cover
Contact Name
Efta Triastuti
Contact Email
efta.triastuti@ub.ac.id
Phone
+62341-569117
Journal Mail Official
pji@ub.ac.id
Editorial Address
Pharmaceutical Journal of Indonesia Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University Jalan Veteran (Kampus Sumbersari) Malang 65145 Tel. (0341) 569117ext 156, 173 ; Fax. (0341) 564755 Website : http://www.pji.ub.ac.id Email :pji@ub.ac.id
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Pharmaceutical Journal of Indonesia
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 2461114X     EISSN : 2461114X     DOI : https://doi.org/10.21776/ub.pji
Core Subject : Health, Science,
Pharmaceutical Journal of Indonesia (PJI) is an online journal which is published twice a year by Department of Pharmacy, Faculty of Medicine, Brawijaya University. The articles published in PJI cover the themes of Clinical and Community Pharmacy, Pharmaceutical Chemistry, Pharmaceutical Technology, and Natural Product Pharmacy/Chemistry.
Articles 155 Documents
Profil Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Provinsi NTB Tahun 2020 Utami, Virnia Wanda; Siti Rahmatul Aini; Candra Eka Puspitasari
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.9

Abstract

Skizofrenia merupakan suatu gangguan mental parah dan kronis dimana ditandai dengan adanya distorsi dalam berpikir, perilaku, persepsi, emosi, bahasa, dan rasa diri. Tatalaksana terapi skizofrenia utamanya adalah antipsikotik. Pemberian kombinasi terapi baik antara antipsikotik ataupun antipsikotik dengan non-antipsikotik berpotensi menimbulkan Drug Related Problems (DRPs) yang berisiko keamanan pengobatan ataupun efektivitas terapi. Tujuan penelitian ini adalah melakukan identifikasi profil DRPs atau permasalah terkait dengan terapi obat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain Cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan adalah 105 pasien skizofrenia yang telah memenuhi kriteria inklusi (pasien skizofrenia dengan usia 18-60 tahun, ditanggung BPJS dan data rekam medis lengkap dan terbaca) dan eksklusi (pasien hamil, pasien COVID-19 dan pasien skizofrenia dengan penyakit penyerta diabetes melitus, gagal ginjal, CHF (Congestif Heart Failure), hipertensi, stroke, kanker, dan HIV/AIDS). Penelitian ini berbasis rekam medis pada periode Januari-Desember 2020. Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan pedoman PCNE V9.01 dan diolah dengan software Microsoft excel 2019 sehingga didapatkan hasil berupa persentase kejadian Drug Related Problems (DRPs). Hasil penelitian menunjukkan terdapat kejadian DRPs pada pasien skizofrenia di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma NTB tahun 2020. Berdasarkan 105 pasien skizofrenia, 89,5% mengalami DRPs dengan total 117 kejadian. Kategori DRPs masing-masing dari yang tertinggi adalah kategori efek buruk obat mungkin terjadi (76,9%) dengan risperidon dan lorazepam mendominasi (tingkat keparahan moderat), obat tanpa indikasi (10,3%), dosis obat terlalu rendah (8,5%), waktu pemberian dan/atau interval pemberian dosis tidak tepat (1,7%), obat tidak tepat menurut pedoman/formularium (0,9%), terlalu banyak obat yang diresepkan untuk indikasi (0,9%), dan lama pengobatan terlalu singkat (0,9%). Kata Kunci : Skizofrenia, Drug Related Problems, Antipsikotik
Study Efektivitas Ekstrak Kental Kulit Buah Jeruk Purut Terstandar (Citrus hystrix) Sebagai Antioksidan dan Antijerawat Jessica, Maria Anabella; Darsono, Farida Lanawati; Soegianto, Lisa
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.6

Abstract

Salah satu gangguan di permukaan kulit wajah yaitu jerawat yang disebabkan oleh Propionibacterium acnes. Perlakuan jerawat bisa secara oral atau topikal yang umumnya mengandung antibiotika yang lebih efektif mengatasi jerawat, sedangkan kelemahannya mudah terjadi resistensi bakteri terhadap antibiotik. Salah satunya yang potensial dikembangkan sebagai antijerawat dan anitoksidan yaitu limbah dari kulit buah jeruk purut (Citrus hystrix) memiliki kandungan sebagai antibakteri adalah alkaloid, flavonoid (naringenin dan hesperidin), tanin serta senyawa fenolik memiliki aktivitas antioksidan juga sebagai analgesik dan anti inflamasi. Metode ekstraksi secara maserasi dengan pelarut penyari 95% dengan bentuk ekstrak kental terstandar. Konsentrasi ekstrak kental jeruk purut yang digunakan dalam penelitian ini antara 10% - 20%. Dalam rangka penjaminan mutu ekstrak maka dilakukan proses standarisasi secara spesifik dan non spesifik selanjutnya dilakukan uji efektivitas yang terdiri dari aktivitas antioksidan dengan parameter IC50 menggunakan metode DPPH sedangkan antibakteri dilakukan dengan menggunakan parameter Daerah Hambat Pertumbuhan – DHP secara difusi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh peningkatan konsentrasi sediaan gel ekstrak kental jeruk purut (10%, 15%, dan 20%) terhadap efektivitasnya serta korelasi antara peningkatan aktivitas antioksidannya dengan antijerawatnya (antibakterinya). Berdasarkan hasil percobaan ekstrak kulit buah jeruk purut terbukti memiliki daya antioksidan, dimana dengan peningkatan konsentrasi diikuti dengan penurunan nilai IC50 yaitu 2,49 mg/mL. Nilai DHP ekstrak kulit buah jeruk purut untuk masing-masing konsentrasi 10%, 15% dan 20% berurutan sebesar 15,58 ± 0,287 mm, 17,45 ± 0,319 mm, 18,27 ± 0,306 mm, dimana semakin meningkat konsentrasi ekstrak maka efek sebagai antijerawat juga meningkat. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disimpulkan ekstrak kulit jeruk purut berpotensi sebagai antioksidan dan antijerawat.
Analisis Semikuantitatif Parasetamol Dalam Jamu Pegal Linu Menggunakan Pemrosesan Gambar Digital dari Hasil Kromatografi Lapis Tipis Fernanda, M.A. Hanny Ferry; Wardani, Ratih Kusuma
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.7

Abstract

Jamu is a pharmaceutical preparation derived from plant simplicia and must meet quality requirements, one of which is that it must not contain medicinal chemicals (BKO). One of the herbs widely circulated and can be obtained freely in the community is herbal medicine for aches and pains. In herbal aches and pains, paracetamol is the BKO suspected to be used in this preparation. This study aimed to develop an analytical method to determine the content of paracetamol BKO in herbal pain relief semi-quantitatively using digital images obtained from Thin Layer Chromatography. The semi-quantitative analysis method is carried out by processing digital images using the qTLC application. The results of this study proved the presence of paracetamol BKO in herbal aches and pains qualitatively using the TLC method. Of the five samples analyzed, only one contained paracetamol BKO with an Rf value of 0.15, while the standard Rf was 0.14. The analysis was then continued with the determination of paracetamol levels semi-quantitatively using digital image processing from the Thin Layer Chromatography results. Based on the results of semi-quantitative analysis, it can be seen that the sample suspected to contain paracetamol contains paracetamol with a concentration of 1,491.31 ppm. The results of this study can provide accurate detection of paracetamol BKO compound determination and semi-quantification limits and have the potential for more quantitative analysis in herbal medicine.
The Compounds Activity of Black Potato (Plectranthus rotundifolius) as an Antioxidant Nutraceutical: - Natasya, Cindy; Safrina, Maureta E. R.; Ningrum, Salsabila E. S.; Fitriyani; Zahra, Lisa A.; Ma’arif, Burhan
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.1

Abstract

Black potato (Plectranthus rotundifolius) is one of the horticultural plants that has potential as nutraceutical food and also contain bioactive compounds such as being rich in flavonoids, especially anthocyanins. The potential benefits of black potatoes are not widely known by public, so it is necessary to cultivate one of them by processing it into food such as instant porridge, which is then labeled as B-PORIS product. The reason for choosing instant porridge was because it is a practical food product. This research aimed to prove that instant porridge from black potato contains bioactive compounds flavonoids, especially anthocyanins. These instant porridges are made with the appropriate ratio in 3 formulations with different parameters of black potato flour concentration, formulation 1 10%, formulation 2 9%, and formulation 3 11%. This research was conducted with organoleptic tests, moisture content tests, flavonoids, anthocyanins, and hedonic tests. The results of the organoleptic test obtained soft texture, characteristic chocolate smell, brown color, and slightly sweet and sweeter taste. The results of moisture content test were qualified with water content of not more than 7%. The results of flavonoid and anthocyanin test obtained positive results in all of formulations. The hedonic test result 80-90% of panelists indicate choose an option like, and really like in questionnaires, results demonstrated that formulation 3 was most likely. So it can be concluded that black potato tubers has the potential to become a nutraceutical product as an instant porridge with antioxidant effect that received and liked by various groups of age.
The Quantitative and Qualitative Analysis of Antibiotic Use in Bone Fracture Patients in a Public Hospital in Indonesia Atmajani, Wanudya; Hasmono, Didik; Awdisma, Wien Maryati; Isparnadi, Erwien; Ramdani, Dewi
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 8 No. 1 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2022.008.01.8

Abstract

Pendahuluan: Terapi antibiotik profilaksis memiliki peran penting dalam memfasilitasi penyembuhan pasca operasi yang optimal. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di rumah sakit akan meningkatkan biaya terapi dan kejadian infeksi nosokomial mikroorganisme infeksius. Antibiotik profilaksis preoperasi diyakini dapat mengurangi kejadian infeksi tempat pembedahan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik dan menganalisis penggunaan antibiotik secara kualitatif dengan metode Gyssen dan kuantitatif dengan metode defined daily dose (DDD) pada pasien rawat inap dengan fraktur tulang di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya, Indonesia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif yang dilakukan terhadap 89 sampel. Data dikumpulkan secara retrospektif melalui rekam medis pada periode Januari-Desember 2019. Data penggunaan antibiotic kemudian dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan metode Gyssen dan DDD. Hasil: Pada penelitian ini, antibiotik yang banyak digunakan sebagai antibiotik profilaksis dan terapeutik pada pasien fraktur tulang adalah seftriakson. Analisis kuantitatif menggunakan metode DDD menunjukkan bahwa nilai ceftriaxone adalah 45,6/100 pasien-hari dan cefazoline adalah 3,1/100 pasien-hari. Analisis penggunaan antibiotik pada pasien fraktur tulang dengan menggunakan metode Gyssen menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional sebanyak 84,3%, penggunaan antibiotik tidak tepat waktu sebanyak 4,5%, dan interval pemberian antibiotik tidak tepat sebanyak 11,2%. Kesimpulan: penggunaan antibiotik pada pasien bedah fraktur sudah tergolong penggunaan antibiotik yang rasional namun penggunaan antibiotik masih melebihi standar WHO. Selanjutnya perlu dilakukan penelitian serupa dengan pengambilan data secara prospektif sehingga dapat mengamati kejadian infeksi luka operasi. Introduction: Prophylactic antibiotic therapy has an important role in facilitating optimal postoperative healing. Inappropriate use of antibiotics in hospitals will increase the cost of therapy and the incidence of nosocomial infections of infectious microorganisms. Preoperative prophylactic antibiotics are believed to reduce the incidence of surgical site infections. Objective: This study aims to determine the pattern of antibiotic use and analyse the use of antibiotics qualitatively by the Gyssen method and quantitatively by the defined daily dose (DDD) method in inpatients with bone fractures at the Haji General Hospital Surabaya, Indonesia. Methods: This study was a descriptive observational study conducted on 89 samples. Data were collected retrospectively through medical records in the period January-December 2019. Antibiotic use data were then analysed qualitatively and quantitatively using the Gyssen and DDD methods. Results: In this study, the antibiotic that was widely used as a prophylactic and therapeutic antibiotic in patients with bone fractures was ceftriaxone. Quantitative analysis using the DDD method showed that the value of ceftriaxone was 45.6/100 patient-days and cefazoline was 3.1/100 patient-days. Analysis of antibiotic use in bone fracture patients using the Gyssen method showed that the rational use of antibiotics was 84.3%, the use of antibiotics was not timely as much as 4.5%, and the interval of antibiotic administration was not appropriate as much as 11.2%. Conclusion: the use of antibiotics in fracture surgery patients is classified as rational use of antibiotics but the use of antibiotics still exceeds WHO standards. Furthermore, it is necessary to conduct a similar study with prospective data collection so that it can observe the incidence of surgical wound infection.
Inhibition Activity Of Ethanolic Extract Of Ulva lactuca Against Staphylococcus aureus emelda, emelda; Safitri, Eka Asriani; Fatmawati, Annisa
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.7

Abstract

Staphylococcus aureus (S. aureus) is a normal flora that can cause mild skin infections, one of which is acne. Commonly used chemical treatments are antibiotics such as Clindamycin. Continuous use of antibiotics can lead to resistance. Natural ingredients that are possible can inhibit the growth of bacteria. Treatment caused by S.aureus is Ulva lactuca Linn. (Green algae). This marine biota contains compounds that have the potential to be antibacterial, including triterpenoids, flavonoids, and saponins. This study aims to compare antibacterial activity of  ethanolic extract of Ulva lactuca and Clindamycin against S. aureus bacteria. This type of research is an experimental laboratory. Ulva lactuca was extracted by maceration method using ethanol 96% solvent. Then carried out testing for antibacterial activity using the agar diffusion method by sump technique. The study was divided into 6 groups. One Clindamycin group and 5 treatment groups respectively with extract concentrations of 20%, 40%, 60%, 80%, and 100%. The test was carried out in 3 repetitions. Data analysis was processed by SPSS using the Kruskal-Wallis test to determine which groups had difference. The results showed that the ethanolic extract of Ulva lactuca was able to inhibit the growth of S. aureus bacteria with strong categories at concentrations of 20%, 40%, and 60%. Very strong category at 80% and 100% concentrations. The 100% concentration had the largest average inhibition zone diameter of 22 ± 0.577 mm which was not significantly different from Clindamycin with a significance value of 0.043 (p <0.05). This study concludes that the ethanolic extract of Ulva lactuca has activity in inhibiting the growth of S.aureus bacteria with strong to very strong categories, but statistically not as strong as Clindamycin
Analisis Perbandingan Biaya Perawatan (Cost of illness Stroke Iskemik dan Stroke Hemoragik Pasien Rawat Inap di SUD Pannembahan Senopati Setiani, Setiani; Rimba, Imram Radne; Dwinta, Eliza
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.5

Abstract

      Stroke termasuk dalam penyakit katarostropik  yang dapat mengancam jiwa, dan memiliki resiko tinggi serta membutuhan pertolongan segera. Stroke dapat menyebabkan penderitanya memiliki faktor resiko morbiditas seusia hidupnya yang dapat menimbulkan Burden disease sehingga menyebabkan kematian, cedera, hilangnya produktifitas dan membutuhkan biaya penanganan yang cukup tinggi. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui total biaya perawatan dan selisish biaya perawatan stroke iskemik dan stroke hemoragik pasien rawat inap di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif analitik non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional study menurut perspektif penyedia layanan kesehatan (provider). Biaya yang diperhitungkan adalah biaya langsung (direct cost) menggunakan pendekatan bottom up. Subyek penelitian adalah semua pasien stroke rawat inap yang terdaftar sebagai pasien umum di rumah sakit yang memenuhi kriteria inklusi. Data dianalisis menggunakan software Excel dan SPSS. Hasil penelitian melibatkan 50 sampel yang terdiri dari 32 pasien stroke iskemik dan 18 pasien stroke hemoragik menunjukan dengan analisis regresi linear variabel bebas berpengaruh terhadap biaya stroke sebesar 49,1%. Lama rawat inap menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap tingginya biaya dengan nilai p 0,00 (<0,05). Total direct health cost perawatan stroke adalah sebesar Rp151.633.600,00 Sedangkan material cost sebesar Rp113.954.918,00. Total rata-rata  biaya stroke iskemik  Rp4.625.511.006, stroke hemoragik  Rp6.531.786.277 dengan selisih Rp1.906.275.271.
Gambaran Kuantitatif Antibiotik Menggunakan Metode Defined Daily Dose (DDD) Di Ruang Rawat Inap RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso Pada Januari-Juni 2019 Mariana, Nina; Indriyati, Indriyati; Widiantari, Aninda Dinar; Taufik, Muhammad; Wijaya, Chandra; Hartono, Teguh Sarry; Wijaya, Surya Oto; Firmansyah, Iman
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.6

Abstract

Latar Belakang. Penggunaan antibiotik yang tepat dapat meminimalkan terjadinya resistensi antibiotika. selain penghematan secara ekonomi. Oleh karena itu perlu adanya pemantauan dan evaluasi penggunaan antibiotik di fasilitas kesehatan dan feedback terhadap peresepan antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi secara kuantitatif penggunaan antibiotik baik jenis dan jumlah antibiotik berdasarkan klasifikasi Anatomical Therapeutic Chemical (ATC)  dengan  pengukuran Defined Daily Dose (DDD) sebagai metode terstandar pengukuran kuantitas penggunaan antibiotik. Metode. Penelitian ini adalah  observasional deskriptif,  menggunakan rancangan potong lintang pada periode Januari-Juni 2019 pada RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Kriteria inklusi berupa kasus pasien dewasa bukan kasus TB yang dirawat di ruang rawat inap non ICU dan penggunaan antibiotiknya masuk ke dalam klasifikasi Anatomical Therapueutic Chemical (ATC). Berdasarkan data rekam medik  terkumpul dalam lembar pengumpul data.Hasil. Sebanyak 96 status rekam medik dengan 51 kasus penyakit infeksi non bedah dan 45 kasus infeksi bedah yang menggunakan antibiotik. Difteri merupakan kasus infeksi non bedah terbanyak yaitu 10.5%. Distribusi penggunaan antibiotik golongan beta laktam kombinasi inhibitor betalaktamase sebanyak  37.28%, golongan sefalosporin  33.90%, golongan penisilin sebanyak 10,17%. Berdasarkan nilai DDD/patient day antibiotik Penicillin Prokain memiliki nilai tertiggi yaitu sebesar 97.22 dan nilai DDD/patient day terendah yaitu pada antibiotik meropenem yaitu sebesar 0.22.  Kesimpulan. Pada penelitian ini, kuantitas antibiotik berdasarkan nilai DDD/100 patient day tertinggi adalah Penisilin Prokain, seiring dengan difteri sebagai kasus penyakit infeksi non bedah terbanyak pada periode Januari-Juni 2019.  Mengingat penelitian dilakukan pada saat kejadian luar biasa difteri, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada periode berikutnya sebagai data pembanding kuantitas antibiotik di masa depan.
Pengembangan dan Optimasi Kapsul Mikrosfer Ekstrak Licorice sebagai Bentuk Sediaan Oral Extended Release Kanker Payudara Cahyani, Farmasita Nabilla; Ardiana, Rachmawati; Khasanah, Dewi Uswatun; Dewi, Adinda Sukma; Adianingsih, Oktavia Rahayu
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.10

Abstract

Kanker payudara adalah kanker dengan angka kejadian tertinggi pada wanita. Protein yang terlibat dalam proses metastasis pada kanker adalah high mobility group box 1 (HMGB1). Licorice (Glycyrrhiza glabra) dilaporkan memiliki efek farmakologi antikanker dan ekstrak etanol roasted licorice dapat mengurangi viabilitas metastasis sel kanker. Sistem penghantaran mikrosfer merupakan serbuk padat terdiri dari polimer, crosslinked, dan bahan aktif yang dapat memberikan efek terapeutik diperpanjang. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kemampuan licorice menghambat protein HMGB1 melalui molecular docking study dan mengetahui konsentrasi crosslinked natrium tripolifosfat yang paling optimal dalam formula kapsul mikrosfer ekstrak licorice. Metode penelitian dilakukan dengan uji in silico  berupa molecular docking dan uji ADMET, formulasi kapsul mikrosfer ekstrak licorice dengan variasi konsentrasi natrium tripolifosfat 3%, 6%, dan 9%, dan uji evaluasi mutu sediaan meliputi morfologi dan ukuran, sifat alir, penetapan kandungan, organoleptik, kadar air, waktu hancur, dan keseragaman bobot. Data hasil uji evaluasi dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal Wallis melalui IBM SPSS 28.0. Hasil yang diperoleh yakni senyawa glycyrrhetic acid, liquiritin apioside, dan liquiritin berpotensi menghambat protein HMGB1, glycyrrhetic acid dan licochalcone A merupakan substrat CYP450 3A4, dan delapan senyawa merupakan substrat P-gp dengan kelas toksisitas rendah. Kemudian tidak ada perbedaan yang signifikan pada hasil uji ketiga formula namun konsentrasi crosslinked natrium tripolifosfat yang paling optimum dapat terlihat melalui uji evaluasi mutu sediaan. Kesimpulan penelitian ini adalah senyawa glycyrrhetic acid, liquiritin apioside, dan liquiritin dalam licorice berpotensi menghambat HMGB1 dan formula mikrosfer yang memenuhi uji evaluasi paling baik adalah formula dengan konsentrasi natrium tripolifosfat 3%.
Pengaruh Edukasi Terhadap Pengetahuan Santri Mengenai Swamedikasi Obat Diare dengan Media Slide di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Kota Malang Yahya, Khairunnisa; Hidayati, Ika Ratna; Yunita, Sendi Lia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 7 No. 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2021.007.01.8

Abstract

Swamedikasi merupakan suatu upaya seseorang dalam mengobati penyakit yang dialami dengan cara pemilihan serta penggunaan obat tanpa resep dokter. Dalam praktek swamedikasi diperlukan pengetahuan yang memadai agar tepat dalam melakukan praktek swamedikasi. Dijelaskan dalam penelitian lainnya bahwa edukasi dengan media elektronik berupa slide PowerPoint lebih efektif dibandingkan dengan media cetak berupa leaflet, sehingga penelitian ini pemberian edukasinya menggunakan media slide PowerPoint. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi dan mengetahui pengaruh edukasi terhadap pengetahuan santri mengenai swamedikasi obat diare dengan media slide PowerPoint di Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Kota Malang.Peneitian ini menggunakan penelitian pra-eksperimental, dengan rancangan penelitian one group pretest posttest. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Hasil sampel yang diperoleh dengan menggunaan rumus slovin yaitu sebanyak 68 responden.Tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan edukasi bervariasi dengan persentase terbanyak memiliki tingkat pengetahuan yang “BAIK” yaitu 89,71%, kemudian “CUKUP” sebanyak 7,35% dan “KURANG BAIK” sebanyak 2,94%. Kemudian hasil tingkat pengetahuan responden sesudah diberikan edukasi yaitu 100% “BAIK”. Berdasarkan perbandingan skor pretest dan posttest yang diperoleh hasil tingkat pengetahuan responden meningkat setelah diberikan edukasi. Analisis data yang digunakan ialah Uji Wilcoxon dengan bantuan SPSS 25. Hasil analisis Uji Wilcoxon diperoleh Asymp. Sig. (p) 0,000 yang berarti nilai pretest dan nilai posttest berbeda atau tidak sama maka H1 diterima. Selain itu hasil Zhitung yang diperoleh -6,049 < -1,96 maka H1 diterima  yang berarti edukasi mengenai swamedikasi obat diare berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan santri/santriwati Lembaga Tinggi Pesantren Luhur.

Page 10 of 16 | Total Record : 155