Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Edukasi Pertolongan Pertama Luka Bakar Untuk Meningkatkan Keselamatan Masyarakat Reghula Maryeti Sandra; Angriawan Angriawan; Anshar Rante; Safrina Ramadhani; Zaenal Zaenal
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Juni)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i3.1220

Abstract

ABSTRACT Burn injuries are common incidents in the community and can lead to serious consequences if not properly managed. Lack of knowledge regarding first aid for burns may increase the risk of complications and worsen the condition. This community service program aims to improve public knowledge and skills in providing first aid for burn injuries. The method used was a participatory educational approach through counseling, demonstrations, and hands-on practice. The activity involved 50 community participants. Evaluation was conducted using pre-test and post-test as well as skill observation. The results showed an increase in knowledge from an average score of 54.6 to 83.8. Participants also demonstrated improved skills in proper burn first aid management. In conclusion, burn first aid education is effective in improving community safety. Keywords: Burn Injury, First Aid, Health Education, Community Safety, Community Service ABSTRAK Luka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi di masyarakat dan dapat menyebabkan dampak serius jika tidak ditangani dengan tepat. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pertolongan pertama luka bakar dapat meningkatkan risiko komplikasi dan memperparah kondisi luka. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus luka bakar. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukatif-partisipatif melalui penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung. Kegiatan melibatkan 50 peserta dari masyarakat umum. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi keterampilan peserta. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dari nilai rata-rata 54,6 menjadi 83,8. Selain itu, terjadi peningkatan keterampilan peserta dalam melakukan penanganan luka bakar secara tepat. Kesimpulan menunjukkan bahwa edukasi pertolongan pertama luka bakar efektif dalam meningkatkan keselamatan masyarakat. Kata Kunci: Luka Bakar, Pertolongan Pertama, Edukasi Kesehatan, Keselamatan Masyarakat, Pengabdian Masyarakat
Relationship Between Functional Independence and Fall Risk in Indonesian Community-Dwelling Elderly Djusmadi Rasyid; Anshar Rante; Warda Warda; Ismunandar Ismunandar; Hardianto Dg. Salimung
Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 20 No. 1 (2026)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v20i1.4293

Abstract

Background: Falls among older adults remain a leading cause of injury and loss of independence worldwide. Early detection of functional decline is essential to prevent fall-related complications. This study aimed to examine the correlation between functional independence and fall risk among older adults by employing the Barthel Index and the Timed Up and Go Test (TUGT). Given projections that the global elderly population will surpass 2 billion by 2050, these findings emphasize the importance of integrating functional independence screening into community-based fall prevention programs. Methods: This observational analytical study with a cross-sectional design was conducted in Saronda Village, North Sulawesi, Indonesia, involving 32 community-dwelling elderly aged 60 years and above. Functional independence was assessed using the Barthel Index, while fall risk was evaluated with the TUGT. Data were analyzed using the Spearman rank correlation test. Ethical approval was obtained from the Health Research Ethics Committee of STIKES Kamus Arunika, and all participants provided informed consent. Results: The majority of participants (56.25%) demonstrated functional independence; however, 59.38% were identified as having a high fall risk. Statistical analysis revealed a significant negative correlation between Barthel Index scores and TUGT completion time (r = –0.904; p < 0.001), indicating that higher functional independence was associated with lower fall risk. Conclusion: Greater functional independence is significantly associated with a reduced risk of falls among elderly. These findings highlight the importance of regular functional assessments using the Barthel Index and TUGT as practical tools for early identification of fall risk and for guiding gerontological nursing interventions in community settings.
Karakteristik Distres Spiritual pada Pasien HIV/AIDS di RSU Sawerigading Palopo: Characteristics of Spiritual Disstres in HIV/AIDS Patients in Sawerigading RSU Palopo Anshar Rante; Djusmadi Rasyid; Warda M; Ema Julita; Nur Afifah; M. Khalid Freedy Saputra; Rahmat Pannyiwi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2023)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v6i12.3763

Abstract

Latar belakang: Setelah seseorang dinyatakan positif terkena HIV, maka hidupnya akan berjalan pada jalur yang berbeda dari rencana hidup sebelumnya. Beratnya permasalahan yang dirasakan oleh pasien HIV/AIDS mempengaruhi aspek psikologis, sosial dan spiritual. Pasien bisa mengalami masalah finansial, berduka berkepanjangan, frustasi, merasa bersalah, depresi dan ketakutan menghadapi kematian. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik distress spiritual pada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) RSU Sawerigading Palopo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang bertujuan untuk melihat karakteristik spiritual pada pasien dengan HIV/AIDS ODHA di RSU Sawerigading Palopo Sampel di ambil dengan teknik proposive sampling yaitu cara mengambil sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti sehingga mewakili karakteristik populasi sejumlah 35 sampel. Hasil: Penelitian menunjukkan Menunjukkan sebanyak 16 responden (46%) Merasa bersalah pada diri sendiri pada aspek hubungan dengan orang lain responden merasa diasingkan , tidak ingin berinteraksi dengan keluarga, Saya memisahkan diri dari kelompok agama di masyarakat sebanyak 2 responden (6%) kemudian pada aspek hubungan dengan hubungan dengan seni ,musik dan literatur alam sebanyak 4 responden (11%) tidak suka membaca literatur spiritual (kitab suci,buku agama).Pada aspek hubungan dengan pencipta (Tuhan) paling banyak sekitar 49 % responden yang butuh nasehat dari pemimpin atau tokoh agama. Kesimpulan: Karakteristik distres spiritual pada pasien HIV/AIDS di Rumah Sakit Sawerigading Kota Palopo paling banyak pada aspek hubungan dengan tuhan pada pernyataan Saya ingin/saya butuh nasehat dari pemimpin atau tokoh agama.
Analysis of the Application of Emergency Severity Index Toward Patient Triage Response Time In the Emergency Department: Literature Review Nesi Nggosual; Anshar Rante; Djusmadi Rasyid; Cici Pratiwi
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 7 No. 11 (2024)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v7i11.6287

Abstract

Introduction: Triage is the process of determining the condition of patients at risk of death, potential disability, and worsening patient conditions. Response time is crucial in treating patients quickly and accurately. Objective This literature study aims to analyze the application of the Emergency Severity Index (ESI) Triage to the Triage Response Time in the Emergency Department. Methods: This research employs a literature review study with an analytic method approach that meets the inclusion and exclusion criteria. The search for articles or journals utilizes keywords and Boolean operators to refine the search and select relevant literature. The keywords used include ESI, Triage, Response time," and "Emergency Department. Results: The study reveals the effectiveness of utilizing the Emergency Severity Index (ESI) Triage on Triage Response Time in the Emergency Department. . Conclusion The speed at which nurses respond and determine patient triage can be enhanced through the use of ESI (Emergency Severity Index). To support this, nurses must possess knowledge and skills related to the ESI to minimize the mortality rate of patients.
Effect of BTCLS Training on Emergency Department Clinicians' Competencies in Cardiac Arrest Management: A Single-Group Pretest–Posttest Study at Pongtiku General Hospital Anshar Rante; Djusmadi Rasyid; Hardianto Dg Salimung; Warda M
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v9i1.8447

Abstract

ntroduction: Cardiac arrest refers to a critical condition in which the heart abruptly ceases to pump blood effectively, leading to an interruption of blood flow throughout the body. This disruption prevents vital organs, including the brain and heart, from receiving the necessary oxygen and nutrients. Without immediate intervention, cardiac arrest can result in fatality or irreversible brain damage within minutes. The Emergency Department is pivotal in managing cardiac arrest cases. As the first line of healthcare response, it is imperative for medical personnel to engage in ongoing training and education to enhance the quality of emergency care, particularly in scenarios involving cardiac arrest Methods: This study employed a single-group pretest-posttest design involving 24 clinicians from the emergency department of Rumah Sakit Umum (RSU) Pongtiku. Data collection utilized validated instruments, including a 25-item multiple-choice knowledge assessment (Cronbach’s ? = 0.87) and a 10-item psychomotor skill checklist (inter-rater reliability = 0.89). The normality of the data was assessed using the Shapiro-Wilk test. Given that the data did not follow a normal distribution, the Wilcoxon signed-rank test was used for analysis. Results: The results of the analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test indicate that all respondents experienced an increase in knowledge scores after being given the educational intervention, with a value of Z = -4.288 and a significance value (Asymp. Sig. 2-tailed) of 0.000 (p < 0.05). This shows that there is a significant difference between pretest and posttest knowledge scores. Therefore, the educational intervention provided is effective in increasing respondents' knowledge.Based on the results of the Wilcoxon Signed-Rank Test analysis, a Z value of -4.046 was obtained, with a significance value (Asymp. Sig. 2-tailed) of 0.000 (p < 0.05). This result indicates that there is a significant difference in skill scores before and after the educational intervention. A total of 21 respondents experienced an increase in their skills, while 3 respondents maintained the same score. Therefore, the educational intervention provided was effective in improving the skills of the respondents. Conclusion: BTCLS training for emergency department nurses significantly increases knowledge scores and standardized skills in the short term. These results support the sustainability of the program and highlight the need for curriculum improvement. Further research is necessary to evaluate retention and its impact on clinical indicators.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) Untuk Meningkatkan Respons Kedaruratan Masyarakat: Basic Life Support (BLS) Training to Enhance Community Emergency Response Anshar Rante; Rahmat Pannyiwi
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i4.1660

Abstract

Latar Belakang: Kejadian kegawatdaruratan dapat terjadi kapan saja dan membutuhkan respons cepat sebelum korban mendapatkan pertolongan dari tenaga kesehatan. Keterlambatan memberikan pertolongan pada kondisi henti jantung dan henti napas dapat meningkatkan risiko kematian maupun kecacatan. Masyarakat sebagai orang yang sering berada paling dekat dengan korban memiliki peran penting dalam memberikan pertolongan awal. Namun, keterbatasan pengetahuan dan keterampilan mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) dapat menyebabkan masyarakat ragu atau melakukan tindakan yang tidak tepat. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan respons terhadap kondisi kegawatdaruratan. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan dengan melibatkan 35 orang masyarakat. Metode kegiatan terdiri atas pretest, penyuluhan mengenai kegawatdaruratan dan BHD, demonstrasi, praktik langsung menggunakan manekin, diskusi, simulasi penanganan korban henti jantung, serta posttest dan evaluasi keterampilan. Materi meliputi pengenalan kondisi henti jantung, pemeriksaan respons korban, aktivasi sistem pertolongan, kompresi dada, ventilasi, penggunaan Automated External Defibrillator (AED), serta tindakan setelah pertolongan diberikan. Hasil: Terjadi peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti pelatihan. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 56,9 sebelum pelatihan menjadi 87,4 setelah pelatihan. Evaluasi keterampilan menunjukkan sebagian besar peserta mampu melakukan pemeriksaan respons, meminta bantuan, melakukan kompresi dada dengan teknik yang benar, dan mengikuti urutan tindakan BHD secara sistematis. Kesimpulan: Pelatihan BHD dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan, khususnya henti jantung dan henti napas. Pelatihan secara berkala diperlukan untuk mempertahankan keterampilan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kejadian kegawatdaruratan.
Analisis Faktor Yang Memengaruhi Gangguan Mobilitas Ekstremitas Bawah Pada Pasien Rawat Jalan: Analysis of Factors Influencing Lower-Extremity Mobility Impairment in Outpatients Anshar Rante; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1811

Abstract

Latar belakang: Gangguan mobilitas ekstremitas bawah dapat membatasi kemampuan berjalan, berpindah posisi, dan melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat berkaitan dengan faktor individu, keluhan klinis, serta kapasitas fisik pasien. Identifikasi faktor yang berhubungan dengan gangguan mobilitas diperlukan untuk mendukung skrining dan perencanaan pelayanan rehabilitatif pada pasien rawat jalan. Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan mobilitas ekstremitas bawah pada pasien rawat jalan. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan potong lintang. Penelitian dirancang pada 129 pasien rawat jalan di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan selama Mei–Juli 2026. Variabel independen meliputi usia, tingkat nyeri, penyakit penyerta, aktivitas fisik, kekuatan otot ekstremitas bawah, dan keseimbangan. Gangguan mobilitas dinilai berdasarkan pemeriksaan fungsional berjalan dan berpindah. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil: Dari 129 responden, 54 orang (41,9%) mengalami gangguan mobilitas ekstremitas bawah. Analisis multivariat menunjukkan bahwa kelemahan otot ekstremitas bawah (AOR=3,40; 95% CI: 1,48–7,82), gangguan keseimbangan (AOR=2,40; 95% CI: 1,08–5,36), dan usia ≥60 tahun (AOR=2,10; 95% CI: 1,01–4,39) berhubungan dengan gangguan mobilitas. Aktivitas fisik rendah juga menunjukkan hubungan setelah penyesuaian, meskipun kekuatan asosiasinya lebih rendah (AOR=1,90; 95% CI: 0,89–4,05). Kesimpulan: Kelemahan otot, gangguan keseimbangan, dan usia lanjut merupakan faktor yang berhubungan dengan gangguan mobilitas ekstremitas bawah dalam rancangan penelitian ini. Skrining fungsional dan penilaian faktor risiko dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pelayanan pasien rawat jalan.