cover
Contact Name
Oda I. B. Hariyanto
Contact Email
oda@uib.ac.id
Phone
+627787437111
Journal Mail Official
oda@uib.ac.id
Editorial Address
Jl. Gajah Mada Baloi Set Ladi
Location
Kota batam,
Kepulauan riau
INDONESIA
Altasia : Jurnal Pariwisata Indonesia
ISSN : -     EISSN : 2655965X     DOI : -
Jurnal Pariwisata Indonesia (ALTASIA) merupakan hasil penelitian yang mengikuti situasi dan kondisi kekinian sesuai dengan perkembangan Dynamic Global Tourism. Mengaplikasikan teori dan kajian ilmiah di bidang Kepariwisataan serta mengkompilasi kajian-kajian analisis kritis kepariwisataan secara multidimensi dan multidisiplin. Terbit secara berkala setiap enam bulan sekali, bulan Februari dan Agustus.
Articles 201 Documents
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Pariwisata dengan Design Thinking: Sebuah Tinjauan Literatur Sistematis tentang Efikasi Diri: Sebuah Tinjauan Literatur Sistematis tentang Efikasi Diri Syaravina, Santika; Dea Sabiella, Imanda
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.9888

Abstract

Studi ini mengeksplorasi dampak intervensi Design Thinking (DT) terhadap efikasi diri di kalangan mahasiswa melalui tinjauan literatur sistematis (SLR). Kerangka kerja PRISMA membimbing proses tinjauan, dengan pencarian sistematis di database Scopus, Web of Science, dan Emerald Insight. Literatur dari tahun 2014 hingga 2023 disaring berdasarkan kata kunci yang terkait dengan mahasiswa, DT, dan efikasi diri. Studi dipilih berdasarkan relevansi. Penilaian kualitas dilakukan menggunakan Mixed Method Appraisal Tool (MMAT). Analisis menggunakan analisa tematik untuk mengidentifikasi tema. Kategori efikasi diri ditemukan dalam beberapa bentuk: efikasi diri umum, kreatif, kewirausahaan, inovasi, desain, dan teknik. Intervensi DT menunjukkan hasil yang beragam dalam meningkatkan efikasi diri umum, dampak yang tidak konsisten pada efikasi diri kreatif, peningkatan efikasi diri kewirausahaan, mempertahankan efikasi diri inovasi yang sudah tinggi, peningkatan yang terarah pada efikasi diri dalam desain, dan peningkatan efikasi diri teknik. DT memiliki dampak yang bervariasi pada efikasi diri di berbagai tema, dengan manfaat yang signifikan dalam konteks kewirausahaan dan inovasi. Dalam bidang pariwisata dan perhotelan, mengintegrasikan DT ke dalam kurikulum dapat meningkatkan penyampaian layanan, inovasi, dan efisiensi operasional. Penelitian di masa depan harus fokus pada efek jangka panjang DT dalam industri ini, mengatasi tantangan nyata dan keberlanjutan. Pendekatan ini mempersiapkan pemimpin masa depan untuk menghadapi tantangan kompleks dan mendorong solusi inovatif dalam pariwisata dan perhotelan.
Optimalisasi Blue Economy dalam Wisata Bahari Aceh Selatan: Analisis SWOT dalam Keberlanjutan Pariwisata Insani, Muhammad Fitrah; Azzuhra, Alfia; Putra, Awang Darmawan
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10212

Abstract

Kabupaten Aceh Selatan memiliki potensi wisata bahari yang melimpah, termasuk di antaranya destinasi Pantai Sawang Biduk Buruak. Meskipun demikian, pengembangan sektor ini masih menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan pendekatan yang komprehensif dan terpadu. Konsep blue economy (ekonomi biru) dipandang sebagai alternatif strategis dalam mendukung pengelolaan pariwisata berkelanjutan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan Threats) dalam pengelolaan optimalisasi blue economy wisata bahari di Aceh Selatan melalui pendekatan analisis SWOT dan matriks pengembangan geowisata. Hasil penelitian mengidentifikasi berbagai faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan wisata bahari, meliputi potensi sumber daya alam yang melimpah, keterbatasan infrastruktur pendukung, peluang pengembangan berbasis lingkungan, ancaman abrasi pantai, serta keterbatasan perhatian dari pemangku kebijakan. Strategi pengembangan yang direkomendasikan mencakup pemanfaatan potensi alam secara optimal untuk mendukung pariwisata ramah lingkungan, penguatan infrastruktur, pemberdayaan masyarakat lokal, mitigasi dampak lingkungan, peningkatan daya tarik wisata, serta penguatan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Sebagai rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, disarankan dilakukannya kajian yang lebih komprehensif terkait aspek sosial-ekonomi masyarakat lokal serta potensi penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan pariwisata bahari secara berkelanjutan.
Strategi Promosi Pariwisata Kota Blitar: Kajian atas Bauran Promosi dan Peran Dinas Pariwisata sebagai Motivator, Fasilitator, dan Dinamisator Fatimah, Siti; Purnomo, Agus
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10294

Abstract

Latar belakang penelitian karena pariwisata merupakan salah satu sektor yang memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi daerah. Kota Blitar memiliki potensi wisata yang terus berkembang, sehingga strategi promosi dan peran kelembagaan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Dinas Pariwisata Kota Blitar berupaya memperkuat promosi melalui berbagai metode serta menjalankan fungsinya sebagai motivator, fasilitator, dan dinamisator. Namun, terdapat masalah terkait efektivitas strategi ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk promosi yang diterapkan oleh Dinas Pariwisata Kota Blitar serta menganalisis perannya dalam mendukung pengembangan pariwisata. Mengacu pada teori Kotler & Armstrong mengenai bauran promosi serta konsep kelembagaan dari Pitana & Gayatri, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan informan purposive, serta dokumentasi media promosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pariwisata mengintegrasikan public relations, direct marketing, sales promotion, personal selling, dan advertising dalam promosi wisata. Sebagai motivator, Dinas Pariwisata menyelenggarakan pelatihan dan event serta memanfaatkan media sosial. Sebagai fasilitator, dinas menyediakan infrastruktur dan mendukung kampanye promosi. Sementara sebagai dinamisator, Dinas Pariwisata menjalin kerja sama dengan komunitas lokal dan sektor swasta guna meningkatkan daya tarik wisata. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan ganda yang mengintegrasikan analisis bauran promosi dengan peran kelembagaan, yang belum banyak dikaji secara terpadu dalam konteks pariwisata daerah. Merujuk pada hasil penelitian, maka direkomendasikan untuk mengevaluasi efektivitas tiap elemen promosi serta membandingkan peran kelembagaan di berbagai destinasi sebagai studi perbandingan.
Implementasi Blue Economy pada Sektor Pariwisata Pesisir atau Bahari di Pantai Dalegan - Gresik Andrea, Garsione Agni; Fauzatul Laily Nisa; Rosdiana Pakpahan
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10300

Abstract

Perkembangan sistem perekonomian yang berkelanjutan sangat pesat, mulai dari ekonomi hijau/green economy, ekonomi biru/blue economy, serta ekonomi sirkular. Implementasi pada konsep blue economy belum diidentifikasi secara rinci sehingga dibutuhkan analisa mengenai hal tersebut. Sesuai dengan sektor utama blue economy, maka penelitian ini akan terfokus pada point kelima yaitu pariwisata pesisir. Tujuan dari fokus penelitian point kelima tersebut untuk mengembangkan model pariwisata berkelanjutan yang berbasis pada pemanfaatan ekosistem laut dan pesisir secara optimal, melalui pelestarian warisan alam bahari serta kontribusi terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sekitar. Tujuan tersebut sebagai dasar untuk analisis pariwisata pesisir atau bahari di Pantai Delegan dengan menggunakan indikator dari kriteria daya tarik wisata berdasarkan aktivitas wisatawan yang diklasifikasikan sesuai dengan zona kawasan ekowisata bahari. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan bantuan observasi, wawancara, dan kepustakaan. Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa kriteria daya tarik wisata berdasarkan aktivitas wisatawan belum dimanfaatkan secara maksimal, sehingga implementasi ekonomi biru pada sektor pariwisata pesisir belum maksimal. Karena hal tersebut, maka perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait dengan pemanfaatan area pantai dan bahari. Beberapa saran rekomendasi untuk pengembangan Pantai Dalegan yaitu Pada sisi pengelola, disarankan untuk mengembangkan dan menginovasikan atraksi dan aktivitas wisata hingga zona bawah laut jika secara kelayakan dapat dilaksanakan. Sedangkan untuk para peneliti berikutnya, disarankan untuk melakukan reset lebih dalam terkait dengan pemanfaatan potensi wisata bahari di Pantai Dalegan sesuai dengan zona kawasan ekowisata bahari. Kegiatan penelitian tersebut untuk menilai kelayakan dan keunikan bentang laut sebagai aktivitas yang dapat dilakukan sesuai dengan parameter setiap aktivitasnya.
Dinamika Persepsi Tamu Terhadap Pelayanan dan Harga dalam Loyalitas di Hotel Berbintang Arly, Huria; Ernawati
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10367

Abstract

Industri hotel berbintang empat di Kota Padang menghadapi persaingan yang ketat dalam mempertahankan loyalitas tamu, menjadikan kualitas pelayanan dan persepsi harga sebagai faktor krusial. Namun, masih terdapat kesenjangan dalam penelitian yang mengkaji secara mendalam peran harga sebagai variabel moderator dalam hubungan antara pelayanan dan loyalitas tamu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas tamu, serta memahami bagaimana persepsi harga memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang merupakan tamu dari tiga hotel bintang empat, yaitu ZHM Premiere DH Grand Zuri, Kyriad Bumiminang, dan Pangeran Beach Hotel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan yang bersifat personal, cepat, dan konsisten menjadi faktor utama dalam menciptakan pengalaman positif yang mendorong loyalitas. Selain itu, harga terbukti memoderasi hubungan tersebut; loyalitas meningkat ketika harga dinilai sepadan atau lebih rendah dari kualitas layanan, namun menurun saat terjadi ketimpangan antara keduanya. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan naratif yang mengungkap pola moderasi harga melalui persepsi tamu secara langsung. Simpulan dari penelitian ini menekankan pentingnya strategi pelayanan berbasis pengalaman yang dikombinasikan dengan kebijakan harga yang tepat untuk membangun loyalitas jangka panjang. Penelitian ini terbatas pada jumlah informan dan cakupan wilayah, sehingga disarankan penelitian lanjutan dilakukan dengan cakupan lebih luas untuk validasi hasil yang lebih generalis.
Strategi Keberlanjutan Desa Wisata Bandasari melalui Community-Based Tourism dan Pendekatan Sociopreneurship Graha Irianto Putra , Adhika; Bambang Hermanto; Yunus Winoto
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10371

Abstract

Pariwisata berbasis komunitas berkembang sebagai pendekatan strategis dalam pembangunan desa wisata, termasuk di Desa Bandasari, Kabupaten Bandung. Meskipun desa ini memiliki potensi budaya dan kerajinan lokal yang kuat, pengembangannya masih terhambat oleh partisipasi masyarakat yang rendah, dominasi satu atraksi wisata, serta kelembagaan lokal yang belum optimal. Studi sebelumnya banyak menyoroti model Community-Based Tourism (CBT), namun belum banyak yang mengeksplorasi integrasinya dengan pendekatan sociopreneurship untuk memperkuat keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan desa wisata berkelanjutan melalui sinergi kedua pendekatan tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis dilakukan menggunakan kerangka SWOT untuk memahami dinamika faktor internal dan eksternal. Temuan menunjukkan bahwa kesadaran kolektif masyarakat terhadap desa wisata masih lemah, sementara inisiatif digitalisasi oleh Pokdarwis menjadi indikator awal munculnya kewirausahaan sosial. Strategi yang dihasilkan meliputi penguatan kapasitas SDM, pengembangan produk wisata berbasis nilai budaya dan lingkungan, serta pembangunan tata kelola kolaboratif. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada rancangan model integratif antara CBT dan sociopreneurship dalam konteks desa wisata Indonesia yang belum banyak diangkat dalam literatur. Kesimpulan penelitian menggarisbawahi perlunya kebijakan pendampingan jangka panjang, serta perlunya penelitian lanjutan untuk menilai dampak model ini terhadap ketahanan sosial dan ekologi destinasi.
Perubahan Makna Ruang Publik di Kawasan Wisata Kota Lama Surabaya Nuraini, Dewinta; Arief Sudrajat; Eufrasia Kartika Hanindraputri; Khalid Syaifullah
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10449

Abstract

Transformasi ruang publik di kawasan wisata heritage kerap menekankan estetika dan ekonomi, namun seringkali mengabaikan makna sosial ruang bagi masyarakat lokal. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana ruang yang dulunya bersifat inklusif dan komunal kini berubah menjadi ruang konsumsi yang terkontrol. Di Kota Lama Surabaya, proses revitalisasi menunjukkan gejala eksklusi simbolik dan fisik terhadap warga lokal, namun kajian terkait pengalaman dan makna ruang dari sudut pandang masyarakat masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana masyarakat lokal memaknai perubahan ruang publik pasca-revitalisasi, serta bagaimana mereka menegosiasikan ruang dengan narasi dominan pariwisata. Permasalahan utama yang diangkat adalah pergeseranmakna ruang dari fungsi sosial menjadi simbol representatif wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena memungkinkan eksplorasi mendalam atas pengalaman subjektif warga, praktik sosial, dan relasi kuasa yang membentuk ruang. Landasan teori yang digunakan adalah teori produksi sosial ruang dari Henri Lefebvre, yang memandang ruang sebagai produk dari interaksi sosial dan kekuasaan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis wacana kritis. Hasil menunjukkan bahwa revitalisasi menghasilkan keterasingan warga dari ruang yang dulunya milik bersama, meskipun ada bentuk resistensi dan adaptasi komunitas. Penelitian ini terbatas pada lokasi dan aktor tertentu, sehingga studi selanjutnya disarankan memperluas konteks geografis dan mengkaji pengalaman kelompok rentan. Rekomendasi penelitian menekankan pentingnya partisipasi warga dalam perencanaan ruang publik agar revitalisasi tidak menimbulkan eksklusi, melainkan memperkuat makna kolektif dan keberlanjutan sosial.
Pengalaman Gastronomi dalam Praktik Sosial Masyarakat Adat: Studi Kasus di Kampung Adat Cireundeu Kota Cimahi Muhamad Akbar Gumilang; Muhammad Raihan Thariq Hidayat; Savina Azzahra; Ngadiah Safira; Elly Malihah; Rini Andari
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10604

Abstract

Praktik makan masyarakat adat bukan sekadar aktivitas konsumsi, tetapi bagian dari sistem nilai, identitas, dan spiritualitas kolektif. Di Kampung Adat Cireundeu, makanan pokok seperti rasi (olahan singkong) merepresentasikan warisan budaya dan bentuk resistensi terhadap modernisasi. Namun, kajian mengenai pengalaman gastronomi masih banyak berfokus pada konteks pariwisata komersial, sementara pengalaman makan masyarakat adat jarang dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana masyarakat adat Cireundeu memaknai praktik makan sebagai bagian dari pengalaman gastronomi yang terstruktur secara sosial. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Pemilihan pendekatan ini didasarkan pada kebutuhan untuk menggali praktik budaya secara kontekstual dan mendalam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, dengan analisis yang mengacu pada teori praktik sosial. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) makanan lokal dipahami sebagai simbol kehormatan leluhur dan identitas budaya; (2) praktik makan kolektif menjadi ruang pewarisan nilai dan solidaritas sosial; dan (3) terdapat dimensi spiritual dan ekologis dalam struktur praktik makan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengalaman gastronomi masyarakat Cireundeu merupakan praktik sosial yang kompleks dan bermakna. Rekomendasi ditujukan untuk penelitian selanjutnya agar melakukan studi komparatif di komunitas adat lain guna memperluas pemahaman dan kontribusi teori dalam konteks lokal yang beragam. Keterbatasan penelitian ini adalah ruang lingkup lokasi tunggal.
Pengaruh Kesadaran Konservasi terhadap Partisipasi Masyarakat di Ekowisata Kebun Raya Kuningan Aulia Rahmasari, Anissa; Maryani, Enok; Andari, Rini
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10670

Abstract

Meningkatnya ancaman terhadap kelestarian lingkungan menuntut pendekatan konservasi yang melibatkan masyarakat, salah satunya melalui ekowisata. Namun, masih minim riset yang secara spesifik meninjau bagaimana kesadaran konservasi pengunjung berdampak terhadap partisipasi konservatif mereka, khususnya di destinasi dataran tinggi seperti Kebun Raya Kuningan (KRK). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kesadaran konservasi lingkungan terhadap partisipasi pengunjung dalam aktivitas ekowisata di KRK. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal, teknik analisis regresi linier sederhana diaplikasikan pada data dari 100 responden yang diperoleh melalui accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran konservasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap partisipasi konservatif pengunjung (p = 0,006), dengan nilai koefisien regresi 0,344. Namun demikian, koefisien determinasi sebesar 0,068 menunjukkan bahwa hanya 6,8% variasi partisipasi yang dapat dijelaskan oleh kesadaran konservasi, mengindikasikan peran signifikan faktor lain. Dimensi afektif dan konatif terbukti lebih dominan dibanding dimensi kognitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi penguatan partisipasi perlu diarahkan pada pendekatan edukatif berbasis pengalaman yang menyentuh sisi emosional dan niat bertindak. Keterbatasan studi ini terletak pada model regresi yang belum memasukkan variabel eksternal lain seperti norma sosial dan motivasi kunjungan. Rekomendasi diberikan kepada pengelola destinasi untuk mengembangkan program edukatif partisipatif dan strategi segmentasi pengunjung berbasis nilai konservatif.
Preferensi Muslim Friendly Gastronomi di Kota Ho Chi Minh Vietnam Pardon, Abdul Aziz; Caria Ningsih; Dedy Setiyawan; Mayadhisa Ardhita
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal ALTASIA (Agustus)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i2.10661

Abstract

Pertumbuhan jumlah wisatawan Muslim yang berkunjung ke Ho Chi Minh City, khususnya dari Indonesia dan Malaysia, belum diimbangi dengan ketersediaan restoran halal bersertifikat dan informasi kuliner yang memadai. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara potensi pasar wisatawan Muslim dan kesiapan infrastruktur gastronomi halal di kota tersebut. Permasalahan utama penelitian ini adalah minimnya sertifikasi halal, kurangnya segregasi bahan halal dan non-halal, serta keterbatasan promosi kuliner halal yang membuat wisatawan ragu mengonsumsi makanan lokal. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi preferensi wisatawan Muslim terhadap gastronomi halal dengan fokus pada infrastruktur pendukung, persepsi makanan, kenyamanan konsumsi, dan aksesibilitas. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, karena sesuai untuk memahami fenomena secara mendalam pada konteks tertentu. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara semi-terstruktur dengan pelaku usaha kuliner, serta survei terhadap wisatawan Muslim yang sedang berkunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wisatawan tidak yakin terhadap kehalalan makanan yang tersedia akibat minimnya sertifikasi dan informasi yang jelas. Wisatawan cenderung memilih makanan internasional atau memasak sendiri untuk menghindari keraguan. Simpulan penelitian menegaskan perlunya peningkatan sertifikasi halal, edukasi pelaku usaha, dan promosi gastronomi halal berbasis budaya lokal Vietnam. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya adalah mengkaji persepsi pelaku usaha lokal terhadap penerapan standar halal dan menganalisis potensi kolaborasi lintas negara dalam pengembangan wisata gastronomi halal. Keterbatasan penelitian ini terletak pada jumlah responden yang terbatas dan cakupan wilayah yang hanya meliputi pusat kota Ho Chi Minh.