Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Analisis pengaruh optimasi desain jaring untuk pengukuran Ground Control Point (GCP) terhadap ketelitian skala hasil rektifikasi foto udara Armijon; R. Amalia; Fajriyanto
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 6 (2023): Prosiding Seminar Nasional Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) 2023
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kualitas ketelitian foto udara yang baik apabila memiliki tingkat akurasi tinggi yangdapat dihasil dari proses koreksi foto dengan GCP yang teliti. GCP merupakan titikbantu di lapangan yang digunakan untuk mengkoreksi suatu foto udara dalammengurangi kesalahan-kesalahan yang terjadi pada foto. Untuk menghasilkan akurasititik GCP yang baik, dibutuhkan pengukuran GCP yang teliti. Dengan begitu untukmenghasilkan akurasi foto yang baik perlu ditentukan GCP yang teliti. PenentuanGCP yang teliti dapat menggunakan desain jaring. Dalam koreksi foto udara banyakvariabel yang mempengaruhinya, sehingga apakah usaha untuk meningkatkanketelitian GCP melalui desain jaringan cukup signifikan mempengaruhi ketelitianpeta foto udara, sehingga perlu dianalisis sejauh mana pengaruh kualitas jaringterhadap peningkatan kualitas ketelitian peta foto. Metode yang digunakan dalamoptimasi desain jaring dengan 4 model desain jaringan menggunakan pendekatankuadrat terkecil dengan hitung perataan parameter. Data foto hasil akuisisimenggunakan UAV. Sebaran dan penempatan GCP ditentukan berdasarkan hasildesain jaring dan diukur dengan teknologi GNSS. GCP hasil optimasi desain jaringdigunakan untuk pembentukan orthotphoto secara digital. Perhitungan nilai CE90digunakan untuk menentukan tingkat ketelitian horizontal skala peta. Berdasarkanketelitian skala peta dapat diketahui tingkat akurasi foto yang dihasilkan. Selanjutnyadilakukan analisis ketelitian skala peta berdasarkan variasi desain jaring GCP. Desain1 merupakan desain paling optimal dengan nilai variansi-kovariansi dan SOF sebesar1,629877694 dan 0,25. Pada pembentukan orthotphoto, desain 3 memiliki kesalahanpaling kecil yaitu sebesar 8,37596 cm. Ketelitian skala berdasarkan CE90 yangdihasilkan pada desain 1, desain 2, desain 3, dan desain 4 sebesar 0,250184; 0,277924;0,127105, dan 0,302074 termasuk ke dalam kelas 1 ketelitian skala 1:1.000. Hal inidapat disimpulkan bahwa perbedaan model desain jaringan tidak terlalumempengaruhi ketelitian skala peta foto udara
Analisis Tingkat Kerawanan Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung Putri, D Achnasya; Fajriyanto; Tridawati, Anggun
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana Alam adalah kejadian yang dapat mengakibatkan kerusakan alam, kerusakan sarana prasarana, korban jiwa, kehilangan harta benda, serta terganggunya kegiatan manusia. Secara topografi pesisir barat berapa pada bagian pinggir pulau Sumatra tepatnya pantai barat Provinsi Lampung, dan secara topologi berbentuk perbukitan antara ketinggian 600 sampai dengan 1.000 mdpl dan curah hujan per tahun di rata rata 2.500 sampai dengan 3.000 mm/tahun sehingga rentan akan terjadinya bencana banjir dan longsor. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kerawanan bencana banjr dan longsor di wilayah Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung. Analisis Tingkat Kerawanan bencana banjir dan longsor menggunakan parameter penggunaan lahan yang dihasilkan dari klasifikasi menggunakan Support Vector Machine (SVM), pada parameter gempa dan curah hujan dilakukan interpolasi dengan metode Inverse Distance Weighted (IDW). Bencana banjir parameter yang digunakan ialah kemiringan lereng, ketinggian lahan, curah hujan, penggunaan lahan, dan jenis tanah, sedangkan bencana longsor digunakan parameter curah hujan, gempa, jenis tanah, jenis batuan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan. Penentuan bobot masingmasing parameter menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP), dan kemudian dilakukan overlay dengan Intersect. Hasil dari overlay dengan intersect menunjukan bahwa tingkat kerawanan bencana banjir di Kabupaten Pesisir Barat ialah tinggi dengan luas wilayah 1.628,47 km² atau 56% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Pesisir Barat, sedangkan bencana longsor memiliki tingkat kerawanan longsor yang rendah dengan luas wilayahnya 1.949,783 km² atau 67% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Pesisir Barat.
Analisis Kerentanan Seismik dan Ketebalan Sedimen di Zona Sesar dan Kaldera Bakauheni, Lampung Selatan Zaenudin, Ahmad; Rustadi; Erfani, S; Darmawan, I.G.B; Fajriyanto; Farduwin, A
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Strategis Nasional Selat Sunda, khususnya Pelabuhan Bakauheni. merupakan Kawasan Strategis sebagai pelabuhan Pulau Jawa-Sumatera yang rentan terhadap aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau (AGK), Sesar Krakatau, Sesar Pantai Timur dan sesar-sesar kecil di Bakauheni, dan keberadaan kaldera- kaldera purba. Kondisi batuan akibat ganguan gempa dan kaldera perlu dikarakterisasi dan dianalisis, terkait kerentanan seismik dan ketebalan sedimen tersebut, jika teraktifasi gempa. Uji kerentanan seismik diukur dan dianalisis dengan metode mikrotremor, yaitu metode HVSR (Horizontal-Vertical-Signal- Ratio). HVSR atau H/V dilakukan dengan cara menghitung rasio antara komponen horisontal (NS dan EW) dengan komponen vertikal dalam domain frekuensi (f). Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk karakterisasi dan korelasi keberadaan sesar, dan kaldera purba Bakauheni, lapisan sedimen, yang dianalisis dengan Frekuensi Alamiah (f0), nilai Vs30, Faktor Amplifikasi (A0), dan Indeks Kerentanan Seismik (Kg). Hasil perhitungan HVSR menghasilkan nilai f0 pada rentang <2,5 Hz (lapisan sangat tebal), 2,5 – 4 Hz (lapisan sedimen permukaan ketebalan 10 – 30 meter) dan 4 – 6,67 Hz (lapisan sedimen permukaan ketebalan 5 – 10 meter). Nilai f0 tersebut menunjukkan adanya sedimen yang relatif tebal di kaldera. Dari hasil inversi PSO HVSR, dapat di ekstraksi kecepatan gelombang geser (Vs) yang menghasilkan klasifikasi tanah sangat lunak (0 – 175 m/s), tanah lunak (175 – 350 m/s), tanah sedang dan batuan lunak (350 – 750 m/s), batuan sedang hingga keras (750 – 1500 m/s) dan batuan sangat keras (>1500 m/s). Nilai amplifikasi yang terbagi atas dua kategori, yakni <3 kali dan 3-6 kali. Indeks kerentanan seismik terbagi atas 3 kategori, yakni nilai Kg sebesar <3 1/cm s2 (rendah), 3 – 6 1/cm s2 (sedang) dan >6 1/cm s2 (tinggi). Hasil HVSR menunjukan bahwa ketebalan sedimen dan kerentatan seismik di Bakauheni tidak terkait langsung dengan sesar, tetapi terkait dengan keberadaan kaldera-kaldera purba. Sangat penting untuk merancang struktur bagunan yang adaptif terhadap aktivitas seismik dan keberadaan lapisan tebal di kaldera-kaldera purba tersebut.
Monitoring Deformasi Gunung Api Anak Krakatau Berdasarkan Data GPS Kontinu Periode Januari – Maret 2023 Septiani, Putri Regina; Fajriyanto; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi; Lusyana, Efrita; Ardi
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Api Anak Krakatau, yang terletak di perairan Selat Sunda, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia. Gunung ini pertama kali tercatat meletus pada tahun 1883, dan sejak itu muncul Anak Krakatau. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji deformasi Gunung Api Anak Krakatau melalui analisis pergeseran dari stasiun PNJG, SRTG, dan TNJG selama periode Januari hingga Maret 2023. Metode yang digunakan untuk memantau deformasi adalah metode GPS. Data GPS yang dikumpulkan diproses secara berkelanjutan menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK untuk menentukan posisi, arah, dan besaran pergeseran titik pengamatan. Hasil pengolahan ini membantu memperkirakan inflasi atau deflasi di lokasi pusat gunung api. Selama periode tersebut, arah dan besaran pergeseran dari ketiga stasiun menunjukkan pergeseran horizontal antara 3,32 mm hingga 40,86 mm setiap bulan. Stasiun PNJG dan TNJG menunjukkan kecenderungan pergeseran ke arah tenggara dengan kecepatan 3,32 hingga 40,86 mm/tahun. Sebaliknya, stasiun SRTG, yang berada di sisi kiri gunung, bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan -26,93 hingga -30,34 mm/tahun. Selain itu, perubahan vertikal dari ketiga stasiun menunjukkan adanya deflasi pada Gunung Api Anak Krakatau. Informasi ini penting untuk memahami aktivitas vulkanik dan keberadaan kantong magma di gunung api tersebut.
Analisis Pergeseran Horisontal Akibat Gempa Bawean 22 Maret 2024 Menggunakan Pengamatan GPS Kontinu Justiono, Ahmad Adiguna; Fajriyanto; Rahmadi, Eko; Fadly, Romi
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini didasarkan pada kejadian gempa bumi dengan magnitudo 6,5 yang terjadi di Kepulauan Bawean pada 22 Maret 2024. Gempa ini berkaitan dengan aktivitas seismik pada zona sesar tua meratus di Laut Jawa, yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap dinamika tektonik di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis deformasi yang terjadi akibat gempa tersebut dengan memanfaatkan data dari pengamatan GPS kontinu, guna memperdalam pemahaman tentang pergerakan kerak bumi di sekitar zona tersebut dan mengidentifikasi pola deformasi yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan analisis data dari tujuh stasiun GPS yang tergabung dalam jaringan InaCORS, yaitu CLMG, CMJT, CSBY, CSID, CSMP, CPCR, dan CSTBN. Data GPS diproses menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK untuk mengidentifikasi dan menganalisis perubahan posisi stasiun sebelum dan sesudah terjadinya gempa. Validitas pergeseran dilakukan dengan menggunakan uji T-Student dengan 1,96 adalah nilai T-Tabel. Hasil pengolahan data menunjukkan kecepatan pergeseran horisontal ke arah tenggara sebesar 15,06 mm/tahun sampai 37,47 mm/tahun. CPCR memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah Timur Laut sebesar 33,61 mm/tahun. CSMP memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah Barat Laut sebesar 52,88 mm/tahun sedangkan pergeseran horisontal setelah gempa sebesar 1,81 mm sampai dengan 30,64 mm dengan kecepatan pergeseran setelah gempa pada stasiun CLMG, CMJT, dan CTBN memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah timur laut sebesar 7,79 mm/tahun sampai 40,97 mm/tahun. CPCR, CSBY, CSID dan CSMP memiliki kecepatan pergeseran horisontal ke arah tenggara sebesar 11,11 mm/tahun sampai 73,92 mm/tahun.
Identifikasi Daerah Terdampak Dari Ancaman Sesar Semangko Terhadap Potensi Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Tanggamus Sumanjaya, Erlan; Iswanuri, Rafli; Fajriyanto
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 7 (2024): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industi (SINTA) 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumatra memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap ancaman gempa bumi dikarenakan adanya sesar aktif di sepanjang wilayah tersebut. Sesar Semangko merupakan salah satu sesar yang berada di pulau Sumatra dan terletak di Provinsi Lampung tepatnya di Kabupaten Tanggamus. Sesar Semangko dengan panjang 65 km merupakan wilayah yang aktif secara tektonik, selama pergerakannya patahan Semangko menghasilkan banyak deformasi yang mengakibatkan tingginya kegempaan di sepanjang patahan tersebut. Hal ini berpotensi menimbulkan dampak besar pada masyarakat sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi daerah terdampak dari ancaman sesar Semangko yang berpotensi menyebabkan bencana gempa bumi. Metode yang digunakan yaitu dengan analisis berbasis GIS dalam membuat model spasial dan menskenariokan keterdampakan bencana gempa bumi dengan memanfaatkan InaSAFE. Data AVS30 diperoleh melalui proses klasifikasi topografi yang mempertimbangkan tiga parameter utama, yaitu kemiringan (slope), tekstur (texture), dan koneksitas (convexity), dengan data DEM SRTM resolusi 30 M sebagai data masukan. Hasil klasifikasi tersebut disesuaikan dengan distribusi nilai AVS30 dari BMKG. Nilai AVS30 kemudian digunakan untuk menghitung Ground Amplification Factor (GAF), yang menggambarkan tingkat penguatan guncangan di permukaan tanah. Untuk memperoleh peta potensi bahaya gempa secara menyeluruh, nilai GAF dikombinasikan dengan data PGA intensitas guncangan pada batuan dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Tanggamus termasuk wilayah yang sangat rawan gempa bumi karena berada di jalur Sesar Semangko. Analisis spasial menunjukkan bahwa wilayah ini didominasi oleh tingkat bahaya gempa tinggi seluas 193.355 hektar. Estimasi dampak mencakup sekitar 551.000 jiwa populasi terdampak, 8.600 unit bangunan, serta 256.000 hektar tutupan lahan yang berpotensi terkena dampak.