cover
Contact Name
Octariana Sofyan
Contact Email
lppm@afi.ac.id
Phone
+62274-370458
Journal Mail Official
lppm@afi.ac.id
Editorial Address
Jl. Veteran Gang Jambu Kebrokan Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta 55151
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kefarmasian AKFARINDO
ISSN : 25287257     EISSN : 25287265     DOI : -
The journal includes various fields of pharmaceuticals sciences such as: -Pharmacology and Toxicology -Pharmacokinetics -Community and Clinical Pharmacy -Pharmaceutical Chemistry -Pharmaceutical Biology -Pharmaceutics -Pharmaceutical Technology -Biopharmaceutics -Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology -Alternative medicines
Articles 195 Documents
PENGARUH FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK DAUN PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA LINN.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA MENCIT (MUS MUSCULUS) Vinara Acnes Putri Mabela; Joko Santoso; Hanugrah Ardya
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.334

Abstract

Luka sayat adalah suatu kerusakan yang terjadi pada jaringan kulit akibat trauma benda tajam seperti pisau, silet, kampak tajam maupun pedang. Prevalensi kejadian luka sayat/teriris di indonesia sebesar 20,1% jiwa, angka cedera di Jawa Tengah hampir 8%. Tanaman yang digunakan untuk membuat sediaan gel adalah daun pegagan (Centella Asiatica Linn.). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh formulasi sediaan gel ekstrak daun pegagan (Centella Asiatica Linn.) terhadap penyembuhan luka sayat pada Mencit (Mus muscullus). Metode penelitian ini yaitu metode eksperimental dengan memberi perlakuan Post Test Only Control Group Design. Pada penelitian ini dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu kelompok FI dosis ekstrak 30 mg, F II dosis ekstrak 60 mg, FIII dosis ekstrak 90 mg, FIV basis gel (kontrol negative), FV (kontrol positif) menggunakan salep betadine 5 g. Hasil penelitian didapatkan pada FI memiliki efektifitas penyembuhan 36,45 aroma tidak aromatik, warna coklat, bentuk lembut, pH 5,43 daya sebar 5,70 daya lekat 30,04. FII memiliki efektifitas penyembuhan 52,88 aroma tidak aromatik, warna coklat, lembut, pH 5,23 daya sebar 5,40 daya lekat 32,54. FIII memiliki efektifitas penyembuhan 58,88 aroma tidak aromatik, warna coklat kehitaman, lembut, pH 5,50 daya sebar 5,17 daya lekat 40,19. FIV memiliki aktivitas penyembuhan 35,14 aroma tidak beraroma, warna tidak berwarna, lembut, pH 5,43 daya sebar 5,00 daya lekat 25,62. Hasil hedonik responden menyukai FIII dengan nilai warna sangat suka (80%), aroma suka (67%) tekstur sangat suka (87%). Potensi penyembuhan luka sayat yang paling baik yaitu FIII sebesar (94,83%). Kesimpulan pada penelitian menunjukkan bahwa sediaan gel ekstrak daun pegagan (Centella Asiatica Linn.) mempunyai aktivitas penyembuhan luka sayat, mutu fisik dan uji hedonik dari sediaan gel yang paling baik adalah FIII dengan dosis 90 mg.
PROFIL PERESEPAN OBAT PREKURSOR DI APOTEK NIA KOTA MATARAM PERIODE BULAN SEPTEMBER 2023 Pratami, Baiq Nona Rusdianti; Raisya Hasina; Amira
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.405

Abstract

Prekursor adalah golongan obat keras yang harus diberikan dengan resep dokter. Prekursor dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan narkotika yang rentan penyalahgunaan sehingga pemberian obat tersebut harus diawasi secara ketat terutama di apotek, di mana masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan obat prekursor. Apotek Nia merupakan salah satu apotek di Kota Mataram yang melayani pelayanan obat resep, terletak di tempat yang strategis dan pasokan obat lengkap, sehingga banyak masyarakat yang menebus resep di Apotek Nia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil resep obat prekursor di Apotek Nia, Kota Mataram pada periode September 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode non-probability sampling, yaitu jenis purposive sampling. Data yang diambil berdasarkan kriteria inklusi meliputi jenis kelamin, usia di atas 12 tahun, nama merek obat prekursor, jumlah resep, jumlah obat, kandungan zat aktif, dan dosis penggunaan. Dari total 92 resep obat prekursor, ada 52 resep yang memenuhi kriteria inklusi dan digunakan sebagai sampel penelitian. Data dianalisis dengan Microsoft Excel dalam bentuk tabel dan diagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peresepan obat prekursor didominasi oleh perempuan (65,38%) pada kisaran usia 26-40 tahun (40,38%). Obat prekursor yang paling banyak diresepkan adalah Tremenza (42,30%) diikuti oleh Rhynos SR (30,77%) dengan bahan aktif Pseudoefhedrine HCl dengan dosis rata-rata 2-3 kali sehari.
EVALUASI PENERIMAAN DAN PENYIMPANAN OBAT DI INSTALASI FARMASI RSUD PATUT PATUH PATJU Yoga Dwi Saputra; Fitra Hataya Lisi; Adnanto Wiweko; Kismawati Mulyaningsih
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 9 No 2 (2024)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.406

Abstract

Pengelolaan obat merupakan siklus kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, dan evaluasi. Penerimaan obat yang tidak tepat dapat menyebabkan kondisi stagnant dan stockout. Penyimpanan obat yang tidak sesuai akan menyebabkan menurun nya kadar dan potensi obat sehingga dapat merugikan pasien dan rumah sakit. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penerimaan dan penyimpanan obat dan sediaan farmasi di rumah sakit Patut Patuh Patju berdasarkan Petunjuk Standar Rumah Sakit Tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode observasional yang bersifat deskriptif menggunakan checklist dan wawancara kepada kepala instalasi farmasi dan apoteker. Hasilnya dianalisa secara deskriptif dengan menggunakan analisa persentase yang dihitung kesesuaian sistem penerimaan dan penyimpanan berdasarkan Petunjuk Standar Rumah Sakit Tahun 2019. Hasil penelitian yang diperoleh pada aspek penerimaan obat di RSUD Patut Patuh Patju memperoleh rata-rata persentase 100% kesesuaian terhadap standar Kemenkes 2019 dan pada aspek penyimpanan rata -rata persentase 91% kesesuaian sehingga tergolong baik. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase kesesuaian penerimaan dan penyimpanan obat di Instalasi Farmasi RSUD Patut Patuh Patju secara umum sudah sesuai dengan Petunjuk Standar Rumah Sakit Tahun 2019. Namun masih ada yang perlu diperbaiki yaitu pada aspek tempat penyimpanan obat, alat simpan, pemantauan dan High alert dan LASA.
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN GEL EKSTRAK ETANOL 96% DAUN KELOR (Moringa oleifera L.) DENGAN CARBOPOL ULTREZ 10 SEBAGAI GELLING AGENT Pra Panca Bayu Chandra; Senny Listy Kartika Falestin; Kelvi Febriyani
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.v10i1.1098

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera L.) merupakan tanaman obat yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Daun kelor mengandung flavonoid yang berkhasiat terhadap gangguan kulit seperti menghambat pertumbuhan jamur Malassezia furfur atau penyakit panu, menyembuhkan luka bakar, mengatasi jerawat atau sebagai antibakteri dan memiliki aktivitas farmakologis antiinflamasi. Sediaan gel dipilih dalam formula karena penyebaran di kulit baik, memberikan efek dingin pada kulit ketika digunakan sehingga memberi kenyamanan pada penggunanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi yang sesuai sediaan gel ekstrak etanol 96% daun kelor (Moringa oleifera L.) dengan carbopol ultrez 10 sebagai gelling agent serta evaluasi sediaannya. Sampel penelitian ini adalah daun kelor yang berasal dari kebun original flora, Bekasi. Pada penelitian ini ekstrak daun kelor diformulasikan ke dalam sediaan gel sebanyak dua formula. Penelitian ini dibagi dua formula pada sediaan gel. Evaluasi sediaan gel meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya lekat dan daya sebar. Hasil menunjukkan sediaan gel memenuhi persyaratan pada uji organoleptis berwarna coklat tua, bentuk sedikit encer pada formula 1 dan formula 2 mendapatkan gel yang kental. Uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya lekat dan uji daya sebar pada kedua menghasilkan sediaan yang baik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa kedua formula memenuhi persyaratan pada evaluasi sediaan gel yang dipengaruhi oleh dua konsentrasi ultrez 10 sebagai gelling agent.
PENETAPAN KADAR FENOLIK DAN ALKALOID EKSTRAK LIMBAH BIJI DURIAN BERDASARKAN TINGKAT KEPOLARAN PELARUT Indah Budi; Amalia, Putri; Tutik
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.481

Abstract

Limbah biji durian merupakan limbah organik dari buah durian yang belum diketahui manfaatnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik dan alkaloid limbah biji durian berdasarkan tingkat kepolaran pelarut metanol (polar), aseton (semi polar), dan dietil eter (non-polar). Metode yang digunakan yaitu analisis kualitatif dengan uji skrining fitokimia dan analisis kuantitatif dengan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol dan aseton limbah biji durian mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, fenolik, dan saponin, sedangkan ekstrak dietil eter limbah biji durian mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid dan flavonoid. Kadar fenolik yang diperoleh dari ekstrak metanol limbah biji durian sebesar 72,71 mgGAE/g ekstrak dengan kadar alkaloid sebesar 130,5 mgCE/g ekstrak; kadar fenolik dari ekstrak aseton limbah biji durian sebesar 46,66 mgGAE/g ekstrak dengan kadar alkaloid sebesar 112,3 mgCE/g ekstrak; dan kadar fenolik dari ekstrak dietil eter limbah biji durian sebesar 22,46 mgGAE/g ekstrak dengan kadar alkaloid sebesar 49,7 mgCE/g ekstrak. Dapat disimpulkan bahwa kadar fenolik dan alkaloid tertinggi terdapat pada ekstrak metanol limbah biji durian.
PENGGUNAAN OBAT IMUNOSUPRESAN PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD SLEMAN PERIODE 2019-2021 Affifatu Annisa; Woro Supadmi; Prita Anggraini Kartika Sari
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1094

Abstract

Imunosupresan atau penekan sistem imun adalah obat yang bekerja dengan menekan disregulasi sistem imun dalam tubuh. Pemilihan obat imunosupresan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan manifestasi penyakit. Pada penyakit tertentu seperti autoimun perlu diberikan obat imunosupresan. Penggunaan obat imunosupresan perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan resiko infeksi dan efek samping yang merugikan pada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik demografi pasien, karakteristik penyakit, dan karakteristik obat imunosupresan yang digunakan pasien rawat inap di RSUD Sleman periode 2019-2021. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental bersifat deskriptif dengan pengumpulan data retrospektif dari catatan rekam medik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk persentase karakteristik demografi pasien, karakteristik penyakit, dan karakterstik obat. Hasil penelitian diperoleh 73 rekam medik dengan data demografi pasien meliputi pasien dengan jenis kelamin perempuan (68,5%), kelompok usia 45-59 tahun (38,3%), status pendidikan menengah (52,1%), pasien tidak bekerja (63,0%), pasien menikah (75,3%), dan jenis pembayaran BPJS Kesehatan (94,5%). Karakteristik penyakit meliputi kanker (52,1%), anemia aplastic (24,7%), dermatitis alergi (16,4%). Karakterstik obat meliputi golongan obat kortikosteroid (86,3%), metilprednisolon (47,9%), dosis obat metilprednisolon 2x sehari 125 mg/vial (15,1%), bentuk sediaan injeksi (63%), dengan rute pemberian intravena (63%). Golongan obat persentase tertinggi adalah kortikosteroid, dengan jenis obat metilprednisolon. Bentuk sediaan injeksi dengan rute meberian secara intravena. Dosis obat metilprednisolon 2xsehari 125 mg/vial.
PERBANDINGAN KONSENTRASI PELARUT TERHADAP RENDEMEN DAN HASIL SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN KERSEN (Mutingia calabura) Heradewi Lupitasari; Azzahra, Fara
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1110

Abstract

Daun kersen mempunyai kandungan kimia seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Kandungan kimia pada tanaman salah satunya dapat diperoleh melalui proses ekstraksi. Perbedaan konsentrasi pelarut pada proses ekstraksi dapat mempengaruhi rendemen serta kandungan kimia pada ekstrak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut terhadap rendemen dan kandungan kimia daun kersen (Mutingia calabura). Jenis penelitian ini menggunakan post test only design. Ekstraksi daun kersen menggunakan pelarut etanol 70% dan 96%. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi selama 3x24 jam. Ekstrak yang diperoleh diuapkan dengan cara dianginkan, hingga ekstrak kental. Ekstrak kental dihitung rendemen dan skrining fitokimia. Nilai rendemen dianalisis secara statistik menggunakan Independent Sample T-Test. Hasil skrining fitokimia berupa kandungan kimia ekstrak daun kersen etanol 70% dan 96% disajikan secara deskriptif. Rendemen ekstrak daun kersen etanol 70% dan 96% berturut-turut, yaitu 3,36±0,01% dan 2,52±0,07%. Hasil analisis statistik diperoleh nilai sig<0,05, hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi pelarut berpengaruh pada rendemen ekstrak daun kersen pada konsentrasi etanol 70% dan 96%. Ekstrak daun kersen pada kedua konsentrasi etanol mengandung senyawa fenolik, flavonoid, tanin, dan steroid. Ekstrak daun kersen dengan konsentrasi etanol 96% tidak mengandung senyawa saponin. Kesimpulan penelitian ini, konsentrasi pelarut berpengaruh terhadap rendemen dan kandungan kimia ekstrak daun kersen.
FORMULASI DAN UJI STABILITAS FISIK KRIM ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMANGI (Ocimum x africanum Lour.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus DENGAN VARIASI NILAI HYDROPHILE-LYPHOPHILE BALANCE (HLB) EMULGATOR Robuta, Marrsa Rojwaanna; Dewi Ekowati; Fitri Kurniasari
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1131

Abstract

Jerawat merupakan kondisi permasalahan kulit akibat tersumbatnya pori-pori yang disertai dengan peradangan. Salah satu penyebab jerawat adalah bakteri Staphylococcus aureus. Salah satu tanaman yang dapat digunakan yaitu daun kemangi, pada ekstrak daun kemangi mengandung senyawa flavonoid, tannin, alkaloid, dan saponin yang memiliki aktivitas sebagai antibakteri yang akan dibuat menjadi sediaan krim karena memiliki keunggulan seperti praktis dan mudah diaplikasikan pada wajah dengan menggunakan variasi nilai HLB untuk meihat pengaruh pada stabilitas dan mutu fisik sediaan krim. Metode penelitian yang digunakan yaitu eksperimental. Pelarut etanol 96% digunakan untuk ekstraksi daun kemangi melalui metode maserasi. Ekstrak daun kemangi dibuat sediaan krim sebanyak 6 formula, kemudian dilakukan penguian organoleptik, homogenitas, viskositas, daya lekat, daya sebar, tipe emulsi, stabilitas, dan aktivitas dilakukan untuk menghambat bakteri Staphylococcus aureus. Pengujian antibakteri dilakukan menggunakan metode sumuran. Penelitian ini bertujuan menghasilkan krim antibakteri ekstrak daun kemangi dan mengetahui pengaruh variasi nilai HLB emulgator span 60 dan tween 60 terhadap mutu fisik krim. Data dianalisis secara statistik. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi emulgator span 60 dan tween 60 mempengaruhi hasil mutu fisik sediaan yaitu viskositas menurun sehingga daya sebar meningkat, dan daya lekat menurun dengan nilai sig < 0,05. Pada hasil penelitian menunjukkan semua sediaan memiliki hasil yang homogen dan memiliki tipe krim M/A. Formula 6 dengan HLB 12 pada perbandingan emulgator span 60 dan tween 60 (1,4% : 3,6%) memberikan stabilitas yang baik dan daya hambat bakteri paling besar diantara formula lainnya yaitu memiliki nilai rata-rata daya hambat 13,53mm dengan kategori sedang.
UJI AKTIVITAS ANTIDEPRESAN EKSTRAK ETANOL BUAH CABE JAWA (Piper retrovactum Vahl) PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus L.) DENGAN METODE Forced Swimming Test (FST) Najiyyah, Trias Durrotun; Opstaria Saptarini; Santi Dwi Astuti
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 1 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1148

Abstract

Depresi merupakan gangguan kesehatan mental yang disebabkan karena turunnya kadar neurotransmiter di dalam otak. Buah cabe jawa (Piper retrovactum Vahl) memiliki kandungan senyawa utama alkaloid piperidine (piperin) yang dapat digunakan sebagai antidepresan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antidepresan dan dosis efektif ekstrak etanol buah cabe jawa (Piper retrovactum Vahl). Penelitian ini menggunakan hewan uji yang terbagi dalam 5 kelompok. Terdapat 5 kelompok perlakuan, kontrol negatif Na CMC 0,5%; kontrol positif fluoxetine 1,3 mg/20gBB mencit; ekstrak etanol buah cabe jawa 200; 400; dan 800mg/20gBB mencit. Pengujian antidepresan menggunakan hewan uji mencit putih jantan (Mus musculus L.) dengan metode Forced Swimming Test. Buah cabe jawa sebagai bahan uji disoxhletasi menggunakan pelarut etanol 95%. Hewan uji diinduksi depresi dengan renang paksa 5 menit setiap hari selama 7 hari. Mencit setelah itu diberi perlakuan sampai hari ke-14. Parameter yang diamati adalah immobility time. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan One way ANOVA. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah cabe jawa (Piper retrovactum Vahl) mempunyai aktivitas sebagai antidepresan yang dilihat dari penurunan immobolity time dengan metode forced swimming test. Dosis yang paling efektif untuk menurunkan waktu imobilitas secara signifikan yaitu dosis 400 mg/kg BB mencit dengan % penurunan immobility time sebesar 57,15%. Ekstrak etanol buah cabe jawa (Piper retrovactum Vahl) dengan dosis 200; 400; dan 800 mg/20gBB mencit mempunyai aktivitas sebagai antidperesan.
EVALUASI FORMULA SEDIAAN GEL FRAKSI N-HEKSAN DAUN JAMBLANG (Syzygium cumini) Hariadi, Puspawan; Hidayati, Kartika; Gemantari, Baiq Maylinda
Jurnal Kefarmasian Akfarindo Vol 10 No 2 (2025)
Publisher : Akademi Farmasi Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37089/jofar.vi0.1144

Abstract

Tanaman jamblang merupakan tanaman yang memiliki potensi untuk dikembangakan menjadi sediaan farmasi. Tanaman ini diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, tanin, dan saponin. Dalam beberapa penelitian tanaman ini dilaporkan memiliki aktifitas antibakteri dan antioksidan Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat fisik dari formula gel fraksi n-heksan daun jamblang. Ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut etanol 96% dan difraksinasi menggunakan n-heksan. Sediaan gel fraksi n-heksana diformulasikan menjadi 3 formula, F1 sebagai basis tanpa fraksi n-heksan daun jamblang yang berisi carbomer, propilenglikol, trietanolamin dan metil paraben, F2 dengan konsentrasi fraksi n-heksan daun jamblang 3% dan F3 dengan konsentrasi fraksi n-heksan daun jamblang 5%, sediaan gel fraksi n-heksan diuji organoleptis, pH, daya sebar dan daya lekat. Hasil penelitian pada formulasi F1 diperoleh pH 6,42 daya sebar 4,46 daya lekat 1,87 pada formulasi F2 diperoleh pH 6,37 daya sebar 5,56 dan daya lekat 2,56 pada formulasi F3 diperoleh pH 6,08 daya sebar 6,33 dan daya lekat 2,71. Dari hasi penelitian disimpulkan bahwa sediaan gel fraksi n-heksan daun jamblang F2, dan F3 memiliki sifat fisik sesuai standar sediaan gel. Pada sediaan gel F3 memilik sifat fisik terbaik berdasarkan evaluasi sifat fisik sediaan gel.