cover
Contact Name
M. Arifki Zainaro
Contact Email
m.arifkiz@yahoo.com
Phone
+6285366376666
Journal Mail Official
jka@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jalan Pramuka No 27 Kemiling, Kota Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Kreativitas PKM
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 26150921     EISSN : 26226030     DOI : 10.3324
Core Subject : Health,
Jurnal Kreativitas Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) merupakan jurnal yang bertaraf nasional yang memiliki fokus utama pada pengaplikasian hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dilakukan pada masyarakat dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Lingkup bidang pengabdian kepada masyarakat antara lain meliputi pelatihan, penyuluhan, pendidikan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat berisi berbagai kegiatan penanganan dan pencegahan berbagai potensi, kendala, tantangan, dan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Pelaksanaan kegiatan pengabdian juga melibatkan partisipasi masyarakat dan mitra. Kegiatan pengabdian tersebut disusun dalam suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kesehatan masyarakat. Tujuan dari publikasi jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual atau ide-ide yang telah dicapai di bidang kesehatan.
Articles 2,696 Documents
Edukasi Terpadu Berbasis Komunitas Melalui Pendekatan Smart Village Untuk Mendukung Program Kampung Iklim Rachmat Mulyana; Darwin Darwin; Novrizaldi Wardana; Mita Dwi Putri; Wahyu Hutria; Esi Emilia; Kasmita Kasmita; Regania Pasca Rassy; Muhammad Iqbal Raissilki; Wisnu Prayogo; Edo Berlian
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25898

Abstract

ABSTRAK Fenomena iklim ekstrim yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir telah memicu berbagai permasalahan lingkungan di wilayah perkotaan, salah satunya meningkatnya frekuensi kejadian banjir. Penyebab lain ditemukan kondisi lingkungan perkotaan, serta rendahnya kapasitas pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat. Program Kampung Iklim (Proklim) dengan pendekatan Smart Village menjadi salah satu strategi untuk pemberdayaan masyarakat dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan model pemberdayaan masyarakat berbasis Smart Village guna mendukung penguatan Kampung Iklim di Kota Medan. Mitra kegiatan adalah komunitas sekolah SDIT Amrullah Akbar. Solusi yang ditawarkan dengan melakukan (1) Desain Taman edukasi lingkungan, (2) Edukasi Siswa dan Peran orang tua dalam penguatan kampung iklim, (3) Pemanfaatan pekarangan sekolah dengan Vertikal farming, Budikdamber dan (4) Fasilitasi pengakuan komunitas kampung iklim. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui kegiatan sosialisasi, pelatihan, praktik lapangan, serta pendampingan berkelanjutan. Target luaran mencakup peningkatan jumlah kampung iklim, meningkatnya partisipasi masyarakat, terbentuknya sistem bank sampah digital, serta pengakuan komunitas SDIT Amrullah Akbar sebagai salah satu kampung iklim. Program ini telah mendukung mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat menuju lingkungan tangguh dan berkelanjutan. Masyarakat yang tergabung dalam komunitas SDIT Amrullah Akbar mulai mengimplementasikan teknologi sederhana seperti komposter, vertikultur, dan lampu LED hemat energi sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim. Penerapan teknologi tepat guna tersebut terbukti membantu mengurangi timbulan sampah, menambah ruang hijau, dan menekan emisi karbon di lingkungan sekitar. Kata Kunci: Edukasi, Komunitas, Kampung Iklim, Smart Village. ABSTRACT The increasing frequency of extreme climate events in recent years has contributed to various environmental challenges in urban areas, particularly the rising incidence of flooding. Contributing factors include suboptimal urban environmental conditions and limited community capacity in environmental management. The Climate Village Program, implemented through a Smart Village approach, represents a strategic framework for community empowerment in addressing these environmental issues. This community service initiative aimed to develop a Smart Village–based community empowerment model to strengthen the Climate Village Program in Medan City. The project partner was the SDIT Amrullah Akbar school community. The proposed interventions included: (1) the development of an environmental education park; (2) student education and parental engagement in strengthening the Climate Village initiative; (3) optimization of schoolyard utilization through vertical farming and Budikdamber (fish cultivation in buckets); and (4) facilitation of formal recognition as a Climate Village community. The program was implemented using an educational and participatory approach through socialization sessions, training, field practice, and continuous mentoring. The targeted outcomes included an increase in the number of Climate Villages, enhanced community participation, the establishment of a digital waste bank system, and official recognition of the SDIT Amrullah Akbar community as a Climate Village. The program contributed to technology-based climate change mitigation and adaptation efforts while promoting community empowerment toward a resilient and sustainable environment. The community has begun adopting simple technologies, such as composting, vertical gardening, and energy-efficient LED lighting, as part of climate mitigation strategies. The implementation of these appropriate technologies has demonstrably reduced waste generation, expanded green spaces, and lowered carbon emissions in the surrounding environment. Keywords: Education, Community Empowerment, Climate Village, Smart Village.
Dukungan Kesehatan Mental Masa Menopause pada Ibu-Ibu Dasawisma 2 PKK RT 23 Taman Pondok Jati Sidoarjo Yuni Kurniawaty; Iriene Kusuma Wardhani; Sri Winarni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.24876

Abstract

ABSTRAK Pemberdayaan dan kesejahteraan keluarga merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) hadir sebagai gerakan nasional yang tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat, khususnya kaum Perempuan. Namun demikian, seiring dengan bertambahnya usia, sebagian Ibu-Ibu mengungkapkan adanya kekhawatiran, kecemasan, dan ketakutan dalam menghadapi masa menopause. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatan pengetahuan Mitra PKM tentang menopause dan memberikan dukungan mental yang tepat pada Mitra PkM untuk meningkatkan Psychological Wellbeing  atau kesejahteraan psikologi Mitra PKM saat menghadapi masa menopause. Metode yang dilakukan metode partisipatoris Participatory Rural Apraissal (PRA). Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diawali dengan perijinan kepada Ketua Dasawisma 2 dan Ketua PKK RT 23 RW 04 Taman Pondok Jati Geluran Sidoarjo, koordinasi dengan Mitra PKM, pembagian tugas diantara tim pelaksana. Partisipasi Mitra PKM dilakukan dengan mempersiapkan tempat dan alat pengeras suara. Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat diawali dengan perijinan kepada Ketua Dasawisma 2, koordinasi dengan mitra, pembagian tugas diantara tim pelaksana. Partisipasi mitra dilakukan dengan mempersiapkan tempat dan kuesioner. Proses diskusi berlangsung dengan lancar, mitra sangat memperhatikan penjelasan yang diberikan, beberapa pertanyaan diajukan kepada tim pelaksana. Pendmapingan dilakukan selama satu minggu dengan cara berdiskusi secara personal dengan Mitra PKM terkait menopause. Hasil rata-rata pengetahuan Mitra PkM tentang menopause sebelum dilakukan pelatihan tentang menopause dan pendampingan dukungan mental pada Mitra PKM sebesar 64,75 setelah diberikan pelatihan dan pendampingan menjadi 86,5. Terjadi peningkatan pengetahuan tentang menopause pada Mitra PKM sebesar 21,75. Rata-rata tingkat Psychological Wellbeing Mitra PKMpada masa menopause sebelum dilakukan pelatihan tentang menopause dan pendampingan dukungan mental pada masa menopause sebesar 58,4 setelah dilakukan pelatihan dan pendampingan rata-rata Tingkat PsychologicalWellbeing  Mitra PKM sebesar 74,75. Terjadi peningkatan 16,36 tingkat Psychological Wellbeing  Mitra PKM saat menghadapi menopause. Perubahan pengetahuan dan tingkat Psychological Wellbeing dapat terjadi bila dilakukan kerjasama yang berkelanjutan antara tim pengabdian masyarakat dengan mitra.  Kata Kunci: Menopause, Ibu, Psychological Wellbeing.   ABSTRACT Family empowerment and welfare are important pillars in sustainable community development. The Family Empowerment and Welfare Movement (PKK) is present as a national movement that grows from, by, and for the community, especially women. However, as they get older, some mothers express worries, anxieties, and fears in facing menopause. This activity aims to increase the knowledge of PKM Partners about menopause and provide appropriate mental support to PKM Partners to improve Psychological Wellbeing or the psychological well-being of PKM Partners when facing menopause. The method used is the Participatory Rural Appraisal (PRA) method. The implementation of community service activities begins with permission from the Head of Dasawisma 2 and the Head of PKK RT 23 RW 04 Taman Pondok Jati Geluran Sidoarjo, coordination with PKM Partners, division of tasks among the implementation team. PKM Partner participation is carried out by preparing a place and loudspeakers. The implementation of community service activities began with permission from the Head of Dasawisma 2, coordination with partners, division of tasks among the implementation team. Partner participation was carried out by preparing the place and questionnaires. The discussion process went smoothly, partners paid close attention to the explanations given, several questions were asked to the implementation team. Mentoring was carried out for one week by means of personal discussions with PKM Partners regarding menopause. The average result of PKM Partners' knowledge about menopause before training on menopause and mental support assistance to PKM Partners was 64.75 after being given training and assistance to 86.5. There was an increase in knowledge about menopause in PKM Partners by 21.75. The average level of Psychological Wellbeing of PKM Partners during menopause before training on menopause and mental support assistance during menopause was 58.4 after training and assistance the average level of Psychological Wellbeing of PKM Partners was 74.75. There was an increase of 16.36 in the level of Psychological Wellbeing of PKM Partners when facing menopause. Changes in knowledge and levels of psychological wellbeing can occur through ongoing collaboration between the community service team and partners. Keywords: Menopause, Mother, Psychological Wellbeing.
Peningkatan Kesadaran PHBS dan Pencegahan Tuberkulosis melalui Edukasi dan Pendampingan Posyandu di Desa Jambe, Tangerang Didi Suardi; Aisyah Defy R. Simatupang; Martavevi Azwar; Oom Komariyah; Shofiah Tidjani; Nur Jamaludin; Muizzudin Muizzudin
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25633

Abstract

ABSTRAK Rendahnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), keterlambatan deteksi Tuberkulosis (TBC), serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu menjadi permasalahan kesehatan di Desa Jambe, Tangerang. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai PHBS, pencegahan TBC, serta optimalisasi peran Posyandu dalam pemantauan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan dilaksanakan selama satu bulan melalui penyuluhan interaktif, demonstrasi praktik cuci tangan, edukasi mengenai gejala dan pencegahan TBC, pelatihan kader kesehatan, serta pendampingan kegiatan Posyandu. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test serta observasi terhadap partisipasi masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman PHBS pada lebih dari 80% peserta, peningkatan kemampuan mengenali gejala TBC pada 70% peserta, serta peningkatan partisipasi ibu hamil dalam Posyandu dari 40% menjadi 70%. Program ini membuktikan bahwa edukasi partisipatif dan pendampingan kader efektif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat serta memperkuat fungsi Posyandu sebagai layanan kesehatan preventif di tingkat desa. Kata Kunci: PHBS, Tuberkulosis, Posyandu, Edukasi Kesehatan, Pengabdian Masyarakat.  ABSTRACT Low implementation of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS), delayed detection of Tuberculosis (TB), and limited community participation in Posyandu activities remain public health concerns in Jambe Village, Tangerang. This community service program aimed to improve public awareness and knowledge regarding PHBS, TB prevention, and the optimization of Posyandu services for maternal and child health monitoring. The program was conducted over one month through interactive counseling sessions, handwashing demonstrations, TB prevention education, cadre training, and Posyandu assistance. Evaluation was carried out using pre- and post-tests and participation observation. The results showed increased PHBS understanding in more than 80% of participants, improved TB symptom recognition in 70% of participants, and increased Posyandu attendance among pregnant women from 40% to 70%. These findings indicate that participatory education combined with cadre mentoring effectively strengthens community health awareness and enhances the preventive function of Posyandu at the village level. Keywords: PHBS, Tuberculosis, Posyandu, Health Education, Community Service.
Penguatan Soft Power Indonesia di Korea Selatan Melalui Aktivitas Fisik Tradisional dan Gastrodiplomasi dalam Kerangka Asta Cita Tandiyo Rahayu; Natalia Desy Putriningtyas; Donny Wira Yudha Kusuma; Setya Rahayu; Martin Sudarmono; Anirotul Qoriah; Lulu April Farida; Yanesti Nuravianda; Chaykeun Lee; Billy Castyana; Lintang Hakim Nugraha
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25953

Abstract

ABSTRAK Diplomasi budaya adalah cara menjalin dan menguatkan hubungan antar negara. Diplomasi budaya antara Indonesia dan Korea Selatan telah dilakukan dengan mendemonstrasikan seni budaya khas Indonesia seperti makanan, wayang dan batik. Namun permasalahan yang ditemukan ketika melakukan observasi serta FGD diketahui bahwa belum ada pengenalan budaya Indonesia kepada siswa sekolah melalui praktik secara langsung. Hal ini dapat mengurangi nilai filosofi dari kebudayaan yang diperkenalkan. Oleh karena itu upaya yang akan dilakukan dalam pengabdian ini adalah mengajak siswa sekolah dasar di Korea Selatan untuk mengenal dan. Hal ini juga sesuai dengan SDGs nomor 3 dan 17 yakni kehidupan sehat dan sejahtera melalui kemitraan untuk mencapai tujuan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melakukan sosialisasi dan mempraktekkan budaya Indonesia melalui aktivitas permainan tradisional Indonesia, membuat dawet dan ketupat. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian menggunakan sosialisasi, praktik dan edukasi dari kegiatan yang dilakukan. Mitra pengabdian kepada masyarakat adalah para siswa dari Kosan Elementary Schooldan Geumgu Elementary and Middle School yang berada di Korea Selatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa para siswa merasa antusias dan senang serta mayoritas memilih aktivitas fisik kuda lumping. Pengabdian ini juga diharapkan mampu menjadi alternatif pengenalan budaya Indonesia secara dini kepada masyarakat internasional. Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah adanya sambutan positif dari mitra berkaitan dengan pengenalan kebudayaan tradisional Indonesia berupa kuda lumping, ketupat dan dawet. Kata Kunci: Anak Sekolah, Aktivitas Fisik, Gastrodiplomasi, Kuda Lumping, Sdgs No 3, Sdgs No.17.ABSTRACT Cultural diplomacy is a means of establishing and strengthening relations between countries. Cultural diplomacy between Indonesia and South Korea has been carried out by demonstrating typical Indonesian cultural arts such as food, wayang (puppetry), and batik. However, problems identified during observations and FGDs revealed that no Indonesian culture has been introduced to school students through direct practice. This can diminish the philosophical value of the culture being demonstrated. Therefore, efforts will be made in this community service to invite elementary school students in South Korea to learn about and. This is also in line with SDGs numbers 3 and 17, namely a healthy and prosperous life through partnerships to achieve goals. This community service activity aims to foster socialization and practice Indonesian culture through activities such as traditional Indonesian games, making dawet (a traditional Indonesian dish), and making ketupat (rice cakes). The method for implementing the community service activity involves socialization, practice, and education through the activities carried out. The community service partners are students from Kosan Elementary School and Geumgu Elementary and Middle School in South Korea. The results of the activity showed that the students were enthusiastic and enjoyed themselves, and that the majority chose the horse dance as their physical activity. This community service is also expected to serve as an alternative to the early introduction of Indonesian culture to the international community. The conclusion of this community service activity was a positive response from partners to the introduction of traditional Indonesian culture through kuda lumping, ketupat, and dawet. Keywords: School Children, Physical Activity, Gastrodiplomacy, Kuda Lumping, Sdgs No.3, Sdgs No. 17.
Optimalisasi Peran Kader Dalam Upaya Pencegahan Balita Stunting melalui Pijat Tuina di Desa Kampung Delima Kabupaten Rejang Lebong Yenni Puspita; Eva Susanti; Lydia Febrina; Indah Fitri Andini
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25893

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan permasalahan gizi utama yang dialami anak. Stunting pada anak balita dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan.Kebutuhan gizi balita tidak akan terpenuhi jika balita mengalami masalah kesulitan makan. Kesulitan makan ini pada anak salah satunya dipengaruhi oleh kehilangan nafsu makan. upaya yang dapat secara langsung mengatasi masalah gangguan pertumbuhan ini yang bersifat savety dan meminimalkan dampak dari tehnik pijat bayi, yakni pijat Tui Na. Pijat Tuina, sebagai salah satu metode pengobatan tradisional Tiongkok, dikenal memiliki manfaat dalam meningkatkan kesehatan dan perkembangan anak, termasuk meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki fungsi pencernaan. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberdayakan dan mengoptimalkan peran kader kesehatan di masyarakat dalam pencegahan stunting dengan memberikan pelatihan dan pengetahuan mengenai teknik Pijat Tuina yang efektif. Metode:Kegiatan ini melibatkan pelatihan kader kesehatan melalui workshop yang mencakup teori dan praktek Pijat Tuina. Selain itu, dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap kemampuan kader dalam menerapkan Pijat Tuina serta dampaknya terhadap anak-anak yang menerima terapi pijatTuina Sasaran Kegiatan adalah kader kesehatan di Desa kampung delimaKabupaten Rejang Lebong. Hasil:Kader yang telah dilatih menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan Pijat Tuina. Kader jugamampu mensosialisasikan manfaat Pijat Tuina kepada masyarakat, khususnya kepada orang tua balita yang berisiko stunting. Anak-anak yang mendapatkan intervensi Pijat Tuina menunjukkan peningkatan dalam nafsu makan dan statusgizi yang lebih baik. Kesimpulan:Pengabdian ini berhasil meningkatkan kapasitas kader dalam upaya pencegahan stunting melalui Pijat Tuina. Kader yang terlatih dapat menjadi agen perubahan di masyarakat dalam mendukung kesehatan anak dan mencegah stunting secara berkelanjutan. Kata Kunci: Optimalisasi Peran Kader 1, Pijat Tuina 2, dst. ABSTRACT Stunting is a major nutritional issue affecting children. Stunting in toddlers can impact their growth anddevelopment. A child's nutritional needs will not be met if they experience eating difficulties, one of which is often influenced by a loss of appetite. One direct method to address this growth disorder, which is safe and minimizes risks,is through baby massage techniques, specifically Tui Na massage. Tui Na massage, as part of traditional Chinese medicine, is known to provide benefits in improving children's health and development, including enhancing appetite and improving digestive function. The goal of this community service project is to empower and optimize the role of health cadres in preventing stunting by providing them with training and knowledge on effective Tui Na massagetechniques. Methodology: This activity involves training health cadres through workshops that include both theoreticaland practical sessions on Tui Na massage. Additionally, monitoring and evaluation are conducted to assess the cadres'ability to apply Tui Na massage and its impact on the children who receive this therapy. The target audience of thisactivity is health cadres in Kampung Delima Village, Rejang Lebong Regency. Results: The trained cadres demonstratedan increase in knowledge and skills in performing Tui Na massage. They were also able to disseminate the benefits of Tui Na massage to the community, especially to parents of toddlers at risk of stunting. Children who received the Tui Na massage intervention showed improvements in appetite and better nutritional status. Conclusion: This community service successfully enhanced the capacity of health cadres in stunting prevention through Tui Na massage. The trained cadres can become agents of change in the community, supporting children's health andpreventing stunting in a sustainable manner. Keywords: Virtual Reality, Labor Pain, Primigravida.
Pelatihan Lilin Aromaterapi Anti-Nyeri Berbasis Essential Oil Eucalyptus Jahe Serai pada Ibu-Ibu PKK Panca Tunggal Saddam Husein; Ardila Adinda Insa; Fibriliani Wulan; Arfilia Resmita; Audreyhea Avisha; Ana Sulistiani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i6.25768

Abstract

ABSTRAK Essential oil merupakan senyawa volatil yang berasal dari tanaman aromatik dan telah banyak dimanfaatkan dalam aromaterapi karena efek relaksasi serta potensi terapeutiknya. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK dalam memproduksi lilin aromaterapi anti-nyeri berbasis essential oil jahe (Zingiber officinale) dan essential oil serai (Cymbopogon citratus) yang diperoleh melalui metode hidrodistilasi sebagai salah satu upaya promotif dalam menjaga kesehatan keluarga. Kegiatan dilaksanakan pada kelompok ibu-ibu PKK di Desa Panca Tunggal melalui pendekatan edukatif yang meliputi penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung pembuatan lilin aromaterapi, serta dilengkapi dengan evaluasi tingkat pemahaman dan penerimaan peserta. Tahapan kegiatan mencakup penyampaian informasi mengenai potensi tanaman herbal, proses formulasi lilin aromaterapi, serta pelaksanaan uji organoleptik terhadap produk yang dihasilkan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan peserta dalam pemanfaatan bahan herbal lokal untuk menghasilkan produk lilin aromaterapi yang aman, aplikatif, dan bernilai guna. Produk lilin aromaterapi yang dihasilkan memiliki karakteristik sensori yang baik, meliputi aroma khas, warna yang menarik, tekstur yang stabil, serta memperoleh respons positif dari peserta. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam memperkuat peran ibu-ibu PKK sebagai agen kesehatan keluarga serta membuka peluang pengembangan produk berbasis bahan lokal yang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi Masyarakat. Kata Kunci: Lilin Aromaterapi, Pengabdian Kepada Masyarakat, Minyak Esensial Jahe dan Serai.  ABSTRACT Essential oil is a volatile compound derived from aromatic plants and has been widely used in aromatherapy because of its relaxing effect and therapeutic potential. This community service activity aimed to increase the knowledge capacity and skills of PKK mothers in producing anti-pain aromatherapy candles based on ginger essential oil (Zingiber officinale) and lemongrass essential oil (Cymbopogon citratus) obtained through the hydrodistillation method as one of the promotional efforts in maintaining family health. The activity was carried out by a group of PKK mothers in Panca Tunggal Village through an educational approach that included counseling, demonstration, and direct practice of making aromatherapy candles, as well as an evaluation of the level of understanding and acceptance of the participants. The stages of the activity included the delivery of information about the potential of herbal plants, the aromatherapy candle formulation process, as well as the implementation of organoleptic tests on the products produced. The results of the activity showed that there was an increase in the understanding and skills of participants in the utilization of local herbal ingredients to produce aromatherapy candle products that were safe, applicative, and useful. The aromatherapy candle products produced had good sensory characteristics, including a distinctive aroma, attractive color, stable texture, and obtained a positive response from the participants. Overall, this activity gave a positive contribution in strengthening the role of PKK mothers as family health agents as well as opening up opportunities for the development of local ingredient-based products that had the potential to increase the economic value of the community Keywords: Aromatherapy Candle, Community Service, Ginger and Lemongrass Essential Oil.
Pengendalian Bionomik Malaria dengan Partisipasi Kader di Desa Tangkit Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi Sukmal Fahri; Susy Ariyani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.26579

Abstract

ABSTRAK Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di beberapa wilayah Indonesia, termasuk daerah pedesaan dengan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakan vektor nyamuk Anopheles. Pendekatan pengendalian berbasis masyarakat melalui partisipasi kader kesehatan merupakan strategi efektif dalam pengendalian bionomik malaria. Pengabdian ini bertujuan menganalisis pengaruh partisipasi kader terhadap pengendalian bionomik malaria di Desa Tangkit, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Pengambilan menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pre-test dan post-test. Populasi kader adalah masyarakat Desa Tangkit dengan sampel 20 responden yang dipilih secara purposive sampling. Intervensi dilakukan melalui pelatihan kader, edukasi masyarakat, survei jentik, pemetaan tempat perindukan nyamuk, dan gotong royong lingkungan selama tiga bulan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan pengukuran kepadatan larva. Hasil pengambilan data menunjukkan peningkatan pengetahuan kader dari skor 61,4 menjadi 86,7 setelah pelatihan. House Index menurun dari 37% menjadi 17%, Container Index dari 41% menjadi 17%, dan Breteau Index dari 55 menjadi 21. Partisipasi masyarakat meningkat melalui pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan lingkungan, serta penggunaan kelambu dan repellent. Kesimpulan menunjukkan bahwa partisipasi kader efektif meningkatkan pengendalian bionomik malaria melalui perubahan perilaku masyarakat dan pengelolaan lingkungan. Program pemberdayaan kader perlu dikembangkan berkelanjutan sebagai strategi berbasis masyarakat. Kata Kunci: Malaria, Bionomik, Kader, Pengendalian Vektor, Kesehatan Lingkungan.  ABSTRACT Malaria remains a significant public health problem in several regions of Indonesia, particularly in rural areas with environmental conditions that support the breeding of Anopheles mosquitoes as vectors. A community-based control approach through the involvement of health cadres is considered an effective strategy in malaria bionomic control. This study aimed to analyze the effect of cadre participation on malaria bionomic control in Tangkit Village, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. A quasi-experimental design with a pre-test and post-test approach was used. The study population was the community of Tangkit Village, with a sample of 20 respondents selected through purposive sampling. The intervention included cadre training, community education, larval surveys, mapping of mosquito breeding sites, and environmental clean-up activities conducted over three months. Data were collected through observation, interviews, and larval density measurements. The results showed an increase in cadre knowledge scores from 61.4 to 86.7 after training. The House Index decreased from 37% to 17%, the Container Index from 41% to 17%, and the Breteau Index from 55 to 21. Community participation increased through elimination of breeding sites, environmental management, and use of bed nets and repellents. In conclusion, cadre participation was effective in improving malaria bionomic control through behavioral change and environmental management. Cadre empowerment programs should be developed sustainably as a community-based strategy. Keywords: Malaria, Bionomics, Cadre, Vector Control, Environmental Health.
GEN-SEHAT: Pelatihan Kesehatan Reproduksi, Pencegahan Penyakit Kronik, dan Bantuan Hidup Dasar untuk Meningkatkan Literasi Kesehatan Remaja Vokasi di SMK Bina Husada Mandiri Bekasi Irna Nursanti; Harif Fadhillah; Muhammad Hadi; Endang Zakaria; Diana Irawati; Dhea Natashia; Nani Winani; Nendra Bagus Pamungkas; Ade Asrianti; Ade Indah Irmayanti Yusuf; Slamet Slamet
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i7.26649

Abstract

ABSTRAK Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai masalah kesehatan, termasuk rendahnya literasi kesehatan reproduksi, meningkatnya faktor risiko penyakit kronik, serta kurangnya kesiapsiagaan menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan yang tepat dapat meningkatkan risiko perilaku tidak sehat dan menurunkan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan program edukasi yang komprehensif untuk meningkatkan literasi kesehatan remaja. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa mengenai kesehatan reproduksi, pencegahan penyakit kronik, dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) melalui program GEN-SEHAT. Kegiatan dilaksanakan menggunakan metode penyuluhan, pelatihan, demonstrasi, dan simulasi kepada siswa SMK Bina Husada Mandiri Bekasi. Program terdiri atas tiga sesi utama, yaitu edukasi kesehatan reproduksi, edukasi penyakit kronik, dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta setelah intervensi. Sebanyak 228 siswa mengikuti kegiatan dan mengisi pre-test, sedangkan 161 siswa menyelesaikan pre-test dan post-test secara lengkap. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan pada seluruh domain yang diberikan. Pengetahuan kesehatan reproduksi meningkat dari 6,14 ± 2,10 menjadi 7,58 ± 1,94 (p 0,001), pengetahuan penyakit kronik meningkat dari 6,21 ± 2,34 menjadi 7,81 ± 2,33 (p 0,001), dan pengetahuan Bantuan Hidup Dasar meningkat dari 7,84 ± 2,18 menjadi 9,07 ± 1,60 (p 0,001). Secara keseluruhan, skor pengetahuan total meningkat secara signifikan dari 20,19 ± 5,58 menjadi 24,46 ± 4,92 (t = 11,38; p 0,001). Program GEN-SEHAT efektif meningkatkan literasi kesehatan remaja pada aspek kesehatan reproduksi, pencegahan penyakit kronik, dan Bantuan Hidup Dasar. Program ini dapat dijadikan model promosi kesehatan berbasis sekolah untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan remaja menghadapi berbagai masalah kesehatan. Kata Kunci: Remaja, Bantuan Hidup Dasar, Kesehatan Reproduksi, Penyakit Kronik, Promosi Kesehatan.ABSTRACT Adolescents are vulnerable to various health problems, including limited reproductive health literacy, increasing risk factors for chronic diseases, and inadequate emergency preparedness. Limited access to accurate health information may increase unhealthy behaviors and reduce adolescents' ability to make informed health decisions. Therefore, comprehensive health education programs are needed to improve adolescent health literacy. This community service program aimed to improve students’ knowledge regarding reproductive health, chronic disease prevention, and Basic Life Support (BLS) through the GEN-SEHAT program. The program employed health education, training, demonstrations, and simulations involving students from SMK Bina Husada Mandiri Bekasi. The intervention consisted of reproductive health education, chronic disease prevention education, and Basic Life Support training. Knowledge improvement was evaluated using a pre-test and post-test design. A total of 228 students participated in the program and completed the pretest, while 161 students completed both the pretest and posttest assessments. Significant improvements were observed in all educational domains. Reproductive health knowledge increased from 6.14 ± 2.10 to 7.58 ± 1.94 (p 0.001), chronic disease knowledge increased from 6.21 ± 2.34 to 7.81 ± 2.33 (p 0.001), and Basic Life Support knowledge increased from 7.84 ± 2.18 to 9.07 ± 1.60 (p 0.001). Overall knowledge scores significantly improved from 20.19 ± 5.58 to 24.46 ± 4.92 (t = 11.38, p 0.001). The GEN-SEHAT program effectively improved adolescent health literacy regarding reproductive health, chronic disease prevention, and Basic Life Support. This program may serve as a school-based health promotion model to improve adolescents’ health knowledge and emergency preparedness. Keywords: Adolescents, Basic Life Support, Chronic Disease, Health Promotion, Reproductive Health.
Flashcard sebagai Media Edukasi Efek Samping Obat Anti-Tuberculosis pada Pasien dan Pendamping di Puskesmas Palaran Prima Dewi Kusumawati; Yuliati Yuliati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.27047

Abstract

ABSTRAK Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dengan beban kejadian dan kematian yang tinggi, di mana keberhasilan terapi Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien selama minimal enam bulan. Munculnya efek samping OAT yang tidak dikenali dan ditangani secara tepat oleh pasien maupun Pendamping Minum Obat (PMO) sering menjadi penyebab utama putus obat. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan pasien TB dan PMO mengenai efek samping OAT melalui media edukasi flashcard yang dilengkapi QR-Code, dengan pendekatan Theory of Planned Behavior dan Social Support Theory. Metode kegiatan ini menggunakan pendekatan edukasi partisipatif dengan desain pre-test dan post-test pada 32 responden (pasien TB dan PMO) di Puskesmas Palaran. Kegiatan dimulai dengan penyampaian materi menggunakan flashcard bergambar serta video edukasi yang dapat diakses mandiri melalui pemindaian QR-Code. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan setelah di edukasi tentang efek samping obat anti-tuberculosis. Hasil statistik dengan Uji Wilcoxon Signed Ranks menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa edukasi menggunakan flashcard dengan QR-Code efektif meningkatkan pengetahuan pasien dan PMO tentang efek samping OAT, sehingga berpotensi menjadi landasan penting dalam mendukung kepatuhan pengobatan dan pencegahan putus obat. Namun penelitian ini belum secara langsung mengukur outcome kepatuhan pengobatan pasien Tuberculosis di Puskesmas Palaran Kota Samarinda. Kata Kunci: Tuberkulosis, Efek Samping OAT, Flashcard, QR-Code, Edukasi Kesehatan.  ABSTRACT Tuberculosis (TB) remains a major global health problem with a high burden of morbidity and mortality, and the success of Anti-Tuberculosis Drug (ATD) therapy largely depends on patient adherence for at least six months. Unrecognized and poorly managed ATD side effects among patients and their treatment supporters (PMO) are a leading cause of treatment discontinuation. This community service activity aimed to improve the knowledge of TB patients and PMO regarding ATD side effects through an educational flashcard equipped with a QR-Code, developed based on the Theory of Planned Behavior and Social Support Theory. A participatory educational approach with a pre-test and post-test design was applied to 32 respondents (TB patients and PMO) at Palaran Health Center, involving the delivery of illustrated flashcards and self-accessible educational videos through QR-Code scanning. The results of the study showed an increase in knowledge following education on the side effects of anti-tuberculosis drugs. Statistical results from The Wilcoxon Signed Ranks Test revealed a statistically significant difference (sig 0.0010.05). These findings indicate that flashcard-based education integrated with QR-Code is effective in improving the knowledge of patients and PMO regarding ATD side effects, and may serve as an important foundation for supporting treatment adherence and preventing treatment dropout. However, this study did not directly measure treatment adherence outcomes among tuberculosis patients at the Palaran Health Center in Samarinda City. Keywords: Tuberculosis, Anti-Tuberculosis Drug Side eEfects, Flashcard, QR-Code, health Education.
Pelatihan Responsive Feeding Berbasis Parent-Child Interaction Therapy untuk Kader Pendamping Keluarga Anak Stunting Muflih Muflih; Delima Citra Dewi Gunawan; Listia Dwi Febriati; Rahayu Widaryanti; Sherly Marliana; Enggar Liliandari
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.26836

Abstract

ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan pendekatan multidimensi, tidak hanya melalui penyediaan makanan bergizi, tetapi juga melalui penguatan praktik pengasuhan dan interaksi makan anak. Data di Kelurahan Purwomartani terdapat 61 balita stunting, termasuk 23 kasus baru. Pengkajian lapangan menunjukkan bahwa sebagian anak stunting masih memiliki asupan yang tidak adekuat dan mengalami kesulitan makan, seperti memilih makanan tertentu, menolak protein hewani, serta memiliki variasi makanan yang terbatas.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan tentang responsive feeding berbasis prinsip Parent–Child Interaction Therapy (PCIT) sebagai strategi pendampingan keluarga anak stunting dengan masalah makan. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada Mei 2026 dengan melibatkan 47 kader kesehatan. Pelatihan dilakukan melalui koordinasi dengan mitra, penyampaian materi, diskusi, contoh kasus, serta evaluasi pretest dan posttest menggunakan instrumen pengetahuan sebanyak 10 butir. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan skor pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan. Skor rerata pengetahuan kader meningkat dari 7,72 menjadi 9,79 pada skala 0–10. Median meningkat dari 8,00 menjadi 10,00. Jawaban benar meningkat dari 363/470 respons atau 77,2% menjadi 460/470 respons atau 97,9%, dengan penurunan kesalahan agregat sebesar 90,7%. Seluruh domain pengetahuan meningkat, terutama domain menciptakan suasana makan yang menyenangkan, melibatkan anak saat makan, mengenali tanda lapar, dan merespons penolakan makan. Pelatihan responsive feeding berbasis prinsip PCIT layak digunakan sebagai strategi awal untuk memperkuat kapasitas kader dalam program stunting. Namun, evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk menilai keterampilan konseling kader, perubahan praktik pemberian makan pada ibu, penerimaan makanan anak, keberagaman diet, dan indikator pertumbuhan.Kata Kunci: Responsive Feeding, Parent–Child Interaction Therapy, Stunting, Masalah Makan.  ABSTRACT Stunting remains a public health problem that requires multidimensional intervention, not only through the provision of nutritious food but also through strengthened caregiving practices and feeding interaction. In the program data from Purwomartani Village, 61 children under five were recorded as stunted, including 23 new cases. Field assessment indicated that some children with stunting still had inadequate intake and feeding problems, including selective eating, limited acceptance of animal-source foods, and low dietary variety. This community service activity aimed to improve health cadres’ knowledge of responsive feeding based on Parent–Child Interaction Therapy (PCIT) principles as a family support strategy for children with stunting and feeding difficulties. The activity was conducted in Purwomartani Village, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, in May 2026 and involved 47 health cadres. The training consisted of partner coordination, material delivery, discussion, case-based learning, and pretest–posttest evaluation using a 10-item knowledge instrument. Data were analyzed descriptively by comparing knowledge scores before and after training. The mean knowledge score increased from 7.72 to 9.79 on a 0–10 scale. The median score increased from 8.00 to 10.00. Correct responses increased from 363/470 responses, or 77.2%, to 460/470 responses, or 97.9%, with a 90.7% reduction in aggregate errors. All knowledge domains improved, particularly creating a pleasant mealtime atmosphere, involving children during meals, recognizing hunger cues, and responding to food refusal. Responsive feeding training based on PCIT principles is a feasible initial strategy to strengthen cadres’ capacity within stunting programs. Further evaluation is needed to assess cadres’ counseling skills, maternal feeding practices, child food acceptance, dietary diversity, and growth indicators. Keywords: Responsive Feeding, Parent–Child Interaction Therapy, Stunting, Feeding Difficulties.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026) Vol 9, No 7 (2026): Volume 9 Nomor 7 (2026) Vol 9, No 6 (2026): Volume 9 Nomor 6 (2026) Vol 9, No 5 (2026): Volume 9 Nomor 5 (2026) Vol 9, No 4 (2026): Volume 9 Nomor 4 (2026) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026) Vol 9, No 2 (2026): Volume 9 Nomor 2 (2026) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025) Vol 8, No 11 (2025): Volume 8 No 11 (2025) Vol 8, No 10 (2025): Volume 8 No 10 (2025) Vol 8, No 9 (2025): Volume 8 No 9 (2025) Vol 8, No 8 (2025): Volume 8 No 8 (2025) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025) Vol 8, No 2 (2025): Volume 8 No 2 (2025) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025) Vol 7, No 12 (2024): Volume 7 No 12 (2024) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024) Vol 7, No 10 (2024): Volume 7 No 10 (2024) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024 Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024 Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024 Vol 7, No 4 (2024): Volume 7 No 4 2024 Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024 Vol 7, No 2 (2024): Volume 7 No 2 2024 Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024 Vol 6, No 12 (2023): Volume 6 No 12 2023 Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023 Vol 6, No 10 (2023): Volume 6 No 10 2023 Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023 Vol 6, No 8 (2023): Volume 6 No 8 2023 Vol 6, No 7 (2023): Volume 6 No 7 2023 Vol 6, No 6 (2023): Volume 6 No 6 Juni 2023 Vol 6, No 5 (2023): Volume 6 No 5 Mei 2023 Vol 6, No 4 (2023): Volume 6 No 4 April 2023 Vol 6, No 3 (2023): Volume 6 No 3 Maret 2023 Vol 6, No 2 (2023): Volume 6 No 2 Februari 2023 Vol 6, No 1 (2023): Volume 6 No 1 Januari 2023 Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022 Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022 Vol 5, No 10 (2022): Volume 5 No 10 Oktober 2022 Vol 5, No 9 (2022): Volume 5 No 9 September 2022 Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022 Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022 Vol 5, No 6 (2022): Volume 5 No 6 Juni 2022 Vol 5, No 5 (2022): Volume 5 No 5 Mei 2022 Vol 5, No 4 (2022): Volume 5 No 4 April 2022 Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022 Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022 Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022 Volume 4 Nomor 6 Desember 2021 Volume 4 Nomor 5 Oktober 2021 Volume 4 Nomor 4 Agustus 2021 Volume 4 Nomor 3 Juni 2021 Volume 4 Nomor 2 April 2021 Volume 4 Nomor 1 Februari 2021 Volume 3 Nomor 2 Oktober 2020 Volume 3 Nomor 1 April 2020 Volume 2 Nomor 2 Oktober 2019 Volume 2 Nomor 1 April 2019 Volume 1 Nomor 2 Oktober 2018 Volume 1 Nomor 1 April 2018 More Issue