cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Kejahatan dan penderitaan: Studi psiko-teologis berdasarkan konsep kejahatan John Culp Siregar, Risma
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.892

Abstract

Evil and suffering are phenomena often central to the studies of theology and psychology, particularly given the high prevalence of these aspects across various world regions, including Indonesia. This research aims to integrate insights from theology and psychology through John Culp's reciprocal approach to addressing and understanding evil and suffering to support the recovery and growth of individuals experiencing trauma. The research method employed is qualitative, involving the analysis of the concept of reciprocity in theology according to John Culp and psychological research on evil and suffering, which are then integrated into the Psycho-theological Reciprocal model. The findings indicate that this integrative approach enriches the understanding and response to evil and suffering, offering a holistic and practical framework for supporting individual recovery, which considers not only theological and psychological aspects but also social and spiritual ones, enabling sustainable and transformative growth for affected individuals. AbstrakKejahatan dan penderitaan merupakan fenomena yang sering menjadi fokus dalam studi teologi dan psikologi, terutama mengingat prevalensi tinggi kedua aspek ini di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengintegrasikan wawasan dari teologi dan psikologi melalui pendekatan resiprokal ala John Culp dalam menangani dan memahami kejahatan dan penderitaan, dengan tujuan mendukung pemulihan dan pertumbuhan individu yang mengalami trauma. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, melibatkan analisis konsep resiprokalitas dalam teologi menurut John Culp dan penelitian psikologis tentang kejahatan dan penderitaan, yang kemudian diintegrasikan dalam model psiko-teologi Resiprokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan integratif ini memperkaya pemahaman dan respons terhadap kejahatan dan penderitaan, menawarkan kerangka kerja yang holistik dan efektif dalam mendukung pemulihan individu, yang tidak hanya memperhatikan aspek teologis dan psikologis, tetapi juga sosial dan spiritual, memungkinkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan transformatif bagi individu yang terdampak.  
Polidoksi, polipati, dan polipraksis di dalam hidup menggereja yang elastis Adiprasetya, Joas
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.893

Abstract

Beranjak dari realitas pemisahan teologi, spiritualitas, dan praksis, artikel ini ingin menegaskan pentingnya reintegrasi ketiganya melalui sebuah modifikasi atas model integrasi teologi-spiritualitas yang disebut model poros-roda, yang diusulkan oleh Philip Sheldrake. Artikel ini berargumen bahwa reintegrasi teologi, spiritualitas, dan praksis sebagai tiga dimensi iman yang komunal mengandaikan sebuah model gereja sebagai menggereja-elastis, yang di dalamnya ketiga dimensi tersebut bertumbuh dalam multiplisitas sebagai polidoksi, polipati, dan polipraksis. Cara berpikir “poli” yang diusulkan merupakan alternatif bagi dikotomi “ortho” versus “hetero” yang selama ini dihidupi oleh gereja.
Eschatology already or not yet: Sebuah pendekatan eskatologi Pentakostal dan Marapu di Sumba Timur berdasarkan teologi pengharapan Jurgen Moltmann Katu, Jefri Hina Remi
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.910

Abstract

Eschatology is often discussed and gives rise to much speculation about this reality. The debate of eschatology arises because it is a hope for the existence of the future and is part of the Creator's plan to save creation. The Pentecostal group emphasizes eschatology on the condition of hope for future salvation, which refers to the salvation of the soul. The Marapu belief in the culture of the East Sumba people is that human life has ecological meaning. The structure of the house displays a house building that has cosmological significance. This use moves the Sumba people to treat the land and other objects as sacred objects and have eschatological content in which a sustainable creation occurs and needs to be protected. The concept of eschatology that must be maintained is an eschatological concept that is already present but has yet to be discussed with the Theology of Hope. According to Moltmann, using qualitative research methods through literary analysis shows that biblical texts never teach abandonment or reveal creation to others as an act of hope in eschatological anticipation. AbstrakEskatologi merupakan suatu pembahasan yang kerap diperbincangkan dan menimbulkan banyak spekulasi mengenai realitas tersebut. Pembahasan eskatologi muncul karena menjadi suatu pengharapan akan realitas masa depan dan menjadi bagian dari rencana penyelamatan Sang Pencipta terhadap ciptaan. Kelompok Pentakostal menekankan eskatologi pada kondisi pengharapan keselamatan yang bersifat masa depan yang merujuk pada keselamatan jiwa. Keyakinan Marapu dalam kebudayaan masyarakat Sumba Timur, kehidupan manusia memiliki makna ekologis struktur rumah yang menampilkan bangunan rumah yang bermakna kosmologis. Pemaknaan tersebut menggerakkan orang-orang Sumba untuk memperlakukan tanah dan benda-benda lainnya sebagai benda-benda sakral dan memiliki muatan eskatologis yang mana terjadinya suatu penciptaan yang berlanjut dan perlu dijaga. Konsep Eskatologi yang harus dipertahankan adalah eskatologi yang bersifat already but not yet. konsep ini dipercakapkan dengan teologi Pengharapan menurut Moltmann dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui analisa literatur. Penelitian ini menampilkan bahwa teks-teks Alkitab tidak pernah mengajarkan pengabaian atau penghancuran alam semesta sebagai tindakan pengharapan atas antisipasi eskatologi.  
Keadilan sebagai imparsialitas koheren dalam tradisi penghapusan utang bangsa Yahudi: Proses dialektika trilateral bersama John Rawls dan Amartya Sen Moru, Osian Orjumi
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.917

Abstract

Justice is one of the fundamental issues in human life. This fact has placed the issue of justice as one of the essential goals fought for in various dimensions of human life. One form of effort to fight for justice is establishing the tradition of debt forgiveness in the history of the Jewish people. Dialectically, the concept of justice in the debt forgiveness tradition is the most progressive and proportional compared to John Rawls and Amartya Sen's idea of justice. This concept of justice is referred to as coherent impartiality. The notion of justice as coherent impartiality has four principles that become its primary foundation. The four principles are the principle of local wisdom, the principle of proportional participation, the principle of procedure, and the teleological principle. These four principles become the basic principles of justice in the concept of coherent impartiality that can bridge the gap between the concepts of justice of closed impartiality and open impartiality based on the context of Jewish life. Justice as coherent impartiality emphasizes the balance between universal and contextual values of justice.   Abstrak Keadilan merupakan salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan umat manusia. Fakta tersebut telah menempatkan persoalan keadilan sebagai salah satu tujuan penting yang diperjuangkan dalam berbagai dimensi kehidupan manusia. Salah satu bentuk usaha untuk memperjuangkan keadilan adalah pembentukan tradisi penghapusan utang dalam sejarah bangsa Yahudi. Jika dipercakapkan secara dialektis, konsep keadilan dalam tradisi penghapusan utang merupakan konsep keadilan yang paling progresif dan proporsional daripada konsep keadilan John Rawls dan Amartya Sen. Konsep keadilan ini disebut sebagai imparsialitas koheren. Konsep keadilan sebagai imparsialitas koheren memiliki empat prinsip yang menjadi fondasi utamanya. Empat prinsip tersebut yakni prinsip kearifan lokal, prinsip partisipan proporsional, prinsip prosedur, dan prinsip teleologis. Keempat prinsip itu menjadi prinsip dasar keadilan dalam konsep imparsialitas koheren yang dapat menjembatani kesenjangan antara konsep keadilan imparsialitas tertutup dan imparsialitas terbuka berdasarkan konteks kehidupan bangsa Yahudi. Keadilan sebagai imparsialitas koheren menekankan keseimbangan antara nilai-nilai keadilan yang bersifat universal dan kontekstual.  
Unlocking meaning: Truth-conditional semantic and syntactic analysis in the Bible Stevani, Margaret
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.925

Abstract

This research focused on complex conditional sentences in the Christian bible, employing truth-conditional semantics and syntactic analysis to uncover their theological messages. A qualitative study analyzed 20 verses, categorized into four types of conditional sentences according to Ferdinand de Saussure's syntagmatic and paradigmatic relations. It involved word analysis, structural classification, context correlation, synonymous exploration, and historical and theological consideration. The findings revealed several key insights. First, conditional sentences in the Christian bible predominantly featured compound-complex structures with an active voice, highlighting subjects and actions in religious verses. Second, they adhered to declarative formats, aligning with truth-telling principles in religious contexts. Third, complex structures and subordinate clauses conveyed conditional details, reasons, and situations, elaborating on the interplay between syntax and semantics. This research enriched our understanding of the relationship among verb forms, modal verbs, and diverse meanings within English conditional sentence types in the Christian bible. Fourth, this research had a significant social impact on human development from a theological perspective by enhancing spiritual growth, critical thinking, and ethical understanding. It promoted personal transformation and reflective faith, providing religious leaders with tools to interpret scripture more accurately. Additionally, the research clarified how biblical language communicated moral imperatives, supported ethical frameworks, and facilitated interfaith dialogue. Preserving theological heritage contributed to the holistic development of individuals and communities. Ultimately, this study aimed to ensure the Bible's relevance in shaping social behavior aligned with Christian teachings.
Revitalisasi filsafat eksistensialisme Kristen dalam manajemen pendidikan kristiani: Merancang sistem pembelajaran yang resilien dan bermakna Sampaleng, Donna
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.931

Abstract

Christian education in Indonesia faces excellent challenges in responding to rapid social, cultural, and technological changes. This research uses the literature method to explore the application of Christian Existentialism Philosophy, based on the thoughts of Søren Kierkegaard and Jean-Paul Sartre, in a more reflective, authentic, and resilient Christian education management. This research consists of three steps: critical analysis of the results-oriented educational paradigm, study of existentialism, and development of an academic management model. The results show that the overly rigid and result-oriented model of Christian education ignores critical existential and spiritual dimensions. Integrating existentialism principles can help create a more inclusive, dialogical, and responsive educational management of the local context. Moreover, by incorporating reflective approaches, authentic experiences, and community engagement, Christian education can be more adaptive in shaping students' characters with integrity, insight, and ability to face global challenges. The model also underscores the importance of collaboration between schools, churches, and families in building a holistic and transformative educational ecosystem.   Abstrak Pendidikan Kristen di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam merespons perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang cepat. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan untuk mengeksplorasi penerapan Filsafat Eksistensialisme Kristen, berdasarkan pemikiran Søren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre, dalam manajemen pendidikan Kristen yang lebih reflektif, otentik, dan resilien. Penelitian ini terdiri dari tiga langkah: analisis kritis terhadap paradigma pendidikan yang berorientasi hasil, kajian konsep eksistensialisme, dan pengembangan model manajemen pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pendidikan Kristen yang terlalu kaku dan berorientasi pada hasil mengabaikan dimensi eksistensial dan spiritual yang penting. Integrasi prinsip-prinsip eksistensialisme dapat membantu menciptakan manajemen pendidikan yang lebih inklusif, dialogis, dan responsif terhadap konteks lokal. Selain itu, dengan menggabungkan pendekatan reflektif, pengalaman otentik, dan keterlibatan komunitas, pendidikan Kristen dapat lebih adaptif dalam membentuk karakter siswa yang berintegritas, berwawasan luas, dan mampu menghadapi tantangan global. Model ini juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara sekolah, gereja, dan keluarga untuk membangun ekosistem pendidikan yang holistik dan transformatif.
Dari upper room ke open heart: Evolusi kepemimpinan Pentakostal-Karismatik kontemporer Kusni, Markus; Runtuwene, Daniel
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.940

Abstract

This article explores the paradox of the early church that simultaneously displays resilient and fragile characteristics in its development. Through the lens of contemporary Pentecostal theology, this study examines how the early Christian community persisted and flourished amidst external challenges such as persecution and internal pressures exemplified by identity conflicts. The analysis demonstrates that the early church's resilience was rooted precisely in its acknowledgment of fragility. This ecclesiological model offers valuable insights for the contemporary church in confronting an increasingly complex world. This article proposes that Pentecostal theology can provide a fresh interpretive framework for understanding the dynamics of strength-in-weakness that characterizes the apostolic church by integrating pneumatological readings of the book of Acts and the Pauline epistles.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi transformasi paradigma kepemimpinan dalam tradisi Pentakostal modern, dengan fokus pada pergeseran dari model kepemimpinan karismatik-hierarkis menuju pendekatan hospitalitas yang lebih inklusif. Melalui analisis teologis dan sosiologis, penelitian ini mengidentifikasi bagaimana kepemimpinan Pentakostal kontemporer menggabungkan elemen karismatik tradisional dengan nilai-nilai hospitalitas yang menekankan keterbukaan, penerimaan, dan pemberdayaan komunitas. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis literatur untuk memetakan evolusi kepemimpinan ini dalam konteks global dan Indonesia.
Agama dan dehumanisasi: Mengembangkan spiritualitas humanis melalui hidup menggereja di era disrupsi digital Patora, Marianus
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.944

Abstract

Virtual space or the digital world has become integral to postmodern life. With the development of digital technology, the influence of religion in the digital space is also getting stronger. Indications of violence in the name of religion are a reality that triggers a spirit of dehumanization in religious practices, especially in the digital space. This article offers the construction of humanized spirituality in church life as a spiritual principle in the era of digital disruption, which various acts of de-humanism have stigmatized. This research uses a descriptive analysis method with a literature study approach through multiple references to the results of previous studies on similar topics. The research results show that religion has a very humanistic essential nature, so advances in digital technology, which tend to be disruptive, can become a friendly space for labeling religion as the core that builds human values.   Abstrak Ruang virtual atau dunia digital telah menjadi bagian integral dari kehidupan posmodern; dengan semakin berkembangnya teknologi digital, pengaruh agama dalam ruang digital juga semakin menguat. Indikasi kekerasan atas nama agama menjadi realitas yang memicu sebuah spirit dehumanisasi dalam praktik beragama, terutama di ruang digital. Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah konstruksi spiritualitas humanisasi dalam hidup menggereja sebagai prinsip beragama di era disrupsi digital yang selama ini terstigma dengan beragam aksi dehumanisme. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan studi literatur melalui beragam referensi hasil kajian terdahulu pada topik serupa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama sejatinya memiliki sifat esensial yang sangat humanis, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi digital yang cenderung mendisrupsi dapat menjadi ruang yang ramah pada pelabelan agama sebagai core yang membangun nilai-nilai kemanusiaan.
Rekonstruksi karakter remaja yang terdampak negatif budaya ma’pasilaga tedong melalui pendekatan teologi spiritualitas Simon Chan Selvianti, Selvianti; Wulur, Hersen Geny
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.945

Abstract

This research aims to see how the character of teenagers is negatively impacted by Ma'pasilaga Tedong culture. The research method uses a qualitative approach with interviews, observation, and content analysis. This research proposes an approach to reconstructing adolescent character through the application of character education with Simon Chan's spirituality theology approach. Chan's principles, which emphasize a deep understanding of sin, human nature, and the integration of Christian doctrine with spirituality, can guide youth toward spiritual growth and character following religious values. The research results show that what initially had a positive value in strengthening cultural identity and community solidarity, its implementation has developed into the practice of gambling and hurts adolescent morality and religiosity. However, the character of teenagers can be built again by providing a deep understanding of sin, vulnerable human nature, and the need to build spiritual values to avoid the negative impacts of the Ma'pasilaga Tedong culture.   Abstrak Penelitian Ini bertujuan untuk melihat bagaimana karakter remaja yang terdampak negatif dari budaya Ma'pasilaga Tedong. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara, observasi, dan analisis konten. Penelitian ini mengusulkan pendekatan rekonstruksi karakter remaja melalui penerapan pendidikan karakter dengan pendekatan teologi spiritualitas Simon Chan. Prinsip-prinsip Chan, yang menekankan pemahaman mendalam tentang dosa, sifat manusia, dan integrasi antara doktrin Kristen dengan spiritualitas dapat membimbing remaja menuju pertumbuhan spiritual dan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa yang awalnya memiliki nilai positif dalam memperkuat identitas budaya dan solidaritas masyarakat, implementasinya telah berkembang menjadi praktik perjudian dan berdampak negatif terhadap moralitas dan religiositas remaja. Namun, Karakter remaja kembali dapat dibangun dengan memberikan pemahaman yang mendalam tentang dosa, sifat manusia yang rentan, dan perlunya membangun nilai spiritualitas agar terhindar dari dampak negatif dari budaya Ma'pasilaga Tedong.
Konstruksi moderasi beragama dalam budaya lokal: Sebuah studi tentang interaksi antarpemeluk agama di Kampung Melayu, Hutagalung, Tapanuli Utara Tarigan, Iwan Setiawan; Saragih, Ratna; Simorangkir, Jungjungan; Marbun, Rencan Carisma; Ambarita, Eka
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.949

Abstract

This research analyzes the interaction of Religious Moderation in Kampung Melayu, Hutagalung, Tarutung District, North Tapanuli Regency. The research used a qualitative method. The results showed that the interaction of custom, or "Dalihan Na Tolu," is thicker in maintaining inter-religious relations in Malay villages, so Christians and Muslims can coexist well. People in Malay villages can also communicate well despite having different beliefs. Communication goes well when people can carry out customs, such as parties. The party understands the situation by providing special food to Muslims. Religious tolerance in Malay Village is not created by Christians and Muslims, but has been created by itself in Malay Village, this is evident when they carry out customary activities or religious celebrations, where Christians really appreciate Islamic religious activities and vice versa Islam is the same.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa interaksi Moderasi Beragama di Kampung Melayu, Hutagalung Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi adat atau “Dalihan Na Tolu”, lebih kental dalam menjaling hubungan antar umat beragama di kampung Melayu, sehingga umat Kristen dan Islam dapat berdampingan dengan baik. Masyarkat di kampung Melayu juga dapat berkomunikasi dengan baik walaupun memiliki keyakninan berbeda. Komunikasi berjalan dengan baik ketika masyarakat dapat melaksanakan adat istiadat, misalnya pesta. Pihak yang berpesta sangat memahami situasi dengan menyediakan makanan khusus kepada umat Islam. Toleransi beragama di Kampung Melayu bukan diciptakan umat Kristen dan Islam, tetapi sudah tercipta dengan sendirinya di Kampung Melayu, ini terbukti ketika mereka melaksanakan kegiatan adat istiadat atau perayaan keagamaan, dimana umat Kristen sangat menghargai kegiatan keagamaan Islam dan sebaliknya Islam pun demikian.