Claim Missing Document
Check
Articles

The Efforts of Stunting Prevention Through Increasing Maternal Knowledge: a Cross Sectional Study in Pemalang, Central Java Anik Enikmawati; Ratnasari, Nita Yunianti; Wijayanti; Sri Handayani
Journal of Ners and Midwifery Vol 11 No 1 (2024)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v11i1.ART.p015-022

Abstract

Stunting refers to a condition characterized by short or very short stature based on the length/height for age, below -2 Standard Deviation (SD) on the WHO growth curve. This condition typically appears from chronic malnutrition, which is often linked to low socioeconomic status, inadequate nutritional intake, maternal health issues, a pattern of recurrent illness, and inappropriate feeding practices during infancy and early childhood. Stunting becomes a serious health problem and requires immediate treatment. In this case, the Indonesian government has made several efforts to improve the reduction of stunting as stated in the 2018 national plan. The World Health Organization (WHO) estimates that 22,2% or 149,2 million children under 5 years old will be stunted by 2020. This research is quantitative type with a cross sectional approach. The independent variable in this study involved mothers' knowledge about stunting as well as being the population, while the dependent variable was the prevention efforts in toddlers. The sampling technique employed probability sampling, namely by stratified random sampling. Inclusion criteria in this study were: a) Mothers and children under five, who live in the RW 01 area of Banyumudal Village, Moga District, Pemalang Regency; b) Mothers who have children under five years old; c) Understand Indonesian; d) Physically and mentally healthy, and e) Willing to be a respondent. The results of the Chi Square test with an error degree of α = 0,05 obtained a p value = 0,001 < α = 0,05. It means that there is a correlation between maternal knowledge about stunting and efforts to prevent it in toddlers in RW 01 Banyumudal Village, Moga District, Pemalang Regency. Stunting will affect long-term brain development, which in turn affects cognitive ability and school performance
Evaluasi Perilaku Kepatuhan Berobat Penderita Tuberkulosis Ditinjau dari Faktor Predisposisi Kejadian Tuberkulosis di Puskesmas Selogiri, Wonogiri Ratnasari, Nita Yunianti
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 7th University Research Colloquium 2018: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepatuhan berobat pasien merupakan salah satu faktor yangmenentukan dalam keberhasilan terapi, namun kepatuhan untukmelakukan pengobatan oleh pasien tuberkulosis seringkali rendah.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kepatuhan berobatpenderita tuberkulosis di Puskesmas Selogiri Kabupaten Wonogiri.Desain penelitian ini menggunakan studi cross-sectional deskriptifanalisis dengan menggunakan alat pengumpul data berupa kuesionersebagai data primer dan kartu pengobatan pasien (Form TB 01) sebagaidata sekunder. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Selogiri padabulan Nopember sampai Desember 2017 yaitu pada pasien tuberkulosisyang telah menyelesaikan pengobatan selama 2 bulan atau lebih.Populasi seluruh pasien tuberkulosis yang berobat di PuskesmasSelogiri, yang terdaftar dari bulan Januari 2016 sampai Desember2017. Pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, dimanadata primer diperoleh peneliti dengan melakukan kunjungan ke rumahresponden, sementara data sekunder diperoleh dari P2 PuskesmasSelogiri. Hasil penelitian dari 23 total responden selama menjalanipengobatan menunjukkan jumlah responden yang patuh terhadappengobatan tuberkulosis lebih kecil dibandingkan responden yang tidakpatuh, yaitu 10 responden (43,47%) patuh sedangkan responden tidakpatuh 13 (56,52%). Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubunganantara faktor sosiodemografis, pengetahuan, efek samping obat, riwayatpenyakit lain dengan kepatuhan berobat penderita tuberkulosis diPuskesmas Selogiri. Studi ini menunjukkan masih tingginya angkaketidakpatuhan berobat penderita tuberkulosis. Oleh karena itu perankeluarga/PMO dalam mengawasi pengobatan perlu ditingkatkansehingga penyebaran penyakit dan meluasnya resistensi bakteri dapatdicegah.
PERSONAL HYGIENE DAN KEJADIAN RUAM POPOK PADA BAYI Sarifah, Siti; Handayani, Sri; Jayanti, Dwi; Ratnasari, Nita Yunianti
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 19th University Research Colloquium 2024: Bidang MIPA dan Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Popok dan bayi adalah dua hal yang tak bisa dilepaskan. Langkah praktis biasanya ibu lebih memilih popok sekali pakai, jika ibu kurang menjaga personal hygiene bisa mengakibatkan gangguan kulit. Gangguan kulit pada bayi yang paling sering terjadi yaitu, ruam popok. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui Hbungan Personal Hygiene dengan Kejadian Ruam Popok. Metode: Penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi peneletian ini adalah Semua ibu dan bayinya yang berusia 0-12 bulan, sejumlah 45 orang. Sampel penelitian sejumlah 45 orang, diambil secara total sampling. Variabel independent adalah personal hygiene. Variabel dependent adalah kejadian ruam popok. Instrument penilaian personal hygiene menggunakan kuisinoner yang terdiri dari 8 pertanyaan dan ruam popok menggunakan observasi. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi square. Hasil: sebagian besar responden memiliki personal hygiene yang baik sejumlah 29 responden (64.4%), personal hygiene tidak baik sejumlah 16 responden (35,6%), sedangkan kejadian ruam popok sebagian besar responden tidak terjadi ruam popok sejumlah 29 responden (64.4%), terjadi diaper rash sejumlah 16 responden (35,6%). Hasil uji statistik dengan menggunakan Chi square didapatkan p value 0,000 < dibandingkan dengan alpha 0,05, sehingga disimpulkan bahwa ada hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Ruam Popok. Simpulan: Ada hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Ruam Popok pada Bayi di Desa Pundungrejo (p value: 0,000<0,05).
UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN MELALUI PEMBERIAN PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG PENATALAKSANAAN TUBERKULOSIS PADA KELOMPOK LANSIA “NGUDI WARAS” SUMBER SARI, PURWOSARI, WONOGIRI Nita Yunianti Ratnasari
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 1 No. 1 (2023): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v1i1.135

Abstract

Tuberkulosis atau yang lebih dikenal dengan istilah TBC, adalah penyakit menular yang masih menyebabkan angka kematian yang tinggi di dunia. 75 % kasus TBC di negara berkembang menyerang kelompok usia produktif (15-50 tahun). Penyuluhan kesehatan penting dilakukan pada kelompok lansia. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kaum lansia tentang penyakit TBC. Metode penyuluhan adalah melalui pendidikan kesehatan langsung (tatap muka) antara penyuluh dan peserta. Sasaran kegiatan ini adalah kelompok Posyandu Lansia Ngudi Waras, desa Purwosari kabupaten Wonogiri sejumlah 40 orang. Selama proses penyuluhan berlangsung semua peserta antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dari awal sampai akhir. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan lansia tentang penyakit TBC serta cara pencegahan penularannya. Sebelum dilakukan pendidikan kesesehatan terdapat 33 (82%) peserta dengan tingkat pengetahuan rendah dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan terdapat 32 (80%) peserta dengan tingkat pengetahuan sedang dan peserta dengan level pengetahuan TBC kategori tinggi 6 (15%) peserta. Sehingga dapat disimpulkan penyuluhan kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan peserta yang dalam hal ini adalah lansia. Kata kunci: lansia, pengetahuan, penyuluhan kesehatan, tuberculosis
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) Ratnasari, Nita Yunianti; Ambarwati, Retno
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peran orang tua sangatlah krusial dalam membimbing anak di era digital saat ini. Salah satu perannya bisa berupa memilih tontonan atau tayangan sesuai dengan umurnya. Pola asuh anak dan remaja di era digital perlu diterapkan dengan baik oleh orang tua. Era digital memang sudah tidak bisa dihindari, sehingga orangtua perlu beradaptasi dan memilih pola asuh yang tepat guna menghadapi terpaan digital. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota tim penggerak PKK di Kabupaten Sragen tentang pentingnya pola asuh anak dan remaja di era digital. Metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu melalui pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri. Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran sudah memahami konsep pola asuh anak dan remaja di era digital meliputi pengertian, peran orang tua, konsep tumbuh kembang anak serta berbagai upaya pencegahan yang dapat dilakukan terhadap kejadian penyalahgunaan gadget.
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU TENTANG MEMBANGUN KOMUNIKASI INTERAKTIF DALAM KELUARGA DI ERA DIGITAL Ambarwati, Retno; Ratnasari, Nita Yunianti
BUDIMAS : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 2 (2024): BUDIMAS : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM ITB AAS Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi digital terutama teknologi informasi dan komunikasi terus mengalami perkembangan yang semakin pesat dan modern. Perubahan ini membuat pengguna memiliki kemampuan dan kemudahan dalam mengakses berbagai hal tanpa batas. Kemajuan teknologi komunikasi memberikan dampak luar biasa terhadap kehidupan keluarga. Selain dampak positif ternyata juga dapat menyebabkan dampak negatif terhadap keharmonisan keluarga. Salah satu dampak negatinya adalah komunikasi interaktif di dalam keluarga semakin berkurang. Ini terjadi karena semua anggota keluarga memiliki fasilitas komunikasi masing-masing sehingga merasa asyik dengan kecanggihan digital berupa gadget, dan akhirnya lupa dengan kebutuhan berinteraksi dalam keluarga. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan contoh yang positif serta memberikan bimbingan kepada anak - anaknya dalam menghadapi era digital saat ini. Orang tua khususnya ibu memiliki tanggung jawab atas pembentukan sikap dan perilaku anak, serta sebagai orang tua harus memiliki kontrol dalam mengawasi informasi yang diterima anak dalam penggunaan smartphone. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota Dharma Wanita Persatuan di Kabupaten Sragen tentang pentingnya membangun komunikasi interaktif dalam keluarga di era digital. Metode pelaksanaan dilakukan dengan cara pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri. Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran sudah memahami konsep komunikasi interaktif dalam keluarga di era digital meliputi pengertian komunikasi interaktif, langkah dalam menjaga komunikasi dalam keluarga, Bagaimana menerapkan komunikasi interaktif dalam keluarga, peran orang tua.
Self-efficacy and quality of life among patients undergoing continuous ambulatory peritoneal dialysis Enikmawati, Anik; Hastuti, Weni; Purwaningsih, Heni; Enawati, Sri; Yuningsih, Dwi; Ratnasari, Nita Yunianti
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 12, No 3 (2024)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jnki.2024.12(3).288-299

Abstract

Background: Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) is a form of chronic peritoneal dialysis for patients with chronic kidney disease. It is carried out 3-5 times per day, 7 days per week with each time the dialysis fluid in the peritoneal cavity (dwelltime) for more than 4 hours. Through so many procedures to go through in each dialysis, it is not uncommon to affect the patient's quality of life.Objectives: To find out the correlation between self-efficacy and the quality of life among patients undergoing continuous ambulatory peritoneal dialysis.Methods: This study is quantitative research with a cross-sectional research design. The population employed all chronic kidney failure patients undergoing CAPD at Kasih Ibu Surakarta Hospital in 2023, with a total of 42 patients. The sample involved 42 samples selected using total sampling technique. Data collection used a self-efficacy questionnaire and quality of life questionnaire which its test consisted of univariate and bivariate using Chi-square testResults: The number of respondents having self-efficacy in the good category as many as 25 respondents (59,5%); the number of respondents with a quality of life in the good category is 29 respondents (69,0%); the Chi Square test results reveal that the amount of p-value obtained is 0,011 (p-value less than 0,05) means there is a correlation between self-efficacy and the quality of life among patients undergoing Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) at Kasih Ibu Surakarta Hospital.Conclusions: There is a correlation between self-efficacy and the quality of life among patients undergoing Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) at Kasih Ibu Surakarta Hospital with a p-value of 0,018 (<0,05). 
Pembekalan calon petugas penyuluh kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas serta kinerja petugas penyuluh di Wonogiri Nita Yunianti Ratnasari; Marni Marni
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 1 No 1 (2021): Educate: Journal of Community Service in Education
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/educate.v1i1.1808

Abstract

Latar Belakang: Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pencapaian tujuan tersebut adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yaitu keberadaan petugas penyuluh kesehatan yang berkualitas dan cakap. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kecakapan petugas penyuluh kesehatan selama menjalankan peran dan fungsinya sebagai petugas kesehatan, sehingga diharapkan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu terwujudnya upaya kesehatan promotif dan preventif, peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta pencegahan terhadap kondisi sakit. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan melalui ceramah dan diskusi dengan peserta sejumlah 23 orang, sehubungan dengan masih berlangsungnya masa pandemi maka seluruh proses berlangsung secara daring. Ada 3 tahap di dalamnya yaitu penyampaian materi, diskusi tanya jawab serta monitoring dan evaluasi. Hasil: Seluruh peserta menyatakan puas dengan kegiatan ini, dimana 87% menyatakan terkait peran petugas penyuluh kesehatan adalah memberikan edukasi, memberikan motivasi, membantu menyampaikan informasi penting terkait kesehatan, menyebarkan pesan mengenai pendidikan kesehatan, memberikan solusi menyelesaikan masalah. Sebelum memberikan penyuluhan, petugas perlu melakukan analisis kebutuhan kesehatan di masyarakat, masalah kesehatan apa yang saat itu sedang dihadapi masyarakat. Kesimpulan: Peran petugas penyuluh dalam memberikan edukasi di masyarakat tidak lepas dari tingkat pemahaman petugas akan materi penyuluhan, kecakapan petugas berinteraksi dengan masyarakat serta kesesuaian antara topik penyuluhan dengan kebutuhan masyarakat..
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital (PAAREDI) Nita Yunianti Ratnasari; Retno Ambarwati
Educate: Journal of Community Service in Education Vol 4 No 1 (2024): Educate: Journal of Community Service in Education
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/educate.v3i2.4278

Abstract

Peran orang tua sangatlah krusial dalam membimbing anak di era digital saat ini. Salah satu perannya bisa berupa memilih tontonan atau tayangan sesuai dengan umurnya. Pola asuh anak dan remaja di era digital perlu diterapkan dengan baik oleh orang tua. Era digital memang sudah tidak bisa dihindari, sehingga orangtua perlu beradaptasi dan memilih pola asuh yang tepat guna menghadapi terpaan digital. Salah satu bentuk transfer of knowledge yang dinilai efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat adalah penyuluhan kesehatan. Diharapkan dari kegiatan sosialisasi ini mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat khususnya anggota tim penggerak PKK di Kabupaten Sragen tentang pentingnya pola asuh anak dan remaja di era digital.  Metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu melalui pertemuan klasikal, tatap muka secara langsung untuk mengikuti penyampaian informasi kesehatan yang disampaikan oleh pemateri.  Hasil yang diperoleh yaitu pada kelompok sasaran  sudah memahami konsep pola asuh anak dan remaja  di era digital  meliputi pengertian,   peran orang tua, konsep tumbuh kembang anak serta berbagai upaya pencegahan  yang dapat dilakukan terhadap kejadian penyalahgunaan gadget
The Role of Treatment Supporters in Addressing Adverse Effects of Anti-Tubercolusis Treatment: Cross-Sectional Study in Timor Leste Nita Yunianti Ratnasari; Weni Hastuti; Domingos Soares; Joaquim Gregorio de Carvalho; Jose Dionisio Ximenes; Eduardo C. Gaio
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 21 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v21i4.38216

Abstract

Tuberculosis (TB) remains a critical health challenge in Timor-Leste, as one of the 30 countries with the highest TB burden globally. The involvement of Treatment Supporters or Pengawas Minum Obat (PMO) has been widely implemented to address these challenges. Purpose: This study aims to examine the relationship between the presence of active PMO and the incidence of OAT adverse effects among TB patients in Timor Leste. Methods: A descriptive-correlational study was conducted from July to November 2023. A total of 69 pulmonary TB patients who had completed the intensive treatment phase were selected through purposive sampling. Data were collected using a validated questionnaire; analysis was conducted using a chi-square test via SPSS version 26. Results: Among 69 respondents, 10 (14.5%) reported adverse effects, while 59 (85.5%) did not. The most common symptoms included reddish urine (97.1%), loss of appetite (91.3%), and joint pain (34.8%). A significant correlation was found between active PMO presence and absence of reported adverse effects (p < 0.001). Conclusion: The presence of active PMO significantly influences the perception and reporting of OAT adverse effects among TB patients. Strengthening the training and involvement of PMO in TB programs can enhance patient adherence and improve treatment outcomes.