cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,601 Documents
Peran edukasi gizi dan pelatihan hidroponik dalam pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesehatan ibu dan anak di Kelurahan Boneoge, Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala Nuristha Febrianti; Hardianti Hardianti; Puput Putri; Ni Nyoman Triyani; Miftahul Rahma
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.34599

Abstract

Abstrak Stunting masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia dengan prevalensi 21,5% pada tahun 2023, termasuk di Kabupaten Donggala yang mencapai 32,4%. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi komprehensif berbasis masyarakat untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat melalui edukasi gizi, pelatihan hidroponik, dan inovasi pangan lokal. Metode kegiatan meliputi (1) edukasi pentingnya ASI eksklusif dan peran Posyandu dengan evaluasi pre–post test, (2) pelatihan pembuatan kebun hidroponik, serta (3) demo pembuatan camilan sehat puding kelor. Hasil menunjukkan 13 responden mengalami peningkatan pengetahuan setelah edukasi sebesar 78,6% dengan kategori baik, pelatihan hidroponik berhasil menghasilkan tanaman siap panen dalam 3 bulan pada 13 peserta, serta produk puding kelor diterima positif oleh 14 panelis dengan penilaian rasa sangat baik (61,5%), tekstur baik (53,8%), warna sangat baik (53,8%), dan aroma sangat baik (61,5%). Kesimpulannya, kegiatan ini berkontribusi nyata dalam meningkatkan pengetahuan gizi, keterampilan masyarakat, diversifikasi pangan rumah tangga, serta upaya pencegahan stunting. Dukungan berkelanjutan dari masyarakat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program. Kata kunci: edukasi gizi; hidroponik; puding kelor; stunting Abstract Stunting remains a serious health problem in Indonesia, with a prevalence of 21.5% in 2023, including in Donggala Regency, which reached 32.4%. This situation highlights the need for comprehensive community-based interventions to improve maternal and child health. This community service activity aims to empower the community through nutrition education, hydroponic training, and local food innovations. The activity methods include (1) education on the importance of exclusive breastfeeding and the role of Posyandu with pre–post test evaluations, (2) training in hydroponic gardening, and (3) training in making healthy snacks in the form of moringa pudding with organoleptic acceptance tests. The results showed that 13 respondents experienced an increase in knowledge after education of 78.6% with a good category, hydroponic training successfully produced harvest-ready plants in 3 months for 13 participants, and moringa pudding products were positively received by 14 panelists with taste rated as very good (61.5%), texture good (53.8%), color very good (53.8%), and aroma very good (61.5%). In conclusion, this activity contributes significantly to improving nutritional knowledge, community skills, household food diversification, and stunting prevention efforts. Continuous support from the community, local government, and universities is needed to maintain the program's sustainability. Keywords: nutrition education; moringa pudding; hydroponics; stunting
Sinergi kampus dan KJA dalam penerapan sistem informasi akuntansi guna mencetak akuntan unggul dan profesional berbasis teknologi berdampak Lesi Hertati; Inten Meutia; Haryono Umar; Jamaludin Iskak; Arief Nopriansyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.37587

Abstract

AbstrakPerkembangan teknologi informasi yang semakin pesat menuntut dunia pendidikan tinggi untuk beradaptasi dan menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan praktis berbasis teknologi. Kantor Jasa Akuntansi (KJA) sebagai mitra strategis memiliki peran penting dalam menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi mahasiswa, khususnya dalam penerapan Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Sinergi antara kampus dan KJA melalui program workshop, pelatihan, dan kolaborasi pengabdian masyarakat menjadi langkah konkret guna memperkuat kualitas pembelajaran akuntansi yang relevan dengan perkembangan industri. Penerapan SIA tidak hanya mendukung proses akuntansi yang lebih efisien dan transparan, namun membekali mahasiswa dengan kemampuan analisis data, pemahaman praktik bisnis, serta pemanfaatan teknologi akuntansi terkini. Adanya sinergi ini, mahasiswa sebagai calon akuntan dapat berkembang menjadi tenaga profesional yang unggul, berintegritas, dan adaptif terhadap era digital. Hasil dari kolaborasi ini diharapkan mampu mencetak akuntan yang siap menghadapi tantangan global, meningkatkan daya saing bangsa, serta berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berbasis teknologi.  Kata kunci: sinergi kampus; kja; penerapan sia; mencetak  akuntan unggul; profesional berbasis teknologi. AbstractThe increasingly rapid development of information technology requires higher education to adapt and produce graduates who possess not only academic competence but also practical technology-based skills. The Accounting Services Office (KJA), as a strategic partner, plays a crucial role in bridging the needs of the workforce with student competencies, particularly in the application of Accounting Information Systems (AIS). Synergy between the university and KJA through workshops, training, and collaborative community service programs is a concrete step towards strengthening the quality of accounting learning that is relevant to industry developments. The implementation of AIS not only supports more efficient and transparent accounting processes but also equips students with data analysis skills, an understanding of business practices, and the use of the latest accounting technology. This synergy enables students as prospective accountants to develop into superior professionals with integrity and adaptability to the digital era. The results of this collaboration are expected to produce accountants who are ready to face global challenges, increase national competitiveness, and contribute to technology-based economic development. Keywords: campus synergy; kja; implementation of ais; producing superior accountants; technology-based professionals.
Pelatihan professional English for educators untuk meningkatkan world-class teaching competences bagi guru SMPN 9 Payakumbuh Melda Mahniza; Rahmi Oktarina; Fani Keprila Prima; Indra Saputra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35223

Abstract

AbstrakPerkembangan pendidikan abad ke-21 menuntut guru memiliki kompetensi yang adaptif, termasuk penguasaan bahasa Inggris profesional untuk mengakses sumber belajar global dan mengadopsi inovasi pembelajaran internasional. Namun, guru di SMPN 9 Payakumbuh masih menghadapi keterbatasan dalam menguasai bahasa Inggris pedagogik, sehingga berdampak pada rendahnya pemanfaatan referensi global dan kurangnya adaptasi desain pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan generasi Z. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan world-class teaching competences guru melalui Pelatihan Professional English for Educators (PEE). Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada tanggal 25–26 Juli 2025 dengan 20 guru sebagai peserta pelatihan. Metode kegiatan dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Pelatihan difokuskan pada dua aspek utama yaitu peningkatan kemampuan memahami teks akademik, menyusun instruksi pembelajaran dalam bahasa Inggris, serta pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) seperti Grammarly dan ChatGPT untuk mendukung pengembangan materi dan evaluasi pembelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru dalam penggunaan bahasa Inggris profesional, kepercayaan diri dalam berkomunikasi di kelas, serta keterampilan memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran. Meskipun masih terdapat kendala waktu praktik dan kelancaran berbicara, pelatihan ini telah memberikan fondasi awal yang kuat bagi guru untuk meningkatkan kompetensi pengajaran berstandar global. Kegiatan ini disarankan untuk dilanjutkan melalui pendampingan berkelanjutan serta pengembangan komunitas belajar internal agar manfaatnya lebih luas dan berkesinambungan. Kata Kunci: AI; competence; educators; pembelajaran; professional english,. AbstractThe development of 21st-century education requires teachers to possess adaptive competencies, including professional English proficiency that enables them to access global learning resources and adopt international instructional innovations. However, teachers at SMPN 9 Payakumbuh still face limitations in mastering pedagogical English, which has resulted in the low utilization of global references and limited adaptation of instructional designs that align with the needs of Generation Z learners. This community service program aims to enhance teachers’ world-class teaching competences through the Professional English for Educators (PEE) Training. The program was implemented on 25–26 July 2025 and involved 20 teachers as participants. The implementation consisted of several stages, namely socialization, training, technology application, mentoring, and evaluation. The training focused on two main aspects: improving teachers’ ability to comprehend academic texts and develop instructional guidelines in English, as well as utilizing Artificial Intelligence (AI)–based tools such as Grammarly and ChatGPT to support the development of teaching materials and learning assessments. The results indicate improvements in teachers’ understanding of professional English, confidence in classroom communication, and skills in using digital technologies to support teaching and learning. Although challenges remained—particularly limited practice time and fluency in speaking—the training provided a strong initial foundation for teachers to enhance their global-standard teaching competence. It is recommended that this program be continued through sustained mentoring and the establishment of internal learning communities to ensure broader and long-term benefits. Keywords: AI; competence; educators; learning; professional english.
Peningkatan Keterampilan Kewirausahaan Ekonomi Hijau Pembuatan Hidrogel Aromaterapi Pada Siswa SMA N 1 Kuala Kapuas Muhammad Irmawan; Lia Septya; Erwin Prasetya Toepak; Vivy Kristinae; Leony Wulandary; Alvin Siena Atviaputra; Diah Panjar Arum
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.33902

Abstract

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pengangguran di Kabupaten Kapuas menduduki peringkat pertama dengan jumlah pengangguran terbanyak di Kalimantan Tengah pada tahun 2023. Cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggiatkan kegiatan kewirausahaan ekonomi hijau. Di banyak negara, konsep kewirausahaan ekonomi hijau telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dalam upaya meningkatkan wawasan berwirausaha siswa. Oleh karena itu kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat melalui pendampingan kewirausahaan ekonomi hijau produk hidrogel aromaterapi berbahan miyak atsiri dari tumbuhan, dilaksanakan di SMAN 1 Kuala Kapuas berdasarkan metode community-based approach. Kegiatan pengabdian melalui 4 tahapan utama, yaitu Identifikasi masalah, Perencanaan, Pelaksanaan pelatihan dan evaluasi. Data hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa setelah siswa dan siswi SMAN 1 Kuala Kapuas mengikuti kegiatan, mereka mampu melakukan ekstrasi minyak atsiri, membuat produk hidrogel aromaterapi dan memahami konsep kewirausahaan ekonomi hijau yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelatihan dan pendampingan edukasi teknik menyusui pada kader posyandu Rohani Siregar
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35756

Abstract

AbstrakTeknik menyusui merupakan aspek penting yang berperan dalam kelancaran produksi ASI. Apabila dilakukan dengan cara yang kurang tepat, hal ini dapat menimbulkan lecet pada puting, membuat ibu enggan menyusui, sehingga frekuensi bayi menyusu berkurang. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya rangsangan produksi ASI dan menghambat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman kader posyandu terkait permasalahan laktasi dan praktik menyusui yang benar. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan dengan pendekatan edukasi pra dan pasca intervensi, disertai demonstrasi teknik menyusui, yang diikuti oleh 27 kader posyandu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum program dilaksanakan, sebagian besar kader memiliki pengetahuan kurang sebanyak 16 orang (59,3%), kategori cukup 5 orang (18,5%), dan kategori baik 6 orang (22,2%). Setelah diberikan edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan, di mana 18 orang (66,7%) berada pada kategori baik, 7 orang (25,9%) cukup, dan hanya 2 orang (7,4%) masih berada pada kategori kurang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan signifikan, dari pengetahuan baik sebesar 22,2% sebelum kegiatan menjadi 66,7% setelah kegiatan, atau setara dengan rata-rata peningkatan sebesar 200%. Kata Kunci : ASI eksklusif; ibu menyusui; kader posyandu; pelatihan; teknik menyusui AbstractBreastfeeding technique is a crucial factor influencing the smooth production of breast milk. When performed incorrectly, it may cause nipple soreness, discourage mothers from breastfeeding, and reduce the frequency of infant feeding. This situation negatively affects the stimulation of milk production and hampers the success of exclusive breastfeeding. The purpose of this community service activity was to enhance the knowledge of posyandu (integrated health post) cadres regarding lactation issues and proper breastfeeding practices. The method applied included health education through pre- and post-intervention sessions, accompanied by demonstrations of correct breastfeeding techniques, attended by 27 cadres. The results showed that prior to the program, most cadres had low knowledge—16 people (59.3%), moderate knowledge—5 people (18.5%), and good knowledge—6 people (22.2%). After the intervention, there was a significant improvement, with 18 cadres (66.7%) in the good category, 7 cadres (25.9%) in the moderate category, and only 2 cadres (7.4%) remaining in the low category. In conclusion, knowledge levels improved considerably, from 22.2% in the good category before the intervention to 66.7% afterward, representing an average increase of 200%. Keywords: exclusive breastfeeding; breastfeeding mothers; posyandu cadres; training; breastfeeding techniques
Mengintegrasikan kearifan lokal dalam literasi numerasi dan keuangan: pemanfaatan permainan cukil lidi dalam pengabdian masyarakat Sri Hartatik; Nafiah Nafiah; Pance Mariati; Luluk Khoiriyah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.35327

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi numerasi dan literasi keuangan masyarakat melalui integrasi permainan tradisional cukil lidi sebagai media pembelajaran berbasis kearifan lokal. Program dilaksanakan di Pondok An-Nahdloh, Tanjung Sepat, Malaysia, dengan melibatkan 30 peserta yang terdiri atas santri dan masyarakat sekitar. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dengan tahapan persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Permainan cukil lidi dimodifikasi sehingga selain melatih keterampilan berhitung juga digunakan sebagai simulasi transaksi keuangan sederhana, seperti menabung, membuat pos pengeluaran, dan pengelolaan sumber daya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada kemampuan peserta. Nilai rata-rata numerasi meningkat dari 53,7% menjadi 82,9% (kenaikan 29,3 poin persentase), sedangkan rata-rata literasi keuangan meningkat dari 50,1% menjadi 75,0% (kenaikan 24,9 poin persentase). Selain aspek kognitif, kegiatan ini juga memberikan dampak afektif dan sosial, yaitu meningkatnya motivasi belajar, kerja sama, serta rasa kebersamaan di antara peserta. Respon guru dan masyarakat menunjukkan dukungan penuh, dengan tingkat komitmen mencapai 100% untuk melanjutkan program. Temuan ini menegaskan bahwa permainan tradisional dapat menjadi sarana edukasi yang efektif sekaligus melestarikan nilai budaya lokal. Dengan demikian, pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal memberikan kontribusi ganda, yaitu peningkatan keterampilan numerasi dan literasi keuangan serta penguatan identitas budaya. Program ini berpotensi untuk direplikasi di lembaga pendidikan lain sebagai model pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berkelanjutan.
Pelatihan pengembangan modul ajar dalam menyiapkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) pada guru SMAS IT Kyai Sekar AL-Amri Probolinggo Zukhrufurrohmah Zukhrufurrohmah; Fahdian Rahmandani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.33980

Abstract

Abstrak Progam pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pelatihan dan pendampingan dalam mengembangkan modul ajar yang aplikatif dan kontekstual. Dalam pelatihan pengembangan modul ajar ini, berperan strategis dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan pedagogi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, kontekstual dan menyenangkan. Metode yang digunakan meliputi analisis kebutuhan pada mitra pengabdian, merencanakan pelatihan dan pendampingan termasuk penyusunan materi pelatihan, pelaksanaan workshop, pendampingan intensif, dan evaluasi berkelanjutan. Peserta pelatihan sebanyak 16 orang guru di SMAS IT Kyai Sekar AL-AMRI Probolinggo. Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus -  30 Desember 2025. Hasil pengabdian menunjukkan kegiatan pengabdian ini telah tercapai sebesar tujuh puluh lima persen (75%). Terjadi peningkatan dalam pemahaman dan keterampilan guru menyusun modul ajar sesuai prinsip kurikulum merdeka. Tertbentuknya komunitas belajar guru di internal sekolah SMAS IT Kyai Sekar AL-AMRI Probolinggo. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam memfasilitasi transisi kurikulum ditingkat sekolah. Kata kunci: kurikulum merdeka; modul ajar; pelatihan guru. Abstract This community service program aims to improve teacher competency through training and mentoring in developing applicable and contextual teaching modules. This module development training plays a strategic role in enhancing teachers' understanding and pedagogical skills in implementing student-centered, contextual, and enjoyable learning. The methods used include needs analysis of community service partners, training planning and mentoring, including the development of training materials, workshop implementation, intensive mentoring, and ongoing evaluation. Sixteen teachers at SMAS IT Kyai Sekar AL-AMRI Probolinggo participated in the training. Results indicate that 75% of the program's achievements have been achieved. There has been an increase in teachers' understanding and skills in developing teaching modules in accordance with the principles of the independent curriculum. A teacher learning community has been established within SMAS IT Kyai Sekar AL-AMRI Probolinggo. This activity has made a significant contribution to facilitating the curriculum transition at the school level. Keywords: independent curriculum; teaching modules; teacher training.
Alat pemotong pita otomatis berbasis counter inkremental untuk mendukung produktivitas ekspor di UMKM Dodik Alfi, Kabupaten Blitar Imam Saukani; Agus Sukoco Heru Sumarno; Achmad Zaini; Prasetyo Hermawan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.35176

Abstract

Abstrak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, namun masih menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya pada aspek efisiensi produksi dan manajemen usaha. UMKM Dodik Alfi di Kabupaten Blitar merupakan pelaku industri kreatif kerajinan tas anyaman yang mengalami kendala pada proses pemotongan pita yang masih dilakukan secara manual serta pencatatan keuangan yang belum terstruktur. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan level keberdayaan mitra melalui penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan manajemen usaha. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif yang meliputi identifikasi masalah, perancangan solusi, implementasi teknologi, pelatihan, dan evaluasi dampak. Solusi yang diterapkan berupa alat pemotong pita otomatis berbasis counter inkremental serta sistem pencatatan keuangan digital berbasis spreadsheet. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan efisiensi waktu pemotongan pita sebesar 53–65% dan peningkatan kapasitas produksi hingga lebih dari 2,5 kali lipat dibandingkan metode manual. Pada aspek manajemen, skor persepsi kemudahan pengelolaan keuangan mitra meningkat dari 1,2 menjadi 4,8 berdasarkan skala Likert. Penerapan teknologi dan manajemen ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas, kualitas produk, serta kemampuan mitra dalam mengelola usaha secara lebih profesional dan berkelanjutan. Kata kunci: pemotongan pita otomatis; pengabdian kepada masyarakat; teknologi tepat guna; umkm; produktivitas; pemberdayaan mitra. Abstract Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a strategic role in the national economy but often face limitations in production efficiency and business management. UMKM Dodik Alfi in Blitar Regency, a creative industry producing woven handicraft bags, experiences challenges related to manual ribbon cutting processes and unstructured financial record-keeping. This community service program aims to enhance productivity and partner empowerment through the application of appropriate technology and business management assistance. A participatory approach was employed, including problem identification, solution design, technology implementation, training, and impact evaluation. The proposed solutions consisted of an automatic ribbon cutting machine based on an incremental counter and a digital financial recording system using spreadsheets. The results indicate a reduction in cutting time efficiency of 53–65% and an increase in production capacity of more than 2.5 times compared to manual methods. In terms of management, the partner’s perceived ease of financial management improved significantly, with the average Likert scale score increasing from 1.2 to 4.8. These findings demonstrate that the implementation of appropriate technology and management assistance effectively improves productivity, product quality, and the sustainability of MSME operations.Keywords: automatic ribbon cutting; community service; appropriate technology; msmes; productivity; partner empowerment.
Diseminasi mesin huller inovatif sebagai teknologi tepat guna untuk mendukung produksi beras sehat pada masyarakat Desa Bendosewu, Kabupaten Blitar Sugiarto Sugiarto; Wahyu Santoso; Isna Nugraha
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.34462

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mendiseminasikan mesin huller inovatif sebagai teknologi tepat guna dalam mendukung produksi beras sehat di Desa Bendosewu, Kabupaten Blitar. Pengabdian masyarakat ini diberangkat dari permasalahan mitra yaitu masih terbatasnya teknologi pascapanen yang digunakan petani, sehingga kualitas beras yang dihasilkan kurang optimal dan nilai jualnya rendah. Metode pelaksanaan meliputi uji coba mesin di Bengkel Rekayasa TTG UPN “Veteran” Jawa Timur, demonstrasi lapang bersama kelompok tani, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa mesin huller inovatif mampu meningkatkan efisiensi waktu dan kapasitas produksi, dengan hasil beras lebih utuh, bersih, dan bernilai jual lebih tinggi. Uji beda berpasangan memperlihatkan adanya peningkatan pada pengetahuan dan keterampilan masyarakat, dari skor rata-rata pre-test 11,00 menjadi 20,33 pada post-test. Sehingga menegaskan bahwa diseminasi mesin huller inovatif efektif dalam meningkatkan kemampuan masyarakat Desa Bendosewu, Kabupaten Blitar sekaligus memperkuat kemandirian desa dalam pengolahan beras sehat. Kata kunci: diseminasi teknologi; mesin huller inovatif; beras sehat; teknologi tepat guna. Abstract This community service activity aims to disseminate an innovative huller machine as an appropriate technology to support healthy rice production in Bendosewu Village, Blitar Regency. This community service was initiated from the partner's problem, namely the limited post-harvest technology used by farmers, resulting in less than optimal rice quality and low selling value. The implementation method included a machine trial at the Engineering Workshop of TTG UPN "Veteran" East Java, field demonstrations with farmer groups, and evaluation through pre-tests and post-tests. The results of the activity showed that the innovative huller machine was able to increase time efficiency and production capacity, with rice that was more intact, clean, and had a higher selling value. Paired difference tests showed an increase in community knowledge and skills, from an average pre-test score of 11.00 to 20.33 in the post-test. This confirms that the dissemination of the innovative huller machine was effective in improving the capabilities of the Bendosewu Village community. Keywords: technology dissemination; innovative hulling machine; healthy rice; appropriate technology.
Pemberdayaan desa menuju pendidikan sehat berkualitas melalui digital learning management, personal hygiene, dan numerasi di Desa Mojosarirejo, Driyorejo, Gresik Nafiah Nafiah; Sri Hartatik; Wesiana Heris Santy; Pance Mariati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 1 (2026): February
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i1.35246

Abstract

Abstrak Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: (1) meningkatkan kompetensi guru dalam manajemen pembelajaran digital, (2) membentuk kebiasaan hidup bersih siswa, dan (3) memperkuat pengelolaan pembelajaran numerasi dasar. Mitra sasaran meliputi 10 guru MI Darul Ulum dan ±60 siswa SD (kelas 4–5) di Nafisa Foundation. Metode pelaksanaan berupa workshop, pendampingan, penyuluhan. Program pengabdian ini dilaksanakan di Desa Mojosarirejo, Driyorejo–Gresik (1 Juli–4 Agustus 2025). Evaluasi dilakukan melalui pre–post test, angket, observasi, dan wawancara singkat.  Hasil pengabdian masyarakat menunjukan 1) pelatihan LMS berbasis Moodle meningkan keterampilan digital, sebelum kegiatan 100% guru belum pernah login dan 90,9% belum memahami pembuatan akun; setelah workshop 87,5% guru berhasil login mandiri. 2) Penyuluhan  personal hygiene anak usia sekolah dasar di nafisa foundation pada 28 siswa meningkatkan skor rata-rata pengetahuan dari 7,45 (pretest) menjadi 10,00 (posttest), perbedaan signifikan (p < 0,001), 3) Pada ranah numerasi, kemampuan perencanaan pembelajaran guru meningkat: penyusunan TP dari 3/15 menjadi 15/15, CP dari 4/15 menjadi 15/15, dan penggunaan konteks lokal dari 2/15 menjadi 15/15; sekitar 80% siswa melaporkan keterlibatan dan minat belajar yang lebih tinggi. Secara kualitatif, guru menjadi lebih percaya diri mengelola pembelajaran digital dan merancang numerasi berbasis aktivitas; siswa menunjukkan antusiasme dan praktik kebersihan yang lebih baik. Kegiatan ini efektif memperkuat kesiapan sekolah menuju ekosistem pendidikan sehat dan berkualitas. Kata kunci: LMS moodle; personal hygiene; numerasi; guru sekolah dasar. Abstract The objectives of this community service program are to: (1) enhance teachers’ competencies in digital learning management, (2) cultivate students’ clean and healthy habits, and (3) strengthen the management of basic numeracy instruction. The partner institutions include 10 teachers from MI Darul Ulum and approximately 60 primary students (grades 4–5) at the Nafisa Foundation. The activities consisted of workshops, mentoring, counseling. The program was implemented in Mojosarirejo Village, Driyorejo–Gresik, from 1 July to 4 August 2025. Evaluation employed pre–post tests, questionnaires, observations, and brief interviews. The results show that: (1) Moodle-based LMS training improved digital skills—prior to the activity, 100% of teachers had never logged in and 90.9% did not understand account creation; after the workshop, 87.5% were able to log in independently. (2) Personal-hygiene counseling for 28 elementary students at the Nafisa Foundation increased average knowledge scores from 7.45 (pretest) to 10.00 (posttest), a significant difference (p < .001). (3) In numeracy, teachers’ lesson-planning capacity improved: formulation of Learning Objectives (TP) rose from 3/15 to 15/15, Learning Outcomes (CP) from 4/15 to 15/15, and the use of local context from 2/15 to 15/15; about 80% of students reported higher engagement and interest. Qualitatively, teachers became more confident in managing digital learning and designing activity-based numeracy, while students showed greater enthusiasm and better hygiene practices. Overall, the program effectively strengthened schools’ readiness for a healthy, high-quality educational ecosystem. Keywords: moodle LMS; personal hygiene; numeracy; elementary school teachers.