cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Perbandingan sudut antegonial dan kedalaman antegonial pada radiograf panoramik antara pria dan Wanita: Studi Observasional Purba, Theresia Alfi; Widyaningrum, Rini; Mudjosemedi, Munakhir; Yanuaryska, Ryna Dwi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48028

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Identifikasi individu dapat dilakukan dengan menggunakan metode identifikasi sekunder, salah satunya berupa determinasi jenis kelamin menggunakan radiograf. Identifikasi jenis kelamin dapat dilakukan dengan mengamati morfologi mandibula yang merupakan tulang terkuat dan terbesar di wajah manusia. Perbedaan mandibula antara pria dan wanita pada regio antegonial mandibula dapat diamati serta diukur pada radiograf panoramik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita serta untuk menentukan perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik. Metode: Sampel penelitian terdiri dari 80 radiograf panoramik dari 40 pasien pria dan 40 wanita berusia 20-60 tahun. Pengukuran sudut antegonial dan kedalaman antegonial dilakukan secara digital pada radiografi panoramik. Independent sample t-test digunakan untuk mengetahui apakah ada perbedaan diantara kedua variabel yang dibandingkan antara pria dan wanita sekaligus untuk mengetahui perbedaan antara pengukuran sisi kanan dan kiri. Hasil: Rerata sudut antegonial pada kelompok pria adalah 155,36° ± 5,85 sedangkan pada kelompok wanita adalah 159,07° ± 5,25. Rerata kedalaman antegonial pada kelompok pria adalah 2,07 ± 0,69 mm dan pada kelompok wanita adalah 1,75 ± 0,59 mm. Hasil independent sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05) pada sudut antegonial dan kedalaman antegonial antara kelompok pria dan wanita, serta tidak ada perbedaan yang signifikan pada sudut maupun kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan (p>0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan sudut dan kedalaman antegonial antara pria dan wanita, serta tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada sudut dan kedalaman antegonial antara sisi kiri dan kanan pada radiografi panoramik.KATA KUNCI: Radiograf, panoramik, mandibula, sudut antegonial, kedalaman antegonialComparing antegonial angle and antegonial depth on panoramic radiographs between men and women: observational studyABSTRACTIntroduction: Personal identity can be determined using secondary identification methods such as sex estimation using radiograph. Mandibular morphology can be used for estimating sex. The mandible, as the largest and most robust bone in the human facial skeleton, provides valuable information for sex estimation. The antegonial region indicates sexual dimorphism in the mandible, which can be visually assessed on panoramic radiographs. This study aims to investigate potential differences in antegonial angles and depths between males and females, in addition to identify any differences in antegonial angle and depth on panoramic radiographs between the left and right sides. Methods: The study sample included 80 panoramic radiographs taken from 40 male and 40 female patients aged 20-60 years. The antegonial angle and depth were measured digitally on panoramic radiographs. The collected data was analyzed using an independent sample t-test. Results: In the male group, the mean antegonial angle was 155.36°±5.85, while in the female group, it was 159.07°±5.25. The mean value of antegonial depth in the male group was 2.07±0.69 mm and in the female group it was 1.75±0.59 mm. Independent sample t-test reveals a significant difference in antegonial angle and depth between the male and female groups (p<0.05) and no significant difference in both measurement between the left and right sides (p>0.05). Conclusion: There are differences in antegonial angles and depths between men and women, and no significant difference in antegonial angles and depths between the left and right sides on panoramic radiographs.KEY WORDS: radiograph, panoramic, mandible, antegonial angle, antegonial depth
Tingkat kecemasan pasien perawatan gigi tiruan saat pandemi COVID-19: studi cross-sectional Syarif, Siti Nur Aulia; Damayanti, lisda; Rosadi, Valentine
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 7, No 3 (2023): Oktober 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v7i3.48121

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kecemasan pasien merupakan kondisi yang sudah dihadapi oleh dokter gigi sejak lama. Terjadinya pandemi COVID-19  diketahui meningkatkan kecemasan pada pasien hingga penundaan perawatan. Menurut Riskesdas (2018) angka kehilangan gigi di Indonesia mencapai 51,8%. Perawatan gigi tiruan menjadi pilihan untuk menangani kasus  kehilangan gigi. Kecemasan menjadi faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan perawatan gigi tiruan. Studi ini bertujuan untuk melihat tingkat kecemasan pasien perawatan gigi tiruan saat pandemi COVID-19. Metode: Penelitian ini berjenis deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang diberikan secara daring kepada pasien perawatan gigi tiruan RSGM Unpad saat pandemi COVID-19 dalam periode Juni 2021-Juni 2022. Hasil: Sebanyak 92,9% pasien sudah vaksinasi pertama di periode ini. Data menunjukkan 56 (65,9%) responden merasakan kecemasan kategori ringan, 23 (27,1) kategori kecemasan sedang, dan 6(7%) kategori kecemasan berat. Pada kategori kecemasan sedang dan berat lebih banyak diisi oleh perempuan dibanding laki-laki. Simpulan: Kecemasan yang dialami pasien perawatan gigi tiruan mayoritas berada pada kategori kecemasan ringan. Penyebab pasien merasa cemas selama proses perawatan gigi tiruan meliputi, penggunaan bahan yang berbeda-beda saat proses pembuatan, gigi tiruan tidak pas saat digunakan oleh pasien, dan merasa mual saat pencetakan. Faktor biaya menjadi alasan tertinggi yang menghambat pasien untuk menggunakan gigi tiruanKATA KUNCI: Kecemasan dental, gigi tiruan, COVID-19Denture patient’s dental anxiety level during the COVID-19 at RSGM Unpad: cross-sectional studyABSTRACT Introduction: Dental anxiety is a condition that dentists have faced for a long time. The COVID-19 pandemic was known to have increased dental anxiety in patients, leading to delays in treatment. According to Riskesdas (2018), the rate of tooth loss in Indonesia reached 51.8%. Denture treatment became an option to overcome cases of tooth loss. Dental anxiety was an influential factor in  the success of denture treatment. This study aimed to provide an overview of the dental anxiety level of denture patients at RSGM Unpad during the COVID-19 pandemic. Methods: This research was  quantitative descriptive research with a cross-sectional design. The sampling technique was simple random sampling. The research instrument was in the form of a questionnaire given online to denture care patients at RSGM Unpad during the COVID-19 pandemic in the period June 2021-June 2022. Result: The number of patients who met the study criteria was 567, and 85 patients were willing to be respondents. The results showed that 92.9% of patients had been vaccinated first in this period. The data showed 56 (65.9%) respondents felt mild anxiety, 23 (27.1%) felt moderate anxiety, and 6 (7%) felt severe anxiety. In the category of moderate and severe anxiety, the number of women was higher than that of men. Conclusion: The majority of dental anxiety experienced by denture care patients at RSGM Unpad was in the mild anxiety category. The causes of anxiety among the patients during the denture treatment process include the use of different materials during the manufacturing process, the fact that the dentures does not fit when used by the patients, and feeling nauseous during molding. The cost factor became the primary reason that discouraged patients from using dentures.KEY WORDS: Dental anxiety, denture, COVID-19
Connection of Oral Health Related Quality of Life with Caries in Children with Stunting: descriptive study Rafilia, Yuanne Nisrina; Sukmasari, Susi; Setiawan, Arlette Suzy; Indriyanti, Ratna
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54179

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Stunting is one of the growth and development problems that causes a child's body to become shorter or very short in accordance with his/her age and exceeds the Standard Deviation (SD) set by the World Health Organization (WHO), namely < -2 SD. The condition of stunting also inhibits the development of the oral cavity which causes children suffering from stunting to be more susceptible to caries. Caries experienced by children will have a negative impact on a child's daily life and can affect the quality of his/her life. This research aimed to analyze the relationship between caries status of a child with stunting and his quality of life. Methods: The type of research used was a quantitative the descriptive research with correlational research method using correlational survey method with questionnaires conducted in Ciapus Village, Banjaran District, Bandung Regency. Samples were taken using purposive sampling technique with a sample size of 60 people. The time range used in this research was December 2023 – January 2024. The questionnaire used was The Early Childhood Oral Health Questionnaire. The Impact Scale (ECOHIS) was used to measure quality of life and the def-t index was used to measure the child's caries status. Results: The def-t index of stunted children in Ciapus Village was 6.46 which was considered as high in the category. Total percentage of ECOHIS questionnaire answers showed a value of 46.41% and was in the category of quite impactful. The results of the Spearman rank correlation calculation = 0.475, which meant that there was a fairly significant relationship. Conclusion: There is a weak relationship between oral health related quality of life and caries conditions in the oral cavity of stunted children, because poor quality of the child's oral cavity does not have a direct impact on the occurrence of caries.KEYWORDS: stunting, caries, children's quality of life, children's oral healthHubungan Oral Health Related Quality of Life dengan Karies pada Anak Stunting: studi deskriptif ABSTRAKPendahuluan: Stunting adalah salah satu permasalahan tumbuh kembang yang menyebabkan tubuh anak menjadi lebih pendek atau sangat pendek tidak sesuai dengan usia nya dan melewati Standar Deviasi (SD) yang ditetapkan World Health Organization (WHO) yaitu < -2 SD. Kondisi stunting juga menghambat perkembangan rongga mulut yang menyebabkan anak yang mengalami stunting lebih rentan terkena karies. Karies yang dialami oleh anak akan berdampak buruk terhadap kehidupan anak sehari-hari dan dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status karies anak stunting dengan kualitas hidupnya. Metode: Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode penelitian korelasional menggunakan metode survei dengan kuesioner yang dilakukan di Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Sampel diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 60 orang. Rentang waktu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bulan Desember 2023 – Januari 2024. Kuesioner The Early Childhood Oral Health. Impact Scale (ECOHIS) digunakan untuk mengukur kualitas hidup dan indeks def-t digunakan untuk mengukur status karies anak. Hasil: Indeks def-t dari anak stunting di Desa Ciapus adalah sebesar 6,46 yang termasuk kategori tinggi. Persentase total jawaban kuesioner ECOHIS menunjukkan nilai sebesar 46,41% dan termasuk kedalam kategori cukup berdampak. Hasil perhitungan korelasi rank spearman = 0,475 yang memiliki arti memiliki hubungan cukup signifikan. Simpulan: Terdapat hubungan yang lemah antara oral health related quality of life dengan kondisi karies pada rongga mulut anak stunting, karena kualitas rongga mulut anak yang buruk tidak memiliki dampak secara langsung terhadap terjadinya karies.KATA KUNCI: stunting, karies, kualitas hidup anak, kesehatan mulut anak
Pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca: studi eksperimental Widyastuti, Noor Hafida; Ningsih, Juwita Raditya; Yuletnawati, Sartari Entin; Dewi, Listiana Masyita; Jayanti, Puji Tri
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54769

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Penanganan karies dapat dilakukan dengan cara restorasi. Pemilihan bahan restorasi di kedokteran gigi sangat mempertimbangkan kekerasan untuk menahan beban oklusal. Salah satu bahan yang bisa digunakan untuk restorasi adalah  Semen Ionomer Kaca(SIK). Kekurangan SIK diatasi dengan cara mencambahkan kitosan yang didapat dalam cangkang kerang hijau. Penggunaannya lebih efektif apabila dibuat dalam ukuran nano, sehingga diolah menjadi nanokitosan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau terhadap kekerasan semen ionomer kaca. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan desain penelitian posttest only control group design. Kelompok terbagi menjadi 6 kelompok. Pertama, SIK disiapkan tanpa penambahan nanokitosan sebagai kelompok kontrol (SIK Kontrol). Kelompok SIK dengan penambahan nanokitosan dibuat dengan menambahkan nanokitosan ke dalam cairan SIK dengan empat konsentrasi berbeda, yaitu 0,5%, 1%, 1.5%, dan 2%. Pengujian kekerasan permukaan dilakukan menggunakan alat Vickers microhardness tester. Beban yang digunakan pada penelitian ini yaitu HV0,05 (490,3mN) dengan lama indentasi yaitu 2 detik. Bentuk sampel berbentuk kotak dengan ketebalan 8 mm. Setiap sampel dilakukan indentasi sebesar 2 kali Hasil: Hasil rerata dan standar deviasi uji kekerasan SIK tanpa penambahan adalah 31,94 ± 3,54. Nano Kitosan mampu menambah nilai kekerasan semen ionomer kaca dengan hasil rerata dan standar deviasi sebagai berikut konsentrasi 0,5%= 51,60 ± 9,34 , 1%=91,20 ± 15,09, 1,5%,= 95,22 ± 14,12 dan 2%=117,60 ± 40,90. Hasil uji menggunakan uji One Way Anova didapatkan nilai p = 0,000 sehingga p<0,5 dan dinyatakan terdapat pengaruh yang signifikan antar kelompok konsentrasi terhadap nilai kekerasan semen ionomer kaca. Simpulan: penambahan nanokitosan cangkang kerang hijau dapat meningkatkan kekerasan semen ionomer kaca.  Effect of the addition of green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement: experimental studyIntroduction: Treatment of caries can be carried out through restoration. The selection of restorative materials in dentistry highly considers hardness to withstand occlusal loads. Glass Ionomer Cement is one substance that can be utilized for restoration. By including chitosan derived from green mussel shells, GIC insufficiency is remedied. It is processed into nanochitosan since its usage is maximized when it is manufactured in nanoscale. This study aims to analyze the effect of adding green mussel shell nanochitosan on the hardness of glass ionomer cement. Methods: This study used a posttest-only control group design in a laboratory setting. Six groups are formed from the group. First, as a control group (GIC Control), GIC was made without the addition of nanochitosan. The GIC liquid was supplemented with nanochitosan at four distinct concentrations: 0.5%, 1%, 1.5%, and 2%, to create the GIC group with the addition of nanochitosan. A Vickers microhardness tester was used to test the surface hardness. HV0.05 (490.3 mN) was the load employed in this study, and the indentation time was set at two seconds. The sample has an 8 mm thickness and a box-like form. Every sample was indented twice. Results: The GIC hardness test with no additives had a mean result and standard deviation of 31.94 ± 3.54. The hardness value of glass ionomer cement can be increased by nanochitosan, with the average outcomes and standard deviation as follow: Concentration: 1.5% = 95.22 ± 14.12, 1% = 91.20 ± 15.09, 2% = 117.60 ± 40.90, and 0.5% = 51.60 ± 9.34. The One-Way Anova test showed a significant difference between the concentration groups in the hardness value of glass ionomer cement, with p = 0.000, meaning that p <0.5. Conclusion: The addition of green mussel shell nanochitosan can increase the hardness of glass ionomer cement.
Perbedaan nilai papillary bleeding index pada pasien periodontitis berdasarkan jenis kelamin: studi cross sectional Aprilita, Aweni Tria; Komala, Olivia Nauli
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53101

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Periodontitis adalah penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 prevalensi periodontitis di Indonesia mencapai 74,1%. Tanda klinis periodontitis berupa inflamasi gingiva, pembengkakan margin, kehilangan perlekatan, pembentukan poket periodontal, dan perdarahan gingiva saat probing. Papillary Bleeding Index (PBI) merupakan indeks periodontal yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan inflamasi gingiva. Nilai PBI dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya jenis kelamin. Fluktuasi hormon pada tubuh terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi perubahan di dalam rongga mulut. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai PBI pada pasien periodontitis berdasarkan  jenis kelamin. Metode: Penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel berupa lembar pemeriksaan status periodontal pasien yang dirawat di RSGM-P FKG Usakti periode 2019 - 2022. Analisis data menggunakan uji statistik Mann-Whitney. Hasil: Penderita periodontitis di RSGM-P FKG Usakti tahun 2019 - 2022 mayoritas memiliki skor PBI dengan rentang 1- 1,99, baik pada jenis kelamin perempuan maupun laki-laki. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0,12) antara kelompok perempuan dengan laki-laki terhadap nilai PBI. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan antara nilai PBI dengan jenis kelamin pada pasien periodontitis.KATA KUNCI: Periodontitis, papillary bleeding index, inflamasi gingiva, jenis kelaminThe relationship between PBI values in periodontitis patients based on gender: observational studyABSTRACTIntroduction: Periodontitis is an inflammatory disease of the supporting teeth tissues. According to Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) in 2018, the prevalence of periodontitis in Indonesia reached 74.1%. Clinical signs of periodontitis include gingival inflammation, margin swelling, loss of attachment, periodontal pocket formation, and gingival bleeding on probing. The Papillary Bleeding Index (PBI) is a periodontal index used to measure the severity of gingival inflammation. The PBI value can be influenced by several factors, one of which is gender. Hormonal fluctuations in the body, especially in women, can be seen in the mouth. The aim of the study was to analyse the difference between PBI values in periodontitis patients based on gender. Methods: Analytical observational research with a cross-sectional research design. The sample is periodontal status examination sheets of patients treated at RSGM-P FKG Usakti for the period 2019 - 2022. Data analysis uses the Mann-Whitney statistical test. Results: The majority of periodontitis sufferers at RSGM-P FKG Usakti in 2019 -2022 had a PBI score in the range of 1 - 1.99 in both female and male genders. The results of the Mann-Whitney test showed that there was no significant difference (p = 0.12) between the female and male groups regarding the PBI value. Conclusion: There is no difference between PBI values and gender in periodontitis patients.KEY WORDS: Periodontitis, papillary bleeding index, gingival inflammation, gender
Uji zona hambat ekstrak metanol teripang putih (holothuria scabra) mentawai terhadap Streptococcus sanguinis pada Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro: studi eksperimental Rahmah, Aisha Fatihatur; Arma, Utmi; Lestari, Citra; Edrizal, Edrizal; Zia, Hanim Khalida
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.52551

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau sariawan merupakan ulser berbentuk oval atau bulat yang sakit dan terjadi secara berulang, serta dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) bentuk initial L forms banyak ditemukan pada penderita SAR dan dapat memperparah kondisi SAR. Salah satu hewan yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah teripang putih atau Holothuria scabra (H. scabra) yang berasal dari kepulauan Mentawai. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis daya hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis yang banyak ditemukan pada penderita Stomatitis Aftosa Rekuren secara in vitro. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan penelitian posttest only control group design. Sampel pada penelitian ini adalah ekstrak metanol teripang putih dari pulau Siberut, kepulauan Mentawai, yang diperoleh dalam keadaan sudah kering di kota Padang dan bakteri S. sanguinis ATCC 10556 yang diperoleh dari Laboratorium Penelitian Antar Universitas (PAU) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Terdapat 5 kelompok perlakuan, yaitu pengujian dengan konsentrasi ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) 2, 4, dan 8%, serta kontrol positif (chlorhexidine 0,2%) dan kontrol negatif.  Masing-masing kelompok perlakuan diulang sebanyak 5 kali sehingga besar sampel menjadi total 25 pengulangan.  Data yang diperoleh diolah menggunakan uji Independent Sample (T-Test). Hasil: Terdapat zona hambat ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) terhadap S. sanguinis pada stomatitis aftosa rekuren yang diujikan secara in vitro pada konsentrasi 8% dengan sig 0,001 atau < 0,05, sebesar 0,81 mm, sedangkan pada konsentrasi 2 dan 4% tidak terdapat zona hambat. Simpulan: Ekstrak metanol teripang putih (H. scabra) Mentawai memiliki zona hambat pada konsentrasi 8%, tetapi dalam kategori lemah (weak) dan kurang efektif jika dibandingkan dengan kontrol positif yaitu chlorhexidine 0,2%KATA KUNCI:  stomatitis aftosa rekuren, s. sanguinis, h. scabra, zona hambat, ekstrak teripangInhibition zone test of methanol extract of mentawai white sea cucumber (holothuria scabra) against streptococcus sanguinis in recurrent aphthous stomatitis in vitro: experimental studyABSTRACTIntroduction: Recurrent aphthous stomatitis (SAR) or canker sores are painful oval or round ulcers that occur recurrently and can heal spontaneously with or without treatment. Streptococcus sanguinis (S. sanguinis) plays a role in aggravating SAR in patients and mostly found in the of initial L forms. One of the animals that is widely used as an ingredient for alternative medicine is white sea cucumber or Holothuria scabra (H. scabra) from the Mentawai islands. The purpose of this study was to analyze the inhibition zone of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract against S. sanguinis in recurrent aphthous stomatitis (in vitro study). Methods: Laboratory experimental and posttest only control group designs were used in this study. The samples in this study were a dry form of methanol extract of white sea cucumber from Siberut island, Mentawai islands obtained in Padang city. The S. sanguinis ATCC 10556 bacteria obtained from the Inter-University Research Laboratory (PAU) of Gadjah Mada University, Yogyakarta. There were 5 treatment groups, namely 2, 4, and 8%, of white sea cucumber (H. scabra) methanol extract, as well as positive control (0.2% chlorhexidine) and negative control. Each treatment group was repeated 5 times so that the sample size was a total of 25 repetitions. The data obtained was processed using the Independent Sample test (T-Test). Results: The obtained zone of inhibition of the 8% methanol extract of white sea cucumber (H. scabra) against S. sanguinis was 0.81 mm, with a significance of 0.001 (<0.05), while at concentrations of 2% and 4% there were no zone of inhibition. Conclusion: Methanol extract of Mentawai white sea cucumber (H. scabra) has an inhibition zone at the best concentration of 8%, with a weak category against S. sanguinis bacteria and less effective when compared to the 0.2% chlorhexidine.KEY WORDS: recurrent aphthous stomatitis, s. sanguinis, h. scabra, inhibition zone, sea cucumber extract.
Penggunaan alat miofungsional pada anak dengan kebiasaan tongue thrusting: ulasan sistematik Rafa', Nadiya Fathya; Indriyanti, Ratna; Chemiawan, Eka
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54138

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Tongue thrusting adalah kebiasaan parafungsional yang umum terjadi ketika lidah berkontak dengan gigi anterior saat menelan. Alat miofungsional, atau alat fungsional, merupakan salah satu alat ortodonti yang dapat digunakan untuk menangani tongue thrusting. Tujuan tinjauan sistematik ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan alat miofungsional pada anak dengan kebiasaan tongue thrusting. Metode: Prosedur penelitian dalam tinjauan sistematik ini mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan dengan memasukkan kata kunci (myofunctional appliance OR functional appliance) AND (mixed dentition) AND (tongue thrust OR tongue thrusting) pada database PubMed, ScienceDirect, Scopus, EBSCOhost, dan Google Scholar dalam rentang waktu 2013-2023. Kriteria inklusi mencakup studi yang membahas penggunaan alat miofungsional pada anak di tahapan mixed dentition yang memiliki kebiasaan tongue thrusting. Artikel yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi kualitasnya menggunakan JBI critical appraisal tools. Hasil: Sebanyak 5 artikel yang memenuhi kriteria inklusi menunjukan bahwa alat miofungsional dapat menghilangkan kebiasaan tongue thrusting pada anak dengan mengoreksi pola menelan yang tidak normal (atypical swallowing) dan memperbaiki posisi lidah. Simpulan: Kebiasaan tongue thrusting pada anak dapat dihilangkan menggunakan alat miofungsional. Keberhasilan perawatan bergantung pada sikap kepatuhan dan kooperatif pada anak.KATA KUNCI: Alat miofungsional, alat fungsional, tongue thrusting, mixed dentitionThe use of myofunctional appliance on children with tongue thrusting habit: a systematic reviewABSTRACTIntroduction: Tongue thrusting is a common parafunctional habit that occurs when the tongue comes into contact with the anterior teeth during swallowing. Myofunctional appliance, or functional appliance, are orthodontic devices that can be used to treat tongue thrusting. This systematic review aims to determine the effectiveness of using myofunctional appliances in children with tongue thrusting habits. Methods: The research procedures for this systematic review followed PRISMA guidelines. Articles were searched using the keywords (myofunctional appliance OR functional appliance) AND (mixed dentition) AND (tongue thrust OR tongue thrusting) in databases including PubMed, ScienceDirect, Scopus, EBSCOhost, and Google Scholar, covering the period from 2013 to 2023. The inclusion criteria were studies discussing the use of myofunctional appliances in children in the mixed dentition stage with tongue thrusting habits. Articles meeting the inclusion criteria were evaluated for quality using the JBI critical appraisal tools. Results: A total of 5 articles meeting the inclusion criteria indicated that myofunctional appliance can eliminate tongue thrusting habits in children by correcting atypical swallowing patterns and improving tongue positioning. Conclusion: Tongue thrusting habits in children can be eliminated using myofunctional appliances. The success of the treatment depends on the child’s compliance and cooperation.KEYWORDS: Myofunctional appliance, functional appliance, tongue thrusting, mixed dentition
The relationship between oral health and confidence of medan city residents after the COVID-19 booster vaccination: a descriptive study Pasaribu, Melania Theresia; Zubaedah, Cucu; Suwargiani, Anne Agustina; Kadir, Rahimah Binti Abdul
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.51696

Abstract

ABSTRACT Introduction: The governments globally, including in Indonesia, aimed to return to pre-pandemic conditions via widespread vaccination. Indonesia mandated full and booster doses. The pandemic had impacted oral health, leading to increased stress and difficulties in oral cavity checks. This study investigated the link between dental/oral health and confidence in Medan City post-COVID-19 booster vaccination. Methods: The study was a descriptive correlational research on oral health's connection to confidence among Medan City residents who had received a COVID-19 vaccine booster. It employed non-probability sampling with convenience samples. The respondents were individuals who completed an online Google Form questionnaire. The research took place from May to June 2023, and the relationship between dental/oral health and confidence was analyzed using the Spearman correlation test. Results: The gathered data that met the population criteria consisted of 460 individuals. 412 (89.6%) individuals were categorized as having good oral health, while 448 (97%) were categorized as having good self-confidence. There was a positive and moderate correlation between oral health and self-confidence in the people of Medan City after receiving the COVID-19 booster vaccine, with a Spearman correlation coefficient of p=0.363. There was a positive correlation between oral health and self-confidence in the people of Medan city after receiving the COVID-19 booster vaccine. Conclusion: The relationship between oral health and confidence in health of Medan City residents after the COVID-19 booster vaccination based on this study was a positive correlation with moderate strength.KEY WORDS: dental health, community, confidence, post vaccination, COVID-19, booster.Hubungan kesehatan gigi dan mulut dengan kepercayaan diri masyarakat kota medan pasca vaksin COVID-19 taraf booster: studi deskriptifABSTRAK Pendahuluan: Pemerintah secara global, termasuk di Indonesia, bertujuan untuk kembali ke kondisi sebelum pandemi melalui vaksinasi massal. Indonesia mewajibkan dosis penuh dan dosis penguat. Pandemi telah berdampak pada kesehatan gigi dan mulut, meningkatkan stres dan kesulitan dalam pemeriksaan rongga mulut. Studi ini menyelidiki hubungan antara kesehatan gigi/mulut dan kepercayaan diri masyarakat di Kota Medan setelah vaksinasi penguat COVID-19. Metode: Studi ini merupakan penelitian deskriptif korelasional tentang hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dengan rasa percaya diri di antara penduduk kota Medan yang telah menerima vaksin booster COVID-19. Penelitian ini menggunakan teknik sampling non-probabilitas dan convenience. Responden penelitian adalah individu yang telah menyelesaikan kuesioner Formulir Google secara daring. Penelitian ini dilakukan dari Mei hingga Juni 2023. Hubungan antara kesehatan gigi/mulut dan rasa percaya diri dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Data yang terkumpul yang memenuhi kriteria terdiri dari 460 individu. Sejumlah 412 (89,6%) individu dikategorikan memiliki kesehatan gigi yang baik, sedangkan 448 (97%) dikategorikan memiliki kepercayaan diri yang baik. Terdapat korelasi positif dan sedang antara kesehatan gigi dan kepercayaan diri di masyarakat Kota Medan setelah menerima vaksin booster COVID-19, dengan koefisien korelasi Spearman p=0,363. Terdapat korelasi positif antara kesehatan gigi dan kepercayaan diri di masyarakat Kota Medan setelah menerima vaksin booster COVID-19. Simpulan: Hubungan antara kesehatan gigi dan kepercayaan diri penduduk Kota Medan setelah menerima vaksin booster COVID-19 memiliki korelasi positif dengan kekuatan sedang. KATA KUNCI: kesehatan gigi, masyarakat, kepercayaan diri, pasca vaksin, COVID-19, booster.
Uji toksisitas akut disclosing solutions buah naga super merah (Hylocereus costaricensis) freeze dry: studi eksperimental Yuslianti, Euis Reni; Dewi, Zwista Yulia; Al-wasi, Dimas Mohamad
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53195

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Buah naga super merah memiliki kandungan zat besi, vitamin C, Vitamin B1, B2, B12, dan pigmen warna betasianin serta karoten. Betasianin dan karoten berpotensi untuk digunakan sebagai zat pewarna plak alami (disclosing solution), namun penggunaan disclosing solution buah naga super merah belum terbukti aman. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keamanan disclosing solution alami buah naga super merah freeze dry  melalui uji toksisitas akut. Metode: Metode penelitian ini adalah laboratorium eksperimental dengan menggunakan subjek penelitian hewan coba 48 ekor mencit jantan dan betina. Terdapat empat kelompok perlakuan yaitu kelompok negatif, kelompok pemberian dosis 1250 mg/kgBB, 2500 mg/kgBB, dan 5000 mg/kgBB. Uji toksisitas akut ini mengamati kematian, perubahan berat badan, perubahan perilaku, dan berat organ relatif pada mencit. Data dianalisis dengan menggunakan uji one way ANOVA apabila (p>0,05) dan uji Kruskal Wallis untuk data (p<0,05). Hasil: Disclosing solution buah naga super merah tidak menyebabkan kematian dan efek toksik pada mencit, tidak terdapat perbedaan bermakna pada perubahan berat badan dan perilaku mencit, serta terdapat perbedaan yang bermakna pada indeks organ jantan meliputi organ jantung, paru, ginjal dan limfa. Simpulan: Penggunaan bahan disclosing solution buah naga super merah freeze dry pada mencit aman dan tidak toksik berdasarkan hasil uji toksisitas akut.KATA KUNCI Disclosing solutions, buah naga super merah, uji toksisitas akut.Acute toxicity test of freeze dry super red dragon fruit (Hylocereus costaricensis) disclosing solutions: study experimental ABSTRACTIntroduction: Super red dragon fruit contains iron, vitamin C, Vitamin B1, B2, B12, and the color pigments betasianin and carotene. Betasianin and carotene have potential as natural plaque coloring agents (disclosing solution). The safety of the disclosing solutions made of super red dragon fruit has not been proven yet. The purpose of this study was to determine the safety of disclosing solutions agents made of freeze dried super red dragon fruit, through acute toxicity tests. Methods: This research method is an experimental laboratory using animals, with 48 male and female mice each. There are four treatment groups, namely the negative group, the group giving doses of 1250 mg/kgBW, 2500 mg/kgBW, and 5000 mg/kgBW. This acute toxicity test observed mortality, weight change, behavior change, and relative organ weight in mice. Data were analyzed using one way ANOVA test if (p>0.05) and Kruskal Wallis test for data (p<0.05). Results: The disclosing solution of super red dragon fruit did not cause death and toxic effects on mice, there were no significant differences in changes in body weight and behavior of mice, and there were significant differences in male organ indices including heart, lung, kidney and lymph organs. Conclusion: The administration of the disclosing solutions made of super red dragon fruit freeze dried in mice is safe and non-toxic based on acute toxicity tests.KEY WORDS: Disclosing solutions, super red dragon fruit, acute toxicity test. 
Distribusi frekuensi kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak dengan Sindrom Down: studi cross-sectional Haq, Farsya Tsabita Al; Budiman, Hilmanda; Soewondo, Willyanti
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54164

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Sindrom Down merupakan kelainan kromosom paling umum yang disebabkan oleh terdapatnya kelebihan salinan pada kromosom 21 (trisomi 21). Sindrom Down menyebabkan gangguan perkembangan orofacial, seperti hipoplasia wajah bagian tengah serta hipotonus otot lidah dan bibir, yang dapat menimbulkan kebiasaan bernafas melalui mulut. Kebiasaan bernafas melalui mulut dapat mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan dentokraniofasial terhambat. Penelitian ini menggunakan metode pemeriksaan Massler’s water holding test yang belum pernah digunakan pada penelitian mengenai angka kebiasaan bernapas melalui mulut pada anak dengan Sindrom Down di Indonesia sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi frekuensi kebiasaan bernafas melalui mulut pada anak dengan Sindrom Down di Yayasan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional secara cross sectional. Subjek merupakan anak dengan Sindrom Down usia 3–18 tahun yang telah didiagnosis Sindrom Down oleh dokter anak. Subjek dipilih melalui metode accidental sampling menghasilkan 31 anak Sindrom Down yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran (Unpad) selama periode penelitian berlangsung. Kebiasaan bernafas melalui mulut ditentukan dengan metode pemeriksaan Massler’s water holding test, subjek diminta untuk menahan air sekitar 15ml di dalam mulut dengan bibir tertutup tanpa menelan air selama 2–3 menit. Apabila durasi kurang dari 2–3 menit, subjek dianggap mengalami kebiasaan bernafas melalui mulut. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 26 anak memiliki kebiasaan bernafas melalui mulut (83,87%) yang terdiri dari 9 anak laki-laki (34,62%) dan 17 anak perempuan (65,38%). Frekuensi usia tertinggi terdapat pada kelompok anak usia 7 tahun (15,38%).  Simpulan: Distribusi frekuensi kebiasaan bernafas melalui mulut, dengan metode pemeriksaan Massler’s water holding test, pada anak Sindrom Down di Yayasan POTADS Bandung adalah sebesar 83,87% Frequency distribution of mouth breathing in children with Down Syndrome: a cross-sectional studyntroduction: Down Syndrome is the most common chromosomal disorder caused by an extra copy of chromosome 21 (trisomy 21). Down syndrome often results in abnormal orofacial development, such as midface hypoplasia and hypotony of the muscles of the tongue and lips, which can lead to bad oral habits like mouth breathing. Mouth breathing can disturb dentocraniofacial growth and development. This study used the Massler's water holding test method that has never been used in previous studies for determining numbers of mouth breathing in children with Down syndrome in Indonesia. This study aims to determine the frequency distribution of mouth breathing among children with Down syndrome at the Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) Foundation Bandung. Method: This study used a cross-sectional descriptive observational design. The subjects of this study were children aged 3–18 years diagnosed Down Syndrome by pediatricians. An accidental sampling method was used to select 31 Down Syndrome children who visited Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Padjadjaran (Unpad) during the research period. Mouth breathing identified using the Massler's water holding test method whereas the subject was instructed to hold approximately 15 ml of water in their mouth for 2–3 minutes while keeping the lips closed and not swallowing any water. If the duration was less than 2–3 minutes, the subjects considered mouth breathing. Results: The results showed that 26 children (83.87%) breathed through their mouths. The gender-based frequency of mouth breathing showed 34,62% boys and 65,38% girls. Based on age, the 7-year-old group had the highest frequency of mouth breathing (15,38%). Conclusion: The frequency distribution of mouth breathing in children with Down Syndrome at the POTADS Foundation Bandung is 83,87%