cover
Contact Name
Devita Febriani Putri
Contact Email
devita@malahayati.ac.id
Phone
+62811796180
Journal Mail Official
jikk@malahayati.ac.id
Editorial Address
Jln. Pramuka no.27 Kemiling Bandar Lampung, Kode Pos 35152
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan
Published by Universitas Malahayati
ISSN : 23557583     EISSN : 25494864     DOI : https://doi.org/10.33024/.v5i4
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Ilmu Kedokteran dan kesehatan (JIKK) menyediakan platform untuk mempublikasikan artikel bidang Kedokteran dan kesehatan yang meliputi: kedokteran komunitas: epidemiologi penyakit, promosi kesehatan kedokteran keluarga pendidikan kedokteran kedokteran klinis: pediatrik, endokrin, reproduksi, muskuloskeletal, respirasi, geriatri, trauma, gastrointestinal. penyakit infeksi, THT, mata, sensoris kedokteran kerja kedokteran olahraga kedokteran dasar (biomedik)
Articles 1,379 Documents
Gambaran Karakteristik Demografi Pasien Parkinson Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Periode 2022-2024 Kirani, Ratna; Putri, Pratiwi Hendro; Sjahriani, Tessa; Fitriyani, Fitriyani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.19674

Abstract

Penyakit Parkinson (PD) adalah penyakit neurodegeneratif progresif kompleks yang ditandai oleh tremor, kekakuan, dan bradikinesia, dengan ketidakstabilan postural muncul pada beberapa pasien seiring perkembangan penyakit. Ini pertama kali dijelaskan oleh James Parkinson pada tahun 1817 dan lebih lanjut dicirikan oleh Jean-Martin Charcot, dan pengetahuan kita tentang PD terus berkembang. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif observasional. Penelitian deskriptif artinya penelitian yang dilakukan untuk membuat gambaran atau mendeskripsikan suatu keadaan secara objektif. Berdasarkan hasil penelitian tentang Gambaran karakteristik demografi pasien Parkinson di rumah sakit Bintang amin periode 2022-2024 terdapat beberapa kasus dengan usia paling banyak berada dikategori lansia yaitu sebanyak 34 orang (68%) kemudian penyakit Parkinson lebih banyak ditemukan pada usia di atas 60 tahun, serta jenis kelamin Laki-laki yaitu sebanyak 29 orang (58%), Late Onset yaitu sebanyak 44 orang (88%), Jenis Pengobatan paling banyak yaitu Kombinasi yaitu sebanyak 47 orang (94%), berdasarkan Komorbid paling banyak yaitu Hipertensi yaitu sebanyak 31 orang (62%), berdasarkan Gejala paling banyak yaitu Motorik yaitu sebanyak 43 orang (86%), berdasarkan Stadium paling banyak yaitu Stadium 3 yaitu sebanyak 45 orang (90%). Diketahui distribusi frekuensi yang terkena penyakit parkinson yaitu berdasarkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, onset, jenis pengobatan, komorbit, serta gejala penyakit parkinson paling banyak berada pada stadium 3.
Hubungan Penggunaan Gadget Dengan Perkembangan Emosional Pada Anak Usia Sekolah Di SDN 01 Sambiroto Kota Semarang Anggraini, Tarisma Putri; Saptanto, Agus; Anggraheny, Hema Dewi
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.19280

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di zaman modern berkembang dengan pesat, dan industri gadget adalah salah satu contohnya. Banyak kebiasaan gaya hidup yang berubah akibat penggunaan gadget, terutama pada anak muda, yang mungkin mengembangkan kecanduan atau ketergantungan pada gadget tanpa menyadarinya. Emosi seperti gelisah, tidak bahagia, kecewa, marah, dan cemas akan muncul saat mereka tidak menggunakan gawai mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bagaimana siswa usia sekolah di SDN 01 Sambiroto, Kota Semarang, mengaitkan penggunaan gadget dengan perkembangan emosi mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dan bersifat kuantitatif. Anak-anak kelas 4-6 di SDN 01 Sambiroto, Kota Semarang menjadi partisipan penelitian, dan purposive sampling digunakan untuk memilih 74 responden. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data. Kuesioner yang digunakan yakni Kuesioner penggunaan gadget dan Kuesioner Strength and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis hubungan menggunakan uji rank spearman. Mayoritas frekuensi penggunaan gadget yang buruk sejumlah 56 responden (75,7%) dan mayoritas memiliki tingkat kekuatan dan kesulitan abnormal sejumlah 72 responden (97,3%). Pada analisis uji rank spearman menunjukkan terdapat hubungan penggunaan gadget dengan perkembangan emosional (p=0,000) dan (r=0,747). Menunjukkan Hubungan penggunaan gadget dengan kekuatan dan kesulitan anak memperlihatkan koefisien korelasi senilai 0.000. Ini menandakan adanya arah hubungan yang positif dan kuat kedua variabel tersebut.
Hubungan Konsumsi Depot Air Minum Isi Ulang Yang Mengandung Bakteri Coliform dan Esherichia coli Dengan Kejadian Diare Pada Anak Stunting Di Wilayah Binaan Puskesmas Duren Sawit Tram, Venny; Novilia, Citra; Andini, Mawasumi Ayu
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.21500

Abstract

Anak Stunting adalah gagal tumbuh pada anak usia di bawah 5 tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan. Diare dapat disebabkan karena mengonsumsi damiu yang tidak terjaga kebersihannya yang mengandung Coliform dan bakteri Escherichia coli (E. coli). Tujuan penelitian melakukan Pemeriksaan damiu yang dikonsumsi anak stunting di seluruh Wilayah Duren Sawit. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang menggambarkan hubungan kebiasaan mengkonsumsi damiu dimana dari hasil pemeriksaan mikrobiologi terdapat Coliform dan E. coli, dengan kejadian diare pada AS diwilayah binaan Puskesmas Duren Sawit Tahun 2024. Data penelitian ini di uji menggunakan chi square. Dari 50 anak stunting yang diperiksa, Kelurahan Pondok Kopi memiliki jumlah anak stunting terbanyak 28%, kejadian diare berulang pada anak stunting dalam setahun juga didapati terbanyak dikelurahan Pondok Kopi sebesar 38%. Keluarga anak stunting menggunakan akses air minum bersumber dari damiu sebesar 68%, orangtua anak stunting  memiliki penghasilan <UMR sebesar 92%. Dari 33 total sampel damiu yang diperiksa, didapati damiu positif Coliform sebanyak 60,6% dan positif E. coli sebanyak 24,2%. Pada pemeriksaan E. coli terbanyak ditemukan di wilayah Pondok Kopi dan Pondok Kelapa 37,5%. Pada pemeriksaan Coliform terbanyak ditemukan di Pondok Kelapa, Pondok Bambu dan Klender 20%. Ada hubungan kebiasaan mengkonsumsi damiu yang mengandung E.coli dengan kejadian diare pada AS (p = 0,003). Sedangkan damiu yang mengandung Coliform menunjukkan tidak ada hubungan dengan kejadian stunting.  Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi damiu yang mengandung Coliform dengan angka kejadian diare pada AS, dikarenakan kontaminasi Coliform tidak cukup tinggi untuk pertumbuhan bakteri patogen yang bisa menyebabkan berbagai penyakit jika dikonsumsi. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan mengonsumsi damiu yang mengandung E. coli  dengan angka kejadian diare pada AS (p = 0,003). Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan promosi kesehatan dan melakukan pengawasan terhadap program air, sanitasi dan hygiene untuk menurunkan prevalensi stunting pada balita.
Variasi Formulasi Sediaan Topikal Ekstrak Batang Pepaya (Carica papaya L.) Terhadap Aktivitas Sebagai Penyembuh Luka Primadiamanti, Annisa; Winahyu, Diah Astika
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.19576

Abstract

Bagian dari tanaman pepaya (Carica papaya L.) seperti daun dan buahnya, diketahui memiliki efektifitas sebagai penyembuh luka. Akan tetapi, bagian batang tanaman pepaya belum banyak dimanfaatkan sebagai obat. Berdasarkan literatur, batang pepaya dapat digunakan sebagai penyembuh luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas sediaan topikal ekstrak batang pepaya sebagai penyembuh luka dan apakah variasi formulasi sediaan topikal mempengaruhi aktivitasnya sebagai penyembuh luka. Ekstrak batang pepaya dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sediaan topikal dibuat dari ekstrak etanol menggunakan dua formulasi. Kelompok hewan uji tikus jantan galur Wistar terdiri atas 6 kelompok; Kontrol positif, formulasi I tanpa ekstrak, formulasi I, formulasi II tanpa ekstrak, formulasi II, kontrol negatif. Salep dioleskan tiap hari pada luka eksisi. Pengukuran diameter luka (mm) dilakukan setiap dua hari pada semua kelompok perlakuan. Hasil menunjukkan bahwa kelompok formulasi II ekstrak berbasis hidrokarbon mengalami penutupan luka pada pengamatan hari ke-7, sedangkan kelompok formulasi I ekstrak berbasis hidrofilik mengalami penutupan luka pada pengamatan hari ke-9. Hal ini berarti formulasi II memiliki durasi yang lebih singkat dibanding formulasi I dalam menyembuhkan luka. Akan tetapi, pada formulasi I, belum bisa dinyatakan ekstrak memiliki efektivitas karena hasil serupa juga diperoleh pada kelompok II (formulasi I tanpa ekstrak) sehingga tidak dapat dipastikan efek penyembuhan luka adalah kerja dari ekstrak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa salep ekstrak batang pepaya memiliki aktivitas menyembuhkan luka dan salep dengan formula berbasis hidrokarbon efektif menyembuhkan luka dalam 7 hari, lebih cepat dibandingkan dengan basis hidrofilik.
Hubungan Kadar Bromotyrosine Urin Dengan Terapi Montelukast, Beclometasone/Formoterol, Dan Kombinasi Selama 3 Bulan Pada Pasien Asma Di Klinik Harum Melati Pringsewu Pinaka Baladika, Dimas Trend; Soeprihatini Soemarwoto, Retno Ariza; Mustofa, Syazili; Yunus, Faisal; Ekawati, Diyan; Wibowo, Adityo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.20239

Abstract

Bromotyrosine urin memiliki banyak keuntungan sebagai biomarker potensial penyakit asma mengingat stabilitasnya dan pengumpulan sampel urin yang bersifat non-invasif. Dalam manajemen tatalaksana asma leukotriene receptor antagonist (LTRA) merupakan obat alternatif lini pertama setelah kortikosteroid inhalasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar bromotyrosine urin dengan terapi montelukast selama 3 bulan. Penelitian ini melibatkan 82 pasien berusia antara 6-65 tahun dari Klinik Harum Melati, Pringsewu dari bulan Mei – Desember 2023. Dilakukan uji spirometri, urin, differential count sebelum dan setelah terapi 3 bulan, diklasifikasikan derajat obstruksi ringan (n= 66) dan sedang-berat (n=6) serta pasien non-asma untuk kontrol (n= 10). Hanya 28 pasien yang datang untuk evaluasi setelah 3 bulan terapi. Pasien dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok terapi montelukast (n=14), beclometason/formoterol (n=5), dan kombinasi montelukast dan beclometason/formoterol (n=9). Kadar bromotyrosine urin penderita asma secara bermakna lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (154.11 ng/ml vs 11,87 ng/ml, p= 0,000). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar bromotyrosine urin setelah terapi montelukast (104.24 ng/ml vs 40.79 ng/ml, p=0,433) dan setelah terapi beclometason/formoterol (136,25 ng/ml vs 33,20 ng/ml, p= 0,345. Terjadi penurunan kadar bromotyrosine urin yang bermakna pada kelompok setelah terapi kombinasi montelukast dan beclometasone/formoterol (39.63 ng/ml vs 11.13 ng/ml) (95% CI 3.90-42.43, p= 0.028). Hasil penelitian menunjukkan pasien asma memiliki kadar bromotyrosine urin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan non-asma. Kadar bromotyrosine urin menurun secara bermakna setelah terapi kombinasi (montelukast dan beclometason/formoterol) selama 3 bulan.
Perbedaan Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Angkatan 2021 Dan 2024 Nazwa, Syifa Salmatun; Anggraini, Marisa; Yuniastini, Yuniastini; Farich, Ahmad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.19948

Abstract

Belajar mandiri atau dikenal dengan Self-Directed Learning (SDL) merupakan suatu proses yang melibatkan inisiatif individu untuk belajar secara aktif, tanpa tergantung pada arahan dari pihak lain. Tujuannya untuk mengetahui perbedaan kesiapan belajar mandiri mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati angkatan 2021 dan 2024. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2024 sampai dengan Januari 2025. Jumlah Populasi dalam penelitian ini adalah 253. Yang terdiri dari 126 mahasiswa angkatan 2021 dan 127 mahasiswa angkatan 2024 Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Sampel yang digunakan sebanyak 77 mahasiswa untuk setiap angkatan. Pengambilan sampel menggunakan metode proporsional random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuisioner SDLRS dan analisis menggunakan uji T-test independent. Hasil uji statistik menunjukan asymp.sig<0,5 dengan skor rerata SDLRS pada mahasiswa angkatan 2021 66,00 dan pada mahasiswa angkatan 2024 63,16. Kesimpulan terdapat perbedaan kesiapan belajar mandiri pada mahasiswa angkatan 2021 dan 2024.
Hubungan Jumlah Retikulosit Dengan Derajat Anemia Pada Kehamilan: Sebuah Studi Observasional Khairunnisa, Salma Shabrina; Gunawan, Lucia Sincu; Puspita, Rumeyda Chitra
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.19944

Abstract

Anemia pada ibu hamil meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun janin. Pemeriksaan jumlah retikulosit memiliki penilaian objektif terhadap aktivitas eritropoietik pada anemia dan menggambarkan proses dinamis eritroid sumsum tulang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan jumlah retikulosit dengan derajat anemia pada ibu hamil di Puskesmas Tangen Sragen. Penelitian ini adalah penelitian observasi analitik dengan design crossectional, yang dilakukan pada bulan Oktober 2023 – Juni 2024. Subyek penelitian adalah ibu hamil trimester 3, berusia 20-35 tahun, yang melakukan antenatal care (ANC) di Puskesmas Tangen, Sragen, didapatkan dengan total sampling sebanyak 31 orang. Data penelitian didapatkan melalui kuesioner yang berisi identitas dan kebiasaan responden, pemeriksaan kadar hemoglobin dengan kolorimetri non-Cyanide dan pemeriksaan jumlah retikulosit metode flow cytometry. Hasil penelitian dari 31 responden, menunjukkan 21 orang (67.7%) mengalami anemia ringan, 10 orang (32.3%) mengalami anemia sedang. Hasil rerata kadar hemoglobin yaitu 10,45±0,49 (9,3–10,9) dan rerata jumlah retikulosit yaitu 1,98±0,54 (1,12–3,01). Pada anemia ringan, terjadi peningkatan jumlah retikulosit sebanyak 14 orang (66.7%) dan hasil normal diperoleh sebanyak 7 orang (32.3%), sedangkan pada anemia sedang, semua responden mengalami peningkatan jumlah retikulosit (100%). Analisis statistik menggunakan Fisher Exact Test diperoleh nilai p=0,038 sehingga disimpulkan terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah retikulosit dengan derajat anemia pada ibu hamil di Puskesmas Tangen Sragen.
Uji Aktivitas Antibakteri Herba Meniran (Phyllanthus niruri Linn) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis Saputra, Aldi Aditya; Hanasia, Hanasia; Fatmaria, Fatmaria; Martani, Natalia Sri; Trinovita, Elsa
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jerawat merupakan infeksi kulit yang sering berlangsung terutama pada wajah, dikarenakan bakteri Propionibacterium acnes juga Staphylococcus epidermidis. Jerawat umumnya diobati dengan antibiotik, tetapi resistensi antibiotik mampu mengakibatkan infeksi yang lebih serius dan sulit disembuhkan. Meniran ialah tanaman herbal berpotensi jadi obat karena dapat menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat antibakteri. Penelitian ini tujuannya membuktikan bahwa ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri Linn.) dapat menghalangi perkembangan Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis secara in vitrodan mengetahui konsentrasi efektif terhadap Propionibacterium acnes juga Staphylococcus epidermidis. Ekstrak herba meniran di ekstraksi menggunakan Ultrasonic-assisted extraction (UAE) memanfaatkan pelarut etanol 96%. Ekstrak dibuat menjadi beberapa konsentrasi 5%, 25%, 50%, 75%, 100% dengan aquadest jadi kontrol negatif juga doksisiklin jadi kontrol positif. Uji antibakteri dilaksanakan menggunakan metode difusi cakram. Ekstrak herba meniran (Phyllanthus niruri Linn.) menghalangi pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100%. Staphylococcus epidermidis pada seluruh konsntrasi. Konsentrasi efektif Propionibacterium acnes pada konsentrasi 50% dan Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 5%.
Myocardial Bridging: Laporan Kasus Alaydrus, Said Qadaru; Rizki, Muhammad
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i6.21037

Abstract

Myocardial bridging adalah suatu kondisi di mana arteri koroner yang terdistribusi ke permukaan epikardial, dilapisi oleh miokardium pada segmen intramyocardial dari arteri koroner epikardial. Lokasi, panjang, dan tingkat keparahan bridging bervariasi antar pasien dan dapat bervariasi pada pasien yang sama dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan lainnya. Tingkat kondisi ini biasanya tidak luas dan parah. Myocardial bridging dapat terjadi pada pasien dengan dan tanpa penyakit arteri koroner. Diagnosis myocardial bridging dibuat ketika sebagian dari arteri koroner epikardial (biasanya arteri koroner desenden anterior kiri (LAD)) ditemukan seluruhnya atau sebagian besar berada di dalam miokardium (intramyocardial). Ini dapat didokumentasikan selama angiografi koroner diagnostik, CT angiografi, secara intraoperatif, atau pada pemeriksaan postmortem. Terapi medis – Pengobatan farmakologis meliputi beta blockers, ivabradine, dan kemungkinan nondihydropyridine calcium channel blockers. Agen-agen ini mengurangi denyut jantung dan kontraktilitas miokard. Revaskularisasi dapat dilakukan tetapi memiliki risiko fraktur stent di lokasi myocardial bridging. Terapi bedah harus disiapkan untuk pasien dengan gejala persisten, di mana perubahan iskemik jelas, dan bagi mereka yang memiliki penanda risiko tinggi (seperti aritmia ventrikel yang mengancam jiwa, kematian mendadak, atau infark miokard non-fatal), di mana uji coba terapi medis telah gagal.
Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2024 APRIALDY, M.RIZKY; Sahara, Nita; Sani, Nopi; Wiratmoko, Wien
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i7.20390

Abstract

Abstract: : Factors Associated with the Incidence of Benign Prostatic Hyperplasia at Bintang Amin Hospital, Bandar Lampung in 2024. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) is a non-cancerous enlargement of the prostate that is frequently observed in men, particularly as they get older. In Indonesia, the prevalence of BPH is 20% among men aged 41 to 50 years, rising to 50% among those aged 51 to 60 years, and reaching 90% in men over 80 years old. Factors such as age, diabetes mellitus, and obesity are known to play a role in the development of BPH. This research aims to assess the incidence of BPH and the factors influencing its occurrence at Bintang Amin Hospital in Bandar Lampung in 2024. The study used a cross-sectional design with an observational analytical method. Data were gathered from the medical records of patients diagnosed with BPH in 2024. Out of 144 samples analyzed, 117 (81.2%) patients were aged 50 or older, 93 (64.6%) were obese, and 117 (81.2%) had a history of diabetes mellitus, with 111 (77.1%) diagnosed with BPH through histopathological analysis. The bivariate analysis revealed a significant association between age (p = 0.000) and diabetes mellitus (p = 0.000) with the occurrence of BPH. However, no significant relationship was found between obesity and BPH (p = 1.000). These findings suggest that age and diabetes mellitus are significantly associated with BPH, while obesity does not show a significant correlation.Keywords: Benign Prostatic Hyperplasia, Diabetes Mellitus, Obesity, Prostate, Age.Abstrak: Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Benign Prostatic Hyperplasia di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2024. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran prostat yang tidak bersifat kanker, yang umumnya terjadi pada pria, terutama seiring bertambahnya usia. Di Indonesia, prevalensi BPH tercatat sebesar 20% pada pria berusia 41 hingga 50 tahun, meningkat menjadi 50% pada pria usia 51 hingga 60 tahun, dan mencapai 90% pada pria di atas usia 80 tahun. Faktor-faktor seperti usia, diabetes melitus, dan obesitas diketahui dapat memengaruhi terjadinya BPH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian BPH dan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian BPH di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung pada tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan analitik observasional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien yang telah didiagnosis dengan BPH pada tahun 2024. Dari 144 sampel yang dianalisis, ditemukan 117 (81,2%) pasien berusia ≥50 tahun, 93 (64,6%) pasien menderita obesitas, dan 117 (81,2%) pasien memiliki riwayat diabetes melitus, dengan 111 (77,1%) pasien didiagnosis BPH berdasarkan pemeriksaan histopatologi. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia (p=0,000) dan diabetes melitus (p=0,000) dengan kejadian BPH. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara obesitas dan kejadian BPH (p=1,000). Hasil ini menunjukkan bahwa usia dan diabetes melitus memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian BPH, sementara obesitas tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.Kata kunci: Benign Prostatic Hyperplasia, Diabetes Melitus, Obesitas, Prostat, Usia

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 3 (2026): Volume 13 Nomor 3 Vol 13, No 2 (2026): Volume 13 Nomor 2 Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1 Vol 12, No 12 (2025): Volume 12 Nomor 12 Vol 12, No 11 (2025): Volume 12 Nomor 11 Vol 12, No 10 (2025): Volume 12 Nomor 10 Vol 12, No 9 (2025): Volume 12 Nomor 9 Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8 Vol 12, No 7 (2025): Volume 12 Nomor 7 Vol 12, No 6 (2025): Volume 12 Nomor 6 Vol 12, No 5 (2025): Volume 12 Nomor 5 Vol 12, No 4 (2025): Volume 12 Nomor 4 Vol 12, No 3 (2025): Volume 12 Nomor 3 Vol 12, No 2 (2025): Volume 12 Nomor 2 Vol 12, No 1 (2025): Volume 12 Nomor 1 Vol 11, No 12 (2024): Volume 11 Nomor 12 Vol 11, No 11 (2024): Volume 11 Nomor 11 Vol 11, No 10 (2024): Volume 11 Nomor 10 Vol 11, No 9 (2024): Volume 11 Nomor 9 Vol 11, No 8 (2024): Volume 11 Nomor 8 Vol 11, No 7 (2024): Volume 11 Nomor 7 Vol 11, No 6 (2024): Volume 11 Nomor 6 Vol 11, No 5 (2024): Volume 11 Nomor 5 Vol 11, No 4 (2024): Volume 11 Nomor 4 Vol 11, No 3 (2024): Volume 11 Nomor 3 Vol 11, No 2 (2024): Volume 11 Nomor 2 Vol 11, No 1 (2024): Volume 11 Nomor 1 Vol 10, No 12 (2023): Volume 10 Nomor 12 Vol 10, No 11 (2023): Volume 10 Nomor 11 Vol 10, No 10 (2023): volume 10 Nomor 10 Vol 9, No 10 (2023): Volume 10 Nomor 9 Vol 10, No 9 (2023): Volume 10 Nomor 9 Vol 10, No 8 (2023): Volume 10 Nomor 8 Vol 10, No 7 (2023): Volume 10 Nomor 7 Vol 10, No 6 (2023): Volume 10 Nomor 6 Vol 10, No 5 (2023): Volume 10 Nomor 5 Vol 10, No 4 (2023): Volume 10 Nomor 4 Vol 10, No 3 (2023): Volume 10 Nomor 3 Vol 10, No 2 (2023): Volume 10 Nomor 2 Vol 10, No 1 (2023): Volume 10 Nomor 1 Vol 9, No 4 (2022): Volume 9 Nomor 4 Vol 9, No 3 (2022): Volume 9 Nomor 3 Vol 9, No 2 (2022): Volume 9 Nomor 2 Vol 9, No 1 (2022): Volume 9 Nomor 1 Vol 8, No 4 (2021): Volume 8 Nomor 4 Vol 8, No 3 (2021): Volume 8 Nomor 3 Vol 8, No 2 (2021): Volume 8 Nomor 2 Vol 8, No 1 (2021): Volume 8 Nomor 1 Vol 7, No 4 (2020): Volume 7 Nomor 4 Vol 7, No 3 (2020): Volume 7 Nomor 3 Vol 7, No 2 (2020): Volume 7 Nomor 2 Vol 7, No 1 (2020): Volume 7 Nomor 1 Vol 6, No 4 (2019): Volume 6 Nomor 4 Vol 6, No 3 (2019): Volume 6 Nomor 3 Vol 6, No 2 (2019): Volume 6 Nomor 2 Vol 6, No 1 (2019): Volume 6 Nomor 1 Vol 5, No 4 (2018): Volume 5 Nomor 4 Vol 5, No 3 (2018): Volume 5 Nomor 3 Vol 5, No 2 (2018): Volume 5 Nomor 2 Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 Nomor 1 Vol 4, No 4 (2017): Volume 4 Nomor 4 Vol 4, No 3 (2017): Volume 4 Nomor 3 Vol 4, No 2 (2017): Volume 4 Nomor 2 Vol 4, No 1 (2017): Volume 4 Nomor 1 Vol 3, No 4 (2016): Volume 3 Nomor 4 Vol 3, No 3 (2016): Volume 3 Nomor 3 Vol 3, No 2 (2016): Volume 3 Nomor 2 Vol 3, No 1 (2016): Volume 3 Nomor 1 Vol 2, No 4 (2015): Volume 2 Nomor 4 Vol 2, No 3 (2015): Volume 2 Nomor 3 Vol 2, No 2 (2015): Volume 2 Nomor 2 Vol 2, No 1 (2015): Volume 2 Nomor 1 Vol 1, No 4 (2014): Volume 1 Nomor 4 Vol 1, No 3 (2014): Volume 1 Nomor 3 Vol 1, No 2 (2014): Vol 1 No 2 Vol 1, No 1 (2014): Vol 1 No 1 More Issue