cover
Contact Name
Irfan Arifin
Contact Email
pakarena@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
pakarena@unm.ac.id
Editorial Address
Lantai 1 Gedung Program Studi Fakultas Seni dan Desain Kampus UNM Parangtambung, Jalan Daeng Tata Makassar
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Pakarena
ISSN : 25286994     EISSN : 27146081     DOI : 10.26858
Core Subject : Education, Art,
Jurnal Pakarena merupakan jurnal ilmiah yang dikelola oleh Prodi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain dengan proses peer review. Menerbitkan Artikel hasil dan pengkajian seni, dengan ruang lingkup: seni rupa, drama, tari, dan musik.
Arjuna Subject : -
Articles 149 Documents
KEDUDUKAN DAN PERAN RICIKAN GENDÈR BARUNG DALAM SAJIAN PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA Bramantyo Arif Febrianto; Sugeng Nugroho
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.84321

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan kedudukan ricikan gendèr barung dalam struktur ansambel gamelan, serta menganalisis perannya dalam membangun suasana musikal dan mendukung dinamika pada pertunjukan wayang kulit purwa gaya Surakarta. Penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis ini mengumpulkan data primer dan sekunder melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi. Data kemudian dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahap reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta divalidasi keabsahannya menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gendèr barung menempati kedudukan sebagai pemangku lagu yang bertugas merealisasikan gagasan musikal dari instrumen pemimpin atau pamurba lagu. Dalam sajian karawitan mandiri (klenengan), perannya murni bersifat musikal, meliputi tugas menghias melodi gending dan menyajikan buka. Namun, dalam konteks sajian pakeliran (pertunjukan wayang), fungsi gendèr barung meluas menjadi elemen yang dramatik dan ekspresif. Instrumen ini berperan vital dalam memberikan thinthingan nada acuan, mengiringi sulukan dalang yang meliputi pathetan, sendhon, dan ada-ada, serta membangun suasana psikologis adegan melalui teknik grimingan. Kesimpulannya, peran gendèr barung dalam pakeliran mengadopsi dan mengembangkan sistem musikal klenengan yang diadaptasi secara khusus untuk merespons narasi dalang serta memperkuat kepentingan dramatik dalam pertunjukan wayang kulit. ABSTRACTThis study aims to identify and describe the position of the gendèr barung in the structure of the gamelan ensemble, as well as to analyze its role in building the musical atmosphere and supporting the dynamics in the Surakarta-style Purwa shadow puppet performance. This qualitative research with a descriptive-analytical approach collected primary and secondary data through direct observation, in-depth interviews, and documentation studies. The data were then analyzed using an interactive model through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing, and its validity was validated using triangulation techniques. The results of the study indicate that the gendèr barung occupies the position of song holder whose task is to realize the musical ideas of the lead instrument or pamurba song. In independent karawitan performances (klenengan), its role is purely musical, including the task of decorating the gending melody and presenting buka. However, in the context of pakeliran (wayang performance), the function of the gendèr barung expands into a dramatic and expressive element. This instrument plays a vital role in providing the reference tone, accompanying the puppeteer's sulukan, which includes pathetan, sendhon, and ada-ada, and building the psychological atmosphere of the scene through the grimingan technique. In conclusion, the role of gendèr barung in pakeliran adopts and develops the musical system of klenengan, which is specifically adapted to respond to the puppeteer's narrative and strengthens the dramatic interests in the shadow puppet performance.
RE-SIGNIFIKASI RITUAL LOKAL MELALUI 3R DALAM SENI PERTUNJUKAN Ni Nyoman Yuliarmaheni; Agil Pramudya Wardana; Putri Novalita
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.83492

Abstract

This article examines the re-signification of local rituals in Nyawer Manten Pari and Ngalang. It employs a comparative qualitative approach combining autoethnography and practice-led research through the 3R framework: revisiting, re-questioning, and reinterpreting. The findings show that both works transform local ritual into artistic, ecological, and social knowledge rather than merely an object of representation. The article also argues that 3R offers a methodological contribution to practice-based performing arts research grounded in local knowledge.
TRANSFORMASI SOSIO-KULTURAL KESENIAN KUDA LUMPING DI PADAHERANG: DARI EKSPRESI RITUAL MENUJU SENI PERTUNJUKAN POPULER Arifin Darwanto; Yuliawan Kasmahidayat; Ace Iwan Suryawan
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v11i1.84023

Abstract

Kuda Lumping merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa Tengah yang berkembang di Masyarakat Sunda, khususnya di Padaherang. Secara historis Kuda Lumping erat kaitannya dengan upacara ritual yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan tradisi leluhur yang berfungsi sebagai media komunikasi antara manusia dengan kekuatan supranatural. Namun seiring berkembangnya zaman dan masuknya pengaruh budaya luar menjadi pendorong perubahan fungsi Kuda Lumping secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pergeseran Fungsi Tari Kuda Lumping di wilayah Padaherang. Masalah difokuskan pada fungsi tari, foktor-faktor yang mempengharuhi perubahan fungsi tari Kuda Lumping dan dampak yang terjadi dari perubahan fungsi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tari Kuda Lumping di Padaherang mengalami perubahan fungsi yang cukup mendasar, berawal dari ritual keagamaan dan upacara adat menjadi pertunjukan hiburan yang ditampilkan pada acara-acara perayaan, festival budaya, dan hajatan masyarakat. Penelitian menemukan bahwa perubahan fungsi Kuda Lumping merupakan sebuah adaptasi budaya yang tidak bisa dihindari, namun dikhawatirkan dengan adanya perubahan ini dapat menghilangkan nilai-nilai sakral dan kearifan lokal yang melekat pada kesenian tersebut. Penelitian ini menegaskan perlunya revitalisasi, dan mengembangkan strategi inovatif untuk mencegah kepunahan dimensi ritual Tari Kuda Lumping akibat dari perubahan yang tidak terkelola dengan baik.
KOSMOLOGI EMBODIED DALAM TARI SRIMPI SARI KEMBAR: NEGOSIASI HARMONI, KETIDAKSEIMBANGAN, DAN PRAKTIK EKSISTENSIAL TUBUH Putri Najla Ayu Rasyid; Cipto Budy Handoyo
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v11i1.84639

Abstract

Penelitian tentang Tari Srimpi umumnya melihat tari sebagai representasi harmoni kosmologi Jawa yang ideal dan stabil. Namun, kajian yang menghubungkan kosmologi empat unsur dengan pengalaman tubuh penari serta dinamika dalam proses latihan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kosmologi empat unsur ditampilkan, dirasakan, dan dinegosiasikan dalam praktik tubuh pada Tari Srimpi Sari Kembar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan kerangka etnografi tubuh. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Analisis data dilakukan melalui koding tematik, kemudian ditafsirkan menggunakan perspektif semiotika Peirce, fenomenologi Merleau-Ponty, konsep habitus Bourdieu, serta teori performativitas Schechner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tubuh penari tidak hanya menampilkan kosmologi, tetapi juga mengalaminya secara langsung (menubuh). Ketidaksinkronan gerak dan perubahan pola lantai tidak selalu merupakan kesalahan teknis, tetapi dapat dipahami sebagai bentuk gangguan makna (disrupsi semiotik) yang justru membuka kemungkinan penafsiran baru. Temuan ini menunjukkan adanya ketegangan antara harmoni yang diharapkan dan kenyataan dalam praktik tubuh. Penelitian ini menawarkan konsep embodied cosmology sebagai cara untuk memahami tari bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai pengalaman yang hidup dan proses yang terus berkembang.
ANALISIS BENTUK MOTIF SEBAGAI EKSPRESI KREATIVITAS PADA KARYA BATIK MAHASISWA ANGKATAN 2020 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA FSD UNM Hasnawati Hasnawati
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.78026

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk motif pada karya batik mahasiswa angkatan 2020 Program Studi Pendidikan Seni Rupa FSD UNM sebagai wujud ekspresi. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi karya, dokumentasi, dan wawancara. Analisis difokuskan pada aspek visual bentuk motif, pengolahan komposisi, serta keterkaitan dengan gagasan kreatif mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk motif yang ditampilkan oleh Mahasiswa Angkatan 2020 yaitu sesuai dengan tema kearifan budaya lokal cenderung menampikan bentuk motif utama seperti aksara lontara, daun lontar, kapal sandeq dan kelelawar (kalong). Selain motif utama, motif pendukung juga banyak dijumpai pada karya batik tersebut seperti motif ulek, motif sawut, motif herangan dan lain sebagainya. Untuk tema keindahan bawah laut maka bentuk motif yang ditonjolkan adalah motif ikan paus dan rumput laut.
MAKNA SIMBOLIK DAN FUNGSI SOSIAL TARI MAMANJO DALAM PERNIKAHAN ADAT MASYARAKAT SERAWAI Nur Afifah Lubis; Yuliawan Kasmahidayat; Ace Iwan Suryawan
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v11i1.85287

Abstract

Penelitian ini membahas Tari Mamanjo sebagai representasi budaya masyarakat Serawai di Kabupaten Seluma, Bengkulu. Penelitian dilatarbelakangi oleh berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap makna simbolik Tari Mamanjo akibat modernisasi yang menyebabkan tari lebih dipahami sebagai hiburan estetis. Penelitian bertujuan mengidentifikasi fungsi Tari Mamanjo, menganalisis makna simbolik gerak, busana, dan properti tari, serta menafsirkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan perspektif antropologi budaya. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi di Sanggar Tari Gema Serunai dengan informan tokoh adat, pelatih tari, penari, dan pengelola sanggar yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta teori semiotika Roland Barthes untuk mengkaji makna denotasi, konotasi, dan mitos budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Mamanjo memiliki fungsi sosial, ritual, dan simbolik sebagai media penyambutan, penghormatan, komunikasi adat, dan perekat solidaritas masyarakat Serawai. Makna simbolik terlihat pada gerak sembah dan menjemput sebagai simbol penghormatan dan penerimaan sosial, busana adat sebagai identitas budaya dan religiusitas, serta cerana sirih pinang sebagai simbol persaudaraan dan keharmonisan sosial. Penelitian ini juga menemukan bahwa Tari Mamanjo mengalami transformasi melalui penyesuaian koreografi dan media digital tanpa menghilangkan nilai filosofisnya. Penelitian ini berkontribusi dalam pelestarian budaya dan pengembangan kajian semiotika seni pertunjukan tradisional
Adaptasi Elong Bugis Dalam Teater Musik Eksperimental: Studi Practice-Based Research Pada Karya Mattajeng Arjun Subbanul Akbar; Prusdianto Prusdianto
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.83765

Abstract

This study aims to examine the adaptation of Bugis Elong into experimental music theatre through the work MATTAJENG as an effort to revitalize oral tradition within the context of contemporary performing arts. As the practice of Elong has gradually declined in Bugis society due to social change and the growing influence of popular culture, creative strategies are needed to ensure that this tradition remains alive, relevant, and accessible to contemporary generations. The study employs a qualitative method using a Practice-Based Research (PBR) approach and a case study strategy, positioning the artistic creation process as the primary medium for knowledge production. Data were collected through literature review, participant observation, audiovisual documentation, cultural discussions, and artistic reflection throughout the creative process. The adaptation process was carried out through the stages of reception, creation, and transposition, which included the reading of Elong Toto Maruddani, vocal and bodily exploration, sound experimentation, and the development of the performance’s musical dramaturgy. The findings reveal that the adaptation of Bugis Elong produced a musical dramaturgical structure consisting of five main phases: initiation, exploration, interaction, ritualization, and resolution. The study demonstrates that the vocal qualities, repetition, and emotional intensity of Elong were preserved, while its musical and dramaturgical structures were transformed into a performative system integrating body, voice, instruments, and performance space. Furthermore, everyday Bugis activities, the Mappadendang tradition, and Makkelong practices were transformed into sound compositions and performative actions that construct experiences of waiting, longing, and collective memory. This study confirms that experimental music theatre can serve as a strategy for cultural revitalization while offering a model for adapting oral traditions into musical dramaturgy within contemporary performance practices rooted in local traditions.
Morfologi Visual Aju Berru sebagai Penanda Kabupaten Barru Muhammad Muhaemin; Nurjayanti Nurjayanti
JURNAL PAKARENA Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v10i2.78137

Abstract

Penelitian ini menganalisis morfologi visual pohon Aju Berru sebagai dasar pembentukan identitas visual Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif melalui studi literatur, observasi, dan wawancara, analisis dilakukan menggunakan semiotika visual Klaus Krippendorff. Hasil menunjukkan bahwa struktur batang kokoh, daun oval memanjang, dan gradasi warna alami Aju Berru merepresentasikan keteguhan, keharmonisan, dan kesinambungan budaya Barru. Secara simbolik, Aju Berru merekam sejarah dan mitologi lokal sebagai lambang keseimbangan manusia dan alam. Penelitian ini merekomendasikan integrasi elemen visual Aju Berru dalam desain identitas Kabupaten Barru.Penelitian ini menganalisis morfologi visual pohon Aju Berru sebagai dasar pembentukan identitas visual Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif melalui studi literatur, observasi, dan wawancara, analisis dilakukan menggunakan semiotika visual Klaus Krippendorff. Hasil menunjukkan bahwa struktur batang kokoh, daun oval memanjang, dan gradasi warna alami Aju Berru merepresentasikan keteguhan, keharmonisan, dan kesinambungan budaya Barru. Secara simbolik, Aju Berru merekam sejarah dan mitologi lokal sebagai lambang keseimbangan manusia dan alam. Penelitian ini merekomendasikan integrasi elemen visual Aju Berru dalam desain identitas Kabupaten Barru.
Motivasi, Disiplin Latihan, dan Pembimbingan Instrumen dalam Kesiapan Ujian Mayor Violin Harold Marshall Simalango; Riyan Hidayatullah; Cahya Aidil Pratama
JURNAL PAKARENA Vol 11, No 1 (2026): Juli
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/p.v11i1.83542

Abstract

Penelitian ini bertujuan kesiapan kinerja siswa biola dalam menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) walikota melalui hubungan antara motivasi intrinsik, disiplin latihan mandiri, dan pembimbingan instrumen dalam konteks pendidikan musik perguruan tinggi. Studi kasus deskriptif kualitatif digunakan untuk menyelidiki kesiapan mahasiswa walikota biola di Program Studi Pendidikan Musik Universitas Lampung dengan memeriksa motivasi belajar, disiplin latihan, dan metode pembimbingan instrumen. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan lima mahasiswa dan satu dosen, proses observasi instrumen pembimbingan, serta dokumentasi kemajuan repertoar. Validitas data dilakukan melalui triangulasi sumber dan member check, sedangkan analisis data mengikuti model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesiapan kinerja siswa tidak ditentukan oleh durasi latihan semata, tetapi oleh kemampuan siswa dalam membangun kemandirian belajar melalui konsistensi latihan, kesiapan mental, dan respon terhadap umpan balik dosen. Mahasiswa yang menerapkan strategi latihan terarah seperti slow practice, penggunaan metronom, dan evaluasi rekaman menunjukkan kesiapan teknis dan musikal yang lebih baik dibandingkan siswa dengan pola latihan yang tidak konsisten. Selain itu, kualitas instrumen pembimbingan berpengaruh terhadap perkembangan musikal dan kesiapan mental siswa melalui target kemajuan dan umpan balik reflektif. Penelitian ini menegaskan bahwa kesiapan tampil biola merupakan konstruksi multidimensi yang terbentuk dari interaksi antara motivasi intrinsik, strategi latihan, dan pembelajaran studio dalam pendidikan musik perguruan tinggi di Indonesia.