Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Lingkungan Pemasaran Rumah Sakit Pemerintah: Studi Deskriptif terhadap Faktor Internal dan Eksternal muharani, Defrika; Yorismanto, Yorismanto; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3750

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi strategi pemasaran rumah sakit pemerintah pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) terhadap publikasi nasional dan internasional periode 2015–2025, studi ini mengidentifikasi bahwa faktor eksternal yang paling dominan adalah regulasi JKN dan mekanisme pembayaran INA-CBGs. Kedua faktor tersebut menuntut efisiensi biaya yang tinggi, membatasi fleksibilitas harga, serta memengaruhi struktur pendapatan rumah sakit. Faktor eksternal lain yang turut berpengaruh mencakup dinamika politik dan hukum, kondisi ekonomi makro, serta perubahan demografi yang mendorong meningkatnya permintaan layanan kesehatan. Di sisi internal, penelitian menemukan bahwa tiga elemen utama sumber daya manusia (People), proses layanan (Process), dan bukti fisik (Physical Evidence) memiliki kontribusi signifikan terhadap kepuasan pasien, masing-masing sebesar 28%, 22%, dan 19%. Temuan operasional menunjukkan bahwa rumah sakit pemerintah mempertahankan Average Length of Stay (AvLOS) rendah, berkisar 2,3–4,0 hari, sebagai upaya adaptasi terhadap tekanan biaya dari sistem INA-CBGs. Pada aspek keuangan, rumah sakit pemerintah cenderung memiliki tingkat likuiditas tinggi namun solvabilitas rendah, yang menunjukkan kemampuan baik dalam memenuhi kewajiban jangka pendek tetapi sedikit ruang untuk investasi jangka panjang. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa rumah sakit pemerintah perlu menerapkan strategi dualistik: strategi defensif melalui peningkatan efisiensi biaya, serta strategi ofensif melalui diferensiasi mutu layanan berbasis 3P (People, Process, Physical Evidence) agar tetap kompetitif dan berkelanjutan di bawah sistem JKN.
Analisis Permasalahan dalam Sistem Pengadaan Barang dan Jasa Beserta Solusi Strategis di Rumah Sakit Pemerintah: Pendekatan Deskriptif-Kuantitatif Berbasis Studi Literatur Sistematis Muharani, Defrika; Yorismanto, Yorismanto; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.3819

Abstract

Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) di Rumah Sakit (RS) Pemerintah, khususnya yang berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), merupakan fungsi vital yang menentukan kualitas layanan sekaligus stabilitas finansial. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sistem PBJ di sektor kesehatan masih menghadapi tantangan serius yang berpotensi menurunkan efektivitas operasional rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis permasalahan PBJ di RS Pemerintah Indonesia serta merumuskan rekomendasi strategis melalui Sintesis Literatur Sistematis (SLR) dengan pendekatan Sintesis Deskriptif Kuantitatif (SDQK) terhadap publikasi ilmiah periode 2015–2025. Hasil kajian mengidentifikasi tiga klaster utama permasalahan: risiko tata kelola (agency cost), inefisiensi logistik dalam Supply Chain Management (SCM), dan hambatan proses digitalisasi. Pada aspek tata kelola, ditemukan bahwa risiko moral hazard dan lemahnya kontrol internal berdampak nyata pada keuangan, misalnya akumulasi utang RSUD di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencapai Rp 247,97 miliar pada 2025. Rendahnya tingkat pengembalian kerugian negara yang hanya 28% dari total temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebesar Rp 4,77 miliar juga menunjukkan lemahnya akuntabilitas ex-post. Inefisiensi SCM tercermin dari dominasi biaya obat kelompok A yang mencapai 70,82% dari total biaya pengadaan, padahal hanya mencakup 5,78% dari total item obat yang digunakan. Sementara itu, hambatan digitalisasi muncul akibat kurang optimalnya penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Rekomendasi strategis meliputi penguatan regulasi internal BLUD, integrasi SIMRS untuk meningkatkan ketepatan forecasting SCM, serta peningkatan kompetensi SDM PBJ guna menekan risiko moral hazard pada proses digital.
Kajian Konseptual: Strategi Optimalisasi Bauran Pemasaran Untuk Peningkatan Daya Saing Rumah Sakit Rahmi, Sherly Firsta; Dewi, Nur Husna; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4460

Abstract

Persaingan layanan kesehatan yang semakin ketat menuntut rumah sakit untuk menerapkan strategi pemasaran yang lebih adaptif, terukur, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Variasi persepsi masyarakat terhadap mutu layanan pada beberapa rumah sakit, seperti RSUD dr. Soetomo, RS Awal Bros Pekanbaru dan RSUD Kota Yogyakarta, menunjukkan bahwa kualitas interaksi, efisiensi proses, inovasi layanan dan bukti fisik menjadi faktor penting yang memengaruhi daya saing. Bauran pemasaran (marketing mix) menjadi kerangka strategis penting bagi rumah sakit dalam membangun keunggulan bersaing melalui optimalisasi aspek produk, harga, tempat, promosi, proses, bukti fisik, dan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan mengkaji konsep dan strategi optimalisasi bauran pemasaran dalam meningkatkan daya saing rumah sakit melalui telaah literatur. Metode yang digunakan adalah literature review terhadap 20 jurnal nasional dan internasional yang relevan, terbit dalam rentang sepuluh tahun terakhir, menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola strategi efektif. Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan aspek People melalui peningkatan kompetensi komunikasi dan empati, transparansi informasi pada elemen Promotion dan Price, digitalisasi proses pelayanan, modernisasi bukti fisik, serta pengembangan layanan inti yang terintegrasi berkontribusi signifikan terhadap persepsi positif dan retensi pasien. Ketujuh elemen 7P terbukti saling melengkapi dan perlu diimplementasikan secara terpadu untuk menghasilkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Penelitian ini memberikan landasan konseptual bagi rumah sakit dalam merancang strategi pemasaran yang adaptif, inovatif, dan berbasis patient experience di era digital.
Analisis Minimalisasi Biaya Penggunaan Amoksisilin dan Cefadroxil Terhadap Dana Kapitasi untuk ISPA pada Balita Novriana, Rizka; Susilawati, Endang; Fahri, Muhammad; Hartono, Budi; Daud, ALfani Ghutsa
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.4016

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama kunjungan balita ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan sering memerlukan terapi antibiotik. Dalam sistem pembiayaan kapitasi, pemilihan antibiotik yang efisien menjadi penting agar Puskesmas dapat memberikan pelayanan berkualitas tanpa membebani anggaran. Penelitian ini bertujuan menganalisis minimalisasi biaya antara amoksisilin dan sefadroksil dalam terapi ISPA pada balita di Puskesmas, dengan asumsi efektivitas klinis kedua antibiotik adalah setara. Menggunakan metode deskriptif-analitik dengan pendekatan cost-minimization analysis (CMA), data penggunaan antibiotik, harga obat, dan pengeluaran kapitasi dianalisis dari perspektif fasilitas kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa dari 1.284 kasus ISPA, amoksisilin digunakan pada 69,4% kasus dan sefadroksil pada 30,5% kasus. Meskipun demikian, biaya sefadroksil menyumbang 57,4% dari total pengeluaran antibiotik karena harga per episodenya 3,07 kali lebih mahal dibandingkan amoksisilin. Total biaya aktual sebesar Rp 15.706.000 dapat ditekan hingga Rp 9.630.000 apabila seluruh kasus menggunakan amoksisilin, menghasilkan potensi penghematan sebesar Rp 6.076.000 (38,7%). Simulasi skenario lain juga menunjukkan penghematan signifikan bila penggunaan sefadroksil dibatasi hanya pada kasus khusus. Dengan demikian, amoksisilin merupakan pilihan paling efisien secara ekonomi untuk terapi ISPA balita dan berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dana kapitasi serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan primer.
Tinjauan Konseptual tentang Prinsip dan Komponen Manajemen Logistik Farmasi di Rumah Sakit Rahmi, Sherly Firsta; Dewi, Nur Husna; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4461

Abstract

Manajemen logistik farmasi merupakan komponen krusial dalam pelayanan rumah sakit karena berperan dalam menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan yang tepat jenis, jumlah, mutu, dan waktu. Data nasional menunjukkan bahwa lebih dari 52% rumah sakit di Indonesia masih menghadapi permasalahan logistik farmasi, seperti ketidaktepatan perencanaan kebutuhan, distribusi yang kurang optimal, serta tingginya angka obat kedaluwarsa. Sementara itu, laporan internasional mencatat bahwa sekitar 40–60% fasilitas kesehatan di negara berkembang mengalami kendala serupa. Kondisi tersebut menegaskan urgensi penguatan sistem manajemen logistik farmasi yang efektif dan terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara konseptual prinsip dan komponen utama manajemen logistik farmasi di rumah sakit berdasarkan sintesis 20 artikel jurnal nasional dan internasional. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan menelaah publikasi periode 2020–2025 yang diperoleh melalui basis data Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect. Artikel yang dikaji dipilih berdasarkan relevansi dengan topik manajemen logistik farmasi dan konteks pelayanan rumah sakit. Hasil kajian menunjukkan bahwa manajemen logistik farmasi mencakup beberapa tahapan utama, yaitu perencanaan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, distribusi, serta pengendalian dan evaluasi stok. Seluruh tahapan tersebut harus menerapkan prinsip efisiensi, akurasi, transparansi, dan jaminan mutu. Berbagai penelitian menekankan strategi implementatif seperti penggunaan metode kuantitatif ABC, VEN, dan EOQ, penyelarasan formularium rumah sakit, penerapan sistem penyimpanan FEFO dan FIFO, digitalisasi sistem inventori, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia farmasi. Dengan demikian, penguatan sistem logistik farmasi merupakan prioritas strategis untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit dan menjamin keselamatan pasien.
Evaluasi Ekonomi Intervensi Kebijakan Kesehatan untuk Memerangi Penyakit Tidak Menular (PTM): Tinjauan Sistematis: Efektivitas Biaya pada Populasi Berisiko Tinggi Despitasari, Despitasari; Andria, Dwi Septi; Valenti, Ruri; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5010

Abstract

Evaluasi ekonomi merupakan komponen penting dalam proses pengambilan keputusan di sektor kesehatan, terutama ketika sistem kesehatan menghadapi keterbatasan sumber daya, meningkatnya beban penyakit kronis, serta tekanan pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Kajian ini menguraikan konsep dasar evaluasi ekonomi, urgensinya dalam konteks Indonesia, jenis analisis yang umum digunakan, serta contoh aplikasinya dalam intervensi kesehatan. Melalui tinjauan naratif terhadap literatur dan pedoman internasional, penelitian ini menemukan bahwa evaluasi ekonomi melalui metode seperti Cost-Minimisation Analysis, Cost-Benefit Analysis, Cost-Effectiveness Analysis, dan Cost-Utility Analysis memberikan kerangka objektif untuk menilai efisiensi biaya dan hasil kesehatan dari berbagai intervensi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan evaluasi ekonomi masih menghadapi sejumlah hambatan, seperti keterbatasan data biaya dan outcome, minimnya kapasitas SDM, serta rendahnya pemanfaatan bukti ilmiah dalam kebijakan. Namun demikian, evaluasi ekonomi memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas kebijakan kesehatan, memperkuat keberlanjutan pembiayaan JKN, serta mendukung adopsi teknologi kesehatan yang lebih tepat guna. Contoh penerapan, seperti analisis biaya-utilitas pada program skrining diabetes, menunjukkan bahwa evaluasi ekonomi mampu memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan program preventif yang lebih hemat biaya. Secara keseluruhan, kajian ini menegaskan bahwa integrasi evaluasi ekonomi secara konsisten ke dalam perencanaan dan kebijakan dapat meningkatkan efisiensi sistem kesehatan nasional dan mendorong pengambilan keputusan yang lebih berbasis bukti.
Analisis Biaya-Manfaat Telemedicine untuk Tatalaksana Penyakit Kronis: Studi Cost-Benefit pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Prajuita, Muthia; Filyani, Isra; Marika, Sandra; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5178

Abstract

Pembangunan kesehatan memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi nasional. Kesehatan yang baik berkontribusi pada peningkatan produktivitas, penurunan beban pembiayaan jangka panjang, serta stabilitas sosial dan ekonomi. Namun, keterbatasan anggaran pemerintah, meningkatnya biaya teknologi medis, serta terjadinya transisi epidemiologi penyakit menuntut adanya pengambilan keputusan kesehatan yang efisien dan berbasis bukti ekonomi yang kuat. Cost Benefit Analysis (CBA) merupakan salah satu metode evaluasi ekonomi yang digunakan dengan cara membandingkan seluruh biaya dan manfaat suatu intervensi kesehatan dalam satuan moneter. Pendekatan ini bertujuan untuk menilai kelayakan program serta nilai tambah ekonomi yang dihasilkan, sehingga dapat menjadi dasar rasional dalam penentuan kebijakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep, penerapan, dan implikasi penggunaan CBA dalam sektor kesehatan, khususnya dalam mendukung pengambilan keputusan kebijakan dan manajerial di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan analitis-deskriptif melalui telaah literatur ilmiah, laporan kebijakan, serta pedoman internasional yang relevan. Analisis dilakukan dari perspektif sosial dan pemerintah dengan mengidentifikasi biaya langsung, biaya tidak langsung, serta manfaat ekonomi yang dikonversi menggunakan pendekatan Value of Statistical Life dan Willingness to Pay. Hasil kajian menunjukkan bahwa CBA mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai kelayakan ekonomi intervensi kesehatan, terutama pada program promotif dan preventif seperti imunisasi dan pengendalian penyakit. Selain itu, CBA membantu penentuan prioritas program, meningkatkan efisiensi alokasi sumber daya, serta mendukung keberlanjutan sistem kesehatan. Dengan penerapan asumsi yang transparan dan analisis sensitivitas yang memadai, CBA berpotensi menjadi instrumen strategis dalam perencanaan dan evaluasi kebijakan kesehatan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Analisis ABC-VEN sebagai Alat Pengendalian Persediaan Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Anggaran Farmasi Amalia, Rosi; Kasmiati, Neng; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5657

Abstract

Pelayanan farmasi merupakan salah satu komponen utama dalam operasional rumah sakit yang menyerap porsi besar dari biaya operasional dan berpotensi menimbulkan tekanan terhadap keberlanjutan keuangan institusi. Di Indonesia, proporsi biaya obat dilaporkan mencapai 40–50% dari total biaya operasional rumah sakit, jauh lebih tinggi dibandingkan negara maju yang berada pada kisaran 10–20%. Kondisi ini menuntut penerapan sistem pengendalian persediaan obat yang efektif, khususnya dalam konteks implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan mekanisme pembayaran INA-CBGs yang membatasi fleksibilitas anggaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan metode analisis ABC–VEN sebagai alat pengendalian persediaan obat dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi serta dampaknya terhadap likuiditas rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif-analitik terhadap artikel jurnal nasional dan internasional, buku teks, laporan penelitian, serta regulasi pemerintah yang relevan dengan manajemen persediaan farmasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa klasifikasi ABC secara konsisten menempatkan sekitar 10–20% item obat dalam kategori A yang menyerap 70–80% total anggaran farmasi. Integrasi dengan analisis VEN memungkinkan identifikasi obat berbiaya tinggi namun berdampak klinis rendah (kategori AN) yang menjadi sasaran utama efisiensi. Berbagai studi melaporkan bahwa penerapan ABC–VEN mampu menghasilkan penghematan anggaran farmasi sebesar 6–15%, menurunkan angka stockout obat vital, serta meminimalkan dead stock. Kesimpulan kajian ini menunjukkan bahwa metode ABC–VEN merupakan instrumen strategis yang tidak hanya efektif dalam meningkatkan efisiensi anggaran farmasi, tetapi juga berkontribusi nyata dalam memperbaiki likuiditas rumah sakit melalui pengurangan overstock dan percepatan perputaran persediaan.
Evaluasi Penerimaan dan Penyimpanan Obat di Instalasi Farmasi di Rumah Sakit Faizah, Hashifah; Farhiyah, Nur Laili; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.5867

Abstract

Penerimaan dan penyimpanan obat merupakan bagian krusial dalam manajemen obat di rumah sakit karena berpengaruh langsung terhadap mutu obat dan keselamatan pasien. Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) memegang peran strategis dalam menjamin bahwa obat yang diterima dan disimpan memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat. Kesalahan pada tahap ini berpotensi menimbulkan kerugian besar dari sisi klinis, ekonomi, dan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kesesuaian proses penerimaan dan penyimpanan obat di instalasi farmasi rumah sakit dengan standar pelayanan kefarmasian yang berlaku. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur sistematis dengan mengkaji berbagai artikel ilmiah, jurnal nasional terakreditasi, dan dokumen ilmiah relevan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif untuk mengidentifikasi tingkat kesesuaian praktik di lapangan serta permasalahan yang sering ditemukan. Hasil kajian menunjukkan bahwa proses penerimaan obat pada umumnya telah mencakup pemeriksaan administrasi dan fisik, namun masih terdapat ketidaksesuaian pada aspek kelengkapan dokumentasi, pemantauan suhu untuk obat sensitif, dan konsistensi pelaksanaan prosedur yang dipengaruhi oleh beban kerja dan kompetensi petugas. Pada aspek penyimpanan, sebagian besar rumah sakit telah menerapkan prinsip dasar, tetapi masih menghadapi kendala terkait pengendalian suhu dan kelembaban, penerapan sistem FIFO dan FEFO yang tidak konsisten, penataan obat berisiko tinggi dan LASA, serta sistem pencatatan stok yang terintegrasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya evaluasi berkala, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan sistem manajemen obat sebagai dasar perbaikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di rumah sakit.
Tren Penelitian Kepuasan Dan Loyalitas Pasien Di Rumah Sakit: Sebuah Literature Review Rahmi, Sherly Firsta; Dewi, Nur Husna; Kasmiati, Neng; Amalia, Rosi; Yorismanto, Yorismanto; Hartono, Budi; Daud, Alfani Ghutsa
Menara Ilmu : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah Vol 20, No 1 (2026): Vol 20 No. 01 JANUARI 2026
Publisher : LPPM Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/mi.v20i1.7566

Abstract

Kepuasan dan loyalitas pasien merupakan indikator penting dalam menilai mutu pelayanan rumah sakit, terutama di era kompetisi layanan kesehatan yang semakin meningkat. Tren penelitian dalam satu dekade terakhir mennujukkan bahwa kedua aspek ini dipengaruhi oleh berbagai dimensi pelayanan, baik dari sisi kualitas klinis maupun nonklinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis tren penelitian mengenai kepuasan dan loyalitas pasien di rumah sakit berdasarkan temuan ilmiah dalam 10 tahun terakhir. Metode yang digunakan adalah literature review deskriptif dengan menelaah 20 jurnal nasional dan internasional yang relevan, dipilih berdasarkan kriteria inklusi terkait topik kepuasan, loyalitas, dan mutu layanan rumah sakit. Hasil telaah menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian menekankan peran kualitas layanan, komunikasi tenaga kesehatan, kecepatan pelayanan, lingkungan fisik, serta hubungan interpersonal sebagai faktor dominan pembentuk kepuasan pasien. Selain itu, kajian ini mengidentifikasi adanya kesenjangan penelitian terkait kebutuhan pasien di masa depan, terutama dalam konteks pelayanan berbasis patient-centered care dan pemanfaatan digital health yang adaptif terhadap perubahan ekspektasi masyarakat. Kesimpulannya, penelitian kepuasan dan loyalitas pasien perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih komprehensif dan berorientasi pada pengalaman pasien untuk menjawab tantangan dan harapan masyarakat terhadap mutu layanan rumah sakit di masa mendatang. Kata Kunci:  Kecepatan Layanan, Kepuasan Pasien, Komunikasi Tenaga Kesehatan, Kualitas Pelayanan, Loyalitas Pasien