primer berupa observasi partisipasi aktif, wawancara, dokumentasi dan data sekunder yang diperoleh peneliti dari literatur yang sudah ada melalui media perantara, seperti buku dan jurnal, secara langsung dan tidak langsung. Hasil penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana sistem sosial ekologi pada taman Wisata hutan Mangrove kota Pariaman. Hutan Mangrove di Desa Apar merupakan salah satu destinasi wisata populer di Pariaman, menghadapi tantangan karena terbatasnya pemahaman dan pengelolaan, sehingga menyebabkan deforestasi. Peran dari beberapa stakeholder dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Apar Mandiri Wisata ini meningkatkan ekonomi masyarakat dengan adanya destinasi wisata yang menarik kunjungan wisatawan, serta dapat menciptakan lapangan perkerjaan baru, dan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar lokasi tersebut sehingga aktivitas yang dilakukan manusia menjadi jembatan sistem sosial ekologi yang bebas terhubung dengan sistem sosial.
Peran Kelompok Tani Dalam Penerapan Program Padi IP 400 Di Kabupaten Cilacap Hidayat, Surur; Sulaiman, Adhi Iman; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis Vol. 7 No. 2 (2023)
Publisher : Department of Agricultural Social Economics, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jepa.2023.007.02.25

Abstract

Alih fungsi lahan saat ini masih menjadi salah satu permasalahan yang menyebabkan penurunan produktivitas beras di Jawa Tengah. Pengembangan indeks’pertanaman padi IP 400 merupakan pilihan tepat untuk meningkatkan produksi padi di Provinsi Jawa Tengah tanpa memerlukan tambahan irigasi. IP Padi 400 artinya petani dapat panen padi empat kali setahun dilokasi yang sama. Dalam mendukung program optimalisasi peningkatan IP 400 maka peran kelembagaan wajib diperlukan. Kelompok tani diharapkan menjadi penyebar inovasi kepada para petani.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2022 di Kabupaten Cilacap. Dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik petani pelaksana program padi IP 400 dan mengetahui seberapa besar peran kelompok tani dalam menerapkan. Sasaran penelitian adalah petani pelaksana program padi IP 400 di Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Penentuan sampel dengan metode sensus pada dua kelompok tani pelaksana program padi IP 400 di dua kecamatan berbeda yaitu Kecamatan Boja dan Kecamatan Jenang Kabupaten Cilacap. Jumlah sampel adalah sebanyak 64 responden. Metode analisis data yang digunakan adalah skala likert.Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik petani dominan berada pada umur lebih dari 50 tahun, pendidikan mayoritas SD dengan rata-rata kepemilikan lahan <0,2 Ha. Mayoritas pengalaman bertani petani berkisar >20 tahun, dan 81,25% produktivitas antara 3-5 ton/ha dengan pendapatan mayoritas 15-20 juta per musim per hektar. Berdasarkan hasil analisis peran kelompok tani sebagai kelas belajar dan wahana kerjasama masuk dalam kategori sedang, dan untuk peran kelompok tani sebagai unit produksi masih rendah.
FAKTOR PENGHAMBAT ADOPSI INOVASI BUDIDAYA LEBAH MADU KLANCENG DI DESA MENDOLO KECAMATAN LEBAKBARANG KABUPATEN PEKALONGAN Prasetyo, Eko; Sugiarto, Mochamad; Hilmi, Endang; Muslihudin, Muslihudin; Rahab, Rahab; Sari, Lilik Kartika
Jurnal Ilmu Ilmu Agribisnis: Journal of Agribusiness Science Vol. 12 No. 3 (2024)
Publisher : Lampung University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jiia.v12i3.9426

Abstract

The traditional practice of Stingless honey hunting, which has been carried out for generations, tends to damage the forest ecosystem. The adoption of more environmentally friendly Stingless honey bee cultivation innovations began 10 years ago, resulting in 25 adopters out of 377 farmers at Mendolo Village, Lebakbarang District, Pekalongan Regency. This study aims to identify the inhibiting factors in the adoption process of Stingless honey bee cultivation innovations. The research was conducted using qualitative methods through observation, interviews, documentation, and focused group discussions. The results of the study show that the inhibiting factors for adopting Stingless honey bee cultivation include difficulty in finding colonies, pests, lack of knowledge about cultivation techniques, colony escape, limited food supply during the rainy season, lack of patience, low income, capital issues, colony transfer process, lack of colony splitting skills, urgent needs, harvesting methods, theft and vandalism, time constraints, lack of interest, market saturation during the harvest season, and influence from certain individuals. Key words:   Inhibiting Factors, Innovation Adoption, Stingless Honey Bee
Literature Review: Identification of Microplastics In Tropical Marine Fish Ferry Cahya Raharja; Suryanti, Ani; Zainuddin, Muhammad; Sari, Lilik Kartika
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 4 No. 2 (2025): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v4i2.23531

Abstract

Microplastics are small plastic particles that measure no more than 5mm, formed through the fragmentation of larger plastic materials. Their presence in marine environments has become a global concern due to their potential to threaten biodiversity and ecosystem stability. In fish organisms, exposure to microplastics can cause various disturbances, including physiological changes, reduced growth rates, and damage to the digestive system. Microplastics have a significant impact on marine food webs, affecting organisms across various trophic levels, starting from plankton at the base of the food chain to apex predators such as marine mammals. The accumulation of microplastics in marine organisms can reduce their ability to survive and reproduce, leading to population instability and disrupting ecosystem balance. To address this issue, an integrated approach is needed, involving technological innovation, strengthening waste management systems, and improving public education. Additionally, implementing effective regulations and conservation and protection programs is crucial for ensuring the sustainability of marine ecosystems. Addressing this problem requires a comprehensive strategy, including technological innovation, waste management improvements, and public education. Regulatory measures and conservation efforts are also essential for the long-term sustainability of marine ecosystems. Keywords: Fish; Ecosystem; Bioaccumulation; Pollution; Biodiversity; Regulation
Literature Review: Identification of Microplastics In Tropical Marine Fish Ferry Cahya Raharja; Suryanti, Ani; Zainuddin, Muhammad; Sari, Lilik Kartika
AQUACOASTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences Vol. 4 No. 2 (2025): AQUACOSTMARINE: Journal of Aquatic and Fisheries Sciences
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jafs.v4i2.23531

Abstract

Microplastics are small plastic particles that measure no more than 5mm, formed through the fragmentation of larger plastic materials. Their presence in marine environments has become a global concern due to their potential to threaten biodiversity and ecosystem stability. In fish organisms, exposure to microplastics can cause various disturbances, including physiological changes, reduced growth rates, and damage to the digestive system. Microplastics have a significant impact on marine food webs, affecting organisms across various trophic levels, starting from plankton at the base of the food chain to apex predators such as marine mammals. The accumulation of microplastics in marine organisms can reduce their ability to survive and reproduce, leading to population instability and disrupting ecosystem balance. To address this issue, an integrated approach is needed, involving technological innovation, strengthening waste management systems, and improving public education. Additionally, implementing effective regulations and conservation and protection programs is crucial for ensuring the sustainability of marine ecosystems. Addressing this problem requires a comprehensive strategy, including technological innovation, waste management improvements, and public education. Regulatory measures and conservation efforts are also essential for the long-term sustainability of marine ecosystems. Keywords: Fish; Ecosystem; Bioaccumulation; Pollution; Biodiversity; Regulation