cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
DIDAKTIKA BIOLOGI: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Didaktika Biologi (Biology Didactics, in english) is a journal that contains scientific articles of research results in the field of biological education. Didaktika Biologi is for teachers, lecturers, students, researchers, and practitioners who concentrate and contribute in the field of biological education.
Arjuna Subject : -
Articles 150 Documents
KECERDASAN EMOSIONAL DAN HASIL BELAJAR MATERI SISTEM GERAK MANUSIA: STUDI KORELASI PADA PESERTA DIDIK MENENGAH ATAS Komarudin, Komarudin; Surahman, Endang; Hernawati, Diana
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.3496

Abstract

Ketidakmampuan untuk menyelesaikan konflik, mengekspresikan diri kepada orang lain, dan merasakan empati terhadap teman sebaya di kelas dapat berdampak negatif pada tingkat keterlibatan siswa di kelas, dan hasil belajar secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar peserta didik pada materi sistem gerak manusia. Teknik pengumpulan data menggunakan non tes berupa kuesioner untuk kecerdasan emosional dan tes untuk hasil belajar. Responden penelitian adalah 34 peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Majenang, Jawa Tengah. Teknis analisis data menggunakan uji regresi korelasi bivariat dengan terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis berupa uji normalitas dan uji linearitas. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan kuat antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar peserta didik. Kecerdasan emosional memberikan kontribusi sebesar 46,2% terhadap hasil belajar peserta didik pada materi sistem gerak manusia. Nilai koefisien regresi sebesar 0,334 dan nilai konstanta sebesar -7,637 menunjukkan bahwa apabila variabel bebas kecerdasan emosional dianggap tidak ada, maka nilai hasil belajar akan menurun atau buruk. Artinya, hasil belajar berhubungan dengan kecerdasan emosional sebagai variabel bebas, yaitu apabila kondisi kecerdasan emosional peserta didik buruk maka memungkinkan hasil belajar yang diperoleh peserta didik akan buruk juga. The inability to resolve conflicts, express oneself to others, and feel empathy for peers in the classroom can negatively impact the student's level of engagement in the classroom, and overall learning outcomes. This research was a correlational study that aimed to determine the relationship between emotional intelligence and students’ learning outcomes on human motion system material. The data collection techniques used the questionnaire for emotional intelligence and the test for learning outcome. The research respondents were 34 students of class XI MIPA at SMA Negeri 1 Majenang, Central Java. The data analysis technique used a bivariate correlation regression test with prerequisite analysis tests in the form of a normality test and a linearity test.The result showed that there was a strong relationship between emotional intelligence and students’learning outcomes.  The emotinal intelligence contributed 46.2% to students’ learning outcomes on human motion system material. The regression coefficient value was 0.334 and the constant value was -7.637 indicating that if the independent variable of emotional intelligence was considered absent, then the value of learning outcomes will decrease or be bad. That was, learning outcomes were related to emotional intelligence as an independent variable, so that if the condition of students' emotional intelligence was bad, it was possible that the learning outcomes obtained by students will also be bad.
KELAYAKAN ENSIKLOPEDIA PADA SUBMATERI PEMANFAATAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DARI HASIL ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT Nurmasari, Nurmasari; Syamswisna, Syamswisna; Tenriawaru, Andi Besse
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 5, No 2 (2021): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v5i2.4438

Abstract

Salah satu pemanfaatan keanekaragaman hayati adalah tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat di Desa Sabung Kabupaten Sambas yang dimuat di dalam media ensiklopedia mencakup uraian ringkas yang tersusun berdasarkan alfabet dari A-Z, sehingga mudah untuk dipahami dan bisa digunakan di sekolah yang terkendala dengan infocus dan listrik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelayakan media ensiklopedia pemanfaatan keanekaragamanan hayati sebagai obat di Desa Sabung Kabupaten Sambas. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu tahap pertama adalah kajian etnobotani tumbuhan obat di Desa Sabung Kabupaten Sambas menggunakan penelitian metode kualitatif deskriptif dengan teknik triangulasi dan tahap kedua adalah pembuatan media pembelajaran ensiklopedia dengan menggunakan metode Research and Development (R&D) mengikuti model yang dikembangkan Borg and Gall (hanya sampai tahap ke empat, yaitu tahap validasi produk). Media ensiklopedia divalidasi oleh lima validator yang terdiri dari dua orang dosen dan tiga orang guru Biologi. Hasil validasi dianalisis menggunakan rumus Aiken’s V diperoleh nilai rata-rata 0,91 yang tergolong valid dengan menggunakan 4 aspek dan 13 kriteria penilaian. Dengan demikian, disimpulkan bahwa media ensiklopedia yang dibuat sebagai implementasi dari hasil etnobotani tumbuhan obat di Desa Sabung layak digunakan sebagai media pembelajaran pada submateri pemanfaatan keanekaragaman hayati. One of the uses of biodiversity is plants that are used as medicine by the community in Sabung Village, Sambas Regency which is published in the encyclopedia including a brief description arranged according to the alphabet from A-Z, making it easy to understand and can be used in schools that are constrained by infocus and electricity. This study aimed to determine the feasibility of encyclopedia for the use of biodiversity as medicine in Sabung Village, Sambas Regency. This research was carried out in two stages, the first stage was an ethnobotanical study of medicinal plants in Sabung Village, Sambas Regency using the descriptive qualitative research methods with triangulation techniques and the second stage was the creation of an encyclopedia learning media using the Research and Development (R&D) method following the model developed by Borg and Gall (only up to the fourth stage, namely the product validation stage). The encyclopedia was validated by five validators consisting of two lecturers and three Biology teachers. The validation results were analyzed using the Aiken's V formula, an average value of 0.91 was obtained which was classified as valid using 4 aspects and 13 assessment criteria. Thus, it was concluded that the encyclopedia created as an implementation of the results of the ethnobotany of medicinal plants in Sabung Village was feasible to be used as a learning medium in the sub-material of the use of biodiversity.
PROFIL BERPIKIR ANALITIS MAHASISWA TINGKAT AWAL PRODI PENDIDIKAN BIOLOGI UNIVERSITAS SWASTA DI PALEMBANG Wijayanti, Tutik Fitri; Auliandari, Lia; Fadillah, Etty Nurmala; Dewiyeti, Susi
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.5281

Abstract

Era Industri 4.0 yang memulai munculnya Era Society 5.0 menuntut masyarakat semakin terampil untuk menghadapi berbagai permasalahan hidup yang harus dibekali dengan berbagai keterampilan. Salah satunya yang harus dimiliki mahasiswa adalah keterampilan berpikir analitis sebagai keterampilan dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan berpikir analitis mahasiswa tingkat awal prodi Pendidikan Biologi di universitas swasta di Kota Palembang. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa soal esai dengan indikator analisis dari Anderson & Krathwohl (2017) yang memiliki subskill, yaitu membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan. Data dianalisis menggunakan teknik persentase dengan mengacu rubrik penilaian tingkat kemampuan berpikir analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir analitis mahasiswa tingkat awal adalah 12,50% tidak baik, 50% kurang baik, 4,17% cukup baik, 25% baik, dan 8,30% sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa masih banyak mahasiswa tingkat awal yang mengalami kendala dalam menyelesaikan soal berkemampuan analisis yang tentunya akan menghambat proses berpikir tingkat tinggi yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan Era Society 5.0. The Industrial Era 4.0 which begin the emergence of the Society Era 5.0 demands people becomee more skilled in dealing with various life problems that must be equipped with various skills. One of which students must have is analytical thinking skills as the basic skill. The purpose of this study was to determine the analytical thinking of first students of Biology Education Program at a private university in Palembang City. The research method used descriptive quantitative by data collection technique in the form of essay questions with analysis indicators from Anderson & Krathwohl (2017) which had sub-skills, namely differentiating, organizing, and connecting. Data were analyzed using the percentage technique with reference to the rubric for assessing the level of analytical thinking skills. The results showed that the analytical thinking skills of the first students were 12.50% not good, 50% less good, 4.17% good enough, 25% good, and 8.30% very good. These results indicate that there are still many first students who have problems to solve the analytical skilled question which will certainly hinder the higher order thinking processes needed to face the demands of the Society Era 5.0.
ANALYSIS OF BENEFITS OF JOINT FIELD LECTURE BETWEEN BIOLOGY IAIN KERINCI AND MASTER OF BIOLOGY EDUCATION ON ECOLOGY AND ENVIRONMENT SUBJECT Razak, Abdul; Sastria, Emayulia; Wahyuni, Wahyuni; Sholichin, Muhamad
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 1 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i1.4442

Abstract

The field lecture is important learning experience for students which is carried out in the open to apply the theory they have learned. This is necessary for the Ecology and Environment subject so that it can provide real experience for students. This study aimed to determine the benefits of joint field lecture between Biology Tadris Study Program at IAIN Kerinci and the Masters in Biology Education at Padang State University for Ecology and Environment subject. The research method was descriptive qualitative-quantitative (mixed method). The research subjects were selected Biology Tadris students along with IAIN Kerinci lecturers and students of the Masters of Biology Education, Padang State University. Data collection was carried out with tools in the form of the questionnaire and the interview list. After the data were collected qualitatively, the data were analyzed based on each indicator of questionnaire and interview, so that the total results of all indicators were obtained. For the data from questionnaire were quantified in percentage. The study results indicated that joint field lecture provided the benefits for students who participated in field lecture activities. The results of questionnaire and interview showed the benefits for students in increasing knowledge, insight, motivation, and experience. In the implementation of the field lecture, students were very good at collaborating, both within groups and among groups. Kuliah lapangan merupakan pengalaman belajar penting bagi mahasiswa yang dilakukan di tempat terbuka untuk mengaplikasikan teori yang telah dipelajari. Hal ini diperlukan untuk mata kuliah Ekologi dan Lingkungan sehingga dapat memberikan pengalaman nyata pada mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat kuliah lapangan bersama antara Program Studi Tadris Biologi IAIN Kerinci dan Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Padang pada mata kuliah Ekologi dan Lingkungan. Metode penelitian ini adalah deskriftif kualitatif-kuantitatif (mixed method). Subjek penelitian adalah mahasiswa Tadris Biologi yang terpilih beserta dosen IAIN Kerinci dan mahasiswa Magister Pendidikan Biologi Universitas Negeri Padang. Pengumpulan data melalui kuesioner dan wawancara. Setelah data terkumpul secara kualitatif, data dianalisis berdasarkan masing-masing indikator kuesioner dan wawancara, sehingga diperoleh hasil total dari semua indikator. Untuk data dari kuesioner dikuantifikasi dalam persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuliah lapangan bersama memberikan manfaat bagi mahasiswa yang ikut melakukan kegiatan kuliah lapangan. Hasil kuesioner mahasiswa dan wawancara mahasiswa dan dosen menunjukkan manfaat bagi mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan, wawasan, motivasi, dan pengalaman. Dalam pelaksanaan kuliah lapangan, mahasiswa sangat baik dalam bekerjasama, baik di dalam kelompok maupun antar kelompok.
HAMBATAN GURU BIOLOGI: ANALISIS PEMANFAATAN MEDIA INFORMASI DAN TEKNOLOGI PADA IMPLEMENTASI STANDAR PROSES Kisminanti, Dela; Auliandari, Lia; Dewiyeti, Susi; Fadillah, Etty Nurmala; Wijayanti, Tutik Fitri
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 1 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i1.4780

Abstract

Standar proses ditujukan pada kegiatan perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta meningkatkan keterampilan sumber daya manusia dalam paradigma pembelajaran Abad 21.  Salah satu kompetensi Abad 21 adalah keterampilan dalam menguasai media informasi dan teknologi. Tujuan penelitian adalah mengetahui hambatan guru biologi dalam implementasi standar proses Kurikulum 2013 terkait dengan pemanfaatan media informasi dan teknologi. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sampel penelitian adalah guru biologi yang mengajar di SMA negeri dan swasta terakreditasi A, B dan C  di Kecamatan Seberang Ulu II Palembang. Kuesioner sebagai instrumen penelitian didukung dengan dokumentasi (silabus dan RPP). Analisis data menggunakan model Miles & Huberman (2009) dengan tahap: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan hambatan guru biologi terkait pemanfaatan media informasi dan teknologi terdapat pada aspek perencanaan maupun pelaksanaan pembelajaran. Hambatan pada aspek perencanaan adalah dalam pengembangan silabus pembelajaran dan RPP, integrasi lebih dari satu macam peralatan teknologi informasi dan komputer (TIK) untuk keperluan belajar, pengembangan produk digital sebagai sumber belajar, dan perpaduan berbagai macam perangkat TIK untuk keperluan sumber belajar. Hambatan pada aspek pelaksanaan meliputi pembiasaan peserta didik dalam memanfaatkan TIK untuk mengakses materi pelajaran dan penggunaan TIK untuk komunikasi guru dan peserta didik. Process standards are aimed at planning and implementing learning processes to improve the quality of education and improve human resource skills in the 21st Century learning paradigm. One of the 21st Century competencies is skill in mastering information media and technology. The purpose of the study was to find out the obstacles of biology teachers in implementation of process standards of Curriculum  2013 related to the utilization of information media and technology. The study method was descriptive qualitative. The samples were biology teachers who teach at public and private high schools accredited A, B and C in Seberang Ulu II District, Palembang. Questionnaire as research instrument was supported by documentation (syllabus and lesson plans). The data analysis used Miles & Huberman (2009) model with the following stages: data reduction, data presentation and conclusion. The study results showed that the obstacles of biology teachers related to the utilization of information and technology media were in the planning and implementation aspects of learning. The obstacles in planning aspect were the development of the learning syllabus and lesson plans, the integration of more than one type of information technology and computer (ICT) equipment for learning purposes, the development of digital products as learning resources, and the combination of various kinds of ICT tools for the learning resources. The obstacles in implementation aspect included the habituation of students in using ICT to access subject matter and the use of ICT for teacher and student communication. 
REDUKSI MISKONSEPSI DAN PENINGKATAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK MELALUI MODEL CREATIVE PROBLEM SOLVING PADA MATERI KEANEKARAGAMAN HAYATI Haka, Nukhbatul Bidayati; Adinda, Fatria Dara; Hamid, Abdul
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.4347

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tingkat miskonsepsi dan rendahnya kecerdasan emosional peserta didik kelas di SMA Negeri 1 Natar, Lampung Selatan pada materi keanekaragaman hayati. Miskonsepsi berbahaya jika tidak diatasi karena dapat mempengaruhi hasil belajar. Kecerdasan emosional yaitu kemampuan untuk mengelola emosi yang untuk membangun hubungan yang baik di lingkungan sekitar. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Creative Problem Solving terhadap reduksi miskonsepsi dan peningkatan kecerdasan emosional kelas X pada materi Keanekaragaman hayati. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-experiment dengan the one-group pretest-posttest design dengan 3 kelas peneltian. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes miskonsepsi Three Tier-Multiple Choice dan angket kecerdasan emosional dengan skala Likert. Analisis data menggunakan one sample T-test dengan ? 0,05. Hasil penelitian menunjukkan model Creative Problem Solving mampu mereduksi miskonsepsi pada materi keanekaragaman hayati dari 57% menjadi 35% dengan hasil uji one sample T-test 0,00 ? 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Sedangkan, untuk peningkatan kecerdasan emosional dengan menggunakan N-gain yang diperoleh dari pembelajaran menggunakan model Creative Problem Solving diperoleh hasil 0,00 ? 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, model Creative Problem Solving menjadi salah satu solusi dalam mereduksi miskonsepsi dan meningkatkan kecerdasan emosional peserta didik pada materi keanekaragaman hayati. This research was motivated by the high level of misconception and the low emotional intelligence of students at SMA Negeri 1 Natar, South Lampung on the Biodiversity subject. Misconception is dangerous if it’s not addressed because it can affect learning outcomes. Emotional intelligence is the ability to manage emotions to build good relationships in the surrounding environment. This research was conducted to determine the effect of the Creative Problem Solving model on reducing misconception and increasing emotional intelligence of class X on the Biodiversity subject. The research method used was pre-experiment with the one-group pretest-posttest design with 3 research classes. The research instrument used was Three Tier-Multiple Choice misconception test and emotional intelligence questionnaire with Likert scale. Data analysis used one sample T-test with ? 0.05.The results showed that the Creative Problem Solving model was able to reduce misconception about Biodiversity from 57% to 35% with the result of the one sample T-test 0.00 ? 0.05, so that H0 was rejected and H1 was accepted. Meanwhile, to increase emotional intelligence using N-gain obtained from learning using the Creative Problem Solving model, the result was 0.00 ? 0.05, then H0 was rejected and H1 was accepted. Thus, the Creative Problem Solving model is one of the solution in reducing misconception and increasing students' emotional intelligence on Biodiversity subject.
PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM BIOLOGI SMA DI KABUPATEN BANTUL, D.I. YOGYAKARTA Wulandari, Shely Dwi; Ghoida, Siti Najah; Pangastuti, Syifa; Ni'mah, Ulfatun; Basri, Frida Nora Ayu; Saifuddin, Much. Fuad; Puspitasari, Etika Dyah
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.4769

Abstract

Limbah laboratorium biologi berasal dari percobaan atau praktikum dalam bentuk padat dan cair. Limbah padat pada laboratorium biologi biasanya berupa kertas atau endapan yang masih dengan mudah teratasi. Sedangkan limbah cair, biasanya tidak menggunakan bahan/reagen yang berbahaya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengelolaan limbah di laboratorium biologi SMA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah secara deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Penelitian dilakukan pada tahun pelajaran 2021/2022 di SMA Negeri Kabupaten Bantul, D. I. Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 1 Pleret, SMA Negeri 1 Jetis, dan SMA Negeri 1 Kasihan. Hasil wawancara dengan laboran sekolah dideskripsikan secara kualitatif dan dokumentasi dilakukan untuk mendukung data yang telah diperoleh, sedangkan hasil observasi dilakukan secara kuantitatif dalam persentase. Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan limbah laboratorium biologi di ketiga sekolah dapat dikategorikan dengan sangat baik dengan total persentase penilaian tidak kurang dari 90%. Penilaian dalam pengelolaan limbah laboratorium biologi hanya pada pengelolaan limbah padat dan pengelolaan limbah cair saja dikarenakan ketiga sekolah tidak menggunakan bahan-bahan yang berbahaya (B3) dalam melaksanakan praktikum. Meskipun demikian, limbah yang dihasilkan dari praktikum tetap memerlukan pengelolaan khusus. Biological laboratory waste comes from experiments or practicum in solid and liquid form. Solid waste in a biology laboratory is usually paper or sludge, which is still easily resolved. Meanwhile, liquid waste usually does not use hazardous materials/reagents. This study aimed to determine waste management in  high school biology laboratory.The method used in this research was descriptive with data collection techniques in the form of interview, observation and documentation. The research was conducted in the 2021/2022 school year at SMA Negeri Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, namely SMA Negeri 1 Pleret, SMA Negeri 1 Jetis, dan SMA Negeri 1 Kasihan. The results of interviews with school laboratory assistants were described qualitatively and documentation was carried out to support the data that had been obtained, while the results of observations were carried out quantitatively in percentages.The results showed that the management of biological laboratory waste in the three schools could be categorized very well with a total percentage of not less than 90%. Assessment in the management of biological laboratory waste was only on solid and liquid waste management because the three schools did not use hazardous materials in carrying out practicums. Even so, the waste generated from the practicum still requires special management.
STUDI TRIKOMA DAUN TUMBUHAN PENEDUH SEBAGAI SUMBER BELAJAR BIOLOGI Yuliany, Eka Haryati; Sarno, Sarno; Hanum, Laila
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 5, No 2 (2021): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v5i2.4398

Abstract

Trikoma sebagai derivat epidermis dapat digunakan sebagai bioindikator lingkungan, termasuk trikoma pada tanaman peneduh jalan. Trikoma merupakan bagian dari materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan di mana materi ini adalah materi sulit dipahami oleh peserta didik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk studi trikoma daun tumbuhan peneduh sebagai sumber belajar biologi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan melihat bentuk-bentuk trikoma tanaman peneduh dengan menggunakan metode replikasi untuk mengidentifikasi jenis-jenis trikoma dan dilanjutkan dengan analisis potensinya sebagai sumber belajar. Potensi data dan preparat awetan trikoma yang diperoleh dari pengidentifikasian jenis-jenis trikoma tanaman peneduh digunakan sebagai sumber belajar berupa bahan ajar dan media pembelajaran. Bahan ajar divalidasi oleh validator bahan ajar dan materi, serta guru biologi. Kriteria penilaian diperoleh berdasarkan rumus Mardapi (2008). Hasil penelitian menunjukkan tipe dan bentuk trikoma tanaman peneduh yang ditemukan terdiri dari tipe glanduler bentuk jarum, glanduler bentuk hidatoda, dan non glanduler bentuk bintang. Hasil penelitian trikoma ini berpotensi sebagai sumber belajar biologi yang dikemas dalam bentuk bahan ajar berupa LKPD dan media pembelajaran berupa awetan preparat trikoma. LKPD yang telah divalidasi dinyatakan layak digunakan dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik mengenai trikoma dan fungsinya pada materi jaringan tumbuhan. Trichomes as epidermal derivatives can be used as environmental bioindicators, including trichomes in road shade plants. Trichomes are part of the material on the structure and function of plant tissues where this material is material that is difficult for students to understand. Therefore, this study aimed to study of shade plant leaves trichomes as biology learning resources. This research was a descriptive study by looking at the forms of trichomes in shade plants using the replication method to identify the types of trichomes and continueing with analysis of their potential as learning resources. Potential data and preparations of preserved trichomes obtained from identifying the types of trichomes of shade plants were used as learning resources in the form of teaching materials and learning media. Teaching materials were validated by teaching materials and materials validators, and biology teachers. The assessment criteria were obtained based on the Mardapi (2008).The results showed that the type and shape of the trichomes found in the shade plants consisted of needle-shaped glandular, hydatodic glandular, and star-shaped nonglandular types.The results of this trichome research had the potential to be used as  biology learning resources which was packaged in the form of teaching materials in the form of worksheets and learning media in the form of preserved trichome preparations. Worksheet  that has been validated was stated feasible for use in the learning process to increase students' knowledge and understanding of trichomes and their functions in the subject of plant tissue.
HUBUNGAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DENGAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA KONSEP VIRUS Azizah, Gina Luthfi; Hernawati, Diana; Putra, Rinaldi Rizal
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.3226

Abstract

Kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik pada abad 21 ini antara lain mencakup berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Kemampuan berpikir kritis sangat penting dimiliki oleh setiap orang (khususnya peserta didik) karena memberikan pengaruh positif baik dalam kegiatan akademik maupun sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kemampuan berpikir kritis dengan hasil belajar peserta didik pada konsep virus. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMA Negeri di Kabupaten Pangandaran Tahun Ajaran 2020/2021. Metode dalam penelitian ini ialah korelasional. Populasi seluruh kelas X MIPA sebanyak 7 kelas dan sampel sebanyak 1 kelas berjumlah 37 peserta didik sebagai partisipan dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah berpikir kritis sebanyak 19 soal yang berbentuk uraian dan hasil belajar sebanyak 38 soal berbentuk pilihan ganda pada konsep virus. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi pearson product moment dengan taraf signifikansi (5%). Sebelum analisis data dilakukan terlebih dahulu uji normalitas dan uji linearitas sebagai uji prasyarat analisis. Hasil penelitian menunjukan hubungan antara kemampuan berpikir kritis dengan hasil belajar peserta didik (R=0,337; R2 =0,114) artinya terdapat kontribusi kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar peserta didik sebesar 11,4%.
PERSEPSI REWARD TERHADAP MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA PENDIDIKAN BIOLOGI Genisa, Marlina Ummas; Rizal, Haryanti Putri; Hasri, Hasri; Agussalim, Andi; Maknun, Djohar
Didaktika Biologi: Jurnal Penelitian Pendidikan Biologi Vol 6, No 2 (2022): DIDAKTIKA BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/dikbio.v6i2.5462

Abstract

Reward mempunyai peran penting dalam mempertahankan ataupun membangun motivasi belajar mahasiswa karena dianggap salah satu penentu keberhasilan selama mengikuti perkuliahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis motivasi belajar mahasiswa pendidikan biologi dari strata satu (S1) dan strata dua (S2) ditinjau dari pemberian reward selama perkuliahan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online tentang persepsi mahasiswa secara umum dan khusus terhadap reward yang diadaptasi dari Lloyd (2007). Selanjutnya, data dianalisis secara kuantitatif untuk menjelaskan persepsi dari 190 mahasiswa pendidikan biologi yang terdiri dari 177 mahasiswa strata satu (S1) dan 13 mahasiswa strata dua (S2). Hasil menunjukkan bahwa seluruh mahasiswa pendidikan biologi setuju dan termotivasi untuk belajar ketika diberikan reward saat perkuliahan. Meskipun persentase tipe reward yang diharapkan berbeda, seperti reward nilai sebesar 50%, pemberian semangat/pujian 23%, lalu 20 % berupa hadiah, sedangkan bentuk lain 7%. Selain itu mahasiswa umumnya lebih memilih diberitahu jika ada reward dibanding diberikan secara spontan. Perbedaan spesifik antara mahasiswa S1 dengan S2 terlihat saat pemilihan khusus jenis reward, dimana mahasiswa S1 lebih memilih nilai sedangkan mahasiswa S2 lebih mengharapkan adanya pengayaan materi, pembimbingan, serta pemberian sumber literatur yang dapat membantu tugas mereka. Penerapan reward yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan mahasiswa dapat menjadi acuan dalam mendorong semangat belajar mahasiswa selama perkuliahan.  Reward plays an essential role in supporting or increasing student learning motivation because it is believed as one of contributing factors to students' performance in lectures. This study intended to analyze how rewarding students in classes influences undergraduate (S1) and postgraduate (S2) degrees in biology education students' motivation to learn. The data was gathered utilizing a Lloyd-adapted online survey (2007) regarding students' perceptions of rewards in general and particular. Furthermore, 190 biology education students, consisting of 177 undergraduate students (S1) and 13 postgraduates (S2), had their perceptions addressed through quantitative analysis. The results indicated that all biology education students believed that rewards during lectures motivate them to learn. Although the percentage of the type of reward intended varies, such as a reward in the form of a score was 50%, encouragement or praise was 23%, then 20% was in the form of a gift, while other forms were 7%. In addition, students generally prefered to be informed if there was a reward compared to being given it spontaneously. When deciding on a specific reward, it was evident that postgraduate students differed significantly in their choices. Whereas undergraduate students prioritized grades or scores, postgraduate students expected more material enrichment, mentoring, and the provision of literature resources to assist with their assignments. Implementing rewards that are relevant to the educational level of the students can be a reference for enhancing their interest in lectures.