Claim Missing Document
Check
Articles

Pelanggaran Maksim pada Tuturan Remaja Perempuan Yatim: Kajian Psikopragmatik Alfian Rokhmansyah; Purwanti Purwanti; Nur Ainin
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 4, No 1 (2019): VOLUME 4 NUMBER 1 MARCH 2019
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.381 KB) | DOI: 10.26737/jp-bsi.v4i1.887

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk pelanggaran maksim yang dilakukan seorang remaja perempuan yatim dan faktor-faktor yang memengaruhi tuturannya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang berbentuk studi kasus. Pemaparan data dilakukan secara deskriptif. Objek penelitian (OP) adalah seorang remaja perempuan yatim berusia 21 tahun. Data utama penelitian adalah tuturan dalam kegiatan tindak tutur sehari-hari dari OP. Sedangkan data sekunder berupa identitas diri OP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran maksim yang dilakukan OP, yaitu (a) maksim kearifan, (b) maksim kedermawanan, (c) maksim pujian, (d) maksim kerendahan hati, dan (e) maksim kesepakatan. Adapun faktor yang memengaruhi cara berbahasa OP, yaitu (a) kurang mendapat perhatian menyebabkan bentuk tuturan OP condong kasar, (b) posisi sebagai anak sulung dalam keluarga disiplin rendah menyebabkan OP berani mengungkapkan gagasan secara bebas, dan (c) kehilangan sosok teman diskusi menyebabkan OP selalu berusaha mencari teman diskusi untuk mengetahui suatu hal ataupun menyelesaikan masalah.
Penggunaan Kata Seru sebagai Foregrounding dalam Novel Durga Umayi Karya Y.B. Mangunwijaya: Kajian Stilistika Alfian Rokhmansyah; NFN Purwanti; Pandu Pratama Putra
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2018): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v9i1.146

Abstract

things to be conveyed and sometimes used to bring up a characteristic which can attracts the reader’s attention. The purpose of this research is to reveal the use of interjection as foregrounding in Durga Umayi novel by Y.B. Mangunwijaya. To achieve this goals, this research uses the concept of foregrounding contained in stylistics studies. This research is a library research with qualitative approach. Data collection using note taking and utilize card as research instrument. The results showed that the interjection used in Durga Umayi by Y.B. Mangunwijaya both singular and repetition, that is 44 interjections. The dominant interjection is ‘ya’ 150 words, ‘nah’ 45 words, ‘ah’ 45 words, and ‘kok’ 36 words.  In addition, there also some other interjection but not dominant. The repetition of interjection indicates that Durga Umayi isn’t a serious novel which will dictate the reader. Moreover, it will indicate a direct communication between the author and the reader.
Pandangan Dunia Tragis dalam Novel Pacarku Wanita Kuyang Karya Dewi Nina Kirana Ramadhani Ramadhani; Alfian Rokhmansyah; Dahri D.
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 1 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i1.244

Abstract

Novel Pacarku Wanita Kuyang mengangkat mitos kuyang dari Kalimantan. Novel ini menceritakan kehidupan tragis Era (tokoh utama) yang harus mewarisi ilmu hitam (kuyang) dari neneknya. Dalam penelitian ini digunakan teori pandangan dunia tragis yang dikemukakan Lucien Goldmann. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan dunia tragis dalam novel Pacarku Wanita Kuyang karya Dewi Nina Kirana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mendeskripsikan secara sistematis pandangan dunia tragis yang terdapat dalam objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan dunia tragis ditunjukkan dengan ketidakhadiran Tuhan untuk menolong Era (tokoh utama) ketika menerima warisan ilmu kuyang yang tidak diinginkannya. Era merahasiakan keadaannya tersebut dari orang-orang di sekitarnya karena ia tidak ingin mereka kecewa. Namun ketika kehidupannya sebagai wanita kuyang telah diketahui, hal itu membuat orang-orang yang dulu menyayanginya berubah menjadi membenci dan menjauhinya karena tidak ingin menerima keadaannya sebagai wanita penganut ilmu kuyang, bahkan oleh keluarganya sendiri.
STRUKTUR DAN FUNGSI CERITA RAKYAT BENAYUK VERSI DESA SEPALA DALUNG KABUPATEN TANA TIDUNG: KAJIAN STRUKTURALISME NARATOLOGI Wahyu Al Hidayat; Endang Dwi Sulistyowati; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.903 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2383

Abstract

This study aimed to describe the structure and function of the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. This folklore tells of a King named Benayuk of the Menjelutung Kingdom. The Tidung tribe society believed that Benayuk was their first King and Menjelutung was their oldest Kingdom. In addition, it could be seen the several indications that the folklore affected to the Sepala Dalung society. These make the Benayuk folklore interesting to study. This study uses the descriptive method that aimed to describe the structure and function of the Benayuk folklore for the Sepala Dalung society through the stage of observation, interview, recording and notes, and analysis data through the stages of data identification, classification, and description. The preliminary analysis used Algirdas Julien Greimas's narratological structuralism to describe the structure of the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. The results of the study showed 4 acting schemes and functional models in the Benayuk folklore by Sepala Dalung version. The results of the preliminary analysis are used as the basis for continued onto the next analysis, which is the analysis of the function of the Benayuk folklore for the Sepala Dalung community by used the folklore function theory. In this section, the several functions of the Benayuk folklore are found for the Sepala Dalung society. The second one is that the Benayuk folklore could be used for social authorization in the form of the endorsement and recognition for the Menjelutung Kingdom and the social norms in the form of prohibitions and recommendations. The second is that the Benayuk folklore can be used to enforcing the validity of social norms inform the prohibition to be close to the whirlpool, said a bad word, created problem in the society, and the recommendation to said greetings and stayed alert when the Sesayap River recedes. The last one is that the Benayuk folklore could be used to educate the children not to help each other in crime and respect to the social norms that applied in Sepala Dalung society.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan fungsi cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Cerita rakyat ini menceritakan tentang seorang raja bernama Benayuk di Kerajaan Menjelutung. Masyarakat suku Tidung percaya bahwa Benayuk adalah raja pertama mereka dan Menjelutung adalah kerajaan mereka. Di samping itu, terlihat indikasi bahwa cerita tersebut berpengaruh bagi masyarakat Sepala Dalung. Hal tersebut yang membuat cerita rakyat Benayuk menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan fungsi cerita tersebut bagi masyarakat Sepala Dalung melalui tahapan pengamatan, wawancara, rekam dan catat, dan analisis data melalui tahap identifikasi data, klasifikasi, dan deskripsi. Analisis awal menggunakan teori strukturalisme naratologi Algirdas Julien Greimas untuk menggambarkan struktur cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Hasil penelitian menunjukkan empat pola aktan dan model fungsional pada cerita rakyat Benayuk versi Sepala Dalung. Hasil analisis awal tersebut dijadikan dasar untuk melanjutkan ke analisis selanjutnya, yaitu analisis fungsi cerita rakyat Benayuk bagi masyarakat Sepala Dalung menggunakan teori fungsi cerita rakyat. Pada bagian ini, ditemukan beberapa fungsi cerita rakyat Benayuk bagi masyarakat Sepala Dalung. Pertama, alat pengesahan sosial berupa pengesahan atau pengakuan atas eksistensi Kerajaan Menjelutung dan norma-norma sosial berupa larangan serta anjuran. Kedua, pemaksa berlakunya norma-norma sosial berupa larangan mendekati pusaran air, berkata-kata buruk, membuat keributan di masyarakat, serta anjuran mengucap salam, dan tetap waspada saat sungai Sesayap sedang surut. Terakhir, alat pendidikan anak agar tidak melakukan tolong-menolong dalam kejahatan dan pemalsuan, tidak mempermainkan binatang, serta mematuhi norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat Sepala Dalung.  
BENTUK, FUNGSI, DAN NILAI TUTURAN DALAM UPACARA ADAT BIDUK BEBANDUNG SUKU BULUNGAN: KAJIAN FOLKLOR Irpan Istian; Yusak Hudiyono; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 4 (2017): Edisi Oktober 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.924 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i4.710

Abstract

                 AbstractThis research has a purpose to describe the form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial, Bulungan tribe, through the folklore investigate. The writer has interested to investigate the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial in order to increase the knowledge of culture which has been inheritance from the elders of Bulungan tribe. This research use the qualitative-descriptive method to collect the information and description of form, function and value in Biduk Bebandung tradition ceremonial through folklore investigate. Moreover, the resource of this research is indirect from the informant in the field. The technique in collecting the data, the writer uses the interview and observation technique. To analyze the data, the writer uses data reduction, data display and conclusion. Thus, the result of this research showed that the speech in Biduk Bebandung tradition ceremonial there are line-form, Mengawa speech has 14 lines which is arranged of 6-13 words each line, Tolak Bala speech has 8 lines with 5-14 words each line, Selamat speech has 7 words each line, Mohammad’s Solawat speech has 3 lines with 3-7 words each line, Tahlil speech has 11 lines with 3-105 words each line. Furthermore, those speeches in Biduk Bebandung tradition ceremonial have functions such as entertain, as mediator legalization, the culture league itself and as the media education. Thus, in the Biduk Bebadung tradition, there is a religion value that as a wish to Allah SWT. Keywords: Biduk Bebandung, form, function, value  AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung suku Bulungan ditinjau dari kajian folklor. Penulis tertarik mengkaji tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung agar dapat mengetahui tuturan dan kebudayaan yang diwariskan oleh nenek moyang kerajaan suku Bulungan. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu untuk memperoleh informasi dan gambaran bentuk, fungsi, dan nilai tuturan dalam upaca adat Biduk Bebandung berdasarkan kajian folklor. Sumber data penelitian adalah hasil dari penelitian lapangan dan didapatkan dari narasumber. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan wawancara. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat bentuk baris, tuturan Mengawa terdiri dari 14 baris dengan 6-13 kata per baris, tuturan Tolak Bala terdiri dari 8 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selamat terdiri dari 7 baris dengan 5-14 kata per baris, tuturan Selawat Nabi Muhammad terdiri dari 3 baris dengan 3-7 kata per baris, tuturan Tahlil terdiri dari 11 baris dengan 3-105 kata per baris. Selanjutnya, fungsi tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung adalah sebagai hiburan, sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga kebudayaan, dan sebagai alat pendidikan anak. Lalu, nilai tuturan dalam upacara adat Biduk Bebandung terdapat nilai religi berupa permohonan kepada Allah SWT. Kata kunci: Biduk Bebandung, bentuk, fungsi, nilai
KETIDAKADILAN GENDER TERHADAP TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GENDUK KARYA SUNDARI MARDJUKI: KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINISME Puji Astuti; Widyatmika Gede Mulawarman; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.428 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1046

Abstract

ABSTRAKAnggapan tersebut telah menjadikan perempuan korban dari perbedaan gender yang menimbulkan diskriminasi. Ketidakadilan atau diskriminasi gender termanifestasikan ke dalam beberapa bentuk yakni, marginalisasi, subordinasi, sterotipe, kekerasan, dan beban kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki, (2) penyebab ketidakadilan gender terhadap tokoh perempuan dalam novel Genduk karya Sundari Mardjuki. Jenis yang digunakan adalah menggunakan jenis pendekatan kualitatif, yaitu penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Pendekatan kualitatif mengacu pada metode deskriptif, yaitu metode yang tertuju pada pemecahan masalah dan bersifat apa adanya. Setelah itu, dapat diperoleh bentuk-bentuk ketidakadilan yang ada dalam novel Genduk yaitu : marginalisasi, masalah Yung yang diusir dari keluarga besar dan tidak mendapat warisan dari ayahnya. Subordinasi, ketika derajat Genduk direndahkan oleh Kaduk dengan memegang tubuh tanpa kerelaan. Stereotipe Yung pada saat harus mendengar omongan masyarakat, suaminya tidak pernah pulang dan tidak ada kabar. Kekerasan seksual, yaitu saat Genduk menemui Kaduk di Tuksari, lalu Kaduk meremas buah dadanya dengan keras. Beban kerja, ketika Yung harus bekerja di rumah dan mencari nafkah. Penyebab ketidakadilan gender pada tokoh Genduk yang mengalami ketidakadilan dari Kaduk memegang atau melecehkan Genduk. Sedangkan tokoh Yung penyebab ketidakadilan yaitu dari ayahnya, karena termarginalkan dengan tidak mendapatkan warisan ladang tembakau, maupun emas permata, dan Yung pergi hanya membawa buntalan yang berisi beberapa helai baju. Kata kunci: ketidakadilan, perempuan, novel, sastra feminisme ABSTRACTThe assumption has made women victims of gender differences that give rise to discrimination. Injustice or gender discrimination is manifested in several forms namely, marginalization, subordination, stereotypes, violence and workloa. This study aims to describe: (1) Form of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki, (2) Cause of gender injustice to female characters in Genduk novel by Sundari Mardjuki.The type used is using the type of qualitative approach, is research that does not hold calculations. Qualitative approach refers to descriptive method, that is the method that is focused on problem solving and is what it is. After that, can be obtained the forms of injustice that exist in the novel Genduk namely: marginalization, Yung problem that was expelled from large families and did not get inheritance from his father. Subordination experienced by Genduk occurs when its degree is lowered by Kaduk by holding its body without the willingness of Genduk. The stereotype experienced by Yung when she had to listen to the conversation of the community when her husband never came home and there was no word. The violence experienced when Genduk met Kaduk in Tuksari, then Kaduk kissing and squeezing the breasts of Genduk without willingnes.workload when Yung must work at home and earn a living.the cause of gender inequlity in Genduk figures who experience injustice from Kaduk that hold or harass the Genduk. Whereas  Yung’s character causes the injustice of his father, being marginalized by not getting inherited from the tobacco fields, not the gem gold, and Yung goes just carrying a bundle that contains a few strands of clothes.Keywords: injustice, female, novel, literature of feminism
ANALISIS TUTURAN TARIAN BAMBU GILA DI MALUKU TENGAH DITINJAU DARI BENTUK DAN FUNGSI Martia Soa Mole; Mursalim Mursalim; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 2, No 2 (2018): Edisi April 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.218 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v2i2.1100

Abstract

ABSTRAK Alasan pemilihan judul sebagai bahan penelitian ini, disebabkan keinginan penulis untuk mengetahui bentuk mantra dan fungsi tuturan tarian Bambu Gila di Maluku Tengah. Tujuan utama dari pepelitian ini (1) untuk mengetahui pola tuturan mantra bambu gila (2) untuk mengetahui bentuk tutuan mantra bambu gila (3) mengetahui fungsi tuturan mantra bambu gila. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Menganalisis bentuk apa saja yang terdapat dalam tuturan mantra tarian bambu gila serta menganalisis pola, dan fungsi tuturan mantra bambu gila. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, perekaman, wawancara, foto dan teknik catat. Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa (1) atraksi tarian bambu gila dilaksanakan dengan waktu 30 menit. (2) tuturan bambu gila bentuk mantra berirama abc-abc,abcd-abcd. (3) bersifat lisan, memiliki tujuan tertentu, berhubungan dengan kekuatan dan alam gaib. (4) fungsi tuturan mantra bambu gila yaitu untuk memohon pertolongan para leluhur, pengakuan akan adanya berkah dan kekuasaan tertinggi dari tuhan, membuat roh leluhur dan jin yang dipanggil menguasai bambu dan para pemain, sebagai perintah untuk melaksanakan intruksi pawang, dan sebagai sarana untuk berdoa atau meminta pertolongan. Sedangkan mantra yang dibacakan dalam permainan bambu gila bertujuan untuk berkomunikasi dengan jin.Kata kunci: tuturan bambu gila, bentuk mantra, fungsi  ABSTRACT The reason for choosing the title as the subject of this research, caused by the writer’s desire to know the from of mantra and the speech function of crazy bamboo dance in central maluku. (1) to know spell bamboo mantra spell pattern (2) to know spell bamboo mantra spell from (3) to know the fuction of bamboo crazy speech. The method used in doing this research is qualitative method with descriptive research type. Analyzing what froms are contained in spell bamboo dance mantras and analyzing patterns, and spell bamboo mantra spell function. Data collention techniques used in this research are observation, recording, interview, photo and technique record. The results of the reserch obtained in this study showed that (1) the attraction of crazy bamboo dance was carried out with a time 30 minutes.(2) bamboo spell crazy from of abc-abc rhythmic spell ,abcd-abcd. (3) is verbal, has a specific purpose, relates to power and the occult. (4) the function of spell bamboo mantra spell is to invoke the help of the ancestors, the recognitian of the blessing and the supreme power of God, to make the spirits and the jinn invoked to master the bamboo and the players, as a command to carry out the handler’s instruction, and as a means topray or ask for help. The purpose of mantra generally varies depending on the reader of the mantra. Whereas the mantra that is recited in a crazy bamboo game aims to commonicate with the jin.Keywords: crazy bamboo tutorials, mantra shapes, functions
KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NASKAH MONOLOG BALADA SUMARAH KARYA TENTREM LESTARI: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Nella Putri Giriani; M Rusydi Ahmad; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 1, No 1 (2017): Edisi Januari 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.248 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v1i1.665

Abstract

ABSTRACT This research purposed to describe the characterization and individuality the main character in monologue script entitled Balada Sumarah by Tantrem Lestari. Balada Sumarah script chose because the main character of this script has complex characterization, so the writer interested to analyze it. This research used qualitative research with descriptive method. This research used literature psychology approach using Sigmund Freud’s theory of psychoanalysis and typology of characterization. The data source in this research is the Balada Sumarah monologue script by Tantrem Lestari. The data collection used library research or as known as content analysis which do the direct observation and search identity also the character and characterization. According to this analysis we could take the conclusions, which are: (1) on main character we found Sumarah’s nine characteristics, which are big-hearted, analytical, sensitive, patient, intelligent, hard-worker, pessimistic, idealist, and coward; (2) there are id, ego, and superego in Sumarah. The urge of id in Sumarah signed when she wants to know her family background, wants to become a civil worker, wants to become Edi’s wife, and wants to murder her employer. The response of ego signed when she asks about the statement of clean as qualified to be civil workers and when she murders her employer. Response of superego signed when Sumarah is considering for become the civil worker, resign from Jumiarti’s place, and when Sumarah take a responsibility of her mistake as the suspect of murderer. From the analysis of Sumarah personality, the researcher also found melancholic in Sumarah. Keywords: the main character, personality, Balada Sumarah’s drama ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan dan kepribadian tokoh utama dalam naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Naskah monolog Balada Sumarah dipilih karena naskah ini memiliki tokoh utama dengan sifat yang kompleks sehingga penulis tertarik untuk menelitinya. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud dan tipologi kepribadian. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah monolog Balada Sumarah karya Tentrem Lestari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) atau disebut dengan analisis isi (content analisys), yaitu langsung mengadakan pengamatan dan mecari identitas serta gambaran tokoh dan penokohan. Teknik analisis data menggunakan analisis mengalir, yaitu terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil analisis menunjukkan: (1) pada tokoh utama (Sumarah) ditemukan sembilan sifat, yakni berjiwa besar, analitis, sensitif, pasrah, cerdas, pekerja keras, pesimistis, idealis, dan penakut; (2) dorongan id pada diri Sumarah ditandai ketika ia ingin tahu tentang latar belakang keluarganya, ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), ingin menjadi istri Mas Edi, dan ingin membunuh majikannya. Respons ego ditandai ketika ia meminta surat bersih sebagai syarat untuk menjadi PNS dan ketika ia membunuh majikan. Respons superego ditandai ketika Sumarah mempertimbangkan untuk menjadi PNS, tidak bekerja lagi tempat ibu Jumiarti dan ketika Sumarah mempertanggungjawabkan kesalahannya sebagai tersangka pembunuhan. Dari analisis kepribadian Sumarah, ditemukan pula tipe melankolis dalam diri Sumarah. Kata Kunci: tokoh utama, kepribadian, drama Balada Sumarah
IDENTITAS GENDER TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CERMIN TAK PERNAH BERTERIAK KARYA IDA R. YULIA Deka Septia Nur Alfat; Alfian Rokhmansyah; Dahri Dahlan
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 6, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v6i1.5626

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui identitas gender yang terjadi pada tokoh utama dalam novel Cermin Tak Pernah Berteriak karya Ida R. Yulia, yang mengalami kebimbangan dalam menentukan identitas gender yang akan dia pilih. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkapkan fakta cerita yang terdapat dalam novel ini seperti mengetahu alur, tokoh dan latar yang terdapat dalam novel yang diteliti. Kajian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kajian gender dan jenis Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pemaparan data secara deskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pemaparan data secara deskriptif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terdapat dua pendekatan yang pertama pendekatan objektif yang menggap teks merupakan suber data utama dalam penelitian yang akan digunakan untuk melihat struktur fakta cerita yang membangun novel, meliputi alur, tokoh penokohan, dan latar. Yang kedua adalah pendekatan gender yang diguankan untuk mengetahui perubahan identitas gender yang terjadi pada tokoh utama. Hasil penelitian ini dapat diketahui identitas gender dari tokoh Baskoro yang berubah-ubah, Baskoro laki-laki yang memiliki hobi melakukan crossdressing (suka berdandan seperti perempuan). Pengaruh teman Baskoro, yaitu Jonathan, sangat besar terhadap kegemaran Baskoro dalam melakukan crossdresing. Pengaruh dari Ega yang merupakan anak dari Baskoro yang menginginkan ayahnya berhenti melakukan crossdressing. Hal tersebut yang membuat Baskoro bingung untuk mentukan mana identitas gender yang harus dia pilih. Akhirnya Baskoro memilih untuk membuang sisi femininnya dan lebih fokus ke sisi maskulinya,  seperti laki-laki pada umumnya yang cenderung memiliki sifat maskulin.Kata kunci: gender,  novel, tokoh utama ABSTRACTThis study aims to determine the gender identity in the main character in the novel "Cermin Tak Pernah Berteriak" by Ida R. Yulia, who experiences indecision in determining which gender identity she will choose. This study also aims to reveal the story's facts, such as knowing the plot, characters, and settings in the novel under study. The study used in this study is a gender study, and this type of research is qualitative research with descriptive data exposure. This research is qualitative research with descriptive data exposure. There are two approaches used in this research. The first is an objective approach that considers text as the primary data source in the research, which will be used to see the structure of the story's facts that build the novel, including plot, characterizations, and setting. The second is the gender approach used to find out the changes in gender identity that occur in the main character. The results of this study can identify the gender identity of the variable Baskoro character. Baskoro is a male who has a hobby of doing crossdressing (he likes to dress up like a woman). Baskoro's friend, Jonathan, greatly influences Baskoro's passion for crossdressing. The influence of Ega, who is Baskoro's son who wants his father to stop crossdressing. It made Baskoro confused about which gender identity he should choose. Finally, Baskoro chose to throw away his feminine side and focus more on his masculine side, like men in general who tend to have masculine traits.Keywords: gender, novel, the main character
KEPRIBADIAN TOKOH AMINAH DALAM NOVEL DERITA AMINAH KARYA NURUL FITHRATI: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA Jenny Carlina Wandira; Yusak Hudiyono; Alfian Rokhmansyah
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya Vol 3, No 4 (2019): Oktober 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.099 KB) | DOI: 10.30872/jbssb.v3i4.2114

Abstract

This study aims to describe characterization of the main character in the novel Derita Aminah by Nurul Fithrati, the personality of the main character in Nurul Fithrati's novel of Aminah. The type of research used in this study is descriptive (qualitative). Researchers trying to describe how the character of the main character and personality of the main character in the novel Derita Aminah. Data collection techniques used in this study is using the method of reading notes, literature and instruments. Later, the data obtained from this study is associated with Carl Gustav Jung's personality theory. The conclusions of this research are the description of the characterization of the Aminah figure of a six-year-old child who has to undergo a dark childhood. Aminah a child who works hard, never give up, has a caring, and good nature. A tough boy and always trying to sincerely live his life the personality of the personality of a cheerful personal character Aminah who always shows her feelings directly, her personality changes occur when she has a cruel stepmother and often tortures her, Aminah becomes a closed person and is less able to express her emotions. It affects the personality dynamics of the Aminah character where his feelings, thoughts and actions often experience conflict that is often contradictory. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penokohan serta kepribadian tokoh utama dalam novel derita Aminah karya Nurul Fithrati ditinjau dari psikkologi sastra. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif (kualitatif). Peneliti berusaha mendeskripsikan bagaimana penokohan tokoh utama dan kepribadian tokoh utama yang ada dalam novel Derita Aminah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode baca catat, kepustakaan dan instrumen. Kemudian, data-data yang diperoleh dari penelitian ini dikaitkan dengan teori kepribadian Carl Gustav Jung. Hasil penelitian ini adalah gambaran penokohan tokoh Aminah seorang anak berusia enam tahun yang harus menjalani masa kecil yang kelam. Aminah seorang anak yang bekerja keras, pantang menyerah, memiliki sifat yang peduli, dan baik hati. Seorang anak yang tegar dan selalu berusaha untuk ikhlas menjalani kehidupannya; gambaran kepribadian tokoh Aminah pribadi yang ceria dan selalu menunjukkan perasaannya secara langsung, perubahan kepribadiannya terjadi ketika memiliki ibu tiri kejam dan sering menyiksanya, Aminah menjadi seorang yang tertutup dan kurang mampu mengekspresikan emosinya. Hal tersebut mempengaruhi dinamika kepribadian tokoh Aminah dimana perasaan, pikiran dan tindakannya seringkali mengalami konflik yang sering bertentangan.