cover
Contact Name
Harls Evan Siahaan
Contact Email
evandavidsiahaan@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
kurios@sttpb.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Kurios
ISSN : 2615739X     EISSN : 26143135     DOI : -
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen dengan nomor ISSN: 2614-3135 (online), ISSN: 2406-8306 (print), yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa Jakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Pendampingan pastoral yang memberdayakan bagi para perempuan Papalele Sinaga, Rouli Retta Trifena; Saimima, Johan Robert
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.1025

Abstract

Papalele women face a difficult situation in pursuing their efforts to improve their quality of life from just trading to meeting their daily needs amidst intense competition in the economic sector by developing their physical, mental, spiritual, economic, social, and cultural advantages. Therefore, resources for empowering women small traders are needed and sought through the concept of empowering pastoral care. This article aims to construct empowering pastoral care based on the elaboration of the idea of pastoral care according to Emmanuel Yartekwey Lartey and cosmology, as well as the meaning of life of Papalele women by referring to the views of experts. The qualitative research in this paper uses descriptive analysis with literature study and observation data collection techniques. The findings in this research are that the concept of pastoral care with a theological approach and Lartey's pastoral care can be a theological source for empowering women small traders, especially Papalele women. AbstrakPara perempuan papalele menghadapi situasi yang sukar dalam menekuni usaha mereka demi meningkatkan kualitas hidup dari sekadar berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah kompetisi yang ketat dalam bidang ekonomi, dengan mengembangkan berbagai kelebihan yang mereka miliki secara fisik, mental, spiritual, ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh sebab itu, sumber-sumber pemberdayaan kaum perempuan pedagang kecil diperlukan dan diupayakan melalui konsep pendampingan pastoral yang memberdayakan. Artikel ini bertujuan untuk mengkonstruksi sebuah pendampingan pastoral yang memberdayakan berdasarkan elaborasi antara gagasan pendampingan pastoral menurut Emmanuel Yartekwey Lartey dan kosmologi, juga pemaknaan hidup para perempuan papalele tersebut dengan mengacu pada pandangan para ahli. Jenis penelitian kualitatif dalam tulisan ini menggunakan analisis deskriptif dengan teknik pengumpulan data studi literatur dan observasi. Temuan dalam penelitian ini adalah, konsep pendampingan pastoral dengan pendekatan teologi dan pendampingan pastoral Lartey dapat menjadi sumber teologi bagi pemberdayaan kaum perempuan pedagang kecil, khususnya para perempuan papalele.
Harmoni spiritualitas dalam pastoral konseling: Sebuah kajian berbasis pendidikan kristiani Brek, Yohan
KURIOS Vol. 10 No. 1: April 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i1.1043

Abstract

This article explores the integration of spirituality in pastoral counseling through a holistic Christian education approach. The research reveals that spirituality is not merely an additional element, but a fundamental dimension that animates the entire counseling process. A systematic literature review found significant gaps in pastoral counseling practices in Indonesia, where the spiritual dimension is often separated from the psychological approach. The article analyzes the theological foundation of spirituality as the basis for pastoral counseling, explores a holistic approach in integrating spiritual dimensions with psychological aspects, and formulates an implementation model of spiritual harmony in pastoral counselor education programs. Findings indicate that harmonizing spirituality in pastoral counseling requires a systematic approach through integrated curriculum, spiritual formation, supervision models based on theological reflection, and contextualization relevant to Indonesian realities. This model's implementation impacts individual recovery and contributes to transforming faith communities and developing counseling approaches responsive to contemporary challenges.   Abstrak Artikel ini mengeksplorasi integrasi spiritualitas dalam konseling pastoral melalui pendekatan pendidikan Kristiani yang holistik. Penelitian mengungkapkan bahwa spiritualitas bukan sekadar elemen tambahan, melainkan dimensi fundamental yang menjiwai seluruh proses konseling. Melalui kajian literatur sistematis, ditemukan adanya kesenjangan signifikan dalam praktik konseling pastoral di Indonesia, di mana dimensi spiritualitas seringkali dipisahkan dari pendekatan psikologis. Artikel menganalisis fondasi teologis spiritualitas sebagai landasan konseling pastoral, mengeksplorasi pendekatan holistik dalam mengintegrasikan dimensi spiritual dengan aspek psikologis, serta merumuskan model implementasi harmoni spiritualitas dalam program pendidikan konselor pastoral. Temuan menunjukkan bahwa harmonisasi spiritualitas dalam konseling pastoral membutuhkan pendekatan sistematis melalui kurikulum terintegrasi, pembentukan spiritual, model supervisi berbasis refleksi teologis, dan kontekstualisasi yang relevan dengan realitas Indonesia. Implementasi model ini tidak hanya berdampak pada pemulihan individu, tetapi juga berkontribusi pada transformasi komunitas iman dan pengembangan pendekatan konseling yang responsif terhadap tantangan kontemporer.
Jalan spiritualitas Johannes Leimena dan implikasinya bagi pelayanan sosial gereja: Suatu kajian spiritualitas Kristen dengan pendekatan hermeneutik fenomenologi Shindang, Daniel Luther; Ruhulessin, John Chr.; Damamain, Jafet
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1062

Abstract

This study explores the experience and spirituality of Johannes Leimena. The approach used in this study is hermeneutic phenomenology, which is done through the interpretation and analysis of life experiences, ideas, and social work of Johannes Leimena utilizing the perspective of Dale Canon (Six Paths of Spirituality). The results of interpretation and analysis obtained the constructions of social spirituality, namely an integrative effort going to self-transcendence with God. All that manifested through social solidarity, empowerment, advocacy, and human development, ending the quality of life transformation. The path of social spirituality is obtained, in turn, providing innovation and inspiration for the church to organize the development of social services because the church's current context tends to be oriented towards rites, liturgical services, infrastructure development, and organizational management so that ignores social service as the essence of service church. Thus, this article contributes to the field of Christian spirituality to develop church social service.   Abstrak Kajian ini mengeksplorasi pengalaman spiritualitas Johannes Leimena. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah hermeneu-tik fenomenologi yang dilakukan melalui intepretasi dan analisis pengalaman hidup, gagasan, dan karya sosial Johannes Leimena menggunakan prespektif enam jalan spiritualitas Dale Canon. Lewat hasil interpretasi dan analisis tersebut diperoleh konstruksi spiritualitas sosial, yakni suatu upaya integratif menuju transendensi diri dengan Allah. Kesemuanya itu termanifestasikan melalui solidaritas sosial, pemberdayaan, advokasi, dan pembangunan manusia yang bermuara pada transformasi kualitas hidup. Jalan spiritualitas sosial yang diperoleh pada gilirannya memberikan inovasi dan inspirasi bagi gereja untuk menata kembangkan pelayanan sosial, sebab konteks bergereja masa kini cenderung berorientasi pada ritus, pelayanan liturgis, pembangunan infrastruktur dan manejerial organisasi, sehingga mengabaikan pelayanan sosial sebagai esensi dari pelayanan gereja. Demikian tulisan ini menjadi kontribusi bidang spiritualitas Kristen bagi pengembangan pelayanan sosial gereja.
Keterlibatan perempuan Kristen dalam politik praktis dan gaya kepemimpinan: Sebuah perspektif teologi feminis Natar, Asnath Niwa
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1086

Abstract

The year 2024 is the year of democracy. In addition to direct presidential elections, legislative elections are held at the Regency, City, Provincial, and Central levels. One aspect that needs attention in consolidating Indonesian democracy is gender equality in political life. After the 2019 elections, gender inequality still exists in Indonesia's political constellation. This can be seen from the unideal number of female parliamentarians. Then, what about the involvement of Christian women in practical politics? Do they get equal political opportunities, and what are the inhibiting factors? What style of women's leadership can contribute to practical politics? This issue will be reviewed from a feminist perspective to provide awareness so that more Christian women are involved in practical politics to fight for the fate of women.   Abstrak Tahun 2024 adalah tahun pesta demokrasi. Selain diselenggara-kan pemilihan presiden secara langsung, juga pemilihan legislatif baik tingkat Kabupaten, Kota, Provinsi, dan Pusat. Salah satu aspek yang perlu menjadi perhatian dalam mengkonsolidasikan demokrasi Indonesia adalah kesetaraan gender dalam kehidupan politik. Pasca Pemilu 2019, ketimpangan gender masih terjadi dengan jelas dalam konstelasi politik Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari belum idealnya jumlah anggota parlemen perempuan. Lalu, bagaimana dengan keterlibatan perempuan Kristen dalam politik praktis? Apakah mereka mendapat peluang yang sama dalam politik, dan apa yang menjadi faktor penghambatnya. Apa gaya kepemimpinan perempuan yang bisa disumbangkan dalam politik praktis? Masalah ini akan ditinjau dari perspektif feminis, dengan tujuan memberikan penyadaran agar lebih banyak kaum perempuan Kristen yang terlibat dalam politik praktis untuk memperjuangkan nasib kaum perempuan
Pedagogi ale tuyu: Konstruksi tradisi manganan sebagai alternatif wadah pendidikan kristiani dalam keluarga Mongan, Sanda
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1126

Abstract

The Manganan Ale Tuyu tradition in Lembang Ma’dong, North Toraja, is a cultural practice rich in Christian educational values but is often only seen from an economic perspective. This study explores the potential of this tradition as a means of character education and Christian values ​​in families. Using a qualitative approach with ethnographic methods, data were collected through participatory observation and in-depth interviews with community leaders, Ale Tuyu mat craftsmen, religious leaders, and family members. The study results show that the Manganan tradition teaches hard work, patience, cooperation, and creativity and strengthens family relationships through shared activities. Based on The Traditioning Model of Education: Continuity and Change by Mary Elizabeth Mullino Moore, this tradition can integrate the values ​​of the past, present, and future, creating wise and critical individuals. Thus, the Manganan Ale Tuyu tradition maintains local cultural values and becomes a practical and relevant educational tool in modern life.   Abstrak Tradisi Manganan Ale Tuyu di Lembang Ma’dong, Toraja Utara, adalah praktik budaya yang kaya akan nilai-nilai pendidikan Kristiani, namun seringkali hanya dilihat dari sisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi tradisi ini sebagai sarana pendidikan karakter dan nilai-nilai Kristiani dalam keluarga. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat, pengrajin tikar Ale Tuyu, pemuka agama, dan anggota keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Manganan mengajarkan kerja keras, kesabaran, gotong-royong, dan kreativitas, serta memperkuat hubungan keluarga melalui kegiatan bersama. Berdasarkan The Traditioning Model of Education: Continuity and Change oleh Mary Elizabeth Mullino Moore, tradisi ini mampu mengintegrasikan nilai-nilai masa lalu, masa kini, dan masa depan, menciptakan  personal yang bijaksana dan kritis. Dengan demikian, tradisi Manganan Ale Tuyu tidak hanya mempertahankan nilai budaya lokal tetapi juga menjadi alat pendidikan yang efektif dan relevan dalam konteks kehidupan modern.
Mewujudkan pendidikan agama Kristen yang transformatif: Sinergi filsafat progresivisme dengan kurikulum merdeka Afi, Kristian Edison Yohanis Melkior; Pellokila, Ireni Irnawati; Sesfao, Maria Indriani
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1141

Abstract

The mismatch between the principles of progressivism and educational practices in the field is a challenge in implementing the Independent Curriculum in Rote Ndao Regency. Schools often use an authoritarian approach, with minimal innovative learning media, so the learning atmosphere becomes more varied and dynamic. Teachers tend to be dominant as presenters of material rather than facilitators, which hinders experience-based learning. This study uses a descriptive qualitative method through observation, interviews, and document studies to explore the implementation of progressivism and the Independent Curriculum. The study results show that learning has been adjusted to the development of students, and teachers act as facilitators by motivating them. However, schools must still provide suggestion boxes and learning media according to student needs. For improvement, intensive training is necessary for teachers, and school policies must be strengthened to create a more inclusive and innovative learning environment.   Abstrak Ketidaksesuaian antara prinsip progresivisme dan praktik pendidikan di lapangan menjadi tantangan dalam implementasi Kurikulum Merdeka di Kabupaten Rote Ndao. Sekolah sering menggunakan pendekatan otoriter, dengan minimnya penggunaan media pembelajaran yang inovatif, sehingga suasana belajar menjadi monoton dan kurang dinamis. Guru cenderung dominan sebagai penyampai materi daripada fasilitator, yang menghambat pembelajaran berbasis pengalaman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen untuk mengeksplorasi penerapan progresivisme dan Kurikulum Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran telah disesuaikan dengan perkembangan peserta didik, dan guru bertindak sebagai fasilitator dengan memotivasi mereka. Namun, sekolah belum menyediakan kotak saran dan media pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik. Untuk perbaikan, diperlukan pelatihan intensif bagi guru dan penguatan kebijakan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan inovatif.
Misi dan rekonsiliasi: Merevitalisasi fungsi gereja di tengah konflik sosial Labobar, Kresbinol
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1145

Abstract

This article aims to revitalize the church's function as a bearer of the mission of reconciliation amid social conflict, especially in Indonesia. Since the era of reform, which was considered to bring fresh air of change to the nation's life, horizontal conflicts have escalated. The church's presence, which cannot be separated from God's mission, is more often associated with the mission of evangelism. Through descriptive analysis of various literature, it was found that the mission built on the paradigm of the Triune God and the incarnation of Christ resulted in a reconciliatory mission. Therefore, the concept of a "missionary church" must also have implications for the mission of reconciliation.   Abstrak  Artikel ini bertujuan untuk menawarkan sebuah revitalisasi fungsi gereja sebagai pengemban misi rekonsiliasi di tengah konflik sosial, khususnya di Indonesia. Sejak bergulirnya era reformasi, yang dianggap akan membawa angin segar perubahan bagi kehidupan berbangsa di tanah air, konflik horizontal justru semakin meningkat eskalasinya. Kehadiran gereja yang tidak dapat dilepaskan dari misi Allah lebih sering dikaitkan dengan misi penginjilan. Melalui analisis deskriptif berbagai literatur didapatkan, bahwa misi yang dibangun pada paradigma Allah Trinitas dan inkarnasi Kristus menghasilkan misi yang rekonsiliatif. Oleh karena itu, konsep "gereja yang misioner" haruslah juga berimplikasi pada misi rekonsiliasi.
Berteologi dalam krisis: Pembacaan hermeneutik trauma terhadap metafora gender Allah dalam kitab Yeremia Siahaan, Vera Herawati
KURIOS Vol. 10 No. 2: Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i2.1155

Abstract

This study examines the use of gender metaphors for God in the book of Jeremiah through the lens of trauma hermeneutics and contemporary gender theory. In situations of crisis, gender metaphors play a crucial role in describing the relationship between God and his people, enabling traumatized communities to articulate their suffering and seek healing. The analysis reveals how traumatic experiences shape the way people talk about God and open up space for more inclusive language. This approach is relevant to contemporary theology, offering a more transformative perspective for addressing global challenges. This study invites us to critique binary gender constructions and develop a more complex and inclusive understanding of God.   Abstrak Penelitian ini mengkaji penggunaan metafora gender untuk Allah dalam kitab Yeremia melalui lensa hermeneutik trauma dan teori gender kontemporer. Dalam situasi krisis, metafora gender memainkan peran penting dalam menggambarkan hubungan antara Allah dan umat-Nya, memungkinkan komunitas yang mengalami trauma untuk mengartikulasikan penderitaan mereka dan mencari pemulihan. Analisis ini mengungkapkan bagaimana pengalaman traumatis membentuk cara orang berbicara tentang Tuhan dan membuka ruang bagi bahasa yang lebih inklusif. Pendekatan ini relevan untuk konteks teologi kontemporer, menawarkan perspektif yang lebih kaya dan transformatif untuk menghadapi tantangan global. Penelitian ini mengajak kita untuk mengkritisi konstruksi biner gender dan mengembangkan pemahaman yang lebih kompleks dan inklusif tentang Tuhan.
Redemptoris missio: Menyeimbangkan strategi misi dan pelayanan kepada kaum miskin dalam misi Paulus Bali, Ardikal
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.803

Abstract

BNKP Church in Pekanbaru City faces challenges in prioritizing evangelism and social service missions amidst urbanization and economic pressures. Church services focus more on physical development and categorical programs, while the evangelism mission program has not been implemented optimally. This study elaborates on the tentmaking model as a solution to overcome this gap, referring to the strategy of the Apostle Paul in the Acts of the Apostles. Through a qualitative approach and in-depth literature study, as well as participant observation in Gereja BNKP Pekanbaru City, the findings show that the tentmaking model allows church leaders to be directly involved in secular work, create more authentic connections with the local community, and carry out missions sustainably without relying on external support. As a result, this strategy is relevant and applicable to strengthening evangelism and congregation empowerment services in an urban context.   Abstrak Gereja BNKP Kota Pekanbaru menghadapi tantangan dalam memprioritaskan misi penginjilan dan pelayanan sosial di tengah dinamika urbanisasi dan tekanan ekonomi. Pelayanan gereja lebih terfokus pada pengembangan fisik dan program kategorial, sementara program misi penginjilan belum terlaksana secara optimal. Kajian ini mengelaborasi model tentmaking sebagai solusi untuk mengatasi kesenjangan tersebut, merujuk pada strategi Rasul Paulus dalam Kisah Para Rasul. Melalui pendekatan kualitatif dan studi literatur yang mendalam, serta observasi partisipatif di Gereja BNKP Kota Pekanbaru, temuan menunjukkan bahwa model tentmaking memungkinkan pemimpin gereja untuk terlibat langsung dalam pekerjaan sekuler, menciptakan koneksi yang lebih otentik dengan masyarakat setempat, dan menjalankan misi secara berkelanjutan tanpa bergantung pada dukungan eksternal. Hasilnya, strategi ini bukan hanya relevan tetapi juga aplikatif untuk memperkuat pelayanan penginjilan dan pemberdayaan jemaat dalam konteks urban.
Peningkatan kualitas pendidikan sebagai tanggung jawab misi gerejawi: Sebuah studi tentang strategi meningkatkan akreditasi program studi doktoral manajemen pendidikan Kristen di IAKN Tarutung Panjaitan, Binur; Sitompul, Arip Surpi; Aritonang, Oktober Tua; Sitompul, Baginda; Sitompul, Rosalinda
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.808

Abstract

Artikel ini adalah sebuah luaran riset yang berbasis pada upaya peningkatan kualitas pendidikan teologi di Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, khususnya pada program studi doktoral manajemen pendidikan, yang ditunjukkan salah satunya dengan nilai akreditasi. Upaya yang dilakukan bukan saja tentang pencapaian akademik, namun yang terpenting adalah sebuah ekspresi melaksanakan misi gerejawi. Argumentasi kami, bahwa setiap upaya peningkatan pendidikan teologi harus memiliki landasan teologisasi. Itu sebabnya, artikel ini bertujuan untuk meletakkan dasar teologis peningkatan kualitas pendidikan teologi sebagai spirit untuk melaksanakan misi gerejawi. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan interpretasi teks biblis, frasa amanat agung menjadi spirit peningkatan kualitas pendidikan teologi.