Claim Missing Document
Check
Articles

Ngaben: Simbolisme, Etika, Dan Tantangan Keagamaan Dalam Berkabung Di Bali Sekarningrum, Bintarsih; Amanatin, Elsa Lutmilarita; Pratiwi, Ni Putu Sri
Sosioglobal Vol 10, No 1 (2025): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i1.63893

Abstract

ABSTRAK  Penelitian ini menyoroti adaptasi ritual keagamaan, khususnya ngaben di Bali, di tengah perkembangan era digital. Teknologi digital telah mengubah cara partisipasi masyarakat, termasuk prosesi ngaben yang kini disiarkan melalui TikTok, YouTube, dan Instagram. Studi sebelumnya membahas dampak teknologi terhadap ritual keagamaan, tetapi belum mendalami implikasi etika dan spiritual integrasi teknologi dalam ngaben, terutama keseimbangan antara inovasi digital dan pelestarian makna sakral. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana simbolisme dan praktik ngaben beradaptasi dengan teknologi, tantangan etika yang muncul, serta dampak perubahan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus diterapkan di Bali melalui wawancara mendalam dengan informan kunci: tokoh agama, anggota keluarga, dan ahli budaya. Data dianalisis menggunakan teori dramaturgi Goffman dan konsep “teater negara” Geertz. Temuan menunjukkan bahwa digitalisasi memperluas partisipasi dan konektivitas spiritual, tetapi juga memperkenalkan dimensi komersialisasi dan hiburan yang berpotensi mengaburkan kesakralan ngaben. Teknologi berperan ganda: mempertahankan relevansi ritual sekaligus menantang pelestarian nilai spiritualnya. Keterbatasan penelitian mencakup belum tergalinya pandangan generasi muda, aspek gender, serta cakupan wilayah yang terbatas pada Bali. Penelitian lanjutan disarankan memperluas perspektif dan lokasi. Selain itu, diperlukan pedoman etika penggunaan teknologi dalam ritual keagamaan agar inovasi digital selaras dengan pelestarian nilai-nilai spiritual dan budaya Bali. Kata kunci: Bali, Etika Keagamaan, Dramaturgi, Ngaben, Simbolisme  ABSTRACT This study highlights the adaptation of religious rituals, particularly the Balinese ngaben, amid the rise of the digital era. Digital technology has transformed community participation, with ngaben ceremonies now broadcast via TikTok, YouTube, and Instagram. Previous studies have examined technology’s impact on religious rituals but have not deeply explored the ethical and spiritual implications of integrating technology into ngaben, especially the balance between digital innovation and preserving its sacred meaning. This research aims to explore how the symbolism and practice of ngaben adapt to technology, the ethical challenges that emerge, and the resulting impacts. A qualitative method with a case study approach was applied in Bali through in-depth interviews with key informants: religious leaders, family members, and cultural experts. Data were analyzed using Goffman’s dramaturgical theory and Geertz’s “theater state” concept. Findings reveal that digitalization expands participation and spiritual connectivity but also introduces commercialization and entertainment elements that risk obscuring the ritual’s sacredness. Technology plays a dual role: sustaining ritual relevance while challenging the preservation of its spiritual values. Limitations include the lack of perspectives from younger generations, gender dynamics, and the study’s restricted geographic scope. Further research and ethical guidelines are recommended to align digital innovation with preserving Bali’s spiritual and cultural values. Keywords: Bali, Dramaturgy, Ngaben, Religious Ethics, Symbolism 
PENGETAHUAN LOKAL MASYARAKAT ADAT DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM (STUDI KASUS MAYARAKAT TANI DI ACEH BARAT) Irma Juraida; Wahju Gunawan; Bintarsih Sekarningrum; Desi Yunita
Seminar Nasional Pariwisata dan Kewirausahaan (SNPK) Vol. 4 (2025): APRIL
Publisher : Sahid University Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36441/snpk.vol4.2025.460

Abstract

Perubahan iklim menjadi permasalahan global dan urgen bagi masyarakat seluruh dunia, terutama masyarakat petani padi tradisional yang menggunakan sistem sawah tadah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan pemahaman masyarakat tani dalam menghadapi perubahan iklim, dengan fokus pada pengetahuan berbasis komunitas lokal atau kearifan lokal. Permasalahan penelitian substansial karena masyarakat tani belum mampu menghadapi perubahan iklim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini mengungkap bagaimana masyarakat tani memaknai tanda-tanda alam melalui pengetahuan tradisional, menerapkan praktik bertani yang berkelanjutan, dan mempertahankan kelembagaan adat keujreun blang sebagai praktik sosial. Selain itu, praktik meuseuraya atau gotong royong serta peran kelembagaan adat turut memperkuat ketahanan masyarakat tani tradisional dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal atau kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga merupakan praktik adaptasi yang terus berkembang untuk menanggapi perubahan iklim. Oleh karena itu, mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan pendekatan ilmiah dan kebijakan pemerintah menjadi langkah praktik strategis dalam membangun sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan di tengah perubahan iklim dalam masyarakat tani di Aceh Barat.
SAPA 129 sebagai Strategi Pemerintah dalam Memberikan Perlindungan kepada Perempuan dari Kekerasan di Provinsi Aceh Adella Utami; Bintarsih Sekarningrum; R. Nunung Nurwati
Society Vol 13 No 2 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i2.845

Abstract

This study investigates the role of SAPA 129 as a government-initiated service in safeguarding women who have experienced violence in Aceh Province. Employing a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis. The findings demonstrate that SAPA 129 facilitates access to legal, psychological, and social assistance while offering an accessible digital reporting system. It has also contributed to raising community awareness of gender-based violence. Nonetheless, its implementation remains challenged by limited digital literacy, inadequate infrastructure, and deeply rooted patriarchal norms. Drawing on structural-functional theory, the service performs both manifest and latent functions within the broader social protection framework. Manifest functions include formal assistance and structured support, while latent functions involve increasing social solidarity and empowering survivors to report abuse. However, the presence of dysfunctions, such as service gaps in remote areas and insufficient human resources, continues to hinder its effectiveness. The study recommends expanding outreach efforts, strengthening interagency coordination, and promoting value transformation through community-based education. These insights are intended to inform more inclusive and responsive gender protection policies while advancing sociological understanding of violence prevention in localized contexts.
Dampak Kebijakan Denda Okupasi Lahan PT KAI terhadap Warga Permukiman Informal di Sugihwaras, Madiun Bayu Aji Sastra Jendra; Bintarsih Sekarningrum; Desi Yunita
Society Vol 13 No 2 (2025): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v13i2.990

Abstract

The land occupation fine policy imposed by PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) is formally presented as part of asset regulation and optimization. Yet its implementation has generated significant tension among long-established residents living in informal settlements on PT KAI–owned land. The lack of public participation, procedural transparency, and sensitivity to local socio-economic realities has intensified uncertainty and vulnerability within the community. This study examines the impact of the fine policy on residents of Wadukan Hamlet in Sugihwaras Village, Saradan District, Madiun Regency, using a descriptive qualitative approach supported by literature review and field interviews. Drawing on Antonio Gramsci’s concept of hegemony, the study explores how administrative instruments function as mechanisms of symbolic power and spatial control. The findings show that residents recognize PT KAI’s legal ownership and have long contributed through informal dues; however, the sudden escalation of fines and the marking of homes without adequate socialization have produced economic burdens, psychological distress, and a heightened sense of insecurity. What began as an administrative procedure has evolved into a form of structural marginalization. The study underscores the need for policy reform grounded in social justice, transparent implementation, and meaningful community engagement so that state spatial governance does not operate as a vehicle of exclusion.