Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Flow of Social Environmental Determinants of Disabilities on Lepers in Tuban City Rockmawati, Dliyau; Aris Santjaka; Lagiono; Nur Hilal; Khomsatun; Hari Rudjianto Indro Wardono; Ririh Yudhastuti; Soedjajadi; Lilis Sulistyorini; R. Azizah; Khuliyah Candraning Diyanah; Chatarina Umbul Wahyuni; Hari Basuki Notobroto; Nasichatus Shofa
Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education Vol. 11 No. 1SI (2023): Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Educat
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jpk.V11.I1SI.2023.80-92

Abstract

Background: Leprosy is a neglected tropical disease considered rare in most areas despite having a relatively high incidence in some countries. Objective: Analyze the flow of determinants of the social environment that can affect the occurrence of disability in lepers and their impacts. Method: Research using a qualitative approach. The research was conducted in Tuban Regency, East Java Province. The informant selection technique uses a purposeful sampling technique. Data analysis uses triangulation techniques. Results: The frequency of leprosy in Tuban Regency tended to decrease from 2014-2019. Leprosy distribution occurred in 18 sub-districts; Lepers were found every month in 2019 with various characteristics of lepers that cause the emergence of leprosy and disability in leprosy. The total number of informants in this study was seven informants. Determinants of disability in lepers include informant characteristics and social environment, including knowledge, contact history, family support, self-confidence, and impact. Conclusion: In this study, the social environment that most impact the occurrence of disability in lepers is the informant knowledge factor. Informant knowledge is influenced by education, a large network of friends, and technological literacy. Education will show the type of informant work, and the type of work will determine the income of the informant; income determines economic status. Economic status contributes to food intake, medication seeking, and the home's physical condition. The duration of leprosy treatment will affect the worsening of the disability if good self-care is not carried out and always use PPE when doing activities.
Risk Analysis of Sulfur Dioxide (SO2) Exposure to Public Health Around Kolaka District Nickel Processing Plant Azis, Sheril; R. Azizah; Jalaludin, Juliana
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN Vol. 16 No. 4 (2024): JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jkl.v16i4.2024.302-311

Abstract

Introduction: Sulfur dioxide is an air pollutant that is mostly sourced from burning fossil fuels. Data from the Pomalaa Health Center in 2019 indicates a high incidence of Acurate Respiratory Infection (ARI), with 1,943 reported cases. This study aims to assess the respiratory health risk for communities near the nickel processing plant in Pomalaa District. Methods: This research employs an observational cross-sectional design alongside Environmental Health Risk Analysis (EHRA), the study sampled 122 out of 13,207 respondents using simple random sampling. The analysis was carried out with the kolmogorov-smirnov test and EHRA. Results and Discussion: EHRA results show an inhalation rate of 0.63 m3/hour, with an exposure time of 24 hours/day, an exposure frequency of 365 days/year, and exposure durations of 25 years for real-time projections and 30 years for lifetime projections. SO2 levels have surpassed national quality standards, with the highest concentration recorded at Point 4, measuring 0.576 mg/m3. Dose-response analysis, based on US-EPA data, indicates a level of 0.21 mg/m3. The average intake value for real-time exposure is 0.081 mg/kg/day, and the average intake value for 30-year lifetime is also 0.081 mg/kg/day. Kolmogorov-smirnov test results show a p-value of 0.200 for body weight, while p-values for exposure duration, exposure time, exposure frequency, SO2 concentration, intake rate, age group, intake value, and RQ are all 0.000. Conclusion: Most respondents in this study had health risks that were within safe limits. Nickel processing plant companies and local governments should conduct regular monitoring and control emissions from mining activities, including SO2
Hubungan Pengetahuan dan Perilaku Keluarga dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Dusun Krajan : The Association of Family Knowledge and behavior with Dengue Hemorrhagic Fever Incidence in Krajan Village Aldiyan; Desta Dwi Lestari; R. Azizah; Juliana Jalaludin
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 7 (2023): July 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i7.3434

Abstract

Latar belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan permasalahan kesehatan masyarakat karena tingginya kasus dan penyebaran yang meningkat serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Jumlah kabupaten/kota di Indonesia yang terjangkit DBD pada tahun 2020 sebanyak 477 kabupaten/kota dan pada tahun 2021 sebanyak 474 kabupaten/kota. Banyuwangi merupakan salah satu kota yang terjangkit kasus DBD, selain itu Banyuwangi merupakan kabupaten endemis dimana setiap tahunnya selalu terdapat kasus DBD dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain tempat perkembang biakan telur faktor keluarga juga erat kaitannya dengan kejadian DBD. Faktor keluarga yang dimaksut adalah seperti perilaku penggunaan obat nyamuk, pembersihan lingkungan rumah, pemakaian kelambu, dan pengetahuan dasar mengenai demam berdarah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan perilaku keluarga dengan kejadian Demam Berdarah Dengue di Krajan Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional dengan pendekatan cross sectional kepada 64 responden. Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-Square untuk melihat hubungan antar variabel. Hasil: Hasil penelitian ini dari uji statistic Chi-square didapatkan bahwa Terdapat hubungan antara pendidikan dengan kejadian Demam Berdarah Dengue berdasarkan nilai p-value 0,028 (<0,05). Tidak terdapat hubungan antara perilaku keluarga dengan kejadian Demam Berdarah Dengue berdasarkan nilai p-value 0,077 (>0,05). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pengetahuan secara statistik memiliki hubungan dengan kejadian demam berdarah pada dusun Krajan. Sedangkan perilaku secara statistik tidak memiliki hubungan dengan kejadian demam berdarah di dusun Krajan.
STUDI META-ANALISIS: FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INDONESIA TAHUN 2016-2021: Meta-Analysis Study: Risk Factors for Pneumonia Incidence at Toddlers in Indonesia 2016-2021 Rizky Novita Anjaswanti; R. Azizah; Acknes Leonita
Journal of Community Mental Health and Public Policy Vol. 4 No. 2 (2022): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Terapan untuk Kesehatan Jiwa (Lenterakaji)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51602/cmhp.v4i2.65

Abstract

ABSTRACT Pneumonia coverage in Indonesia from 2010-to 2014 ranged from 20-to 30%, and from 2015-to 2019 has increased. The increased incidence of pneumonia in toddlers can be caused by various factors, including parental behavior, smoking habits by family members, and the environment around toddlers. So, more research is needed related to several types of factors that trigger pneumonia in children. This meta-analysis study aimsto study risk factors such as exclusive breast milk, family members' smoking behavior, and home occupancy density against the incidence of pneumonia in toddlers. The statistical methods in this study combined 44 selected articles of quantitative research results by looking for effect sizes using JASP software version 0.14.1. Selected papers sourced from Google Scholar, Science Direct and Pubmed are sorted according to inclusion and exclusion criteria. The results of the meta-analysis showed that the number of family members who smoked increased the odds 2,585 times greater for pneumonia in toddlers, exclusive breast milk increased the odds 1,934 times greater, and occupancy density increased the chances by 1,934 times greater. The study concluded that all variables increase the likelihood of pneumonia in toddlers, so it is necessary to promote and counsel about exclusive breast milk coverage, reduce the smoking behavior of family members, and pay attention to home occupancy density and home sanitation. ABSTRAKCakupan pneumonia di Indonesia pada tahun 2010-2014 berkisar antara 20-30% dan sejak tahun 2015-2019 mengalami peningkatan. Meningkatnya kejadian pneumonia pada balita dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perilaku orang tua, kebiasaan merokok oleh anggota keluarga, dan lingkungan di sekitar balita. Sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait beberapa jenis faktor yang memicu terjadinya pneumonia pada anak. Studi meta-analisis ini bertujuan untuk mempelajari faktor risiko seperti ASI eksklusif, perilaku merokok anggota keluarga, dan kepadatan hunian rumah terhadap kejadian pneumonia pada balita. Metode statistik dalam studi ini menggabungkan 44 artikel yang terpilih hasil penelitian kuantitatif dengan mencari ukuran efek atau effect size menggunakan perangkat lunak JASP versi 0.14.1. Artikel yang terpilih bersumber dari Google Scholar, Science Direct, dan Pubmed, diurutkan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa terdapatnya anggota keluarga yang merokok 2.585 (95% CI:0.69-1.21; p=0.056), tidak ASI eksklusif 1.934 (95% CI:0.46-0.86; p=0.512), kepadatan hunian meningkatkan peluang 1.934 (95% CI:0.42-0.91; p=0.512) untuk terjadinya pneumonia pada balita. Studi ini menyimpulkan bahwa semua variabel meningkatkan peluang terjadinya pneumonia pada balita, sehingga perlu ditingkatan promosi dan konseling mengenai cakupan ASI eksklusif, mengurangi perilaku merokok anggota keluarga, dan memperhatikan kepadatan hunian rumah serta sanitasi rumah.
Program SESAMA: Edukasi Hidup Sehat dengan Tanaman Sehat untuk Pengendalian Hipertensi di Desa Pondok: Pengabdian Dinda Dwi Ariani; Triska Susila Nindya; R. Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.2899

Abstract

The Healthy Living with Healthy Plants (SESAMA) Socialization and Education Program was implemented in Pondok Village, Ponorogo Regency, as a community-based hypertension control effort. The objective of this activity was to increase public knowledge and awareness about hypertension and encourage the adoption of a healthy lifestyle through the use of local plants, especially cucumbers, which have the potential to lower blood pressure naturally. The implementation method was carried out on January 23, 2025, involving 47 participants aged 45–75 years through a pre-test stage, presentation of material on hypertension and healthy plants, cucumber planting practice, interactive discussion, and a post-test as an evaluation. The approach used not only focused on delivering information, but also practical skills so that the community was able to apply the knowledge gained in everyday life. The results of the activity showed a significant increase in participant knowledge, with an average pre-test score of 44,40 and a post-test increase to 75,30%, or an increase of 30,9%. These findings prove that health education combined with direct practice can be an effective strategy in preventing hypertension. In addition to providing health benefits, this activity also fosters community independence in utilizing local plants sustainably. Thus, the SESAMA program has the potential to become a simple, economical, and applicable intervention model in controlling hypertension at the village level.
Pencegahan Chikungunya Melalui Ovitrap di Desa Kedungudi, Kecamatan Trawas : Penelitian Puspitasari, Stevani; Novi Dian Ariani; Nuzul Qur’aniati; R. Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.2900

Abstract

Abstrak Pada awal tahun 2025, Kecamatan Trawas tercatat memiliki satu kasus chikungunya yang dilaporkan, berdasarkan data surveilans dari Puskesmas Trawas di Desa Kedungudi. Namun, penilaian masyarakat mengungkapkan jumlah kejadian yang lebih banyak daripada yang tercatat dalam statistik resmi, terutama karena terbatasnya pengetahuan publik mengenai akses kesehatan. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan dalam pembuatan ovitrap sebagai strategi proaktif untuk pencegahan chikungunya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di RW 2 Desa Kedungudi dan melibatkan 17 peserta. Tingkat pengetahuan peserta dievaluasi melalui ujian sebelum dan setelah kegiatan. Intervensi yang dilakukan meliputi pemberian edukasi kesehatan terkait pencegahan chikungunya, pelatihan praktis dalam pembuatan ovitrap, serta distribusi ovitrap yang dipasang di area-area penting dalam rumah, seperti di bawah tempat tidur atau di kamar mandi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, dengan 11 individu (64,7%) memperoleh skor baik pada ujian awal, dibandingkan dengan seluruh peserta (100%) yang memperoleh skor baik pada ujian pasca-kegiatan. Penggunaan ovitrap juga bertujuan untuk memantau jumlah nyamuk Aedes aegypti di wilayah endemis. Inisiatif ini diharapkan dapat dilaksanakan setiap tahun sebagai pendekatan berkelanjutan untuk mencegah chikungunya di Desa Kedungudi. AbstractIn early 2025, Trawas Subdistrict was recorded as having 1 reported case of chikungunya, based on surveillance data from the Trawas Community Health Center, particularly in Kedungudi Village. Nevertheless, community assessments revealed a greater number of incidents than the official statistics, mainly because of limited public knowledge regarding healthcare access. This scenario highlights the importance of community empowerment via education and training in ovitrap building as a proactive strategy against chikungunya. This community service event took place in RW 2 of Kedungudi Village and involved 17 participants. Knowledge levels were assessed through evaluations conducted before and after the tests. The intervention involved providing health education on preventing chikungunya, offering practical training in constructing ovitraps, and distributing ovitraps to be positioned in key indoor areas like under beds or in bathrooms. The evaluation findings indicated a rise in participants’ knowledge, with 11 individuals (64.7%) achieving scores in the good category on the pre-test, compared to all 17 individuals (100%) on the post-test. The use of ovitraps was also intended to track Aedes aegypti mosquito numbers in endemic regions. This initiative is anticipated to be executed each year as a sustainable approach to avert chikungunya in Kedungudi Village.
Implementasi Program BOOSTER sebagai Promotif Preventif untuk Meningkatkan Kesehatan Remaja di Desa Polorejo, Ponorogo : Penelitian Septya Fathonatun Nisak; Retno Adriyani; R. Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4004

Abstract

Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan fisik dan psikososial, sehingga diperlukan intervensi promotif preventif yang komprehensif di tingkat komunitas. Program Bimbingan, Obrolan, Skrining, Talkshow, dan Edukasi Remaja (BOOSTER) dikembangkan sebagai respons kebutuhan tersebut di Desa Polorejo, Ponorogo. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi permasalahan kesehatan remaja melalui skrining form Integrasi Layanan Primer (ILP) serta mengevaluasi efektivitas intervensi edukatif yang diberikan. Metode mencakup skrining terhadap 102 remaja untuk memetakan tekanan darah, perilaku merokok, dan indikator kesehatan jiwa, serta pre post test pada 28 peserta untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Hasil skrining menunjukkan tiga isu utama yaitu, tekanan darah tinggi (31,37%), perilaku merokok (10,46%), dan masalah psikososial termasuk ketidaksukaan terhadap tubuh (11,8%). Temuan ini menjadi dasar pemilihan fokus intervensi Program BOOSTER yang dilaksanakan pada 26 Januari 2025. Evaluasi menunjukkan bahwa dari peserta yang awalnya memperoleh nilai pre test kurang baik, 96,42% berhasil mencapai skor baik pada post test. Observasi kegiatan juga memperlihatkan partisipasi aktif dalam sesi melukis emosi dan peracikan minuman herbal sebagai pembelajaran langsung. Secara keseluruhan, pendekatan edukasi partisipatif melalui Program BOOSTER efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja.
Manajemen Risiko K3 pada Tahap Finishing Pekerjaan Arsitektur Proyek Konstruksi Gedung Gudang X Kota Surabaya : Penelitian Fajrinia Putri Rudiansyah; Chofifah Ayu Kusumaningtyas; Yeshita Alifia Yuvianti; Denes Wara Ayu Puspita; Dani Nasirul Haqi; Lilis Sulistyorini; R. Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4114

Abstract

Behind infrastructure development, the construction sector faces threats in the implementation of the Occupational Safety and Health Management System (SMK3). One area with high potential hazards is architectural work, which involves working at heights, the use of chemicals such as paint and glue, and the intensive use of electrical and mechanical equipment. This study aims to analyze occupational safety and health risk management in the finishing stage of architectural work on the X warehouse construction project in Surabaya City through the Identification Hazard Identification, Risk Assessment, and Opportunity (IBPR) method as stipulated in the Regulation of the Minister of Public Works and People's Housing No. 10 of 2021 concerning Guidelines for the Construction Safety Management System. The results of this study identified 6 hazards and 7 risks from the finishing stage of architectural work, including falling from heights, being hit by falling materials, and exposure to dust. Risk control in construction projects must be implemented through the provision of equipment according to capacity, the use of safe materials, worker training, and regular monitoring to improve workplace safety during the finishing stage of the warehouse construction project.
Edukasi Dini Berbasis One Health dalam Meningkatkan Kesadaran Kesehatan dan Lingkungan pada Siswa MI Al Fatah Gresik : Pengabdian Yeshita Alifia Yuvianti; Lilis Sulistyorini; R. Azizah
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4361

Abstract

The One Health approach emphasizes the importance of the interconnectedness between human, animal, and environmental health as an integrated effort for disease prevention and control. This community service activity aimed to implement the One Health approach through educational interventions for elementary school students at MI Al Fatah, Sukorejo Village, Sidayu District, Gresik Regency. The activity methods included material presentations, screening of educational videos, handwashing practice, and the administration of pre-tests and post-tests. The results showed an improvement in students’ understanding of the One Health concept, as evidenced by an increase in scores from 68.75% in the pre-test to 90.63% in the post-test. In addition, positive changes in clean and healthy living behaviors were observed, along with increased support from teachers to integrate this concept into learning activities. These findings indicate that an educational approach based on One Health is effectively implemented at the elementary school level and has the potential to serve as a sustainable community empowerment strategy.
Faktor Risiko Keluhan Diare pada Balita di Indonesia Tahun 2016-2021 : Literature Review: Risk Factors For Infant Diarrhea in Indonesia in 2016-2021 : Literature Review Adani, Diaz Faliha; R. Azizah
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 9 (2022): September 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i9.2589

Abstract

Latar belakang: Salah satu masalah kesehatan utama yang menyebabkan morbiditas dan mortalitas, terkhusus pada balita (bawah 5 tahun) ialah diare. Prevalensi diare disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain kebersihan diri, air bersih, dan penggunaan jamban. Tujuan: Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene pengasuh, ketersediaan air minum dan penggunaan jamban dengan diare yang dialami oleh anak di bawah 5 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan metode meta-analisis pada aplikasi JASP. Sumber data yang digunakan adalah dari Google Scholar. Metode penelitiannya adalah metode Cross Sectional. Hasil: Analisis data menunjukkan bahwa balita yang ibunya dinilai buruk dari segi personal hygiene yang beresiko 3.095 kali lebih besar untuk terkena diare dibandingkan balita yang ibunya memiliki personal hygiene yang baik. Selanjutnya, balita yang tidak mendapatkan cukup air bersih 1.954 kali lebih mungkin mengalami diare dibandingkan balita yang tidak mendapatkan cukup air bersih. Selain itu, balita yang tidak menggunakan jamban memiliki kemungkinan 1.840 kali lebih tinggi untuk diare dibandingkan balita yang menggunakan jamban. Kesimpulan: Faktor risiko tertinggi diare pada anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia disebabkan oleh personal hygiene pengasuh.