Resiliensi akademik merupakan kemampuan mahasiswa untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit ketika menghadapi berbagai tekanan, hambatan, kegagalan, serta tuntutan akademik selama menempuh pendidikan tinggi. Permasalahan seperti beban tugas yang tinggi, tuntutan pencapaian akademik, kesulitan mengatur waktu, tekanan sosial, keterbatasan ekonomi, serta ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan perguruan tinggi dapat meningkatkan risiko stres akademik, burnout, kehilangan motivasi, bahkan putus studi. Dalam kondisi tersebut, bimbingan dan konseling memiliki posisi strategis bukan hanya sebagai layanan kuratif, tetapi juga sebagai upaya preventif dan pengembangan untuk membantu mahasiswa membangun kemampuan menghadapi kesulitan secara adaptif. Artikel ini bertujuan menganalisis berbagai strategi bimbingan dan konseling yang dapat digunakan untuk meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa berdasarkan hasil kajian literatur. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap sumber-sumber ilmiah yang relevan dalam rentang tahun 2019-2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa beberapa strategi memiliki potensi kuat dalam meningkatkan resiliensi akademik, terutama konseling kelompok dengan teknik restrukturisasi kognitif, bimbingan kelompok, layanan informasi, konseling journaling, pendekatan mindfulness, penguatan self-efficacy, serta program intervensi berbasis teknologi. Efektivitas strategi tersebut dipengaruhi oleh karakteristik mahasiswa, kompetensi konselor, dukungan lingkungan akademik dan sosial, serta keteraturan pelaksanaan intervensi. Oleh karena itu, pengembangan resiliensi akademik perlu ditempatkan sebagai bagian integral dari program bimbingan dan konseling perguruan tinggi yang bersifat komprehensif, preventif, adaptif, dan berkelanjutan.