cover
Contact Name
Tri Widayanti
Contact Email
triwida.oku@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
triwida.oku@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Health Sciences and Pharmacy Journal
ISSN : 26221268     EISSN : 25992015     DOI : -
Core Subject : Health,
Health Sciences and Pharmacy is journal which is published by Institute of Health Science Surya Global Yogyakarta. This journal is focus on health sciences and pharmacy. It is published three times in year, that is on April, August, and December.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "vol. 10 no. 2 (2026)" : 8 Documents clear
Pengaruh pelatihan BHD terhadap pengetahuan mahasiswa nonkesehatan pada henti jantung Arya Prasetya; Eirene Eunike Meidiana Gaghauna; Angga Irawan; Bagus Rahmat Santoso
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1467

Abstract

Henti jantung merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan respons cepat dan tepat. Mahasiswa nonkesehatan, sebagai bagian dari masyarakat umum, memiliki peluang besar menjadi penolong pertama, namun sering kali memiliki pengetahuan yang terbatas mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pelatihan BHD terhadap tingkat pengetahuan mahasiswa nonkesehatan dalam melakukan pertolongan pertama pada korban henti jantung. Metode pada penelitian kuantitatif ini menggunakan desain one group pretest-posttest. Sampel terdiri dari 32 mahasiswa nonkesehatan semester III Universitas Sari Mulia yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, lalu dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian yaitu terdapat peningkatan signifikan tingkat pengetahuan mahasiswa setelah mengikuti pelatihan BHD, dengan nilai p = 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan efektivitas pelatihan dalam meningkatkan pemahaman peserta terkait pertolongan pertama pada henti jantung. Simpulan dinyatakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar efektif dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa nonkesehatan. Kegiatan pelatihan semacam ini perlu diintegrasikan secara rutin dalam program pendidikan nonkesehatan sebagai upaya preventif dalam menghadapi kegawatdaruratan di lingkungan masyarakat.
Analisis pengendalian obat di Puskesmas Pajang menggunakan metode ABC-VEN Hesty Hayuning Tyas; Umi Nafisah; Annora Rizky Amalia
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1498

Abstract

Pengelolaan persediaan obat merupakan salah satu aspek penting dalam menjamin mutu pelayanan kefarmasian di puskesmas, terutama dalam kondisi keterbatasan anggaran dan tingginya kebutuhan pelayanan kesehatan. Metode ABC–VEN dapat digunakan untuk membantu menentukan prioritas pengendalian obat berdasarkan nilai investasi dan tingkat kepentingan klinis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian obat di Puskesmas Pajang menggunakan metode ABC–VEN berdasarkan sumber dana APBD dan BLUD. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif retrospektif dengan data Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) periode Januari–Desember 2025 dan teknik total sampling. Hasil analisis ABC menunjukkan bahwa kategori A mendominasi nilai investasi, yaitu 70,70% (APBD) dan 70,59% (BLUD). Analisis VEN menunjukkan dominasi kategori essential sebesar 82,07% (APBD) dan 73,28% (BLUD). Kombinasi ABC–VEN menunjukkan kategori utama (U) sebagai kelompok dominan, yaitu 82% (APBD) dan 73% (BLUD), sedangkan kategori prioritas (P) relatif kecil, yaitu 0,30% dan 2%. Proporsi anggaran pada kategori non-essential masih cukup tinggi, terutama pada BLUD (24,62%).
Efektifitas pelatihan preceptorship dan mentorship terhadap pengetahuan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Ani Mashunatul Mahmudah; Rohayati Masitoh; RR Viantika Kusumasari; Sri Riyana
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1529

Abstract

Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan merupakan salah satu strategi penting dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit. Pelatihan preceptorship dan mentorship merupakan metode pengembangan sumber daya manusia yang bertujuan meningkatkan kemampuan pembimbing klinik dalam melaksanakan proses bimbingan secara efektif. Namun, bukti mengenai efektivitas pelatihan tersebut terhadap peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan di rumah sakit masih terbatas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas pelatihan preceptorship dan mentorship terhadap pengetahuan tenaga kesehatan di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif pre-experimental dengan rancangan one-group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2025 di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Populasi penelitian adalah 45 pembimbing klinik dengan teknik total sampling. Sebanyak 30 responden yang mengikuti seluruh rangkaian penelitian dianalisis sebagai sampel akhir. Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pelatihan. Data dianalisis secara univariat, dilanjutkan uji normalitas Shapiro Wilk dan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian ini mendapatkan rerata skor pengetahuan meningkat dari 63,20 pada pre-test menjadi 80,00 pada post-test, dengan peningkatan rerata sebesar 16,80 poin. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat 21 responden mengalami peningkatan skor, 4 responden mengalami penurunan, dan 5 responden memiliki skor yang tetap. Analisis statistik menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan (p = 0,000). Pelatihan preceptorship dan mentorship terbukti efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan di RSUD Panembahan Senopati Bantul.
Faktor yang berhubungan dengan keluhan low back pain pada perajin tas dan bambu Nor Wijayanti
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1534

Abstract

Low Back Pain (LBP) merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang sering dialami pekerja, terutama pada pekerjaan dengan aktivitas berulang dan postur kerja yang kurang ergonomis. Pekerja perajin tas dan bambu memiliki karakteristik pekerjaan yang sebagian besar dilakukan secara manual dan dalam posisi duduk dalam waktu lama. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan low back pain pada pekerja sektor industri perajin tas dan bambu. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi sekaligus sampel penelitian adalah 30 perajin tas dan bambu di Padukuhan Bojong RT 02, Wonolelo, Pleret, Kabupaten Bantul, yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Faktor yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, masa kerja, dan posisi duduk. Keluhan LBP diukur menggunakan skala nyeri, sedangkan posisi duduk dinilai menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA). Analisis bivariat menggunakan uji Mann-Whitney untuk variabel nominal dan Kendall’s Tau untuk variabel ordinal dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden mengalami LBP dengan kategori nyeri ringan (43,3%). Terdapat perbedaan keluhan LBP berdasarkan jenis kelamin (Z=-3,891; p=0,001) dan usia (Z=-2,155; p=0,031). Masa kerja menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat dengan keluhan LBP (?=0,837; p<0,001). Disimpulkan bahwa jenis kelamin, usia, masa kerja, dan posisi duduk berhubungan dengan keluhan LBP pada pekerja sektor industri perajin tas dan bambu.
Pola makan sebagai bagian dari terapi dislipidemia di pelayanan kefarmasian: studi kasus di Apotek Neo Yudefar Andri Priyoherianto; Ach. Zakyah Al Fauzi; Dita Salsabila Afandi; Fahmi Ardianti Purnawiranita
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1450

Abstract

Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular yang memerlukan penatalaksanaan komprehensif melalui terapi farmakologis dan nonfarmakologis. Pola makan berperan penting dalam menunjang efektivitas terapi penurun kolesterol, sementara ketepatan profil pengobatan turut menentukan keberhasilan terapi dalam konteks pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola makan dan profil pengobatan dislipidemia pada pasien di Apotek Neo Yudefar. Penelitian observasional non-eksperimental ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional, dilaksanakan pada Januari–Maret 2025. Sampel penelitian berjumlah 100 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dari populasi pasien dislipidemia di Apotek Neo Yudefar. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, mencakup karakteristik responden, pola makan, dan profil pengobatan, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui analisis univariat. Sebagian besar responden menunjukkan pola makan yang kurang baik, ditandai dengan tingginya konsumsi makanan digoreng, berlemak, dan jeroan, meskipun sebagian responden telah mengonsumsi sayur, buah, dan air putih dalam jumlah cukup. Pada profil pengobatan, terapi farmakologis didominasi oleh golongan statin dengan konsistensi waktu dan cara konsumsi yang relatif baik, sejalan dengan karakteristik farmakokinetik obat; namun demikian, sebagian responden masih mengonsumsi obat tanpa resep dokter, mengalami efek samping, atau tidak konsisten dalam waktu konsumsi obat. Pengendalian dislipidemia pada penelitian ini belum sepenuhnya optimal, karena penerapan pola makan sehat sebagai bagian dari terapi nonfarmakologis masih lemah meskipun profil pengobatan farmakologis relatif tepat. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan edukasi pasien berbasis pelayanan kefarmasian untuk mengoptimalkan keberhasilan terapi dislipidemia secara menyeluruh.
Efektivitas pengkajian European Stroke Scale dan Guy’s Hospital Stroke dalam perolehan diagnosis keperawatan aktual Priadi Priadi; M.Sobirin Mohtar; Muhammad Riduansyah; Onieqie Ayu Dhea Manto
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1465

Abstract

Pelayanan pasien stroke di IGD yang diberikan oleh perawat dan diharuskan melakukannya secara cepat dan efektif. Hal ini bisa dicapai dengan adanya instrumen pengkajian yang tepat. Namun, dengan banyaknya model pengkajian stroke yang memiliki karakteristik tersendiri, perawat masih ragu untuk menentukan manakah yang lebih efektif dalam menentukan suatu diagnosis keperawatan, yaitu European Stroke Scale (ESS) dan Guy's Hospital Stroke Score (GHSS). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis efektivitas pengkajian European Stroke Scale (ess), dan Guy's Hospital Stroke Score (GHSS) dalam durasi pengkajian dan durasi perolehan diagnosis keperawatan pasien stroke di IGD. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan pra-eksperimen one-shot case study (posttest-only design). dan jumlah sampel sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling, instrumen yang digunakan: lembar observasi (ESS) dan (GHSS), stopwatch, SDKI, uji statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan rata-rata perbedaan durasi pengkajian (ESS) adalah 21,47 Menit dan (GHSS) adalah sebesar 10,67 menit. Berdasarkan hasil uji statistik, nilai p = 0,000 (< 0,05), yang artinya ada perbedaan, sedangkan perbedaan rata-rata durasi perolehan diagnosis keperawatan (ESS) adalah 21,2 menit dan (GHSS) adalah sebesar 16,4 menit. Berdasarkan uji statistik diketahui nilai Sig. Sebesar P = 0,001 (<0,05), yang artinya ada perbedaan. Simpulan dalam penelitian ini yaitu penggunaan metode pengkajian (ESS) lebih kompatibel digunakan pada saat kegawatdaruratan karena metode pengkajiannya yang sederhana dan cepat, sedangkan pengkajian (GHSS) cukup memakan waktu sehingga pengkajian ini akan lebih mudah jika dilakukan oleh 2 orang perawat.
Korelasi sedentary life dengan risiko kejadian diabetes mellitus pada remaja Wina El Lisya; Eirene Eunike Meidiana Gaghauna; Dede Mahdiyah; RR. Dwi Sogi Sri Redjeki
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1468

Abstract

Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah dan berpotensi menimbulkan berbagai komplikasi serius. Saat ini, diabetes mellitus tidak hanya menyerang kelompok usia dewasa, tetapi juga mulai banyak ditemukan pada remaja. Salah satu faktor risiko yang berperan adalah sedentary life, yaitu kebiasaan duduk dalam waktu lama dengan aktivitas fisik yang minimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku sedentary life dengan risiko kejadian diabetes mellitus pada remaja di Universitas Sari Mulia. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 66 mahasiswa semester dua Fakultas Kesehatan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ) untuk mengukur sedentary life dan Finnish Diabetes Risk Score (FINDRISC) untuk menilai risiko diabetes mellitus. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 81,8% responden memiliki perilaku sedentari tinggi dan 78,8% responden berada pada kategori berisiko mengalami diabetes mellitus. Hasil uji Fisher exact menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku sedentary life dengan risiko diabetes mellitus pada remaja (p = 0,014). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi durasi sedentary life pada remaja, semakin tinggi pula risiko terjadinya diabetes mellitus. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui pengurangan kebiasaan duduk lama, peningkatan aktivitas fisik harian, serta penerapan gaya hidup aktif sejak usia muda guna menurunkan risiko penyakit kronis di masa mendatang.
Lingkungan rumah serta perilaku keluarga yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada Balita Windari Amanawati; Erida Wydiamala; Novi Stiyati Prihatini; Lenie Marlinae; Istiana Istiana
Health Sciences and Pharmacy Journal Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : STIKes Surya Global Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32504/hspj.v10i2.1518

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga diduga berkontribusi terhadap peningkatan risiko kejadian ISPA, terutama di wilayah kerja Puskesmas Bantuil, Kabupaten Barito Kuala. Penelitian ini menganalisis hubungan faktor lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga terhadap kejadian ISPA pada balita serta menguji peran kualitas udara sebagai variabel mediator. Penelitian menggunakan desain case-control dengan pendekatan kuantitatif analitik. Sampel berjumlah 128 responden, terdiri atas 64 kelompok kasus dan 64 kelompok kontrol yang dipilih secara purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur, observasi kondisi rumah, serta pengukuran ventilasi, suhu, kelembaban, pencahayaan, kecepatan angin, dan kualitas udara. Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square, regresi logistik berganda, dan analisis mediasi Baron dan Kenny. Hasil menunjukkan bahwa luas ventilasi, suhu ruangan, kelembaban, kecepatan angin, perilaku ibu, perilaku merokok, dan penggunaan obat nyamuk bakar berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA (p<0,05). Faktor yang berhubungan secara independen meliputi luas ventilasi (AOR=0,081), kelembaban (AOR=0,059), kecepatan angin (AOR=0,041), dan perilaku merokok (AOR=0,215). Kualitas udara memediasi secara parsial hubungan ventilasi, kelembaban, dan kecepatan angin dengan kejadian ISPA, serta memediasi secara penuh hubungan suhu ruangan, perilaku merokok, dan penggunaan obat nyamuk bakar terhadap kejadian ISPA. Disimpulkan bahwa perbaikan kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku keluarga, terutama peningkatan ventilasi, pengendalian kelembaban, optimalisasi sirkulasi udara, serta penerapan rumah bebas asap rokok, merupakan strategi penting dalam pencegahan ISPA pada balita.

Page 1 of 1 | Total Record : 8