Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Edukasi Pertolongan Pertama Luka Bakar Untuk Meningkatkan Keselamatan Masyarakat Reghula Maryeti Sandra; Angriawan Angriawan; Anshar Rante; Safrina Ramadhani; Zaenal Zaenal
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i3.1220

Abstract

ABSTRACT Burn injuries are common incidents in the community and can lead to serious consequences if not properly managed. Lack of knowledge regarding first aid for burns may increase the risk of complications and worsen the condition. This community service program aims to improve public knowledge and skills in providing first aid for burn injuries. The method used was a participatory educational approach through counseling, demonstrations, and hands-on practice. The activity involved 50 community participants. Evaluation was conducted using pre-test and post-test as well as skill observation. The results showed an increase in knowledge from an average score of 54.6 to 83.8. Participants also demonstrated improved skills in proper burn first aid management. In conclusion, burn first aid education is effective in improving community safety. Keywords: Burn Injury, First Aid, Health Education, Community Safety, Community Service ABSTRAK Luka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi di masyarakat dan dapat menyebabkan dampak serius jika tidak ditangani dengan tepat. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pertolongan pertama luka bakar dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperparah kondisi luka. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus luka bakar. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung. Kegiatan melibatkan 50 peserta dari masyarakat umum. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi keterampilan peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dari nilai rata-rata 54,6 menjadi 83,8. Selain itu, terjadi peningkatan keterampilan peserta dalam melakukan penanganan luka bakar secara tepat. Kesimpulan menunjukkan bahwa edukasi pertolongan pertama luka bakar efektif dalam meningkatkan keselamatan masyarakat. Kata Kunci: Luka Bakar, Pertolongan Pertama, Edukasi Kesehatan, Keselamatan Masyarakat, Pengabdian Masyarakat
Relationship Between Functional Independence and Fall Risk in Indonesian Community-Dwelling Elderly Djusmadi Rasyid; Anshar Rante; Warda Warda; Ismunandar Ismunandar; Hardianto Dg. Salimung
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v20i1.4293

Abstract

Background: Falls among older adults remain a leading cause of injury and loss of independence worldwide. Early detection of functional decline is essential to prevent fall-related complications. This study aimed to examine the correlation between functional independence and fall risk among older adults by employing the Barthel Index and the Timed Up and Go Test (TUGT). Given projections that the global elderly population will surpass 2 billion by 2050, these findings emphasize the importance of integrating functional independence screening into community-based fall prevention programs. Methods: This observational analytical study with a cross-sectional design was conducted in Saronda Village, North Sulawesi, Indonesia, involving 32 community-dwelling elderly aged 60 years and above. Functional independence was assessed using the Barthel Index, while fall risk was evaluated with the TUGT. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. Ethical approval was obtained from the Health Research Ethics Committee of STIKES Kamus Arunika, and all participants provided informed consent. Results: The majority of participants (56.25%) demonstrated functional independence; however, 59.38% were identified as having a high fall risk. Statistical analysis revealed a significant negative correlation between Barthel Index scores and TUGT completion time (r = –0.904; p < 0.001), indicating that higher functional independence was associated with lower fall risk. Conclusion: Greater functional independence is significantly associated with a reduced risk of falls among elderly. These findings highlight the importance of regular functional assessments using the Barthel Index and TUGT as practical tools for early identification of fall risk and for guiding gerontological nursing interventions in community settings.
Karakteristik Distres Spiritual pada Pasien HIV/AIDS di RSU Sawerigading Palopo: Characteristics of Spiritual Disstres in HIV/AIDS Patients in Sawerigading RSU Palopo Anshar Rante; Djusmadi Rasyid; Warda M; Ema Julita; Nur Afifah; M. Khalid Freedy Saputra; Rahmat Pannyiwi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 6 No. 12 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i12.3763

Abstract

Latar belakang: Setelah seseorang dinyatakan positif terkena HIV, maka hidupnya akan berjalan pada jalur yang berbeda dari rencana hidup sebelumnya. Beratnya permasalahan yang dirasakan oleh pasien HIV/AIDS mempengaruhi aspek psikologis, sosial dan spiritual. Pasien bisa mengalami masalah finansial, berduka berkepanjangan, frustasi, merasa bersalah, depresi dan ketakutan menghadapi kematian. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik distress spiritual pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) RSU Sawerigading Palopo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang bertujuan untuk melihat karakteristik spiritual pada pasien dengan HIV/AIDS ODHA di RSU Sawerigading Palopo Sampel di ambil dengan teknik proposive sampling yaitu cara mengambil sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti sehingga mewakili karakteristik populasi sejumlah 35 sampel. Hasil: Penelitian menunjukkan Menunjukkan sebanyak 16 responden (46%) Merasa bersalah pada diri sendiri pada aspek hubungan dengan orang lain responden merasa diasingkan , tidak ingin berinteraksi dengan keluarga, Saya memisahkan diri dari kelompok agama di masyarakat sebanyak 2 responden (6%) kemudian pada aspek hubungan dengan hubungan dengan seni ,musik dan literatur alam sebanyak 4 responden (11%) tidak suka membaca literatur spiritual (kitab suci,buku agama).Pada aspek hubungan dengan pencipta (Tuhan) paling banyak sekitar 49 % responden yang butuh nasehat dari pemimpin atau tokoh agama. Kesimpulan: Karakteristik distres spiritual pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Sawerigading Kota Palopo paling banyak pada aspek hubungan dengan tuhan pada pernyataan Saya ingin/saya butuh nasehat dari pemimpin atau tokoh agama.