Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai Budaya Suku Paser Dalam Cerita Rakyat Pinangan Andi Mappanyuki dan Peperangan di Sadurengas Khadijah, Desy Sitti; Queena Hadi Putri, Nina; Rokhmansyah , Alfian
Jurnal Pendidikan : Riset dan Konseptual Vol 10 No 1 (2026): Volume 10, Nomor 1 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28926/riset_konseptual.v10i1.1418

Abstract

Penelitian ini menggali dua cerita rakyat dari Kalimantan Timur, yakni Pinangan Andi Mappanyuki dan Peperangan di Sadurengas, dengan pendekatan antropologi sastra berdasarkan tujuh aspek yaitu peralatan hidup manusia, mata pencaharian hidup, sistem kemasyarakatan, sistem kebahasaan, sistem pengetahuan dan sistem religi, dan kesenian. Dari hasil analisis, dua cerita tersebut bukan hanya sekedar cerita rakyat Paser namun mencerminkan kehidupan budaya suku Paser di wilayah Paser serta cara bugis penekki memberikan warna dalam cerita rakyat suku paser. Nilai budaya yang terdapat dalam cerita tersebut yaitu alat kehidupan, mulai dari penggunaan alat musik, alat transportasi, senjata untuk berperang, dan barang sehari-hari sebagai simbol identitas dan alat praktis. Pada aspek mata pencaharian, terdapat perdagangan dan habib dalam cerita dimana habib untuk menyembuhkan seseorang sebagai pengganti dokter. Sistem masyarakat yang menunjukkan hierarki sosial dengan raja dan pangeran, dan peran gender yang dominan laki-laki, serta gotong royong. Bahasa penuh kata sapaan formal seperti Tuanku, Baginda. terdapat gambaran itu pengetahuan mengenai strategi perang, agama yang berkaitan dengan leluhur menjadikan pandangan yang dianut oleh masyarakat setempat. Selain itu terdapat kesenian yaitu alat musik dan pakaian adat. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui buku cerita rakyat paser berau dan menganalisis melalui teks cerita tersebut.
MAKNA KONSEPTUAL DAN MAKNA ASOSIATIF NARASI IKLAN ROKOK DI TELEVISI Arsyad, Huzaefah; Rijal, Syamsul; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 4, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.584 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v4i2.2705

Abstract

The purpose of this study is to describe the conceptual and associative meanings of cigarette advertising narratives on television. Research conducted in this research is descriptive qualitative research and includes library research. The data collection technique used is the listening technique which discusses the skill of engaging in engaging, recording techniques, and note taking techniques. The data analysis technique used is the basic PUP technique used to understand associative and conceptual meanings in each clause in the narrative of cigarette advertisements on television. From the results of the study found seven advertisements. From the seven narratives, it has been divided into several parts to form clauses, phrases and sentences so that 35 data are obtained which are then described based on conceptual and associative meanings. The embodiment of conceptual meaning in cigarette advertisement narratives on television consists of seven narratives that contain conceptual meanings, namely (1) A Mild Version of the Cigarette Ad Function takes 14 words; (2) Define Your Style (Make Possible) Version of the advertisement of the Dunhil Cigarette is 22 words; (3) Surya Pro Mild (We are Stonger) cigarette ad captures 10 words; (4) Sampoerna U Bold Filter (five-rain rain) ad protector; (5) Lightweight Cigarette Ads (Pure Taste) arrested 12 words; (6) White & Black version of the Malboro Mild Black Cigarette Ad in 15 words; and (7) the successful version of Wismilak Diplomat Cigarette Ad won 22 words. The embodiment of associative meaning in cigarette advertisement narratives on television consists of seven narratives that contain associative meanings, namely (1) A Mild Version of Advertisements A Function of Cigarettes takes 12 words; (2) Dunhil Cigarette Advertisement Version Define Your Style (Make Possible) A combination of 8 words; (3) Surya Pro Mild (Kami Stonger) Cigarette Ad catches three words; (4) Sampoerna U Bold Filter (Rain Water Only) Cigarette Advertising; (5) Lightweight Cigarette Ads (Pure Taste) like five words; (6) White & Black version of the Malboro Black and Black Cigarette Advertisement four-word donation; and (7) the successful version of the Wismilak Diplomat Cigarette Ad seizes freedom of words.
KEHIDUPAN HOMOSEKSUAL DALAM NOVEL CINTA TAK BERKELAMIN KARYA ANDY STEVENIO: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Suhantoro, Suhantoro; Rokhmansyah, Alfian; Purwanti, Purwanti
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 3, No 3 (2019): Juli 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.627 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i3.2113

Abstract

This study aims to describe the views of other figures on homosexuality which are illustrated in Andy Stevenio's Love of Insecure novels. The data in this study are in the form of excerpts of stories in the novel. This study uses reading and technique notes. Data analysis using qualitative methods. The results of the study showed that there were several figures who accepted the perpetrators and rejected homosexual behavior, such as Mama Wira and Mama Wisnu the two figures both accepted the perpetrators but refused their behavior. Most people still accept homosexual behavior because it is related to human rights. However, on the other hand the community continues to accept homosexual behavior because it is contrary to trusted beliefs and customs. Then, there are also those who reject behavior as well as homosexuals like Papa Wira, schools and authors of their own stories. The form of rejection given is in the form of violence against the main character. This is consistent with what is in Indonesia because most homosexuals will be tried or treated harshly in the past. Until finally the Indonesian government formulated a law on LGBT so that LGBT perpetrators still get good treatment. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan tokoh lain terhadap homoseksual yang tergambar dalam novel Cinta Tak Berkelamin karya Andy Stevenio. Data pada penelitian ini berupa kutipan cerita di dalam novel. Penelitian ini menggunakan teknik baca dan teknik catat. Analisis data menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa tokoh yang menerima pelaku dan menolak perilaku homoseksual, seperti Mama Wira dan Mama Wisnu kedua tokoh sama-sama menerima pelaku tetapi menolak perilakuknya. Kebanyakan masyarakat yang masih menerima perilaku homoseksual karena berkaitan dengan HAM. Namun, di sisi lain masyarakat tetap menerima perilaku homoseksual karna bertentangan dengan kepercayaan dan adat istiadat yang dipercaya. Kemudian, ada pula yang menolak perilaku serta pelaku homoseksual seperti Papa Wira, sekolah serta pengarang cerita sendiri. Bentuk tindakan penolakan yang diberikan berupa tindakan kekerasan terhadap tokoh utama. Hal ini sesuai dengan apa yang ada di Indoensia karena sejak dulu kebanyakan para pelaku homoseksual akan diadili atau diperlakukan secara kasar. Hingga pada akhirnya pemerintah Indonesia merumuskan UU tentang LGBT agar para pelaku LGBT tetap mendapat perlakuan baik.
ANALISIS KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL BERTEMAN DENGAN KEMATIAN CATATAN SI GADIS LUPUS KARYA SINTA RIDWAN Amran, Amran; Mursalim, Mursalim; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 3 (2018): Edisi Juli 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.778 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i3.1165

Abstract

Novel Berteman Dengan Kematian merupakan novel yang berisikan seorang wanita terkena lupus. Keberadaan disebagian masyarakat memberikan nilai yang positif dan memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah Novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan kepribadian tokoh utama dalam novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan. Penelitian ini akan mendeskripsikan kepribadian tokoh utama di dalam novel Berteman Dengan Kematian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi, maupun mempelajari implikasi. Hasil Penelitian menunjukan bahwa kepribadian tokoh utama yang terkandung dalam novel Berteman Dengan Kematian Karya Sinta Ridwan adalah pertama approach-approach Sinta Bimbang harus memilih kuliah atau menikah. Kedua approach-avoidance conflict sinta mulai berpikir untuk bekerja jika hal itu terjadi dan dia mulai mencoba menerima. Ketiga avoidance-avoidance conflict. Keempat multiple approach-avoidance conflict
BENTUK, FUNGSI, DAN NILAI TUTURAN DALAM UPACARA ADAT BIDUK BEBANDUNG SUKU BULUNGAN: KAJIAN FOLKLOR Istian, Irpan; Hudiyono, Yusak; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.924 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.710

Abstract

                 AbstractThis research has a purpose to describe the form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial, Bulungan tribe, through the folklore investigate. The writer has interested to investigate the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial in order to increase the knowledge of culture which has been inheritance from the elders of Bulungan tribe. This research use the qualitative-descriptive method to collect the information and description of form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial through folklore investigate. Moreover, the resource of this research is indirect from the informant in the field. The technique in collecting the data, the writer uses the interview and observation technique. To analyze the data, the writer uses data reduction, data display and conclusion. Thus, the result of this research showed that the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial there are line-form, Mengawa speech has 14 lines which is arranged of 6-13 words each line, Tolak Bala speech has 8 lines with 5-14 words each line, Selamat speech has 7 words each line, Mohammad’s Solawat speech has 3 lines with 3-7 words each line, Tahlil speech has 11 lines with 3-105 words each line. Furthermore, those speeches in Biduk Bebandung tradition ceremonial have functions such as entertain, as mediator legalization, the culture league itself and as the media education. Thus, in the Biduk Bebadung tradition, there is a religion value that as a wish to Allah SWT. Keywords: Biduk Bebandung, form, function, value  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung suku Bulungan ditinjau dari kajian folklor. Penulis tertarik mengkaji tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung agar dapat mengetahui tuturan dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kerajaan suku Bulungan. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upaca adat Biduk Bebandung berdasarkan kajian folklor. Sumber data penelitian adalah hasil dari penelitian lapangan dan didapatkan dari narasumber. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat bentuk baris, tuturan Mengawa terdiri dari 14 baris dengan 6-13 kata per baris, tuturan Tolak Bala terdiri dari 8 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selamat terdiri dari 7 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selawat Nabi Muhammad terdiri dari 3 baris dengan 3-7 kata per baris, tuturan Tahlil terdiri dari 11 baris dengan 3-105 kata per baris. Selanjutnya, fungsi tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung adalah sebagai hiburan, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, dan sebagai alat pendidikan anak. Lalu, nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat nilai religi berupa permohonan kepada Allah SWT. Kata kunci: Biduk Bebandung, bentuk, fungsi, nilai
KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINISME Astuti, Puji; Mulawarman, Widyatmika Gede; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.428 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1046

Abstract

ABSTRAKAnggapan tersebut telah menjadikan perempuan korban dari perbedaan gender yang menimbulkan diskriminasi. Ketidakadilan atau diskriminasi gender termanifestasikan ke dalam beberapa bentuk yakni, marginalisasi, subordinasi, sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki, (2) penyebab ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Jenis yang digunakan adalah menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pendekatan kualitatif mengacu pada metode deskriptif, yaitu metode yang tertuju pada pemecahan masalah dan bersifat apa adanya. Setelah itu, dapat diperoleh bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada dalam novel Genduk yaitu : marginalisasi, masalah Yung yang diusir dari keluarga besar dan tidak mendapat warisan dari ayahnya. Subordinasi, ketika derajat Genduk direndahkan oleh Kaduk dengan memegang tubuh tanpa kerelaan. Stereotipe Yung pada saat harus mendengar omongan masyarakat, suaminya tidak pernah pulang dan tidak ada kabar. Kekerasan seksual, yaitu saat Genduk menemui Kaduk di Tuksari, lalu Kaduk meremas buah dadanya dengan keras. Beban kerja, ketika Yung harus bekerja di rumah dan mencari nafkah. Penyebab ketidakadilan gender pada tokoh Genduk yang mengalami ketidakadilan dari Kaduk memegang atau melecehkan Genduk. Sedangkan tokoh Yung penyebab ketidakadilan yaitu dari ayahnya, karena termarginalkan dengan tidak mendapatkan warisan ladang tembakau, maupun emas permata, dan Yung pergi hanya membawa buntalan yang berisi beberapa helai baju. Kata kunci: ketidakadilan, perempuan, novel, sastra feminisme ABSTRACTThe assumption has made women victims of gender differences that give rise to discrimination. Injustice or gender discrimination is manifested in several forms namely, marginalization, subordination, stereotypes, violence and workloa. This study aims to describe: (1) Form of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki, (2) Cause of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki.The type used is using the type of qualitative approach, is research that does not hold calculations. Qualitative approach refers to descriptive method, that is the method that is focused on problem solving and is what it is. After that, can be obtained the forms of injustice that exist in the novel Genduk namely: marginalization, Yung problem that was expelled from large families and did not get inheritance from his father. Subordination experienced by Genduk occurs when its degree is lowered by Kaduk by holding its body without the willingness of Genduk. The stereotype experienced by Yung when she had to listen to the conversation of the community when her husband never came home and there was no word. The violence experienced when Genduk met Kaduk in Tuksari, then Kaduk kissing and squeezing the breasts of Genduk without willingnes.workload when Yung must work at home and earn a living.the cause of gender inequlity in Genduk figures who experience injustice from Kaduk that hold or harass the Genduk. Whereas  Yung’s character causes the injustice of his father, being marginalized by not getting inherited from the tobacco fields, not the gem gold, and Yung goes just carrying a bundle that contains a few strands of clothes.Keywords: injustice, female, novel, literature of feminism
ANALISIS TUTURAN TARIAN BAMBU GILA DI MALUKU TENGAH DITINJAU DARI BENTUK DAN FUNGSI Mole, Martia Soa; Mursalim, Mursalim; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.218 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1100

Abstract

ABSTRAK Alasan pemilihan judul sebagai bahan penelitian ini, disebabkan keinginan penulis untuk mengetahui bentuk mantra dan fungsi tuturan tarian Bambu Gila di Maluku Tengah. Tujuan utama dari pepelitian ini (1) untuk mengetahui pola tuturan mantra bambu gila (2) untuk mengetahui bentuk tutuan mantra bambu gila (3) mengetahui fungsi tuturan mantra bambu gila. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menganalisis bentuk apa saja yang terdapat dalam tuturan mantra tarian bambu gila serta menganalisis pola, dan fungsi tuturan mantra bambu gila. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, wawancara, foto dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa (1) atraksi tarian bambu gila dilaksanakan dengan waktu 30 menit. (2) tuturan bambu gila bentuk mantra berirama abc-abc,abcd-abcd. (3) bersifat lisan, memiliki tujuan tertentu, berhubungan dengan kekuatan dan alam gaib. (4) fungsi tuturan mantra bambu gila yaitu untuk memohon pertolongan para leluhur, pengakuan akan adanya berkah dan kekuasaan tertinggi dari tuhan, membuat roh leluhur dan jin yang dipanggil menguasai bambu dan para pemain, sebagai perintah untuk melaksanakan intruksi pawang, dan sebagai sarana untuk berdoa atau meminta pertolongan. Sedangkan mantra yang dibacakan dalam permainan bambu gila bertujuan untuk berkomunikasi dengan jin.Kata kunci: tuturan bambu gila, bentuk mantra, fungsi  ABSTRACT The reason for choosing the title as the subject of this research, caused by the writer’s desire to know the from of mantra and the speech function of crazy bamboo dance in central maluku. (1) to know spell bamboo mantra spell pattern (2) to know spell bamboo mantra spell from (3) to know the fuction of bamboo crazy speech. The method used in doing this research is qualitative method with descriptive research type. Analyzing what froms are contained in spell bamboo dance mantras and analyzing patterns, and spell bamboo mantra spell function. Data collention techniques used in this research are observation, recording, interview, photo and technique record. The results of the reserch obtained in this study showed that (1) the attraction of crazy bamboo dance was carried out with a time 30 minutes.(2) bamboo spell crazy from of abc-abc rhythmic spell ,abcd-abcd. (3) is verbal, has a specific purpose, relates to power and the occult. (4) the function of spell bamboo mantra spell is to invoke the help of the ancestors, the recognitian of the blessing and the supreme power of God, to make the spirits and the jinn invoked to master the bamboo and the players, as a command to carry out the handler’s instruction, and as a means topray or ask for help. The purpose of mantra generally varies depending on the reader of the mantra. Whereas the mantra that is recited in a crazy bamboo game aims to commonicate with the jin.Keywords: crazy bamboo tutorials, mantra shapes, functions
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NASKAH MONOLOG BALADA SUMARAH KARYA TENTREM LESTARI: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Giriani, Nella Putri; Ahmad, M Rusydi; Rokhmansyah, Alfian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.248 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i1.665

Abstract

ABSTRACT This research purposed to describe the characterization and individuality the main character in monologue script entitled Balada Sumarah by Tantrem Lestari. Balada Sumarah script chose because the main character of this script has complex characterization, so the writer interested to analyze it. This research used qualitative research with descriptive method. This research used literature psychology approach using Sigmund Freud’s theory of psychoanalysis and typology of characterization. The data source in this research is the Balada Sumarah monologue script by Tantrem Lestari. The data collection used library research or as known as content analysis which do the direct observation and search identity also the character and characterization. According to this analysis we could take the conclusions, which are: (1) on main character we found Sumarah’s nine characteristics, which are big-hearted, analytical, sensitive, patient, intelligent, hard-worker, pessimistic, idealist, and coward; (2) there are id, ego, and superego in Sumarah. The urge of id in Sumarah signed when she wants to know her family background, wants to become a civil worker, wants to become Edi’s wife, and wants to murder her employer. The response of ego signed when she asks about the statement of clean as qualified to be civil workers and when she murders her employer. Response of superego signed when Sumarah is considering for become the civil worker, resign from Jumiarti’s place, and when Sumarah take a responsibility of her mistake as the suspect of murderer. From the analysis of Sumarah personality, the researcher also found melancholic in Sumarah. Keywords: the main character, personality, Balada Sumarah’s drama ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan dan kepribadian tokoh utama dalam naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Naskah monolog Balada Sumarah dipilih karena naskah ini memiliki tokoh utama dengan sifat yang kompleks sehingga penulis tertarik untuk menelitinya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud dan tipologi kepribadian. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) atau disebut dengan analisis isi (content analisys), yaitu langsung mengadakan pengamatan dan mecari identitas serta gambaran tokoh dan penokohan. Teknik analisis data menggunakan analisis mengalir, yaitu terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan: (1) pada tokoh utama (Sumarah) ditemukan sembilan sifat, yakni berjiwa besar, analitis, sensitif, pasrah, cerdas, pekerja keras, pesimistis, idealis, dan penakut; (2) dorongan id pada diri Sumarah ditandai ketika ia ingin tahu tentang latar belakang keluarganya, ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ingin menjadi istri Mas Edi, dan ingin membunuh majikannya. Respons ego ditandai ketika ia meminta surat bersih sebagai syarat untuk menjadi PNS dan ketika ia membunuh majikan. Respons superego ditandai ketika Sumarah mempertimbangkan untuk menjadi PNS, tidak bekerja lagi tempat ibu Jumiarti dan ketika Sumarah mempertanggungjawabkan kesalahannya sebagai tersangka pembunuhan. Dari analisis kepribadian Sumarah, ditemukan pula tipe melankolis dalam diri Sumarah. Kata Kunci: tokoh utama, kepribadian, drama Balada Sumarah
Humor sebagai Mekanisme Pertahanan Ego Tokoh Mamat dan Ujang dalam Novel Jurnal Risa: Mamat Ujang karya Risa Saraswati Anggini, Dewi Salvika; Rokhmansyah, Alfian
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 14, No 1 (2026): In Progress
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v14i1.136821

Abstract

Humor has evolved from mere entertainment into a therapeutic tool for alleviating psychological burdens. This study examines humor as an ego defense mechanism in Risa Saraswati's novel Jurnal Risa: Mamat Ujang, employing Sigmund Freud's psychoanalytic framework (id, ego, and superego). The research is driven by the rising prevalence of psychological disorders in society, while existing studies indicate humor's role in stress reduction though these findings require more robust empirical validation. The study aims to develop a theoretical framework for humor's self-defense function in the traumatic experiences of characters Mamat and Ujang, analyzing its role within Freud's personality structure and Morrison's humor theory. The methodology combines descriptive qualitative research with literary psychology. The study employs ten narrative excerpts and dialogues between the characters Mamat and Ujang, blending humor with traumatic experiences. Through close reading and interpretive analysis, it examines humor's role as an ego-defense mechanism and psychological regulator. The findings reveal distinct defense strategies in both characters when confronting inner conflicts. For both, humor serves to process negative emotions fear, shame, and guilt into laughter. The study concludes that ego-defense mechanisms are not limited to human characters but also manifest through ghost characters with unique psychodynamic functions. By framing humor as a defense mechanism for trauma processing, this research offers a fresh perspective on literary psychology.