Filter By Year

1945 2024


Found 841 documents
Search RADIOLOGI

Pemahaman dan Pengalaman Pengguna terhadap Penerapan PACS (Picture Archiving and Communication System) pada Layanan Radiologi Samsi, Farah Aulia Rahma; Nugroho, Anshor; Mayani, Anita Nur
TIN: Terapan Informatika Nusantara Vol 6 No 4 (2025): September 2025
Publisher : Forum Kerjasama Pendidikan Tinggi (FKPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47065/tin.v6i4.8311

Abstract

Picture Archiving and Communication System (PACS) is a computer-based technology designed to manage the acquisition, transmission, storage, distribution, display, and interpretation of medical images across institutions. This system is tightly integrated with imaging processes in the Radiology Department and clinical practices that depend on radiological examinations. At the Radiology Installation of RSUD Panembahan Senopati Bantul, the delivery of radiology results has become more efficient with PACS. For internal hospital patients, results are distributed electronically to radiologists and clinical specialists without printing. However, for referred patients from external hospitals or those being referred out, printed film remains necessary. This study applied a descriptive quantitative design, conducted in the Radiology Installation of RSUD Panembahan Senopati Bantul from May 5th to May 10th, 2025. Respondents consisted of 20 radiographers, and data collection was carried out using a Guttman scale questionnaire. The data were analyzed descriptively, with validity and reliability testing. Findings indicate that most respondents possess a strong understanding and acceptance of PACS, demonstrated by the predominance of “Yes” answers, some reaching 100%. This highlights the system’s optimal utilization and its positive contribution to service speed, patient data security, and workflow efficiency. The majority of respondents confirmed that PACS significantly improves radiology services, though some indicators showed varied responses, suggesting areas for further development.
PROSEDUR PEMERIKSAAN HYSTEROSALPINGOGRPHY DENGAN KLINIS INFERTILITAS DI UNIT RADIOLOGI RS PKU WONOSOBO Minarti, Tri; Yusnida, Arnefia Mei; Liscyaningsih, Ike Ade Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46580

Abstract

Infertilitas merupakan masalah reproduksi yang cukup banyak dialami oleh pasangan usia subur di Indonesia. Salah satu metode penunjang diagnostik untuk mengetahui penyebab infertilitas pada wanita adalah pemeriksaan Hysterosalpingography (HSG). Pemeriksaan ini berperan penting dalam mengevaluasi kondisi tuba falopi dan mendeteksi adanya sumbatan atau gangguan lain yang dapat menghambat kehamilan. Tujuan penelitian adalah mengetahui prosedur, pengurangan proyeksi RPO dan LPO serta penambahan AP post miksi pada pemeriksaan hysterosalpingography dengan klinis infertilitas. Metode penelitian adalah kualitatif dengan studi kasus, pengumpulan data diperoleh melalui observasi, dokumentasi,dan wawancara dengan subjek penelitian dokter radiologi serta radiografer. Pencitraan yang dibutuhkan berupa foto pelvis AP polos, AP post kontras dan AP post miksi. Proyeksi AP polos digunakan untuk melihat kondisi awal rongga pelvis. Pencitraan AP post kontras dilakukan sebanyak 2 kali dengan penyuntikan media kontras water soluble melalui kateter sebanyak 20 cc di setiap tahapnya. Tahap pertama bertujuan untuk melihat kondisi kavum uteri dan tahap kedua digunakan untuk melihat kondisi kedua tuba. Selanjutnya pasien diminta untuk miksi atau kencing dan dilakukan foto AP post miksi. Kesimpulannya pemeriksaan HSG dengan klinis infertilitas dibutuhkan foto pelvis proyeksi AP polos, AP postkontras dengan menggunakan media kontras sebanyak 40 cc yang dimasukkan melalui kateter dalam dua tahap dan AP post miksi sebagai proyeksi tambahan untuk mengevaluasi adanya retensi atau penahanan media kontras di tuba falopi pasien. Sebaiknya persiapan urus-urus tetap dilakukan untuk mendapatkan hasil radiograf yang optimal. Kata kunci: hysterosalpingography, infertilitas, pencitraan radiologi
ANALISIS PENGULANGAN FOTO RONTGEN PADA MODALITAS DIGITAL RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI DI RSUD MUNTILAN Sari, Ayu Nur Vita; Yusnida, Arnefia Mei; Fakhrurreza, Muhammad
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.49081

Abstract

Digital Radiography (DR) adalah teknologi pencitraan radiologi yang memungkinkan pengambilan gambar sinar-X tanpa menggunakan kaset, sehingga mempercepat alur kerja, meningkatkan kualitas gambar, dan pelayanan pasien. Namun, pengulangan foto rontgen masih dapat terjadi akibat berbagai kesalahan teknis seperti gambar terpotong, posisi pasien yang tidak tepat, artefak, blur akibat gerakan, kolimasi yang kurang tepat, serta pengaturan eksposi yang tidak optimal. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 129/Menkes/SK/II/2008, batas maksimal pengulangan pemeriksaan radiologi adalah ≤ 2%, lebih rendah dari standar internasional sebesar 4–6%. Di RSUD Muntilan, belum pernah dilakukan analisis terhadap tingkat pengulangan pemeriksaan radiologi menggunakan DR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase pengulangan foto rontgen dan mengidentifikasi faktor penyebabnya. Penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui analisis database DR dari bulan November 2024 hingga Januari 2025. Hasil menunjukkan angka pengulangan melebihi batas nasional, yaitu 5,89% di bulan November, 6,14% di bulan Desember, dan 5,6% di bulan Januari, dengan rata-rata 5,87%. Faktor utama penyebab pengulangan adalah gambar terpotong (219 kasus), posisi pasien tidak tepat (77 kasus), dan artefak (37 kasus). Hasil ini menunjukkan perlunya peningkatan prosedur teknis, pelatihan petugas radiologi, serta komunikasi yang lebih baik dengan pasien untuk meminimalkan paparan radiasi berulang. Penguatan jaminan mutu dan tindakan korektif sangat diperlukan untuk meningkatkan mutu layanan radiologi secara keseluruhan.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN RADIOGRAFI CLAVICULA PROYEKSI AP STRESS DENGAN KLINIS SUSPEK RUPTUR AC JOINT DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH DELANGGU Maurani, Malika Yesha; Astari, Fisnandya Meita; Nasokha, Ildsa Maulidya Mar’athus
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6768

Abstract

This study was motivated by the variation in load usage in radiographic examinations of the clavicle-acromioclavicular (AC) joint with stress projections, where the literature recommends a load of 3-5 kg, while practice at PKU Muhammadiyah Delanggu Hospital uses a load of 2 kg. This gap between theory and practice encourages an in-depth analysis of the techniques applied at the hospital. Therefore, this study focuses on describing the examination technique and uncovering the clinical reasons for using a load of 2 kg in cases of suspected AC joint rupture. This study used a case study method with a qualitative approach. Data collection was carried out through direct observation, interviews with three radiographers, one radiologist, and one referring physician, as well as documentation studies. The results showed that the examination procedure used bilateral Antero Posterior (AP) stress projections with a load of 2 kg on each arm. The main reason for using a load of 2 kg was to stabilize the shoulder position to prevent movement, as well as to effectively compare the acromioclavicular joint gap between the right and left sides. It was concluded that the technique with a 2 kg load at PKU Muhammadiyah Delanggu Hospital was considered adequate to identify abnormalities such as dislocation or differences in joint space. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya variasi penggunaan beban dalam pemeriksaan radiografi clavicula acromioclavicular (AC) joint dengan proyeksi stress, di mana literatur merekomendasikan beban 3-5 kg, sementara praktik di RS PKU Muhammadiyah Delanggu menggunakan beban 2 kg. Kesenjangan antara teori dan praktik ini mendorong perlunya analisis mendalam terhadap teknik yang diterapkan di rumah sakit tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk mendeskripsikan teknik pemeriksaan dan mengungkap alasan klinis penggunaan beban 2 kg pada kasus suspek ruptur AC joint. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung, wawancara dengan tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter pengirim, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur pemeriksaan menggunakan proyeksi Antero Posterior (AP) stress bilateral dengan beban 2 kg pada masing-masing lengan. Alasan utama penggunaan beban 2 kg adalah untuk menstabilkan posisi bahu guna mencegah pergerakan, sekaligus untuk secara efektif membandingkan celah sendi acromioclavicular antara sisi kanan dan kiri. Disimpulkan bahwa teknik dengan beban 2 kg di RS PKU Muhammadiyah Delanggu dianggap memadai untuk mengidentifikasi adanya kelainan seperti dislokasi atau perbedaan celah sendi.
ANALISIS PENGULANGAN FOTO (REPEAT) DI INSTALASI RADIOLOGI RS PKU MUHAMMADIYAH KARANGANYAR Athani, Vera Noufalia; Widyasari, Dina; Yusnida, Arnefia Mei
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.6956

Abstract

This research was motivated by the fact that a repeat analysis of radiographs had never been conducted in the Radiology Department of PKU Muhammadiyah Karanganyar Hospital, even though national standards, according to Minister of Health Regulation No. 129 of 2008, stipulate a repeat tolerance limit of below 2%. This lack of analysis has left the factors causing repeats unidentified, making it difficult to minimize them. Therefore, this study focused on measuring the repeat rate and identifying the primary causal factors. This study used a descriptive quantitative method and was conducted over three months. Data collection was conducted through observation, documentation, and interviews with radiographers, which were then analyzed as percentages. The results showed that the repeat rates for three consecutive months were 1.35%, 1.30%, and 1.43%, respectively. This finding demonstrates that the repeat rate at the hospital remains below the established threshold. The highest contributing factor to repeats was patient positioning errors (39.71%), followed by clipped objects (23.53%). It was concluded that although the repeat rate met the standard, ongoing evaluation focusing on patient positioning techniques is needed to further reduce the repeat rate. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh belum pernah dilakukannya analisis pengulangan foto radiografi (repeat analysis) di Instalasi Radiologi RS PKU Muhammadiyah Karanganyar, padahal standar nasional menurut Permenkes No. 129 Tahun 2008 menetapkan batas toleransi pengulangan di bawah 2%. Ketiadaan analisis ini menyebabkan faktor penyebab pengulangan tidak teridentifikasi sehingga sulit untuk diminimalisir. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk mengukur besaran angka pengulangan foto dan mengidentifikasi faktor-faktor penyebab utamanya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang dilaksanakan selama tiga bulan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan radiografer, yang kemudian dianalisis secara persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka pengulangan foto selama tiga bulan berturut-turut adalah 1,35%, 1,30%, dan 1,43%. Temuan ini membuktikan bahwa tingkat pengulangan radiografi di rumah sakit tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan. Faktor penyebab pengulangan tertinggi adalah kesalahan dalam memposisikan pasien (39,71%), diikuti oleh objek terpotong (23,53%). Disimpulkan bahwa meskipun angka pengulangan sudah memenuhi standar, perlu adanya evaluasi berkelanjutan yang berfokus pada teknik pemosisian pasien untuk lebih menekan angka pengulangan.
ANALISIS DIGITALISASI HASIL RADIOGRAF BERUPA QR CODE DI INSTALASI RADIOLOGI RSI SITI AISYAH MADIUN Anis, Aufa Fathi; Mahanani, Ayu; Liscyaningsih, Ike Ade Nur
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v5i3.7067

Abstract

This research is motivated by the demands of digital transformation in radiology services, which encourages the use of new technologies for efficient distribution of examination results, one of which is through the Quick Response (QR) Code system. The potential advantages and disadvantages in implementing this technology encourage the need for field evaluation. Therefore, this study focuses on analyzing the implementation of the QR Code system in delivering digital radiograph results at RSI Siti Aisyah Madiun, and evaluating its advantages and disadvantages from the perspective of radiographers and patients. This study used a descriptive qualitative method, with data collection through observation, documentation, and semi-structured interviews with three radiographers and nine patients of various age groups. The main findings indicate that the implementation of the QR Code system successfully improved workflow efficiency, accelerated distribution of results without relying on printed films, and facilitated patient access. However, this system has disadvantages, namely the image quality in PDF format is not as optimal as DICOM for diagnostic purposes, difficulty in accessing it for elderly patients, and the potential for medical data security risks. It was concluded that the QR Code system proved practical and efficient, but requires improvements in terms of image quality, patient education, and strengthening data security aspects. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan transformasi digital dalam layanan radiologi yang mendorong pemanfaatan teknologi baru untuk efisiensi distribusi hasil pemeriksaan, salah satunya melalui sistem Quick Response (QR) Code. Adanya potensi kelebihan dan kekurangan dalam implementasi teknologi ini mendorong perlunya evaluasi di lapangan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menganalisis implementasi sistem QR Code dalam penyampaian hasil radiograf digital di RSI Siti Aisyah Madiun, serta mengevaluasi kelebihan dan kekurangannya dari perspektif radiografer dan pasien. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara semi-terstruktur terhadap tiga radiografer dan sembilan pasien dari berbagai kelompok usia. Temuan utama menunjukkan bahwa implementasi sistem QR Code berhasil meningkatkan efisiensi alur kerja, mempercepat distribusi hasil tanpa ketergantungan film cetak, dan memudahkan akses bagi pasien. Namun, sistem ini memiliki kekurangan, yaitu kualitas citra dalam format PDF yang tidak seoptimal DICOM untuk keperluan diagnostik, kesulitan akses yang dialami pasien lanjut usia, serta adanya potensi risiko keamanan data medis. Disimpulkan bahwa sistem QR Code terbukti praktis dan efisien, namun memerlukan penyempurnaan dalam hal kualitas citra, edukasi pasien, dan penguatan aspek keamanan data.
Pemeriksaan Radiologi sebagai Upaya Skrining dan Deteksi Dini Kanker Paru Sulistyowati, Indah; Rosidah, Siti
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 5, No 4 (2025): Abdira, Oktober
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v5i4.840

Abstract

Lung cancer is one of the most common cancers suffered by people in the world, especially those who have a habit of smoking. But unfortunately, many of those who suffer from lung cancer get help too late because they are late or do not realize the symptoms that appear. Because it is too late, the success of the treatment is also low because they ignore the symptoms that appear from the start. The goal to be achieved in this community service activity is to increase knowledge about lung cancer and a healthy lifestyle with CERDIK behavior and increase public awareness and concern to carry out screening and early detection of lung cancer for people at risk. After the community service program was implemented with lecture, discussion and question and answer methods. The results obtained were an increase in knowledge about lung cancer, a healthy lifestyle with CERDIK behavior in partner group members. As well as an increase in the ability and awareness of partner group members in implementing a healthy lifestyle with CERDIK behavior and efforts to screen and detect lung cancer early with radiological examinations.
Informasi Anatomi Pemeriksaan Pedis Pada Kasus Trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal Rosita Adiniyah; Widya Mufida; Redha Okta Silfina
Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Akademi Kebidanan Bunga Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54100/bemj.v8i2.492

Abstract

Pemeriksaan pedis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal umumnya menggunakan proyeksi AP dan obliq, namun pada kasus trauma sering kali disesuaikan dengan kondisi pasien. Pada kasus TN.R, hanya menggunakan proyeksi AP dengan penyudutan antara kaset dan objek sebesar 35º. Menurut Lampignano (2018) dan penelitian Wahyuni et al. (2018), pemeriksaan pedis menggunakan proyeksi AP Axial 10º cephalad dan oblik. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui informasi anatomi pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Metode penelitian ini berupa observasi, wawancara dan dokumentasi yang dilakukan pada bulan September 2024- Mei 2025 di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Jenis penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini yaitu tiga orang Radiografer, satu orang Dokter Radiologi dan 1 orang Dokter Pengirim sedangkan objek penelitian ini yaitu teknik pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal. Teknik pemeriksaan pedis pada kasus trauma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Kendal hanya menggunakan proyeksi anteroposterior dengan penyudutan antara kaset dengan objek sebesar 35º. Informasi anatomi belum cukup karena hanya menampilkan anatomi phalang dan metatarsal, sedangkan anatomi tarsal tidak terlihat jelas. Penyudutan ini juga menyebabkan distorsi elongation yang dapat menghilangkan detail anatomi penting pada radiograf.. Kelebihan pada pemeriksaan ini yaitu pasien tidak merasa sakit selama dilakukan pemeriksaan namun kekurangannya adalah terdapat distorsi pada hasil radiograf. Proyeksi AP dengan penyudutan antara kaset dengan objek sebesar 35º digunakan karena pasien nonkooperatif dan keterbatasan alat fiksasi. Hasil citra belum optimal karena struktur ossa tarsal tidak terlihat jelas. Kelebihannya, pasien tidak merasa sakit selama pemeriksaan, namun terdapat distorsi pada radiografi. Oleh karena itu, teknik ini kurang sesuai untuk digunakan terutama pada kasus trauma.
PENGUJIAN KEBOCORAN LEAD APRON MENGGUNAKAN DIGITAL RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD dr SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN Sri Andriani Savitri H. Pakaya; Fisnandya Meita Astari; Muhammad Fakhrurreza
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Lead Apron merupakan salah satu alat pelindung diri berbahan timbal yang dirancang untuk melindungi tubuh dari bahaya radiasi. Untuk memastikan lead apron dapat memberikan perlindungan yang optimal, maka perlu dilakukan pengujian lead apron secara berkala yaitu 12-18 bulan sekali atau saat dibutuhkan. Di Instalasi Radiologi RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen, pengujian terakhir dilakukan pada tahun 2022 sehingga menimbulkan kekhawatiran akan adanya kerusakan namun lead apron tersebut masih tetap digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pengujian, hasil pengujian lead apron di Instalasi Radiologi RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen.Metode: Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengujian lead apron untuk mengetahui adanya lekukan, lipatan, retakan, sobekan atau ruang. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Oktober 2024-April 2025. Hasil penyinaran diolah menggunakan computed radiography (CR) untuk mengukur tingkat kerusakan pada lead apron kemudian dibandingkan dengan teori Lambert 2001. Hasil: Prosedur uji kebocoran apron timbal dilakukan dengan metode radiografi dengan cara meregangkan apron timbal di atas meja pemeriksaan dan membagi apron timbal menjadi empat kuadran serta memaparkan masing-masing kuadran apron yang telah diberi lapisan. Hasil pengujian ketiga apron timbal tidak mengalami kebocoran, hanya menunjukkan adanya gelombang atau lekukan dan lipatan pada apron timbal sehingga masih aman dan layak digunakan sebagai peralatan proteksi radiasi. Kesimpulan: Pengujian ketiga apron timbal dilakukan dengan metode radiografi, untuk hasil pengujian tidak terjadi kebocoran atau masih dalam kondisi baik dan masih layak pakai. Namun demikian, pengujian apron timbal di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen masih perlu ditingkatkan untuk frekuensi pengujian pada masing-masing apron timbal. Dimana rentang pengujian dilakukan secara rutin setiap 12-18 bulan sekali untuk memantau kondisi apron timbal.
STUDI KASUS PROSEDUR PEMERIKSAAN COLON IN LOOP DENGAN KLINIS DIARE KRONIS DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL Khalifah Evitaria1; Fisnandya Meita Astari; Ildsa Maulidya Mar’atus Nasokha
Journal of Innovation Research and Knowledge Vol. 5 No. 4: September 2025
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Colon in loop (CIL) examination is a radiographic examination with positive or negative retrograde contrast media, which plays an important role in assessing colon disorders, such as chronic diarrhea. According to (Hadjarati et al. 2024), patient preparation is carried out for 48 hours, while in the Radiology Installation of RSUD (Regional General Hospital) Panembahan Senopati Bantul, patient preparation is carried out for 24 hours. According to (Lampignano & Kendrick, 2018), the projections used include AP plan, RPO, RAO, LAO, LLD, RLD, and AP post-evacuation. Meanwhile, the projections used at Senopati Regional Hospital include FPA (plain abdominal radiograph), Lateral, AP post-contrast or lower AP, AP full filling, AP post-contrast negative projections. Method: This research applied a qualitative study with a case study approach. The data collection was conducted at RSUD Panembahan Senopati Bantul. The subjects were one radiologist and three radiographers. The object of the study was a colon in loop examination with clinical chronic diarrhea. Data collection methods used observation, interviews, documentation, and literature. Data analysis used data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Results: The results of the study indicated that a colonoscopy in a loop with clinical evidence of chronic diarrhea was performed to confirm the diagnosis of narrowing, mass, or inflammation in the colon. Patient preparation was carried out 24 hours or one day before the examination, then the examination technique was performed using two AP and lateral projections without post-evacuation. Conclusion: A colonoscopy in loop in patients with chronic diarrhea was performed to confirm a diagnosis or assess for colon abnormalities. This examination was performed with 24 hours of patient preparation. The methods included single contrast (200 g barium sulfate/1000 ml water) and double contrast (approximately 300 cc air). The projections used FPA, left lateral, AP with positive contrast, AP with full filling, and AP with negative contrast. These projections were selected to save time, reduce radiation dose, and provide optimal diagnostic capabilities. Informed consent should be obtained before the examination to ensure the patient understands the procedure, benefits, and potential risks. Additionally, the addition of a post-evacuation AP projection is recommended to evaluate residual contrast in the colon and assess intestinal peristalsis

Page 69 of 85 | Total Record : 841