Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Uji Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) Dan Daun Kersen (Muntingia calabura L) Terhadap Staphylococcus aureus Oktariani Pramiastuti; Desi Sri Rejeki; Inul Maghfiroh
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 9, No 2 (2020): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v9i2.2026

Abstract

Infectious diseases are one of the main causes of diseases in tropical regions like Indonesia. Infectious diseases usually can be cured by antibiotics, since the use of antibiotics has side effects and long-term resistance and prices that are not affordable, it needs a role of herbs that can weaken the activity of these bacteria. Kersen plants contains various chemical compounds namely flavonoid compounds, saponins, and tannins that have antioxidant potential and antibacterial activity. Belimbing wuluh contains flavonoid compounds. This research was conducted to find out the antibacterial activity of extract combination of kersen leaf (Muntingia calabura L) and belimbing wuluh leaf (Averrhoa bilimbi L) against Staphylococcus aureus. Extract of Kersen leaf and Belimbing wuluh leaf were obtained by maceration method using ethanol 96% for 5 days. The antibacterial activity test was performed by diffusion method using disc paper based on the inhibit zone diameter or clear zone formed around the disc paper. The test was conducted by extract comparison of kersen leaf and belimbing wuluh leaf at 30% concentration namely 1:1, 1:2, 2:1, 1:3 and 3:1 against Staphylococcus aureus. The results showed that the extract comparison of kersen leaf and belimbing wuluh leaf 1:1 had a weak inhibitory power because of its inhibitory value ≤ 5 mm, that was 4.67 mm. While the ratio of 1:2, 2:1, 1:3 and 3:1 had a moderate inhibition resistance value ranges from 5-10 mm; 6.33 mm,7.16 mm, 7.67 mm, and 7.83 mm. Extract rendemen of kersen leaf was 11.94% and belimbing wuluh leaf was 6.28%.
PENENTUAN NILAI SPF ( SUN PROTECTION FACTOR) EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN KECOMBRANG (ETLINGERA ELATIOR) SECARA IN VITRO MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI Oktariani Pramiastuti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 1 (2019): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v8i1.1281

Abstract

Sunlight is needed by all living things to their survival. One of the benefits of sunlight is as sources of energy and making healthy skin and bones. Kecombrang leaf contains phenolic compound which is able to give protection for UV light and have potentially sunscreens. The research aimed to determine of SPF of water extract, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction of kecombrang leaf. The research was in vitro by using spectrophotometry UV-Vis method. The absorbance of extract and fraction of kecombrang leaf was measured at a UV-B light wave length of 290-320 nm. Determination of SPF was based on Mansur equation. Phytochemical test in TLC of water extract, n-hexane fraction, and ethyl acetate fraction was positive for phenol in each. The result showed that water extract of kecombrang leaf had the highest SPF at concentration of 300 ppm numbered 7.30±0.62 with level of extra sunscreens ability; n-hexane fraction of kecombrang leaf had the highest protection activity in a SPF of 17.57±2.49 with level of ultra-sunscreens ability in a concentration of 300 ppm; while ethyl acetate fraction had the highest SPF namely 2.65±0.12 with the minimum protection. The data analysis stated that there was a significant difference between water extract of kecombrang leaf and fractions of n-hexane and ethyl acetate. To sum up, n-hexane fraction of kecombrang leaf had the highest SPF so that it had potentially as sunscreens for UV-B light protectionKeywords: Kecombrang Leaf, SPF, Water Extract, n-hexane fraction, ethyl acetate fraction 
EFEK HIPOGLIKEMIK KOMBINASI EKSTRAK ETANOL Momordica charantia dan Apium graveolens dengan INDUKSI GLUKOSA Dinar Anggia Zen; Oktariani Pramiastuti
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 8, No 1 (2019): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v8i1.1292

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh kondisi hiperglikemia. Indonesia menempati urutan ke-9 terbesar pada jumlah penderita DM di dunia. WHO merekomendasikan untuk meningkatkan penggunaan tanaman dalam pengobatan, sehingga terjadi peningkatan penelitian mengenai agen hipoglikemik yang berasal dari tanaman obat. Tanaman obat tersebut yaitu buah pare dan daun seledri yang memiliki mekanisme hipoglikemik yang sinergis.Ekstrak etanol buah pare dan daun seledri dibuat secara maserasi. Hewan uji (mencit) dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok 1 diberi metformin dengan dosis 1,3 mg/20 g BB; kelompok 2 diberi NaCMC 1%; kelompok 3 diberi ekstrak etanol buah pare 100%; kelompok 4, 5, dan 6 diberi kombinasi ekstrak etanol buah pare dan daun seledri dengan perbandingan dosis berturut-turut 75%:25%, 50%:50%, 25%:75% dari dosis efektif masing-masing; kelompok 7 diberi ekstrak etanol daun seledri 100%. Mencit diberi perlakuan sesuai kelompok, 30 menit kemudian diinduksi glukosa per oral untuk membuat kondisi hiperglikemik, lalu cuplikan darah diambil dari vena lateralis ekor mencit pada menit ke 0, 30, 60, 90, dan 120 yang dihitung setelah pemberian glukosa. Kadar glukosa darah diukur dengan metode electrochemical glucose biosensor.Data AUC0-120 yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan Uji Anova satu arah menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna, kemudian dilakukan uji Least Significant Difference (LSD) menunjukkan bahwa pemberian kombinasi ekstrak etanol buah pare 50% (17,5 mg/20 g BB) dan daun seledri 50% (14 mg/20 g BB) memiliki efek hipoglikemik terbesar dengan nilai AUC0-120 terkecil (8.160 menit mg/dl) dibandingkan dengan kelompok lain dan tidak berbeda signifikan dengan metformin 1,3 mg/20 g BB (p0,05).Hipoglikemik, Diabetes Melitus, Momordica charantia, Apium graveolens L.
PENGARUH PERASAN KENTANG (Solanum tuberosum. L ) SEBAGAI TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL DALAM DARAH PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS Devi Ika Kurnianingtyas Solikhati; Oktariani Pramiastuti; Osie Listina
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 7, No 1 (2018): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v7i1.732

Abstract

Kolesterol merupakan lipid sterol yang diperlukan untuk untuk mensintesis berbagai hormon steroid. Namun ketika kadarnya di dalam darah berlebihan akan mengakibatkan penyumbatan pada pembuluh darah, yang dapat menyebabkan stroke dan penyakit kardiovaskular, seperti penyakit hipertensi dan jantung koroner. Pencarian agen pencegah hiperlipidemia yang berasal dari alam sangat giat dilakukan. Hai ini dikarenakan lebih mudah didapat serta memiliki efek samping yang kecil sehingga relatif aman dibandingkan obat – obat sintetik. Tumbuhan merupakan sumber senyawa kimia, banyak diantaranya berpotensi sebagai bahan dasar obat. Salah satu diantaranya adalah kentang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian perasan kentang terhadap penurunan kadar kolesterol dalam darah mencit jantan galur swiss. Penelitian ini terdiri dari 4 kelompok penelitian, perasan kentang dosis 0,832g/20gBB, 0,416g/20gBB, dan 0,208g/20gBB serta kelompok kontrol negatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat pengaruh pemberiaan perasan kentang terhadap kelompok perlakuan dosis  0,832g/20gBB, 0,416g/20gBB, dan 0,208g/20kgBB, masing masing sebesar 12,20±1,74mg/dl; 20,20±1,69mg/dl; dan 49,00±3,39mg/dl. Hal ini dikarenakan kandungan vitamin C, vitamin B6 dan vitamin B12 pada perasan kentang
Analisis Kadar Zat Warna Tartrazin pada Makanan dan Minuman dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis Desi Sri Rejeki; Oktariani Pramiastuti; Sherly Septia Pramesti; Muti Aryanti
Jurnal Medika Nusantara Vol. 2 No. 4 (2024): November : Jurnal Medika Nusantara
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v2i4.1429

Abstract

Tartrazine is a yellow dye that is included in synthetic dyes. Tartrazine is used to give a yellow color to the product so that it looks attractive. The maximum limit of tartrazine addition set by the Indonesian government is no more than 100 mg / Kg for food and 70 mg / Kg for soft drinks. This study aims to determine the content of tartrazine dye in food and beverage samples. Identification of tartrazine content was carried out qualitatively and quantitatively on 6 samples. The test results were analyzed using One Way-ANOVA. Qualitative identification was carried out by organoleptic testing, dye testing and testing with Thin Layer Chromatography (TLC). The organoleptic results on the 6 samples produced a yellow color with an average sweet fruit aroma. The color test results showed a reddish brown color. In the TLC test with n-butanol eluent: glacial acetic acid: Water (2:2:1) showed the presence of Rf close to standard tartrazine, this was also supported by the presence of a reddish brown mark after being sprayed with FeSO4 spot detector. Quantitative identification with UV-Vis Spectrophotometry produced a maximum wavelength of tartrazine at 427 nm with an average level in sample A of 23.61 mg/Kg, sample B 30.89 mg/Kg, sample C 0.63 mg/Kg, sample D 0.053 mg/Kg, sample E 12.46 mg/Kg and sample F 5.432 mg/Kg. The results of the study showed the presence of tartrazine content in all samples and entered the safe level category according to the specified limits. Data analysis provided significant differences in levels in each sample studied with a value of ? 0.05.
Suplementasi Biskuit Kelor Pada Balita Stunting di Desa Randusari Kec. Pagerbarang Kab. Tegal Setyatama, Ike Putri; Oktariani Pramiastuti; Alfina Damayanti; Listya Alfisyifa
Sejahtera: Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri Vol. 2 No. 1 (2023): Januari : Jurnal Inspirasi Mengabdi Untuk Negeri
Publisher : Universitas Maritim AMNI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58192/sejahtera.v2i1.426

Abstract

Usia balita merupakan usia dimana pertumbuhan dan perkembangan terjadi sangat pesat. Stunting adalah suatu keadaan dimana tinggi badan kurang dari keadaan normal bila di ukur berdasarkan usia, ditinjau dari indeks tinggi badan menurut umur(TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2SD) atau di bawah rata-rata standar yang ada. Salah satu faktor utama penyebab stunting yaitu asupan makanan tidak seimbang. Prevalensi kejadian stunting di Kabupaten Tegal tertinggi ada pada Puskesmas Pagerbarang (40%), target pemerintah jumlah stunting tidak lebih dari 20%. Pada bulan Agustus 2022, balita di desa Randusari 100 diantaranya mengalami stunting. Target luaran pengabdian masyarakat ini dapat menambah kebutuhan nutrisi balita stunting sehingga membantu penurunan stunting, ibu balita mengerti pemberian nutrisi yang adekuat pada balita. Kegiatan dilaksanakan bulan Oktober 2022, diikuti oleh 70 balita stunting di desa Randusari Kec.Pagerbarang Kab.Tegal. Tim pengabdian masyarakat terdiri dari dosen Prodi DIII Kebidanan dan Prodi Sarjana Farmasi Universitas Bhamada Slawi. Tahapan kegiatan di awali dengan koordinasi dan perijinan, mengumpulkan ibu yang memiliki balita, anamesa, pengukuran antopometri balita, pemberian edukasi terkait stunting, dan pemberian suplementasi biskuit kelor. Hasil kegiatan, sasaran antusias dan diskusi terkait keluhan tentang sulit makan dan cara mengolah makan balita.Stakeholder mengharapkan kegiatan serupa dilakukan secara kontinyu
Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Temu Blenyeh (Curcuma purpurascens Blume) terhadap Ikan Zebra (Danio rerio) Dewi, Amaria; Pramiastuti, Oktariani; Nurhidayati, Lailiana Garna
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 10 No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v10i2.9483

Abstract

Toxicity testing is an initial step to evaluate the bioactivity of compounds that may exhibit toxic effects. In this study, zebrafish (Danio rerio) were used as the test animals. The rhizome of Curcuma purpurascens Blume is known to contain flavonoids, alkaloids, and tannins that potentially have toxic effects. The rhizome extract was standardized according to quality control tests. This study aimed to identify the toxic effects of the rhizome extract of Curcuma purpurascens and to determine its LC50 value. The toxicity test method used was acute toxicity testing in zebrafish, observing the mortality rate over a 96-hour period. Each aquarium contained 7 zebrafish, and the tested extract concentrations were 1000, 500, 250, 125, and 62.5 ppm. Mortality data were analyzed using the probit method with SPSS software to obtain the LC50 value, which represents the concentration that statistically causes 50% mortality of the test population within 24 hours. The results showed that the rhizome extract of Curcuma purpurascens exhibited toxic effects with an LC50 value of 83.7 ppm. This LC50 value falls within the toxic category based on toxicity test parameters. These findings indicate that the bioactive compounds in the rhizome extract, such as flavonoids, alkaloids, and tannins, which act as stomach poisons, cell proliferation inhibitors, and apoptosis inducers, can be toxic to normal human cells but may be useful in cancer treatment.
Efektivitas Analgesik Ekstrak Temu Blenyeh (Curcuma Pupurascens Blume) pada Mencit Putih Jantan Girly Risma Firsty; Indah Pramesti; Oktariani Pramiastuti
Acta Pharmaceutica Indonesia Vol. 49 No. 2 (2024)
Publisher : School of Pharmacy Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pain is a sign of tissue damage in the body. Extracts from the Zingiberaceae family have been proven to be hypoalgesic agents and are superior to non-steroidal anti-inflammatory drugs. The aim of the research was to determine the analgesic effectiveness of the ethanol extract of temu blenyeh (Curcuma purpurascens Blume). The analgesic effectiveness test was carried out using the writhing method (Sigmund) on male white mice (Mus musculus) as test animals. The test animals used were 25 mice grouped into 5 consecutive treatment groups, namely Group 1 (aquadest), Group 2 (antalgin), group 3 (Dose 50 mg/kg BW), group 4 (Dose 100 mg/kg BW) and group 5 (Dose 150 mg/kg BW). The test sample was given orally, after 30 minutes the sample wasthen induced with 1% acetic acid intraperitoneally. Observed and calculated the cumulative number of writhing for 1 hour and calculated the percent writhing protection and percent analgesic effectiveness. The data obtained in the form of the cumulative number of stretches was analyzed by Anova test. The research results showed that the ethanol extract of temu blenyeh provided a percentage of protection respectively (44.5%; 50.14%; 57.64%) and the greatest percentage of analgesic effectiveness at a dose of 150 mg/kg BW of 99.07%. Data analysis showed that ethanol extract with a dose of 50; 100 and 150 mg/kg BW did not have a significant difference to the positive control, which means the sample had analgesic effectiveness.
Edukasi Penggunaan Vitamin Neurotropik Bagi Guru KBIT Fatimatuz Zahro Pramiastuti, Oktariani; Istriningsih, Endang; Murti, Fiqih Kartika; Wulandari, Prihastini Setyo; Firsty, Girly Risma; Nurfauziah, Afina; Alquraisi, Rima Harsa Atqiya; Dewi, Amaria; Pramesti, Indah; Nisa, Khafidatun
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v6i1.5241

Abstract

Kerusakan saraf atau neuropati dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penuaan, diabetes, cedera, dan defisiensi vitamin neurotropik seperti vitamin B1, B6, dan B12. Penanganan neuropati sangat penting dilakukan supaya tidak terjadi komplikasi. Untuk meningkatkan kualitas hidup penderita neuropati, edukasi kesehatan mengenai penyakit ini sangatlah penting. Pasien dan keluarga perlu diberikan pemahaman yang memadai tentang penyakit neuropati, mulai dari definisi hingga tata laksana yang tepat. Oleh sebab itu, dilakukan edukasi tentang penggunaan vitamin neurotropik kepada guru KBIT Fatimatuz Zahro. Pemberian edukasi dilakukan secara langsung menggunakan media power point dan pamflet. Kemudian dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta menggunakan metode pre dan post test. Hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat meningkatkan pengetahuan guru KBIT Fatimatuz Zahro mengenai cara penggunaan vitamin neurotropik dengan persentase peningkatan pemahaman mencapai 79,63%. Hal ini dilihat dari hasil perolehan rata-rata nilai post test yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nilai pre test. Hasil analisis paired sample t-test menunjukkan signifikansi yang diperoleh sebesar 0,000 yang artinya tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pre test dan post test.
PENGGUNAAN KOMBINASI EKSTRAK KAYU SECANG DAN SERBUK GERGAJIAN KAYU MAHONI SEBAGAI PEWARNA RAMBUT PIRANG DALAM SEDIAAN GEL Endang Istriningsih; Oktariani Pramiastuti
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 5 No 2 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian penggunaan kombinasi ekstrak kayu secang dan serbuk gergajian kayu mahoni sebagai pewarna rambut pirang dalam sediaan gel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memformulasikan sediaan pewarna rambut pirang dari kombinasi ekstrak gergajian serbuk kayu mahoni dengan ekstrak kayu secang menggunakan tiga formula yang berbeda. Metode ekstraksi untuk mengambil zat warna pada kedua kayu menggunakan metode maserasi. Zat warna hasil maserasi serbuk kayu secang berwarna coklat merah dan untuk serbuk kayu mahoni berwarna jingga kecoklatan, kombinasi keduanya menghasilkan variasi beberapa warna yang dihasilkan. Formulasi gel ekstrak kayu secang dan ekstrak gergajian kayu mahoni dengan perbandingan 3:5 (F1) menghasilkan warna coklat muda, perbandingan 4:4 (F2) menghasilkan warna pirang dan perbandingan 5:3 (F3) menghasilkan warna coklat tua. Hasil uji stabilitas fisik untuk ketiga formula yang dihasilkan menunjukkan ketiganya memenuhi persyaratan fisik untuk gel pewarna rambut, pada uji pH ketiganya berada pada kisaran pH 5-6, uji stabilitas warna menunjukkan dengan perendaman 2 jam menghasilkan warna pada rambut, coklat muda (F1), pirang (F2) dan coklat tua (F3). Uji stabilitas warna terhadap pencucian, warna yang dihasilkan pada rambut dapat bertahan sampai dengan 5 kali pencucian dengan shampo, uji stabilitas warna terhadap paparan sinar matahari menunjukkan warna yang dihasilkan pada rambut tidak berubah dengan paparan 5 jam sinar matahari.