cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Matrimonium sacramentum: Hakikat pernikahan Kristen sebagai refleksi kesatuan Kristus dengan gereja dan implikasinya terhadap indissolubilitas pernikahan Swantina, Magdalena; Meggy, Nicolien Sumakul
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i2.772

Abstract

This study explores the sacramental nature of Christian marriage as a reflection of Christ's union with the Church and its implications for marital indissolubility. Through theological-systematic analysis of biblical, patristic, scholastic, and magisterial sources, this research demonstrates that the indissolubility of marriage is not merely an external juridical norm but an ontological consequence flowing from marriage's sacramental structure. The study identifies four key findings: the biblical-patristic foundation establishes marriage within salvation history; the sacramental structure reveals marriage as res et sacramentum with permanent ontological character; indissolubility emerges as an intrinsic property reflecting the irrevocable covenant between Christ and the Church; and contemporary pastoral challenges require balanced approaches maintaining doctrinal integrity while demonstrating ecclesial compassion. This research contributes to theological discourse by offering an integrated synthesis that bridges the gap between sacramental theology and pastoral praxis, particularly addressing irregular situations without compromising doctrinal principles.   Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi hakikat sakramental pernikahan Kristen sebagai refleksi kesatuan Kristus dengan Gereja serta implikasinya terhadap indissolubilitas pernikahan. Melalui analisis teologis-sistematis terhadap sumber-sumber biblika, patristik, skolastik, dan magisterial, riset ini mendemonstrasikan bahwa indissolubilitas pernikahan bukan sekadar norma yuridis eksternal melainkan konsekuensi ontologis yang mengalir dari struktur sakramental pernikahan. Studi mengidentifikasi empat temuan kunci, yakni: fondasi biblika-patristik menempatkan pernikahan dalam sejarah keselamatan; struktur sakramental mengungkapkan pernikahan sebagai res et sacramentum dengan karakter ontologis permanen; indissolubilitas muncul sebagai properti intrinsik yang merefleksikan perjanjian tak terbatalkan antara Kristus dan Gereja; tantangan pastoral kontemporer memerlukan pendekatan seimbang yang mempertahankan integritas doktrinal sambil menunjukkan belas kasihan eklesial. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus teologis dengan menawarkan sintesis terintegrasi yang menjembatani kesenjangan antara teologi sakramental dan praksis pastoral, khususnya dalam menangani situasi irregular tanpa mengompromikan prinsip doktrinal.
Berteologi yang humanis: Membangun spiritualitas kesetaraan di antara perbedaan pandangan teologis Afaradi, Asep
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.788

Abstract

The phenomenon of theology in the digital space has shown a worrying escalation, where pastors, theologians, or those who call themselves apologists tend to be condescending; they often label each other "heretics." This article aims to share the concept of humanist theology by building a spirituality of equality rooted in the life of the Triune God. Using a literature study approach, through the results of previous research on equality in church and theology, it was found that the church must imitate the life of the Triune God and live it in theology. This study concludes that the spirituality of doing church built on the life of the Triune God makes the church a container of humanity, so in theology, it must be in a humanizing or humanist corridor.   Abstrak Fenomena berteologi di ruang digital telah menunjukkan sebuah eskalasi yang memprihatinkan, di mana secara gamblang pendeta, teolog, atau mereka yang menyebut diri sebagai apologet cenderung bersikap yang merendahkan; tidak jarang mereka saling memberi label "sesat" terhadap sesama. Artikel ini bertujuan untuk membagikan konsep berteologi yang humanis dengan membangun spiritualitas kesetaraan yang berakar pada kehidupan Allah Trinitas. Dengan menggunakan pendekatan studi pustaka, melalui hasil riset sebelumnya tentang kesetaraan dalam bergereja dan teologi, maka didapati bahwa gereja harus mengimitasi kehidupan Allah Trinitas dan menghidupinya dalam berteologi. Simpulan penelitian ini, bahwa spiritualitas menggereja yang dibangun pada kehidupan Allah Trinitas menjadikan gereja wadah kemanusiaan, sehingga dalam berteologi harus berada pada koridor yang memanusikan atau humanis.
Memaknai politik dalam dua matra A. A. Yewangoe: Suatu basis teologis bagi keterlibatan gereja dalam dunia politik di Indonesia Wowor, Alter Imanuel
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.804

Abstract

Discussions about political theology in Indonesia became increasingly popular after the reformation events. The pros and cons regarding the church's involvement in various political affairs seem to be a hot issue that continues to emerge in various political events in Indonesia. The lack of uniform attitudes and interpretations of the many churches in Indonesia regarding what politics is, how churches do politics, and the relationship between politics and the church makes this problem even more complicated. This research aims to produce a study that can be used as a reference or on a theological basis regarding the issue of church involvement in politics in the Indonesian context based on a review of Andreas Anangguru Yewangoe's thoughts. The research method used in this research is descriptive analysis with a literature study approach. The thesis is that the church's involvement in politics is a response to a divine call and is not facultative. The Gospel is an "entry point" or basis for the church's political involvement. Thus, politics should not be considered taboo, dirty, or foreign to the Christian community.AbstrakPembicaraan mengenai teologi politik di Indonesia semakin ramai pascaperistiwa reformasi. Sikap pro-kontra terkait keterlibatan gereja dalam berbagai urusan politik seakan menjadi isu hangat yang terus muncul dalam berbagai peristiwa politik yang terjadi di Indonesia. Tidak adanya kesamaan sikap dan tafsiran dari banyaknya gereja-gereja di Indonesia terhadap apa itu politik, bagaimana gereja berpolitik, serta apa hubungan antara politik dengan gereja menjadikan permasalahan ini menjadi semakin rumit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu kajian yang bisa dijadikan referensi atau basis teologis berkaitan dengan isu keterlibatan gereja dalam dunia politik pada konteks Indonesia berdasarkan ulasan atas pemikiran Andreas Anangguru Yewangoe. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Artikel ini mengajukan tesis bahwa keterlibatan gereja dalam dunia politik merupakan suatu tanggapan atas panggilan ilahi, dan bukanlah sesuatu yang fakultatif sifatnya. Injil merupakan salah sebuah “entry point” atau basis dari keterlibatan gereja dalam dunia politik. Dengan demikian, politik tidak boleh dipahami sebagai sesuatu yang tabu, kotor, atau asing bagi komunitas umat Kristen.
Tidak ada kutuk pada makanan: Dialektika 1 Samuel 14:24-46 dan tradisi kappunan dalam konteks kultural Mamasa Ressa, Yosia Polando; Arulangi, Ronald
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.812

Abstract

Culture is one factor that shapes the characteristics of the Christian faith in a region. However, not all cultural elements can be compromised with the Christian faith. There is always an effort to create a dialogue between tradition and the Christian faith so that tradition can enrich the appreciation of the Christian faith in the local context. This paper offers a contextual dialogical approach between the kappunan tradition and the text of 1 Samuel 14:24-46. The method used is the cross-textual reading hermeneutic or cross-cultural method. As a result, this research shows that the kappunan tradition should not be based on the belief that food brings curses, but rather that food is a blessing for those who receive and are grateful for it, and will not even bring disaster to those who reject it. Apart from that, the kappunan tradition cannot be a means of judgment but rather a reminder that accepting food from other people is a form of love and appreciation for the hospitality of different people. AbstrakBudaya merupakan salah satu faktor yang membentuk karakteristik iman Kristen di sebuah wilayah. Namun, tidak semua unsur budaya dapat begitu saja dikompromikan dengan iman Kristen. Selalu ada upaya untuk mendialogkan tradisi dan iman Kristen agar tradisi dapat memperkaya penghayatan iman Kristen dalam konteks lokal. Tulisan ini menawarkan pendekatan dialogis kontekstual antara tradisi kappunan dengan teks 1 Samuel 14:24-46. Metode yang digunakan adalah metode hermeneutik cross-textual reading atau silang budaya. Hasilnya, penelitian ini menunjukkan tradisi kappunan seharusnya tidak didasarkan pada keyakinan bahwa makanan mendatangkan kutuk, melainkan makanan adalah berkat bagi yang menerima dan mensyukurinya, bahkan tidak akan mendatangkan musibah bagi yang menolaknya. Selain itu, tradisi kappunan tidak dapat menjadi alat penghakiman, melainkan sebagai pengingat bahwa menerima makanan dari orang lain merupakan wujud kasih dan penghargaan atas keramahtamahan dari orang lain.
Studi Kejadian 2:4b-3:24 dengan konsep naratologi Tzvetan Todorov Setiawan, Yohanes; Sin, Sia Kok
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.818

Abstract

This study aims to analyze the narrative of Genesis 2:4 b-3:24 using Tzvetan Todorov's narratology theory, which consists of five phases: equilibrium, disruption, recognition, repair, and new equilibrium. This study uses a descriptive-qualitative approach to reveal the socio-theological aspects present in the text. The findings show that the narrative structure reflects a cycle of harmony and conflict, starting with the initial equilibrium of the relationship between God, humans, and creation. Disruption occurs through the serpent's temptation, which leads to human transgression and subsequent acts of recognition. The narrative continues to repair, where consequences are imposed, and finally reaches a new equilibrium that illustrates God's justice and mercy in providing a new beginning for humans. This analysis not only enhances the understanding of the socio-theological implications of the text but also invites a re-evaluation of traditional interpretations of humanity's expulsion from Eden and the ongoing relationship between society, creation, and God.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis narasi Kejadian 2:4 b-3:24 menggunakan teori naratologi Tzvetan Todorov, yang terdiri dari lima fase: equilibrium, disruption, recognition, repair, dan new equilibrium. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif untuk mengungkap aspek sosial-teologis yang ada dalam teks. Temuan menunjukkan bahwa struktur narasi mencerminkan siklus harmoni dan konflik, dimulai dengan equilibrium awal hubungan antara Tuhan, manusia, dan ciptaan. Disruption terjadi melalui godaan ular, yang mengarah pada pelanggaran manusia dan selanjutnya ada aksi recognition. Narasi berlanjut ke repair, di mana konsekuensi dipaksakan, dan akhirnya mencapai new equilibrium yang menggambarkan keadilan dan belas kasihan Tuhan dalam memberikan awal yang baru bagi manusia. Analisis ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang implikasi sosial-teologis dari teks tetapi juga mengundang evaluasi ulang terhadap interpretasi tradisional mengenai pengusiran manusia dari Eden dan hubungan yang berkelanjutan antara umat manusia, ciptaan dan Tuhan.
Trinitas, tondi, dan ekologi: Dialog konstruktif ekologis konsep tondi dalam kosmologi Batak dan Trinitas Panenteisme Jurgen Moltmann Nainggolan, Herman Sutiono
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.819

Abstract

Forest destruction in Indonesia is mainly caused by illegal logging, forest and land fires, mining activities, forest conversion into large-scale plantations or industrial plant forests, and unsustainable logging. Before Christianity came, the Batak people in North Sumatra respected the forest because it was considered a place where Tondi (Spirit) existed. Forests cannot be encroached on arbitrarily just for the greed of a group of people. This article aims to construct a constructive dialogue with the concept of tondi in Batak cosmology with the Trinitarian theology of panentheism. The research results show that the Christian Panentheism Trinity can build an understanding of the tondi Batak community that is more ecologically and environmentally friendly.   Abstrak Kerusakan hutan di Indonesia terutama disebabkan oleh penebangan liar (illegal logging), kebakaran hutan dan lahan, kegiatan penambangan, peralihan fungsi hutan (konversi) menjadi perkebunan skala besar atau hutan tanaman industri, dan penebangan tidak lestari (unsustainable logging). Sebelum masuknya Kekristenan, masyarakat Batak di Sumatera Utara sangat menghormati hutan karena dianggap sebagai tempat hadirnya tondi (Roh). Hutan tidak dapat dirambah secara sewenang-wenang hanya demi keserakahan sekelompok orang. Artikel ini bertujuan untuk melakukan dialog secara konstruktif konsep tondi dalam kosmologi Batak dengan gagasan teologi Trinitas panenteisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gagasan Trinitas panenteisme Kristiani dapat mengonstruksi pemahaman tentang tondi masyarakat Batak yang lebih ekologis dan ramah lingkungan.
Meneroka kesetaraan dan keadilan gender dalam gereja dan masyarakat Toraja Tangirerung, Johana Ruadjanna; Wangania, Judith D. L.; Tapparan, Meike Roselyna
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.826

Abstract

Toraja society, which has a bilateral kinship system, accommodates matriarchal and patriarchal systems. This system has elements of equality. However, church and community life phenomena are still less visible, especially regarding leadership. This paper will further explore the existence of women in broader leadership through the historical experience of leadership in the Toraja Church. The method used is qualitative descriptive by presenting various realities of injustice from multiple surveys in general and the history of the leadership of the Toraja Church itself in accepting women as church officials. The discussion results are various causes of injustice, namely the influence of theological understanding from Zending, who came to Toraja, and the influence of patriarchal ideology. The conclusion is that it is necessary to continuously carry out gender literacy to the church and community regarding equality.   Abstrak Masyarkat Toraja yang sistem kekerabatannya bilateral, mengakomodasi baik sistem matriarkar maupun patriarkar. Sistem ini sejatinya memiliki unsur kesetaraan. Namun melihat fenomena dalam kehidupan gereja dan masyarakat, masih kurang terlihat, khususnya terkait kepemimpinan. Tulisan ini akan meneroka lebih jauh keberadaan perempuan dalam kepemimpinan yang lebih luas melalui pengalaman sejarah kepemimpinan dalam Gereja Toraja. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan mengemukakan berbagai realitas ketidakadilan dari berbagai survei secara umum dan realitas dalam sejarah kepemimpinan Gereja Toraja sendiri dalam menerima perempuan menjadi pejabat gerejawi. Hasil pembahasan adalah ditemukan berbagai sebab ketidakadilan yaitu pengaruh pemahaman teologi dari Zending yang datang ke Toraja dan pengaruh ideologi patriarkalisme. Riset ini menyimpulkan, perlunya terus-menerus melakukan literasi gender kepada gereja dan masyarakat terkait kesetaraan.  
Perempuan melawan: Tafsir terhadap ratu Wasti dan dewi Drupadi dalam perspektif feminis Natar, Asnath Niwa
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.842

Abstract

In a patriarchal society, women are often positioned as weak beings and must be controlled by men in almost all fields. Women themselves believe that this is their position and accept unfair treatment without being able to protest or fight back. This research aims to explore Drupadi and Vashti's resistance to exploiting their bodies by using qualitative research methods with literature studies. As for interpretation, I used the cross-textual hermeneutic method. Women's bodies belong to women themselves; therefore, women must dare to reclaim authority over their bodies. The resistance carried out by Drupadi and Vashti will inspire women to liberate themselves from the shackles of oppression and experience liberation.  AbstrakDalam kehidupan masyarakat patriarkhi, perempuan sering diposisikan sebagai makhluk yang lemah dan harus dikontrol oleh laki-laki hampir dalam segala bidang. Perempuan sendiri percaya bahwa posisi mereka memang demikian dan menerima perlakuan yang tidak adil  tanpa mampu untuk protes atau melawan. Penelitian ini bertujuan menelusuri bagaimana perlawanan Drupadi dan Wasti akan eksploitasi terhadap tubuh mereka dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur. Sedangkan untuk tafsir saya menggunakan metode cross textual hermeneutic. Tubuh perempuan adalah milik perempuan sendiri karena itu perempuan harus berani merebut kembali otoritas terhadap tubuh mereka. Perlawanan yang dilakukan oleh Drupadi dan Wasti akan memberikan inspirasi bagi kaum perempuan untuk membebaskan diri dari belenggu penindasan dan mengalami pembebasan.  
Gereja dan cyberbullying remaja: Pendampingan pastoral bagi remaja korban cyberbullying Ruimassa, Aleta Apriliana; Nanuru, Ricardo Freedom
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.843

Abstract

This article aims to find out teenagers' problems related to bullying on social media and to put a pastoral-based approach so that the church, with its pastoral services, can be relevant to the struggles of teenage church members. The method used is descriptive analysis with a systematic literature review approach. The findings of this research show that the internet or digital world opens up space for teenage bullying, which starts from encounters and interactions on social media. Apart from that, teenagers are less able to open up a space for discussion regarding cyberbullying issues with other people and their parents. The church must be present for these youth problems through pastoral care to prevent worse things from happening.AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menemukan persoalan remaja terkait perundungan di media sosial dan menempatkan pendekatan berbasis pastoral agar gereja dengan pelayanan pastoralnya dapat menjadi relevan bagi pergumulan anggota-anggota jemaat yang masih remaja. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan pendekatan systematic literature review. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa dunia internet atau digital membuka ruang terjadinya perundungan remaja yang dimulai dari perjumpaan dan pergaulan di media sosial. Selain itu, remaja kurang mampu membuka ruang diskusi terkait persoalan cyberbullying kepada orang lain dan orang tua mereka. Gereja harus hadir bagi persoalan remaja tersebut melalui pendampingan pastoral demi mencegah hal buruk terjadi. 
Kerapuhan pada kayu salib: Sebuah refleksi spiritualitas pelayanan terhadap kaum disabilitas di Gereja Toraja Silaban, Tri Oktavia Hartati; Marrung, Roby; Masiku, Jefry L.
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.847

Abstract

This article is backgrounded by concern for groups of people with disabilities who sometimes do not receive optimal services in the church. This situation makes them seem marginalized from other congregation members, while church services greatly influence the quality of the congregation's faith growth, including people with disabilities. This article aims to show the theological construction of spirituality serving people with disabilities through the narrative of fragility on the cross. The method used is interpretive descriptive analysis, based on a literature study regarding the narrative of the cross of Christ from various references and observations in several Toraja churches related to services for people with disabilities. The narrative of the cross shows that Christ's humanity was unable to escape suffering until death. The appreciation of the cross, which shows Christ's disability, is an expression of the fragility that He embraced in love so that through it, the spirituality of serving people with disabilities can be built and developed.AbstrakTulisan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap kelompok penyandang disabilitas yang kadangkala tidak mendapatkan pelayanan secara maksimal di gereja. Situasi tersebut membuat mereka seolah tersisihkan dari anggota jemaat yang lain, sementara pelayanan gereja sangat memengaruhi kualitas pertumbuhan iman jemaat, termasuk kaum disabilitas. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan konstruksi teologis tentang spiritualitas melayani kaum disabilitas melalui narasi kerapuhan pada kayu salib. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif interpretatif, berbasis pada kajian literatur tentang narasi salib Kristus dari beragam referensi dan observasi pada beberapa Geraja Toraja terkait pelayanan terhadap penyandang disabilitas. Narasi kayu salib memperlihatkan kemanusiaan Kristus tidak mampu melepaskan diri dari penderitaan hingga kematian. Penghayatan pada kayu salib yang memperlihatkan ketidakmampuan Kristus merupakan ekspresi kerapuhan yang direngkuh-Nya dalam cinta, sehingga melaluinya spiritualitas melayani kaum disabilitas dapat dibangun dan dikembangkan.