Articles
Relationship of Verbal Violent Behavior with Student Learning Achievement
Tina Shinta Parulian Siahaan;
Febri Christian Trisna Putra;
Susanti Niman
Bulletin of Counseling and Psychotherapy Vol. 4 No. 2 (2022): Bulletin of Counseling and Psychotherapy
Publisher : Kuras Institute
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.51214/bocp.v4i3.202
The child is the asset and successor of the ideals of the nation's struggle for the future. Children are entitled to service to develop the ability, and social life, by following per under the culture, and personality of the nation, to become good, and useful citizens. Children are entitled to maintenance and protection, while in the womb or after birth, and children are entitled to protection against the environment that endangers or hinders their growth and development. Child abuse comes in many forms. This study to find out the relationship between verbal violence and student’s learning achievement. We used descriptive quantitative correlation, cross-sectional, for instruments we used questionnaires for verbal violence. Data analysed was a bivariate test that used the chi-square test. Technic sampling used stratified random sampling with lottery technique based on student ID number amount 225 people. There is a significant relationship between verbal abuse and student learning achievement.
Edukasi Kesehatan Bahaya Seks Bebas, Rokok dan Narkoba pada remaja
susanti niman;
Lukisa Wijayanti;
Rudiana Suhendang;
Feti Syaptiah;
Rinda Novita
Jurnal Pengabdiaan Masyarakat Kasih (JPMK) Vol 4 No 1 (2022): October
Publisher : JPMK : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kasih Published by Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) STIKES Dirgahayu Samarinda
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52841/jpmk.v4i1.273
Perawat berperan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang baik melalui upaya kesehatan jiwa. Upaya kesehatan jiwa pada kelompok sehat diberikan melalui promosi kesehatan jiwa. Sekolah menjadi tempat kegiatan promosi kesehatan jiwa dari perawat. Siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas termasuk dalam kelompok remaja. Remaja berada pada tahap perkembangan identitas diri. Remaja kelompok sasaran dari promosi kesehatan jiwa. Melakukan seks bebas, merokok dan menggunakan narkoba merupakan perilaku beresiko. Pemahaman tentang bahaya seks bebas, rokok dan Narkoba penting bagi remaja sebagai kelompok rentan perilaku beresiko. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam memahami bahaya seks bebas, rokok dan Narkoba sehingga dapat berperan aktif mencegah perilaku beresiko. Kegiatan dilakukan dalam bentuk edukasi kesehatan. Metode yang digunakan berupa pemberian edukasi kesehatan melalui ceramah, memberikan leaflet, diskusi serta tanya jawab diakhir kegiatan. Evaluasi pengetahuan peserta dilakukan melalui pretest dan posttest. Jumlah peserta 140 Siswa( 43 laki-laki dan 97 perempuan) dari dua sekolah di Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari kegiatan terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan berdasarkan hasil evaluasi. Sebelum diberikan edukasi mean pengetahuan siswa 60.47 dan setelah edukasi mean pengetahuan siswa 81.23. Siswa harus memahami bahaya seks bebas,rokok dan NARKOBA, berperan aktif dalam mencegah perilaku beresiko.
Pengaruh Edukasi Kesehatan Fisik Tentang COVID-19 Terhadap Kemampuan Menerapkan AKB Pada Siswa SD
Linda Sari Barus;
Susanti Niman;
Tina Shinta Parulian Siahaan;
Ira Ocktavia Siagian
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 7, No 4 (2022): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/jkm.v7i4.15763
Objective: Covid-19 pandemic is a non-natural disaster. Everyone, including children, becomes stressed, to prevent transmission of the virus, an adaptation of new habits is needed, so it is necessary to provide knowledge in the form of repeated education related to new normal adaptation to improve physical health. This is necessary so that the child's ability to apply the new normal adaptation is consistent. This new normal adaptation is a necessary step to determine the readiness of elementary school children to conduct limited face-to-face learningMethods: This article used a pre-experimental design, namely by means of a one-group pre-test-post-test design for 73 elementary school students in Bandung. The child is given a pre-test regarding the new normal adaptation and then a video is given about physical health that must be considered in the new normal adaptation, after which a post-test assessment is carried out. Bivariate Analysis Using the Wilcoxon test. Results: The results of the study found that there was an influence before being given physical health education about covid-19 on the ability of elementary school students to implement the new normal adaptation. Conclusion: Researchers suggest parents and teachers to keep reminding their children to adapt to new habits.
Terapi Afirmasi Positif Pada Klien Dengan Harga Diri Rendah: Studi Kasus
Susanti Niman;
Laura Nikita Surbakti
Jurnal Ilmu Keperawatan Jiwa Vol. 5 No. 4 (2022): 30 November 2022
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32584/jikj.v5i4.1779
Latar belakang : Seorang mahasiswi mengalami harga diri rendah akibat pengalamankekerasan dalam keluarga dan bullying. Studi kasus ini mengambarkan bagaimana kekerasandalam keluarga dan bullying memicu harga diri rendah dan pengaruh tindakan keperawatanafirmasi positif.Laporan kasus : Seorang mahasiswi melakukan konseling pada praktisi keperawatan jiwa.Klien sejak kecil sering dibandingkan dengan saudara kandung oleh ibunya karena bentuktubuhnya yang kurus dan nilai dari sekolah yang selalu rendah. Selain di rumah klien jugamengatakan sering diejek karena kurus dan kulitnya berwarna gelap. Pengalaman tersebutmembuat klien merasa tidak percaya diri, merasa berbeda dari orang lain dan takut untukberteman. Klien mengatakan pernah memiliki pikiran untuk bunuh diri. Asuhan keperawatandiberikan pada klien selama lima hari dengan fokus intervensi pemberian terapi afirmasipositif. Hasil evaluasi dari asuhan keperawatan yang diberikan menunjukkan peningkatanharga diri, memiliki pikiran positif tentang dirinya, melakukan kemampuan untukmeningkatkan harga diri sesuai aspek positif yang dimiliki. Hasil pengukuran harga dirimenggunakan Rosenberg self esteem Scale menunjukkan peningkatan dan penurunan darihasil pengukuran Self reporting Quetionnaire 29 menunjukkan penurunan.Kesimpulan : Asuhan keperawatan dengan fokus intervensi terapi afirmasi positifmemegang peranan penting dalam membantu klien dengan masalah keperawatan harga dirirendah. Asuhan keperawatam selama lima hari dapat meningkatkan harga diri dan mengubahpikiran negatif.Kata kunci : afirmasi positif, bullying, harga diri rendah, kekerasan dalam keluarga, , studi
Depresi dan Ide Bunuh Diri pada Dewasa Muda
Monika Melvin Omnia;
Susanti Niman;
Ferdinan Sihombing;
Fransiskus Xaverius Widiantoro;
Tina Shinta Parulian
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 11, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26714/jkj.11.1.2023.103-110
Usia dewasa muda dengan depresi merupakan kelompok terbanyak yang melakukan bunuh diri. Bunuh diri diawali dengan muncul ide untuk mengakhiri hidup pada dewasa muda yang mengalami depresi. Kaitan ide bunuh diri dengan depresi pada dewasa muda perlu diketahui untuk menekan kejadian bunuh diri. Tujuan penelitian mengetahui korelasi depresi dengan ide bunuh diri pada dewasa muda. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional terhadap 385 orang dewasa muda berusia 18-25 tahun yang terpilih melalui snowball sampling. Intrumen menggunakan Beck-Depression Inventory-II (BDI-II) dan Beck Scale for Suicidal Ideation (BSSI) versi Indonesia. Hasil uji reliabilitas BDI-II memiliki nilai Cronbach Alpha 0.964 dan BSSI memiliki nilai Cronbach Alpha 0.963. Uji korelasi menggunakan Kendall Tau. Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata responden depresi dengan skor 12.58 dan ide bunuh diri 5.05. Ada korelasi yang signifikan antara tingkat depresi dengan ide bunuh diri (p<0.05). Arah korelasi positif dan berkekuatan lemah (r = 0.442). Depresi pada dewasa muda berkorelasi dengan ide bunuh diri.
PROMOSI KESEHATAN JIWA ONLINE TOXIC RELATIONSHIP PADA REMAJA
Susanti Niman;
Tina Shinta Parulian;
Dahlia Sibarani
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2022): Jurnal Abdi Masyarakat Mei 2022
Publisher : Universitas Kadiri
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30737/jaim.v5i2.2407
Toxic relationships have an impact on the mental health conditions of adolescents. Toxic relationships can be avoided through increased knowledge. Mental health education online is a form of mental health promotion given to adolescents. Teenagers are the target of online mental health promotion, considering the ease of using webinar platforms. One of the tasks of adolescent development is to form mature interpersonal relationships. Mental health promotion about toxic relationships is essential for adolescents to avoid unhealthy interpersonal relationships and ultimately interfere with health. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of adolescents in realizing healthy interpersonal relationships and preventing toxic interpersonal relationships. Activities are carried out online through media zoom. The method used is providing mental health education through lectures, leaflets about toxic relationships, discussions and questions and answers at the end of the activity. Participants also filled out the pretest and posttest. The number of participants was 43 teenagers (9% male and 91% female), aged between 14-21 years, with 95% education. In the activity results, there was a significant change in knowledge, were previously given education, the mean was 55.47, and after being given, it became the mean 77.91. Adolescents must recognize toxic relationships, not allow themselves to be in toxic interpersonal relationship situations and make efforts to prevent toxic interpersonal relationships.
Kesehatan Fisik Dengan Kepuasan Hidup Pada Kelompok Dewasa Tengah
Karolina Jun;
Susanti Niman;
Henri Suntoro
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 8 No 3 (2023): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30651/jkm.v8i3.17274
Kepuasan hidup adalah evaluasi yang dirasakan dari kualitas dan kepuasan dari hal-hal yang telah dilakukan individu sepanjang hidup mereka dan di bidang utama kehidupan yang dianggap penting (domain kepuasaan). Kepuasaan hidup merupakan indikator kesejahteraan psikologis, kepuasan hidup terkait dengan pendapatan, kesehatan dan gaya hidup aktif, dan hubungan dengan teman dan keluarga.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa korelasi kesehatan fisik dengan kepuasan hidup pada kelompok dewasa tengah. Metode penelitian kuantitatif cross sectional melalui kuisioner gform pada dewasa tengah berusia 40-60 tahun dengan jumlah responden sebanyak 159. Kuesioner yang digunakanStatisfaction With Life Satisfaction (SWLS) dan self report untuk kesehatan fisik. Analisa data yang dilakukan menggunakan Kendall Tau.Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata kepuasan hidup responden yaitu 26.55. Tidak ada korelasi antara kesehatan fisik dengan kepuasan hidup (p>0.05) dengan r = 0,068. Meskipun terkait dengan kesehatan, namun kesehatan bukan satu-satunya faktor penentu kepuasan hidup. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kesehatan fisik tidak memliliki korelasi dengan kepuasan hidup usia dewasa tengah. Rekomendasi yang dapat diberikan adalah dengan melakukan promosi kesehatan pada dewasa tengah yang sehat dengan tujuan mempertahankan kesehatan jiwa sesuai dengan tumbuh kembangnya
RESILIENSI ANAK PASCA BENCANA: LITERATUR REVIEW
Susanti Niman;
Mustika Sari
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 3 No 01 (2021): Jurnal Sahabat Keperawatan, Februari 2021
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32938/jsk.v3i01.933
Latar Belakang: Bencana mengancam kehidupan jutaan anak. Anak merupakan kelompok usia terbesar yang mengalami bencana di seluruh dunia. Diperkirakan ada lebih dari 100 juta anak terpapar bencana setiap tahun. Anak termasuk dalam kelompok beresiko yang paling rentan. Dampak bencana pada kelompok usia anak lebih mengkhawatirkan dibanding usia dewasa. Anak lebih beresiko mengalami trauma akibat bencana. Resiko tersebut tergantung pada tingkat perkembangan kognitif dan emosi. Resiliensi dibutuhkan untuk proses recovery survivor bencana. Resiliensi yang dimiliki oleh individu akan menurunkan tingkat PTSD. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi anak setelah bencana. Subjek dan Metode: Literatur review dibuat berdasarkan metode kuantitatif dengan model PRISMA. Variabel dependen adalah resiliensi anak. Variabel independen adalah ikatan positif pengasuh utama, regulasi emosi, fleksibilitas kognitif, persepsi, kontrol dan dukungan sosial. Dari 31 artikel, 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dipilih untuk penelitian ini. Artikel-artikel tersebut dikumpulkan dari 3 sumber basis data meliputi EBSCOhost, Science Direct dan Pubmed. Hasil: faktor-faktor psikososial kunci yang terkait dengan resiliensi. Faktor psikososial kunci tersebut termasuk pentingnya ikatan positif dengan pengasuh utama selama perkembangan, regulasi emosi, fleksibilitas kognitif, persepsi dan kontrol serta ketersediaan dukungan sosial untuk resiliensi di sepanjang rentang usia. Kesimpulan: Resiliensi pada anak dipengaruhi oleh faktor psikososial. Resiliensi membantu kesiapan menghadapi bencana dan meminimalkan dampaknya.
THE RISK OF VIOLENT BEHAVIOR : A CASE STUDY
Nyi Rd Mega Aroviani;
Susanti Niman
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 3 No 02 (2021): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2021
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32938/jsk.v3i02.1376
Background: Risk Violent behavior is an individual condition that will endanger oneself, others, family and society. Individuals at risk of violent behavior need psychiatric nursing care to overcome the nursing problems they experience. This study aims to discuss nursing care comprehensively from assessment to evaluation of clients at risk of violent behavior. Case report: The results of the client have a history of traffic accidents and experienced a collision in the head area but at the request of the family, surgery was carried out. After the accident, the family got changes in the client, namely irritability, tantrums, talking and smiling by themselves and seeing things that were not tangible. The implementation of nursing is given to clients in the form of physical exercises: deep breaths and hitting the pillow mattress, assertive exercises and spiritual exercises. The client's family is given nursing education about how to care for the client. The nursing evaluation found that the client was able to do physical exercise and assertive exercise. Families can recognize problems and motivate clients to do the exercises that have been taught by the nurse. Conclusion: The risk of violent behavior is one of the mental nursing problems that can be found in clients with mental disorders with a history of head trauma.
TELAAH KEBIJAKAN KESEHATAN DAN KEPERAWATAN DALAM LINGKUP PENDIDIKAN DI INDONESIA
Dikha Ayu Kurnia;
Dwi Cahya Rahmadiyah;
Gipta Galih Widodo;
Imelda Imelda;
Jesica Pasaribu;
Laode Saltar;
Pius A. L. Berek;
Priyanto Priyanto;
Retno Yuli Hastuti;
Ria Andriani;
Rizky Hidayat;
Susanti Niman;
Utari Christya Wardhani;
Vetty Priscilla
Jurnal Sahabat Keperawatan Vol 3 No 02 (2021): Jurnal Sahabat Keperawatan, Agustus 2021
Publisher : Program Studi Keperawatan, Universitas Timor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32938/jsk.v3i02.1381
Latar Belakang: Kondisi keperawatan di Indonesia masih memiliki tantangan untuk memperbaiki diri dalam menjawab tantangan jaman saat ini. Dengan demikian pendidikan tinggi keperawatan memiliki peran penting dalam kualitas asuhan keperawatan di Indonesia. Oleh karena itu insan yang tergabung didalam pendidikan tinggi keperawatan sangat diperlukan melakukan kajian kritis untuk mendukung kualitas kesehatan di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang diperlukan. Tujuan: menelaah dan mengembangkan kebijakan keperawatan dalam lingkup pendidikan di Indonesia. Simpulan: Faktor determinan kesehatan pada pendidikan tinggi yaitu individu, organisasi, lingkungan dan kebijakan monitoring evaluasi kementerian pendidikan tinggi yang belum mengoptimalkan kualitas lulusan perguruan tinggi. Saran: Pendidikan tinggi keperawatan di Indonesia masih memerlukan berbagai upaya kebijakan untuk meningkatkan mutu lulusan dan menyejahterakan lulusan keperawatan sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan stake holder sehingga perawat profesional semakin berperan dalam memberikan solusi yang berbasis keperawatan dan memiliki nilai moral bagi masalah kesehatan di Indonesia