cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Kemandirian perempuan dalam bingkai kesetaraan dan keadilan gender: Sebuah refleksi naratif Rut dan Naomi Windarti, Maria Titik
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.848

Abstract

The independence, roles, and rights of women who are often discriminated against in many aspects give rise to issues of gender inequality and equality. Through literature study, this research article looks at the Book of Ruth as a canonical book that presents a portrait of independent women from both a humanist and a theocentric perspective that can be used to contribute to strengthening gender inequality. This research found that the figures of Ruth and Naomi, from a humanist perspective, could become models of independent women in terms of religion, work, and homemaking. This research recommends other research related to issues of gender inequality in the global era, especially from a feminist perspective.AbstrakKemandirian, peran, dan hak-hak perempuan yang sering terdiskriminasi dalam banyak segi menimbulkan isu ketidakadilan dan kesetaraan gender. Melalui Studi pustaka, artikel penelitian ini melirik Kitab Rut sebagai kitab kanonik yang menyajikan potret perempuan mandiri baik dari sisi humanis maupun teosentris yang dapat digunakan untuk memberikan sumbangsih bagi penguatan ketidakadilan gender. Hasil penelitian ini menemukan bahwa sosok Rut dan Naomi, dari sisi humanis mampu menjadi model perempuan mandiri dalam hal beragama, bekerja, dan berumahtangga. Penelitian ini merekomendasikan riset lainnya yang berkaitan dengan isu-isu ketidakadilan gender di era global, khususnya dari perspektif feminisme.
Spiritualitas dan musikalitas Daud sebagai model musikus gerejawi: Membangun kemampuan membaca notasi dan karakter mahasiswa Pendidikan Musik Gereja, IAKN Tarutung Simamora, Lince R. T.; Nadeak, Rowilson; Nababan, Togi; Tambunan, Melva S.; Banjarnahor, Mirna C.
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.853

Abstract

Artikel ini merupakan sebuah kajian terkait hasil observasi yang memperlihatkan kekurangmampuan mahasiswa Pendidikan Musik Gereja dalam membaca notasi musik yang dipengaruhi oleh karakter belajarnya. Kemampuan membaca notasi memang tidak dipengaruhi secara langsung oleh kerohanian seseorang, namun tingkat kedewasaan dan kematangan spiritual akan membentuk nilai-nilai positif dan konstruktif yang berimplikasi pada kemauan meningkatkan kualitas diri. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan sebuah model musikus gerejawi melalui refleksi teologis dari kehidupan Daud. Dengan menggunakan metode analisis-deskriptif interpretatif, maka diperoleh korelasi antara spiritualitas dan musikalitas Daud. Kemampuan bermusik Daud yang mampu menghasilkan mazmur dan nyanyian pengagungan bagi Allah sekaligus memperlihatkan karakter yang dipengaruhi oleh spiritualitasnya 
Revolusi hijau dalam pendidikan kristiani: Menghidupkan ecophilia dalam spiritualitas keseharian Sihombing, Elsina; Sianturi, Julius; Simamora, Lince
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.854

Abstract

Christian religious education in Indonesia must integrate the concept of ecophilia (love for the environment) to overcome the increasingly severe environmental crisis. This research aims to develop strategies for implementing ecophilia in Christian education and evaluating its impact on student attitudes and behavior, as well as collaboration throughout the school community in environmentally friendly practices. Using a qualitative approach with thematic analysis, this research found that integrating ecophilia in the curriculum and school activities increased ecological awareness and the formation of students' character who care about the en-vironment. Through active participation in environmental programs, the school community becomes an effective agent of change, reflecting faith manifested in concrete actions. The results of this research provide a concrete framework for integrating ecological responsibility into daily spi-rituality in Christian religious education, creating an ecologically and spiritually responsible generation. Through this approach, Christian schools can become a model for other communities in implementing ecophilia and strengthening daily spirituality through concrete actions that reflect love and concern for the environment.   Abstrak Pendidikan agama Kristen di Indonesia harus mengintegrasikan konsep ecophilia (cinta kasih terhadap alam) untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin parah. Penelitian ini bertujuan mengembang-kan strategi implementasi ecophilia dalam pendidikan kristiani dan meng-evaluasi dampaknya terhadap sikap dan perilaku siswa, serta kolaborasi seluruh komunitas sekolah dalam praktik ramah lingkungan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis tematik, penelitian ini menemukan bahwa integrasi ecophilia dalam kurikulum dan aktivitas sekolah menunjukkan peningkatan kesadaran ekologis dan pembentukan karakter siswa yang peduli lingkungan. Komunitas sekolah, melalui par-tisipasi aktif dalam program lingkungan, menjadi agen perubahan yang efektif, mencerminkan iman yang terwujud dalam tindakan nyata. Hasil penelitian ini memberikan kerangka kerja konkret untuk mengintegrasi-kan tanggung jawab ekologis ke dalam spiritualitas keseharian dalam pen-didikan agama Kristen, menciptakan generasi yang bertanggung jawab secara ekologis dan spiritual. Melalui pendekatan ini, sekolah Kristen dapat menjadi model bagi komunitas lainnya dalam menerapkan ecophilia dan memperkuat spiritualitas sehari-hari melalui tindakan nyata yang mencerminkan kasih dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mengembangkan praktik moderasi beragama melalui hospitalitas berbasis iman: Sebuah tawaran model menggereja pada pembacaan Ibrani 13:2 Saetban, Sem; Baun, Soleman; Kase, Simon
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.859

Abstract

Amidst Indonesia's pluralistic yet friction-prone religious landscape, the idea of ​​religious moderation is crucial. This article presents a theological and practical model for the church to make substantive contributions to this agenda. Building on an exegetical-hermeneutical reading of Hebrews 13:2, this article argues that the practice of hospitality toward "strangers" is central to Christian faith identity and can be translated into a "churching model" that promotes religious moderation. Using qualitative literature studies, this article discusses the theological foundations of hospitality, connects them with the pillars of religious moderation, formulates a dialogical and diaconal model of churching, and identifies its practical implications and challenges. The result is a contextual ecclesiology that transforms the church from an inward-focused entity into an embracing community that provides grace to others, regardless of differences in religious identity.   Abstrak Di tengah lanskap keagamaan Indonesia yang plural namun rentan terhadap friksi, gagasan moderasi beragama menjadi krusial. Artikel ini menawarkan sebuah model teologis-praktis bagi gereja untuk berkontribusi secara substantif dalam agenda tersebut. Berangkat dari pembacaan eksegetis-hermeneutis terhadap Ibrani 13:2, artikel ini berargumen bahwa praksis hospitalitas (keramahan) terhadap "orang asing" merupakan inti dari identitas iman Kristen yang dapat diterjemahkan menjadi sebuah "model menggereja" yang promotif terhadap moderasi beragama. Dengan menggunakan metode kualitatif studi literatur, artikel ini mendiskusikan landasan teologis hospitalitas, mengkoneksikannya dengan pilar-pilar moderasi beragama, merumuskan sebuah model menggereja yang dialogis dan diakonis, serta mengidentifikasi implikasi praktis maupun tantangannya. Hasilnya adalah sebuah tawaran eklesiologi kontekstual yang mentransformasikan gereja dari entitas yang berfokus ke dalam menjadi komunitas yang merangkul dan menjadi rahmat bagi sesama, terlepas dari perbedaan identitas keagamaan.
Terapi keluarga sebagai pelayanan pastoral dalam membangun resiliensi keluarga Kristen Raintung, Agnes Beatrix Jackline
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.861

Abstract

Family therapy is an alternative therapy that can be used in pastoral care. This is possible due to the awareness of the importance of pastoral service, which involves various other sciences so that pastoral service can achieve holistic service. This research examines the role of pastoral theology and holistic pastoral care in family pastoral therapy. Qualitative methods were used to achieve the objectives of this research. The research results show that Pastoral Theology provides the basis for family pastoral care with a family therapy approach. Presence and empathy are essential aspects of pastoral ministry based on the love exemplified by Jesus Christ. Then, caring in the pastoral care of families and their members relies on the theological belief that humans are God's creatures entrusted with the earth's care.AbstrakTerapi keluarga merupakan salah satu terapi alternatif yang dapat digunakan dalam pelayanan pastoral. Hal ini dimungkinkan dalam kesadaran pentingnya pelayanan pastoral yang melibatkan berbagai ilmu lain agar pelayanan pastoral dapat mencapai pelayanan yang holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peranan telogi pastoral dan pelayanan pastoral holistik dalam terapi pastoral keluarga. Metode kualitatif digunakan dalam pencapaian tujuan penelitian ini. Hasil penelitian mengemukakan bahwa Teologi Pastoral memberi dasar bagi pelayanan pastoral keluarga dengan pendekatan terapi keluarga. Di mana kehadiran dan empati aspek penting dalam pelayanan pastoral yang mana didasarkan pada kasih yang telah diteladankan Yesus Kristus. Kemudian, caring dalam perawatan pastoral keluarga dan anggota-anggotanya bertumpu pada keyakinan teologis bahwa manusia merupakan makhluk Tuhan yang dipercayakan dengan perawatan bumi.
Partikularitas pendidikan agama Kristen menjawab tantangan Posmodernisme Lyotard Wariki, Valentino
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.862

Abstract

Lyotard is a figure who is straightforward in criticizing modernism; for him, the era of modernism has ended, so values such as metanarratives must be abandoned because of their negative impact on civilization. Postmodernism offers a spirit of aufklarung that modernists have abandoned. This article aims to show how Christian education should respond to the era of postmodernism in Lyotard's concept. The method used is philosophical hermeneutics. The theory is built from literary sources that discuss the issue of postmodernism, which is linked to Christian education discourse utilizing interpretation, description, and comparison. The results show that postmodernism is an ideology that seeks to revive Aufklarung's ideals to achieve equality in various aspects of human life. Postmodernism seeks to dismantle the concepts and ideas of modernism through a creative, humanist, and critical approach to metanarratives, thereby providing opportunities for the potential for Christian education to flourish.AbstrakLyotard merupakan sosok yang lugas dalam mengkritik paham modernisme; baginya, era modernisme sudah berakhir, sehingga nilai-nilai seperti metanarasi harus ditinggalkan karena dampak buruknya terhadap peradaban. Posmodernisme menawarkan semangat Aufklarung yang oleh para modernis sudah ditinggalkan. Artikel ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana seharusnya pendidikan kristiani merespons posmodernisme dalam konsep Lyotard tersebut. Metode yang digunakan adalah studi hermeneutika filosofis. Teori dibangun dari sumber-sumber kepustakaan yang membahas tentang isu posmodernisme yang dikaitkan dengan diskursus pendidikan kristiani dengan cara interpretasi, deskripsi, dan komparasi. Hasil yang ditunjukkan bahwa posmodernisme merupakan sebuah paham yang berupaya menghidupkan kembali cita-cita Aufklarung agar tercapai pemerataan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Posmodernisme berupaya membongkar konsep dan gagasan modernisme melalui pendekatan yang kreatif, humanis, dan kritis terhadap metanarasi, sehingga memberi peluang untuk potensi pendidikan kristiani semakin berkembang.
Rumah sebagai taman belajar yang menyenangkan bagi anak: Pendidikan kristiani merevitalisasi fungsi keluarga dalam penguatan nilai iman Kristen di era posdigital Pantan, Frans
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.867

Abstract

Education is the foundation for existence, sustainability, work performance, and the meaning of human life. The starting point for humans to learn occurs at home as a family's primary residence. That is why the educational aspect must be the main priority in the design of family governance. In the modern era, the position of the home as the first and most enjoyable place of learning for children tends to be marginalized by various things. Therefore, this research aims to affirm and construct the centrality of the home as a learning garden for children in Christian faith education. The method used in this research is descriptive qualitative, with an analysis of the thoughts of Carl-Mario Sultana and Joas Adiprasetya. The research results show that the contemporary socio-cultural context currently being experienced requires strengthening the role of the family in children's faith education. Parents must be role models, provide play time, and educate children in the truthful values of God's Word. This ideal can be achieved if parents practice garden spirituality, which causes children to express their spirituality freely.AbstrakPendidikan adalah landas tumpu fundamental eksistensi, keberlanjutan, performa kerja, dan kebermaknaan hidup manusia. Titik mulai manusia menjalani proses belajarnya terjadi di rumah, sebagai tempat tinggal utama keluarga. Itulah sebabnya aspek pendidikan harus menempati prioritas utama dan pertama dalam rancang bangun tata kelola keluarga. Di era modern, posisi rumah sebagai taman belajar yang pertama dan menyenangkan bagi anak cenderung terpinggirkan oleh banyak hal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengafirmasi dan mengkonstruksi sentralitas rumah sebagai taman belajar bagi anak dalam pendidikan iman Kristen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan analisis pemikiran Carl-Mario Sultana dan Joas Adiprasetya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks sosio-kultural kontemporer yang dijalani saat ini menuntut penguatan peran keluarga dalam pendidikan keimanan anak-anak. Orang tua harus menjadi role model, memberikan waktu bermain, dan mendidik anak dalam nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan. Cita-cita ini dapat tercapai apabila orang tua mempraktikkan spiritualitas taman yang menyebabkan anak dengan bebas mengekspresikan spiritualitasnya
Misi dan pertumbuhan gereja Pentakostal-Karismatik: Refleksi teologis praksis terhadap perkembangan Pentakostal-Karismatik di wilayah Tarutung, Tapanuli Utara Sitopu, Elisamark; Siagian, Albiner; Saga, Nehemia; Gea, Brian Aston
KURIOS Vol. 9 No. 2: Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.868

Abstract

Artikel ini merupakan sebuah kajian teologis reflektif terhadap perkembangan gereja dari kelompok Pentakostal-Karismatik di wilayah Tarutung, Tapanuli Utara. Perkembangan kelompok ini termasuk yang paling dinamis di antara kelompok Kristen lainnya, sehingga memunculkan respons yang kompleks. Tujuan artikel ini adalah untuk menganalisis misi gereja dalam kelompok Pentakostal-Karismatik yang berkelindan dengan pertumbuhan gereja. Degnan menggunakan metode analisis deskriptif melalui data-data kualitatif berbasis pustaka dari berbagai referensi digital, diperoleh hasil bahwa misi kelompok Pentakostal-Karismatik mempengaruhi pertumbuhan gereja sehingga mengakibatkan perkembangannya yang signifikan.
Merayakan harmoni ilahi dalam pembacaan Mazmur 133: Refleksi Teologi Pentakostal-Karismatik Napitupulu, Pieter Anggiat
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.869

Abstract

This article offers a theological idea about religious harmony in both the Christian environment and the context of inter-religious relations. This idea responds to the outbreak of conflicts among religious adherents, both within the church and in relations with adherents of other religions. These conflicts often end in anarchic and sadistic behavior in the name of religion. Using a literature analysis method that refers to several previous research results on similar topics, this study shows the need to build harmony starting from within the church. The reading of Psalm 133 is an offer that concludes this research, that reflection on this verse can make a spirit that creates harmony in the body of Christ and, of course, in relations between Christians and other religions.   Abstrak Artikel ini menawarkan sebuah gagasan teologis tentang harmonisasi kehidupan beragama, baik di dalam lingkungan kekristenan maupun dalam konteks relasi antarumat beragama. Gagasan ini merespons merebaknya konflik yang terjadi di antara para pemeluk agama, baik di lingkungan gereja maupun hubungannya dengan pemeluk agama lain. Konflik tersebut tidak jarang berujung pada perilaku anarkis hingga sadis yang mengatasnamakan agama. Dengan menggunakan metode analisis literatur yang merujuk dari beberapa hasil riset terdahulu dengan topik serupa, penelitian ini memperlihatkan perlunya membangun harmonisasi yang dimulai dari dalam gereja. Pembacaan Mazmur 133 menjadi tawaran yang menyimpulkan riset ini, bahwa refleksi atas nas ini dapat mengonstruksi spirit yang membangun harmoni dalam tubuh Kristus, dan niscaya pada relasi antara umat kristiani dan agama lainnya.  
Ongoing spirituality: Sebuah refleksi realitas penderitaan melalui pembacaan narasi Ayub Samosir, Agustina Raplina; Cahyono, Didik Christian Adi
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.891

Abstract

Penderitaan dan spiritualitas kerap disandingkan dan dianggap saling mempengaruhi. Penderitaan seakan-akan menjadi bagian integral jalan spiritualitas. Penderitaan seolah sebuah keniscayaan ketika menempuh jalan spiritualitas. Di sisi lain, penderitaan digambarkan seperti anak tangga untuk mencapai level spiritualitas tertinggi. Salah satu kisah yang memperkuat pandangan bahwa penderitaan adalah ujian iman adalah kisah Ayub. Ayub dipandang sebagai orang yang sabar dan saleh meskipun menghadapi penderitaan yang luar biasa. Berdasarkan model pembacaan Bakhtin, pengakuan Allah tentang kesalehan, rasa takut akan Allah, dan keteguhan Ayub menjauhkan diri dari kejahatan bukanlah pernyataan final, melainkan sebuah penghayatan yang terus berlangsung. Model pembacaan ini membawa pembaca pada pemahaman bahwa kata atau ucapan seorang tokoh bukan merupakan bentuk final, sebaliknya, menawarkan makna baru dan senantiasa terbuka untuk dipertanyakan kembali, merupakan teks polifonik.