cover
Contact Name
Harry Noviardi
Contact Email
harry.noviardi@gmail.com
Phone
+622518323819
Journal Mail Official
lppm@sttif.ac.id
Editorial Address
Jl. Kumbang No.23, Bogor, Jawa Barat, 16151
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
ISSN : 25026011     EISSN : 26864487     DOI : https://doi.org/10.47219/ath
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Farmamedika dikelola oleh Lembag Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor. Frekuensi penerbitan jurnal sebanyak 2 kali dalam satu tahun pada bulan Juni dan Desember. Kategori tulisan berupa hasil penelitian dari peneliti maupun akademisi dalam bidang Kimia Bahan Alam, Analisis Farmasi, Farmakologi dan Toksikologi, Kimia Medicinal, Biologi Molekular dan Bioteknologi, Farmakoterapi, Farmasi Klinis, Farmasetika dan Teknologi Farmasi, Biologi Farmasi, Manajemen Farmasi, Farmakoekonomi.
Articles 164 Documents
FORMULASI DAN UJI ANTIOKSIDAN SEDIAAN SERUM EKSTRAK ETANOL DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) DENGAN MENGGUNAKAN METODE DPPH Abdul Wahid Suleman; Sri Wahyuningsih; Yanti Puspitasari
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.232

Abstract

Daun salam (Syzygium polyanthum) merupakan tanaman yang berfungsi sebagai antioksidan, mengandung senyawa alkaloid, vitamin C, vitamin E, tanin, saponin, dan flavanoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak etanol daun salam dapat diformulasikan sebagai sediaan serum yang stabil dan untuk mengetahui nilai IC50 sediaan serum ekstrak daun salam yang dapat memberikan aktivitas antioksidan. Metode penelitian ini dengan membuat sediaan serum wajah dari ekstrak etanol daun salam dengan variasi konsentrasi yaitu 1%, 3%, 5%, dan menguji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil formula serum wajah menunjukkan bahwa tidak terjadi perbedaan sebelum dan sesudah cycling test baik pada pengujian organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, dan kelembaban. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa F1 dengan konsentrasi 1% memiliki nilai antioksidan 37,00 ppm, F2 dengan konsentrasi 3% memiliki nilai antioksidan 29,21 ppm, dan F3 dengan konsentrasi 5% memiliki nilai antioksidan 23,94 ppm, ketiga sediaan tersebut memiliki kategori antioksidan sangat kuat. Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa serum dari ekstrak etanol daun salam memiliki kestabilan fisik dan kimia dan berpotensi sangat kuat sebagai antioksidan
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK SEDIAAN LOSIO BUBUR RUMPUT LAUT (Eucheuma alvarezii (Doty)) ASAL KABUPATEN LUWU SULAWESI SELATAN Arfiani Arifin; Ermina Pakki; Fitrah Fitrah
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.251

Abstract

Rumput laut (Eucheuma alvarezii (Doty)) diketahui mengandung kappa karagenan yang berpotensi sebagai pelindung tabir surya. Penggunaan rumput laut agar mudah diaplikasikan pada kulit dapat dibuat menjadi sediaan losio. Tujuan penelitian ini untuk memformulasikan bubur rumput laut (Eucheuma alvarezii (Doty)) menjadi sediaan losio yang memenuhi syarat uji stabilitas fisik. Metode penelitian diawali dengan penyiapan sampel rumput yang dibuat menjadi bubur menggunakan blender. Formulasi sediaan ini dirancang dengan konsentrasi 5% menggunakan dua jenis emulgator yaitu emulgator anionik (Asam Stearat dan trietanolamin) dan emulgator nonionik (tween 80 dan span 80). Pengujian kestabilan fisik meliputi pengujian organoleptik, homogenitas, viskositas, pH, daya sebar dan daya lekat yang dilakukan sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat menggunakan alat climatic chamber yang memenuhi syarat uji fisik. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa bubur rumput laut dapat diformulasikan menjadi sediaan losio yang memenuhi stabilitas fisik.
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN UJI MUTU FISIK TEH HERBAL BUNGA KEMBANG TELANG (Clitoria ternatea L.) Nur Atika Aqila; Nur Ida; Tahirah Tahirah
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.252

Abstract

Tubuh membutuhkan antioksidan untuk mencegah stress oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas. Salah satu sumber antioksidan adalah bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.). Pembuatan teh herbal bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penggunaan tanaman. Tujuan penelitian untuk menentukan nilai IC50 dan mutu fisik teh herbal bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.). Metode penelitian meliputi pembuatan teh herbal dari simplisia bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.). Pengujian aktivitas antioksidan dengan metode DPPH menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Pengujian mutu fisik yaitu uji kadar air, kadar abu total, kadar abu larut air, kadar abu tidak larut asam dan alkalinitas abu. Hasil uji aktivitas antioksidan teh herbal bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) diperoleh nilai IC50 sebesar 259,84 ± 0,50 ppm dengan pembanding asam askorbat sebesar IC50 2,657 ± 0,007 ppm dan hasil uji mutu fisik yaitu kadar air 5,4%, kadar abu total 6,3%, kadar abu larut air 4,2%, kadar abu tidak larut asam 0,42% dan alkalinitas abu 2,1%, sehingga dapat disimpulkan bahwa teh herbal bunga kembang telang (Clitoria ternatea L.) memiliki aktivitas antioksidan dan memenuhi 4 syarat mutu fisik teh yaitu kadar air, kadar abu total, kadar abu tidak larut asam dan alkalinitas abu.
GAMBARAN PENGGUNAAN ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN HIV/AIDS DI POLIKLINIK EDELWEISS RSUD CIAWI KABUPATEN BOGOR Binar Nursanti; Tri Desminingrum; Listianawati Listianawati
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.253

Abstract

HIV yaitu virus yang menyerang sel darah putih yang mengakibatkan turunnya sistem imun tubuh manusia, AIDS kumpulan tanda gejala yang muncul karena rusaknya system kekebalan tubuh akibat virus HIV. Pengobatan ARV bertujuan mengurangi laju penularan, menurunkan angka kesakitan dan kematian, memperbaiki kualitas hidup ODHIV. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dilakukan secara prospektif menggunakan data dari rekam medis pasien. Hasil penelitian ini Pasien HIV/AIDS terbanyak kelompok usia dewasa awal (26-35) (40,3%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak (71,4%), berlatar belakang pendidikan SMA (68,8%), pada umumnya bekerja sebagai karyawan swasta (63,3%), dan berstatus belum menikah (55,8%), sumber penularannya melalui hubungan seksual dan pasangan seksual dominasi yaitu homoseksual (LSL) sebanyak (43,5%), rata-rata pasien tidak memiliki infeksi oportunistik atau penyakit penyerta sebanyak (55,8%), serta pasien berada pada tahap stadium klinis III (58,4%) Pasien HIV/AIDS yang mendapat terapi ARV di Poliklinik Edelweiss RSUD Ciawi terbagi menjadi 6. Regimen yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi FDC (fixed Dose Combinasion) TDF+3TC+DTG (42,9%), kombinasi FDC TDF+3TC+EFV (41,6%), kombinasi AZT+3TC+NVP sebanyak (6,5%), kombinasi ABC+3TC+DTG (3,9%), pada kombinasi TDF+3TC+NVP dan kombinasi TDF+3TC+ALL (lini 2) dengan hasil masing-masing sebanyak (2,6%).
EFEKTIVITAS BIAYA OBAT ANTIDIABETIK ORAL PASIEN DMT 2 DI RS X KOTA BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2022 Rizki Istiqomah Sulistyowati; Embriana Dinar Pramestyani; Salma Hilmy Rusydi Hashim
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.257

Abstract

Tingginya jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 menimbulkan beban biaya yang sangat besar. Berdasarkan data laporan tahunan Rumah Sakit X, diabetes melitus tipe 2 termasuk dalam 10 besar penyakit terbanyak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas biaya dan terapi pasien diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit X pada periode Juli-Desember 2022. Metode analisis data dengan menghitung nilai ACER dan ICER berdasarkan kelompok terapi obat antidiabetes oral yaitu kelompok A terapi tunggal, kelompok B terapi kombinasi 2 obat, kelompok C terapi kombinasi 3 obat. Nilai ACER atau nilai biaya terendah pada kelompok A sebesar Rp 15.115 untuk terapi obat glimepirid, kelompok B sebesar Rp 28.561 untuk terapi obat kombinasi metformin dan glimepirid, kelompok C sebesar Rp 9.233 untuk terapi obat kombinasi metformin dan glimepirid dan piglitazon. Nilai ICER atau biaya yang dibutuhkan untuk mengganti terapi obat yang lebih baik pada kelompok A sebesar Rp 4.173 untuk terapi obat gliquidon, kelompok B sebesar Rp 27.488 untuk terapi obat kombinasi metformin dan pioglitazon, kelompok C sebesar Rp 16.662 untuk terapi obat kombinasi metformin dan gliquidon dan pioglitazon. Nilai ACER terendah didapatkan pada kelompok C sebesar Rp 9.233 dengan terapi kombinasi obat metformin dan glimepird dan piglitazon, nilai ICER terendah pada kelompok A dengan terapi obat gliquidon.
STANDARISASI SIMPLISIA DAN PENETAPAN KADAR FLAVONOID FLAVONOID PADA EKSTRAK ETANOL 96% BUAH OKRA HIJAU DAN MERAH (Abelmoschus esculentus (L.) Moench Pra Panca Bayu Chandra Panca; Ema Hermawati; Yulius Evan Christian
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode analisis flavonoid dan menentukan kadar flavonoid pada ekstrak etanol 96% varietas buah okra (Abelmoschus esculentus) dengan menggunakan metode Al(NO3)3-NaNO2 secara spektrofotometri UV-Vis. Pelarut yang digunakan adalah etanol 96%. Hasil validasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa linieritas dari uji flavonoid diperoleh koefisien korelasi 0,9999 dan koefisien fungsi regresi sebesar 0,37%. Akurasi (UPK) pada uji flavonoid didapatkan nilai yang memenuhi syarat % UPK 98-102% dan % KV yaitu ≤ 2 %. Batas deteksi (LOD) untuk flavonoid sebesar 0,3459 ppm dan batas kuantitasi (LOQ) sebesar 1,2621 ppm. Diperoleh kadar flavonoid ekstrak etanol 96% buah okra hijau sebesar 0,887 mg/g sedangkan kadar flavonoid ekstrak etanol 96% buah okra merah sebesar 1,079 mg/g.
PENGGUNAAN ETIL SELULOSA DAN METIL SELULOSA DALAM PREPARASI MIKROKAPSUL METFORMIN HIDROKLORIDA Lusiana Ariani; Kartiningsih Kartiningsih; Shinta Yon Purwaningrum
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 8 No 2 (2023): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v8i2.267

Abstract

Metformin hidroklorida memiliki waktu paruh pendek sehingga ketersediannya dalam tubuh akan cepat hilang dan diperlukan pemberiaan secara berulang. Salah satu cara yaitu metformin hidroklorida diformulasikan menjadi bentuk mikroenkapsulasi dengan teknik penguapan pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metformin hidroklorida yang pelepasan obatnya dapat dikendalikan secara mikroenkapsulasi. Tahapan metode yang dilakukan yaitu bahan aktif yang digunakan didispersikan dalam cairan penyalut lalu diemulsifikasikan dalam fase pembawa yang mengandung emulgator untuk pembentukan emulsi. Selanjutnya dilakukan penguapan pelarut penyalut dengan pengadukan sehingga terbentuk mikrokapsul. Mikrokapsul yang dihasilkan selanjutnya dilakukan uji evaluasi meliputi organoleptik, morfologi, ukuran partikel, penetapan kadar, efisiensi penjerapan dan uji disolusi. Hasil penelitian yang diperoleh untuk formula 1 dan formula 2 untuk ukuran partikel berturut-turut yaitu 5,632 dan 14,78 μm. Efisiensi penjerapan berturut-turut yaitu 83,17 dan 81,12%. Persen terdisolusi pada menit ke-480 berturut-turut yaitu 53,24% dan 47,54%. Dapat disimpulkan bahwa hasil uji statistik dengan anova satu arah diperoleh nilai sig 0,421 yang berarti tidak terdapat perbedaan nilai persentase terdisolusi antara kelompok etil selulosa dan metil selulosa.
ANALISIS KAFEIN DAN ASAM KLOROGENAT DALAM KULIT BUAH KOPI ARABIKA DAN ROBUSTA MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Mega Karina Putri; Beta Ria Erika Marita Dellima; Happy Elda Murdiana; Eni Kartika Sari
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v9i1.279

Abstract

Produksi jumlah kopi sebanding dengan jumlah limbah yang dihasilkan dari proses pemisahan biji dari buahnya. Salah satu limbah tersebut adalah kulit buah. Jumlah limbah yang sangat besar belum diikuti pengelolan dan pemanfaatan yang optimal, sehingga berdampak negatif pada lingkungan. Kulit kopi mengandung kafein dan asam klorogenat yang masih dapat dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menetukan kadar kafein dan asam klorogenat yang terkandung di dalam kulit buah kopi arabika dan robusta. Kulit buah kopi arabika dan robusta diekstraksi dengan akuades kemudian diekstraksi cair-cair dengan kloroform, fraksi kloroform yang diperoleh diuapkan sehingga terbentuk kristal yang mengandung kafein. Hasil tersebut dianalisis kuantitatif dengan spektrofotmetri UV. Fraksi akuades dianalisis kuantitatif asam klorogenat. Hasil absorbansi yang diperoleh dari pembacaan spektrofotmetri UV, kemudian dihitung kadar kafein dan asam klorogenat dalam sampel dan dianalisis menggunakan software SPSS. Kadar kafein kulit buah kopi arabika sebesar 4,89% dan robusta sebesar 0,88%. Kadar asam klorogenat kulit buah kopi arabika sebesar 0,82% dan robusta 1,03%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kadar kafein pada kulit buah kopi arabika lebih tinggi dibandingkan kulit buah kopi robusta dan kadar asam klorogenat kulit buah kopi arabika lebih rendah dibandingkan kulit buah kopi robusta. Uji T independent menghasilkan bahwa kadar kafein dan kadar asam klorogenat pada kedua jenis kulit kopi berbeda signifikan. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis/variestas tanaman, asal geografis, seperti tempat tumbuh pada ketinggian yang berbeda, jenis tanah, curah hujan, waktu panen, dan intensitas tanaman terkena sinar matahari. Produksi jumlah kopi sebanding dengan jumlah limbah yang dihasilkan dari proses pemisahan biji dari buahnya. Salah satu limbah tersebut adalah kulit buah. Jumlah limbah yang sangat besar belum diikuti pengelolan dan pemanfaatan yang optimal, sehingga berdampak negatif pada lingkungan. Kulit kopi mengandung kafein dan asam klorogenat yang masih dapat dimanfaatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menetukan kadar kafein dan asam klorogenat yang terkandung di dalam kulit buah kopi arabika dan robusta. Kulit buah kopi arabika dan robusta diekstraksi dengan akuades kemudian diekstraksi cair-cair dengan kloroform, fraksi kloroform yang diperoleh diuapkan sehingga terbentuk kristal yang mengandung kafein. Hasil tersebut dianalisis kuantitatif dengan spektrofotmetri UV. Fraksi akuades dianalisis kuantitatif asam klorogenat. Hasil absorbansi yang diperoleh dari pembacaan spektrofotmetri UV, kemudian dihitung kadar kafein dan asam klorogenat dalam sampel dan dianalisis menggunakan software SPSS. Kadar kafein kulit buah kopi arabika sebesar 4,89% dan robusta sebesar 0,88%. Kadar asam klorogenat kulit buah kopi arabika sebesar 0,82% dan robusta 1,03%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kadar kafein pada kulit buah kopi arabika lebih tinggi dibandingkan kulit buah kopi robusta dan kadar asam klorogenat kulit buah kopi arabika lebih rendah dibandingkan kulit buah kopi robusta. Uji T independent menghasilkan bahwa kadar kafein dan kadar asam klorogenat pada kedua jenis kulit kopi berbeda signifikan. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi oleh jenis/variestas tanaman, asal geografis, seperti tempat tumbuh pada ketinggian yang berbeda, jenis tanah, curah hujan, waktu panen, dan intensitas tanaman terkena sinar matahari.
IDENTIFIKASI SENYAWA DAN UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL DAUN KITOLOD (ISOTOMA LONGIFLORA L.) TERHADAP BAKTERI STAPHYLOCOCCUS AUREUS Arfiani Arifin; Natsir Djide; Mutmainnah Iskandar
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v9i1.282

Abstract

Daun Kitolod (Isotoma longiflora L.) memiliki kandungan senyawa flavonoid dan saponin yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi komponen kimia yang terkandung pada ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L.), untuk memformulasi ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L.) dalam bentuk sediaan gel yang memenuhi syarat uji mutu fisik dan untuk mengetahui konsentrasi yang optimal ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L.) dalam sediaan gel yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Metode penelitian ini meliputi metode maserasi menggunakan cairan penyari etanol 70%. Ekstrak yang diperoleh dibuat dalam bentuk sediaan gel yang telah di uji konsentrasi hambat minimumnya dengan konsentrasi (FI) 1,25%, (FII) 2,5% dan (FIII) 5%. Pengujian aktivitas antibakteri sediaan gel menggunakan metode difusi agar sumuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen kimia yang terkandung pada ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L.) yaitu senyawa flavonoid dan saponin selanjutnya hasil penelitian dari sediaan gel ketiga konsentrasi (FI) 1,25%, (FII) 2,5% dan (FIII) 5% memenuhi syarat uji mutu fisik berupa uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar dan uji daya lekat dan hasil pengujian aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflora L.) yang optimal dalam sediaan gel terhadap bakteri Staphylococcus aureus adalah sediaan gel 5%. Kata kunci: Antibakteri, Daun Kitolod (Isotoma longiflora L.), Gel, Staphylococcus aureus
PEMILIHAN JENIS PELARUT EKTRAKSI PADA PENGUJIAN POTENSI ANTIBIOTIK NEOMISIN KRIM Fuji Sachara; Budi Prasetyo
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v9i1.292

Abstract

Neomycin krim merupakan obat antibiotik dalam bentuk campuran antara emulsi minyak dan air. Pada Neomycin krim perlu dilakukan pengujian secara mikrobiologi untuk mengukur efek senyawa terhadap pertumbuhan mikroba uji yang peka melalui proses ekstraksi menggunakan suatu pelarut agar zat aktif terpisahkan dari campurannya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut (dietil eter, petroleum benzene, dan kloroform) terhadap kadar potensi antibiotik neomisin krim. Penelitian menggunakan metode eksperimental, terdiri atas tahapan ekstraksi (persiapan sampel) menggunakan metode maserasi melalui ektraksi cair-cair, dan tahapan penetapan kadar potensi antibiotik menggunakan metode lempeng-silinder. Hasil pengamatan ekstrak dari masing-masing pelarut menunjukkan bahwa ekstrak dari pelarut kloroform terpisah menjadi dua fase, yaitu fase terdispers (pelarut buffer) berwarna bening yang secara proposional berada pada bagian atas dan fase pendispers berada pada bagian bawah. Ekstrak petroleum benzene terpisah menjadi dua fase, yaitu fase terdispers berwarna putih yang secara proposional berada pada bagian bawah dan fase pendispers berada pada bagian atas, sedangkan pada ekstrak dietil eter terpisah menjadi dua fase namun tidak proposional, yaitu fase terdispers berwarna putih bening berada pada bagian bawah dengan porsi lebih banyak dibanding fase pendispers yang berada pada bagian atas. Hasil uji potensi menunjukkan pada ektrak kloroform diperoleh kadar potensi 97,15%, ekstrak dietil eter 80,88%, dan ekstrak petroleum benzene 45,78%. Dengan demikian, kadar potensi optimum diperoleh pada ekstraksi menggunakan pelarut kloroform.

Page 11 of 17 | Total Record : 164