Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Kebutuhan Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) Bagi Pekerja Pada Pekerjaan Sektor Informal Sukismanto Sukismanto; Suwarto Suwarto; Sri Kadaryati; Yunita Indah Prasetyaningrum
JURNAL BIDANG ILMU KESEHATAN Vol 13, No 1 (2023): Jurnal Bidang Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Respati Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52643/jbik.v13i1.2948

Abstract

Latar belakang: Pekerjaan sektor informal lebih banyak dibandingkan dengan jenis pekerjaan sektor formal, Pemerintah melalui kementerian kesehatan Republik Indonesia mengamanahkan untuk membentuk Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK) sebagai tempat untuk pelaksanaan kesehatan kerja bagi masyarakat yang pembinaannya dilakukan oleh Pusat Kesehatan masyarakat (Puskesmas), pelaksanaan kesehatan kerja oleh Pos UKK belum optimal dilaksanakan dan belum ada kegiatan rutin dan mandiri oleh Pos UKK. Tujuan: bagaimana kebutuhan pelaksanaan di Pos UKK. Metode: Desain penelitian kualitatif dengan tujuan menggali kebutuhan kegiatan Pos UKK yang dapat dilaksanakan oleh kader kesehatan. Sebanyak 7 orang informan yang terdiri dari Pembina Puskesmas, kader kesehatan, tokoh masyarakat dan anggota Pos UKK. Hasil: Penelitian menunjukan adanya dukungan dari pemerintah melalui adanya kebijakan pembentukan Pos UKK, pendampingan aktif dari Puskesmas. Dukungan dari tokoh masyarakat dengan adanya fasilitasi tempat balai padukuhan sebagai tempat kegiatan, peran kader kesehatan serta pemilik kerja, jam kerja masyarakat menyesuaikan waktu yang ada dimasyarakat, Kegiatan yang dilaksanakan sesuai petunjuk yang pernah diberikan oleh puskesmas, namun peran serta anggota jika tidak ada keluhan sakit tidak hadir dalam kegiatan di Pos UKK. Kesimpulan: Kebutuhan pelaksanaan di Pos UKK adalah kegiatan pemeriksaan kesehatan dan edukasi permasalahan risiko bahaya pekerjaan serta cara pencegahanya.Kata kunci : keselamatan kerja, sektor informal, Pos UKK
Pemeriksaan Status Gizi sebagai Upaya Deteksi Obesitas dan Obesitas Sentral Melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posbindu) di Universitas Respati Yogyakarta Sri Kadaryati; Sri Wulandari; Wahyu Rochdiat Murdhiono; Masruroh Masruroh; Ariyanto Nugroho; Yelli Yani Rusyani; Theresia Puspitawati; Rodiyah Rodiyah; Melania Wahyuningsih; Yunita Indah Prasetyaningrum; Tri Mei Khasana; Devillya Puspita Dewi
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Universitas Al Azhar Indonesia Vol 5, No 3 (2023): Agustus 2023
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/jpm.v5i3.2199

Abstract

Kejadian obesitas dan obesitas sentral meningkat dalam dua dekade terakhir di Indonesia. Pos Pelayanan Terpadu (Posbindu) di Universitas Respati Yogyakarta (UNRIYO) telah dibentuk pada tahun 2021. Instrumen yang digunakan pada pencatatan monitoring kesehatan berupa Kartu Menuju Sehat Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (KMS FR-PTM) memiliki beberapa keterbatasan untuk digunakan pada pelaksanaan posbindu di UNRIYO. Hasil pemeriksaan status gizi yang dilaksanakan kepada para civitas akademik pada posbindu bulan Oktober 2021 menunjukkan tingginya kejadian status gizi lebih berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut. Pemantauan status gizi diperlukan untuk mengetahui status kesehatan dari para civitas akademik di lingkungan Universitas Respati Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan penyusunan instrumen posbindu, sosialisasi instrumen, apersepsi, kemudian pemeriksaan status gizi pada posbindu bulan November 2022. Penyusunan instrumen KMS Posbindu telah dilaksanakan dengan menyesuaikan aplikasi teknis pemeriksaan pada posbindu di UNRIYO, yaitu penambahan beberapa pengukuran dan parameternya, serta cara pengisian KMS yang disesuaikan dengan waktu pelaksanaan posbindu. Berdasarkan hasil pemeriksaan status gizi, diketahui lebih dari setengah jumlah peserta posbindu mengalami status gizi lebih berdasarkan IMT dan lingkar perut. Pemeriksaan kesehatan di posbindu sebaiknya dapat dilakukan secara rutin agar dapat memantau kondisi kesehatan para civitas akademik.Kata Kunci: Pemantauan Status Gizi, Civitas Akademik, Posbindu, Penyakit Tidak Menular
STUDI PENERIMAAN BUKU PETUNJUK KEAMANAN PANGAN DAN PENGELOLAAN SAMPAH PADA PASAR KULINER Prasetyaningrum, Yunita Indah; Sukismanto, Sukismanto; Kadaryati, Sri; Prasodjo, Bintang; Wardani, Desy Fitria
Jurnal Jarlit Vol. 19 No. 1 (2023): Peningkatan Ekonomi Kreatif Berbasis Pariwisata Budaya untuk Keberdayaan Masya
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70154/jid.v19i1.65

Abstract

Manajemen Masjid Jogokariyan membina hampir seratus UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dan memiliki kegiatan ekonomi UMKM secara rutin. Salah satu masalah yang harus diperhatikan pada wisata kuliner yaitu keamanan pangan. Masalah keamanan pangan di Indonesia rentan karena perlu adanya pemahaman kepada masyarakat. Masalah sampah juga merupakan masalah yang turut mengakibatkan lingkungan menjadi tidak sehat. Tujuan pengembangan buku petunjuk keamanan pangan dan pengelolaan sampah pada pasar kuliner agar daerah lain yang ingin menyelenggarakan kegiatan serupa dapat memodifikasi dari penyelenggaraan pasar kuliner yang sudah dilaksanakan di Jogokariyan. Buku petunjuk ini dapat memberikan gambaran dan petunjuk bagi penyelenggaraan pasar kuliner di daerah yang lebih luas. Penelitian dilaksanakan lingkungan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Waktu pelaksanaan penelitian selama 6 bulan dimulai bulan Mei – Agustus 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data menggunakan wawancara mendalam dengan melibatkan pemerintah, pengelola pasar kuliner, dan pedagang. Penelitian telah mendapatkan Ethical Clearance dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan nomor 3003/KEP-UNISA/VI/2023. Hasil penelitian menyebutkan buku petunjuk dapat diterima dengan baik dan mendapatkan tanggapan positif dari seluruh responden. Beberapa masukan terkait isian buku adalah menambahkan desain yang lebih informatif. Buku petunjuk ini memiliki peluang untuk diaplikasikan pada masyarakat lebih luas karena informatif, lengkap, mudah dipahami, dan disusun ringkas. Beberapa hampatan yang perlu diperhatikan adalah implementasi pengeloaan sampah pada pasar kuliner di masyarakat karena terkait erat dengan kesadaran dan pengetahuan masyarakat. Kesimpulan dari penelitian bahwa buku petunjuk dapat diaplikasian pada penyelenggaraan pasar kuliner yang memerhatikan penerapan keamanan pangan dan pengelolaan sampah sesuai standar di daerah lain yang lebih luas.
Evaluasi Penggunaan Formula Bumbu Penyedap Berbasis Jamur Tiram pada Sistem Penyelenggaraan Makanan Kadaryati, Sri; Afriani, Yuni; Yolin, Jessika
Jurnal Gizi Vol 11, No 1 (2022): Jurnal Gizi UNIMUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jg.11.1.2022.44-47

Abstract

Formula development and sensory evaluation of seasoning agents using oyster mushroom has been carried out in the previous studies. Sensory quality is a food quality parameter that affectednutritional fulfillment and satisfaction. The use of seasoning agents was needed to be evaluated on foodservice system as a sensory evaluation in large quantities of processing. The objectives of this study wereto determine differences in food satisfaction and nutritional fulfillment on food service using seasoningagent of oyster mushroom. This was quasi-experimental study, conducted in July 2019 at Sekolah AlamNurul Islam, Yogyakarta. Respondents were the teachers. Data on nutritional needs were calculated usingweight and height, whereas food intake was obtained using food recall. Data of food recalls wereanalyzed using Nutrisurvey to obtain energy, protein, fat, and carbohydrate intake. Furthermore,nutritional fulfillment was obtained by comparing the food intake with the nutritional needs. Foodsatisfaction was obtained by interview using a food satisfaction questionnaire. Data were analyzed usingWilcoxon Test and Chi Square Test. The results showed that there were no differences in nutritionalfulfillment and satisfaction on the first and second days (p>0.05), except for the fulfillment of fat (p<0.05).The differences were found on the third day (p<0.05). Seasoning agents using oyster mushrooms haven’tfully increased food satisfaction and nutritional fulfillment in the food service. The effect still depends onthe type of dish that is processed. Seasoning agent using oyster mushroom still requires formuladevelopment so that it can be applied to dishes processing in food service.Keywords: food intake, seasoning agent, oyster mushroom, food satisfaction, food service
Manajemen Sekolah Sebagai Pilar Penyelenggaraan Kantin Sehat Kadaryati, Sri; Prasetyaningrum, Yunita Indah; Sukismanto, -; Wulan, Yuni Kartika; Wardani, Desy Fitria; Nareswara, Angelina Swaninda
Jurnal Gizi Vol 12, No 2 (2023): Jurnal Gizi UNIMUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jg.12.2.2023.72-84

Abstract

Eating habits, nutritious and safe food intake are greatly determined the nutritional status  of school-age children and adolescents. Eating habits acquired during adolescence will have an impact on adulthood and the elder. Overweight and obesity increased not only occur in adults, but also in adolescents. A school is a place where children spend more time every day than at home. Therefore, it needs to be considered food provision in schools. This study provides an overview of the readiness of school management in implementing healthy canteens in schools. This was qualitative research with a case study approach. The research was conducted at SMP Negeri 4 Depok Sleman Yogyakarta from June to August 2022. Data were collected using in-depth interviews involving principals and teachers as narasumberts. The study has obtained an Ethical Clearance from Komisi Etik Penelitian Kesehatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Respati Yogyakarta. The results showed that the school had prepared buildings and physical facilities in the canteen. The policy of providing healthy food was indicated by menu selection with restrictions on products high in sugar and salt, as well as the selection of safe serving utensils. This policy was agreed upon by the seller in the cooperation agreement between the school and the seller. Supervision systems were implemented by appointing healthy canteen management teams. Based on the results of this study, it was concluded that school management was committed to realizing a healthy canteen in schools. Policies regarding the provision of healthy food can be improved by adding menu choices from the vegetable group. Food safety can be improved by setting the serving time of food served.Keywords: healthy canteen, school management, principals, teachers
KERAGAMAN PANGAN DAN STATUS GIZI PADA REMAJA USIA 12-15 TAHUN: STUDI CROSS SECTIONAL Prasetyaningrum, Yunita Indah; Kadaryati, Sri; Wulan, Yuni Kartika; Wardani, Desy Fitria
Jurnal Gizi Vol 13, No 2 (2024): Jurnal Gizi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jg.13.2.2024.82-93

Abstract

Latar Belakang: Remaja sangat rentan mengalami masalah gizi ganda. Kejadian kegemukan pada remaja usia 13-15 tahun di Indonesia mengalami peningkatan, sebanyak 11,2% anak remaja mengalami kegemukan dan 4,8% mengalami obesitas. Salah satu kebiasaan makan yang sering terjadi pada remaja adalah kurang beragamnya pola makan sehari-hari. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara keragaman pangan dengan status gizi pada remaja usia 12-15 tahun. Metode: Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Depok, Sleman menggunakan desain cross sectional. Sampel penelitian dipilih secara purposive sampling dengan total sampel sebanyak 68 orang remaja. Keragaman pangan diukur menggunakan formulir Individual Dietary Diversity Score (IDDS) berdasarkan wawancara recall 24 jam sebanyak dua kali yang mewakili hari kerja dan hari libur. Status gizi diukur menggunakan indikator IMT menurut Usia (IMT/U). Analisis statistik menggunakan uji Chi Square. Hasil: Sebanyak 25% remaja memiliki keragaman pangan kurang dan 75% memiliki keragaman pangan sedang. Ada 39,7% remaja mengalami gizi lebih dan 60,3% mengalami gizi normal. Hasil uji Chi Square menunjukkan hubungan signifikan antara keragaman pangan dengan status gizi pada remaja (p=0,032; OR=4,01; CI=1,26-12,75). Kesimpulan: Ada hubungan bermakna antara keragaman pangan dengan status gizi remaja usia 12-15 tahun. Hasil mengindikasikan semakin beragam konsumsi pangan remaja maka status gizi remaja semakin banyak yang normal.Kata Kunci : Keragaman Pangan; Individual Dietary Diversity Score (IDDS); Status Gizi;Gizi Lebih; Remaja; Usia 12-15 tahun
Pemanfaatan Komposter dan Biopori sebagai Teknologi Pengelolaan Sampah Organik di Kampus Universitas Respati Yogyakarta Sukismanto, Sukismanto; Kadaryati, Sri; Prasetyaningrum, Yunita Indah
JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK) Vol 9, No 1 (2025): Mei
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jpp-iptek.2025.v9i1.6740

Abstract

Pengelolaan sampah di tempat umum dapat diawali dengan melakukan pemilahan. Pemilahan sampah akan memudahkan dalam langkah pengelolaan selanjutnya. Sampah organik dapat dikelola dengan prinsip reuse atau recycle. Recycle dapat dilakukan oleh industri yang memiliki kemampuan untuk hal tersebut sehingga konsumen membuat sistem untuk mengirim sampah anorganik terpilah ke industri sebagaimana telah dilakukan oleh Universitas Respati Yogyakarta. Sampah akan diambil oleh pelapak sesuai jenisnya. Sampah organik dikembalikan ke alam dengan membuat teknologi, salah satunya adalah dengan komposter maupun biopori. Metode pengabdian dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, perencanaan dan konsolidasi. Kedua, pembuatan teknologi komposter dan biopori serta edukasi. Tahap ketiga adalah pemanfaatan teknologi. Hasil dari pengabdian berupa dukungan penerapan teknologi, pembuatan teknologi biopori dan komposter, serta edukasi, baik secara konvensional maupun menggunakan teknologi digital. Kegiatan pengabdian ini menyimpulkan bahwa dukungan mitra krusial dalam kelancaran pelaksanaan, serta berhasilnya pengembangan komposter dan biopori yang meningkatkan pemahaman pengelolaan sampah. Ke depannya, pemanfaatan hasil komposter perlu ditindaklanjuti untuk berbagai tujuan, seperti media tanam sayur, pupuk taman, atau pengembangan produk bernilai ekonomis.
Penguatan Reorganisasi Eco Green Kantin Sehat dalam Pelayanan Pasca Pembelajaran Daring Sukismanto, Sukismanto; Kadaryati, Sri; Prasetyaningrum, Yunita Indah
Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/pjpm.v5i1.3155

Abstract

SMPN 4 Depok is situated in an obesogenic environment. To address this issue, the school management and community service team are dedicated to implementing integrated activities, such as the eco-green healthy canteen. The objective of the community empowerment activity was to assist partners in organizing a healthy school canteen by providing educational media, socialization, and education to school residents. The stages of the activity consist of 1) Consolidation - collecting the needs and desires of school residents as well as the basis for planning canteen management at school; 2) Preparation of educational media: pocket book and education posters; 3) Socialization - informing school residents of the plan to organize a healthy canteen with the help of guidebooks and educational media. The consolidation stage activities resulted in an agreement between canteen traders and schools to sell safe, halal, healthy, and nutritious food. Additionally, they agreed to cooperate in waste management in the school canteen. The pocket book were given to food handlers as a guide to serve safe foods. Three health education posters were successfully displayed in strategic locations at the school. The socialization process successfully formed a support system from the school community to realize a healthy eco-green canteen. The implementation of the eco-green healthy canteen was successful due to the collaboration between partners and the service team. However, it is crucial to conduct extensive educational activities for school residents regarding the implementation of healthy canteens. Additionally, monitoring and evaluating the policies agreed upon by the school management and traders in the school is necessary.
Overview of Dietary Quality in Adolescents at State Junior High School 4 Depok, Sleman Regency, Yogyakarta Wardani, Desy Fitria; Prasetyaningrum, Yunita Indah; Kadaryati, Sri; Wulan, Yuni Kartika
EXSACT-A Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/exc.v1i1.2251

Abstract

Adolescents are categorized into nutritionally vulnerable age. Dietary quality is one factors that influence nutritional status in adolescents. Poor dietary quality will have impact on development that is not optimal and more susceptible to non-communicable diseases, such as obesity and diabetes melitus. This study aims to describe dietary quality of adolescents at Junior High School 4 Depok, Sleman, Yogyakarta. This was descriptive quantitative observational study with cross-sectional design. The study site was state junior high school 4 Depok, Sleman, Yogyakarta, which is located in obesogenic sub-urban area, on May–June 2023.The were 90 respondents of Junior High School students in 7th and 8th grades, who were determined using purposive sampling. The instrument used Dietary Quality Index for Adolescents (DQI-A) form and 24-hour recall form. The results showed that mostly adolescents had poor dietary quality category (80%). The results of Dietary Quality (DQ) category were 44.77% and 56.69%, Dietary Diversity (DD) category were 66.67% and 55.56%, Dietary Equilibrium (DE) category were 29.97% and 24.27% (respectively in weekday and weekend). The final DQI-A score showed that average weekdays were 45.17% and median weekends were 46.71%. In conclusion, adolescents at state junior high school 4 Depok Sleman Yogyakarta mostly has a poor category.Keywords: Dietary Quality, Adolescents, and School Children
Dietary Diversity in Adolescents at State Junior High School 4 Depok, Sleman Regency, Yogyakarta: A Descriptive Study Wulan, Yuni Kartika; Prasetyaningrum, Yunita Indah; Kadaryati, Sri; Wardani, Desy Fitria
EXSACT-A Vol 1, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/exc.v1i1.2253

Abstract

Adolescents require balanced nutrition for their future growth and development. Adolescence is a time when there is a high risk of weight gain, especially in eating habits. A diverse diet for adolescents makes it easier to fulfill their need for various nutrients. This study aims to describe the dietary diversity of adolescents in state junior high school 4 Depok, Sleman Regency, Yogyakarta. This research was quantitative, using an analytic observational approach and a cross-sectional design. A purposive sampling technique was used to select 41 respondents. IDDS (Individual Dietary Diversity Scores) was used to measure dietary diversity based on nine food groups such as starch; green vegetables; vitamin A-rich fruits and vegetables; other fruits and vegetables; organ meats; fish, meat, and other processed meats products; legumes, nuts, and seeds; and dairy products. The majority of the adolescents, i.e. 21 individuals (51.2%), had a medium dietary diversity, while the remaining 20 individuals (48.8%) had a low dietary diversity. The adolescents consumed mainly starch (staple foods), other fruits and vegetables; eggs; fish, meat, and processed products; and dairy products. Adolescents from state junior high school 4 Depok Sleman Yogyakarta were mainly classified as having medium dietary diversity. Keywords: adolescents, dietary diversity, school age