cover
Contact Name
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
Contact Email
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students
ISSN : 26569868     EISSN : 2656985X     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah open access journal berbahasa Indonesia, yang menerbitkan artikel penelitian dari para peneliti pemula dan mahasiswa di semua bidang ilmu dan pengembangan dasar kesehatan gigi dan mulut melalui pendekatan interdisipliner dan multidisiplin. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran dua kali setahun, setiap bulan Februari dan Oktober. Bidang cakupan Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; ilmu kedokteran gigi anak; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya. Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students mengakomodasi seluruh karya peneliti pemula dan mahasiswa kedokteran gigi untuk menjadi acuan pembelajaran penulisan ilmiah akademisi kedokteran gigi.
Arjuna Subject : -
Articles 269 Documents
Daya antibakteri pasta gigi yang mengandung ekstrak biji kopi robusta (Coffea canephora) terhadap Treponema denticola: eksperimental laboratoris Perdana, Mohammad Daffa Duta; Praharani, Depi; Sari, Desi Sandra
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.52979

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Treponema denticola merupakan bakteri anaerob Gram negatif penyebab penyakit periodontal dan dominan pada plak subgingiva. Penyakit periodontal dapat dicegah dengan pengendalian plak secara mekanis, seperti menyikat gigi dengan pasta gigi. Salah satu bahan herbal yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pasta gigi adalah biji kopi robusta yang mengandung senyawa aktif antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis daya antibakteri pasta gigi yang mengandung ekstrak biji kopi robusta pada konsentrasi 12,5%, 25%, dan 50% terhadap T. denticola. Metode: Jenis penelitian yang digunakan yaitu eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian menggunakan the post test only control group design. Biji kopi robusta diekstraksi menggunakan metode maserasi, dan diformulasi menjadi pasta gigi dengan konsentrasi 12,5, 25 dan 50%. Uji antibakteri menggunakan metode difusi sumuran dengan media Mueller-Hinton Agar (MHA) yang telah diinokulasi T. denticola. Kelompok penelitian terdiri dari kelompok pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta  konsentrasi 12,5, 25, dan 50%, kontrol positif, dan kontrol negatif. Hasil: Terbentuk zona hambat pada kelompok pasta gigi yang mengandung ekstrak biji kopi robusta konsentrasi 12,5, 25, dan 50%, dan kontrol positif terhadap pertumbuhan T. denticola. Rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan berturut-turut dari konsentrasi ekstrak biji kopi robusta terendah hingga tertinggi adalah 11,02 mm; 12,81 mm; dan 15,95 mm dengan perbedaan yang signifikan di antara tiap konsentrasi (p<0,05). Simpulan: Pasta gigi yang mengandung ekstrak biji kopi robusta konsentrasi 12,5, 25, dan 50% memiliki daya antibakteri terhadap T. denticola. Pasta gigi dengan konsentrasi ekstrak 50% memperlihatkan daya antibakteri yang paling besar.KATA KUNCI: biji kopi robusta, antibakteri, pasta gigi, treponema denticola, penyakit periodontalAntibacterial activity of toothpaste containing robusta coffee bean (Coffea canephora)extract towards Treponema denticola: a laboratory experimental studyABSTRACT Introduction: Treponema denticola is a Gram-negative anaerobic bacterium that causes periodontal disease and is dominant in subgingival plaque. Periodontal disease can be prevented by mechanical plaque control, such as brushing teeth with toothpaste. One of the herbal ingredients that can be used as an additional ingredient for toothpaste is robusta coffee beans which contain active antibacterial compounds. The aim of this research was to analyze the antibacterial activity of toothpaste containing Robusta coffee bean extract at concentrations of 12.5, 25, and 50% against T. denticola. Methods: The type of research used is experimental with a research design using a posttest only control group design. Robusta coffee beans were extracted using the maceration method, and formulated into toothpaste with concentrations of 12.5, 25, and 50%. The well diffusion method with Mueller-Hinton Agar (MHA) media which had been inoculated with T. denticola was used for the antibacterial activity test. The research group consisted of toothpaste with 12.5% robusta coffee bean extract group, 25% group, and 50% group, as well as the positive control and negative control groups. Results: The inhibitory zone was formed in the toothpaste with 12.5% robusta coffee bean extract group, 25% group, 50%, and positive control group against the growth of T. denticola. The average diameter of the inhibition zone produced respectively from the lowest to the highest concentration of robusta coffee bean extract were 11.02 mm, 12.81 mm, and 15.95 mm, with significant differences between concentrations (p<0,05). Conclusion: Toothpaste containing robusta coffee bean extract at concentrations of 12.5, 25, and 50% showed the antibacterial activity against T. denticola. Toothpaste containing 50% of the robusta coffee bean extract showed the greatest antibacterial activity.KEY WORDS: robusta coffee bean, antibacterial, toothpaste, treponema denticola, periodontal disease
Perbedaan Efektivitas Konsumsi Buah Nanas dan Pepaya Sebagai Self Cleansing Terhadap Perubahan Debris Index Pada Siswa SDN 10 Sungai Sapih Kota Padang Zusuan, Indriana; Bakhtiar, Amri; Sari, Widya Puspita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53194

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Penyakit rongga mulut yang rentan menyerang adalah karies. Menurut Hasil Riskesdas 2018 di Indonesia, karies pada anak mencapai angka 93%. Tingginya angka karies dapat disebabkan oleh pilihan makanan yang dikonsumsi anak, sehingga diperlukan tindakan pencegahan salah satunya melalui konsumsi buah-buahan yang kaya serat dan air seperti nanas dan pepaya, yang bertindak sebagai pembersih mulut alami atau self cleansing. Tujuan penelitian untuk menganalisis perbedaan efektivitas konsumsi buah nanas dan pepaya sebagai self cleansing terhadap perubahan debris indeks pada siswa Sekolah Dasar. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi experimental dengan one-group pretest-posttest design. Sampel keseluruhan terdiri dari 70 orang, dengan 35 peserta mengonsumsi nanas dan 35 peserta lainnya mengonsumsi pepaya. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling. Parameter yang diuji adalah debris indeks sebelum dan sesudah konsumsi nanas dan pepaya. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan uji T-test menggunakan software SPSS 26. Hasil: Rerata debris indeks sebelum konsumsi nanas sebesar 1,583, sesudahnya menjadi 0,674, dan selisih skor 0,909. Nilai rerata debris indeks sebelum konsumsi pepaya adalah 1,677 menurun menjadi 0,629, sehingga terdapat selisih 1,048. Nilai p-value 0,00<0,05 untuk kedua buah. Simpulan: Terdapat perbedaan efektivitas konsumsi buah nanas dan pepaya untuk tujuan self cleansing dalam kaitannya dengan perubahan debris indeks pada siswa di SDN 10 Sungai Sapih Kota Padang. Pepaya menunjukkan efektivitas yang lebih besar dalam mengurangi skor debris indeks dibandingkan dengan nanas.KATA KUNCI: buah Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.), pepaya (carica papaya L.), self cleansing, debris indekDifferences in the effectiveness of pineapple consumption and papaya as self cleansing on changes in debris index in students : experimental studyABSTRACTIntroduction: An oral cavity disease that is susceptible to attack is caries. According to the 2018 Riskesdas results in Indonesia, caries in children reached 93%. The high rate of caries can be caused by the food choices that children consume, so preventive measures are needed, one of which is by consuming fruits rich in fiber and water such as pineapple and papaya, which act as natural mouth cleansers or self-cleansers.The aim of the research was to determine the disparity in the efficacy of consuming pineapple and papaya as self-cleansing on changes in debris index among students at SDN 10 Sungai Sapih, Padang City. Methods: The research uses a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest design. The total sample consisted of 70 people, with 35 participants consuming pineapple and the other 35 participants consuming papaya. The sampling technique is purposive sampling. The parameter measured is the debris index before and after consumption of pineapple and papaya. Data analysis used frequency distribution and T-test using SPSS 26 software. Results: The results showed that the average debris index before pineapple consumption was 1.583, after which it became 0.674, the difference between the scores was 0.909. The average value of the debris index before consuming papaya was 1.677, decreasing to 0.629, so there was a difference of 1.048. The p-value is 0.00<0.05 for both fruits. Conclusions: There is a difference in the effectiveness of consuming pineapple and papaya for self-cleansing purposes in relation to changes in debris index among students at SDN 10 Sungai Sapih, Padang City. Papaya shows greater effectiveness in reducing debris index scores compared to pineapple.KEYWORDS: pineapple (ananas comosus (L.) Merr.), pawpaw (Carica papaya L.), self cleansing, debris index
Efek berkumur menggunakan chlorine dioxideterhadap penurunan akumulasi plak: studi eksperimental Ahmad, Alifah Halimah; Gartika, Meirina; Pratidina, Naninda Berliana
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54132

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Plak gigi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya karies. Pengendalian plak secara kimiawi dilakukan menggunakan obat kumur. Obat kumur klorheksidin (CHX) dan chlorine dioxide (ClO2) membantu menurunkan plak pada permukaan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan penurunan skor plak setelah penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Metode: Penelitian menggunakan studi eksperimental acak terkontrol dan menyilang dua periode dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Penelitian dilakukan pada 30 siswa di SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok I diinstruksikan berkumur obat kumur ClO2 dan kelompok II diinstruksikan berkumur obat kumur CHX 0.2%, dua kali sehari selama tiga hari. setelah tujuh hari periode washed out, masing-masing kelompok menggunakan obat kumur yang berlawanan. Pengukuran skor plak dilakukan sebelum dan sesudah pemakaian obat kumur menggunakan indeks O’Leary. Uji reliabilitas antar rater menggunakan Intraclass Correlation Coefficient (ICC). Uji kesepakatan antar rater didapatkan nilai ICC termasuk kategori baik (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Pengolahan data menggunakan uji t berpasangan dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Penelitian menunjukkan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan obat kumur mengalami penurunan yang signifikan(p<0.05), namun tidak ada perbedaan penurunan skor plak yang signifikan antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX (p=0.414). Simpulan: Terdapat perbedaan skor plak sebelum dan sesudah penggunaan dari obat kumur ClO2 dan CHX serta tidak terdapat perbedaan penurunan skor plak antara penggunaan obat kumur ClO2 dan CHX. Obat kumur ClO2 dapat menjadi alternatif perawatan tambahan dalam penurunan plak pada anak.  KATA KUNCI: obat kumur chlorine dioxide, klorheksidin, indeks plak, indeks O’LearyChlorine dioxide mouthwash effect in reducing plaque accumulation: a randomized controlled trial with two-period crossover studyABSTRACTIntroduction: Dental plaque is one of the factors causing dental caries. Chemical plaque control is achieved through the use of mouthwash. Chlorhexidine (CHX) and chlorine dioxide (ClO2) mouth rinses help reduce plaque on tooth surface. This study aims to analyze the differences in plaque score reduction after using ClO2 and CHX mouthwash. Methods: This research utilized a randomized controlled crossover design with purposive sampling. The research was conducted on 30 students in grades 4-6 at SD Islam Bakti Asih Kabupaten Bandung, divided into two groups. Group I was instructed to rinse with ClO2 and Group II with 0.2% CHX, twice daily for three days. After a seven-day washout period, each group switched to the opposing mouthwash. Plaque scores were measured before and after mouth rinse use using the O’Leary index. Inter-rater reliability was tested using Intraclass Correlation Coefficient (ICC).  The result demonstrated that the ICC of all examiners was in good agreement (r=0.886, 95% confidence interval (CI)). Data were analyzed using paired t-tests and unpaired t-tests. Results: This research shows that plaque scores before and after using mouthwash decreased significantly (p<0.05). However, there was no significant difference in plaque scores reduction between ClO2 and CHX mouthwash (p=0.414). Conclusion: There was a difference in plaque scores before and after using ClO2 and CHX mouthwash, and there was no difference in reduced plaque scores between ClO2 and CHX mouthwash. ClO2 mouthwash could be an alternative additional treatment for reducing plaque in children.KEY WORDS: chlorine dioxide mouthwash, chlorhexidine, plaque index, O’Leary index
Penilaian kebersihan gigi dan mulut menggunakan disclosing solution sintetis pada aplikasi HI BOGI siswa SD usia 10-12 tahun : studi deskriptif Bahtiar, Laily Rufaida; Fadillah, Rina Putri Noer; Sarwendah, Sri
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.51177

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Plak merupakan kumpulan mikroba berupa biofilm pada permukaan gigi yang dapat mempengaruhi sistem rongga mulut. Era digitalisasi yang meningkat selama pandemi COVID-19 menyebabkan perkembangan digital 4.0 juga dirasakan di bidang kedokteran gigi. Dikenal dengan nama Teledentistry salah satunya perangkat lunak HI BOGI, teknologi yang dapat menunjang pemeriksaan gigi dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut secara online. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penilaian kebersihan gigi dan mulut menggunakan disclosing solution sintetis pada aplikasi HI BOGI pada siswa SD usia 10-12 tahun. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif. Subjek penelitian ini merupakan siswa/i SD Kota Cimahi. Sampel berjumlah 113 orang menggunakan cluster random sampling dari 3 kecamatan di Wilayah Kota Cimahi. Indikator dan standar penilaian untuk dilakukannya pengukuran kebersihan gigi dan mulut adalah Patient Hygiene Performance Index. Analisis data menggunakan statistik univariate berupa distribusi frekuensi. Hasil: Penilaian kebersihan gigi dan mulut menggunakan Patient Hygiene Performance Index plak pada 113 anak didapatkan hasil nilai rerata indeks plak sebesar 0.478 termasuk pada kriteria baik. Berdasarkan wilayah Kecamatan Kota Cimahi yaitu indeks plak di Kecamatan Cimahi Utara (0,46), Kecamatan Cimahi Tengah (0,63), Kecamatan Cimahi Selatan (0,38). Simpulan: Penilaian kebersihan gigi dan mulut menggunakan disclosing solution sintetis pada aplikasi HI BOGI siswa SD usia 10-12 tahun berada pada kategori baik, dimana indeks plak pada siswa SD usia 10-12 tahun didapatkan hasil sebesar 0,478 dikategorikan baik. Assessment of dental hygiene using synthetic disclosing solution in HI BOGI application for 10-12 year olds: a study descriptive Introduction: Plaque is a collection of microbes in the form of biofilms on the tooth surface that can affect the oral cavity system. The surge in digitalization during the COVID-19 pandemic has caused the development of "digital 4.0" to be felt in dentistry. Known as Teledentistry, one of them is the HI BOGI software, a technology that can support dental examinations and improve dental and oral health online. This study aimed to determine the description of dental and oral hygiene in elementary school students aged 10–12 years in Cimahi City using a synthetic disclosing solution with the application of HI BOGI. Methods: The research method used in this study was descriptive research. The subjects of this study were elementary school students in Cimahi City. The sample was 113 people, selected using cluster random sampling from three sub-districts in the Cimahi City region. Indicators and assessment standards for measuring dental and oral hygiene for this study were: Patient Hygiene Performance Index. Data analysis was conducted using univariate statistics in the form of frequency distribution. Results: The study's findings revealed that after examining the plaque index in 113 children, the average plaque index value was 0.478, which included the "good" criteria. Based on the Cimahi City District, the plaque index is 0.46 in the North Cimahi District, 0.63 in the Central Cimahi District, and 0.38 in the South Cimahi District. All districts of Cimahi City were included in the "good" category. Conclusion: The assessment of oral hygiene using synthetic disclosing solution in the HI BOGI application for elementary school students aged 10-12 years fall into the good category, with a plaque index of 0.478, which is considered good.
Korelasi jumlah kehilangan gigi terhadap fungsi kognitif lansia yang tidak menggunakan gigi tiruan: studi cross-sectional Shavitri, Nadya; Asia, Asyurati; Priandini, Dewi
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.53066

Abstract

Pengalaman karies dan prevalensi karies gigi permanen menggunakan aplikasi HI BOGI pada usia 11-12 tahun: studi cross-sectional Ulum, Bakhrul; Hadi, Ella Nurlaella
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.53417

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian dari kesehatan tubuh yang harus diperhatikan khususnya pada anak usia 11-12 tahun. Hal tersebut dikarenakan kondisi pertumbuhan gigi pada anak usia 11-12 tahun berada pada fase gigi campuran akhir ke gigi permanen. Karies gigi menjadi penyakit pada area rongga mulut  yang sering sekali terjadi khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan melihat pengalaman karies gigi dan prevalensi karies gigi dengan menggunakan aplikasi HI BOGI pada anak usia 11-12 tahun. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional dengan desain penelitian cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh murid kelas 6 di SDN Cimahi Mandiri 2 yang berjumlah 167 murid dan didapatkan besar minimal sampel sebanyak 75 responden. Penelitian dilakukan dengan melakukan foto intraoral pada anak usia 11-12 tahun yang telah terpilih sesuai dengan kriteria inklusi yang sudah ditentukan, kemudian dilakukan penilaian indeks DMF-T serta penilaian prevalenssi karies gigi. Hasil: Sejumlah 89 murid menjadi subyek dalam penelitian ini, sebagian besar berusia 12 tahun (62,9%) dan berjenis kelamin laki-laki (53,9%). Angka indeks karies gigi permanen (DMF-T) didapatkan sebesar 1,12 dengan angka prevalensi karies sebesar 56,2%. Sebanyak 43,8% anak berada dalam kondisi bebas karies. Simpulan: Pengalaman karies gigi pada murid usia 11-12 tahun menggunakan aplikasi HI BOGI termasuk kedalam kategori sangat rendah dengankategori decay pada indeks DMF-T sebanyak 100 gigi.Experience and prevalence of dental caries using HI BOGI application at 11-12 years of age: a cross-sectional studyIntroduction: Dental and oral health is one part of body health that must be paid attention to, especially in children aged 11-12 years. At this stage, children are in the final mixed teeth phase to permanent teeth. Dental caries is the most common disease of the oral cavity, especially in Indonesia. This study aims to examine the prevalence of permanent dental caries among children aged 11-12 years in Cimahi City, West Java, Indonesia. Methods: The research method used was descriptive observational with a cross sectional research design. The study population comprised all 6th grade students at SDN Cimahi Mandiri 2, totalling 167 students, with a minimum sample size of 75 respondents. Intraoral photographs were captured on children aged 11-12 years who had been selected according to inclusion criteria, then the DMF-T index was assessed and dental caries prevalence Results: Eighty–nine students were enrolled in this study, showing that the majority of respondents were 12 years old (62,9%) and male (53,9%). The permanent tooth caries index (DMF-T) was 1.12 with a prevalence of dental caries in students aged 11-12 years at SDN Cimahi Mandiri 2 is 56.2%. A total of 43.8% children were found to be free caries. Conclusion: The experience of dental caries in students aged 11-12 years at SDN Cimahi Mandiri 2 was categorized as very low and The decay category on the DMF-T index has a total of 100 teeth. 
Aktivitas antijamur ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) terhadap pertumbuhan Candida albicans pada basis akrilik alat ortodonti lepasan: studi eksperimental Kintaka, Malvina Aaliyya; Arma, Utmi; Alamsyah, Yenita
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.52756

Abstract

Hubungan instruksi dokter gigi, pengetahuan dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi : cross-sectional study Adhani, Rosihan; Fitrian, Muhammad Soni; Nurrahman, Tri; Sari, Galuh Dwinta; Wardani, Ika Kusuma
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i1.50682

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Kasus kerusakan gigi di Kota Banjarmasin sebesar 37,62% dan angka ekstraksi gigi yaitu 9,42%. Kejadian komplikasi pasca ekstraksi dapat terjadi 16,8% fraktur mahkota, 13,6% fraktur akar, 4% dry socket, 1,6% perdarahan, dan rasa sakit sebesar 1,6%. Ekstraksi gigi merupakan tindakan pengambilan gigi dan akar gigi dari soketnya yang melibatkan jaringan keras dan jaringan lunak dalam rongga mulut. Salah satu faktor penting yang memengaruhi proses penyembuhan luka pasca ekstraksi gigi yaitu kepatuhan pasien terhadap instruksi yang diberikan oleh dokter gigi. Tujuan: Penelitian ini menganalisis hubungan instruksi dokter gigi, pengetahuan pasien, dan pengalaman pasien terhadap tingkat kepatuhan pasien pasca ekstraksi gigi. Metode: Penelitian menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 33 orang yang memenuhi kriteria yaitu pasien pasca ekstraksi gigi di Poli Gigi Bedah Mulut Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman usia 18-60 tahun maksimal esktraksi gigi 3 bulan terakhir, pasien yang diekstraksi dengan metode intraalveolar, pasien tanpa kebutuhan khusus, dan pasien tanpa penyakit sistemik menggunakan kuisioner dan hasil datanya akan dianalisis dengan menggunakan SPSS dengan motede analitik korelatif. Hasil: Instruksi dokter gigi dan pengetahuan pasien berhubungan dengan tingkat kepatuhan pasien sedangkan pengalaman tidak memiliki hubungan dengan tingkat kepatuhan pasien. Simpulan: Komplikasi dan gangguan penyembuhan luka dapat diminimalisir dengan meningkatkan efektifitas instruksi kepada pasien.  KATA KUNCI: Instruksi dokter gigi, pengetahuan, pengalaman, tingkat kepatuhan, komplikasi.Relationship of dentist instructions, patient knowledge and experience to the level of compliance of patients after tooth extraction : cross-sectional studyABSTRACTIntroduction: Cases of tooth decay in Banjarmasin City are 37.62% and the tooth extraction rate is 9.42%. The incidence of post-extraction complications can occur in 16.8% of crown fractures, 13.6% of root fractures, 4% of dry sockets, 1.6% of bleeding, and 1.6% of pain. Tooth extraction is the act of removing teeth and tooth roots from their sockets which involves hard tissue and soft tissue in the oral cavity. One important factor that influences the wound healing process after tooth extraction is the patient's compliance with the instructions given by the dentist. Objective: This study analyzes the relationship between dentist instructions, patient knowledge and patient experience on the level of patient compliance after tooth extraction. Method: The research used analytical methods with a cross sectional approach with a non-probability sampling technique, namely purposive sampling with a sample size of 33 people who met the criteria, namely post-tooth extraction patients at the Oral Surgery Dental Clinic, Gusti Hasan Aman Dental and Oral Hospital, aged 18-60 years. maximum tooth extraction in the last 3 months, patients extracted using the intraalveolar method, patients without special needs, and patients without systemic disease using a questionnaire and the data results will be analyzed using SPSS with a correlative analytical method. Results: Dentist instructions and patient knowledge were related to the level of patient satisfaction while experience had no relationship with the level of patient compliance. Conclusion: Complications and disturbances in wound healing can be minimized by increasing the effectiveness of the process for patients.KEY WORDS: Dentist's instructions, knowledge, experience, level of compliance, complication.
Perbedaan Penurunan Jumlah Bakteri Bioaerosol Dalam Tindakan Preprocedural Oral Rinse Menggunakan Klorheksidin Glukonat 0,2% dan Povidone Iodine 1% Pada Prosedur Skeling Ultrasonik Khairiah, Arifatul; Malinda, Yuti; Suciati, Ame
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.56096

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Dokter sering kali bersentuhan langsung atau tidak langsung dengan mikroorganisme dari pasien.Bioaerosol terbentuk selama prosedur gigi yang melibatkan rotary instrument. Langkah-langkah pengendalian infeksi dalam praktik kedokteran gigi sangat penting untuk mencegah infeksi silang. Preprocedural oral rinse merupakan salah satu langkah pengendalian infeksi yang dilakukan pada pasien sebelum tindakan klinis.Penelitian ini bertujuan menilai perbedaan penurunan jumlah bakteri bioaerosol dalam tindakan preprocedural oral rinse menggunakan Klorheksidin Glukonat (CHX) 0,2% dan Povidone Iodine (PV) 1%. Metode: Penelitian eksperimen dilakukan menggunakan metode randomized controlled clinical trials (RCT) yang melibatkan 14 subjek pasien skeling yang sehat secara sistemik dengan diagnosis gingivitis. Lempeng agar diposisikan di tiga lokasi yaitu, dada pasien, dokter gigi, dan asisten. Kemudian dilakukan skeling ultrasonik selama 5 menit tanpa berkumur. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu, pasien yang berkumur dengan CHX 0,2% dan pasien yang berkumur dengan PV 1% selama 30 detik. Lempeng agar ditempatkan pada tiga lokasi yang sama, dan skeling ultrasonik dilanjutkan selama 5 menit. Lempeng agar diinkubasi pada suhu 36°C selama 24 jam dan koloni bakteri yang terbentuk dihitung. Hasil: Jumlah koloni bakteri bioaerosol pada lempeng agar yang ditempatkan di dada pasien dan asisten menurun setelah berkumur dengan CHX 0,2% dan PV 1%. Klorheksidin glukonat menurunkan jumlah koloni bakteri sebesar 17,11%, sementara povidon iodine meningkat 3,19%. Terdapat perbedaan signifikan sebelum dan sesudah berkumur CHX 0,2% di semua lokasi (p<0,05), sedangkan PV 1% tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p=0,182). Simpulan: Berkumur dengan klorheksidin glukonat 0,2% dapat menurunkan jumlah koloni bakteri bioaerosol saat skeling ultrasonik dibandingkan povidone iodine.KATA KUNCI: bioaerosol, preprocedural oral rinse, obat kumur, skeling ultrasonik  Differences in the reduction of bioaerosol bacterial colonies in preprocedural oral rinse using chlorhexidine gluconate 0,2% and povidone iodine 1% during ultrasonic scaling procedure: experimental studyABSTRACTIntroduction: Dentists frequently come into direct or indirect contact with microorganisms from patients. Bioaerosols are formed during dental procedures involving rotary instruments. Infection control measures in dental practice are crucial to prevent cross-infection. Preprocedural oral rinsing is an infection control measure performed on patients before clinical procedures. This study aims to evaluate the difference in the reduction of bacterial bioaerosol counts using 0.2% Chlorhexidine Gluconate (CHX) and 1% Povidone Iodine (PV) as preprocedural oral rinses. Methods: The study used an experiment with a randomized controlled clinical trial (RCT) method involving 14 systemically healthy scaling patients diagnosed with gingivitis. Agar plates were positioned in three locations: the patient's chest, the dentist, and the assistant. Ultrasonic scaling was performed for 5 minutes without rinsing. Subjects were divided into two groups: patients who rinsed with 0,2% CHX and patients rinsing with 1% PV for 30 seconds. Agar plates were placed in the same three locations, and ultrasonic scaling was continued for 5 minutes. The agar plates were incubated at 36°C for 24 hours, and bacterial colonies were counted. Results: The number of bioaerosol bacterial colonies on agar plates placed on the patient's chest and the assistant decreased after rinsing with 0.2% CHX and 1% PV. Chlorhexidine gluconate reduced bacterial colonies by 17,11%, while povidone iodine increased it by 3,19%. There was a significant difference before and after rinsing with 0,2% CHX at all locations (p<0.05), while 1% PV showed no significant difference (p=0,182). Conclusion: Rinsing with 0,2% Chlorhexidine Gluconate reduces the number of bacterial bioaerosol colonies during ultrasonic scaling compared to povidone iodine.KEY WORDS: bioaerosol, preprocedural oral rinse, mouth rinses, ultrasonic scaling
Perbedaan densitas dan partikel tulang mandibula kiri dan kanan pada penderita diabetes melitus tipe 2 dan bukan diabetes melitus tipe 2 menggunakan : studi deskriptif Hadiputri, Felicia; Epsilawati, Lusi; Damayanti, Merry Annisa; Tjahajawati, Sri; Hadikrishna, Indra
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 8, No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v8i2.54091

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Salah satu komplikasi diabetes melitus adalah terganggunya kesehatan tulang. Banyak analisis yang dapat digunakan untuk menilai kualitas tulang pada penderita DM tipe 2, seperti menghitung jumlah partikel dan densitas tulang. Tujuan penelitian ini adalah melihat perbedaan nilai densitas dan jumlah partikel pada tulang mandibula kiri dan kanan pasien penderita dan bukan penderita DM tipe 2. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode deskripsi observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi merupakan semua radiograf panoramik dari pasien penderita dan bukan penderita DM tipe 2, sedangkan sampel ditentukan dengan memilih data yang sesuai kriteria. Data keseluruhan yang terkumpul berjumlah 34 radiograf dari pasien penderita DM tipe 2 dan 34 radiograf pada pasien bukan penderita DM tipe 2. Setiap radiograf panoramik, baik mandibula kiri maupun kanan, dianalisis nilai densitas dan jumlah partikelnya menggunakan software ImageJ. Data kemudian diolah dengan uji statistik Mann-Whitney U dengan p-value >0,05 dianggap signifikan. Hasil: Nilai rerata densitas kanan dan kiri pasien penderita DM tipe 2 adalah 92,998 dan pasien bukan penderita DM tipe 2 adalah 102,582. Perbedaan densitas bernilai signifikan dengan p-value 0,01 pada sisi kanan dan 0,009 pada sisi kiri. Nilai rata-rata partikel tulang pasien penderita DM tipe 2 adalah 24,087 dan pasien bukan penderita DM tipe 2 adalah 25,205, namun tidak berbeda signifikan, dengan p-value 0,466 untuk sisi kanan dan 0,051 untuk sisi kiri. Simpulan: Ditemukan perbedaan pada nilai densitas pasien penderita DM tipe 2 dibandingkan dengan pasien bukan penderita DM tipe 2. Hal ini menyebabkan tulang mandibula menjadi lebih rapuh sekalipun jumlah partikel tulang pada pasien penderita DM tipe 2 tidak mengalami perbedaan dibandingkan pasien bukan penderita DM tipe 2. Differences in density and particles of the left and right in patients with type 2 diabetes mellitus and non-diabetes mellitus: a descriptive studyIntroduction: One of the complications of diabetes melitus  is the impairment of bone health. Various analyses can be used to assess bone quality in patients with type 2 DM, including calculating the number of particles and bone density. This study aims to examine the differences in the density and particles count values of the left and right mandibular bones in patients with and without type 2 DM. Methods: This research utilized an observational descriptive method with a cross-sectional study design. The population comprised all panoramic radiographs from patients with and without T2DM, while the sample was determined by selecting data that met specific criteria. A total of 34 radiographs with T2DM and 34 radiographs without T2DM were included in the study. ImageJ software was used to analyze the density and the number of bone particles of each panoramic radiograph, both on the left and right side. The data were processed with statistical analysis, specifically the Mann-Whitney U test with significance determined at a p-value >0.05. Results: The average density values for the right and left sides in patients with T2DM were 92.998, while in patients without T2DM, it was 102.582. The difference in mandibular density was significant, with p-values 0.01 for the right side and 0.009 for the left side.The average number of bone particles in patients with T2DM is 24.087, compared to 25.205 in patients without T2DM, and not significantly different, with p-values 0.466 for the right side and 0.051 for the left side. Conclusions: Differences in mandibular density were observed between patients with and without T2DM, leading to increased fragility of the mandibular bone in T2DM patients. However, no significant differences were found in the number of bone particles between patients with and without T2DM.