Claim Missing Document
Check
Articles

EUFEMISME DALAM PIDATO SOEKARNO PADA HARI KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA Andri Azaky; Okta Hari Mulya; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.516

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk, makna, dan fungsi eufemisme dalam pidato Soekarno pada hari kemerdekaan Indonesia, serta bagaimana eufemisme tersebut memberikan kekuatan dalam menggerakkan masyarakat. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, penelitian ini memfokuskan pada teks pidato yang diakses dari berita terbitan Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kemdikbud pada 20 Mei 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi teks dengan membaca dan mengidentifikasi frasa eufemisme dalam pidato. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik untuk mengelompokkan dan menginterpretasikan temuan. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima eufemisme yang tercakup dalam empat bentuk eufemisme: ekspresi figuratif, metafora, sirkumlokusi, dan kliping. Fungsi eufemisme yang ditemukan meliputi eufemisme perlindungan, eufemisme penyemangat, eufemisme provokasi, dan eufemisme kecurangan. Eufemisme dalam pidato Soekarno berhasil menyampaikan pesan dengan cara yang halus dan sopan, menjaga perasaan audiens, serta memberikan semangat dan motivasi dalam perjuangan kemerdekaan. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memahami penggunaan bahasa yang efektif dalam pidato publik serta pentingnya eufemisme dalam komunikasi yang sensitif dan persuasif.
KATEGORI FATIS BAHASA MELAYU RIAU DIALEK KAMPAR DALAM TRADISI LISAN BASIACUONG Maili Yusma; Annisa Rahmi; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.517

Abstract

Dalam komunikasi, terkhusus komunikasi verbal  ragam non-standar, terdapat   salah   satu   fungsi  bahasa   yang   cukup   unik,   yaitu   fatis. Ungkapan fatis banyak ditemukan dalam tuturan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kategori fatis dalam bahasa Melayu Riau dialek Kampar yang terdapat dalam tradisi lisan basicuong. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berasal dari tradisi lisan basiacuong yang  dikumpulkan melalui teknik studi dokumenter. Hasil penelitian menunjukkan kategori fatis dalam bahasa Melayu Riau dialek Kampar yang terdapat dalam tradisi lisan basicuong saat ma ulu jambau yaitu dalam bentuk partikel fatis (kan, tio, dan lah) dan bentuk kata fatis (alah, dek, kok, nyo, ka, nye, yo, ko, dan tu). Kategori fatis tersebut digunakan penutur dalam tradisi lisan basicuong untuk mematahkan, membuktian, mengukuhkan, menegaskan, serta meyakinkan petutur.
ANALISIS SOSIOPRAGMATIK METAFORA KATA "MULUT" DALAM KOMUNIKASI SEHARI-HARI: SEBUAH PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM KAJIAN PRAGMATIK SOSIAL Risky Yanti Ulfa; Sri Rahayu; Hermandra Hermandra
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.518

Abstract

Metafora merupakan salah satu elemen penting dalam kajian pragmatik, khususnya sosiopragmatik, yang melibatkan hubungan antara bahasa dan konteks sosial dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu metafora yang sering muncul dalam percakapan adalah kata "mulut". Kata ini sering digunakan dalam berbagai ekspresi dan ungkapan yang memiliki makna lebih dari sekedar bagian tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana metafora kata "mulut" digunakan dalam komunikasi sehari-hari, dengan pendekatan sosiopragmatik yang memperhatikan konteks sosial dalam penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis wacana, di mana data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara di berbagai konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora "mulut" memiliki berbagai makna yang beragam, yang dipengaruhi oleh faktor sosial seperti status, hubungan sosial, dan peran komunikasi dalam interaksi sosial. Kata "mulut" berfungsi sebagai simbol ekspresi, komunikasi, dan pengaruh dalam masyarakat. Melalui analisis ini, kita dapat memahami bagaimana penggunaan metafora dalam percakapan sosial mencerminkan dinamika hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Motif Itik Pulang Patang Pada Rumah Adat Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang): Analisis Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.827.272--281

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as its main analysis. The aim of the research is to find and find reasons for using a motif so that it is chosen as one of the carvings in the traditional traditional house of the Minang people as one of the cultural identity of the Minang tribe. The data and data sources in the research are in the form of words and sentences obtained through field studies and interviews with informants with the age limit of 40-60 years who are native Minang tribes. Data collection techniques in this study used interviews, notes, and analysis. The data analysis technique uses three stages of analysis, namely script semantics to explain the meaning of the dictionary or written meaning, cognitive semantics to explain the meaning that connects experience with knowledge, and inquisitive semantics to find reasons for using an object, symbol or motif that is chosen. The results of the study explained that the duck motif was chosen because ducks have attitudes that can reflect a good life. The duck home patang motif depicts a philosophy of harmony or order in life. This motif is a form of Minang community identity that needs to be preserved and also cultivated. The values taught must be applied in order to be able to live based on the rules and norms that apply to the Minangkabau people. The implications of this research are expected to be one of the justifications for using a carved motif in Minang traditional houses, so that immigrants and local people do not wonder why this motif is used and not other motifs. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Tujuan penelitian adalah untuk mencari dan menemukan alasan penggunaan suatu motif sehingga dipilih sebagai salah satu ukiran di rumah adat tradisional masyarakat Minang yang merupakan salah satu bentuk jati diri kebudayaan suku Minang. Data dan sumber data pada penelitian berupa kata-kata dan kalimat yang diperoleh melalui studi lapangan dan wawancara narasumber dengan ketentuan usia 40-60 tahun yang bersuku minang asli. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, catat, dan analisis. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap analisis yaitu semantik skrip untuk menjelaskan makna kamus atau makna tulis, semantik kognitif menjelaskan makna yang menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, dan semantik inkuisitif yang menemukan alasan penggunaan suatu objek, lambang ataupun motif tersebut dipilih. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif itik dipilih karena itik memiliki sikap-sikap yang dapat mencerminkan kehidupan yang baik. Motif itik pulang patang menggambarkan filosofi keserasian atau keteraturan dalam hidup. motif ini merupakan salah satu bentuk jati diri masyarakat minang yang perlu dilestarikan dan juga dibudayakan. Nilai-nilai yang diajarkan harus diterapkan agar mampu hidup berdasarkan aturan dan norma-norma yang berlaku pada kaum Minangkabau. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pembenaran atas penggunaan suatu motif ukiran pada rumah adat Minang, sehingga masyarakat pendatang maupun lokal tidak bertanya-tanya mengapa motif ini yang digunakna bukan motif yang lain.
Motif Itik Pulang Patang Pada Rumah Adat Tradisional Minangkabau (Rumah Gadang): Analisis Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Aksara Vol 34, No 2 (2022): AKSARA, EDISI DESEMBER 2022
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v34i2.827.272--281

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as its main analysis. The aim of the research is to find and find reasons for using a motif so that it is chosen as one of the carvings in the traditional traditional house of the Minang people as one of the cultural identity of the Minang tribe. The data and data sources in the research are in the form of words and sentences obtained through field studies and interviews with informants with the age limit of 40-60 years who are native Minang tribes. Data collection techniques in this study used interviews, notes, and analysis. The data analysis technique uses three stages of analysis, namely script semantics to explain the meaning of the dictionary or written meaning, cognitive semantics to explain the meaning that connects experience with knowledge, and inquisitive semantics to find reasons for using an object, symbol or motif that is chosen. The results of the study explained that the duck motif was chosen because ducks have attitudes that can reflect a good life. The duck home patang motif depicts a philosophy of harmony or order in life. This motif is a form of Minang community identity that needs to be preserved and also cultivated. The values taught must be applied in order to be able to live based on the rules and norms that apply to the Minangkabau people. The implications of this research are expected to be one of the justifications for using a carved motif in Minang traditional houses, so that immigrants and local people do not wonder why this motif is used and not other motifs. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Tujuan penelitian adalah untuk mencari dan menemukan alasan penggunaan suatu motif sehingga dipilih sebagai salah satu ukiran di rumah adat tradisional masyarakat Minang yang merupakan salah satu bentuk jati diri kebudayaan suku Minang. Data dan sumber data pada penelitian berupa kata-kata dan kalimat yang diperoleh melalui studi lapangan dan wawancara narasumber dengan ketentuan usia 40-60 tahun yang bersuku minang asli. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara, catat, dan analisis. Teknik analisis data menggunakan tiga tahap analisis yaitu semantik skrip untuk menjelaskan makna kamus atau makna tulis, semantik kognitif menjelaskan makna yang menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan, dan semantik inkuisitif yang menemukan alasan penggunaan suatu objek, lambang ataupun motif tersebut dipilih. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif itik dipilih karena itik memiliki sikap-sikap yang dapat mencerminkan kehidupan yang baik. Motif itik pulang patang menggambarkan filosofi keserasian atau keteraturan dalam hidup. motif ini merupakan salah satu bentuk jati diri masyarakat minang yang perlu dilestarikan dan juga dibudayakan. Nilai-nilai yang diajarkan harus diterapkan agar mampu hidup berdasarkan aturan dan norma-norma yang berlaku pada kaum Minangkabau. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu pembenaran atas penggunaan suatu motif ukiran pada rumah adat Minang, sehingga masyarakat pendatang maupun lokal tidak bertanya-tanya mengapa motif ini yang digunakna bukan motif yang lain.
Metafora Kata “Hati” dalam Bahasa Melayu Riau: Analisis Semantik Kognitif (The Metaphor of the Word “Hati” (Heart) In Malay Language of Riau: Cognitive Semantics Analysis) Hermandra Hermandra
Indonesian Language Education and Literature Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v8i1.11452

Abstract

This study aims to examine the metaphor of the word "heart" in Riau Malay. This research is a qualitative descriptive study using cognitive semantic analysis. The research data comes from the speech of the Riau Malay people who use the metaphorical word "heart". Data was collected through interviews using fishing, tapping, listening and speaking techniques accompanied by recording techniques. The results of the study show that the metaphor of the word "heart" includes: small heart, big heart, broken heart, heart, fruit, eyes of heart, the heart of stone, solar plexus, conscience, hard heart, and rotten heart. This study describes the Malay community in producing speech using figurative language to make it look more polite. The use of figurative words can make the conversation more polite.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji metafora kata “hati” dalam bahasa Melayu Riau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis semantik kognitif. Data penelitian berasal dari tuturan masyarakat Melayu Riau yang menggunakan ungkapan metafora kata “hati”. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan teknik pancing, sadap, dan simak libat cakap disertai dengan teknik rekam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora kata “hati”, meliputi: kecil hati, besar hati, patah hati, jantung hati, buah hati, mata hati, hati batu, ulu hati, hati nurani, keras hati, dan busuk hati. Penelitian ini menggambarkan masyarakat Melayu dalam menghasilkan tuturan dengan menggunakan bahasa kias agar terlihat lebih santun. Penggunaan kata kias dapat menjadikan percakapan menjadi lebih sopan.
Metafora Serangga Dalam Peribahasa Melayu: Analisis Semantik Kognitif Nadia Rahmah; Hermandra; Mangatur Sinaga
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8450

Abstract

Penelitian ini berjudul Metafora Serangga dalam Peribahasa Melayu Analisis Semantik Kognitif yang bertujuan mendeskripsikan makna dan jenis metafora, serta skema citra yang terkandung dalam peribahasa Melayu yang menggunakan citra serangga. Penelitian ini berangkat dari pandangan bahwa bahasa mencerminkan cara berpikir dan sistem konseptual penuturnya, sementara peribahasa menjadi wadah untuk memahami nilai, pandangan hidup, dan pengalaman budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik kognitif dengan teori metafora konseptual Lakoff dan Johnson (2003) serta teori pendukung dari Akbar & Rahman (2016), Nuryadin & Nur (2021), Mane (2016), dan Sutedi (2016) mengenai tiga jenis metafora, yaitu struktural, ontologis, dan orientasional. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi terhadap 100 peribahasa Melayu yang mengandung unsur serangga dari Pusat Rujukan Persuratan Melayu dan peribahasa di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora struktural merupakan jenis yang paling dominan, diikuti oleh metafora ontologis dan orientasional. Metafora struktural menggambarkan karakter dan perilaku manusia melalui pengalaman fisik dan sifat khas serangga. Analisis skema citra memperlihatkan dominasi skema aktivitas atau gerak berulang, bagian-keseluruhan, dan linear atau sebab-akibat, disertai kemunculan skema ruang, kekuatan, tingkatan, serta warna dan visualisasi. Secara umum, metafora serangga dalam peribahasa Melayu merefleksikan nilai moral, sosial, dan kultural masyarakat Melayu yang berpijak pada pengalaman ekologis dan pandangan hidup yang menekankan keseimbangan serta keharmonisan dengan alam.
Unsur Pembentuk dan Makna Idiomatik dalam Rubrik Daerah Surat Kabar Riau Pos: Elements that Form and Idiomatic Meaning in the Regional Column of the Riau Pos Newspaper Jelia Jelia; Hermandra Hermandra; Mangatur Sinaga
JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 6 No. 01 (2026): Artikel Riset Periode Mei 2026
Publisher : Information Technology and Science(ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/jbsi.v6i01.8275

Abstract

This study aims to describe the elements that form idioms and their idiomatic meanings found in the regional section of the Riau Pos newspaper. The use of idioms in mass media, especially newspapers, plays an important role in enriching language style and conveying information more expressively. However, idioms can also cause misunderstandings because their meanings cannot be understood lexically. Therefore, a study of idiomatic meanings is important. This study uses a qualitative approach with a content analysis method. The data source is news texts from the regional section of the Riau Pos newspaper, published from February 10 to March 10, 2025, in the form of words, phrases, or expressions containing idioms. Data collection techniques involve documentation, reading, and recording, while data analysis includes data reduction, data presentation, and conclusion. The results of the study show that there are 34 idiom data classified into seven constituent elements, namely body parts, five senses, colors, natural objects, animals, plants, and numbers, and idioms are also found that are formed from a combination of two elements. Furthermore, the idiomatic meanings found are contextual and cannot be taken literally; they must be interpreted based on the context in which they are used within the sentence. These findings indicate that idioms in journalistic texts not only function as linguistic variation but also convey messages more effectively, engagingly, and communicatively to readers.
Motif Kawung Pada Batik Tradisional Yogyakarta: Kajian Semantik Inkuisitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 11, No 2 (2022): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v11i2.5219

Abstract

This study uses an inquisitive semantic approach as the main analysis. The data and sources of data in this study were obtained through interviews with sources, namely the Javanese people, especially the Yogyakarta area who lived in Siak Regency with an age range of 40-60 years. The resource persons were selected only in this age range because they have followed the journey of batik kawung from the area of origin with the manual manufacturing process until now in the transmigration area and its manufacture using a printing machine. Two different circumstances and two different processes certainly give birth to different points of view which are very interesting to study. Data collection techniques are by interviewing, taking notes, and analysis. The analysis process uses 3 stages, namely script semantics to find general meaning or a dictionary, then cognitive semantic analysis stage to understand meaning based on its relationship with the user community, and finally inquisitive semantics to find reasons for using kawung motifs in batik with high-level thinking and a combination various discipline. The results of the study explain that the kawung batik motif was chosen because it reflects on the original tree, namely sugar palm, all of which are very useful for daily life. The community hopes that the use of kawung batik cloth will be useful for many people and the surrounding environment. The kawung motif symbolizes the value of holiness, perfection, and purity for the Javanese people. This can be seen from the shape of the kawung pattern which is very neatly described in the form of four kawung seeds arranged around each other. AbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan semantik inkuisitif sebagai analisis utamanya. Data dan sumber data pada penelitian diperoleh melalui wawancara narasumber yaitu masyarakat Jawa khususnya daerah Yogyakarta yang tinggal di Kabupaten Siak dengan rentang usia 40—60 tahun. Narasumber dipilih hanya pada rentang usia tersebut karena mereka telah mengikuti perjalanan batik kawung mulai dari daerah asal dengan proses pembuatannya yang manual hingga sekarang di daerah transmigrasi dan pembuatannya yang sudah menggunakan mesin cetak. Dua keadaan yang berbeda dan juga dua proses berbeda tentu melahirkan sudut pandang yang berbeda yang sangat menarik untuk diteliti. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, catat, dan juga analisis. Proses analisis menggunakan 3 tahap yaitu semantik skrip untuk menemukan makna secara umum atau kamus, kemudian tahap analisis semantik kognitif untuk memahami makna berdasarkan hubungannya dengan masyarakat pengguna, dan yang terakhir semantik inkuisitif untuk menemukan alasan penggunaan motif kawung dalam batik dengan pemikiran aras tinggi dan juga gabungan berbagai disiplin ilmu. Hasil penelitian menjelaskan bahwa motif batik kawung dipilih karena bercermin dari pohon asalnya yaitu aren yang ke semua bagiannya sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari. Masyarakat berharap bahwa pengguna kain batik motif kawung akan berguna bagi orang banyak dan juga lingkungan sekitar. Motif kawung melambangkan nilai kesucian, kesempurnaan dan juga kemurnian bagi masyarakat Jawa. Hal ini dapat dilihat dari bentuk pola kawung yang digambarkan dengan sangat rapi berbentuk empat buah biji kawung yang disusun saling mengelilingi.
Metafora Kata Mata dalam Bahasa Melayu Riau: Analisis Semantik Kognitif Hermandra Hermandra
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.2243

Abstract

This study aims to examine the metaphor of the word "eye" in Riau Malay. This research is a qualitative descriptive study using cognitive semantic analysis. The research data was taken from the speech of the Malay community who used the metaphorical expression of the word "eye". The technique used in collecting data is an interview technique assisted by fishing, tapping, and listening to conversational techniques accompanied by recording techniques. Data analysis techniques in the form of data collection, data analysis, and drawing conclusions. The results showed that the use of the word mata can bring up various metaphorical expressions in the language of the Riau Malay community. Practically, the use of the eye can be found in the eye of the basket, knife blade, pineapple eye, hook, fish eye, ring eye, boil eye, panda eye, eye bag, ankle, head eye, and fish eye. The meanings that emerge can be understood and interpreted logically through the life experiences of the Riau Malay community. Experience as a marker that connects the meaning of the expressions conveyed by the Riau Malay community when communicating.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji metafora kata “mata” dalam bahasa Melayu Riau. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan analisis semantik kognitif. Data penelitian diambil dari tuturan masyarakat Melayu yang banyak menggunakan ungkapan metafora kata “mata”. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah teknik wawancara yang dibantu dengan teknik pancing, sadap, dan simak libat cakap yang disertai dengan teknik rekam. Teknik analisis data berupa pengumpulan data, analisis data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kata mata dapat memunculkan berbagai ungkapan metafora dalam berbahasa masyarakat Melayu Riau. Secara secara praktis, penggunaan mata dapat ditemukan pada mata telanjang, mata pisau, mata nanas, mata kail, mata ikan, mata cincin, mata bisul, mata panda, kantong mata, mata kaki, mata kepala, dan mata ikan. Makna yang muncul dapat dipahami dan diinterpretasi secara logika melalui pengalaman hidup masyarakat Melayu Riau. Pengalaman sebagai penanda yang menjadi penghubung maksud dari ungkapan yang disampaikan masyarakat Melayu Riau saat berkomunikasi.