Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Pemberdayaan TIK bagi Siswi SMA Melalui Pendekatan Digital Literasi Untuk Pembangunan Berkelanjutan Suci Shinta Lestari; Ira Puspita Sar; Muhammad Yazid; Nurul Aiyuda; Endah Wahyuningsih; Indah Ananda Putri
SUMUR- Jurnal Sosial Humaniora Vol. 3 No. 1 (2025)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fiddunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/sumur.v3i1.1259

Abstract

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) semakin pesat, namun pemanfaatannya di kalangan siswi SMA masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya literasi digital, keterbatasan akses terhadap sumber daya teknologi, serta minimnya pemahaman akan dampaknya dalam pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk memberdayakan siswi SMA melalui pendekatan Digital Literasi  dengan memberikan pelatihan serta pendampingan dalam penggunaan TIK yang efektif, kritis, dan bertanggung jawab. Solusi yang ditawarkan meliputi program edukasi berbasis literasi digital, pelatihan keterampilan teknis, serta integrasi pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran dan kewirausahaan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini meningkatkan pemahaman siswi terhadap literasi digital, keterampilan teknologi, serta kesadaran akan peran mereka dalam pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, pemberdayaan TIK berbasis literasi digital dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kemandirian digital di kalangan generasi muda.  
Perilaku Phubbing Dengan Kualitas Persahabatan Remaja Di Pekanbaru aiyuda, nurul; Heriandy, Tebi; Putra, Ardian Adi
Mediapsi Vol 9 No 1 (2023): Juni
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.mps.2023.009.01.907

Abstract

The quality of friendship is a bond of relationship that is formed and has various aspects of support, conflict, and qualitative aspects of friendship that can determine how a friendly relationship can run well as it should and be able to resolve various conflicts faced. The high and low quality of friendship can be influenced by phubbing behavior. The aim of this study is to identify the relationship between phubbing behavior and the quality of friendship in Pekanbaru. This study uses quantitative methods with Pearson product moment analysis. The total sample in this study amounted to 348 respondents who were taken using quota sampling technique. Based on the results of research conducted that there is a negative relationship between phubbing behavior and the quality of adolescent friendship in Pekanbaru City with a significant value of 0.115 and a correlation coefficient of -0.463, meaning that the higher the phubbing behavior, the lower the quality of friendship, while on the contrary the lower the quality of friendship. the higher the phubbing behavior of adolescents in Pekanbaru. Therefore, the phubbing behavior of adolescent in Pekanbaru has a relationship with the quality of friendship.
Fragile Confidence: Neuroticism as A Predictor of Impostor Syndrome in College Students Hafizah, Nasywa; Nasution, Itto Nesyia; Aiyuda, Nurul
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2332

Abstract

Mahasiswa kerap kali dihadapkan oleh tuntutan akademik, persaingan, dan ekspektasi sosial yang tinggi dengan prestasi, sehingga rentan mengalami tekanan psikologis. Dalam situasi tersebut, sebagian mahasiswa merasa bahwa pencapaian yang diraihnya bukan berasal dari kemampuan pribadi, melainkan semata-mata karena keberuntungan atau bantuan orang lain. Mereka takut dianggap tidak kompeten dan merasa tidak pantas akan kesuksesan yang dimiliki. Kondisi ini dikenal sebagai impostor syndrome. Salah satu aspek kepribadian yang diduga berperan dalam kecenderungan tersebut adalah neuroticism, yakni karakteristik individu yang mudah mengalami emosi negatif seperti cemas, ragu, dan tidak percaya diri. Individu dengan tingkat neuroticism yang tinggi diyakini lebih rentan mengalami impostor syndrome. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa di Indonesia dengan rentang usia 19-25 tahun, dengan jumlah subjek 179 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu teknik cluster sampling dengan menggunakan metode one stage cluster sampling. Hasil pada penelitian ini terdapat hubungan positif yang signifikan antara neuroticism dengan impostor syndrome. Hasil uji hipotesis diperoleh koefisien korelasi r = 0,738 dengan signifikan p = 0,000 (p<0.005). Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi neuroticism maka akan semakin tinggi impostor syndrome pada mahasiswa.
Behind the Mask of Achievement: How Perfectionism Fuels Impostor Syndrome in Collage Student Purnama, Wita Indah; Syarif, Khairunnisa'; Aiyuda, Nurul
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 1: Februari (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i1.2333

Abstract

Mayoritas mahasiswa mendambakan lingkungan akademik yang positif dan kompetitif. Namun, banyak mahasiswa menghadapi tekanan besar untuk mencapai standar tinggi dalam studi mereka. Sebagian individu merasa pencapaian prestasinya merupakan hasil keberuntungan daripada keterampilan yang dimiliki, fenomena ini dikenal sebagai impostor syndrome. Salah satu faktor yang mempengaruhi impostor syndrome adalah perfeksionisme, dimana individu memiliki kecenderungan untuk menetapkan standar yang tinggi dan berusaha untuk mencapainya disertai dengan ketidakpuasan terhadap hasil yang dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menguji hubungan impostor syndrome dengan perfeksionisme khususnya pada kalangan mahasiswa. Metode pengambilan data diambil menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster sampling dan subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa di Indonesia dengan rentang usia 18-25 tahun. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme dengan impostor syndrome dengan p>0,05 dan r=0,698. Semakin tinggi perfeksionisme, maka semakin tinggi tingkat impostor syndrome. sebaliknya, semakin rendah perfeksionisme, maka semakin rendah pula impostor syndrome pada mahasiswa. Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala impostor syndrome dan perfeksionisme. Validitas instrumen dipastikan melalui professional judgement, Content Validity Index (CVI), Aiken's V, dan analisis korelasi item total. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami hubungan perfeksionisme dengan Impostor Syndrome dalam diri mereka, sehingga mahasiswa dapat mengelola tekanan akademik, mengurangi keraguan diri, dan membangun kepercayaan diri yang lebih sehat.