Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BERTEMAN DENGAN KEMATIAN CATATAN SI GADIS LUPUS KARYA SINTA RIDWAN Amran, Amran; Mursalim, Mursalim; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 3 (2018): Edisi Juli 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.778 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i3.1165

Abstract

Novel Berteman Dengan Kematian merupakan novel yang berisikan seorang wanita terkena lupus. Keberadaan disebagian masyarakat memberikan nilai yang positif dan memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah Novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan kepribadian tokoh utama dalam novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan. Penelitian ini akan mendeskripsikan kepribadian tokoh utama di dalam novel Berteman Dengan Kematian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi. Hasil Penelitian menunjukan bahwa kepribadian tokoh utama yang terkandung dalam novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan adalah pertama approach-approach Sinta Bimbang harus memilih kuliah atau menikah. Kedua approach-avoidance conflict sinta mulai berpikir untuk bekerja jika hal itu terjadi dan dia mulai mencoba menerima. Ketiga avoidance-avoidance conflict. Keempat multiple approach-avoidance conflict
BENTUK, FUNGSI, DAN NILAI TUTURAN DALAM UPACARA ADAT BIDUK BEBANDUNG SUKU BULUNGAN: KAJIAN FOLKLOR Istian, Irpan; Hudiyono, Yusak; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.924 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.710

Abstract

                 AbstractThis research has a purpose to describe the form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial, Bulungan tribe, through the folklore investigate. The writer has interested to investigate the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial in order to increase the knowledge of culture which has been inheritance from the elders of Bulungan tribe. This research use the qualitative-descriptive method to collect the information and description of form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial through folklore investigate. Moreover, the resource of this research is indirect from the informant in the field. The technique in collecting the data, the writer uses the interview and observation technique. To analyze the data, the writer uses data reduction, data display and conclusion. Thus, the result of this research showed that the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial there are line-form, Mengawa speech has 14 lines which is arranged of 6-13 words each line, Tolak Bala speech has 8 lines with 5-14 words each line, Selamat speech has 7 words each line, Mohammad’s Solawat speech has 3 lines with 3-7 words each line, Tahlil speech has 11 lines with 3-105 words each line. Furthermore, those speeches in Biduk Bebandung tradition ceremonial have functions such as entertain, as mediator legalization, the culture league itself and as the media education. Thus, in the Biduk Bebadung tradition, there is a religion value that as a wish to Allah SWT. Keywords: Biduk Bebandung, form, function, value  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung suku Bulungan ditinjau dari kajian folklor. Penulis tertarik mengkaji tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung agar dapat mengetahui tuturan dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kerajaan suku Bulungan. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upaca adat Biduk Bebandung berdasarkan kajian folklor. Sumber data penelitian adalah hasil dari penelitian lapangan dan didapatkan dari narasumber. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat bentuk baris, tuturan Mengawa terdiri dari 14 baris dengan 6-13 kata per baris, tuturan Tolak Bala terdiri dari 8 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selamat terdiri dari 7 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selawat Nabi Muhammad terdiri dari 3 baris dengan 3-7 kata per baris, tuturan Tahlil terdiri dari 11 baris dengan 3-105 kata per baris. Selanjutnya, fungsi tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung adalah sebagai hiburan, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, dan sebagai alat pendidikan anak. Lalu, nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat nilai religi berupa permohonan kepada Allah SWT. Kata kunci: Biduk Bebandung, bentuk, fungsi, nilai
KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINISME Astuti, Puji; Mulawarman, Widyatmika Gede; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.428 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1046

Abstract

ABSTRAKAnggapan tersebut telah menjadikan perempuan korban dari perbedaan gender yang menimbulkan diskriminasi. Ketidakadilan atau diskriminasi gender termanifestasikan ke dalam beberapa bentuk yakni, marginalisasi, subordinasi, sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki, (2) penyebab ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Jenis yang digunakan adalah menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pendekatan kualitatif mengacu pada metode deskriptif, yaitu metode yang tertuju pada pemecahan masalah dan bersifat apa adanya. Setelah itu, dapat diperoleh bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada dalam novel Genduk yaitu : marginalisasi, masalah Yung yang diusir dari keluarga besar dan tidak mendapat warisan dari ayahnya. Subordinasi, ketika derajat Genduk direndahkan oleh Kaduk dengan memegang tubuh tanpa kerelaan. Stereotipe Yung pada saat harus mendengar omongan masyarakat, suaminya tidak pernah pulang dan tidak ada kabar. Kekerasan seksual, yaitu saat Genduk menemui Kaduk di Tuksari, lalu Kaduk meremas buah dadanya dengan keras. Beban kerja, ketika Yung harus bekerja di rumah dan mencari nafkah. Penyebab ketidakadilan gender pada tokoh Genduk yang mengalami ketidakadilan dari Kaduk memegang atau melecehkan Genduk. Sedangkan tokoh Yung penyebab ketidakadilan yaitu dari ayahnya, karena termarginalkan dengan tidak mendapatkan warisan ladang tembakau, maupun emas permata, dan Yung pergi hanya membawa buntalan yang berisi beberapa helai baju. Kata kunci: ketidakadilan, perempuan, novel, sastra feminisme ABSTRACTThe assumption has made women victims of gender differences that give rise to discrimination. Injustice or gender discrimination is manifested in several forms namely, marginalization, subordination, stereotypes, violence and workloa. This study aims to describe: (1) Form of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki, (2) Cause of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki.The type used is using the type of qualitative approach, is research that does not hold calculations. Qualitative approach refers to descriptive method, that is the method that is focused on problem solving and is what it is. After that, can be obtained the forms of injustice that exist in the novel Genduk namely: marginalization, Yung problem that was expelled from large families and did not get inheritance from his father. Subordination experienced by Genduk occurs when its degree is lowered by Kaduk by holding its body without the willingness of Genduk. The stereotype experienced by Yung when she had to listen to the conversation of the community when her husband never came home and there was no word. The violence experienced when Genduk met Kaduk in Tuksari, then Kaduk kissing and squeezing the breasts of Genduk without willingnes.workload when Yung must work at home and earn a living.the cause of gender inequlity in Genduk figures who experience injustice from Kaduk that hold or harass the Genduk. Whereas  Yung’s character causes the injustice of his father, being marginalized by not getting inherited from the tobacco fields, not the gem gold, and Yung goes just carrying a bundle that contains a few strands of clothes.Keywords: injustice, female, novel, literature of feminism
ANALISIS TUTURAN TARIAN BAMBU GILA DI MALUKU TENGAH DITINJAU DARI BENTUK DAN FUNGSI Mole, Martia Soa; Mursalim, Mursalim; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.218 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1100

Abstract

ABSTRAK Alasan pemilihan judul sebagai bahan penelitian ini, disebabkan keinginan penulis untuk mengetahui bentuk mantra dan fungsi tuturan tarian Bambu Gila di Maluku Tengah. Tujuan utama dari pepelitian ini (1) untuk mengetahui pola tuturan mantra bambu gila (2) untuk mengetahui bentuk tutuan mantra bambu gila (3) mengetahui fungsi tuturan mantra bambu gila. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menganalisis bentuk apa saja yang terdapat dalam tuturan mantra tarian bambu gila serta menganalisis pola, dan fungsi tuturan mantra bambu gila. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, wawancara, foto dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa (1) atraksi tarian bambu gila dilaksanakan dengan waktu 30 menit. (2) tuturan bambu gila bentuk mantra berirama abc-abc,abcd-abcd. (3) bersifat lisan, memiliki tujuan tertentu, berhubungan dengan kekuatan dan alam gaib. (4) fungsi tuturan mantra bambu gila yaitu untuk memohon pertolongan para leluhur, pengakuan akan adanya berkah dan kekuasaan tertinggi dari tuhan, membuat roh leluhur dan jin yang dipanggil menguasai bambu dan para pemain, sebagai perintah untuk melaksanakan intruksi pawang, dan sebagai sarana untuk berdoa atau meminta pertolongan. Sedangkan mantra yang dibacakan dalam permainan bambu gila bertujuan untuk berkomunikasi dengan jin.Kata kunci: tuturan bambu gila, bentuk mantra, fungsi  ABSTRACT The reason for choosing the title as the subject of this research, caused by the writer’s desire to know the from of mantra and the speech function of crazy bamboo dance in central maluku. (1) to know spell bamboo mantra spell pattern (2) to know spell bamboo mantra spell from (3) to know the fuction of bamboo crazy speech. The method used in doing this research is qualitative method with descriptive research type. Analyzing what froms are contained in spell bamboo dance mantras and analyzing patterns, and spell bamboo mantra spell function. Data collention techniques used in this research are observation, recording, interview, photo and technique record. The results of the reserch obtained in this study showed that (1) the attraction of crazy bamboo dance was carried out with a time 30 minutes.(2) bamboo spell crazy from of abc-abc rhythmic spell ,abcd-abcd. (3) is verbal, has a specific purpose, relates to power and the occult. (4) the function of spell bamboo mantra spell is to invoke the help of the ancestors, the recognitian of the blessing and the supreme power of God, to make the spirits and the jinn invoked to master the bamboo and the players, as a command to carry out the handler’s instruction, and as a means topray or ask for help. The purpose of mantra generally varies depending on the reader of the mantra. Whereas the mantra that is recited in a crazy bamboo game aims to commonicate with the jin.Keywords: crazy bamboo tutorials, mantra shapes, functions
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NASKAH MONOLOG BALADA SUMARAH KARYA TENTREM LESTARI: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Giriani, Nella Putri; Ahmad, M Rusydi; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.248 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i1.665

Abstract

ABSTRACT This research purposed to describe the characterization and individuality the main character in monologue script entitled Balada Sumarah by Tantrem Lestari. Balada Sumarah script chose because the main character of this script has complex characterization, so the writer interested to analyze it. This research used qualitative research with descriptive method. This research used literature psychology approach using Sigmund Freud’s theory of psychoanalysis and typology of characterization. The data source in this research is the Balada Sumarah monologue script by Tantrem Lestari. The data collection used library research or as known as content analysis which do the direct observation and search identity also the character and characterization. According to this analysis we could take the conclusions, which are: (1) on main character we found Sumarah’s nine characteristics, which are big-hearted, analytical, sensitive, patient, intelligent, hard-worker, pessimistic, idealist, and coward; (2) there are id, ego, and superego in Sumarah. The urge of id in Sumarah signed when she wants to know her family background, wants to become a civil worker, wants to become Edi’s wife, and wants to murder her employer. The response of ego signed when she asks about the statement of clean as qualified to be civil workers and when she murders her employer. Response of superego signed when Sumarah is considering for become the civil worker, resign from Jumiarti’s place, and when Sumarah take a responsibility of her mistake as the suspect of murderer. From the analysis of Sumarah personality, the researcher also found melancholic in Sumarah. Keywords: the main character, personality, Balada Sumarah’s drama ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan dan kepribadian tokoh utama dalam naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Naskah monolog Balada Sumarah dipilih karena naskah ini memiliki tokoh utama dengan sifat yang kompleks sehingga penulis tertarik untuk menelitinya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud dan tipologi kepribadian. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) atau disebut dengan analisis isi (content analisys), yaitu langsung mengadakan pengamatan dan mecari identitas serta gambaran tokoh dan penokohan. Teknik analisis data menggunakan analisis mengalir, yaitu terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan: (1) pada tokoh utama (Sumarah) ditemukan sembilan sifat, yakni berjiwa besar, analitis, sensitif, pasrah, cerdas, pekerja keras, pesimistis, idealis, dan penakut; (2) dorongan id pada diri Sumarah ditandai ketika ia ingin tahu tentang latar belakang keluarganya, ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ingin menjadi istri Mas Edi, dan ingin membunuh majikannya. Respons ego ditandai ketika ia meminta surat bersih sebagai syarat untuk menjadi PNS dan ketika ia membunuh majikan. Respons superego ditandai ketika Sumarah mempertimbangkan untuk menjadi PNS, tidak bekerja lagi tempat ibu Jumiarti dan ketika Sumarah mempertanggungjawabkan kesalahannya sebagai tersangka pembunuhan. Dari analisis kepribadian Sumarah, ditemukan pula tipe melankolis dalam diri Sumarah. Kata Kunci: tokoh utama, kepribadian, drama Balada Sumarah
Humor sebagai Mekanisme Pertahanan Ego Tokoh Mamat dan Ujang dalam Novel Jurnal Risa: Mamat Ujang karya Risa Saraswati Anggini, Dewi Salvika; Rokhmansyah, Alfian
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i1.136821

Abstract

Humor has evolved from mere entertainment into a therapeutic tool for alleviating psychological burdens. This study examines humor as an ego defense mechanism in Risa Saraswati's novel Jurnal Risa: Mamat Ujang, employing Sigmund Freud's psychoanalytic framework (id, ego, and superego). The research is driven by the rising prevalence of psychological disorders in society, while existing studies indicate humor's role in stress reduction though these findings require more robust empirical validation. The study aims to develop a theoretical framework for humor's self-defense function in the traumatic experiences of characters Mamat and Ujang, analyzing its role within Freud's personality structure and Morrison's humor theory. The methodology combines descriptive qualitative research with literary psychology. The study employs ten narrative excerpts and dialogues between the characters Mamat and Ujang, blending humor with traumatic experiences. Through close reading and interpretive analysis, it examines humor's role as an ego-defense mechanism and psychological regulator. The findings reveal distinct defense strategies in both characters when confronting inner conflicts. For both, humor serves to process negative emotions fear, shame, and guilt into laughter. The study concludes that ego-defense mechanisms are not limited to human characters but also manifest through ghost characters with unique psychodynamic functions. By framing humor as a defense mechanism for trauma processing, this research offers a fresh perspective on literary psychology.
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI KARYA BRIAN KHRISNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA Mufidah Yasya' Hayati; Alfian Rokhmansyah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/4kcx8e61

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur kepribadian tokoh utama dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Fokus utama kajian ini adalah mengungkap dinamika id, ego, dan superego yang melandasi perkembangan karakter tokoh Ale. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi terhadap data tekstual berupa narasi dan dialog dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian Ale dibentuk oleh interaksi dialektis antara ketiga komponen psikis tersebut. Id merepresentasikan dorongan impulsif akibat trauma, sementara ego berkembang sebagai mediator realitas yang melakukan kalkulasi logis, dan superego berfungsi sebagai pengawas moral yang menginternalisasi nilai-nilai kesopanan serta empati. Ditemukan adanya perkembangan persepsi psikologis yang signifikan pada tokoh Ale, di mana terjadi transformasi dari fase keterpurukan emosional menuju perbaikan psikologis yang positif. Kematangan emosional ini dicapai melalui keberhasilan ego dan superego dalam mengelola impuls destruktif, yang menunjukkan proses pendewasaan tokoh dalam menghadapi konflik batin dan realitas kehidupan. KATA KUNCI: Kepribadian; psikoanalisis; Sigmund Freud; tokoh utama; novel.     PERSONALITY OF THE MAIN CHARACTER IN BRIAN KHRISNA'S SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI: A LITERARY PSYCHOLOGY APPROACH     ABSTRACT: This study aims to analyze the personality structure of the main character in the novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati by Brian Khrisna using Sigmund Freud's psychoanalytic approach. The primary focus of this research is to uncover the dynamics of the id, ego, and superego that underlie the character development of Ale. The method employed is descriptive qualitative with content analysis techniques applied to textual data, including narrations and dialogues within the novel. The results indicate that Ale's personality is shaped by the dialectical interaction between these three psychic components. The id represents impulsive drives resulting from trauma, while the ego develops as a reality mediator performing logical calculations, and the superego functions as a moral supervisor internalizing values of politeness and empathy. The study found a significant development in Ale's psychological perception, marked by a transformation from a phase of emotional distress toward positive psychological improvement. This emotional maturity is achieved through the success of the ego and superego in managing destructive impulses, reflecting the character's maturation process in facing internal conflicts and life's realities. KEYWORDS: Personality; psychoanalysis; Sigmund Freud; main character; novel.  
KAJIAN PSIKOANALISIS FREUD DALAM CERITA RAKYAT PUAN DAN SI TADDUNG Shinta Putri Nurdila; Alfian Rokhmansyah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/waq4mr46

Abstract

ABSTRAK: Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media yang merekam nilai budaya dan dinamika kepribadian manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengungkap bagaimana struktur kepribadian Freud tercermin dalam tokoh cerita rakyat Puan dan Si Taddung. Tujuannya adalah menganalisis wujud id, ego, dan superego pada kedua tokoh utama serta menjelaskan peran ketiganya dalam membangun konflik naratif dan pesan moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap teks cerita. Data berupa tindakan, dialog, dan reaksi emosional tokoh dikumpulkan melalui pembacaan mendalam, lalu diklasifikasikan ke dalam kategori tematik id, ego, dan superego. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puan didominasi oleh kerja ego dan superego, terlihat melalui pengendalian diri, kepatuhan pada norma sosial, dan pertimbangan moral. Sebaliknya, Si Taddung menunjukkan dominasi id melalui impulsivitas, pencarian kepuasan sesaat, dan pengabaian konsekuensi sosial. Pertemuan dan benturan ketiga struktur kepribadian tersebut membentuk alur konflik sekaligus menguatkan pesan moral mengenai pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab atas tindakan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan psikoanalisis Freud efektif untuk mengungkap kompleksitas karakter dan menginterpretasikan nilai budaya yang terinternalisasi dalam cerita rakyat Nusantara. Selain itu, analisis ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat dimanfaatkan sebagai medium pembelajaran sastra dan psikologi. Penerapan konsep id, ego, dan superego membantu pembaca melihat hubungan antara dorongan batin, pertimbangan rasional, dan suara moral. KATA KUNCI: Freud; Kepribadian, Konflik; Nusantara; Moral   A FREUDIAN PSYCHOANALYTIC ANALYSIS OF THE FOLKTALE PUAN DAN SI TADDUNG   ABSTRACT: Folktales serve not only as entertainment but also as a vital medium for recording cultural values and the dynamics of human personality. This research is motivated by the need to uncover how Freud's personality structure is reflected in the folktale characters Puan and Si Taddung. The aim is to analyze the id, ego, and superego in the two main characters and explain their roles in constructing narrative conflict and conveying moral messages. A descriptive qualitative method was employed using content analysis techniques applied to the story text. Data, consisting of the characters' actions, dialogues, and emotional reactions, were collected through in-depth reading, then classified into thematic categories corresponding to the id, ego, and superego. The results demonstrate that Puan is dominated by the work of the ego and superego, evidenced through self-control, adherence to social norms, and moral considerations. In contrast, Si Taddung exhibits id dominance through impulsivity, the pursuit of instant gratification, and disregard for social consequences. The encounter and clash of these three personality structures shape the conflict flow while simultaneously reinforcing the moral message regarding the importance of self-control and responsibility for one's actions. These findings confirm that Freud's psychoanalytic approach is effective in uncovering the complexity of character and interpreting the cultural values internalized in Indonesian folktales. Furthermore, this analysis shows that folktales can be utilized as a dual medium for studying literature and psychology. The application of the concepts of id, ego, and superego helps readers see the relationship between inner drives, rational considerations, and moral judgment. KEYWORDS: Freud; Personality; Conflict; Archipelago; Morals  
Mimpi Tokoh Utama dalam Novel 23:59 Karya Brian Khrisna: Kajian Psikoanalisis Freud Muhammad Adi Drajad; Alfian Rokhmansyah
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2026): JURNAL KREDO VOL 9 NO 2 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v9i2.16380

Abstract

Studi ini menganalisis mimpi tokoh utama dalam novel 23:59 karya Brian Khrisna menggunakan pendekatan psikoanalitik Freud. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran mimpi sebagai representasi konflik batin dan keinginan tersembunyi tokoh Ami, serta menganalisis simbol-simbol yang muncul dalam mimpi tersebut. Studi ini didasarkan pada teori psikoanalitik Freud, khususnya konsep teori mimpi yang membedakan antara isi manifes dan laten. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data interpretatif. Temuan utama menunjukkan bahwa mimpi Ami mencerminkan keinginan terdalamnya untuk bersatu kembali dengan mantan kekasihnya, Raga, serta konflik emosionalnya yang belum terselesaikan. Simbol-simbol dalam mimpi, seperti foto dan gelang manik-manik, mengandung makna yang berkaitan dengan kenangan masa lalu dan keterbatasan waktu. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang hubungan antara mimpi dan kepribadian dalam karya sastra dan memperkaya analisis psikoanalitik simbolisme dalam teks sastra. Implikasi dari studi ini juga membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut tentang dinamika psikologis tokoh dalam genre sastra lainnya.
KONSTRUKSI TINDAK TUTUR LAKI-LAKI TERHADAP ISU GENDER DALAM PODCAST “SUSAHNYA JADI PEREMPUAN” Erinda Nur Melati Jannah; Nina Queena Hadi Putri; Nia Novita Putri; Alfian Rokhmansyah
PRASI Vol. 21 No. 01 (2026)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/prasi.v21i01.106172

Abstract

Pada era digital bahasa yang digunakan dalam media seperti podcast tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap berbagai isu, termasuk kesetaraan gender. Penelitian ini membahas bentuk dan makna tindak tutur yang digunakan oleh narasumber laki-laki dalam podcast “Susahnya Jadi Perempuan” bagian 1 dan bagian 2 yang dipandu oleh Najwa Shihab. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan jenis tindak tutur yang digunakan oleh narasumber laki-laki serta memahami bagaimana tuturan mereka merepresentasikan pandangan terhadap perempuan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa transkripsi, seleksi, dan klasifikasi tuturan yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur asertif, direktif, dan ekspresif paling dominan digunakan untuk menyatakan pandangan, memberi saran, dan mengekspresikan empati terhadap perempuan. Tuturan-tuturan tersebut memperlihatkan adanya kesadaran sosial dan perubahan cara pandang laki-laki terhadap isu kesetaraan gender di ruang publik digital.
Co-Authors Agustina, Desy Ahmad, M Rusydi Ainin, Nur Aisyah, AzimatulMillah Al Baghdadi, Nur Syifa Rahmah Amran Amran Anggini, Dewi Salvika Anna Wandira Annisa Nurhikmah Ardi Wijaya Ari Wibowo Arifin, Syaiful Arsyad, Huzaefah Aulia, Sylva Bayu Aji Nugroho Bibit Suhatmady Carmila, Selly Dwi Chrisdayanti Chrisdayanti Dahri Dahlan Dahri Dahlan, Dahri Deka Septia Nur Alfat Elvira Azzahra Ramsi Endang Dwi Sulistyowati Erinda Nur Melati Jannah Fernando, Victhor Giriani, Nella Putri Hadijati, Sri Hanifiyah, Siti Umi Hanita Yunia Sari Hanum, Irma Surayya Henny Pagoray Herdita Noor Wanda Herlinda Wati Intan Faridatul Munawwaroh Irma Surayya Hanum Istian, Irpan Jeni Hamzah Jenny Carlina Wandira Joy Grace Bestari Simamora Juliansyah Juliansyah Khadijah, Desy Sitti Khoiriyatul Fajriyah, Khoiriyatul Listiyowardany, Yunia Hardiani Masduki Zakaria Maulidianto, Herianda Mega Fatimah Rosana Meigitha Putri Miranda Bella Mole, Martia Soa Mufidah Yasya' Hayati Muhammad Adi Drajad Muhammad Ma'rifan Nur Mulajmi Ramli Mulawarman, Widyatmika Gede Mursalim Mursalim Mursalim Mursalim Murtadlo, Akhmad Nia Novita Putri Nina Queena Hadi Putri Nina Queena Hadi Putri Nina Queena Hadi Putri Ningsih, Sulasti Nita Maya Valiantien Nur Ainin Nur Alyani Nurcahyanie, Yunia Nuryati, Lufi Pandu Pratama Putra Pesiliani, Tri Puji Astuti Purwanti PURWANTI PURWANTI Qomariyah, Fitri Queena Hadi Putri, Nina Rahma, Azizatur Ramadhani Ramadhani Ramsi, Elvira Azzahra Raoul Hafiz Ratna Asmarani Ria Farawita Safitri, Lucyana Dewi Saputra, Marselinus Juan Sari, Amalia Sari, Monica Indah Sariana, Sae Shinta Putri Nurdila Siswahyudianto Suhantoro, Suhantoro Sulityowati, Endang Dwi Sunarti, Titi Suryaningsi Suryaningsi Syaiful Arifin Syamsul Rijal Syuhada Syuhada Teguh Prakoso Teguh Prakoso Wahyu Al Hidayat Widyatmike Gede Mulawarman Yahya, Masrur Yusak Hudiyono, Yusak Zamzamie, Nabiel