cover
Contact Name
Rafael Lisinus Ginting
Contact Email
rafaelginting@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikologikonseling23@unimed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Psikologi Konseling: Jurnal Kajian Psikologi dan Konseling
ISSN : 20858086     EISSN : 25027190     DOI : https://doi.org/10.24114/konseling.v21i2
Core Subject : Education,
Jurnal PSIKOLOGI KONSELING diterbitkan oleh Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan yang bertujuan untuk publikasi karya ilmiah, studi literatur, studi kasus, dan laporan hasil penelitian. Jurnal PSIKOLOGI KONSELING merupakan wadah bagi peneliti, staf pengajar (dosen dan guru pembimbing/Konselor) dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengembangkan khasanah keilmuan dalam bidang Psikologi dan Konseling serta ilmu-ilmu yang berkaitan. Adapun artikel yang diterbitkan pada jurnal ini adalah hasil penelitian yang fokus pada masalah persepsi, sikap, kognisi, dan perilaku manusia terutama dalam dunia pendidikan. Hal lainnya adalah penelitan pengembangan baik instrumen, program BK, bahan atau materi bimbingan, strategi atau teknik BK, model BK, media BK dan lain sebagainya yang berhubungan dengan kajian keilmuan bimbingan dan konseling.
Articles 343 Documents
Kecerdasan Emosional Perempuan: Pemahaman, Pengelolaan, dan Ekspresi Emosi Sebagai Kunci Keseimbangan Diri dan Relasi Sosial Nurselly; Sejati, Sugeng; Siska, Betry Afrin; Melinsi, Ami Kurnia; Yulandari, Riska
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecerdasan emosional merupakan aspek penting dalam membentuk keseimbangan diri dan keharmonisan relasi sosial, terutama bagi perempuan yang memiliki tingkat kepekaan emosional tinggi serta memegang banyak peran dalam kehidupan sosial dan keluarga. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemampuan perempuan dalam memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi tidak hanya berkaitan dengan aspek psikologis, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor biologis, sosial, budaya, dan spiritual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam peran kecerdasan emosional perempuan dalam menjaga stabilitas psikologis dan membangun relasi sosial yang sehat. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis dan interpretative. Hasil analisis menunjukkan bahwa perempuan dengan kecerdasan emosional tinggi cenderung memiliki keseimbangan diri yang lebih stabil, mampu beradaptasi terhadap tekanan sosial, serta menunjukkan empati dan kepekaan sosial yang mendukung keharmonisan lingkungan. Selain itu, spiritualitas berperan penting sebagai dasar pengelolaan emosi yang bijak, menjadikan perempuan tidak hanya cerdas secara emosional, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Artikel ini menegaskan bahwa kecerdasan emosional perempuan merupakan kunci dalam menciptakan keseimbangan batin, relasi sosial yang harmonis, serta kontribusi positif terhadap kesejahteraan psikologis dan sosial masyarakat.
Penerapan Teknik Restrukturisasi Kognitif Dalam Layanan Konseling Individual Untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa Korban Bullying Helma Yani; Irawan, Vanessa Putri; Siregar, Rizki Rosalinda
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to provide an in-depth description of the application of Cognitive Behavior Therapy (CBT) through cognitive restructuring techniques in supporting the improvement of self-confidence in a student who experienced bullying at school. The research employed a descriptive qualitative approach with a case study design involving a tenth-grade female student who had been repeatedly subjected to verbal bullying by her classmates. Such experiences had led to several psychological impacts, including low self-esteem, social anxiety, and withdrawal from peer interactions. Data were collected through observations, in-depth interviews, and sociometric assessments to obtain a comprehensive understanding of the student’s emotional condition and social relationships before and after the counseling intervention. The findings indicate that the cognitive restructuring process has the potential to help the student identify, examine, and challenge negative automatic thoughts that previously shaped her self-perception. With guidance from the counselor, the student gradually developed more realistic and adaptive self-evaluations. After several counseling sessions, indications of improvement were observed in the areas of self-confidence, emotional stability, social engagement, and learning motivation. Although these results are preliminary and cannot be generalized, they provide early evidence that cognitive restructuring can be a useful approach for school counselors in supporting students who have experienced bullying and in fostering a safer, more supportive, and psychologically responsive school environment.
Pengaruh Dukungan Sosial Suami Terhadap Regulasi Emosi Ibu Yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus Amanda, Putri; Lestari, Widya; Fitlya, Rizki
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ibu yang memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sering menghadapi tantangan pengasuhan yang kompleks, seperti ketidaksesuaian antara harapan dan kondisi anak, tekanan ekonomi untuk memberikan terapi, serta kesulitan menerima keadaan anak. Kondisi ini kerap memicu emosi negatif sehingga ibu membutuhkan dukungan sosial, terutama dari suami, untuk membantu mengelola emosi secara lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dukungan sosial suami terhadap regulasi emosi ibu yang memiliki ABK di Kota Pontianak. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan teknik purposive sampling dan melibatkan 100 responden ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Instrumen yang digunakan adalah skala Likert dukungan sosial dan skala Likert regulasi emosi. Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,554 dan nilai F sebesar 176.542. Temuan ini mengindikasikan bahwa dukungan sosial suami memberikan pengaruh sebesar 54% terhadap regulasi emosi ibu. Dengan demikian, terdapat pengaruh positif antara dukungan sosial suami dan kemampuan regulasi emosi ibu yang memiliki ABK di Kota Pontianak. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori sedang dalam menerima dukungan sosial suami (60%) dan dalam kemampuan regulasi emosi (78%). Temuan ini menegaskan pentingnya peran dukungan pasangan dalam membantu ibu menghadapi tekanan emosional terkait pengasuhan anak berkebutuhan khusus.
Tiga Pilar Militansi Generasi Z Setyaningrum, Dyah Titi; Sigarlaki, Miryam Ariadne; Cahyorinarti, Niken
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sebagai digital native, generasi Z menghadapi tantangan moral dan etika di tengah disrupsi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) sehingga membutuhkan karakter militan untuk mempertahankan komitmen kebangsaan. Militansi perlu dimaknai sebagai semangat juang konstruktif, sikap positif seperti bersemangat tinggi, tangguh, dan berkomitmen terhadap kebenaran dan moralitas. Penelitian kualitatif eksploratif ini bertujuan untuk merumuskan kerangka ilmiah yang kokoh untuk mengoperasionalisasikan karakter militan yang positif pada generasi Z. Metode yang digunakan adalah analisis konseptual sistematis (systematic conceptual analysis) dan analisis tematik deduktif terhadap sembilan karakter perilaku militan yang telah teridentifikasi pada peneitian pendahulu. Analisa tematik merumuskan Tiga Pilar yang dapat digunakan untuk mengukur militansi generasi Z, yaitu: Pilar I (Internal): Motivasi, Komitmen, dan Ketahanan Diri; Pilar II (Relasional): Keterlibatan Sosial, Identitas Kelompok, dan Pemikiran Kritis; dan Pilar III (Aksi): Orientasi Nilai, Etika, dan Tindakan Kolektif. Kerangka Tiga Pilar ini menyediakan blueprint teoretis yang kuat, menjamin bahwa militansi diartikan secara konstruktif dan merupakan prasyarat fundamental untuk pengembangan alat ukur psikometri yang komprehensif bagi pengukuran potret potensi militan pada generasi Z Kata Kunci : Militansi, Karakter Militan, Generasi Z Abstract As digital natives, Generation Z navigates profound moral and ethical challenges within the disruptive of the VUCA era (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), necessitating the development of a militant character to uphold national commitment. Militancy, in this context, is defined as a constructive fighting spirit, encompassing positive attitudes such as high enthusiasm, resilience, and unwavering commitment to truth and morality. This exploratory qualitative study aims to formulate a robust scientific framework for operationalizing positive militant character in Generation Z. The methodology involved a systematic conceptual analysis combined with deductive thematic analysis applied to nine specific militant behavioral characteristics identified in previous research. The thematic analysis resulted in the formulation of the Tri-Pillar Framework for measuring Generation Z's constructive militancy: Pillar I (Internal): Motivation, Commitment, and Self-Resilience; Pillar II (Relational): Social Involvement, Group Identity, and Critical Thinking; and Pillar III (Action): Value Orientation, Ethics, and Collective Action. This Tri-Pillar framework provides a strong theoretical blueprint, ensuring that militancy is interpreted constructively and serves as a fundamental prerequisite for developing a comprehensive psychometric instrument to assess the potential militant profile of Generation Z. Keywords: Militancy, Militant Character, Generation Z
Hubungan Komunikasi Interpersonal dengan Kebahagiaan Pernikahan pada Suami Istri yang Bekerja di Desa Punggur Kecil Ghezi Rifta; Hayati, Risna; Ramadhan, Riszky
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pernikahan merupakan ikatan yang diakui secara hukum dan agama antara pria dan wanita. Pernikahan yang terjadi di masyarakat Desa Punggur Kecil menunjukkan adanya penurunan tingkat kebahagiaan dalam hubungan suami istri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat (2023), tercatat 798 kasus perceraian di Kubu Raya, dan menurut Pengadilan Agama Tinggi Sungai Raya (2024), penyebab utama perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi secara terus-menerus. Hasil wawancara awal dengan beberapa pasangan menunjukkan bahwa kesibukan dalam pekerjaan mengurangi waktu kebersamaan, sehingga komunikasi menjadi kurang efektif dan berdampak pada kebahagiaan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal dan kebahagiaan pernikahan pada suami istri yang bekerja di Desa Punggur Kecil. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan teknik non-probability sampling dengan jenis purposive sampling, melibatkan 33 pasangan suami istri. Data dikumpulkan menggunakan skala likert dan dianalisis menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05), yang berarti terdapat hubungan positif dan signifikan antara komunikasi interpersonal dan kebahagiaan pernikahan. Semakin tinggi komunikasi interpersonal, maka semakin tinggi pula kebahagiaan pernikahan. Sebanyak 56,1% responden berada pada kategori kebahagiaan pernikahan rendah, sementara 84,8% berada pada kategori komunikasi interpersonal sedang. Koefisien determinasi (r²) sebesar 0,638 menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap kebahagiaan pernikahan.
Pengaruh Anger Management Training dalam Menurunkan Perilaku Agresivitas Pada Siswa SMP LKIA Pontianak Rahayu, Safira Aprisia; Fitlya, Rizki; Nur Kur’ani, Nur Kur’ani
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masa remaja adalah periode krusial dengan gejolak emosi dan tekanan jiwa, sering disebut sturm und drang atau pencarian jati diri. Ketidakstabilan emosi remaja dapat memicu perilaku agresif, yaitu tindakan menyakiti orang lain. Fenomena ini menjadi perhatian serius, terbukti dari peningkatan prevalensi kekerasan pada anak dan remaja (SNPHAR 2024), serta observasi dan wawancara di SMP LKIA Pontianak yang menunjukkan tingginya kasus perilaku agresif siswa, seperti memukul, menendang, mengumpat, dan kurangnya rasa hormat terhadap guru.Tanggapan orang tua yang kurang kooperatif saat dipanggil pihak sekolah mengenai perilaku anaknya akan memperparah kondisi ini. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh Anger Management Training dalam menurunkan perilaku agresif pada siswa SMP LKIA Pontianak. Metode penelitian desain one group pretest-posttest, membandingkan hasil sebelum dan sesudah intervensi. Delapan siswa dipilih melalui Purposive Sampling sebagai partisipan. Analisis data Uji-T berpasangan (Paired Sample T-test) menunjukkan nilai signifikansi 0,000, mengindikasikan pengaruh signifikan intervensi. Persentase perilaku agresif siswa menurun 16%, dari 58% (pre-test) menjadi 42% (post-test). Hasil penelitian menunjukkan sebelum intervensi, peserta banyak di kategori sedang (62,5%) dan tinggi (37,5%), dengan indikator menonjol seperti mengumpat dan memukul. Setelah intervensi, 37,5% peserta berada di kategori rendah dan 62,5% di kategori sedang.
Hubungan Iklim Organisasi dengan Work Engagement Kurir di Bujang Kurir Pontianak Kur'ani, Nur; Restu Aji, Lilik; Ramadhan, Riszky
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami sejauh mana iklim organisasi berhubungan dengan tingkat work engagement pada kurir yang bekerja di Bujang Kurir Pontianak. Latar belakang penelitian didasarkan pada pentingnya keterikatan kerja sebagai faktor yang berperan dalam peningkatan kinerja serta produktivitas karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 30 kurir sebagai partisipan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan dua instrumen skala psikologi, yaitu skala iklim organisasi dan skala work engagement. Analisis menggunakan korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel, dengan nilai koefisien korelasi 0,745 dan tingkat signifikansi 0,001. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa semakin baik iklim organisasi yang dirasakan karyawan, semakin tinggi pula tingkat keterlibatan kerja mereka. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pihak manajemen Bujang Kurir memperkuat kondisi lingkungan kerja yang suportif guna meningkatkan work engagement para kurir.
Self-Compassion dan Fomo pada Mahasiswa Dewasa Awal Generasi Z Pengguna Media Sosial Stevani, Lydia; Suparman, Meiske Yunithree
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maraknya penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa Generasi Z (Gen Z) memunculkan fenomena fear of missing out (FoMO), yaitu perasaan cemas ketika tertinggal dari berbagai aktivitas sosial daring. Berdasarkan teori self-compassion yang dikemukakan oleh Neff, individu yang memiliki belas kasih terhadap diri cenderung lebih mampu mengelola emosi negatif dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan sosial daring. Oleh karena itu, self-compassion diduga berperan sebagai faktor protektif terhadap FoMO. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan FoMO pada mahasiswa Gen Z dewasa awal pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan mahasiswa sebagai populasi, dan sampel ditentukan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan Self-Compassion Scale dan Online Fear of Missing Out (ON-FoMO) Scale adaptasi Bahasa Indonesia, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-compassion dan FoMO, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat self-compassion, semakin rendah kecenderungan FoMO. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kesadaran diri dan self-compassion sebagai strategi untuk mengurangi FoMO pada mahasiswa Gen Z pengguna media sosial.
Persepsi Terhadap Scoreboard 4DX dan Implikasinya Terhadap Kinerja Staf GA di Industri Real Estate aldofirdaus
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi staf General Affairs (GA) terhadap penggunaan Scoreboard dalam metodologi Four Disciplines of Execution (4DX) serta implikasinya terhadap kinerja di industri real estate. Scoreboard sebagai visualisasi pencapaian kinerja merupakan elemen penting dalam 4DX, namun efektivitasnya bergantung pada bagaimana staf memaknainya. Kajian pustaka menunjukkan bahwa persepsi karyawan terhadap sistem manajemen kinerja termasuk aspek kejelasan indikator, transparansi, dan keadilan berpengaruh terhadap motivasi dan output kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan partisipan satu staf GA yang terlibat langsung dalam implementasi scoreboard 4DX. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis berdasarkan tiga dimensi persepsi: kognitif, afektif, dan konatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa staf memahami fungsi scoreboard sebagai alat pemantauan, pengingat target, serta pendukung penyusunan laporan kinerja. Scoreboard juga dianggap memberi motivasi, meskipun berpotensi menimbulkan tekanan emosional ketika target tidak tercapai. Secara perilaku, keberadaan scoreboard terbukti mendorong peningkatan keteraturan kerja, akuntabilitas, dan penetapan rencana kerja berbasis data. Namun, aspek keadilan dan akurasi sistem masih memerlukan perbaikan. Temuan ini mengindikasikan bahwa keberhasilan implementasi scoreboard tidak hanya bergantung pada desain indikator, tetapi juga pada penerimaan psikologis staf. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya pelibatan staf dalam perancangan scoreboard agar menjadi instrumen motivasional, bukan sekadar kontrol kinerja.
Help-Seeking Behavior Caregiver Pasien Dengan Gejala Psikotik di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus Sasana, Dea Nabila; Putri, Dinda Dwi Sonia; Harisuci, Tinon Citraning
PSIKOLOGI KONSELING Vol. 19 No. 2 (2025): Jurnal Psikologi Konseling
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam pengalaman, motif, hambatan dan harapan caregiver pasien dengan gejala psikotik dalam konteks perilaku mencari bantuan (help-seeking behavior). Gangguan psikotik, ditandai dengan hilangnya kontak dengan realitas melalui delusi atau halusinasi yang mempengaruhi sejumlah besar individu, sementara caregiver mengalami konsekuensi psikologis seperti kecemasan dan stigma sosial. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, penelitian ini melibatkan wawancara semi-struktur dengan caregiver pasien rawat jalan poli psikiatri di Rumah Sakit Islam Sunan Kudus dengan analisis data berpedoman pada tiga aspek help-seeking behavior Rickwood & Braithwaite (1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku mencari bantuan dangat dipengaruhi oleh kesadaran akan kondisi kritis, namun secara signifikan terhambat oleh stigma sosial dan ketakutan akan pergunjingan. Pola pemilihan sumber bantuan menunjukkan ketergantungan kuat pada keluarga inti untuk dukungan informal dan kepercayaan rasional pada layanan psikiater profesional untuk bantuan formal. Meskipun demikian, pendorong fundamental yang mengatasi hambatan adalah motivasi kasih sayang kepada orang terkasih. Penelitian ini menyarankan agar layanan kesehatan mental mengembangkan program dukungan psikologis yang menjamin tingkat kerahasiaan tinggi untuk mengatasi beban stigma.