Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Sanitasi Lingkungan Di Wilayah Pemukiman Perkotaan (Kasus Pada Masyarakat Di Wilayah Kelurahan Kebon Jeruk Kota Bandung) Sekarningrum, Bintarsih; Nurwati, Nunung; Wibowo, Hery
Sosioglobal Vol 8, No 1 (2023): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v8i1.51337

Abstract

ABSTRAK  Sanitasi lingkungan merupakan faktor penting untuk mewujudkan kesehatan masyarakat. Namun masalah sosial terkait sanitasi lingkungan banyak terjadi di lingkungan pemukiman perkotaan dengan kondisi padat penduduk dan kumuh, sehingga berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Tujuan dari artikel ini mendeskrpsikan dan menganalisis kondisi sanitasi lingkungan di wilayah pemukiman perkotaan khususnya di wilayah ”Gang K” yang berada di wilayah Kebon Jeruk Kota Bandung. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teori Kesehatan Masyarakat H.L Blum. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data terdiri dari wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Teknik pengolahan data meliputi tahap reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pemukiman perkotaan yang berada di wilayah ”Gang K” menunjukkan kondisi permukiman kumuh, ditandai dengan keterbatasan infrastruktur dasar, sehingga kondisi sanitasi lingkungan di wilayah tersebut kurang baik dan menimbulkan berbagai sumber penyakit. Temuan ini memperkuat Teori Blum bahwa walaupun terdapat empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat  yaitu perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan, dan keturunan (hereditas), namun faktor lingkungan  khususnya sanitasi lingkungan menjadi faktor penentu dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Masyarakat Perkotaan, Masalah Sosial, Pemukiman, Sanitasi LingkunganABSTRACT Environmental sanitation is an important factor in realizing public health. However, many social problems related to environmental sanitation occur in urban residential environments with densely populated and slum conditions, thus affecting public health. The purpose of this article is to describe and analyze environmental sanitation conditions in urban residential areas, especially in the “Gang K” area located in the Kebon Jeruk Village area of Bandung City. The results of the study were analyzed using H.L. Blum's Public Health theory. The research method used is qualitative, with data collection techniques consisting of in-depth interviews, observation, and documentation. Data processing techniques include the stages of data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. The results showed that the condition of urban settlements in the alley "K" area showed the condition of slums, characterized by limited basic infrastructure so that environmental sanitation conditions in the area were not good and caused various sources of disease. This finding strengthens Blum's theory that although four factors affect the degree of public health, namely behavior, environment, health services, and heredity, environmental factors, especially maintaining environmental sanitation, are determining factors in improving the degree of public health. Keywords: Urban Communities, Social Problems, Settlements, Environmental Sanitation
Determinasi Sosial dalam Memilih Pasangan Hidup Melalui Perkawinan Nyentana pada Masyarakat Hindu di Bali Sri Pratiwi, Ni Putu; Nurwati, Nunung; Sekarningrum, Bintarsih
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 8 No 3 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v8i3.3179

Abstract

Nyentana marriage has both positive and negative impacts on sentana rajeg. Although nyentana marriage in Bali supports gender equality, sentana rajeg faces significant challenges in implementing a matrilineal kinship pattern amidst patrilineal dominance, leading to difficulties in choosing a life partner. The aim of this study is to describe the current condition of nyentana marriage, analyze the forms of social determination experienced by sentana rajeg, and explore the social practices undertaken by sentana rajeg in seeking a life partner. This research employs a qualitative method with a descriptive-explanatory and descriptive-exploratory approach. Data collection techniques include in-depth interviews, observation, and document studies. Data analysis is conducted based on social practice theory. The study finds that the acceptance of nyentana marriage among the Balinese Hindu community is relatively slow due to the social stigma of "paid bangkung," issues of caste differences, conflicts of rights and obligations, and the loss of inheritance rights for men post-nyentana marriage. Sentana rajeg experiences social determination in choosing a life partner due to the need to fulfill various aspects such as religious norms, adjustment to the matrilineal kinship system, the necessity to find a partner from the same caste, demands for stability, and geographical limitations in finding a partner. According to social practice theory, to establish the habitus of nyentana marriage, sentana rajeg must distribute various capitals within a limited arena.
Exploring the Social and Environmental Significance of the "Kang Pisman" Waste Management Movement in Bandung, Indonesia Bintarsih Sekarningrum; Aisha Putri Utami; Desi Yunita
Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya Vol 26, No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jantro.v26.n1.p126-132.2024

Abstract

"Kang PisMan" is a waste management movement in Bandung City focused on reducing, segregating, and exploiting refuse. Therefore, this study aimed to analyze the meaning of the movement in waste management and the broader impact of similar initiatives across the city of Bandung. Adopting Herbert Blumer's Symbolic Interactionism theory, the study analyzed the society's interpretation of the "Kang PisMan" movement, through the exploration of diverse experiences and perceptions of the community, the underlying actions and subsequent responses originating from this definition were further investigated. The results showed that the community participation in the "Kang PisMan" movement was influenced by the meaning as an initiative addressing waste management, providing benefits, and emphasizing collective responsibility. The implications of this meaning on waste management movements lay in fostering community contribution based on awareness, thereby enabling the initiative to implement sustainability.
Gerakan Sosial dan Mobilisasi Sumber Daya dalam Memperjuangkan Pengakuan Kepercayaan Berbeda Putri, Tesa Amyata; Sekarningrum, Bintarsih; Fedryansyah, Muhammad
SOCIUS Vol 9 No 1 (2022): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri Pa
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v9i1.381

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gerakan sosial yang dilakukan oleh organisasi Aliran Kebatinan Perjalanan (AKP), dalam memperjuangkan pengakuan keyakinan mereka di Indonesia. Masalah ini menarik karena, Mahkamah Konstitusi saat ini telah memberikan layanan kependudukan dan pencatatan sipil pada para penghayat kepercayaan untuk mengisi kolom agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya sesuai yang diatur di dalam Surat Keputusan MK No. 97/PUU-XIV/2016. Hal ini merupakan bukti dari keberhasilan kelompok aliran kepercayaan memperjuangkan keyakinannya dan melepaskan diri dari 6 agama yang dipaksakan oleh negara. Salah satu organisasi aliran kepercayaan yang aktif memperjuangkan hak beragama dan keyakinannya adalah organisasi Aliran Kebatinan Perjalanan yang ada di Kota Bandung. Perjuangan dan keberhasilan tersebut memperlihatkan adanya gerakan sosial yang terorganisir agar tujuan yang diinginkan organisasi Aliran Kebatinan Perjalanan tercapai. Artikel ini menganalisis hal tersebut dengan menggunakan Teori mobilisasi sumber daya (Resources Mobilisation Theory) Anthony Oberschall sebagai pisau analisis dalam artikel ini. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan Teknik observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan organisasi AKP merupakan wujud dari gerakan sosial. Sedangkan keberhasilan organisasi AKP ditentukan dari pemaksimalan berbagai sumber daya organisasi AKP baik secara internal maupun eksternal. Salah satu faktor terbesar dari keberhasilan gerakan sosial AKP adalah kemampuan dalam memobilisasi sumber daya dengan baik dan pemanfaatan peluang politik yang dilakukan oleh organisasi ini
Causes and Forms of Cyberbullying among Teenagers in Indonesian Urban Areas: Cases of Jakarta, Bandung and Surabaya Amanatin, Elsa Lutmilarita; Sekarningrum, Bintarsih
JISPO Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 13 No. 2 (2023): Vol. 13 No. 2, 2023
Publisher : Faculty of SociaI and Political Sciences (FISIP), Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jispo.v13i2.27792

Abstract

The development of digitalization has had an impact on the increasing cases of cyberbullying among Indonesian youth, especially in urban areas such as Jakarta, Surabaya, and Bandung. This article finds out why teenagers in urban areas are rampant in carrying out cyberbullying behavior. The existing studies were examined to map the causes and forms of cyberbullying experienced by teenagers in the three cities by applying inclusion and exclusion criteria. Employing Anthony Giddens structuration theory, this article reveals that cyberbullying among urban teenagers is the impact of the relationship between agents and structures that shape social reality. In Jakarta, cyberbullying has emerged as a result of the lack of social support from peers and the low emotional intelligence that teenagers have. In Surabaya, cyberbullying arose as a result of lack of self-control and parental evaluation mediation, low self-esteem, and a strong desire for self-recognition in order to show their power. In Bandung, cyberbullying arose as a result of the anonymity and authoritarian pattern of parental care.
Pembangunan Kemiskinan: Implementasi Falsafah Banteng Loreng Binoncengan dalam Relasi Patron-Klien Kelompok Nelayan Kota Tegal Elsa Lutmilarita Amanatin; Bintarsih Sekarningrum; Budiawati Supangkat
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 13 No 2 (2024)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v13i2.79275

Abstract

Penelitian ini mengulas pola hubungan patron-klien di antara masyarakat nelayan Muarareja Kota Tegal. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan pengetahuan dengan memperdalam pemahaman tentang bagaimana relasi patron-klien dapat meningkatkan ekonomi, serta dampak dari falsafah banteng loreng binoncengan dan modal sosial dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Muarareja Kota Tegal. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, dan kajian teori modal sosial milik Bourdieu sebagai alat analisis untuk mengeksplorasi konteks relasi patron-klien di Muarareja. Penelitian ini melibatkan nelayan juragan, bakul ikan, dan nelayan ABK/anak buah kapal sebagai subjek penelitian, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial yang kuat di antara nelayan dan bakul ikan di Muarareja memiliki peran krusial dalam dinamika ekonomi mereka, memfasilitasi akses terhadap modal yang lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan mendesak. Selain itu, relasi patron-klien yang didasarkan pada falsafah banteng loreng binoncengan memberikan kontribusi signifikan dalam membangun jaringan sosial yang kuat, dengan dampak positif ekonomi dan sosial bagi kedua belah pihak. Sehingga, melalui  nilai-nilai tersebut, nelayan dapat memperkuat kerja sama yang berkelanjutan dan adil, serta meningkatkan kesejahteraan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan sosial yang kompleks. Rekomendasi praktis atas temuan penelitian ini mencakup perlunya pendirian pusat pelatihan bagi nelayan dan kelompok usaha bersama guna memperkuat solidaritas.
PRAKTIK PEMBANGUNAN SOSIAL MELALUI PELATIHAN KARAKTER KEPEMIMPINAN PADA SISWA SMK YPGU SUMEDANG JAWA BARAT Wibowo, Hery; Lesmana, Aditya Candra; Nugraha, Ardi Maulana; Sekarningrum, Bintarsih; Irfan, Maulana
Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Vol 4, No 1 (2023): Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sawala.v4i1.45189

Abstract

Pendidikan karakter merupakan isu penting dalam proses pembelajaran generasi muda Indonesia. Revolusi industri, telah menuntut setiap lulusan memiliki kompentensi yang jauh lebih tinggi daripada generasi selanjutnya. Salah satu diantara kapabilitas yang perlu dimiliki oleh lulusan adalah kepemimpinan. Pada program pengabdian pada masyarakat ini memfokuskan pada upaya peningkatkan kapabilitas kepemimpinan siswa. Program dilakukan selama dua hari dengan pemateri dari pihak Program Studi Sosiologi Universitas Padjajdaran, ditambah dengan Guru Sekolah dan juga Pengelola Yayasan. Hasil dari pelatihan ini menunjukkan bahwa siswa peserta pelatihan menjadi lebih memahami bagaimana karakter kepemimpinan di masa depan sehingga dapat mewujudkan karakter masyarakat Indonesia.
Internalisasi Falsafah Nengah Nyappur Pada Nilai Piil Pesenggiri Sebagai Upaya Menjaga Kerukunan Antar Suku Di Kabupaten Pesawaran Farid, M Nafi Nur; Sekarningrum, Bintarsih; Lesmana, Aditya Candra
Sosioglobal Vol 9, No 2 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v9i2.60749

Abstract

ABSTRAKKeberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menjaga harmoni sosial. Desa Negeri Sakti, Kabupaten Pesawaran, mencerminkan hal ini dengan masyarakat multikultural yang menjunjung falsafah Nengah Nyappur dalam Piil Pesenggiri. Penelitian ini menganalisis internalisasi falsafah tersebut dalam menjaga kerukunan sosial menggunakan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dengan pendekatan kualitatif fenomenologi melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses konstruksi sosial berlangsung dalam tiga tahap. Pada eksternalisasi, nilai Nengah Nyappur diekspresikan dalam tradisi adat seperti Begawi dan Bejuluk Beadek yang menciptakan interaksi sosial. Objektivasi terjadi ketika nilai-nilai tersebut dilembagakan dalam struktur sosial dan simbol budaya. Internalisasi berlangsung melalui pendidikan informal dalam keluarga dan interaksi sosial yang membentuk toleransi dan kerja sama. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa proses konstruksi sosial dalam falsafah Nengah Nyappur efektif menjaga harmoni sosial di masyarakat multikultural dan dapat diterapkan di wilayah lain untuk mendukung keberagaman sosial di Indonesia.Kata Kunci: Nengah Nyappur; Piil Pesenggiri; kerukunan antar suku; multikultural   ABSTRACTThe diversity of ethnicity, religion and culture in Indonesia is both a potential and a challenge in maintaining social harmony. Negeri Sakti Village, Pesawaran Regency, reflects this with a multicultural society that upholds the philosophy of Nengah Nyappur in Piil Pesenggiri. This research analyzes the internalization of the philosophy in maintaining social harmony using Berger and Luckmann's social construction theory with a qualitative phenomenological approach through observation, interviews, and documentation studies. The results show that the social construction process takes place in three stages. In externalization, the value of Nengah Nyappur is expressed in customary traditions such as Begawi and Bejuluk Beadek that create social interactions. Objectivation occurs when these values are institutionalized in social structures and cultural symbols. Internalization takes place through informal education in the family and social interactions that form tolerance and cooperation. The conclusion of this study confirms that the social construction process in the philosophy of Nengah Nyappur is effective in maintaining social harmony in a multicultural society and can be applied in other regions to support social diversity in IndonesiaKeywords: Nengah Nyappur; Piil Pesenggiri; inter-ethnic harmony; multicultural 
Jaringan Sosial Pekerja Migran Ilegal Indonesia Konstruksi Bangunan Di Malaysia Randi, Randi; Nurdin, Muhamad Fadhil; Sekarningrum, Bintarsih; Agustina, Rini
Sosioglobal Vol 9, No 2 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v9i2.62239

Abstract

ABSTRAK Migrasi pekerja migran ilegal Indonesia ke Malaysia adalah salah satu fenomena yang menjadi sorotan pemerintah Indonesia dan Malaysia. Besarnya migrasi PMI ilegal di Malaysia di pengaruhi oleh jaringan sosial PMI ilegal, terutama dalam hal ini jaringan sosial PMI ilegal konstruksi di Malaysia. PMI ilegal konstruksi di Kongsi tersebar di beberapa wilayah di Malaysia. Sebagian besar PMI tersebut tanpa dokumen yang lengkap dan bahkan overstay. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan penyajian data secara deskriptif dengan metode studi kasus. Hasil penelitian bahwa adanya migran PMI ilegal konstruksi di Malaysia karena adanya jaringan sosial yang mereka miliki. Jaringan sosial PMI ilegal konstruksi di Malaysia yang terjadi yaitu jaringan sosial kekuasaan jaringan ini hanya sebatas untuk mendapatkan keamanan dari pihak yang berkuasa di sekitar kongsi, yaitu oknum kepolisian Malaysia yang memiliki kekuasaan. Jaringan sosial kepentingan yaitu hubungan yang terjadi dalam jaringan antara PMI ilegal konstruksi dengan PMI ilegal konstruksi lainnya, hubungan PMI ilegal konstruksi dengan menkong, menkong dengan perusahaan, menkong dengan tokeh. Jaringan sosial perasaan dalam hubungan ini jaringan perasaan sangat dominan. Jaringan sosial PMI ilegal konstruksi ini terbentuk atas dasar hubungan sosial bermuatan perasaan yang terjalin di Kongsi dan hubungan sosial PMI ilegal itu sendiri menjadi tujuan dan tindakan sosial PMI ilegal konstruksi. Kemudian jaringan sosial keluarga yaitu hubungan yang terbentuk atas dasar jaringan keluarga yang dimiliki oleh PMI ilegal konstruksi. Jaringan keluarga sangat penting bagi PMI ilegal konstruksi di Malaysia, karena keluarga sebagai orang yang memberikan informasi yang dianggap cukup valid oleh para PMI ilegal konstruksi. Jaringan ini memberikan fasilitas kepada PMI ilegal untuk dapat bertahan hidup di Malaysia. Kata Kunci: Pekerja, Migran, ilegal, Konstruksi, Jaringan, Migrasi ABSTRACT The migration of Indonesian illegal migrant workers to Malaysia is one of the phenomena in the spotlight of the Indonesian and Malaysian governments. The magnitude of illegal migrant worker migration in Malaysia is influenced by the social networks of illegal migrant workers, especially in this case the social networks of illegal construction workers in Malaysia. Illegal construction migrant workers in Kongsi are spread across several regions in Malaysia. Most of these PMIs are without complete documents and even overstay. This research uses a qualitative approach with descriptive data presentation with a case study method. The result of the research is that there are illegal construction migrant workers in Malaysia because of the social network they have. The social network of illegal construction PMIs in Malaysia that occurs is the social network of power, this network is only limited to obtaining security from those in power around the kongsi, namely Malaysian police officers who have power. The social network of interests is the relationship that occurs in the network between illegal construction workers and other illegal construction workers, the relationship between illegal construction workers and menkong, menkong and companies, menkong and tokeh. The social network of feelings in this relationship is very dominant. The social network of illegal construction workers is formed on the basis of emotionally charged social relationships that exist in the Kongsi and the social relationships of illegal PMIs themselves become the social goals and actions of illegal construction PMIs.  Then the family social network is a relationship formed on the basis of the family network owned by illegal construction workers. The family network is very important for illegal construction workers in Malaysia, because the family is the one who provides information that is considered quite valid by illegal construction workers. This network provides facilities for illegal migrant workers to survive in Malaysia. Keywords: Worker, Migrant, illegal, Construction, Network, Migration 
SAPA 129 sebagai Strategi Pemerintah dalam Memberikan Perlindungan kepada Perempuan dari Kekerasan di Provinsi Aceh Utami, Adella; Sekarningrum, Bintarsih; Nurwati, R. Nunung
Society Vol 13 No 2 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i2.845

Abstract

This study investigates the role of SAPA 129 as a government-initiated service in safeguarding women who have experienced violence in Aceh Province. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings demonstrate that SAPA 129 facilitates access to legal, psychological, and social assistance while offering an accessible digital reporting system. It has also contributed to raising community awareness of gender-based violence. Nonetheless, its implementation remains challenged by limited digital literacy, inadequate infrastructure, and deeply rooted patriarchal norms. Drawing on structural-functional theory, the service performs both manifest and latent functions within the broader social protection framework. Manifest functions include formal assistance and structured support, while latent functions involve increasing social solidarity and empowering survivors to report abuse. However, the presence of dysfunctions, such as service gaps in remote areas and insufficient human resources, continues to hinder its effectiveness. The study recommends expanding outreach efforts, strengthening interagency coordination, and promoting value transformation through community-based education. These insights are intended to inform more inclusive and responsive gender protection policies while advancing sociological understanding of violence prevention in localized contexts.