Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kreativitas dan Inovasi Guru Akidah Akhlak dalam Meningkatkan Pengalaman Belajar Siswa di MIS Nurul Siti Aisyah Ishak Delitua Ningtyas, Wilda Cahya; Lubis, Khairuddin; Sundari, Dewi
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2269

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan kreativitas dan inovasi guru Akidah Akhlak dalam meningkatkan pengalaman belajar siswa di MIS Nurul Siti Aisyah Ishak Delitua. Seiring dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pembelajaran abad ke-21, guru dituntut untuk mampu menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan efektif guna memotivasi siswa serta meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Dalam konteks pendidikan agama Islam, khususnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak, kreativitas dan inovasi guru menjadi sangat penting untuk menghidupkan suasana belajar yang interaktif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa langkah yaitu pengumpulan data (data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan guru dan siswa, serta analisis dokumen terkait pembelajaran Akidah Akhlak), mereduksi data yang telah terkumpul, memunculkan data data secara teratur, mengambil kesimpulan dengan pemeriksaan data yang lebih mendalam dan melakukan penyempurnaan dengan mencari data yang diperlukan guna mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Akidah Akhlak di MIS Nurul Siti Aisyah Ishak Delitua telah menerapkan berbagai bentuk kreativitas dan inovasi, termasuk penggunaan teknologi pendidikan, variasi pendekatan pembelajaran, serta integrasi antara teori dan praktik dalam pengajaran.kreativitas dan inovasi yang diterapkan oleh guru secara signifikan meningkatkan partisipasi siswa, motivasi belajar, dan pemahaman terhadap materi yang diajarkan. Siswa menunjukkan respon positif terhadap lingkungan belajar yang lebih interaktif dan menarik, yang pada akhirnya memperkaya pengalaman belajar mereka. Kreativitas dan inovasi dalam pengajaran Akidah Akhlak tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan karakter dan moral siswa.
Adab Peserta Didik Perspektif Imam Al Mawardi dalam Kitab Adabud Dunya Wad Din Lubis, Khairuddin; Suaidi, Pan; Hasibuan, Alpin Akbar
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2511

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep adab peserta didik menurut Imam al-Mawardi sebagaimana dijelaskan dalam kitab Adabud Dunya Wad Din. Fokus utama penelitian ini adalah menggali nilai-nilai pendidikan karakter dan etika yang ditanamkan kepada peserta didik sebagai upaya pembentukan insan yang berilmu dan berakhlak mulia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), di mana kitab Adabud Dunya Wad Din dijadikan sebagai sumber data primer yang dianalisis secara mendalam dengan pendekatan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Imam al-Mawardi memberikan perhatian besar terhadap pembinaan adab peserta didik sebagai fondasi utama dalam proses pendidikan. Beberapa prinsip penting yang diangkat antara lain: (1) niat ikhlas, seorang penuntut ilmu yang tidak dilandasi dengan niat yang Ikhlas maka ilmunya akan membahayakan dirinya, sebab banyak yang menuntut ilmu hanya untuk mendapat gelar dan ijazah, sehingga menghilangkan orientasi utama ilmu, (2) menghormati guru, guru adalah pewaris para nabi yang menjembatani antara ilmu dan amal serta adab terhadap guru mencerminkan akan tulusnya niat, (3) kesadaran akan kebutuhan terhadap ilmu dan pentingnya bimbingan dari guru, (4) pemilihan guru yang alim dan berintegritas, memilih guru yang tepat merupakan salah satu keberhasilan dalam menuntut ilmu, guru yang kompeten bukan yang hanya menguasai ilmu saja tetapi berakhlak mulia dan bisa menjadi teladan, (5) keharusan bagi peserta didik untuk memiliki akhlak yang mulia. Kelima prinsip ini dianggap relevan dengan tantangan pendidikan modern yang ditandai oleh krisis moral dan merosotnya nilai-nilai etika di kalangan pelajar.
Implementation of Hifzhul Lisan Ethics and Birrul Muallim in Building Harmonious Teacher-Student Relationships in High Schools Dalimunthe, Amsal Qori; Nurcahyati Sinulingga, Neng; Lubis, Khairuddin
Chalim Journal of Teaching and Learning Vol. 5 No. 2 (2025): Teaching and Learning
Publisher : Program S3 Pendidikan Islam Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/cjotl.v5i2.2983

Abstract

This study aims to analyze communication and ethical crises in teacher-student relationships in senior high schools (SMA) in the digital era, with a focus on the importance of strengthening Hifzhul Lisan and Birrul Muallim ethics as solutions to these problems. The increasing phenomenon of violence in schools, such as mobbing teachers and insults on social media, reflects a moral degradation that can damage the harmony of education. Through a literature study, this research explores the concept of Hifzhul Lisan, which emphasizes polite and correct speech, and Birrul Muallim, which emphasizes respect for teachers as spiritual parents. The results show that applying these two ethics in schools can reduce potential conflicts and build more harmonious relationships between teachers and students. This study also finds the importance of curricular approaches, school culture (hidden curriculum), and collaboration with parents in creating a supportive and civilized educational environment. In addition, the application of technology as a means of literacy can help strengthen Islamic educational values in facing moral and social challenges in the Society 5.0 era. This study concludes that to create character-based and dignified education, there needs to be a reconstruction of the interaction system in high schools based on the ethics of Hifzhul Lisan and Birrul Muallim, which are in line with Islamic spiritual values and national culture.
Nilai-nilai Kesabaran dalam Sirah Nabawiyah Karya Syaifurrahman Al Mubarakfury Gajah, Roy Ismail; Lubis, Khairuddin; MK, Dahrul
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.2748

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai kesabaran dalam Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury serta menelaah profil intelektual penulisnya. Fokus penelitian meliputi: (1) profil Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury, dan (2) nilai-nilai kesabaran yang terkandung dalam karya Ar-Rahiq Al-Makhtum. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif melalui jenis penelitian studi tokoh. Data diperoleh dari karya utama Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dan literatur pendukung yang relevan, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi nilai-nilai kesabaran dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury merupakan ulama dan penulis terkemuka asal India yang dikenal melalui karyanya Ar-Rahiq Al-Makhtum, sebuah kitab sirah Nabawiyah yang diakui secara internasional. Nilai-nilai kesabaran yang terkandung dalam karyanya meliputi kesabaran dalam dakwah, kesabaran dalam membangun relasi sosial dan politik, kesabaran dalam kehidupan keluarga, serta kesabaran dalam menghadapi penderitaan, pengkhianatan, dan berbagai ujian kehidupan. Nilai-nilai tersebut mencerminkan dimensi kesabaran spiritual, emosional, dan strategis yang relevan sebagai teladan dalam pembentukan karakter dan pengembangan pendidikan Islam kontemporer.
Konsep Kejujuran Menurut Syaikh Muhammad Syakir Al-Iskandari dalam Kitab Washoya Al-Abaa’ Lil Abna’ Piliang, Fauzan; Lubis, Khairuddin; Anwar, Khairul
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.2750

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif biografi dan pemikiran Syaikh Muhammad Syakir al-Iskandari sebagai salah satu ulama dan pendidik Islam berpengaruh pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, serta menganalisis konsep kejujuran yang tertuang dalam karyanya Washaya al-Abaa’ lil Abnaa’. Kajian ini meliputi riwayat hidup, latar belakang pendidikan, kiprah keilmuan, profesi, karya-karya, serta kontribusinya dalam pengembangan pendidikan dan pembinaan akhlak Islam. Fokus utama penelitian diarahkan pada konstruksi konseptual kejujuran (?idq) menurut Syaikh Muhammad Syakir dan relevansinya dalam pembentukan karakter peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research). Sumber data primer diperoleh dari karya asli Syaikh Muhammad Syakir, khususnya Washaya al-Abaa’ lil Abnaa’, sedangkan data sekunder berasal dari literatur ilmiah, kitab turats, serta kajian akademik yang relevan. Teknik analisis data dilakukan melalui analisis isi (content analysis) dengan menelaah secara mendalam gagasan, argumentasi, serta nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Syaikh Muhammad Syakir al-Iskandari—yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Ahmad bin Abdul Qadir bin Abdul Warits lahir di Jurja, Mesir, pada 15 Syawal 1282 H/2 Maret 1866 M. Ia dikenal sebagai ulama, hakim syar‘i, dan pendidik yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan moral generasi muda. Konsep kejujuran menurutnya merupakan fondasi utama dalam pembentukan akhlak mulia, sarana menjauhkan diri dari sifat munafik, serta prinsip dasar dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis. Kejujuran tidak hanya dipahami sebagai kesesuaian antara ucapan dan realitas, tetapi juga sebagai integritas dalam perbuatan dan komitmen moral dalam hubungan sosial guna meraih ridha Allah Swt. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran Syaikh Muhammad Syakir relevan untuk penguatan pendidikan karakter dalam konteks pendidikan Islam kontemporer.