Claim Missing Document
Check
Articles

Strategi berinovasi guru di sekolah menengah atas M. Nur Mustafa; Hermandra Hermandra; Zulhafizh Zulhafizh
JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia) Vol 7, No 3 (2021): JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia)
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Theraphy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/020211127

Abstract

Inovasi sebagai suatu terobosan yang dapat dilakukan guru dalam mendorong perbaikan pendidikan. Berbagai strategi dapat dilakukan guru dalam rangga menghadirkan inovasi. Inovasi yang dilakukan guru sebagai suatu yang perlu dideskripsikan. Maka, penelitian ini berupaya mendeskripsikan berbagai strategi guru yang mendorong aktivitas inovatif. Metode penelitian berupa survei dengan dilengkapi instrumen strategi berinovasi para guru Sekolah Menengah Atas di Kota Pekanbaru. Sampel guru sebagai informan berjumlah 108 orang diambil secara random.  Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data berupa angket berskala Likert. Analisis instrumen berkategori valid dengan berbagai varian kategori Alfa Cronbach’s (>0,400) dan Chi-kuadrat 20620,625 (p>0,05). Analisis data dilakukan melalui analisis korelasi Product Moment, deskriptif-mean dan standar deviasi, Anova satu arah, dan koefisien diterminan (R) untuk mengindikasikan potensi pengaruh yang ditimbulkan masing-masing dimensi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa dimensi untuk berinovasi di sekolah menengah atas secara umum berkategori sangat tinggi (4,722) pada SD 0,302. Hasil implementasi memperlihatkan dimensi penataan tugas tidak signifikan dalam strategi berinovasi baik antar kelompok maupun dalam kelompok. Ditinjau dari koefisien diterminan lebih rendah (0,084) dibandingkan dimensi lain. Hal ini memperlihatkan strategi selain penataan tugas dapat menjadi pemicu dalam berinovasi di Sekolah Menengah Atas di Kota Pekanbaru.
Analysis of Language Errors in Student Institutional Administration (BEM) FKIP UNRI Ifebri Ifebri; Hermandra Hermandra; Charlina Charlina
Journal of Education Technology Information Social Sciences and Health Vol 3, No 2 (2024): September 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jetish.v3i2.3289

Abstract

The aim of this research is to identify and describe forms of language errors (syntax) in the field of phrases and sentences in the FKIP UNRI student institutional administration (BEM) uploaded to the institutional Instagram account. Researchers used descriptive qualitative research methods. Data collection techniques include documentation techniques, reading techniques and note-taking techniques. The results of this research found 99 data on syntactic errors, 72 of which were phrase errors and 27 were sentence errors. Researchers concluded that the most errors occurred in excessive use of elements, namely 34 data errors. Meanwhile, the fewest errors were 2 data errors each on the influence of regional languages, reciprocal use, and non-parallel compound sentences.
EUFEMISME DALAM PIDATO SOEKARNO PADA HARI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA Andri Azaky; Okta Hari Mulya; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, makna, dan fungsi eufemisme dalam pidato Soekarno pada hari kemerdekaan Indonesia, serta bagaimana eufemisme tersebut memberikan kekuatan dalam menggerakkan masyarakat. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini memfokuskan pada teks pidato yang diakses dari berita terbitan Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemdikbud pada 20 Mei 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi teks dengan membaca dan mengidentifikasi frasa eufemisme dalam pidato. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengelompokkan dan menginterpretasikan temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima eufemisme yang tercakup dalam empat bentuk eufemisme: ekspresi figuratif, metafora, sirkumlokusi, dan kliping. Fungsi eufemisme yang ditemukan meliputi eufemisme perlindungan, eufemisme penyemangat, eufemisme provokasi, dan eufemisme kecurangan. Eufemisme dalam pidato Soekarno berhasil menyampaikan pesan dengan cara yang halus dan sopan, menjaga perasaan audiens, serta memberikan semangat dan motivasi dalam perjuangan kemerdekaan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami penggunaan bahasa yang efektif dalam pidato publik serta pentingnya eufemisme dalam komunikasi yang sensitif dan persuasif.
KATEGORI FATIS BAHASA MELAYU RIAU DIALEK KAMPAR DALAM TRADISI LISAN BASIACUONG Maili Yusma; Annisa Rahmi; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.517

Abstract

Dalam komunikasi, terkhusus komunikasi verbal  ragam non-standar, terdapat   salah   satu   fungsi  bahasa   yang   cukup   unik,   yaitu   fatis. Ungkapan fatis banyak ditemukan dalam tuturan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kategori fatis dalam bahasa Melayu Riau dialek Kampar yang terdapat dalam tradisi lisan basicuong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berasal dari tradisi lisan basiacuong yang  dikumpulkan melalui teknik studi dokumenter. Hasil penelitian menunjukkan kategori fatis dalam bahasa Melayu Riau dialek Kampar yang terdapat dalam tradisi lisan basicuong saat ma ulu jambau yaitu dalam bentuk partikel fatis (kan, tio, dan lah) dan bentuk kata fatis (alah, dek, kok, nyo, ka, nye, yo, ko, dan tu). Kategori fatis tersebut digunakan penutur dalam tradisi lisan basicuong untuk mematahkan, membuktian, mengukuhkan, menegaskan, serta meyakinkan petutur.
ANALISIS SOSIOPRAGMATIK METAFORA KATA "MULUT" DALAM KOMUNIKASI SEHARI-HARI: SEBUAH PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM KAJIAN PRAGMATIK SOSIAL Risky Yanti Ulfa; Sri Rahayu; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.518

Abstract

Metafora merupakan salah satu elemen penting dalam kajian pragmatik, khususnya sosiopragmatik, yang melibatkan hubungan antara bahasa dan konteks sosial dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu metafora yang sering muncul dalam percakapan adalah kata "mulut". Kata ini sering digunakan dalam berbagai ekspresi dan ungkapan yang memiliki makna lebih dari sekedar bagian tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana metafora kata "mulut" digunakan dalam komunikasi sehari-hari, dengan pendekatan sosiopragmatik yang memperhatikan konteks sosial dalam penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana, di mana data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara di berbagai konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora "mulut" memiliki berbagai makna yang beragam, yang dipengaruhi oleh faktor sosial seperti status, hubungan sosial, dan peran komunikasi dalam interaksi sosial. Kata "mulut" berfungsi sebagai simbol ekspresi, komunikasi, dan pengaruh dalam masyarakat. Melalui analisis ini, kita dapat memahami bagaimana penggunaan metafora dalam percakapan sosial mencerminkan dinamika hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Motif Itik Pulang Patang Pada Rumah Adat Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang): Analisis Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.827.272--281

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as its main analysis. The aim of the research is to find and find reasons for using a motif so that it is chosen as one of the carvings in the traditional traditional house of the Minang people as one of the cultural identity of the Minang tribe. The data and data sources in the research are in the form of words and sentences obtained through field studies and interviews with informants with the age limit of 40-60 years who are native Minang tribes. Data collection techniques in this study used interviews, notes, and analysis. The data analysis technique uses three stages of analysis, namely script semantics to explain the meaning of the dictionary or written meaning, cognitive semantics to explain the meaning that connects experience with knowledge, and inquisitive semantics to find reasons for using an object, symbol or motif that is chosen. The results of the study explained that the duck motif was chosen because ducks have attitudes that can reflect a good life. The duck home patang motif depicts a philosophy of harmony or order in life. This motif is a form of Minang community identity that needs to be preserved and also cultivated. The values taught must be applied in order to be able to live based on the rules and norms that apply to the Minangkabau people. The implications of this research are expected to be one of the justifications for using a carved motif in Minang traditional houses, so that immigrants and local people do not wonder why this motif is used and not other motifs. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Tujuan penelitian adalah untuk mencari dan menemukan alasan penggunaan suatu motif sehingga dipilih sebagai salah satu ukiran di rumah adat tradisional masyarakat Minang yang merupakan salah satu bentuk jati diri kebudayaan suku Minang. Data dan sumber data pada penelitian berupa kata-kata dan kalimat yang diperoleh melalui studi lapangan dan wawancara narasumber dengan ketentuan usia 40-60 tahun yang bersuku minang asli. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, catat, dan analisis. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap analisis yaitu semantik skrip untuk menjelaskan makna kamus atau makna tulis, semantik kognitif menjelaskan makna yang menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, dan semantik inkuisitif yang menemukan alasan penggunaan suatu objek, lambang ataupun motif tersebut dipilih. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif itik dipilih karena itik memiliki sikap-sikap yang dapat mencerminkan kehidupan yang baik. Motif itik pulang patang menggambarkan filosofi keserasian atau keteraturan dalam hidup. motif ini merupakan salah satu bentuk jati diri masyarakat minang yang perlu dilestarikan dan juga dibudayakan. Nilai-nilai yang diajarkan harus diterapkan agar mampu hidup berdasarkan aturan dan norma-norma yang berlaku pada kaum Minangkabau. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pembenaran atas penggunaan suatu motif ukiran pada rumah adat Minang, sehingga masyarakat pendatang maupun lokal tidak bertanya-tanya mengapa motif ini yang digunakna bukan motif yang lain.
Motif Itik Pulang Patang Pada Rumah Adat Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang): Analisis Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.827.272--281

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as its main analysis. The aim of the research is to find and find reasons for using a motif so that it is chosen as one of the carvings in the traditional traditional house of the Minang people as one of the cultural identity of the Minang tribe. The data and data sources in the research are in the form of words and sentences obtained through field studies and interviews with informants with the age limit of 40-60 years who are native Minang tribes. Data collection techniques in this study used interviews, notes, and analysis. The data analysis technique uses three stages of analysis, namely script semantics to explain the meaning of the dictionary or written meaning, cognitive semantics to explain the meaning that connects experience with knowledge, and inquisitive semantics to find reasons for using an object, symbol or motif that is chosen. The results of the study explained that the duck motif was chosen because ducks have attitudes that can reflect a good life. The duck home patang motif depicts a philosophy of harmony or order in life. This motif is a form of Minang community identity that needs to be preserved and also cultivated. The values taught must be applied in order to be able to live based on the rules and norms that apply to the Minangkabau people. The implications of this research are expected to be one of the justifications for using a carved motif in Minang traditional houses, so that immigrants and local people do not wonder why this motif is used and not other motifs. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Tujuan penelitian adalah untuk mencari dan menemukan alasan penggunaan suatu motif sehingga dipilih sebagai salah satu ukiran di rumah adat tradisional masyarakat Minang yang merupakan salah satu bentuk jati diri kebudayaan suku Minang. Data dan sumber data pada penelitian berupa kata-kata dan kalimat yang diperoleh melalui studi lapangan dan wawancara narasumber dengan ketentuan usia 40-60 tahun yang bersuku minang asli. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, catat, dan analisis. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap analisis yaitu semantik skrip untuk menjelaskan makna kamus atau makna tulis, semantik kognitif menjelaskan makna yang menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, dan semantik inkuisitif yang menemukan alasan penggunaan suatu objek, lambang ataupun motif tersebut dipilih. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif itik dipilih karena itik memiliki sikap-sikap yang dapat mencerminkan kehidupan yang baik. Motif itik pulang patang menggambarkan filosofi keserasian atau keteraturan dalam hidup. motif ini merupakan salah satu bentuk jati diri masyarakat minang yang perlu dilestarikan dan juga dibudayakan. Nilai-nilai yang diajarkan harus diterapkan agar mampu hidup berdasarkan aturan dan norma-norma yang berlaku pada kaum Minangkabau. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pembenaran atas penggunaan suatu motif ukiran pada rumah adat Minang, sehingga masyarakat pendatang maupun lokal tidak bertanya-tanya mengapa motif ini yang digunakna bukan motif yang lain.