Claim Missing Document
Check
Articles

PELATIHAN PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN DARING DI SD NEGERI SOJOPURO DALAM MASA COVID-19 Sumanto, Yoga; Sadewo, Yosua Damas
Journal of Educational Learning and Innovation (ELIa) Vol. 1 No. 1 (2021): Journal of Educational Learning and Innovation (ELIa)
Publisher : Institut of Shanti Bhuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46229/elia.v1i1.237

Abstract

Tujuan dari penulisan penelitian best practice ini adalah untuk mengadapi pembelajaran daring di kondisi pandemi covid-19. Dalam menghadapi kondisi tersebut, Kepala Sekolah SDN Sojopuro memberikan pelatihan kepada guru-gurunya dalam membuat video pembelajaran yang nantinya dapat diakses setiap siswa SDN Sojopuro dari rumah masing-masing. Upaya pelatihan pembuatan video pembelajaran sebagai media pembelajaran untuk siswa-siswa SDN Sojopuro tersebut tentunya dengan harapan adanya peningkatan hasil belajar siswa SDN Sojopuro dan terjadi peningkatan bagi guru-guru SDN dalam hal kemampuan pengelolaan dan penerapan teknologi untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Pelatihan dan edukasi terkait pembuatan video pembelajaran sebagai media pembelajaran dilakukan secara sistematis dan terstruktur yang akan sangat membantu guru-guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang baik dan terarah dalam pembelajaran daring atau study from home. Adapun rangkaian kegiatan dalam proses pelatihan pembuatan video pembelajaran sebagai media pembelajaran di SDN Sojopuro dilakukan melalui tiga (3) tahapan utama, yakni tahap 1 (diskusi), tahap 2 (tutorial), dan tahap 3 (observasi dan evaluasi). Program pelatihan dengan tema “Pembuatan Video Pembelajaran sebagai Media Pembelajaran dalam masa Pandemi Covid-19 di SDN Sojopuro” dilaksanakan dengan lancar dan mendapatkan apresiasi yang sangat bagus dari para peserta, yakni guru-guru SDN Sojopuro. Hal tersebut dibuktikan dengan peran aktif dan antusias para guru SDN Sojopuro dalam membuat dan menyelesaikan video pembelajaran. Melalui pemahaman dalam pembuatan video pembelajaran dan pemilihan media daring, dapat dirancang sebuah pembelajaran yang menarik yang dapat membantu proses pembelajaran selama siswa melakukan study from home dalam era pandemi covid-19. Hal tersebut menunjukkan bahwa pelatihan yang dilakukan dapat menjadi wadah dalam mengembangkan kemampuan guru untuk membuat video pembelajaran yang baik sehingga berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran selama siswa melaksanakan belajar dari rumah atau study from home.
Augmented Reality for Mathematics Learning: Could We Implement It in Elementary School? Saputro, Totok Victor Didik; Purnasari, Pebria Dheni; Lumbantobing, Winda Lidia; Sadewo, Yosua Damas
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 1 (2024): January
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i1.1984

Abstract

Teknologi berkembang pesat dan diantaranya diterapkan di bidang pendidikan. Namun, faktanya masih banyak guru yang belum mampu mengimplementasikan teknologi dan media pembelajaran digital dalam pembelajaran di kelas. Augmented reality menjadi salah satu alternatif media pembelajaran untuk diimplementasikan dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan augmented reality dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Analisis dilakukan dengan pendekatan penelitian scoping review dengan batasan pada hasil artikel yang dipublikasikan selama 3 tahun terakhir. Tahap scoping review menggunakan kerangka Aksey dan O'Malley. Artikel diambil dari hasil publikasi artikel pada Jurnal Terindeks SINTA dengan kata kunci “Augmented Reality” ATAU “Pembelajaran Matematika” ATAU “Sekolah Dasar”. Hasil eksplorasi dianalisis menggunakan kerangka Preferred for Reporting of Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA). Hasil penelitian menyatakan bahwa augmented reality dapat diimplementasikan untuk pembelajaran matematika di sekolah dasar mengacu pada karakteristik augmented reality yang diadaptasi pada gaya belajar siswa sekolah dasar, tantangan penerapan augmented reality, dan dampak belajar siswa. Technology is developing rapidly and some of it is being applied in the field of education. However, the fact is that there are still many teachers who are not able to implement digital learning technology and media in classroom learning. Augmented reality is then an alternative learning media that can be implemented in learning mathematics in elementary schools. This study aims to analyze the use of augmented reality in learning mathematics in elementary schools. The analysis was carried out using a scoping review research approach with limitations on the results of published articles for the last 3 years. The scoping review stage used Aksey and O'Malley's framework. The articles were taken from the results of article publication in the National Science and Technology Index Indexed Journal (SINTA) using the keywords "Augmented Reality" OR "Mathematics Learning" OR "Elementary School". The outcomes of this exploration were then analyzed using the Preferred for Reporting of Items for Systematic Review and Meta-Analysis (PRISMA) framework. The result of this study stated that augmented reality can be implemented for mathematics learning in elementary schools referring to the characteristics of adapted augmented reality on the learning styles of elementary school students, the challenges of implementing augmented reality, and the students' learning impacts.
Mewujudkan sistem penjaminan mutu internal berkelanjutan melalui pendampingan audit mutu internal Dimmera, Bella Ghia; Purnasari, Pebria Dheni; Sadewo, Yosua Damas; Jayanti, Wanty Eka
ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masayarakat Vol 4 No 2 (2023): ABSYARA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/ab.v4i2.24155

Abstract

The Internal Quality Assurance System is a reference for universities to better manage and organize higher education, prepare students to compete at the global level, and make a greater contribution to the local community. Bumi Sebalo Management Academy Bengkayang faces challenges in implementing the Internal Quality Assurance System, such as a lack of understanding of the Internal Quality Assurance System concept, limited human resources and infrastructure, low commitment to quality culture, and not yet having a certified internal auditor. The purpose of this community service assistance is to support the implementation of the Internal Quality Assurance System through the second cycle of Internal Quality Audit using a Participatory Action Research approach consisting of the identification/assessment stage, planning, program design, implementation, and monitoring, and evaluation. As a result, Bumi Sebalo Management Academy Bengkayang successfully implemented the control cycle and can continue to the Internal Quality Assurance System improvement cycle. This is evidenced by the support of the Organizing Board, college management, the involvement of the entire academic community, and the preparation of the second cycle Internal Quality Audit report. Internal Quality Audit assistance is very useful in realizing a sustainable Internal Quality Assurance System at Bumi Sebalo Management Academy Bengkayang.
POS INTAI BELANDA BUKIT VAN DERING SERUKAM SEBAGAI KAWASAN PARIWISATA SEJARAH DI BUMI SEBALO Sabinus Beni; Blasius Manggu; Yosua Damas Sadewo; Tomas Aquino
Naditira Widya Vol. 15 No. 2 (2021): Naditira Widya Volume 15 Nomor 2 Oktober Tahun 2021
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di Dusun Serukam, Desa Pasti Jaya, Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat, yaitu di lokasi Pos Intai Belanda Bukit Van Dering. Keberadaan pos intai tersebut masih belum diketahui secara luas oleh masyarakat baik yang berada di sekitar Kabupaten Bengkayang maupun di luar daerah Kabupaten Bengkayang. Saat ini, kondisi bangunan pos intai cukup memprihatinkan dan terkesan dilupakan keberadaannya baik oleh masyarakat mapun pemerintah setempat. Tujuan penelitian untuk memahami rencana pemugaran kawasan Pos Intai Belanda Bukit Van Dering di Serukam sebagai kawasan pariwisata peninggalan sejarah kolonial Belanda di Bumi Sebalo Bengkayang. Metode penelitian bersifat kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terkait Pos Intai Belanda terhadap narasumber yang dapat dipercaya serta ditunjang dengan data dari dinas terkait. Hasil penelitian menunjukkan belum adanya perhatian pemerintah dalam menginventarisasi dan merevitalisasi peninggalan sejarah Pos Intai Belanda di Bukit Van Dering Serukam serta belum ada upaya untuk memperkenalkan kawasan pariwisata sejarah Pos Intai Bukit Van Dering. Lokasi Pos Intai tersebut berada pada kawasan Bukit Van Dering dengan keindahan alam sangat alami dan lestari yang cukup potensial untuk dikembangkan menjadi sebuah kawasan pariwisata khas Kabupaten Bengkayang tetapi belum tersentuh oleh pembangunan pariwisata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa harus ada kerjasama dengan pelibatan setiap unsur pemangku kepentingan dalam upaya merevitalisasi situs Pos Intai Van Dering, serta dapat memanfaatkannya sebagai sumberdaya pariwisata dan materi pembelajaran muatan lokal di Kabupaten Bengkayang. The research was conducted in Dusun Serukam, Desa Pasti Jaya, Kecamatan Samalantan, Kabupaten Bengkayang in the Province of West Kalimantan, which was at the location of the Dutch Lookout Post of Bukit Van Dering. Not many people, either in or outside Bengkayang, know about the existence of this lookout post. Presently, the condition of the construction of the lookout post is devastating and seems to have been forgotten by the community and the local government. The objective of this study was to determine the plan to restore the area of the Dutch Lookout Post of Bukit Van Dering in Serukam as a tourism area of the Dutch colonial history and heritage of Bumi Sebalo in Bengkayang. This research used a qualitative method and carried out by in-depth interviews related to the Dutch Lookout Post and supported by data obtained from relevant agencies. The results suggest that the government has not conducted inventory and revitalization of the Dutch Lookout Post of Bukit Van Dering in Serukam. There has not been attempt also to introduce this historical tourism area. The lookout post was built on Bukit Van Dering surrounded by natural beauty and potential for the development of a tourism area.
ANALISIS DIGITALISASI PEMBELAJARAN SEKOLAH DASAR WILAYAH PERBATASAN Purnasari, Pebria Dheni; Damas Sadewo, Yosua; Samuel Slamet Santosa, Donald; Sanoto, Herry
Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 14 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24246/j.js.2024.v14.i2.p198-205

Abstract

The use of digitalization has spread to all levels of society, regardless of social status. This requires the education field to be responsive and able to consistently integrate digitalization into the learning process, so that students are accustomed and develop their competencies. However, unfortunately there are still many schools having difficulty in implementing the integration of digitalization into the learning process, as  well as a study of science and media.  Some of the schools are not even aware whether they are ready to implement the digitalization into differentiated learning..Therefore, to prepare for the digitalization of learning, it is necessary to first analyze how prepared the school is to welcome this era of digitalization.  Thus, the purpose of this study is to analyze the readiness level of digitalization of elementary schools specifically to be carried out in the Bengkayang region, West Kalimantan. The research method used was the descriptive method. The data collection was carried out using a digitalization level measurement instrument, namely as a limited-scale trial stage. Apart from that, unstructured interviews and observations were also carried out to strengthen the data collected. The number of schools that were respondents were 10 elementary schools in Bengkayang. The research results show that 80% of schools are categorized as ‘not ready’, while only 20% are ready to implement differentiated learning. The assessment results from education reports also show the similar condition.
Design of short-video-based microlearning for enhancing elementary students’ digital literacy Silvester, Silvester; Saputro, Totok Victor Didik; Purnasari, Pebria Dheni; Sadewo, Yosua Damas; Kusnanto, Kusnanto
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Vol. 18 No. 1 (2025): March-May
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpip.v18i1.91011

Abstract

This study analyzes the design of short-video-based microlearning developed by elementary school teachers to strengthen students’ digital literacy in Bengkayang Regency, West Kalimantan. Qualitative case study design was employed in four elementary schools, with data collected through interviews, observations, and documentation and analyzed using Miles and Huberman’s interactive models. The findings show that teachers were able to design microlearning creatively despite limitations in infrastructure and digital devices. The instructional designs focused on a single core concept within a duration of 1–5 minutes and integrated visual, audio, and text elements to support students’ conceptual understanding. Teachers used accessible applications such as Canva, CapCut, and KineMaster and implemented videos through various strategies, including flipped classrooms, introductory activities, and contextual documentation of school activities. The implementation of microlearning proved effective in enhancing students’ focus, engagement, and digital literacy skills, particularly in critically and responsibly interpreting digital information. However, teachers still faced challenges related to unstable electricity and internet access, limited devices, and constraints in video-editing skills. Overall, short-video-based microlearning is an effective and adaptive strategy to support the implementation of the Kurikulum Merdeka in border-area schools and offers an innovative solution for strengthening digital learning in elementary education.
Pendampingan Optimalisasi Komunitas Belajar untuk Meningkatkan Literasi Digital Guru Sekolah Dasar Silvester, Silvester; Saputro, Totok Victor Didik; Cahyaningtias, Christian; Sadewo, Yosua Damas
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/nqq32f38

Abstract

Perkembangan teknologi digital menuntut guru memiliki literasi digital yang memadai agar mampu mengintegrasikan teknologi secara efektif dalam pembelajaran. Namun, di wilayah 3T seperti Kabupaten Bengkayang, kompetensi digital guru masih rendah akibat keterbatasan sarana dan pendampingan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan peran Komunitas Belajar Gema Ceria di SDN 03 Bengkayang sebagai wadah kolaboratif untuk meningkatkan literasi digital guru sekolah dasar. Program dirancang menggunakan model Goal–Reality–Options–Will (GROW) yang melibatkan 20 guru, terdiri atas 14 guru kelas dan 6 guru mata pelajaran. Pendampingan meliputi pelatihan literasi digital berbasis kebutuhan, penggunaan aplikasi pembelajaran inovatif, dan pembuatan media Augmented Reality (AR) berbasis Assemblr EDU. Evaluasi dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan skor rata-rata literasi digital guru dari 2,8 menjadi 4,3, dengan peningkatan tertinggi pada aspek integrasi teknologi dalam pembelajaran. Guru berhasil menghasilkan empat produk media AR bertema Sistem Tata Surya, Struktur Tumbuhan, Bangun Ruang Sederhana, dan Sejarah, yang diuji coba secara terbatas di kelas. Selain itu, frekuensi pertemuan komunitas belajar meningkat dari satu kali menjadi tiga kali per bulan, menandakan tumbuhnya budaya kolaboratif dan reflektif. Dengan demikian, model pendampingan GROW terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi literasi digital guru serta memperkuat ekosistem pembelajaran digital yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan di sekolah dasar wilayah perbatasan. Optimizing Learning Communities through Mentoring to Improve Elementary School Teachers’ Digital Literacy Abstract The development of digital technology demands that teachers possess adequate digital literacy to effectively integrate technology into the learning process. However, in remote and underdeveloped regions such as Bengkayang Regency, teachers’ digital competence remains low due to limited facilities and lack of mentoring. This Community Service Program aims to optimize the role of the Gema Ceria Learning Community at SDN 03 Bengkayang as a collaborative platform to enhance the digital literacy of elementary school teachers. The program was designed using the Goal–Reality–Options–Will (GROW) model and involved 20 teachers, consisting of 14 classroom teachers and 6 subject teachers. The mentoring activities included needs-based digital literacy training, the use of innovative learning applications, and the development of Augmented Reality (AR) media using Assemblr EDU. Evaluation was conducted both quantitatively and qualitatively. The pre-test and post-test results showed an increase in the teachers’ average digital literacy score from 2.8 to 4.3, with the highest improvement in the aspect of technology integration in learning. Teachers successfully created four AR media products on the themes of the Solar System, Plant Structure, Simple Geometry, and History, which were tested in classroom settings. In addition, the frequency of learning community meetings increased from once to three times per month, indicating the growth of a collaborative and reflective culture. Thus, the GROW mentoring model proved effective in improving teachers’ digital literacy competence and strengthening an adaptive, collaborative, and sustainable digital learning ecosystem in elementary schools located in border areas.
Trends in Indonesia’s Literacy Rate from 2015 to 2022: Disparities Analysis and Projections toward the 2030 SDGs Yosua Damas Sadewo; Mikael Febrianto Owen; Edwar Joist; Anica Vatta Hanesty
Journal of Educational Learning and Innovation (ELIa) Vol. 5 No. 2 (2025): Journal of Educational Learning and Innovation (ELIa)
Publisher : Institut of Shanti Bhuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46229/elia.v5i2.1080

Abstract

Literacy rate (Angka Melek Huruf/AMH) is a key indicator of educational development and Sustainable Development Goals (SDGs) Target 4.6, which aims to achieve universal literacy by 2030. This study analyzes trends in Indonesia’s literacy rate from 2015 to 2022 and projects progress toward the SDGs 2030 target. A quantitative approach was employed using a least squares trend analysis based on secondary data from Statistics Indonesia (BPS). The analysis covers four main dimensions—area of residence, gender, economic quintile, and province—across three age groups (15 years and above, 15–24 years, and 15–59 years). The results indicate a steady national increase in literacy, rising from 95.22% in 2015 to 96.35% in 2022, with projections approaching universal literacy by 2030. Nevertheless, persistent disparities remain evident, particularly between urban and rural areas and across provinces, with Papua consistently recording the lowest literacy rates. These findings suggest that while Indonesia is likely to achieve national-level literacy targets, substantial subnational inequalities persist. Therefore, targeted and context-specific policy interventions are required to ensure equitable literacy outcomes and the inclusive achievement of SDGs Target 4.6.
GAPS IN MANAGING BLENDED LEARNING PROCESSES IN BORDER AREA SCHOOLS: EVIDENCE FROM BENGKAYANG, INDONESIA Sadewo, Yosua Damas; Purnasari, Pebria Dheni; Saputro, Totok Victor Didik; Silvester, Silvester; Yimer, Nurselam Hassen
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v6i1.9288

Abstract

ABSTRACT Educational disparities between urban and border areas remain a critical issue within Indonesia’s education system. One manifestation of this disparity is the uneven management of blended learning-based instructional processes. This study aims to examine the gaps in managing blended learning processes in border area schools, using Bengkayang Regency as the context of analysis. This study employs a literature review approach by analyzing national and international journal articles, government reports, and relevant educational statistical data. Data were analyzed using thematic analysis to identify patterns, challenges, and characteristics related to the management of blended learning in border areas. The findings indicate that the implementation of blended learning in border areas faces multiple constraints, including limited technological infrastructure, low teacher readiness, insufficient institutional support, and sociocultural conditions that are not yet conducive to digital learning. These findings suggest that the success of blended learning is not solely determined by technological availability, but also by the quality of contextual and realistic instructional management. This study is expected to contribute theoretically and practically to the development of blended learning management in border area schools. ABSTRAK Kesenjangan pendidikan antara daerah perkotaan dan perbatasan tetap menjadi isu kritis dalam sistem pendidikan Indonesia. Salah satu manifestasi kesenjangan ini adalah pengelolaan proses pembelajaran campuran yang tidak merata. Studi ini bertujuan untuk meneliti kesenjangan dalam pengelolaan proses pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan, dengan menggunakan Kabupaten Bengkayang sebagai konteks analisis. Studi ini menggunakan pendekatan tinjauan pustaka dengan menganalisis artikel jurnal nasional dan internasional, laporan pemerintah, dan data statistik pendidikan yang relevan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola, tantangan, dan karakteristik yang berkaitan dengan pengelolaan pembelajaran bauran di daerah perbatasan. Temuan menunjukkan bahwa implementasi pembelajaran campuran di daerah perbatasan menghadapi berbagai kendala, termasuk infrastruktur teknologi yang terbatas, kesiapan guru yang rendah, dukungan kelembagaan yang tidak memadai, dan kondisi sosial budaya yang belum kondusif untuk pembelajaran digital. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bauran tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh kualitas pengelolaan pembelajaran yang kontekstual dan realistis. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi secara teoritis dan praktis terhadap pengembangan pengelolaan pembelajaran bauran di sekolah-sekolah daerah perbatasan.
Literasi Pengemasan Ramah Lingkungan Untuk Penguatan Nilai Produk dan Aspek Higiene Pada Kelompok Wanita Tani Kecamatan Bengkayang Atlantika, Yeremia Niaga; Dedy, Dedy; Siokalang, Maria Angela; Salfarini, Eligia Monixa; Beni, Sabinus; Saputro, Totok Victor Didik; Sadewo, Yosua Damas; Curapwati, Nani
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 5 No 4 (2025): I-Com: Indonesian Community Journal (Desember 2025)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/i-com.v5i4.8312

Abstract

Pengabdian pada masyarakat mengenai literasi pengemasan dengan pendekatan ramah lingkungan ini bertujuan dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan mengenai pengemasan ramah lingkungan dan pemasaran hasil produk pertanian KWT berbasis digital yang merupakan strategi penguatan nilai produk dan pemenuhan aspek higiene. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi dan pendampingan langsung melalui observasi awal, penjadwalan, pelaksanaan, dan evaluasi. Kegiatan ini dilaksanakan dalam 5 sesi melalui metode ceramah, tanya jawab, literasi pengemasan, literasi strategi pemasaran berbasis digital, workshop desain serta pengemasan produk yang berorientasi pada nilai Kesehatan dan ramah lingkungan, dan evaluasi kegiatan. Hasil pengabdian ini menggambarkan peningkatan nilai produk sebebsar 20% setelah dilakukannya pengemasan dan proses pemasaran. Dengan tingkat pemberdayaan KWT sebesar 89,23%. Selain itu, secara teknis dan digital pada aspek pengemasan dan pemasaran mendukung transformasi ekonomi berbasis pangan lokal yang inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif secara sosial-ekonomi, sehingga menjadi model efektif dalam pengembangan usaha mikro dan kecil di daerah perbatasan.