cover
Contact Name
Jauhar Khabibi
Contact Email
jauhar_khabibi@yahoo.com
Phone
+6282213390515
Journal Mail Official
jurnalsilvatropika@unja.ac.id
Editorial Address
Kampus Pinang Masak Universitas Jambi Jl. Raya Jambi-Muara Bulian, KM 15 Mendalo Indah Kode Pos 36361
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Silva Tropika
Published by Universitas Jambi
ISSN : 26158353     EISSN : 26214113     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
The tropical forest has a unique feature. Its biological and ecological diversity relies on a very complex and interrelated system. Managing the forest sustainably required a wide application in multiple scientific disciplines. Jurnal Silva Tropika is a periodic scientific article and conceptual thinking of tropical forest management covering all aspects of forest planning, forest policy, forest resources utilization, forest ergonomics, forest ecology, forest inventory, silviculture, and management of regional ecosystems. Jurnal Silva Tropika also welcomes the topics that directly or indirectly support tropical forest management, e.g., economics, anthropology, social, and the environment.
Articles 147 Documents
Komposisi dan Struktur Jenis Pohon pada Sistem Agroforestri Bambang Lanang di Empat Lawang, Sumatra Selatan: Tree Species Composition and Structure of Bambang Lanang Agroforestry System in Empat Lawang, South Sumatra Lanuriati, Arisna; Sundawati, Leti; Hartoyo, Adisti Permatasari Putri
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.48033

Abstract

ABSTRACT Communities in Empat Lawang Regency, South Sumatra have implemented an agroforestry system. Bambang lanang (Magnolia champaca) is a local species and is mainly cultivated by the local communities in Empat Lawang Regency as a carpentry tree. However, the information of tree species composition and structure of Bambang lanang agroforestry system is still limited. This study aimed to analyze the tree species composition and structure in the Bambang lanang community forests. The method used was vegetation analysis in 4 villages with a total plot was 100 plots. The results showed that the agroforestry pattern was the most widely used pattern by Bambang lanang's farmers. The highest total plant species in the Bambang lanang community forest was found in Fajar Bakti Village (26 species). The highest number of species at the level of seedlings, saplings, poles, and trees in order were found in the villages of Muara Pinang (17 species), Paiker (17 species), Muara Pinang (12 species), and Paiker (20 species). The dominant plant species composition in the community forest is Bambang lanang, combined with Coffee (Coffea sp.), and Durian (Durio sp.). The agroforestry system contributes to the vegetation diversity.   Keywords: complex agroforestry, Sumatra, vegetation analysis, vegetation diversity   ABSTRAK Masyarakat di Kabupaten Empat Lawang, Sumatra Selatan telah mengimplementasi sebuah sistem agroforestry. Bambang lanang (Magnolia champaca) adalah jenis lokal dan umum dibudidayakan oleh masyarakat lokal di Kabupaten Empat Lawang sebagai kayu pertukangan. Oleh karenanya, informasi mengenai komposisi dan struktur jenis pohon pada sistem agroforestri Bambang lanang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi dan struktur jenis pohon pada hutan masyarakat Bambang lanang. Metode yang digunakan adalah analisis vegetasi di 4 desa dengan total plot sebanyak 100 plot. Hasil penelitian menunjukkan pola agroforestri paling banyak digunakan oleh petani Bambang lanang. Jumlah spesies tertinggi ditemukan di hutan masyarakat Bambang lanang Desa Fajar Bakti (26 spesies). Jumlah spesies semai, pancang, tiang, dan pohon secara berurutan ditemukan di Desa Muara Pinang (17 spesies), Paiker (17 spesies), Muara Pinang (12 spesies), dan Paiker (20 spesies). Komposisi spesies tumbuhan dominan di hutan masyarakat adalah Bambang lanang yang dikombinasikan dengan kopi (Coffea sp.) dan durian (Durio sp.). Sistem agroforestri berkontribusi terhadap keanekaragaman vegetasi.   Kata kunci: agroforestri kompleks, analisis vegetasi, keanekaragaman vegetasi, Sumatra
Estimasi Tutupan Vegetasi menggunakan Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Keanekaragaman Jenis Pohon di sekitar Kawasan Ekosistem Leuser: Estimating Vegetation Cover using Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and Tree Species Diversity around Leuser Ecosystem Area Hartoyo, Adisti Permatasari Putri; Sunkar, Arzyana; Hidayati, Syafitri; Istomo
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.48030

Abstract

ABSTRACT Leuser Ecosystem Area (LEA) is an essential tropical forest ecosystem with an expansive approximately 2,6 Mha. Baseline data of tree species diversity and structure around LEA is limited, whereas vegetation cover as a portion of forest monitoring in GLNP still needs to be considered. The objectives of this study were 1) to estimate vegetation cover changes in LEA in 2016, 2020, and 2021 and 2) to analyze vegetation composition and structure in the natural forests (NF) of GLNP, as well as in the agroforestry system (AF) of Mude Nosar Village, Central Aceh Province where the parts of LEA. The methods used were the Normalized Different Vegetation Index (NDVI) for vegetation cover estimation and vegetation analysis in both locations. NDVI analysis resulted in 5 classes of vegetation cover in LEA, to be specific non-vegetation (class 1), very low dense vegetation (class 2), low dense vegetation (class 3), moderately dense vegetation (class 4), and highly dense vegetation (class 5). LEA vegetation cover in 2016, 2020, and 2021 is dominated by class 5 (highly dense vegetation). The most frequent seedling, sapling, pole, and tree species that grew in NF of GLNP in order were Geseng tanduk (Quercus sp.), Geseng minyak (Lithocarpus lucidus), Geseng pagar anak (Lithocarpus sp.), and Geseng batu (Lithocarpus conocarpus). The dominant species in AF were rumput kerbau (Paspalum conjugatum) at the understory and seedling level, coffee (Coffea arabica) at the sapling level, lamtoro (Leucaena leucocephala) at the pole and tree level. Tree structures in the NF of GLNP are reverse J-curves, while in AF of Mude Nosar Village are not fully reverse J-curves. The success of AF depends on considering tree species composition and structure, along with the specific needs and goals of the landowners. Consequently, enrichment planting in AF is necessary for biodiversity improvement.   Keywords: agroforestry, Gunung Leuser National Park, Mude Nosar Village, species composition, tree structure         ABSTRAK Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan ekosistem hutan tropis yang penting dengan luas sekitar 2,6 juta hektar. Data dasar mengenai keanekaragaman dan struktur spesies pohon di sekitar KEL masih terbatas, sementara tutupan vegetasi sebagai bagian dari pemantauan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) masih perlu diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah 1) memperkirakan perubahan tutupan vegetasi di KEL pada tahun 2016, 2020, dan 2021 serta 2) menganalisis komposisi dan struktur vegetasi di hutan alam (NF) TNGL serta sistem agroforestri (AF) di Desa Mude Nosar, Kabupaten Aceh Tengah, yang merupakan bagian dari KEL. Metode yang digunakan meliputi indeks vegetasi berbasis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk estimasi tutupan vegetasi dan analisis vegetasi di kedua lokasi. Analisis NDVI menghasilkan lima kelas tutupan vegetasi di KEL, yaitu tanpa vegetasi (kelas 1), vegetasi sangat jarang (kelas 2), vegetasi jarang (kelas 3), vegetasi sedang (kelas 4), dan vegetasi sangat rapat (kelas 5). Tutupan vegetasi KEL pada tahun 2016, 2020, dan 2021 didominasi oleh kelas 5 (vegetasi sangat rapat). Spesies yang paling sering ditemukan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon di NF TNGL secara berurutan adalah geseng tanduk (Quercus sp.), geseng minyak (Lithocarpus lucidus), geseng pagar anak (Lithocarpus sp.), dan geseng batu (Lithocarpus conocarpus). Spesies dominan di AF adalah rumput kerbau (Paspalum conjugatum) pada tingkat bawah dan semai, kopi (Coffea arabica) pada tingkat pancang, serta lamtoro (Leucaena leucocephala) pada tingkat tiang dan pohon. Struktur pohon di NF TNGL mengikuti pola kurva J-terbalik, sementara di AF Desa Mude Nosar tidak sepenuhnya mengikuti pola J-terbalik. Keberhasilan AF bergantung pada pertimbangan komposisi dan struktur spesies pohon, serta kebutuhan dan tujuan pengelola lahan. Oleh karena itu, penanaman pengayaan dalam sistem AF diperlukan untuk meningkatkan keanekaragaman hayati.   Kata kunci: agroforestri, Desa Mude Nosar, komposisi spesies, struktur pohon, Taman Nasional Gunung Leuser
Dinamika Tutupan Lahan Di Taman Nasional Kerinci Seblat : Land Cover Dynamics in Kerinci Seblat National Park Tegar wirayuda; Rudi Hilmanto; Arief Darmawan; Dian Iswandaru
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.47179

Abstract

ABSTRACT The largest conservation area on the island of Sumatra is Kerinci Seblat National Park (TNKS), which stretches across four provinces: West Sumatra, South Sumatra, Bengkulu, and Jambi. This area experiences various pressures that trigger land cover changes caused by natural and human factors. This study aims to determine land cover changes that occurred between 2013, 2018, and 2023 and to determine the anthropogenic activities that influence these changes. Land cover analysis was conducted using the supervised classification method with the random forest algorithm on the Google Earth Engine platform. Image classification resulted in five classes: water bodies, forests, horticultural land, open land, and shrubs. To identify the factors influencing land cover changes, an ethnoecological approach was used. The classification results were tested using the overall accuracy method, with accuracy values ​​of 88.44% in 2013, 89.94% in 2018, and 85.17% in 2023. The results showed that in the 2013–2018 period there was a decrease in forest cover, water bodies, and shrubs, while horticultural land and open land experienced an increase. In the 2018–2023 period, forest cover and open land decreased, while water bodies, horticulture, and shrubs increased. The dynamics of land cover are influenced by various anthropogenic activities such as forest encroachment, land conversion, illegal mining, historical land ownership, and economic pressures on the community after the Covid-19 pandemic. In addition, natural factors such as floods also influence changes in land cover in the TNKS area. Therefore, increased monitoring and security of the area and strengthening of conservation-based community empowerment are needed.   Keywords: ethnoecology, google earth engine, kerinci seblat national park, land cover dynamics, random forest   ABSTRAK Kawasan konservasi terluas di Pulau Sumatera adalah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang terbentang di empat provinsi yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi. Kawasan ini mengalami berbagai tekanan yang memicu perubahan tutupan lahan yang disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan penutupan lahan yang terjadi pada kurun waktu tahun 2013, 2018 dan 2023 serta mengetahui aktivitas antropogenik yang mempengaruhi perubahan tersebut. Analisis tutupan lahan dilakukan menggunakan metode supervised classification dengan algoritma random forest pada platform Google Earth Engine. Klasifikasi citra menghasilkan 5 kelas yaitu badan air, hutan, lahan hortikultura, lahan terbuka dan semak belukar. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan tutupan lahan menggunakan pendekatan etnoekologi. Hasil klasifikasi diuji menggunakan metode overall accuracy, dengan nilai akurasi sebesar 88,44% pada tahun 2013, 89,94% pada tahun 2018, dan 85,17% pada tahun 2023. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode 2013–2018 terjadi penurunan tutupan hutan, badan air, dan semak belukar, sementara lahan hortikultura dan lahan terbuka mengalami peningkatan. Pada periode 2018–2023, tutupan hutan dan lahan terbuka menurun, sedangkan badan air, hortikultura, dan semak belukar meningkat. Dinamika tutupan lahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai aktivitas antropogenik seperti perambahan hutan, alih fungsi lahan, pertambangan ilegal, historis kepemilikan lahan, serta tekanan ekonomi masyarakat pasca pandemi Covid-19. Selain itu, faktor alam seperti banjir turut memengaruhi perubahan tutupan lahan di kawasan TNKS. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan dan pengamanan kawasan serta penguatan pemberdayaan masyarakat berbasis konservasi.   Kata kunci: dinamika tutupan lahan, etnoekologi, google earth engine, random forest, taman nasional kerinci seblat
Studi Literatur Keanekaragaman dan Fungsi Flora di Hutan Tropis Pegunungan Sulawesi: A Literature Review on the Diversity and Ecological Functions of Flora in the Montane Tropical Forests of Sulawesi Priyono, Aulya Aginia; nurfatimah, Destia bisma; umaroh, jelinda; nuraeni, Eni
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.52379

Abstract

ABSTRACT Central Sulawesi, situated at the heart of Wallacea, supports unique tropical forest flora resulting from a complex geological history, steep elevational gradients, and ultramafic soils. This literature review aims to synthesize current knowledge on the diversity, vegetation structure, and ecological functions of flora in Central Sulawesi’s forests, focusing on Lore Lindu National Park, Mount Ambang, and Mount Lokon. A narrative synthesis was conducted using 10 peer-reviewed articles (2013–2025) from academic databases including Google Scholar, SINTA, and ScienceDirect. Results indicate a clear vertical zonation: lowland forests are species-rich with dense canopies, while montane zones (800–2,600 m asl) are dominated by Fagaceae, Myrtaceae, and Podocarpaceae, often with high endemism. Flora in ultramafic areas exhibit specialized adaptations due to edaphic stress. Ecologically, these forests stabilize slopes, enhance water infiltration, and store significant carbon. However, anthropogenic pressures especially nickel mining and habitat fragmentation severely threaten ecosystem integrity and increase extinction risks for endemic species. This study underscores the need for landscape-scale conservation that integrates habitat protection, restoration, and community engagement to sustain both biodiversity and ecosystem services in Central Sulawesi.   Keywords: deforestation, endemic flora, montane forest, Central Sulawesi, Wallacea   ABSTRAK Sulawesi Tengah terletak di jantung Wallacea dan memiliki flora hutan tropis yang unik akibat sejarah geologis yang kompleks, gradien elevasi yang tajam, serta tanah ultramafik.Studi ini bertujuan mengkaji keanekaragaman, struktur vegetasi, dan fungsi ekologis flora di hutan Sulawesi Tengah, khususnya di Taman Nasional Lore Lindu, Gunung Ambang, dan Gunung Lokon. Metode yang digunakan adalah sintesis naratif berdasarkan 10 artikel ilmiah (2013–2025) dari Google Scholar, SINTA, dan ScienceDirect. Hasil menunjukkan adanya zonasi vertikal: hutan dataran rendah kaya spesies dengan kanopi rapat, sedangkan hutan montane (800–2.600 m dpl) didominasi Fagaceae, Myrtaceae, dan Podocarpaceae dengan tingkat endemisme tinggi. Tumbuhan di tanah ultramafik menunjukkan adaptasi khusus. Secara ekologis, hutan ini menstabilkan lereng, meningkatkan infiltrasi air, dan menyimpan karbon. Namun, tekanan antropogenik terutama pertambangan nikel dan fragmentasi mengancam keberlanjutan ekosistem dan meningkatkan risiko kepunahan spesies endemik. Temuan ini menegaskan perlunya strategi konservasi berbasis lanskap yang mengintegrasikan perlindungan habitat, pemulihan ekosistem, dan keterlibatan Masyarakat.   Kata kunci: deforestasi, flora endemik, hutan montane, Sulawesi Tengah, Wallacea
Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas dan Potensi Perlindungan Hutan Tidak Langsung: Studi Kasus Pada Rentang Waktu Tertentu dari Bank Sampah Urban Dewan, Indonesia: Community Based Waste Management and Potential Indirect Forest Protection: A Time Series Case Study from Bank Sampah Urban Dewan, Indonesia Hadi, Wirawan; Saputra, Muliyadi
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.52522

Abstract

ABSTRACT Community based waste management is increasingly recognized as a key component of circular economy transitions in developing countries. Its potential contribution to forest protection remains underexplored. This study aims to assess how the operational performance of a community-based waste bank reflects circular economy dynamics and its potential relevance for forest resource conservation study examines the role of waste banks as indirect instruments for forest resource conservation. The analysis is conducted at Bank Sampah Urban Dewan, a community waste bank in Indonesia,nal data from a community based waste bank system over the period 2021 – 2025. A time series approach is applied to examine trends in recovered waste, material composition, and participation adjusted recovery intensity (kg per customer per year). Results indicate that paper consistently represents the dominant recovered material, followed by plastic and cooking oil used. While total recovered waste increases over time, waste management intensity varies substantially, reflecting dynamic participation patterns. The dominance of paper recovery suggests a material substitution pathway, whereby increased availability of secondary fibers may reduce reliance on virgin forest-based resources. In this study, recovery intensity is employed as an operational proxy for circular economy performance and potential indirect forest pressure reduction. The findings highlight that waste bank can generate cross sector co-benefits beyond urban waste reduction, contributing to sustainable consumption and production (SDG 12), climate action (SDG 13), and life on land (SDG 15). Although causal impacts on deforestation are not quantified, the study provides empirical evidence supporting the integration of community-based waste management into broader forest and sustainability policies. This research advances the waste forestry nexus literature and offers a replicable analytical framework for assessing the indirect environmental benefits of circular economy interventions.   Keywords: community-based waste management, forest resource protection, sustainable development goals, waste bank       ABSTRAK Pengelolaan sampah berbasis komunitas semakin diakui sebagai komponen penting dalam transisi menuju ekonomi sirkular di negara-negara berkembang. Potensi kontribusinya terhadap perlindungan hutan masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai bagaimana kinerja operasional sebuah bank sampah berbasis komunitas mencerminkan dinamika ekonomi sirkular serta relevansinya bagi konservasi sumber daya hutan, sekaligus mengkaji peran bank sampah sebagai instrumen tidak langsung dalam perlindungan sumber daya hutan. Analisis dilakukan di Bank Sampah Urban Dewan, sebuah bank sampah komunitas di Indonesia, menggunakan data operasional sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat selama periode 2021–2025. Pendekatan deret waktu (time series) diterapkan untuk mengkaji tren volume sampah yang dikelola, komposisi material, serta intensitas pengelolaan yang disesuaikan dengan tingkat partisipasi (kg per nasabah per tahun). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas secara konsisten merupakan material yang paling dominan dipulihkan, diikuti oleh plastik dan minyak jelantah. Meskipun total sampah yang dikelola meningkat dari waktu ke waktu, intensitas pengelolaan sampah berfluktuasi secara signifikan, mencerminkan dinamika pola partisipasi masyarakat. Dominasi pemulihan kertas mengindikasikan adanya jalur substitusi material, di mana peningkatan ketersediaan serat sekunder berpotensi mengurangi ketergantungan pada sumber daya berbasis hutan yang bersifat primer. Dalam penelitian ini, intensitas pemulihan digunakan sebagai proksi operasional untuk kinerja ekonomi sirkular dan potensi pengurangan tekanan terhadap hutan secara tidak langsung. Temuan ini menegaskan bahwa bank sampah dapat menghasilkan manfaat lintas sektor yang melampaui pengurangan sampah perkotaan semata, dengan berkontribusi pada tujuan konsumsi dan produksi berkelanjutan (SDG 12), aksi iklim (SDG 13), serta perlindungan ekosistem daratan (SDG 15). Meskipun dampak kausal terhadap deforestasi belum dapat dikuantifikasi secara langsung, penelitian ini memberikan bukti empiris yang mendukung integrasi pengelolaan sampah berbasis komunitas ke dalam kebijakan kehutanan dan keberlanjutan yang lebih luas. Penelitian ini memperkaya literatur mengenai keterkaitan antara pengelolaan sampah dan kehutanan serta menawarkan kerangka analitis yang dapat direplikasi untuk menilai manfaat lingkungan tidak langsung dari intervensi ekonomi sirkular.   Kata kunci: bank sampah, pengelolaan sampah berbasis komunitas, perlindungan sumber daya hutan, tujuan pembangunan berkelanjutan
Karakteristik Habitat dan Struktur Vegetasi Nepenthes aristolochioides Jebb & Cheek di Taman Nasional Kerinci Seblat: Habitat Characteristics and Vegetation Structure of Nepenthes aristolochioides Jebb & Cheek in Kerinci Seblat National Park Mandala, Bakti; Zuhud, Ervizal A.M; Rahman, Dede Aulia; Purwati, Betty
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.54660

Abstract

ABSTRACT Nepenthes aristolochioides is an endemic and threatened pitcher plant with a restricted distribution in the subalpine ecosystem of Kerinci Seblat National Park. This study aimed to characterize its habitat and associated vegetation structure in the Gunung Tujuh area. Vegetation was sampled using purposive plots centered on Nepenthes aristolochioides individuals and analyzed using the Importance Value Index (IVI). Habitat characterization included topographic, microclimatic, vegetation (NDVI), moisture (NDMI), and soil chemical variables. Nepenthes aristolochioides occurred at elevations of 2,260–2,302 m above sea level under temperatures of 19.4–23.6°C, relative humidity of 82–86%, and slopes of 21.0–31.4%. NDVI (0.367) and NDMI (0.21) indicated moderately open and moist habitat conditions. A total of 44 individuals representing 15 plant species from 10 families were recorded. Ericaceae dominated the sapling, pole, and tree strata, while Urticaceae dominated the seedling layer. Vaccinium miquelii showed the highest IVI at the pole stage (165.27%), whereas Diplycosia heterophylla dominated the tree layer (111.87%). Soil was slightly acidic (pH 6.07–6.23) with relatively high nutrient availability, and no prey was observed in mature pitchers. These findings provide baseline ecological information to support habitat management and conservation of this endangered endemic species.   Keywords: habitat characteristics, Nepenthes aristolochioides, subalpine ecosystem, vegetation structure, conservation ABSTRAK Nepenthes aristolochioides merupakan tumbuhan kantong semar endemik Sumatra yang berstatus terancam dan memiliki sebaran terbatas di ekosistem subalpin Taman Nasional Kerinci Seblat. Informasi mengenai karakteristik habitat dan struktur vegetasi yang mendukung keberadaan spesies ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik habitat dan struktur vegetasi Nepenthes aristolochioides di kawasan Gunung Tujuh. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode purposive sampling dengan plot pengamatan yang berpusat pada individu Nepenthes aristolochioides. Analisis vegetasi dilakukan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon menggunakan Indeks Nilai Penting (INP), sedangkan karakteristik habitat dianalisis berdasarkan faktor topografi, mikroklimat, indeks vegetasi (NDVI), indeks kelembapan (NDMI), dan sifat kimia tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nepenthes aristolochioides tumbuh pada ketinggian 2.260–2.302 mdpl dengan suhu 19,4–23,6°C, kelembapan udara 82–86%, serta habitat yang relatif terbuka dan lembap (NDVI 0,367; NDMI 0,21). Sebanyak 44 individu yang tergolong ke dalam 15 spesies dan 10 famili berhasil diidentifikasi. Vegetasi didominasi oleh famili Ericaceae pada tingkat pancang, tiang, dan pohon, sedangkan tingkat semai didominasi oleh Urticaceae. Vaccinium miquelii memiliki nilai INP tertinggi pada tingkat tiang, sedangkan Diplycosia heterophylla mendominasi tingkat pohon. Hasil penelitian ini menyediakan informasi dasar mengenai karakteristik habitat dan struktur vegetasi Nepenthes aristolochioides yang dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan habitat dan upaya konservasi spesies endemik yang terancam ini.   Kata kunci: karakteristik habitat, Nepenthes aristolochioides, struktur vegetasi, subalpin, konservasi
Karakteristik Habitat Usaha Lebah Madu Apis mellifera (Studi Kasus di Kawasan HTI PT. Wirakarya Sakti (WKS) di Desa Danau Lamo, Kabupaten Muaro Jambi): Habitat Characteristics of Honey Bee Apis mellifera Business (Case Study in Area of PT. Wirakarya Sakti (WKS) in Danau Lamo Village, Muaro Jambi Regency) Rachmawati, Wahyu Sri; Stephani, Sintiya; Purwati, Betty; Apriyani, Sasmita
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.54709

Abstract

ABSTRACT Indonesia's forests possess vast biodiversity wealth, including significant potential for both timber and non-timber forest products. One of the non-timber forest products (NTFP) being developed in Indonesia is honey. Indonesia has enormous honey potential due to its biodiversity, which produces various high-quality honey types. The success of honey bee farming is greatly influenced by the habitat conditions where the bees are kept. Danau Lamo Village is one of the local areas developing the farming of the honey bee Apis mellifera. The location of Danau Lamo Village directly borders the Industrial Forest Plantation (HTI) area of PT. Wirakarya Sakti (WKS). Honey bee farming in Danau Lamo Village is supported by the presence of the HTI with commodity plants Eucalyptus sp. and Acacia crassicarpa. This research aims to analyze habitat characteristics, including feed availability, vegetation diversity, and environmental conditions that affect bee productivity. Through a qualitative descriptive methodology, this study uses primary data obtained directly from observations and interviews. The results indicate that Acacia crassicarpa serves as a vital feed source for Apis mellifera, demonstrating a mutualistic symbiosis through pollination. Furthermore, successful cultivation requires a clean water source, stable climate conditions, and isolation from pollution and pesticides. These findings are expected to promote sustainable beekeeping practices, maintain ecological balance, and support local communities.   Keywords: Apis mellifera, cultivation, habitat characteristics, honey bee   ABSTRAK Hutan Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah, termasuk potensi besar untuk hasil hutan kayu maupun bukan kayu. Salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah madu. Indonesia memiliki potensi madu yang sangat besar karena keanekaragaman hayatinya yang mampu menghasilkan berbagai jenis madu berkualitas tinggi. Keberhasilan budidaya lebah madu sangat dipengaruhi oleh kondisi habitat tempat lebah tersebut dipelihara. Desa Danau Lamo merupakan salah satu daerah yang sedang mengembangkan budidaya lebah madu Apis mellifera. Lokasi Desa Danau Lamo berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT Wirakarya Sakti (WKS). Budidaya lebah madu di Desa Danau Lamo didukung oleh keberadaan HTI dengan tanaman komoditas Eucalyptus sp. dan Acacia crassicarpa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik habitat yang memengaruhi produktivitas lebah, meliputi ketersediaan pakan, keanekaragaman vegetasi, dan kondisi lingkungan. Melalui metodologi deskriptif kualitatif, penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh langsung dari observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Acacia crassicarpa berfungsi sebagai sumber pakan utama bagi Apis mellifera, yang menunjukkan simbiosis mutualisme melalui penyerbukan. Selain itu, budidaya yang sukses memerlukan sumber air bersih, kondisi iklim yang stabil, serta isolasi dari polusi dan pestisida. Temuan ini diharapkan dapat mendorong praktik peternakan lebah yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan ekologis, dan mendukung masyarakat setempat.   Kata kunci: Apis mellifera, budidaya, karakteristik habitat, lebah madu
Penggunaan Artificial Salt Lick dalam Mitigasi Interaksi Negatif Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dengan Manusia di Wilayah Blok I Konsesi PT Alam Bukit Tigapuluh: The Use of Artificial Salt Lick in Mitigating Negative Interactions Between Sumatran Elephant (Elephas maximus sumatranus) and Humans in Block I of PT Alam Bukit Tigapuluh Concession Qosyim, Muhammad Rizki; Hamzah, Hamzah; Zuhdi, M.; Syarifuddin, Hutwan; Achmad, Eva; Marwoto, Marwoto
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.56716

Abstract

ABSTRACT Habitat fragmentation driven by continuous human population growth and land expansion has intensified human–Sumatran elephant conflict (Elephas maximus sumatranus) in Jambi Province, particularly within the concession area of PT Alam Bukit Tigapuluh (PT ABT). This study aimed to evaluate the effectiveness of artificial salt licks as a conflict mitigation strategy by modifying elephant movement patterns and ranging behavior. Employing a mixed-methods approach (quantitative and qualitative), the study was conducted in Block I of the PT ABT concession from December 2024 to June 2025. Ten artificial salt lick sites were established based on GPS collar data analysis and Kernel Density Estimation (KDE) mapping, strategically positioned away from areas of human activity. Data were collected through track observations, camera trap (CT) deployment, and Focus Group Discussions (FGDs) with local communities. The results demonstrated that the artificial salt licks successfully attracted Sumatran elephants, with the highest visitation intensity recorded at sites characterized by gentle topography. Track identification and camera trap recordings confirmed group movements of elephants around the salt lick areas, indicating a shift in movement routes away from settlements and agricultural lands. Local communities also reported a significant decline in negative human–elephant interactions following the intervention. These findings suggest that artificial salt licks are effective in redirecting elephant ranging behavior, contributing to conflict reduction and supporting elephant conservation through the provision of alternative mineral resources.   Keywords: artificial salt lick, conflict mitigation, habitat management, human–elephant conflict, sumatran elephant   ABSTRAK Fragmentasi habitat akibat pertumbuhan populasi manusia dan ekspansi lahan terus-menerus telah memicu konflik antara manusia dan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Provinsi Jambi, khususnya di areal konsesi PT Alam Bukit Tigapuluh (PT ABT). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas implementasi artificial salt lick (jilat garam buatan) sebagai strategi mitigasi konflik dengan memodifikasi pola pergerakan dan perilaku jelajah gajah. Menggunakan metode mixed methods (kuantitatif dan kualitatif), penelitian ini diterapkan di Blok I konsesi PT ABT pada Desember 2024–Juni 2025. Sepuluh titik artificial salt lick ditempatkan berdasarkan analisis data GPS collar dan pemetaan Kernel Density Estimation (KDE), menjauhi area aktivitas manusia. Data dikumpulkan melalui observasi jejak, pemasangan kamera jebak (CT), dan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat. Hasil menunjukkan bahwa artificial salt lick berhasil menarik Gajah Sumatera, dengan intensitas kunjungan tertinggi di lokasi bertopografi landai. Identifikasi jejak dan rekaman CT mengkonfirmasi pergerakan gajah secara berkelompok di area sekitar salt lick, mengindikasikan pengalihan jalur dari pemukiman dan lahan pertanian. Masyarakat mengonfirmasi penurunan drastis interaksi negatif pasca-intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa artificial salt lick efektif dalam mengalihkan perilaku jelajah gajah, berkontribusi pada pengurangan konflik, dan mendukung konservasi gajah melalui penyediaan sumber daya mineral alternatif.   Kata kunci: artificial salt lick, gajah sumatera, konflik manusia-gajah, mitigasi konflik, pengelolaan habitat
Kajian Beberapa Sifat Kimia Tanah Pada Beberapa Tipe Penggunaan Lahan: Study of Some Soil Chemical Properties in Several Different Land Uses Margaretta, Debora; Mahbub, Itang Ahmad; Ermadani, Ermadani
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.57045

Abstract

ABSTRACT Soil chemical properties have a crucial role in determining soil fertility. Land use is one factor that determines soil chemical properties. The purpose of this study was to examine several soil chemical properties across different land uses. The study was conducted in Muhajirin Village, Jambi Luar Kota District, Muaro Jambi Regency, from March to May 2025. Soil sampling was conducted in oil palm, rubber, and areca nut plantations. The soil type at the study site is classified as an Ultisol with a slope of 3-8%. For each land use, a main plot and subplots were identified for soil sampling. Soil samples were taken at a depth of 0-30 cm using a soil auger. Soil chemical parameters included pH, organic carbon, total nitrogen, available phosphorus, and extra potassium. The results showed that soil pH across the three land use types was relatively similar, while the organic carbon, total nitrogen, and exchangeable potassium content in areca nut plantations was higher than in oil palm and rubber plantations. The soil available phosphorus content in oil palm plantations was higher than in areca nut and rubber plantations. Higher organic C content in the soil also indicates higher total N and exchangeable K content in areca nut plantations, while higher available P content in oil palm plantations is due to the application of phosphate fertilizer. The study aimed to examine the chemical characteristics of the soil under several different land uses.   Keywords: soil chemical properties, different land use   ABSTRAK Sifat kimia tanah memiliki peran penting dalam menentukan kesuburan tanah. Penggunaan lahan merupakan salah satu faktor yang menentukan sifat kimia tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji beberapa sifat kimia tanah di berbagai penggunaan lahan. Penelitian ini dilakukan di Desa Muhajirin, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi, dari Maret hingga Mei 2025. Pengambilan sampel tanah dilakukan di perkebunan kelapa sawit, karet, dan pinang. Tipe tanah di lokasi penelitian diklasifikasikan sebagai Ultisol dengan kemiringan 3-8%. Untuk setiap penggunaan lahan, petak utama dan sub petak ditentukan untuk pengambilan sampel tanah. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm menggunakan bor tanah. Parameter kimia tanah meliputi pH, karbon organik, nitrogen total, fosfor tersedia, dan kalium dapat ditukar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH tanah di ketiga tipe penggunaan lahan relatif sama, sedangkan kandungan karbon organik, nitrogen total, dan kalium yang dapat dipertukarkan di perkebunan pinang lebih tinggi daripada di perkebunan kelapa sawit dan karet. Kandungan fosfor tersedia dalam tanah di perkebunan kelapa sawit lebih tinggi dibandingkan di perkebunan pinang dan karet. Kandungan C organik yang lebih tinggi dalam tanah juga menunjukkan kandungan N total dan K yang dapat dipertukarkan lebih tinggi di perkebunan pinang, sedangkan kandungan P tersedia yang lebih tinggi di perkebunan kelapa sawit disebabkan oleh pemberian pupuk fosfat. Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik sifat kimia tanah pada beberapa penggunaan lahan yang berbeda.   Kata kunci: sifat kimia tanah, penggunaan lahan yang berbeda
Beberapa Sifat Fisik dan Infiltrasi Tanah Setelah Revegetasi pada Lahan Pasca Penambangan Batubara: The Several of Physical Properties and Soil Infiltration After Revegetation of Post Coal Mining Land Endriani, Endriani; Fuadi, Najla Anwar; Wahyudi, Rizki
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.57448

Abstract

ABSTRACT This study aims to examine the impact of revegetation on post-coal mining land on soil physical properties and infiltration. The research was carried out in the reclamation post coal mining land   PT. Nan Riang, Muara Tembesi District, Batanghari Regency, Jambi Province, on inactive disposal land, sengon  4 years old, jabon 7 years old, and rambutan 9 years old. This study uses the survey method and the selection of representative areas using the Purposive Random Sampling method. infiltration measurements were carried out using a double ring infiltrometer on each revegetation with three time. Revegetation post coal mining land showed an improvement in soil physical properties and soil infiltration compared to inactive disposal. The top soil layer (0-30 cm) on revegetation land with jabon and rambutan increased soil organic matter (4.84% and 4.75%) followed by sengon  (3.67 %) compared to inactive disposal land (1.59%), decreased the weight of the volume of jabon and rambutan revegetation (1.01 g/cm3 and 1.20 g/cm3) followed by sengon (1.27 g/cm3) compared to inactive disposal (1.73 g/cm3), increasing the total soil pore space in jabon revegetation,  Rambutan, and Sengon (62.01%; 54.72%; 52.08%) compared to inactive disposal (34.72%), increased soil permeability in the revegetation of Jabon, Rambutan, Sengon (20.65 cm/hour; 19.09 cm/hour; 10.10 cm/hour) compared to inactive disposal (1.66 cm/hour). The infiltration rate and infiltration capacity increased after revegetation with jabon (4.01 cm/h and 18.09 cm/h), rambutan (2.96 cm/h and 15.47 cm/h), sengon (2.21 cm/h and 11.98 cm/h), inactive disposal (1.69 cm/h and 5.96 cm/h). Keywords: infiltration, post coal mining, revegetation, soil physical properties     ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak revegetasi pada lahan pasca tambang batubara terhadap sifat fisika tanah dan infiltrasi. Penelitian dilakukan di areal reklamasi lahan pasca tambang batubara PT. Nan Riang Kecamatan Muara Tembesi Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi, pada lahan disposal tidak aktif, sengon umur 4 tahun, jabon umur7 tahun, dan rambutan umur 9 tahun. Penelitian ini menggunakan metode survey dan pemilihan areal pewakil dengan menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengukuran  infiltrasi dilakukan menggunakan double ring infiltrometer.  Revegetasi lahan pasca penambangan batubara menunjukkan terjadi perbaikan sifat fisik tanah  dan infiltrasi tanah dibandingkan disposal tidak aktif. Lapisan tanah atas (0-30 cm) pada lahan revegetasi dengan jabon dan rambutan meningkatkan bahan organik tanah (4,84 % dan 4,75%) diikuti revegetasi sengon (3,67%) dibandingkan lahan disposal tidak aktif (1,59%), menurunkan bobot volume  revegetasi jabon dan rambutan (1,01 g/cm3 dan 1,20 g/cm3) diikuti sengon (1,27 g/cm3)  dibandingkan disposal tidak aktif (1,73 g/cm3), meningkatkan total ruang pori tanah pada revegetasi jabon, rambutan, dan sengon (62,01%; 54,72%; 52,08%) dibandingkan disposal tidak aktif (34,72%), meningkatkan permeabilitas tanah pada revegetasi jabon, rambutan, sengon (20,65 cm/jam; 19,09 cm/jam; 10,10 cm/jam) dibandingkan dengan disposal tidak aktif (1,66 cm/jam). Laju infiltrasi dan kapasitas infiltrasi meningkat setelah revegetasi dengan jabon (4,01cm/jam dan 18,09 cm/jam), rambutan (2,96 cm/jam dan 15,47 cm/jam), sengon (2,21 cm/jam dan 11,98 cm/jam), disposal tidak aktif (1,69 cm/jam dan 5,96 cm/jam). Kata kunci: iInfiltrasi, pasca tambang batubara, revegetasi, sifat fisik tanah