Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

INDEKS GLIKEMIK DAN BEBAN GLIKEMIK MAKANAN KAITANNYA DENGAN KADAR LDL DAN RLPP PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE-2 Andaresfa Trias Wari; Arwin Muhlishoh; Nastitie Cinintya Nurzihan
Journal of Nutrition College Vol 12, No 1 (2023): Januari
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v12i1.36164

Abstract

Latar belakang: Risiko DM (Diabetes Mellitus) sering dikaitkan dengan pangan yang berbasis karbohidrat yaitu IG (Indeks Glikemik) dan BG (Beban Glikemik) yang menyebabkan resistensi insulin, dan mempengaruhi metabolisme dalam lemak yang menyebabkan terjadinya peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein). Konsumsi karbohidrat yang berlebih akan menyebabkan tidak seimbangnya jumlah energy intake dengan energy expenditure sehingga dalam jangka waktu lama akan menimbulkan obesitas. Pengukuran antropometri yang berguna sebagai prediktor terjadinya obesitas adalah dengan menggunakan RLPP (Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara IG dan BG makanan dengan kadar LDL dan RLPP pada pasien DMT2.Metode: Desain penelitian adalah cross sectional. Responden dari penelitian ini adalah 21 pasien DMT2 di Puskesmas wilayah kerja Kabupaten Karanganyar. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah IG, BG, kadar LDL, RLPP. Dianalisis menggunakan uji kolerasi pearson dengan nilai signifikansi < 0,05 dan dianalisis multivariat dengan menggunakan regresi linier berganda.Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa IG mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,939), IG mempunyai hubungan dengan RLPP (p=<0,001; r=0,984), BG mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,969), BG mempunyai hubungan dengan RLPP (p<0,001; r=0,963), RLPP mempunyai hubungan dengan kadar LDL (p<0,001; r=0,984). Analisis multivariat menunjukkan BG makanan adalah prediktor dari kadar LDL dan IG dan BG makanan adalah prediktor dari RLPP.Simpulan: Terdapat hubungan positif dan signifikan antara IG dan BG makanan dengan kadar LDL dan RLPP pada pasien DMT2.
Kandungan Antioksidan, Beta Karoten dan Organoleptik Cookies dengan Substitusi Puré Labu Kuning dan Tepung Kacang Hijau Myisha Azizah; Arwin Muhlishoh; Nastitie Cinintya Nurzihan
Ghidza: Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ghidza.v7i1.545

Abstract

Obesitas dapat mengakibatkan peningkatan produksi radikal bebas yang memicu terjadinya stres oksidatif. Upaya menekan stres oksidatif adalah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung tinggi antioksidan, salah satunya beta karoten seperti labu kuning dan kacang hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat organoleptik, kadar antioksidan, dan kadar beta karoten dari cookies substitusi puré labu kuning dan tepung kacang hijau. Jenis penelitian ini adalah eksperimen dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga kali pengulangan. Penelitian ini memiliki empat perlakuan dengan persentase tepung terigu : puré labu kuning : tepung kacang hijau yang berbeda-beda antara lain F0 (100% tepung terigu), F1 (55%:15%:30%), F2 (35%:25%:40%), dan F3 (15%:35%:50%). Analisis yang dilakukan adalah uji organoleptik (uji hedonik dan mutu hedonik), analisis kadar antioksidan menggunakan metode DPPH, dan analisis kadar beta karoten menggunakan metode HPLC. Pada uji hedonik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata terhadap semua kelompok perlakuan (p>0,05) sedangkan pada uji mutu hedonik menunjukkan perbedaan nyata (p<0,05) terhadap warna dan tekstur cookies, namun pada rasa, aroma, dan aftertaste tidak memiliki perbedaan yang nyata. Kadar antioksidan setiap formulasi adalah F0 sebesar 33,85%, F1 sebesar 37,57%, F2 sebesar 39,76%, dan F3 sebesar 46,21%. Sedangkan, kadar beta karoten yaitu F0 tidak memiliki kadar beta karoten sama sekali, F1 sebesar 54,12 mg/100 g, F2 sebesar 41,13 mg/100 g, dan F3 sebesar 33,12 mg/100 g. Formulasi cookies F1 merupakan formulasi cookies terpilih dan dapat dijadikan sebagai alternatif pangan untuk remaja obesitas.
Hubungan Tinggi Badan Ibu, Riwayat ASI Eksklusif dan Berat Badan Lahir Rendah dengan Kejadian Stunting Pada Balita 24-59 Bulan Eka Saputri Widiyarti; Nastitie Cinintya Nurzihan; Arwin Muhlishoh
Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jgkp.v4i2.24916

Abstract

Stunting atau anak pendek digambarkan sebagai seorang balita yang memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar tinggi badan balita seumurannya. Stunting terjadi dari masih dalam kandungan dan baru nampak setelah anak berusia dua tahun. Stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan motorik dan mental. Pada anak stunting, cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar di sekolah. Desain penelitian dengan menggunakan metode cohort restropektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau gambaran mengenai hubungan antara tinggi badan ibu, riwayat pemberian asi eksklusif dan riwayat BBLR dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali. Responden dalam penelitian ini sebanyak 61 balita di Kecamatan Wonosamodro. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah tinggi badan ibu, riwayat pemberian ASI eksklusif dan riwayat BBLR. Dianalisis menggunakan uji chi aquare dengan nilai signifikansi <0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi ibu tidak terdapat hubungan dengan stunting (p=1,000) dan nilai OR = 0,34, riwayat pemberian ASI eksklusif tidak terdapat hubungan dengan stunting (p=0,211) dan nilai OR = 2,444, riwayat BBLR terdapat hubungan dengan stunting  (p=0,00) dan nilai OR = 35,858 yang menunjukkan bahwa riwayat BBLR pada balita merupakan faktor yang berhubungan dengan stunting dan merupakan faktor risiko terjadinya stunting sebesar 35,8 kali dibanding dengan balita dengan berat lahir normal
UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PRODUKSI ABON JAMUR TIRAM SEBAGAI PELUANG USAHA Nurzihan, Nastitie Cinintya
Jurnal of Community Health Development Vol 3 No 2 (2022): Journal Of Community Health Development terbitan bulan Juli 2022
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman, Jurusan Keperawatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.988 KB) | DOI: 10.20884/1.jchd.2022.3.2.6263

Abstract

Food has an important role for health, food quality can be viewed from the aspect of quality, nutritional content and health. Development and growth that is fast and relatively low cost makes it easy for oyster mushrooms to be cultivated. Processing of oyster mushrooms into shredded products is an alternative to plant-based food, such as shredded oyster mushrooms is done with simple technology that can be applied at the household level and as food products with lower prices, delicious and healthy flavors. Mushroom processing that does not vary is actually one of the causes that have not been used optimally, for that this community service is carried out with the aim of developing processed oyster mushroom products and can be continued as a small and medium business. Community service activities in the form of community empowerment efforts for the production of oyster mushrooms as a business opportunity were attended by 40 participants by providing materials, demonstrating and presenting books, showing high enough results with a percentage of 85% and also based on monitoring and evaluation it was found that 50% of participants who participated in the activity of repeating the production of shredded oyster mushrooms and as many as 5% of participants carried out the business of shredded oyster mushrooms. Keywords: diversification; oyster mushroom; business opportunity
Penyuluhan Tentang Kandungan Abon Jamur Tiram Sebagai Pangan Olahan Kaya Zat Gizi Nurzihan, Nastitie Cinintya; Setyaningsih, Aryanti; Ardya C.S, Hanugrah
Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia Vol 2 No 1 (2023): Februari: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Indonesia
Publisher : Universitas Gajah Putih, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55542/jppmi.v2i1.419

Abstract

Abstract One of the problems that often occurs in the community is the problem that is often experienced in preparing healthy food for children and their families. Various ways can be done by processing existing food ingredients so that the fulfillment of consumption can be fulfilled. Fast food or better known as fast food is food that is served in a short time and can be consumed quickly. Oyster mushrooms have a chewy and soft texture and are rich in fiber, so they have the potential to be a source of dietary fiber and protein as a substitute for meat. Efforts have been made to overcome problems in preparing healthy and fast food as well as being economical, including by innovating food products that are easy to obtain. For this reason, it is necessary to provide an approach with the counseling method by demonstrating the content of shredded oyster mushrooms so that it can add to community education to be applied to their respective families. The processing of mushrooms that do not vary is actually one of the causes that has not been used optimally, for this community service activities This community has the potential to be able to add to the public's insight regarding the content of shredded oyster mushrooms which are rich in nutrients.
HUBUNGAN AKTIVITAS SEDENTARI DAN KONSUMSI ULTRA-PROCESSED FOODS DENGAN STATUS GIZI MAHASISWA UNIVERSITAS KUSUMA HUSADA SURAKARTA Putri, Happy Risa; Setyaningsih, Aryanti; Nurzihan, Nastitie Cinintya
Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman Vol 7 No 1 (2023): JURNAL GIZI DAN PANGAN SOEDIRMAN
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi, Jurusan Kesmas Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.8 KB) | DOI: 10.20884/1.jgipas.2023.7.1.8557

Abstract

Indonesia ialah satu dari banyak negara di dunia yang menghadapi permasalahan gizi lebih. Permasalahan gizi lebih dapat terjadi pada berbagai kalangan termasuk mahasiswa. Faktor- faktor penyebab terjadinya status gizi lebih diantaranya adalah meningkatnya aktivitas sedentari dan konsumsi ultra-processed foods. Penelitian ini bertujuan guna mencari tahu hubungan aktivitas sedentari dan konsumsi ultra-processed foods dengan status gizi mahasiswa Universitas Kusuma Husada Surakarta. Desain dalam penelitian ini ialah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Total sampel penelitian ini ialah 88 mahasiswa aktif Universitas Kusuma Husada Surakarta dengan menggunakan teknik purposive sampling. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu microtoise, karada scan, kuesioner SBQ (Sedentary Behavior Questionnaire) dan kuesioner FFQ (Food Frequency Questionnaire). Analisis data menggunakan uji Spearman dan Regresi Logistik Multinomial dengan nilai α = 0,05. Sebanyak 61,4% responden memiliki aktivitas sedentari berat, sebanyak 43,2% responden mengonsumsi ultra-processed foods dalam kategori frekuensi tinggi dan sebanyak 40,9% responden memiliki status gizi lebih. Terdapat hubungan antara aktivitas sedentari dan konsumsi ultra-processed foods dengan status gizi (p= 0,001; 0,004).. Semakin tinggi aktivitas sedentari dan konsumsi ultra-processed foods maka akan semakin berhubungan dengan status gizi lebih pada mahasiswa.
Bersama Cegah Anemia : Pemberdayaan Remaja dalam Kampanye Gizi dan Pola Hidup Sehat Nurzihan, Nastitie Cinintya; Wirapuspita Wisnuwardani, Ratih; Afiah, Nurul; Pijaryani, Indria; Eka Tyas Wahyuni, Leny; Dzikri, Akhmad
Jurnal Empathy Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Empathy Pengabdian Kepada Masyarakat Volume 6 Number 1 Year 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jurnalempathy.v6i1.315

Abstract

Background: Anemia remains a significant public health issue among adolescent girls in Samarinda, with a reported prevalence of 20.3%. The condition, often linked to iron deficiency, poses risks to physical development, cognitive performance, and overall well-being. Contributing factors include unbalanced dietary habits, menstruation, parasitic infections, and low awareness of nutritional needs. This activity aims to enhance the capacity of adolescents to prevent anemia through participatory and sustainable nutrition campaigns and healthy lifestyle practices. Methods: This community service initiative was conducted at SMA Negeri 1 and SMA Negeri 10 Samarinda from November 15-21, 2024, involving 40 female students. A participatory and educational approach was employed, including group discussions, health counseling, and the use of visual educational media such as booklets and PowerPoint presentations. Pre- and post-tests were administered to evaluate changes in knowledge. Results: The participants, predominantly aged 16 years, showed low baseline awareness about anemia. The intervention led to a 22% increase in knowledge regarding the causes, symptoms, and prevention of anemia. Interactive discussions and visual media effectively engaged students, promoting better understanding and proactive attitudes toward healthy lifestyles and iron intake. Conclusion: A participatory and visual-based approach is effective in promoting health knowledge and behavior change among adolescents, with potential long-term benefits for school and community health. Recommended activities include interactive nutrition education sessions, visual media campaigns, peer-led discussions, and community-based monitoring to sustain behavior change.
Increasing knowledge in healthy lifestyle of nutrition education in Samarinda Senior High Schools Wisnuwardani, Ratih Wirapuspita; K, Iriyani; Nurzihan, Nastitie Cinintya; Susanto, Riezfian Raditya; Afiah, Nurul
Journal of Community Empowerment for Health Vol 7, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcoemph.91924

Abstract

Introduction: Nutrition education is crucial in promoting a healthy lifestyle, including nutritious food consumption, to prevent anemia and stunting in Samarinda, East Kalimantan. The teenage years represent a crucial phase characterized by significant physical and psychological maturation, essential for optimal growth and development. Within this period, adolescents have distinct physiological and psychological requirements. Furthermore, nutritional deficiencies during this time can pose significant health challenges. This study evaluated the association between nutrition education and knowledge of healthy behaviors in Samarinda adolescents. Methods: This study used an action study among 59 high school students (10% overweight, 15-18 years) in Samarinda. Three meetings at every school, with pre-test, nutrition education, Kahoot game, and post-test. All participants were given information regarding the benefits and risks of the program before participation and signed an informed consent. A questionnaire measured knowledge of balanced nutrition, MyPlate contents, and physical activity. Paired t-test was used for the statistical analysis. Results:The majority of participants were female (80%), had normal nutritional status (63%), and did not regularly consume iron tablets (95%). Most participants knew about anemia from their parents (88%), so they suggested nutrition education such as anemia through face-to-face training and social media. An improvement in knowledge before and after face-to-face nutritional education was found in this study (p<0.001)Conclusion: There is an effect of providing education to increase knowledge in nutrition education among adolescents. 
An Analysis of the Implementation and Challenges of the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) Validation in East Kalimantan Province Anshory, Jamil; G, Riska Mayang Saputri; Pijaryani, Indria; Kawareng, Andi Tenri; Safika, Erri Larene; Khuzaimah, Ummi; Wahyuni, Leny Eka Tyas; Rahayu, Agustin Putri; Kurniasari, Lia; Mardiana, Mardiana; Sabarinah, Sabarinah; Nurrika, Dieta; Nurzihan, Nastitie Cinintya
Journal of Global Nutrition Vol 5 No 2 (2025)
Publisher : Ikatan Sarjana Gizi Indonesia (ISAGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53823/jgn.v5i2.157

Abstract

The Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) is a national tool for monitoring population nutritional status and serves as an evidence base for policy formulation. The accuracy of nutritional prevalence estimates depends on the quality of survey implementation and validation. This study aimed to evaluate the validation process of the 2024 SSGI in East Kalimantan Province, specifically in Samarinda City and Penajam Paser Utara District. A descriptive-evaluative design was applied between July and August 2024, involving households and individuals from validation clusters according to the 2024 sampling design. Data collection included anthropometric measurements, household and individual interviews, field observations, and document reviews, complemented by in-depth interviews with enumerators, validators, and supervisors. Quantitative analysis was performed to calculate procedural deviations, while qualitative thematic analysis was applied to identify recurring challenges related to training adequacy, logistics, supervision, and data quality assurance, with triangulation and inter-rater reliability checks used to strengthen validity. Results show that geographical and accessibility constraints, administrative barriers during sample updating, insufficient technical guidelines, and inconsistent recruitment mechanisms hindered the input stage. At the process stage, deviations were observed in anthropometric measurements, hygiene protocol adherence, and interview completeness, while environmental conditions, limited facilities, and weak coordination influenced the output stage. These findings highlight gaps between standardized protocols and field practices that may compromise data validity. Systemic improvements are required through updated sampling frames, written technical guidelines, practice-based training, layered supervision, and context-specific adaptation strategies to strengthen future national nutrition surveys.
SOSIALISASI BAHAN MAKANAN LOKAL PENGGANTI NASI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS BESERTA KELUARGANYA DI KECAMATAN GAMBIRSARI Muhlishoh, Arwin; Crisdian, Hanugrah Crisdian Ardya; Nurzihan, Nastitie Cinintya; Permatasari, Oktavina
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4, No 3 (2021): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v4i3.990-993

Abstract

Pada penyandang diabetes mellitus jenis karbohidrat yang dikonsumsi dapat mempengaruhi kadar gula darah. Jenis karbohidrat suatu makanan dapat diketahui berdasarkan indeks glikemik makanan tersebut. Hasil studi pendahuluan diketahui mayoritas penderita diabetes mellitus di wilayah Kecamatan Gambirsari hanya mengerti sumber karbohidrat hanyalah nasi. Sedangkan nasi memiliki indeks glikemik yang tinggi. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk mensosialisasikan bahan makanan lokal pengganti nasi kepada pasein dan keluarga. Metode yang dilakukan adalah sosialisasi. Target/sasaran dari pemberian sosialisasi adalah pasien dan keluarga pasien DM yang berada diwilayah kerja Puskesmas Gambirsari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan secara daring dengan sasaran pasien dan keluarga pasien diabetes mellitus menggunakan metode sosialisasi dengan video yang dapat di lihat melalui youtube. Perubahan tingkat pengetahuan dan sikap peserta di evaluasi dengan menggunakan pre-test dan post-test. sosialisasi diikuti oleh 30 orang responden dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan. Sosialisasi bahan pangan lokal melalui daring dan dibantu penggunaan video dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap responden sebanyak 20% .