cover
Contact Name
Octariana Sofyan
Contact Email
lppm@afi.ac.id
Phone
+62274-370458
Journal Mail Official
lppm@afi.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Gang Jambu Kebrokan Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kefarmasian AKFARINDO
ISSN : 25287257     EISSN : 25287265     DOI : -
The journal includes various fields of pharmaceuticals sciences such as: -Pharmacology and Toxicology -Pharmacokinetics -Community and Clinical Pharmacy -Pharmaceutical Chemistry -Pharmaceutical Biology -Pharmaceutics -Pharmaceutical Technology -Biopharmaceutics -Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology -Alternative medicines
Articles 195 Documents
KARAKTERISTIK PASIEN NSTEMI (NON ST SEGMENT ELEVATION MYOCARDIAL INFARCTION) DAN UAP (UNSTABLE ANGINA PECTORIS) YANG DIRAWAT INAP DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING PERIODE 1 JANUARI 2018 - 31 DESEMBER 2020 Wiwit Herawati; Akrom; Joko Sudibyo
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.v8i2.209

Abstract

Sindrom Koroner Akut mengacu pada sekelompok kondisi yang mencakup ST Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI), Non ST Segment Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI) dan Unstable Angina Pectoris (UAP). NSTEMI didefinisikan sebagai peningkatan biomarker jantung dengan tidak adanya segmen elevasi ST yang persisten. NSTEMI dan UAP memiliki gejala serupa dimana perbedaan NSTEMI dengan UAP adalah pada NSTEMI terjadi peningkatan troponin. Dengan diketahuinya data karakteristik pasien NSTEMI dan UAP, pencegahan terjadinya komplikasi bisa diminimalkan, mengurangi faktor risiko yang bisa memperburuk prognosis pasien dan meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien NSTEMI dan UAP yang dirawat inap di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping Periode 1 Januari 2018 -31 Desember 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional menggunakan data retrospektif dengan jenis penelitian observasional analitik. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling dan didapatkan sampel sebanyak 224 pasien yang menjalani rawat inap. Jumlah tersebut sudah memenuhi kriteria menurut OpenEpi dimana jumlah minimal adalah 164 pasien. Data yang diperoleh dianalisis dengan IBM SPSS versi 20. Analisis chi square digunakan untuk melihat perbandingan antara variabel bebas antara lain riwayat komorbid diabetes mellitus, riwayat komorbid hipertensi, riwayat komorbid dislipidemia dengan variabel terikat yaitu lama rawat inap pada pasien NSTEMI dan UAP. Penderita NSTEMI dan UAP terbanyak terdiri dari pasien yang berusia > 45 tahun. Riwayat komorbid terbanyak adalah hipertensi. Pemberian terapi terbanyak di UGD mencakup oksigen 81.3 %, infus NaCl 0.9 % 62.1 %, clopidogrel 75 mg 57.6 %, aspilet 80 mg 57.1 %, inviclot 49.6 % dan ISDN 5 mg 25.0 %. Pemberian terapi terbanyak di rawat inap adalah clopidogrel 75 mg 90.2 %, aspilet 80 mg 87.9 %, atorvastatin 40 mg 74.6 %, alprazolam 0.5 mg 70.1 %, bisoprolol 2.5 mg 45.1 %, dan furosemide injeksi 17.9 %. Pasien NSTEMI dan UAP yang mempunyai komorbiditas diabetes mellitus berpeluang 0.41 kali untuk menjalani perawatan kurang / sama dengan 5 hari jika dibandingkan dengan yang tidak punya komorbiditas diabetes mellitus, dan secara statistik bermakna (P = 0.02).
UJI AKTIVITAS KOMBINASI KRIM EKSTRAK KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.) DAN KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) SEBAGAI PENYEMBUHAN LUKA BAKAR DERAJAT II PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) Wahyu Udayani, Ni Nyoman; Febryna Dharma Yanti, Ni Luh Putu; Arman Anita Dewi, Ni Luh Kade
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.241

Abstract

Luka bakar merupakan kerusakan jaringan kulit yang disebabkan oleh adanya panas. Kulit adalah organ terbesar pada permukaan tubuh dan melindungi jaringan yang ada dibawahnya. Pengobatan dengan menggunakan bahan herbal masih terus dilakukan guna meminimalisir efek samping obat. Kulit pisang kepok dan kulit buah naga merah merupakan salah satu bagian tanaman yang dapat menyembuhkan luka bakar karena memiliki senyawa flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi krim ekstrak kulit buah pisang kepok dan kulit buah naga merah sebagai penyembuhan luka bakar derajat II pada tikus putih. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium. Pengujian menggunakan 20 ekor tikus yang dibagi menjadi 5 kelompok, semua tikus dibuatkan luka bakar dan diberikan pengobatan sehari sekali. Pengukuran diameter luas luka bakar dilakukan setiap tiga hari sekali selama 14 hari. Hasil data pengukuran diuji secara statistik, menunjukan bahwa kombinasi krim ekstrak kulit pisang kepok dan kulit buah naga merah dengan persentase perbandingan yang berbeda yaitu F1 adalah 10%:7,5%, F2 adalah 15%:10%, dan F3 adalah 30%:15% memiliki aktivitas penyembuhan luka bakar. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan kombinasi krim ekstrak kulit pisang kepok dan kulit buah naga merah dengan perbandingan 10%:7,5% sudah efektif dalam menyembuhkan luka bakar derajat II.
A FORMULASI GEL DARI EKSTRAK ETANOL 96% DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum L.) Meva Parasari; Rose, Rose Intan Perma Sari; Farid; Nori Wirahmi; Oky Hermansyah
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.246

Abstract

Daun cengkeh merupakan bagian dari tanaman cengkeh yang jarang sekali dimanfaatkan berbanding sebaliknya dengan bunga cengkeh yang lebih dominan digunakan. Daun cengkeh mengandung komponenfenolik yang tinggi yaitu senyawa eugenol 70%-80% senyawa ini bersifat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi sediaan gel dari ekstrak etanol 96% daun cengkeh (Syzygium aromaticumL.) dan untuk melihat karakteristik dari sediaan gel ekstrak etanol 96% daun cengkeh (Syzygium aromaticumL.). Pembuatan ekstrak etanol 96% daun cengkeh menggunakan metoda maserasi. Sediaan gel dibuat dengan variasi konsentrasi ekstrak F0 (0%), F1 (10%), F2 (20%), F3 (30%). Selanjutnya dilakukan evaluasi sifat fisik meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya sebar, uji viskositas, dan uji stabilitas yang dilakukan selama 4 minggu. Hasil pengujian randemen ekstrak yang diperoleh adalah 14,37%. Uji pH menunjukkan gel memiliki rata-rata pH berkisar antara 4,62 - 6,01; uji daya sebar berkisar antara 5,6-7 cm; uji viskositas berkisar antara 6.256,45 – 8.232,63 cps; dan uji stabilitas yang dilakukan pada suhu 25oC–30oC selama 4 minggu menunjukkan sediaan gel stabil.
PENGARUH VARIASI KITOSAN DAN CARBOMER 940 TERHADAP MUTU FISIK SEDIAAN GEL EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis) SEBAGAI PENYEMBUH LUKA BAKAR PADA KELINCI Dyah Ayu Setyowati; Dewi Ekowati; Jena Hayu Widyasti
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.243

Abstract

Tanaman obat yang berperan dalam pengobatan luka bakar salah satunya adalah daun sukun (Artocarpus altilis) karena mengandung senyawa yang berfungsi sebagai penyembuh luka seperti flavanoid, tanin, saponin, dan polifenol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi konsentrasi agen pembentuk gel kitosan dan carbomer 940 dalam mempengaruhi mutu fisik dan stabilitas serta kemampuan dalam penyembuhan luka bakar. Sediaan yang dipilih dalam bentuk gel karena komponen terbesar pembentuk gel air sehingga zat aktif mudah dilepaskan. Ekstrak kental diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi sediaan gel dengan konsentrasi ekstrak 6,25%, dengan variasi kitosan 1,5%; 1%; 0,5% dan carbomer 1%; 1,5%; 2%. Gel dilakukan pengujian mutu fisik meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan stabilitas. Perlakuan dan pengukuran diameter luka dilakukan selama 21 hari. Persentase penyembuhan luka dianalisis menggunakan SPSS dengan uji Kolmogorov-smirnov dilanjutkan non-parametrik Kruskal-Wallis dengan Post Hoc Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukan variasi konsentrasi kitosan dan carbomer memberikan pengaruh terhadap mutu fisik sediaan dan kemampuan dalam penyembuhan luka, tetapi tidak dengan stabilitas sediaan. Variasi konsentrasi gelling agent yang efektif dalam penyembuhan luka bakar adalah formula 2, formula gel dengan konsentrasi kitosan 1% dan carbomer 1,5% hasil Maan-Whitney menunjukkan formula 2 memiliki persentase penyembuhan luka sebanding dengan kontrol positif.
PENGARUH EMULGATOR TERHADAP STABILITAS FISIK KRIM EKSTRAK CHIA SEED (Salvia hispanica L) Maria Ulfa; Nurul Hikma; Chilvya Dwijulian Padang
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.201

Abstract

Chia Seed (Salvia hispanica L.) memiliki beberapa senyawa dengan aktivitas antioksidan potensial seperti asam klorogenat, asam kafeat, serta flavonoid berupa myricetin, quercetin dan kaemferol. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh emulgator terhadap stabilitas krim antioksidan ekstrak etanol chia seed menggunakan emulgator jenis anionik, nonionik dan phytocream®. Metode ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Kestabilan sediaan krim dilihat dari parameter uji organoleptis, homogenitas, tipe krim, pH, viskositas, daya lekat, daya sebar dan sentrifugasi sebelum dan sesudah penyimpanan dipercepat pada suhu 40°C selama 6 hari. Hasil pengamatan organoleptis terjadi perubahan warna dan bau pada F1 sesudah penyimpanan dan pH krim F1 didapatkan 7,74 tidak dalam rentang pH kulit. Pada pengujian daya lekat F1, F2, F3 menunjukkan penurunan setelah penyimpanan dipercepat yaitu 1,31, 1,28 dan 1,24 detik, sedangkan pengujian daya sebar F1 dan F2 mengalami peningkatan setelah penyimpanan dipercepat yaitu 7,16 dan 7,66. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa jenis emulgator dalam formula krim antioksidan ekstrak chia seed berpengaruh terhadap uji organoleptis, pH, daya sebar dan daya lekat. Dari ketiga formula didapatkan formula 3 dengan emulgator phytocream yang lebih stabil
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI ISOLAT BAKTERI TANAH RHIZOSFER TUMBUHAN MANGROVE API-API (Avicennia marina) DI DESA DATA KABUPATEN PINRANG Rusman; Ariadi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.223

Abstract

Mangrove memiliki peranan penting dalam penyediaan komponen makanan yang sangat kompleks dan potensial bagi mikroorganisme terutama di daerah rhizosfer karena dipengaruhi oleh eksudat yang dikeluarkan akar sebagai nutrisi bagi mikroorganisme itu sendiri. Jenis mikroorganisme di rhizosfer sangat melimpah dan jumlahnya berkurang seiring bertambahnya jarak dari akar tumbuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui adanya isolat bakteri dari tanah rhizosfer tumbuhan mangrove api-api (Avicennia marina) yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Metode yang digunakan adalah metode pengenceran menggunakan media nutrient agar, fermentasi dilakukan selama 74 jam menggunakan media nutrient broth dan uji aktivitas menggunakan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 6 isolat yang di uji hanya ada 3 isolat yang memiliki aktivitas antibakteri. Isoalat bakteri yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji Escherichia coli adalah isolat dengan kode BTRM 03 memiliki zona hambat 9,97 mm, BTRM 05 dengan zona hambat 12,88 mm dan BTRM 06 dengan zona hambat 11,04 mm. Bakteri uji Staphylococcus aureus adalah isolat dengan kode BTRM 03 dengan zona hambat 12,24 mm, BTRM 05 dengan zona hambat 13,92 mm dan BTRM 06 dengan zona hambat 7,88 mm. Isolat bakteri dari tumbuhan mangrove api-api (Avicennia marina) terdapat 3 isolat bakteri yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.
BIAYA MEDIS LANGSUNG PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL Alya Azzahra; Woro Supadmi
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.265

Abstract

Pembiayaan hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik menjadi beban ekonomi. Berdasarkan hasil studi tahun 2021 pasien yang menjalani hemodialisis pada tahun 2020-2021 di RSU PKU Muhammadiyah Bantul berjumlah 172 orang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui biaya medis langsung pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis. Metode penelitian yang digunakan adalah observasional deskriptif dengan pengumpulan data retrospektif. Pasien yang diambil adalah pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis bulan Juni 2022 yang memenuhi kriteria inklusi. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, data pengobatan, data laboratorium dari rekam medik. Biaya perspektif rumah sakit dari biaya medis langsung yang diperoleh dari dari bagian ’keuangan. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh 93 sampel pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis yang melakukan rawat jalan. Terdapat 7 pasien yang mendapatkan obat, diantaranya furosemide, irbesartan, asam folat dan vipiron. Biaya pada pasien ginjal kronik di RSU PKU Muhammadiyah Bantul meliputi biaya pendaftaran Rp 11.000, biaya laboratorium Rp 72.000, dan biaya hemodialisis Rp 1.177.000. Terdapat 7 pasien yang menggunakan obat dengan rata-rata total biaya sebesar Rp1.396.484, sedangkan 86 pasien tanpa menggunakan obat dengan rata-rata total biaya sebesar Rp 1.260.000. Kesimpulan biaya medis langsung pada pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis di RSU PKU Muhammadiyah Bantul bulan Juni 2022 yang menggunakan obat adalah sebesar Rp 1.396.484, sedangkan pasien tanpa menggunakan obat sebesar Rp 1.260.000.
ANALISIS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PASIEN DEMAM TIFOID DI RSUD dr. R. GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA TAHUN 2022 MENGGUNAKAN METODE ATC/DDD DAN DU 90% Alifia Kurniati; Sunarti; Khamdiyah Indah Kurniasih
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.283

Abstract

Demam tifoid termasuk salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan terutama di negara-negara berkembang, salah satunya indonesia. Penggunaan antibiotik secara berlebihan dapat membahayakan pasien dan menimbulkan resistensi obat terhadap bakteri. Upaya untuk mengetahui kuantitas pemakaian antibiotik perlu dilakukan menggunakan metode kuantitatif yseperti metode ATC (Anatomic Therapeutic Chemical) dan DDD (Defined Daily Dose) serta DU 90% (Drug Utilization). Penelitian ini dilakukan untuk menilai penggunaan antibiotik pada pasien dewasa yang menderita demam tifoid sesuai ATC/DDD dan DU 90% yang dirawat di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga tahun 2022. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif melalui pengumpulan data retrospektif berdasarkan rekam medis, pengumpulan sampel dengan metode purposive sampling berjumlah 302 sampel. Data yang dikumpulkan meliputi nomor rekam medis, lama rawat inap, identitas pasien, diagnosis, dan profil pengobatan (nama antibiotik, jumlah antibiotik, cara pemberian, aturan pakai, dosis obat). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerapkan ATC (Anatomical Therapeutic Chemical) dan DDD (Defined Daily Dose) sebagai standar global dalam penelitian tentang penggunaan obat. Salah satu contoh penggunaannya adalah dalam mengukur pemakaian antibiotik dengan metode ATC/DDD. Hasil penelitian menunjukkan total nilai DDD yaitu 120,31 DDD/100 patient days dengan 1210 hari total rawat inap. Antibiotik dengan nilai DDD tertinggi per 100 hari pasien hingga terendah yaitu cefixime (63,26), ceftriaxon (45,62), ciprofloxacin p.o (5,33), ciprofloxacin i.v (0,91), amoxicillin p.o (1,4), amoxicillin i.v (0,21), cefotaxime (0,41) dan azithromycin (3.17). Antibiotik yang termasuk dalam kategori DU 90% yaitu cefixime (52,58) serta ceftriaxon (37,92%).
IDENTIFIKASI PARASETAMOL PADA JAMU PEGAL LINU DI PASAR PERUMNAS KLENDER JAKARTA TIMUR DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PERIODE JULI 2023 Panca, Pra Panca Bayu Chandra; Ika Agustina; Ami Yuningsih
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.284

Abstract

Obat tradisional di Indonesia dilarang mengandung bahan kimia obat karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sebanyak 41 item obat tradisional mengandung bahan kimia obat, dari jumlah tersebut terdapat 14 produk jamu yang memiliki khasiat pegal linu dan 8 diantaranya mengandung paracetamol. Paracetamol merupakan salah satu zat yang berkhasiat sebagai analgetik dan antipiretik, apabila ditambahkan dalam jumlah yang tidak terukur, berefek terhadap kerusakan liver dan ginjal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan kandungan paracetamol pada jamu pegal linu yang beredar di Pasar Perumnas Klender Jakarta Timur menggunakan metode penelitian deskriktif dengan menggunakan alat ukur Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Penelitian dilakukan menggunakan 3 sampel jamu yang tidak memiliki izin edar, fase diam yang digunakan adalah plat KLT dengan silica gel serta fase gerak yang digunakan yaitu kloroform dan methanol 9:1. Berdasarkan hasil pengamatan dengan metode kromatografi lapis tipis, sampel A dilihat pada sinar UV 254 nm dan UV 365 nm antara sampel, baku pembanding dan kontrol positif memiliki nilai Rf yang sama pada UV 254 nm memiliki nilai Rf 0,167 pada sinar UV 365 nm memiliki nilai Rf 0,167. Sampel B dilihat pada sinar UV 254 nm antara sampel, baku pembanding dan kontrol positif memiliki nilai Rf yang sama pada UV 254 nm memiliki nilai Rf 0,167. Sampel C dilihat pada sinar UV 254 nm dan 365 nm antara sampel, baku pembanding dan kontrol positif memiliki nilai Rf yang sama pada UV 254 nm memiliki nilai Rf 0,1 pada sinar UV 365 nm memiliki nilai Rf 0,41 kesamaan nilai Rf berarti positif mengandung paracetamol. Kesimpulannya bahwa pada ketiga sampel yang diuji terdapat bahan kimia paracetamol pada jamu pegal linu yang beredar di Pasar Perumnas Klender.
FORMULASI SAMPO EKSTRAK DAUN KESUM (Polygonum minus Huds) DAN EFEKTIVITAS ANTIJAMURNYA TERHADAP Candida albicans Rahmania Hidayati; Yuli Nurullaili Efendi; Dyah Anggraeni Budhi Pratiwi; Juita; Herlingga Aprilianti
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.290

Abstract

Untuk mengatasi masalah ketombe akibat jamur Candida albicans, sampo dengan zat aktif antijamur merupakan solusi utama. Daun kesum (Polygonum minus Huds.) yang mengandung senyawa-senyawa golongan fenolik, flavonoid, alkaloid, tanin dan terpenoid memiliki aktivitas antijamur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sifat fisik formulasi sampo ekstrak daun kesum (Polygonum minus Huds.) dan efektivitasnya sebagai antijamur terhadap Candida albicans. Sampo diformulasikan menjadi 3 formula dengan konsentrasi ekstrak FI (2,5%), FII (5%), dan FIII (7,5%). Ketiga formula sampo dievaluasi sifat fisiknya meliputi oraganoleptis, tinggi busa, pH, viskositas, daya sebar, homogenitas, dan cycling test. Kemudian dilakukan uji efektivitas antijamur terhadap Candida albicans dengan metode difusi cakram. Formulasi sediaan sampo ekstrak daun kesum (Polygonum minus Huds.) Formula FI (2,5%), FII (5%), FIII (7,5%) menghasilkan sifat fisik yang baik sesuai standar dan bersifat stabil. Hasil uji antijamur juga menunjukkan efektivitas yang sangat kuat terhadap jamur Candida albicans dengan nilai daya hambat FI (2,5%), FII (5%), FIII (7,5%) berturut-turut 34,72 mm; 37,58 mm; dan 38,89 mm.