Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Hubungan Karakteristik Perawat dengan Tingkat Pengetahuan mengenai Ventilator Associated Pnemonia (VAP) di Ruang ICU dan ICCU RS Husada Jakarta ojs, admin; Juliani, Enni; Rosliany, Nia; suharni, Suharni
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 2 No. 1 (2018): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 2/Nomor 1/Januari 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.024 KB) | DOI: 10.33377/jkh.v2i1.62

Abstract

Associated Ventilator Pneumonia (VAP) is defined as pneumonia that occurs 48 hours or more after a mechanical ventilator is administered. Associated Ventilator Pneumonia (VAP), is the most common form of nosocomial infection encountered in intensive care, especially in patients who use mechanical ventilators (Wiryana, 2007). The purpose of this study is to know the relationship of nurse characteristics to VAP knowledge level in ICU / ICCU Room of Husada Hospital, Central Jakarta. The results showed that there was a significant correlation between age, duration of work, education level with nurse knowledge level about VAP (p value <0,05). Nurses need to improve their ability to use mechanical ventilators to improve the quality of nursing care.
Hubungan Efikasi Diri Remaja dengan Pengetahuan, Sikap dan Praktik Pencegahan Infeksi COVID-19: Indonesia Lestari, Puspita Hanggit; Juliani, Enni; Rosliany, Nia
Jurnal Kesehatan Holistic Vol. 6 No. 1 (2022): Jurnal Kesehatan Holistic Volume 6/ Nomor 1/ Januari 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.74 KB) | DOI: 10.33377/jkh.v6i1.120

Abstract

Covid-19 has spread all over the world. All ages are at risk for COVID-19 infection, including adolescents who are at risk of contracting COVID-19 because of their high activity and tend to gather in groups. The impact of COVID-19 on adolescents can affect physical and mental health. This study was to obtain an overview of adolescent self-efficacy related to the prevention of COVID-19 infection and the knowledge, attitudes and COVID-19 prevention practices in adolescents. The study used a cross sectional method involving 389 adolescents with purposive sampling and snow ball sampling techniques. The results showed that the adolescent self-efficacy variable was 59.1% in the high category, adolescent knowledge was 66.8% in the low category, the attitude of preventing COVID-19 was found to be 55% in the low category, and the practice of preventing COVID-19 was 49.6% in the low category. The results of the analysis of the relationship between self-efficacy and COVID-19 prevention practices obtained a significant relationship between self-efficacy and COVID-19 prevention practices (p value = 0.012) and OR value = 1.679. Adolescents who have high self-efficacy have good COVID-19 prevention practices. The findings can be used to develop health promotions that aim to increase the prevention of COVID-19 in the youth aggregate.
Effect of Green Tea Aromatherapy on Blood Pressure in Hypertensive Patients at Semper Barat I Health Center Janati, Nur; Wahdini, Rizqa; Rosliany, Nia
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i2.4362

Abstract

Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang dikenal sebagai silent killer karena sering tanpa gejala namun berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, ginjal, dan stroke. Prevalensi hipertensi terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Salah satu alternatif penanganan non-farmakologis yang dapat diterapkan adalah penggunaan aromaterapi Green Tea yang mengandung senyawa aktif seperti polifenol dan L-theanine yang berpotensi menurunkan tekanan darah serta memberikan efek relaksasi sehingga mendukung keseimbangan sistem saraf otonom. Tujuan: Mengetahui pengaruh aromaterapi Green Tea terhadap perubahan tekanan darah pada penderita hipertensi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi experimen dengan rancangan pre and post test with control group. Sampel terdiri dari 36 responden, masing-masing 18 pada kelompok intervensi dan kontrol, dipilih dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Terdapat penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada kedua kelompok setelah intervensi. Kelompok intervensi mengalami penurunan rata-rata tekanan darah sistolik dari 151,83 mmHg menjadi 143,06 mmHg, dan diastolik dari 86,44 mmHg menjadi 83,61 mmHg. Uji Wilcoxon menunjukkan hasil signifikan (p<0,05) pada kedua kelompok, namun uji Mann-Whitney menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok (p>0,05). Kesimpulan: Aromaterapi Green Tea berpotensi membantu menurunkan tekanan darah, namun belum menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Penelitian lanjutan dengan durasi intervensi lebih panjang, ukuran sampel lebih besar, dan kontrol variabel lebih ketat dianjurkan untuk memperkuat bukti ilmiah.
The Relationship between Knowledge of the DASH Hypertension Diet and Hypertension Recurrence at the Pademangan Timur Community Health Center, North Jakarta Thania, Sarah; Wahdini, Rizqa; Rosliany, Nia
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v4i2.4365

Abstract

Hypertension is a chronic disease with a continuously increasing prevalence in Indonesia and is a major risk factor for cardiovascular diseases. One way to control hypertension is through a healthy diet, such as the DASH diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension). Good knowledge about the hypertension diet is believed to play an important role in reducing the recurrence of high blood pressure. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge of the hypertension diet and the recurrence of hypertension in patients at the community health center Pademangan Timur, North Jakarta. The study used a cross-sectional correlational quantitative design with 88 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using the DASH diet questionnaire and observation of recurrence over the last 3 months based on medical records, then analyzed using the Chi-Square test and Fisher Exact Test. The results show that the majority of respondents have good to sufficient knowledge (97.5%) and the majority did not experience a relapse (87.5%). There is a significant relationship between knowledge of hypertensive diet and the relapse of hypertension (p = 0.000). It is concluded that good knowledge regarding hypertensive diet can reduce the risk of relapse. Therefore, this study provides evidence that knowledge of the DASH diet plays an important role in preventing hypertension relapse, which impacts the risk of further diseases, and these findings can also be utilized by health workers to strengthen educational programs and healthy diet interventions in promotional and preventive efforts against hypertension.
Edukasi Kesehatan dan Literasi Digital Terhadap Insomnia di Kalangan Remaja Sekolah Yari, Yarwin; La Ramba, Hardin; Rosliany, Nia; Wahyudi, Adi; Cantika, Marsya Aulia
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 2 (2025): Bulan November
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i2.741

Abstract

Edukasi kesehatan dan literasi digital terhadap insomnia di kalangan remaja dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang pengaruh penggunaan media sosial terhadap pola tidur. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di SMA X, Jakarta Utara, dengan melibatkan 50 siswa sebagai peserta. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukasi kesehatan berbasis literasi digital melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai penyebab dan pencegahan insomnia setelah mengikuti edukasi. Seluruh peserta mampu memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan waktu istirahat. Kegiatan ini membuktikan bahwa literasi digital yang dikombinasikan dengan edukasi kesehatan efektif dalam membentuk perilaku hidup sehat di era digital. Dengan demikian, program pengabdian masyarakat ini berkontribusi nyata terhadap peningkatan kesadaran remaja dalam mencegah gangguan tidur akibat penggunaan media sosial berlebihan.
Hubungan Self Efficacy dengan Kepatuhan Diet pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Sawah Besar Jakarta Pusat Anggraeni, Ryana Iga; Nia Rosliany; Yarwin Yari
JURNAL KESEHATAN PRIMER Vol 10 No 2 (2025): JKP (Jurnal Kesehatan Primer)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/jkp.v10i2.2090

Abstract

Background: Hypertension is a non-communicable disease with a prevalence continues to increase nationally and globally. This condition can cause serious complications such as stroke, kidney failure, and heart disease. Hypertension management is not only through drug therapy, but also includes healthy lifestyle changes and dietary compliance. One factor that supports compliance is self-efficacy, namely an individual's belief in their ability to perform certain behaviors, including following a hypertension diet. Objective: To determine the relationship between self-efficacy and dietary compliance in hypertension patients at the Sawah Besar Community Health Center, Central Jakarta. Method: This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The data analysis technique used in this study was the Spearman rho test with a sample of 190 respondents. Results: The results showed that the majority of respondents had high self-efficacy and were compliant with the diet. Based on the results of statistical tests, the p value = 0.000 and r value 0.922 indicated a very strong relationship between self-efficacy and dietary compliance.
Hubungan Tindakan Elevasi Ekstremitas Bawah Oleh Perawat Terhadap Penyembuhan Luka Pasien Ulkus Diabetes Melitus Khotimah, Ayu; Wahdini, Rizqa; Rosliany, Nia
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.636

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang terus meningkat di Indonesia dan dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti ulkus diabetes melitus. Ulkus ini menjadi penyebab utama amputasi ekstremitas bawah serta menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu intervensi sederhana yang dapat mempercepat penyembuhan luka adalah elevasi ekstremitas bawah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara tindakan elevasi ekstremitas bawah oleh perawat terhadap penyembuhan luka pasien ulkus diabetes melitus di RSUD Pasar Rebo. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional non-eksperimental dan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 50 perawat diambil melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Hasil menunjukkan bahwa 90% perawat melakukan elevasi secara adekuat dan 84% pasien mengalami penyembuhan luka dengan cepat. Uji Fisher’s Exact Test menunjukkan nilai p = 0,024 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara tindakan elevasi ekstremitas bawah dengan penyembuhan luka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa elevasi ekstremitas bawah merupakan intervensi keperawatan yang efektif, karena dapat meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema, serta memperbaiki perfusi jaringan pada area luka. Posisi elevasi yang tepat membantu meningkatkan distribusi oksigen dan nutrisi ke jaringan perifer, sehingga mempercepat proses granulasi, epitelisasi, dan regenerasi sel pada luka. Tindakan ini, jika dilakukan dengan sudut 30°–45° selama ≥15 menit sebanyak 2–3 kali per hari dan disertai pemantauan kondisi kulit dan kenyamanan pasien, terbukti mampu mempercepat proses regenerasi jaringan dan memperpendek waktu penyembuhan luka pada pasien ulkus diabetes melitus
Hubungan Gaya Hidup Konsumsi Kafein Terhadap Kekambuhan Hipertensi di Puskesmas Rachmah, Alya Putri; Wahdini, Rizqa; Rosliany, Nia
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/JKA.637

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang berkembang perlahan dan sering tanpa gejala, sehingga dikenal sebagai “silent killer”. Tekanan darah tinggi yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung dan ginjal. Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta tahun 2024 menunjukkan bahwa angka kejadian hipertensi di Jakarta Timur masih tinggi, sehingga diperlukan upaya pengendalian faktor risikonya. Salah satu faktor gaya hidup yang berpengaruh terhadap tekanan darah adalah konsumsi kopi. Kopi mengandung kafein, yaitu zat stimulan yang dapat meningkatkan tekanan darah melalui mekanisme vasokonstriksi dan stimulasi sistem saraf pusat.Penelitian bertujuan mengetahui hubungan antara konsumsi kopi terhadap kekambuhan hipertensi di Puskesmas Duren Sawit, Jakarta Timur. Metode penelitian digunakan adalah kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dokumentasi rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan konsumsi kopi sedang hingga tinggi mengalami kekambuhan hipertensi, dengan nilai P = 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat hubungan signifikan antara konsumsi kopi terhadap kekambuhan hipertensi. Peneliti menyimpulkan bahwa konsumsi kopi berlebihan berkaitan erat dengan kekambuhan hipertensi, sehingga pengendalian gaya hidup dan pembatasan asupan kafein penting untuk mencegah kekambuhan serta komplikasi hipertensi
HUBUNGAN ANTARA KONSUMSI KOPI TERHADAP GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD) PADA MAHASISWA KESEHATAN DI DKI JAKARTA Firdaus, Gabriel Valmorrine; Rosliany, Nia; Yari, Yarwin
Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12 No 1 (2026): Jurnal Penelitian Keperawatan
Publisher : STIKES RS Baptis Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32660/jpk.v12i1.934

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah gangguan pencernaan yang cukup sering terjadi, salah satunya dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola konsumsi, termasuk konsumsi kopi. Kebiasaan minum kopi di kalangan mahasiswa cukup tinggi, meskipun mahasiswa kesehatan memiliki pemahaman mengenai dampak dari GERD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi kopi terhadap kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel sebanyak 104 responden mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta diperoleh melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner GERD-Q dan kuesioner konsumsi kopi, lalu dianalisis dengan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berusia 21–24 tahun, mayoritas berjenis kelamin perempuan, dengan jenis kopi yang paling banyak dikonsumsi adalah kopi instan, dan mayoritas baru mengkonsumsi kopi selama 0–1 tahun. Lebih dari separuh responden (51,9%) memiliki kemungkinan mengalami GERD. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD (p=0,029). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsumsi kopi dengan kejadian GERD pada mahasiswa kesehatan di DKI Jakarta. Hasil ini diharapkan dapat menjadi perhatian bagi mahasiswa untuk lebih bijak dalam mengkonsumsi kopi guna mencegah risiko GERD.