cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
GIZI INDONESIA
Published by DPP PERSAGI Jakarta
ISSN : 04360265     EISSN : 25285874     DOI : -
Core Subject : Health,
Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) is an open access, peer-reviewed and inter-disciplinary journal managed by The Indonesia Nutrition Association (PERSAGI). Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) has been accredited by Indonesian Institute of Sciences since 2004. Gizi Indonesia aims to disseminate the information about nutrition, therefore it is expected that it can improve insight and knowledge in nutrition to all communities and academics. Gizi Indonesia (Journal of The Indonesian Nutrition Association) offers a specific forum for advancing scientific and professional knowledge of the nutrition field among practitioners as well as academics in public health and researchers
Arjuna Subject : -
Articles 538 Documents
PENGARUH SUPLEMENTASI ZAT GIZI MIKRO TERHADAP STATUS BESI DAN STATUS VITAMIN A PADA SISWA SLTP Permaesih, Dewi; Ernawati, Fitrah; Ridwan, Endi; ., Sihadi; Saidin, Sukati
GIZI INDONESIA Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.597 KB)

Abstract

Penelitian status gizi siswa sekolah lima tahun terakhir mengungkapkan bahwa prevalensi anemia, yang dapat menyebabkan turunnya konsentrasi belajar, dan kurang vitamin A, yang dapat menyebabkan turunnya daya tahan tubuh, masih cukup tinggi, sehingga menjadi kendala dalam upaya mengoptimalkan prestasi belajar. Keadaannya semakin buruk jika kedua masalah ini diderita secara bersama-sama oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak suplementasi zat gizi mikro (Fe dan Vitamin A)terhadap perbaikan status besi dan status vitamin A. Penelitian dilaksanakan pada 150 siswa anemia yang tinggal di kabupaten Bogor. Data yang dikumpulkan meliputi: identitas siswa, kadar Hb, s-transferin, vitamin A serum (retinol), konsumsi makanan/zat gizi dan energi. Sebelum pemberian suplemen, dilakukan “deworming” dengan pemberian obat cacing dosis tunggal “Combantrin”. Sampel dibagi tiga kelompok, masing-masing 50 siswa. Pada kelompok A setiap siswa mendapat satu pil besi (ferro sulfat) dengan dosis 60 mg besi elemental +0,25 mg asam folat dan kapsul vitamin A (10.000 SI) dua kali per minggu. Kelompok B hanya mendapat satu pil besi seperti pada kelompok A, diberikan dua kali per minggu. Kelompok C adalah kelompok pembanding yang mendapat plasebo. Suplementasi berlangsung selama 12 minggu. Pemberian suplemen satu pil besi (60 mg besi elemental + 0,25 mg asam folat) dan vitamin A (10.000 SI) disertai pemberian snack mengandung energi (15% AKG), dua kali per minggu selama 12 minggu dapat memeningkatkan kadar Hb sebesar 1,40 g/dl, serum transferrin receptor (sTFR) sebesar – 1,0 µg/L, serum vitamin A (retinol) sebesar 6,1 µg/dl. Tidak ada perbedaan bermakna konsumsizat gizi (energi dan protein) sebelum dan sesudah pemberian suplementasi.Kata kunci: vitamin A, zat besi, siswa, anemia, KVA
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN BERISIKO TINGGI ., Rahmadewi; Herartri, Rina
GIZI INDONESIA Vol 34, No 2 (2011): September 2011
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.772 KB)

Abstract

Masih  tingginya  angka  kematian  ibu  dan  bayi  banyak  berhubungan  dengan  kehamilan,  persalinan  dan pasca  persalinan  yang  terjadi pada  wanita  yang  berisiko. Faktor-faktor  yang menyebabkan  risiko  tinggi pada  kehamilan  antara  lain  adalah  yang  disebut  dengan  ‘4  Terlalu’,  yaitu  jarak  kelahiran  terlalu  dekat, jumlah persalinan terlalu banyak, serta melahirkan  pada usia terlalu tua atau terlalu muda. Tujuan studi ini  adalah  hubungan  mempelajari  besar  hubungan  antara  beberapa  faktor  dengan  risiko  kehamilan  ’4 Terlalu’.  Studi  ini  menggunakan  data  SDKI  tahun  2007  terhadap  wanita  berstatus  kawin  yang  memiliki minimal  2  anak.  Jumlah  sampel  terpilih  adalah  9930  orang  ibu  berstatus  kawin.  Sebesar  2,7  persen kejadian risiko kehamilan 4 terlalu, adalah umur <20 atau >35 tahun (31,5 persen), jumlah kehamilan 4 kali atau lebih (28,7 persen), dan jarak kelahiran <24 bulan (17,8 persen). Analisis bivariat antara faktor sosiodemografi  yang  berhubungan  secara  statistik  (p<0,05)  dengan  risiko  kehamilan  4-terlalu  adalah  urutan kelahiran  anak,  pendidikan  ibu,  pendidikan  suami,  indeks  kesejahteraan  dan  tempat  tinggal.  Faktor pendukung yang berhubungan dengan risiko kehamilan 4-terlalu adalah kualitas asuhan kehamilan (ANC >  4  kali),  penolong  persalinan  dan  kesertaan  ber-KB.  Analisis  multivariat  menunjukkan  bahwa  status pekerjaan  ibu  merupakan  variabel  yang  dominan  yang  berhubungan  secara  bermakna  (p<0,05)  dengan kejadian  risiko  kehamilan  4  terlalu.  Untuk  menghindari  kejadian  kehamilan  4-terlalu,  perlu  peningkatanpenyuluhan (KIE) dengan strategi yang tepat baik kepada ibu-ibu PUS dan pasangannya maupun kepada remaja.  Selain  itu  perlu  upaya  pemberian  informasi  tentang  perencanaan  keluarga  dan  umur  kawin pertama yang berkaitan dengan Program KB dan kesehatan reproduksi. Kata kunci: kematian ibu, risiko tinggi, risiko kehamilan ‘4 Terlalu’.
PERILAKU MEROKOK ORANG TUA DAN BERAT BADAN BAYI LAHIR (Analisis Data Riskesdas 2010) ., Sudikno; ., Sandjaja
GIZI INDONESIA Vol 35, No 2 (2012): September 2012
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.886 KB)

Abstract

BBLR masih merupakan masalah di bidang kesehatan perinatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku  merokok  orang  tua  dengan  berat  badan  bayi  lahir.  Penelitian  ini  menggunakan  data  sekunder Riskesdas  2010  dengan  disain  penelitian  cross-sectional.  Sampel  adalah  semua  rumah  tangga  yang mempunyai  bayi  berumur  0-11  bulan.  Data  diambil  dari  kuesioner  individu  (RKD10IND)  dan  kuesioner rumah tangga (RKD10RT),  yaitu karakteristik  kepala keluarga, istri dari kepala keluarga. Data anak yang dianalisis  yang  mempunyai  catatan  berat  badan  lahir,  lahir  cukup  bulan,  status  sebagai  anak  (bukan anggota  keluarga  lain).  Hasil  penelitian  tidak  berhasil  menunjukkan  adanya  perbedaan  rata-rata  berat badan lahir bayi menurut perilaku orang tua yang perokok maupun bukan perokok.Kata kunci: perilaku merokok, orang tua, berat badan bayi lahir
PENATALAKSANAAN DIET PADA NEFROPATI DIABETIK Kresnawan, Triyani; Darmarini, Ferina
GIZI INDONESIA Vol 27, No 2 (2004): September 2004
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.056 KB)

Abstract

One of the complication of diabetes mellitus is nephropathy diabetic, if this situation is not cured properly it tends to develop the end stage of renal failure. The objectives of this diet management in patients with nephropathy diabetic are to reduce progression of renal damage, maintain the nutritional status of the patient, control blood glucose, lipid serum and maintain electrolyte and fluid balance. Nutrient requirement of nephropathy diabetic patients should contain: protein 0.8 g/kg/body weigh/day. But if patients suffered of end stage of renal failure 0.8 g/kg body weigh/day, in the case of dialysis the protein need is 1-1.2g/kg body weigh/day. For energy requirement they need 35 kcal/kg body weigh/day, with the carbohydrate 60% from total energy need, fat should be 30% total energy need contain poly unsaturated fatty acid and mono unsaturated fatty acid. For mineral, natrium (Na) is needed 1000-3000 mg/day, whereas kalium (K) is 40-70 mEq/day (1600-2800mg/day). In conclusion, diet management is taking an important role to delay the progression of being end stage renal failure.Keywords: nefropati diabetik, gagal ganjal terminal
STATUS GIZI ANAK BALITA DAN KARAKTERISTIKNYA DI DUA KECAMATAN DI KOTA PEKANBARU Desfita, Sri; Priwahyuni, Yuyun
GIZI INDONESIA Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.071 KB)

Abstract

Berdasarkan profil kesehatan Provinsi Riau tahun 2010 diketahui bahwa prevalensi status gizi pendek di Kota Pekanbaru sebesar 30,2 persen. Batas masalah kesehatan masyarakat untuk status gizi pendek adalah lebih dari 20 persen.5 Dengan demikian masalah kekurangan gizi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kota Pekanbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi anak balita dan hubungannya dengan riwayat menyusui dan pengetahuan gizi ibu di kota Pekanbaru. Jenis penelitian adalah observasional dengan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh anak balita di kecamatan Sail dan kecamatan Tampan, kota Pekanbaru. Sampel adalah anak balita berusia 6 - 60 bulan sebanyak 194 anak balita. Teknik sampling menggunakan purposive dalam pemilihan kecamatan, dan secara consecutive sampling dalam pemilihan subjek penelitian. Variabel penelitian adalah status gizi anak balita sebagai variabel terikat dan riwayat menyusui (inisiasi menyusu dini dalam 1 jam setelah lahir, pemberian kolostrum, dan pemberian ASI eksklusif), serta pengetahuan gizi ibu sebagai variabel bebas. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan uji fisher exact. Hasil menunjukkan bahwa 25 persen anak balita mengalami status gizi pendek, 9,25 persen mengalami gizi kurang, dan 4,16 persen mengalami kurus. Inisiasi menyusu dini, pemberian kolostrum, dan pemberian ASI eksklusif tidak berhubungan dengan status gizi anak balita (p>0,05). Pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan dengan status gizi anak balita (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa masalah gizi pada anak balita di kota Pekanbaru terutama adalah status gizi pendek. Riwayat menyusui dan pengetahuan gizi ibu bukan merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap status gizi anak balita di kota Pekanbaru.ABSTRACT NUTRITIONAL STATUS OF UNDER-FIVE-YEAR-OLD CHILDREN AND ITS CHARACHTERICTICS                        AT TWO SUB-DISTRICTS IN PEKANBARU CITY  According to the health profile of Riau Province in 2010, the prevalence of stunting in under five year old children in Pekanbaru City is 30,2%. Cut-off for prevalence value to be a public health significance for stunting is > 20%. Thereby stunting is still a public health problem in Pekanbaru City. This aim of the study is to know the nutritional status of under-five-year-old children and its relationship with breastfeeding history and maternal nutritional knowledge. The study was observational using crossectional design. The study population was all children aged under five years in Sail Sub District and Tampan Sub District, Pekanbaru City. The samples were taken consecutive sampling among 6-60 months children. The total samples were 194 children. Purposive sampling was used to select the sub district and consecutive sampling was used to select the sample. Variables studied include nutritional status using anthropometry as dependent variable, breastfeeding history (initiation of breastfeeding within 1 hour of birth, colostrum feeding, and exclusive breastfeeding) and maternal nutritional knowledge as independent variables. Data analysis was used for univariate and bivariate using chi square and fisher exact tests. The results showed that 25% of children were stunted, 9.25% were underweight while 4.16% were wasted. Initiation of breastfeeding within 1 hour after birth, colostrum feeding and exclusive breastfeeding, as well as maternal nutritional knowledge were not significant (p>0.05) with nutritional status of children under-five years. In conclusion, stunted is the major nutritional problem in Pekanbaru City. Breastfeeding history and maternal nutritional knowledge are not significant risk factors for undernutrition among children under-five years.Keywords: nutritional status, breastfeeding history, maternal nutritional knowledge, children under-five years
NUTRITION AND HEALTH STATUS AND COGNITIVE PERFORMANCE OF SCHOOL CHILDREN IN JAKARTA AND TANGERANG RECEIVING WORLD FOOD PROGRAM – NUTRITION REHABILITATION PROGRAMME (WFP-NRP) Muslimatun, Siti; Fahmida, Umi; Maskar, Dadi Hidayat; Phan Ju Lan, Maria Chatarina; Izushi, Keiko
GIZI INDONESIA Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.927 KB)

Abstract

UN World Food Programme (WFP)melalui Nutrition Rehabilitation Programme (NRP)melakukan inisiasi pemberian makanan tambahan pada anak sekolah tahun 2004 dengan mendistribusikan biskuit yang difortikasi 9 vitamin dan 4 mineral di sekolah dasar di lingkungan penduduk miskin di Jakarta dan Tangerang. Untuk menilai dampak dari program ini dilakukan evaluasi perubahan status gizi dan kesehatan dan juga pengaruhnya pada asupan gizi serta kognitif dari anak setelah satu tahun pelaksanaan program. Data dari 691 anak (335 laki-laki, 356 perempuan) diperoleh dari  Jakarta  Barat  (N=243),  Kota  Tangerang  (N=81)  dan  Kabupaten Tangerang  (N=367). Sebagian anak merasakan lapar pada waktu sekolah dan lebih dari 80% sangat senang untuk mendapat  biscuit  setiap  hari.  Ditemukan  70%  anak  dapat  menghabiskan  1  pak,  20%  anak menghabiskan ½-1 pak, 10% <½ pack pak biskuit dengan asupan zat besi, zink, kalsium dan vitamin yang lebih tinggi dari biasanya. Dibanding dengan data dasar, terlihat terjadi penurunan prevalensi anemia dari 23,9% menjadi 10% dan cadangan besi yang rendah dari 25,7% menjadi 19,6%, serta untuk anak-anak di kabupaten Tangerang berkurangnya keluhan sakit. Nilai rata-rata kognitif anak yang dinilai berdasarkan % nilai maksimummembaik untuk semua aspek (seperti: kemampuan berbahasa, kemampuan memberikan alasan, penglihatan, konsentrasi, menghafal dan mengingat) untuk anak di kabupaten Tangerang, demikian juga di Jakarta Barat dan Kota Tangerang kecuali untuk kemampuan memberikan alasan dan mengingat. Dari studi ini dievaluasi bahwa prevalensi gizi kurang tidak berubah (21.8% Jakarta Barat, 23.5% Kota Tangerang, 39.0% kabupaten Tangerang). Hasil temuan lainnya adalah pengetahuan anak untuk kesehatan dan gizi masih  belum  baik  dan  prevalensi  kecacingan  yang  masih  30%  di  kabupaten  Tangerang. Direkomendasikan  agar  partisipasi  institusi  terkait  perlu  dioptimalkan  untuk  meningkatkan pendidikan atau pengetahuan tentang kesehatan dan gizi kepada guru sekolah, penjaja makanan di sekolah dan juga  sosialisasi untuk  orang tua murid. Keberadaan materi penyuluhan atau pendidikan  tentang  pentingnya  fasilitas  sanitasi  serta  program  kecacingan  juga akan  dapat meningkatkan keefektifan program.
PENGEMBANGAN FORMULA SIRUP ZINK DARI EKSTRAK IKAN BILIH (Mystacoleucus- padangensis) SEBAGAI ALTERNATIF SUPLEMENTASI ZINK ORGANIK PADA ANAK PENDEK (STUNTED) USIA 12-36 BULAN Yuniritha, Eva; Juffrie, Mohammad; Ismail, Djauhar; Pramono, Suwijiyo
GIZI INDONESIA Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.085 KB)

Abstract

Sirup zink ekstrak ikan bilih dibuat dari formulasi sirup dengan bahan dasar ikan bilih (mystacoleucus padangensis) yang mempunyai kandungan zink 27,8 mg/100 gram, lebih tinggi dibandingkan bahan pangan lain. Pemanfaatan ekstrak ikan bilih sebagai alternatif suplementasi zink organik untuk mengatasi defisiensi zink perlu diteliti dalam upaya percepatan penanggulangan masalah anak pendek (stunted) pada anak umur 12-36 bulan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan formula sirup zink dari ekstrak ikan bilih (mystacoleuseus padangensis) sebagai alternatif suplementasi zink organik pada anak pendek (stunted). Penelitian eksperimental laboratorium ini dimulai dari ekstraksi ikan bilih dengan metode yang standar dilakukan di laboratorium Biologi dan Sediaan Cair Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ekstrak ikan bilih mengandung kadar zink yang sangat tinggi (161,97 mg/100 gram), di formulasi menjadi formula sirup suspensi, dengan sediaan utama estrak Zink Citrat, Vitamin A dan protein, ditambah sirup simplek (64%), CMC-Na, Asam Citrat, perasa buah dan pewarna. Formula sirup suplementasi zink ini memenuhi syarat International Zinc Nutrition Consultative Group (IZiNCG), dengan 3 formulasi terbaik berdasarkan uji organoleptik, yaitu formula F 4.1, F 2.2 dan F 2.3. Formula sirup zink dari ektrak ikan bilih dapat dijadikan sebagai alternatif suplementasi zink organik untuk menanggulangi defisiensi zink pada anak pendek (stunted).ABSTRACT THE DEVELOPMENT OF ZINC SYRUP FORMULA FROM BILIH FISH EXTRACT (Mystacoleucus-padangensis) AS AN ALTERNATIVE FOR ZINC ORGANIC SUPPLEMENTATION IN STUNTED CHILDREN AGED 12-36 MONTH The extract of bilih fish (mystaleuseuspadangensis) zinc syrup is made from basic ingredient of bilih fish which contains 27,8 mg zinc/100 gram syrup. It is much higher than other food zinc source. The use of the extract of bilih fish as an alternative of organic zinc supplementation can be used for those who have zinc deficiency. Therefore, it is essential to be studied as an alternative intervention program for stunting in children aged 12-36 months. This objective of this study is to develop zinc formula syrup from the extract of bilih fish (mystaleuseuspadangensis) as an organic zinc supplementation for stunted children. This laboratory experimental research is begun by extracting the fish bilih using a standard method. The extract of bilih fish is formulated in the form of suspension syrup, at the laboratory of Biology and Liquid Preparation in the Faculty of Pharmacy, Gajah Mada University in Yogyakarta. The extract of bilih fish is very high in zinc content (161, 97 mg/100 gram), with main preparation of Zinc Citrate, Vitamin A and protein, added with simplex syrup (64%), CMC-Na, Citric Acid, fruit flavor and food color subtances. This supplement syrup formula is based on International Zinc Nutrition Consultative Group (IZiNCG), with 3 best formulas based on organoleptic test, formula F 4.1, F 2.2 and F 2.3. The zinc syrup formula from extract of bilih fish could be an alternative of organic zinc supplementation to address zinc deficiency in stunted children.Keywords: extract bilih, zinc supplementation, stunting
THE ALARMING FOOD INSECURITY SITUATION IN INDONESIA: ANALYSIS OF 13 STUDIES IN 6 PROVINCES WITHIN 2004-2006 AND ITS RELATIONSHIP WITH LIVELIHOOD SECURITY Usfar, Avita A.
GIZI INDONESIA Vol 30, No 2 (2007): September 2007
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.567 KB)

Abstract

KETAHANAN PANGAN YANG MENGKHAWATIRKAN DI INDONESIA: ANALISA 13 PENELITIAN DI 6 PROVINSI TAHUN 2004-2006 DAN HUBUNGANNYA DENGAN KETAHANAN HIDUPPada kurun waktu 2004-2006, SEAMEO-TROPMED RCCN-UI telah melakukan 13 survei yangberhubungan dengan Ketahanan Pangan. Survei-survei tersebut mencakup 6 propinsi (Jakarta,Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT) dan SulawesiTengah), mencakup 22 Kabupaten dan 9.038 rumah tangga. Sepuluh survei dilakukan diperdesaan. Tulisan ini bertujuan untuk melihat pola ketahanan pangan (Food Security), dari segilokasi, waktu, kualitas, maupun hubungannya dengan status gizi dan ketahanan hidup ( livelihoodsecurity). Berdasarkan analisa menurut lokasi, NTT memiliki proporsi rumahtangga rawan panganlebih banyak (94%) dibandingkan propinsi lainnya (68-83%) baik dari segi rawan pangan dengankelaparan, kelaparan tingkat sedang, maupun kelaparan tingkat parah. Kebanyakan rumah tanggarawan pangan di NTB termasuk kategori Kelaparan (rawan pangan 77%, rawan pangan dengankelaparan 64%), namun kebanyakan rumahtangga rawan pangan di Jakarta termasuk tidakkelaparan (rawan pangan 83%, rawan pangan dengan kelaparan 19%). Di Jawa Timur, walaupunpersentase rumahtangga rawan pangan sama, proporsi terbesarnya di kota (kota 25%, desa19%). Sebaliknya, di NTT proporsi rumahtangga yang rawan pangan dengan kelaparan lebihbesar di desa (kota 58%, desa 65%). Berdasarkan analisa waktu, ketahanan pangan rumahtangga di NTT dari 2004-2006 tetap tinggi (>93%) dan cenderung meningkat. Banyak rumahtangga turun dari kategori kelaparan tingkat sedang menjadi kelaparan tingkat parah setelahSeptember 2005 (50%). Ketahanan rumah tangga di Sulawesi Tengah juga mengkhawatirkan,i.e. meningkatnya rumah tangga kurang pangan sebanyak 19% dalam kurun waktu satu tahun.Berdasarkan analisa dimensi, masalah ketahanan pangan terbesar adalah aksesibilitas, bukanketersediaan. Berdasarkan analisa kualitas, walaupun lebih banyak varietas makanan (dietarydiversity) terdapat di Jakarta/Surabaya dibanding NTT (99 dibanding 56), penduduk NTT secararata-rata mengkonsumsi lebih banyak varietas makanan (Jakarta dan Surabaya 40, NTT 46).Beragam cara untuk bertahan hidup (coping strategies) ditemukan di daerah-daerah survei.Asosiasi antara ketahaan pangan dengan status gizi ditemukan di NTT (dengan stunting) danNTB (dengan underweight); p<0.05. Variabel langsung (ketahanan ekonomi, ketahanan gizi)maupun variabel tidak langsung (ketahanan pendidikan, lingkungan perumahan, pangan, dankesehatan) mempunyai peran pada ketahanan hidup rumahtangga di NTT maupun di SulawesiTengah. Kata kunci: ketahanan pangan, rawan pangan, kelaparan, status gizi, keragaan pangan, ketahanan hidup
SURVIVAL RATE PENYANDANG HIPERTENSI DENGAN KONSUMSI NATRIUM RENDAH TERHADAP KEJADIAN STROKE Rahajeng, Ekowati; Riyadina, Woro
GIZI INDONESIA Vol 39, No 2 (2016): September 2016
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.598 KB)

Abstract

Stroke is the leading cause of death and disability in the world. Several studies have shown that stroke can be prevented through modifiable risk factors. The adequate treatment of hypertension may reduce the risk of stroke. Lifestyle modification such as reducing salt intake in hypertension management have demonstrated lowering blood pressure, enhancing the effectiveness of antihypertension drugs and also reducing stroke risk. This study aims to verify the survival rate of hypertension with lower sodium intake (<2000 mg per day) on the incidence of stroke. The study was conducted through a prospective cohort study (4 years of follow-up) in 1082 people with confirmed hypertension. Stroke were confirmed by neurologist. The consumption of sodium, sugar and fat were collected through 24-hour dietary recall. Hypertension survival rate was calculated using Life Table Survival analysis. This study has demonstrated evidence of the higher survival rate of hypertension with low sodium intake on the incidence of stroke, with the difference 2-year survival rate is 3 percent higher and 4-year survival rate is 5 percent higher. Sodium consumption of <2000 mg per day in people with hypertension has prevented a 78 percent incidence of stroke. Therefore, the intervention programs to reduce of the consumption of salt or sodium in Indonesia should be prioritized.
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN CARA MEMASAK SAYURAN DAN KADAR CHOLINESTERASE TERHADAP STATUS HORMON THYROID WANITA USIA SUBUR DI DAERAH GONDOK ENDEMIK Tanziha, Ikeu; Saidin, Sukati; ., Nurdin; ., Hardinsyah
GIZI INDONESIA Vol 31, No 2 (2008): September 2008
Publisher : PERSATUAN AHLI GIZI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.656 KB)

Abstract

THE ASSOCIATION BETWEEN FREE THYROXINE AND VEGETABLES COOKING AND SERUM CHOLINESTERASE OF CHILD BEARING AGE WOMEN IN ENDEMIC GOITRE AREAPesticides, a goitrogenic pollutant, strongly bind iodine to make a complex substance which iodinecan not optimally be utilized and leads to impair thyroxine hormone production. Farmers in Pakissub district of Magelang district often put pesticides of organophosphate and carbamate groups toincrease vegetables yield. The retained pesticides in the foods can be minimized by cooking. Todetermine the association between free thyroxine sera and vegetable cooking and cholinesterasesera. A cross-sectional study design was applied to 205 of child bearing age women (CBAW) of 17– 45 years of age in Pakis sub district of Magelang District, Central Java. Vegetable in whichpesticide may persist were cooked in two ways, namely were boiled and tumis (stir fried). Bloodspicement were drawn for fT4 and cholinesterase axamination. It was indicated that serum FT4 of68,3 % of CBAW were normal, while 31,7 % of them were low and 5.1% of CBAW with low serumCHE. There was a significant association between the way of cooking , status of serum CHE andcontraceptive use of family planning with to status of serum FT4. The child bearing age womenthat consume vegetables cooked by “tumis” (cooking stir fried) having higher risk of low serum freethyroxin status, 2,5 times than that of by boiling. CBAW with low cholinesterase enzyme (CHE)having lower risk of low serum free thyroxin hormone status (FT4), 10 times than that of withnormal CHE. CBAW with hormonal contraception having higher risk of low serum FT4, 0,50times than that usage non hormonal contraception. In order to minimize pesticide residuesretained in vegetables, it should be cooked by boilingKey words:iodine status,pesticide, cholinesterase, cooking stir fried, child bearing age women,thyroxine status,endemic goiter

Filter by Year

2004 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 46 No 2 (2023): September 2023 Vol 46, No 1 (2023): Maret 2023 Vol 45, No 2 (2022): September 2022 Vol 45, No 1 (2022): Maret 2022 Vol 44, No 2 (2021): September 2021 Vol 44, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 43, No 2 (2020): September 2020 Vol 43, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 42, No 2 (2019): September 2019 Vol 42, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 2 (2018): September 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 41, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 2 (2017): September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 40, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 2 (2016): September 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 39, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 2 (2015): September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 38, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 2 (2014): September 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 37, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 2 (2013): September 2013 Vol 36, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 2 (2012): September 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 35, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 2 (2011): September 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 34, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 2 (2010): September 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 33, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 2 (2009): September 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 32, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 2 (2008): September 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 31, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 2 (2007): September 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 30, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 2 (2006): September 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 29, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 2 (2005): September 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 28, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 Vol 27, No 2 (2004): September 2004 More Issue